KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 https://bestjournal. id/index. php/kovalen Sintesis dan Karakterisasi Cangkang Kapsul Non Gelatin dari Rumput Laut (Eucheumma cottoni. dan Kaktus Koboi (Cereus peruvianu. untuk Sistem Penghantaran Obat [Synthesis and Characterization of Non Gelatinized Capsule Shells from Seaweed (Eucheumma cottoni. and Koboi Cactus (Cereus peruvianu. for Drug Delivery System. Micha MahardikaA. Ninik Triayu Susparini. Dany Dewaldo. Boima Situmeang. Fauzan Amin Jurusan Kimia. Sekolah Tinggi Analis Kimia Cilegon. Jl. KH. Wasyid No. Cilegon. Banten. Indonesia Abstract. Research on drug delivery systems continues to develop, including making the latest formulations on capsule shells as a medium for drug delivery. The effort that has been done was developing non-gelatine drug delivery materials made from the combination of seaweed and cactus. The main component in making gel on seaweed and cactus is the polysaccharide pectin. This study aims to make and determine the characterization of capsule shells from a combination of seaweed and cactus. Capsule shells are made from a combination of pectin extracts from seaweed and cactus with 5 different ratios of 0:4 (A), 1:3 (B), 2:2 (C), 3:1 (D), and 4:0 (E). The characterization involved weight uniformity test, disintegration time test, water swelling test, and dissolution test. Pectin from green seaweed and koboi cactus weighed 235 g and 75 g. The capsule shell weights based on Farmakope Indonesia sixth edition were 307. 2, 311. 6, 309. 7, 304. 6, and 308. 7 mg. The capsule shell disintegration times, based on Farmakope Indonesia sixth edition, 2020, were 15,16, 14, 21, and 12 minutes, and the best result of the water swelling test was C capsule . The results of the capsule shell dissolution test showed that the reduction of the capsule shells did not exceed 10% for 30 minutes according to the Farmakope Indonesia sixth edition. The capsule shells made from a combination of seaweed and cactus can be used as material in drug delivery systems. Non-gelatinized capsule shell which is expected to have anti-inflammatory activity. Keywords: Cefadroxyl, koboi cactus, seaweed, drug delivery system Abstrak. Penelitian tentang sistem penghantaran obat terus mengalami perkembangan salah satunya yaitu membuat formulasi terbaru cangkang kapsul sebagai media penghantar obat. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengembangkan material penghantar obat non-gelatin yang terbuat dari perpaduan rumput laut dan kaktus. Komponen utama dalam pembentuk gel pada rumput laut dan kaktus berupa polisakarida pektin. Penelitian ini bertujuan untuk membuat serta mengkarakterisasi cangkang kapsul dari perpaduan rumput laut dan kaktus. Cangkang kapsul dibuat dari kombinasi antara ekstrak pektin dari rumput laut dan kaktus dengan 5 macam perbandingan yaitu 0:4 (A), 1:3 (B), 2:2 (C), 3:1 (D), dan 4:0 (E). Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji keseragaman bobot, uji waktu hancur, uji swelling air dan uji disolusi. Pektin dari rumput laut hijau dan kaktus koboi memiliki bobot 235 g dan 75 g. Hasil bobot cangkang kapsul sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi VI karena memeiliki standar deviasi kurang dari 2% berturut-turut 307,2. 311,6. 309,7. 304,6. dan 308,7 mg. Waktu hancur cangkang kapsul sesuai standar Farmakope Indonesia edisi VI Tahun 2020 yaitu kurang dari 30 menit, berturutturut 15. dan 12 menit, serta hasil uji swelling air terbaik pada kapsul C . , yaitu 666,7%. Hasil pengujian disolusi cangkang kapsul menunjukkan bahwa pengurangan cangkang kapsul tidak melebihi 10% selama 30 menit sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi VI. Cangkang kapsul yang terbuat dari perpaduan rumput laut dan kaktus dapat digunakan sebagai material dalam sistem penghantaran obat. Cangkang kapsul non gelatin yang diharapkan memiliki aktivitas antiinflamasi. Kata kunci: Cefadroxyl, kaktus koboi, rumput laut, sistem penghantar obat Diterima: 27 Oktober 2022. Disetujui: 26 Januari 2023 Sitasi: Mahardika. Susparini. Dewaldo. Situmeang. Amin. Sintesis dan Karakterisasi Cangkang Kapsul Non Gelatin dari Rumput Laut (Eucheumma cottoni. dan Kaktus Koboi (Cereus peruvianu. untuk Sistem Penghantaran Obat. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. : 1-12. A Coressponding author E-mail: micha. mahardika@gmail. https://doi. org/10. 22487/kovalen. 2477-5398/ A 2023 Mahardika et al. This is an open-access article under the CC BY-SA license. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. LATAR BELAKANG Terdapat banyak alternatif bahan nabati Perkembangan sains telah mendorong ditemukannya beberapa teknologi mutakhir cangkang kapsul, diantaranya rumput laut dan untuk sistem pengobatan yang efektif dan kaktus yang mengandung pektin yang dapat aman bagi masyarakat. Untuk mengatasi membentuk gel sebagai pengganti gelatin untuk membuat cangkang kapsul. Sativa et al penghantaran obat yang tepat supaya obat . yang menggunakan karagenan dan dapat bekerja efektif dan tepat sasaran. kaktus untuk uji antiinflamasi pada tikus yang Efektivitas obat dapat dilihat dari profil kadar menyimpulkan bahwa penggunaan variasi obat dalam darah. Sistem penghantaran obat konsentrasi ekstrak kaktus dengan kadar 5%, yang ideal adalah sistem yang jika diberikan 10% dan 15% pada sediaan gel. Mahardika et dalam dosis tunggal dapat menghantarkan obat al . melakukan sintesis cangkang kapsul sedini mungkin, memberikan efek farmakologi non gelatin yang terbuat dari rumput laut dan selama mungkin dan menghantarkan obat daun cincau dengan variasi rumput laut dan tepat sasaran (Utama & Riyupi, 2. daun cincau . Beberapa macam metode penghantaran Cangkang obat diantaranya secara oral, parenteral, lokal, keseragaman bobot, waktu disolusi serta rektal, transdermal serta inhalasi (Shargel et derajat swelling. Hasil terbaik cangkang kapsul , 2. Kapsul berada pada urutan pertama yang diperoleh yaitu dari variasi komposisi dalam pengembangan obat oral karena kapsul bahan sebesar 3:1 dengan nilai hasil uji dipandang mudah dalam pembuatannya jika swelling sebesar 643,4%. Penelitian Kelebihan kapsul lainnya antara lain, kombinasi mendapatkan cangkang kapsul non gelatin komposisi campuran kaktus kebutuhan pasien, dosis yang lebih tepat, tidak rumput laut yang terbaik. Cangkang kapsul non berbau dan hambar sehingga mudah untuk gelatin yang didapatkan diharapkan memiliki ditelan serta dilepaskan dalam waktu yang aktivitas antiinflamasi. sesuai (Hermanto, 2. Produksi METODE PENELITIAN menggunakan gelatin sebagai bahan baku Bahan dan Peralatan kimia, namun produksi gelatin dunia terbesar Alat-alat yang digunakan dalam penelitian berasal dari bahan baku kulit babi, yakni 44,5%, ini antara lain blender, cawan krus, desikator, kedua dari kulit sapi 27,6%, ketiga dari tulang oven, tanur, neraca analitik Fujitsu FSR-B620, 26,6% dan sisanya berasal dari selainnya 1,3% hot plate, spektrofotometer UV-Vis Shimadzu (Harianto & Peranginangin, 2. Hal tesebut 1800. FTIR Shimadzu 8400 dan alat-alat gelas. Bahan-bahan Bahan baku pembuatan (Eucheumma cottoni. , kaktus koboi (Cereus peruvianu. , etanol 70%. NaCl Merck, air kontaminasi virus yang menyebabkan penyakit. destilata, indikator fenolftalein. NaOH Merck muslim, dan umat hindu yang tidak dapat KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. 0,1 N. NaOH Merck 0,25 N. HCl Merck 0,25 N. Filtrat tersebut didiamkan selama C24 HCl Merck 0,1 N, sorbitol Merck. Na-CMC jam sampai terbentuk gel rumput laut. Setelah Sigma itu, gel rumput laut dikeringkan pada suhu 50oC Aldrich. Cefadroxil, dan larutan penyangga pH 3 Merck. selama A5jam dengan bantuan oven. Prosedur Penelitian Pembuatan pektin dari kaktus Kaktus yang digunakan ialah kaktus koboi cangkang kapsul non gelatin dari campuran sebanyak 230 g. Duri pada kaktus sebelumnya rumput laut dan kaktus yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pektin dibuat dari kaktus koboi dan rumput laut, yang kemudian pektin dianalisis menggunakan oven, kemudian digiling hingga terlebih dahulu sebelum dicampurkan ke dalam Serbuk kaktus kemudian dimaserasi pembuatan cangkang kapsul non gelatin. menggunakan 1L etanol 70% selama 24 jam. Pembuatan cangkang kapsul non gelatin Selanjutnya dipisahkan dan diambil filtratnya. menggunakan pektin dari kaktus dan rumput Pelarut laut yang kemudian dikombinasikan dengan aquadest, sorbitol. Na-CMC. Cangkang kapsul kemudian dipekatkan sampai ekstrak menjadi non gelatin tersebut kemudian dikarakterisasi kental dengan bantuan waterbath. Pada dengan cara uji keseragaman bobot cangkang kapsul, uji waktu hancur, uji swelling air, uji Kaktus Hasil Analisis pektin Analisis kadar air . usut pengeringa. Sampel sebanyak 1 g ditempatkan ke dalam cawan krus, kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 100AC selama A6 Didinginkan cawan krus di dalam desikator, kemudian diukur selisih bobot cawan kosong dan bobot cawan berisi sampel (Fitria, 2. Analisis kadar abu . isa pemijara. Sampel sebanyak 1 g ditempatkan ke dalam cawan kurs dan dikeringkan dalam tanur pada suhu 500AC selama A90 menit. Didinginkan Gambar 1. Diagram alir penelitian . emua digunakan sebanyak 500 g. Rumput laut hijau dicuci dengan air kemudian ditambahkan Rumput desikator kemudian diukur selisih bobot Pembuatan pektin dari rumput laut hijau Rumput Cawan menggunakan blender dan dimasak sampai mengental kemudian disaring dan diambil cawan kosong dan bobot cawan berisi sampel (Fitria, 2. Analisis bobot ekivalen Sampel sebanyak 1 g ditempatkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan 5 mL Ditambahkan 1 g NaCl dalam 100 mL aquades dan 6 tetes indikator pp, kemudian dilakukan titrasi dengan larutan KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. NaOH 0,1 N sampai titik akhir titrasi (Fitria, volume pada titrasi pertama (V. dan volume pada titrasi kedua (V. dengan Mr Analisis kadar metoksil galakturonat adalah 194 g/mol. Larutan NaOH 0,25 N sebanyak 25 mL ditambahkan ke dalam larutan ekstrak [(V1 xV2 )xNxMr berat pektin A. Analisis derajat esterifikasi hasil penetapan bobot ekivalen, kemudian Penetapan Diamkan larutan dalam ditentukan dari analisis kadar metoksil dan keadaan tertutup selama C30 menit pada analisis kadar asam anhidrogalakturonat suhu ruang, ditambahkan 25 mL larutan (Fitria, 2. HCl 0,1 N dan 5 tetes indikator pp. Dititrasi %metoksil Derajat esterifikasi (%)= Mr %AG . dengan larutan NaOH 0,1 N sampai warna indikator berubah ke warna semula (Fitria. Mr AG Karakterisasi dengan FTIR Penetapan gugus fungsi sampel diuji Analisis kadar asam galakturonat dengan spektrofotometri FTIR Shimadzu Penetapan kadar asam galakturonat dengan analisis kadar metoksil dan bobot ekivalen (Fitria, 2. Pektin sebanyak Pembuatan cangkang kapsul Dibuat cangkang kapsul campuran ekstrak 0,5 g ditetesi 5 mL etanol 70% yang selanjutnya dilarutkan ke dalam aquadest yang berisi 1 g NaCl. Larutan ditetesi fenoftalein sebanyak 5 tetes lalu dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai berubah Kemudian larutan hasil titrasi ditambahkan 25 mL NaOH 0,25 N, dikocok, kemudian didiamkan selama 30 HCl 0,25 N dan 5 tetes fenoftalein kemudian ditambahkan ke dalam larutan tersebut, kemudian dititrasi dengan NaOH Penetapan galakturonat dengan cara menjumlahkan rumput laut hijau dan kaktus koboi yang Campuran sorbitol dan Na-CMC, larutan dipanaskan selama 10-15 menit pada rentang suhu 70AC80AC. Proses pemanasan dihentikan saat larutan tersebut telah homogen. Campuran homogen, dituang ke dalam loyang dan dikeringkan pada suhu A40AC selama 8 jam. Selanjutnya dibentuk cangkang kapsul dengan bobot 300 mg. Cangkang kapsul dibuat dengan menggunakan formulasi seperti Tabel 1 Tabel 1. Variasi formulasi cangkang kapsul Sampel Ekstrak Rumput Laut Hijau (%) Ekstrak Kaktus (%) Sorbitol (%) Na-CMC (%) Aquadest (%) KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. Karakterisasi Hasil 100 rpm dalam variasi waktu 10, 20, dan 30 menit. Diambil 10 mL larutan kemudian diuji menggunakan spektrofotometer UV- cangkang kapsul akan dibandingkan dengan Vis pada panjang gelombang 320 nm Farmakope Indonesia edisi VI (Kementerian (Karimah, 2. Kesehatan RI, 2. Uji keseragaman bobot cangkang kapsul Ditimbang HASIL DAN PEMBAHASAN Pektin dari Rumput Laut Hijau dan Kaktus Koboi cangkang kapsul, standar deviasi dan Pektin hasil dari proses ekstraksi rumput rata-rata laut hijau dan kaktus koboi (Gambar . relatif standar deviasi. dianalisis berdasarkan parameter kadar air. Uji waktu hancur kadar abu, bobot ekivalen, kadar metoksil, dalam alat uji waktu hancur yang berisi kadar asam anhidrogalakturonat dan derajat aquadest pada suhu 37oCA1oC, kemudian Dimasukkan alat uji waktu hancur yang berisi sampel dinaik turunkan sampai cangkang kapsul Dicatat waktu yang dibutuhkan sampai cangkang kapsul hancur. Uji swelling Ditimbang cangkang kapsul dan dicatat Cangkang kapsul direndam dalam aquadest selama C1 jam kemudian dipisahkan dari pelarut dan ditimbang kembali (Karimah, 2. Gambar 2. Pektin . dari rumput laut . dari Hasil dari karakterisasi pektin ekstrak rumput laut hijau dan kaktus koboi disajikan Uji disolusi dalam Tabel 2. Pembuatan larutan induk baku dengan cara memasukkan sebanyak 46,6 mg Tabel 2. Karakteristik pektin ekstrak rumput laut hijau dan kaktus koboi cefadroxil ke dalam labu ukur 100 mL. Dibuat Hasil Ekstraksi Karakterisasi Standar Mutu Rumput Laut Hijau Kaktus Koboi Kadar Abu (%) Maks 10 1,00 1,00 Kadar Air (%) Maks 12 3,00 2,00 666,67 641,02 > 7,12 9,30 8,68 Minimal 79,20 76,30 Minimal 66,67 65,11 memipet 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, 5 mL dan 6 mL kedalam labu ukur 100 mL. Diukur serapan pada panjang gelombang spektrofotometer UV-Vis. Diisi cangkang kapsul dengan 500 mg dimasukkan ke dalam gelas beaker yang berisi larutan buffer sebanyak 25 mL dengan pH 2. Diaduk dengan kecepatan Bobot Ekuivalen. Kandungan Metoksil (%) Kadar Asam Galakturonat (%) Derajat Esterifikasi Pektin (%) KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. Pengujian bobot pektin bertujuan untuk dari rumput laut hijau dan kaktus koboi yang diperoleh sebesar 1%. Kadar abu yang dihasilkan (Suparman et al. , 2. Bobot pektin hasil ekstraksi rumput laut hijau adalah dibandingkan dua penelitian sebelumnya yang memanfaatkan kulit buah biji kopi robusta, menghasilkan nilai rendemen pektin sebesar diperoleh kadar abu sebesar 3,03% (Khairunisa 47,0% . , sedangkan bobot pektin hasil et al. , 2. dan lidah buaya sebesar 2% ekstraksi kaktus koboi adalah 75 g dari sampel (Mahardika et al. , 2. Semakin kecil kadar awal 222,6 g dan menghasilkan nilai rendemen abu, maka pektin yang diperoleh semakin pektin sebesar 33,7% . Bobot pektin hasil Hasil analisis kadar abu pada penelitian ekstraksi rumput laut hijau dan kaktus koboi yang digunakan sebanyak 40 g. Bobot pektin memenuhi standar karena <10% (Antika & yang diperoleh lebih tinggi jika dibandingkan Kurniawati, 2. dnegan penelitian sebelumnya yakni 6 g, dengan memanfaatkan lidah buaya sebagai sumber pektin (Mahardika et al. , 2. Meskipun namun proses sampel mengakibatkan adanya penurunan kemampuan bahan baku untuk membentuk gel sehingga mengurangi nilai rendemen ekstrak pektin yang dihasilkan. 3,0% sedangkan kadar air pada kaktus koboi sebesar 2,0%. Kadar air yang diperoleh lebih Bobot Ekivalen Analisis bobot ekivalen dilakukan dengan titrasi sampai terjadi perubahan warna. Bobot ekivalen adalah ukuran terhadap kandungan teresterifikasi dalam rantai molekul pektin. Besarnya bobot ekivalen dipengaruhi derajat esterifikasi antara asam galakturonat dan Pada penelitian ini didapatkan kadar air Semakin tinggi derajat esterifikasi Kadar Air mengakibatkan semakin rendahnya jumlah asam galakturonat bebas yang berarti semakin tingginya berat ekivalen (Fitria, 2. Pada pektin dari rumput laut hijau terjadi sebelumnya yakni pektin dari kulit buah kopi menjadi warna pink. Sedangkan pada pektin robusta sebesar 5,18% (Khairunisa et al. , 2. dari kaktus koboi terjadi perubahan warna dari dan pektin dari lidah buaya sebesar 5% bening kehijauan menjadi warna pink. Berat (Mahardika et al. , 2. Hasil analisis kadar air ekivalen pektin dari rumput laut hijau yang pada penelitian ini masih termasuk dalam diperoleh sebesar 666,67 mg sedangkan berat pektin yang memenuhi standar, yakni < 12% ekivalen pektin dari kaktus koboi sebesar (Committee Food Chemical Codex, 2. 641,02 Semakin kecil kadar air, maka pektin akan penelitian sebelumnya yang memanfaatkan semakin baik. lidah buaya sebagai sumber pektin, bobot Kadar Abu Jika ekivalen yang diperoleh tidak jauh berbeda Pengabuan sampel menggunakan tanur yakni 636,942 mg (Mahardika et al. , 2. A90 menit. Hasil analisis kadar abu pada pektin Hasil analisis bobot ekivalen pada penelitian ini KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. masih termasuk dalam pektin yang memenuhi sebelumnya yakni 57,62% untuk pektin yang standar, karena masih masuk dalam rentang berasal dari biji buah kopi robusta (Khairunnisa berkisar antara 600-800 mg yang ditentukan et al. , 2. dan 32,80% untuk pektin yang oleh International Pectin Producers Association berasal dari daun cincau hujau (Amin & Alam, (IPPA) . Hasil analisis kadar asam galakturonat pada penelitian ini masih termasuk dalam Kadar Metoksil Analisis kadar metoksil dilakukan dengan titrasi sampai terjadi perubahan warna. Pada pektin dari rumput laut hijau terjadi perubahan warna dari bening kehijauan menjadi warna Sedangkan pada pektin dari kaktus koboi terjadi perubahan warna dari bening kehijauan >35% (International Pectin Producers Association. Kadar penting dalam penentuan sifat fungsional larutan pektin serta mempengaruhi struktur dan tekstur dari gel yang dihasilkan. Semakin tinggi menjadi warna pink. Pektin dapat disebut bermetoksil tinggi jika memiliki nilai kadar metoksil sama dengan atau lebih dari 7% sedangkan pektin disebut kadar asam galakturonat, semakin murni pektin yang dihasilkan. Derajat Esterifikasi bermetoksil rendah jika memiliki nilai kadar Hasil derajat esterifikasi pektin dari rumput metoksil dibawah 7%. Kadar metoksil pektin laut hijau yang diperoleh sebesar 66,67% dari rumput laut hijau yang diperoleh sebesar sedangkan nilai derajat esterifikasi pektin dari 9,30% sedangkan kadar metoksil pektin dari kaktus koboi sebesar 65,11%. Hasil ini masih kaktus koboi sebesar 8,68%. Jika dibandingkan sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan derajat esterifikasi pektin dari biji buah kopi robusta yaitu sebesar 59,6% (Khairunnisa et memanfaatkan daun cincau hijau diperoleh , 2. , tetapi lebih rendah jika dibandingkan Dengan dengan derajat esterifikasi pektin dari lidah demikian hasil analisis kadar metoksil pada buaya yaitu sebesar 79,26% (Mahardika et al. penelitian ini termasuk dalam pektin yang Derajat esterifikasi adalah presentase memiliki nilai metoksil tinggi. jumlah residu asam galakturonat yang gugus Amin Alam 4,94%. karboksilnya teresterifikasi dengan etanol. Nilai Kadar Asam Galakturonat Analisis derajat esterifikasi diperoleh dari besarnya nilai bertujuan untuk mengetahui kemurnian suatu pektin terhadap bahan organik netral lainnya. Pada penelitian ini didapatkan kadar asam galakturonat pada pektin dari rumput laut hijau 79,20% sedangkan kadar galakturonat pada pektin dari kaktus koboi sebesar 76,30%. Kadar asam galakturonat yang diperoleh pada penelitian ini lebih tinggi kadar metoksil dan kadar asam galakturonat. Pektin ester tinggi memiliki nilai derajat esterifikasi minimal 50% dan pektin ester esterifikasi 50% (Antika & Kurniawati, 2. Dengan esterifikasi pada penelitian ini termasuk dalam pektin yang memiliki nilai ester tinggi. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. Spektrum IR senyawa pektin mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat Analisis FTIR dilakukan pada pektin yang dalam pektin yang dihasilkan. Adapaun hasil terbuat dari rumput laut hijau dan pektin yang karakterisasi dengan FTIR disajikan pada terbuat dari kaktus koboi, bertujuan untuk Gambar 3. Gambar 3. Spektrum IR dari senyawa kektin . rumput laut dan . kaktus koboi Hasil FTIR menunjukkan bahwa spektrum IR pektin dari rumput laut hijau dan kaktus. Pada bilangan gelombang 3. 444 cm-1 . umput laut hija. aktus kobo. O-H. Pada bilangan gelombang 2. 900 cm-1 . umput laut hija. 702,90 cm-1 . aktus kobo. menunjukkan adanya gugus O=C=O. Bilangan gelombang ada gugus-gugus tersebut ditemukan juga pada pektin standar yang diuji oleh Yuniarti et al. Ditemukan . aktus kobo. merupakan ikatan gugus AeCH stretching CH2 menunjukkan adanya gugus O=C-OCH3. Pada dan CH3, pada bilangan gelombang 2974,79 bilangan gelombang 1. 637,62 cm-1 . umput laut cm-1 terdapat gugus -OH karboksilat, pada hija. 935,76 KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. bilangan gelombang 3500 sampai 3200 cm -1 1 Cangkang Kapsul terdapat ikatan H dari O-H, pada bilangan Cangkang kapsul dibuat dengan bobot gelombang 1640 sampai 1550 cm -1 terdapat N- sebesar 300 mg dengan variasi formulasi H, pada bilangan gelombang 1640 sampai 670 cangkang kapsul yang berbeda-beda seperti tertera pada Tabel 3. Hasil yang didapatkan gelombang 3100 sampai 3500 cm -1 terdapat NAe dari variasi formulasi cangkang kapsul yang H (Yuniarti et al. , 2. mempengaruhi sifat fisik cangkang kapsul. C=O, Intensitas yang muncul pada setiap bahan Cangkang kapsul yang paling lunak yaitu baku berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbandingan rumput laut hijau dan kaktus sehingga gugus fungsi terbentuk memiliki nilai sebesar 1:3, sedangkan cangkang kapsul yang Meskipun paling keras dan kokoh yaitu cangkang kapsul intensitasnya berbeda, adanya gugus O-H dan sampel D dengan perbandingan rumput laut O=C-OCH3 menandakan karakteristik pektin. hijau dan kaktus sebesar 3:1. Cangkang kapsul Spektrum yang mirip dari kedua ekstrak yang dianalisis menandakan pembentukan pektin monohydrate untuk diuji karakteristiknya. hanya melibatkan pencampuran fisika. Tabel 3. Hasil Cangkang Kapsul dari Rumput Laut dan Kaktus Koboi Sampel Cangkang Kapsul Gambar Kapsul Hasil Karakterisasi Pengujian Cangkang Kapsul Cangkang dihasilkan kemudian dikarakterisasi sesuai Farmakope Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2. Keseragaman Bobot Cangkang Kapsul Sebanyak 3 buah cangkang kapsul dari masing-masing sampel dilakukan pengujian keseragaman bobotnya dan hasilnya disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan data pada Tabel 4 didapatkan hasil rata-rata bobot cangkang kapsul pada sampel A sebesar 307,2 mg, sampel B sebesar 311,6 mg, sampel C sebesar 309,7 mg, sampel D sebesar 304,6 mg, dan sampel E sebesar 308,7 mg. Cangkang kapsul yang terbuat dari rumput laut hijau dan kaktus koboi memiliki nilai relatif standar deviasi <2%, artinya keseragaman bobot cangkang kapsul yang dibuat telah memenuhi standar yang baik (Umami, 2. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. Tabel 4. Hasil pengujian keseragaman bobot cangkang kapsul Cangkang Kapsul . Derajat swelling Hasil uji swelling air cangkang kapsul Pengujian disajikan pada Tabel 6. Rata-rata Standar Deviasi Relatif Standar Deviasi Tabel 6. Hasil pengujian derajat swelling Sampel Massa Sebelum Menyerap Air . Massa Sesudah Menyerap Air . Derajat Swelling (%) Pengujian waktu hancur dilakukan dengan alat uji waktu hancur yang berisi aquadest pada Waktu Hancur suhu 37oCA1oC. Berdasarkan data pada Tabel 5, kelima sampel cangkang kapsul memiliki waktu hancur tidak lebih dari 30 menit . 0 Waktu hancur dari ke-5 formulasi lebih cepat dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suparman et al. , yang memanfaatkan pektin dari kulit buah cokelat, yang memiliki waktu hancur sebesar 1294 dibandingkan dengan waktu hancur dari pektin lidah buaya yaitu sebesar 504 detik (Mahardika et al. , 2. Nilai swelling air mempengaruhi kekuatan cangkang kapsul di dalam Semakin besar nilai swelling maka semakin cepat waktu release obat, sedangkan semakin kecil nilai swelling makan kemampuan obat untuk release semakin lambat. Faktor yang mempengaruhi nilai derajat swelling yaitu banyaknya rongga diantara ikatan polimer. Cangkang kapsul yang memiliki nilai derajat swelling paling besar yaitu sampel Tabel 5. Hasil Pengujian Waktu Hancur C, dan dapat dikatakan sampel C merupakan cangkang kapsul terbaik berdasarkan derajat Sampel Cangkang Kapsul Waktu Hancur . kemungkinan bagi sampel cangkang kapsul formulasi lain aplikasi sistem penghantaran obat sesuai Sesuai Farmakope Indonesia edisi VI (Kementerian Kesehatan RI, 2. , spesifikasi syarat waktu uji hancur cangkang kapsul tidak lebih dari 30 menit . 0 deti. swelling-nya. Namun dimanfaatkan dalam Sifat disolusi Pada penelitian ini pengujian disolusi, cefadroxyl monohydrate. Pemilihan pH 2 Pengadukan dilakukan dengan kecepatan 100 rpm dalam variasi waktu 10, 20, dan 30 menit. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 9. , 2023: 1-12 Mahardika et al. Pengujian dengan spektrofotometer UV-Vis FTIR menunjukan adanya kemiripan spektrum pada panjang gelombang 320 nm. Pada serapan dengan pektin standar. Waktu hancur literatur, uji disolusi dengan spektrofotometer kapsul < 30 menit dan hasil disolusi kurang dari UV-Vis untuk cangkang kapsul menggunakan 10% selama 30 menit. Cangkang kapsul yang panjang gelombang 263 nm. terbuat dari perpaduan rumput laut dan kaktus Uji mengetahui seberapa banyak presentasi zat dapat digunakan sebagai material sistem penghantaran obat. aktif dalam obat yang terabsorpsi dan masuk kedalam peredaran darah untuk memberikan UCAPAN TERIMAKASIH efek terapi. Uji disolusi dapat digunakan untuk Terimakasih kepada Sekolah Tinggi Analis memastikan kualitas dan sifat- sifat produk obat Kimia Cilegon untuk tempat laboratorium guna dengan perubahan minor dalam formulasi atau melaksanakan penelitian dan juga Universitas pembuatan setelah izin pemasaran. Data hasil Pendidikan Indonesia yang telah mengizinkan uji disolusi dapat dilihat pada Tabel 7. melakukan karakterisasi FTIR. Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa pengurangan cangkang kapsul selama 30 menit kurang dari 10%. Maka hasil ini sesuai Farmakope Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2. Tabel 7. Hasil pengujian disolusi cangkang Cangkang Kapsul . Waktu Sampling 10 menit 0,94 1,27 0,22 2,02 0,22 20 menit 1,44 2,36 0,35 2,19 0,39 30 menit 2,53 3,49 0,72 2,44 0,72 Jumlah 4,89 7,11 1,29 6,65 1,33 Total Pengama Rata-rata 1,63 2,37 0,43 2,22 0,45 KESIMPULAN Analisis kelayakan material cangkang Mengacu pada International Pectin Producers Association, kadar abu, bobot cangkang kapsul telah memenuhi standar. Hasil karakterisasi cangkang kapsul dengan DAFTAR PUSTAKA