Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEGAGALAN INVASI RUSIA ATAS UKRAINA Sugeng Riyanto Program Studi Hubungan Internasional. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sugengriyanto@umy. Abstract Russia's invasion of Ukraine has been two years old. This large-scale military attack initially aimed to overthrow President Zelensky, who sought Ukraine to align with NATO. The anticipated swift campaign has so far failed to yield positive results for Russia, instead, the specter of failure looms large, with casualties on the Russian side, loss of territories held by Russia, and Russian defeats in battles in several regions. This paper aims to explore the reasons why the Russian invasion was unsuccessful. Using a perspective of war strategy and qualitative descriptive research methods, this study demonstrates that Russia's failure in the invasion of Ukraine is due to weak planning, weakness of logistics, morale of Russian troops, and rejection from the international community. Through an in-depth study of Russia's failure, this research contributes to the development of knowledge and enrichment of the understanding of the importance of geo-strategic factors in international Keywords: Military invasion, war, logistics. Russia PENDAHULUAN Hubungan antara Rusia dan Ukraina mencapai titik kulminasi di bawah pemerinthanan Victor Yanukovick, mantan Gubernur Donetsk. Donetsk adalah sebuah provinsi yang mempunyai banyak kesamaan secara etnis dengan Rusia, termasuk kesamaan bahasa, etnisitas dan sejarahnya (Giuliano, 2. Intervensi Rusia dalam politik di Ukraina dimulai ketika terjadi penggulingan atas Yanukovick dan memunculkan presiden baru Vlodimir Zelensky yang lebih dekat dengan pihak Barat (Amerika Serikat dan NATO). Rusia dianggap mendukung gerakan gerakan oposisi teradap pemerintah terutama di Donbas. Luhansk dan Minsk. Intervensi ini meninbulkan ketegangan hubungan antara Rusia dengan pihak Barat. Ketegangan semakin meningkat menyikapi keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO, menyusul Polandia dan negara-negara Eropa Timur yang lainnya. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Rusia dengan tegas menolak rencana tersebut dan mengingatkan pada pihak NATO untuk tidak memproses keinginan Ukraina. Berbagai jalan ditempuh kedua belah pihak untuk meredakan ketegangan, namun gagal dan Rusia memilih opsi militer untuk merespon perkebangan tersebut. Pada tanggal 22 Februari 2024 Rusia melancarkan serangan militer besar besaran ke Ukraina. Dalam waktu singkat Rusia telah berhasil menguasai beberapa wilayah seperti Luhansk. Donbas. Mariupol. Crimea. Melitipol dan Kherson. Pada tahap awal invasi ini. Rusia terlihat sangat mudah untuk merebut wilayah wilayah tersebut. Apalagi dengan melihat perbandingan kekuatan militer sebenarnya terdapat ketimpangan kekuatan militer antara keduanya. Menurut situs Global Fire Power. Rusia berada pada posisi ke 2 dalam kekuatan militer, jauh diatas kemampuan Ukrainan yang menempati posisi Namun setelah beberapa bulan serangan tersebut berjalan. Rusia sulit sekali mencapai target target berikutnya. Justru dalam berbagi pertempuran Rusia tampak kewalahan dan melepaskan wilayah yang telah dikuasainya, misalnya adalah wilayah Kherson. Dalam laporan wartawan Kompas, tanggal 11 November 2022 penduduk kota Kherson merayakan kemenangan pasukan Ukraina yang berhasil merebut kembali kota itu dari tangan Rusia. Hingga dua tahun setelah invasi dilakukan. Rusia tidak menampakkan keberhasilannya untuk menguasai Ukraina. Dalam ulasan di New York Times. Neil MacFarquhar, menyebutkan bahwa invasi Rusia adalah kegagalan terbaru dari serangkaian kegagalan Panjang Putin di Ukraina. (MacFurqahar, 2. Sementara itu, direktur CIA. William Burns juga menilai tentang kegagalan Rusia dalam invasi ke Ukraina sebagaimana diungkap oleh harian The Guardian (Isobel Koshiw. Ian Walker, 2. Paper ini berusaha untuk mencari sebab sebab kegagalan tersebut menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan data sekunder yang terdapat surat kabar, majalah, jurnal maupun buku baik cetak atau elektronik. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 PEMBAHASAN Invasi Rusia Atas Ukraina Tanggal 24 Februari dunia dikejutkan oleh invasi militer besar besaran pasukan Rusia ke wilayah Ukraina. Putin mempunyai sejumlah alasan mengapa melakukan serangan ke Ukraina, terutama adalah untuk melindungi kelompok kelompok pro Rusia dari kejahatan genosida oleh Presiden Zelensky. Selain itu Presiden Putin juga menuduh bahwa Zelensky adalah seorang NAZI. Meski demikian banyak yang meyakini bahwa target utama dari invasi ini adalah menumbangkan Presiden Vlodomir Zelensksy agar Ukraina batal bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara. NATO. Meski demikian, sebenarnya rencana Rusia melakukan serangan telah diketahui beberapa hari sebelumnya melalui informasi intelijen. Rusia tampak secara serius menyiapkan armada militer lengan jumlah yang sangat besar termasuk pengerahan senjata senjata berat seperti artileri dan kendaraan tank tempur. Menurut Douglas (G Douglas Davis. Michael O. Slobodchikoff, 2. serangan Rusia ini tidak terlepas dari sejarah panjang perebutan pengaruah antara Amerika Serikat . an NATO) denga Uni Soviet selama Perang Dingin. Jadi di situlah sebenarnya sejarah akar permasalahannya. Sebenarnya ketika Perang Dingin berakhir, ada harapan menccapai duia yang dama dengan bersatunya antara Blok Barat dan Blok Timur. Presiden Rusia Pertama. Boris Yeltsin telah berusaha mendekatkan diri dengan Amerika Serikat seiring dengan berakhirnya Perang Dingin. Tetapi tampaknya Amerika Serikat justru meninginkan tata dunia yang baru yang tentu saja akan banyak menguntungkan pihak barat. Duta Besar Amerika Serikat untuk Rusia juga mengatakan bahwa sebenarnya antara keruntuhan Uni Soviet dan berakhirnya perang Dingin adalah hal yang berbeda. Pergantian kepemimpinan Rusia ke tangan Vladimir Putin nampaknya membuyarkan bersatunya Barat dan Timur. Putin adlah pemimpin garis kanan yang memegang nasionalisme dengan sangat kuat. Meskipun Blok Timur telah runtuh, tidak berarti Rusia harus tunduk terhadap barat dalam Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Rusia mempertahankan prinsip dan pengaruhnya di Eropa Timur. Persoalannya menjadi semakin panjang ketika NATO berusaha untuk memperluas pengaruhnya dengan memasukkan negara negara bekas sekutu Uni Soviet ke dalam keanggotaannya (Schimmelfennig, 1. Satu persatu ex-Pakta Warsawa menjadi Anggota NATO. Meskipun Rusia tidak mampu mencegahnya, tetapi peristiwa ini tentu akan membuat Rusia sangat kecewa. Rusia juga merasa lebih terpukul ketika negara negara ex Uni Soviet yang berbatasan dengan Rusia juga berbagung dengan NATO. Secara geo strategis. Rusia telah terbendung di sebelah barat oleh dinding perthanan NATO. Harapan Rusia tinggal kepada Belarusia dan Ukraina. Serangkaian expansi keanggotaan NATO sebenarnya telah diprediksi akan mengundang bahaya perang. Dalam sebuah artikel opini di The Guardian. Ted Galen Carpenter menyebutkan bahwa expansi NATO menimbulkan keresahan yang luar basa pada Rusia. Menurutnya sangat sulit untuk memperluas NATO ke arah timur tanpa tindakan tersebut dipandang oleh Rusia sebagai tindakan yang tidak ramah. Bahkan rencana yang paling sederhana akan membawa aliansi tersebut ke perbatasan Uni Soviet yang lama. Beberapa versi yang lebih ambisius akan membuat aliansi tersebut hampir mengelilingi Federasi Rusia itu sendiri. Tahun 1994 Carpenter telah memperingatkan bukunya yang berjudul Beyond NATO: Staying Out of Europe's Wars, pada saat proposal ekspansi hanya merupakan spekulasi sesekali dalam seminar kebijakan luar negeri di New York dan Washington. Ekspansi akan menjadi provokasi yang tidak perlu terhadap Rusia (Carpenter, 2. Kebijakan Rusia untuk melancarkan pengaruh demi mengendalikan Ukraina dan mencegah bergabung dengan NATO sebenarnya telah dimulai dengan berbagai langkah strategis, diantaranya dengan melakukan aneksasi terhadap Krimea, dan menudukung gerakan pro Rusia dan Luhansk dan Donbast. Ketika Presiden Yanukovich dukungan Rusia dikalahkan Vlodimir Zelensky, ketegangan atara kedua belah pihak terus berkembang. Kegigihan Zelensky untuk bergabung dengan NATO menjadi pemicu utama konflik Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 kedua negara itu. Setelah tidak mendapatkan jaminan dari NATO Adan Amerika Serikat untuk tidak memproses keanggotaan Ukraiana, nampaknya Putin kehilangan kesabaran. 24 Februari Putin melakukan serangan besar besaran ke wilayah Ukraina, dengan nama operasi khusus untuk demiliterisasi dan denazifikasi. Serangan besar besaran ini dilakukan dari segala penjuru, utara, timur dan selatan, serta serangan serangan ke ibukota Kiev. Dalam waktu singkat serangan tersebut telah berhasil menguasai wilayah selatan di Kherson dan Mariupol, wilayah timur di Luhansk dan Donetsk, serta bagian utara di Khirkiv. Kegagalan Invasi Rusia Rusia adalah salah satu negara terkuat dalam perspektif militer. Situs majalah militer Global Fire Power menempatkan Rusia sebagai kekuatan militer peringkat ke dua setelah Amerika Serikat. Beberapa segmen data dari Majalah The Military Balance Edisi tahun 3023 (Almeida, 2. mengungkapkan kedigdayaan militer Rusia dengan kekuatan 1. tentara dan 1. 000 pasukan cadangan. Rusia juga menrupakan negara dengan anggaran pertahanan no 3 di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Kedigdayaan militer Rusia sering digunakan dalam menyokong keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kebijakan penolakan Ukraina dalam keanggotaan NATO mencapai titik kulminasi pada invasi Rusia atas Ukraina. Pada 24 Februari 2022. Rusia melancarkan serangan milietr besar besaran ke sejumlah wilayah Ukraina di Sejumlah 200. 000 pasukan dikerahkan dilengkapi dengan senjata berat seperti tank dan artileri. Pada awal serangan tersebut, pasukan Rusia dengan mudah merebut wilayah seperti Donbast. Luhansk. Kherson. Donestk. Sumy dan Kharkiv. Kecepatan Rusia dalam merebut eilayah wilayah Ukraina di sebelah Utara. Timur dan Selatan memberikan gambaran bahwa invasi akan berlangsung dengan cepat dan mudah. Namun setelah beberapa bulan invasi tersebut. Rusia tidak lagi dapat menguasai daerah lain dan target utama yakni ibukota Kiev. Ukraina melakukan perlawanan Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 dengan sistem pertahanan yang tidak pernah diperhitungkan oleh Rusia. Ukraina mulai bisa menangkal serangan serangan Rusia hingga Rusia sejauh tidak dapat memperluas kontrol atas wilayah Ukraina dan cenderung kehilangan wilayah wilayah yang telah dikuasainya. Gambar di bawah ini menunjukkan perkembangan invasi Rusia yang cenderung mengalami Gambar 1. Perkembangan Invasi Rusia Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Seth G. Jones, dalam analisisnya terbitan Central For Strategic and International Studies Rusia. Menurutnya. AuRussia failed to achieve what was likely its main political objective: to overthrow the Kyiv government in a blitzkrieg military operation. The Russian military also faced significant challenges seizing and holding territoryAy (Jones, 2. Kegagalan Rusia juga tercermin dalam perubahan tujuan invasi. Dalam sebuah analilisnya. Paul Kirby (Kirby, 2. , wartawan BBC, menjelaskan bahwa tujuan awalnya Rusia hendak menyapu danmenguasai Kiev. Namun dalam waktu yang tidak terlalu lama, tujuan tersebut telah berubah secara Donbas. Hal kegamangan Vladimir Putin akan kemampuannya untuk menakhlukkan Kiev dengan memperkecil target operasinya. Beberapa indikator kegagalan lain menurut Kirby sebagai berikut: The retreat of 30,000 Russian troops across the Dnipro River from Kherson in November was a strategic failure. A 56km . -mil. armoured convoy that ground to a halt near Kyiv at the start of the war was a logistical failure. The deaths of a large number of recently mobilised troops in a Ukrainian new-year missile attack on Makiivka were an intelligence The sinking of the flagship Black Sea battle cruiser the Moskva was a defensive failure, as was the spectacular attack in October 2022 that shut the Kerch Strait bridge for weeks (Kirby, 2. Kegagalan Rusia juga terlihat dari jumlah korban di pihak pasukan Rusia. Meskipun tidak ada sumber yang pasti namun perkiraan pasukan Rusia yang tewas dalam pertempuran ini, berkisar 15. 000 pasukan dengan lebih dari 000 lainnya luka-luka. Intelijen pertahanan Inggris memperkirakan jumlah pasukan yang tewas di pihak Rusia mencapai 40. 000 Ae 60. 000 orang dan lebih 000 lainnya luka luka. Komisi Hak Asasi Manusia PBB juga Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 memberikan laporan lebih dari 8. 000 peduduk sipil telah tewas dan lebih dari 000 mengalami luka-luka. Sam Cranny-Evans dan Kaushal bahkan sampai pada kesimpulan bahwa, kegagalan Rusia seolah telah menjadi pengetahuan umum, khususnya setelah serangan dilakukan beberapa pekan dan mengalami kebuntuan. AuIt is a point of consensus among analysts that the initial phases of the Russian invasion of Ukraine have been a relative failure. Though Russia may still prevail in this conflict, the reasons for its blundering initial attempt are worth unpackingAy (Sam Cranny-Evans. Sidhrath Kaushal, 2. Faktor Penyebab Kegagalan Dalam telaah tentang bagaimana memenangkan perang, selalu diawali dengan kajian tentang strategi militer. Strategi adalah metode atau serangkaian untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengalokasikan sumber daya yang Menurut Mets, strategi adalah kesesuaian antara tujuan dan cara untuk Strategists must subject each potential objective, and the ways to achieve it, to rigorous analyses that assess the costs, risks, and likelihood of Only after completing such analyses can the strategist recommend objective. to policymakers "which best further the national interest" from the numerous contenders (Steven Metz. Douglas C. Lovelace. Douglas V. Johnson. William T. Johnsen, 1. Strategi dirancang jaug sebelum eksekusi terhadap kebijakan dilakukan, dengan kata lain strategi memerlukan erencanaan yang panjang. Strategi perang merupakan bagian dari strategi militer, dan strategi militer merupakan bagian dari strategi nasional untuk mencapai tujuan nasional. Arthur F Lykke menggaris bawahi bahwa strategi nasional sebagai AuThe art and science of developing and using the political, economic and psychological powers of a nation, together with its armed forces, during peace and war, to secure national objectivesAy (Lykke, 1. Secara manajemen terhadap logistik. Menurut Jomini sebagaimana dikutip oleh Michael L. Overfelt (Overfelt, 1. , logistik dalam pepeperangan diartikan Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 sebagai kemampuan untuk memobilisasi pasukan. Ini mencakup urutan dan detail pergerakan dan basis, camp dan penyediaan pasukan. Dengan kata lain logistic adalah pelaksanaan dan peroganisasian sebuah taktik dalam Sementara itu Army war College menambahkan bahwa logiktik adalah ". sebuah entitas korporasi yang terdiri dari personel, prosedur, dan mesin yang bekerja dalam kebijakan yang telah ditetapkan menuju misi perencanaan, pemindahan, dan pemeliharaan pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat dan layanan militer lainnya atau Sekutu, sebagaimana termasuk kegiatan-kegiatan yang mendukung pergerakan dan dukungan pasukan tempur. " (Overfelt, 1. Oleh karenanya, kematangan perencanaan, kemampuan logistik menjadi Logikanya, memenangkan peperangan memmerlukan perencanaan yang matang dari pengumpulan informasi akurat melalui peran intelijen, penyusunan strategi dengan merinci tujuan, identifikasi sumberdaya dan logistik, penyusunan taktik dan strategi, dan ean evaluasi periodik. Beberapa konsep dan teori di atas sedikit banyak akan dapat membantu analisa terhadap kegagalan Rusia dalam menaklukkan Ukraina. Sebab-sebab kegagalan tersebut tidaklah tunggal. Paper ini mengungkap terdapat setidaknya lima penyebab kegalan tersebut, yakni perencanaan yang tidak matang, kemampuan dan koordinasi logistik yang buruk, masalah moral dan semangat pasukan, dan keberpihakan kekuatan dunia pada Ukraina. Indikasi rencana serangan Rusia terhadap Ukraina sebenarnya telah lama diketahui oleh berbagai agen intelijen negara negara Anggota NATO. Semenjak melakukan aneksasi terhadap Krimea. Rusia memang menampakkan rasa ketidaksukaannya terhadap rezim baru Ukraina di bawah Presiden Zelensky yang berhaluan ke Barat, apalagi ketika Zelensky mulai memproyeksikan Ukraina sebagai calon anggota NATO. Ukraina adalah benteng terakhir negara negara Eropa Timur untuk menutup akses NATO mengepung wilayah Rusia. Jika Ukraina masuk dalam anggota NATO, maka posisi Rusia akan semakin sulit untuk menjaga dirinya sebagai aktor penting dalam percaturan politik Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Secara geo strategis, posisinya akan semakin terhimpit dan terkepung aksesnya ke dunia internasional. Lebih menyakitkan lagi bagi Rusia adalah karena negara negara anggota NATO yang mengepung Rusia justru adalah mereka yang dahulunya merupakan sekutunya di Pakta Warsawa dan bahkan mereka yang dulunya menjadi satu keluarga dalam negara besar Uni Soviet. Jika saja semua anggota NATO ini dipersenjatai dengan sistem pertahanan anti rudal balistik (BMD) maka posisi Rusia benar benar terkurung. Gambaran situasi tersebut mengindikasikan bahwasanya posisi Rusia pada saat tersebut sebenarnya Rusia dalam tekanan besar. Kendati masih dalam tarat adu strategi antara NATO dan Rusia, namun nampaknya Rusia dalam keadaan yang tidak menguntungkan, secara ekonomi dan koalisi sangat timpang melawan kekuatan NATO. Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh Rusia adalah dengan melemparkan sejumlah statemen yang tentu saja bernada mengancam NATO dan sekutunya. Ancaman terakhir tentu saja adalah penggunaan kekuatan militer. Oleh karenanya, invasi tersebut tidak dirancang dengan jernih berdasarkan kondisi riil yang ada, melainkan sebagai akibat dari keterpaksaan keadaan. Dalam posisi kritis seperti ini perencanaan yang matang gagal dilakukan. Peneliti dari RAND. Bradley Martin mensinyalir bahawa salah satu penyebab kegagalan Russia adalah planning yang tidak matang. Russia's failures in the war with Ukraine were due to poor planning in that Russia did not correctly assess the logistics requirement, even if it possessed the capacity (Bradley Martin. Sean Barnett. Devin McCarthy, 2. Pada sisi yang lain perencanaan adalah hal mutlak sebelum sebuah kebijakan apalagi perang Perencanaan terutama pada penyiapan logistic perang dan pengenalan Salah mengidentifikasi adanya kejanggalan pemikiran dalam invasi tersebut. Dalam sebuah komentar yang bertajuk The Intellectual Failures Behind RussiaAos Bungled Invasion. Sam Cranny-Evan dan Kaushal menemukan bahwa bahwa terdapat Aukegagalan intelektuaalAy dalam invasi ini (Sam Cranny-Evans. Sidhrath Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Kaushal, 2. Kegagalan ini terumata terletak pada perencanaan di mana Rusia nampaknya tak mampu membaca perang modern. Ada seperangkat Perang modern yang telah berubah sepertinya gagal dipahami oleh Rusia yang masih mengandalkan pada kekuatan militer tradisional. Joseph M. Donato menggambarkan kegagalan tersebut sebagai beruang yang terjebak. Pertempuran pada awalnya berjalan mudah, namun hanya dalam beberapa pekan Rusia mengalami kemandegan. Banyak pengamat pun terkejut, karena memprediksi keunggulan Rusia atas Ukraina. Rusia benar-benar terjebak, maju sulit, mundur pun akan kehilangan muka. Hal ini merupakan hasil dari kalkukasi yang buruk . ad mat. dari Vladimir Putin. Donato mengakui akan adanya kegigihan perlawanan tentara Ukraina. Namun persoalan utamanya adalah tentang penilaian situasi yang salah. Akar dari kegagalan Rusia Rusia di Ukraina lebih sederhana. Militer Rusia terhenti karena teori kemenangan yang mendasari kampanyenya didasarkan pada penilaian Kekurangan matematika militer yang umum. Merancang teori kemenangan yang bergantung pada mematahkan keinginan musuh, bukan menghancurkan kapasitas musuh untuk melawan, adalah hal yang goyah pada dasarnya, dan bencana pada tingkat terburuk. Realitas yang sering diabaikan namun menggugah ini sedang terjadi di hadapan mata dunia di Ukraina (Donato, 2. Selain itu, keterburuan serangan Rusia terhadap Ukraina nampak sekali dari ketidak mampuan logistik Rusia mensuplai perang besar ini. Dalam beberapa pekan serangan, nampaknya Rusia telah mengalami kedodoran dalam suplai logistik. Logistik dalam perang meliputi pasokan segala kebutuhan perang misalnya adalah pasokan persenjataan, peluru, baterai, kendaraan pendukung, hingga kekuatan personel. Pada bulan Januari 2023. RAND mengeluarkan sebuah laporan tentang logistik Rusia dalam invasi Ukraina. Menurut Bradley Martin. Sean Barnett. Devin Mccarthy, kegagalan Rusia dalam Perang Ukraina terutama disebabkan oleh kegagalan dalam persiapan dan pasokan Beberapa kesimpulan RAND atas kegagalan Rusia antara lain: Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Kegagalan Rusia dalam perang dengan Ukraina disebabkan oleh perencanaan yang buruk karena tidak menilai kebutuhan logistik dengan benar, meskipun memiliki kapasitas. Meskipun Rusia telah menilai ancaman dengan lebih efektif, tidak jelas apakah Rusia memiliki struktur kekuatan yang diperlukan untuk melaksanakan rencananya. Rusia kehabisan pasokan penting di awal kampanyenya untuk merebut wilayah dengan cepat, tetapi kesenjangan ini tampaknya sebagian besar akibat dari kurangnya perkiraan perlawanan yang dihadapi. Rusia tidak menyediakan kapasitas yang memadai karena tidak percaya bahwa kapasitas tersebut akan diperlukan. Namun, ketika pasukan Rusia harus mengandalkan transportasi darat yang diperpanjang, mereka menjadi semakin rentan terhadap interdiksi, terutama ketika Ukraina memiliki sistem misil stand-off. Selama konflik, masalah dasar dari pemeliharaan dan dukungan pasokan yang buruk, yang diperparah oleh kurangnya personel kemampuan Rusia untuk melaksanakan perang. Sampai batas pemeliharaan dasar telah menyebabkan kegagalan di medan perang. Dalam jangka panjang. Rusia tidak memiliki kapasitas untuk perang yang panjang menghadapi sanksi ekonomi. Meskipun dapat terus menghasilkan pendapatan dari ekspor minyak dan gas. Rusia tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata canggih atau bahkan cukup materiil untuk menjaga pasukannya tetap terjun ke medan (Bradley Martin. Sean Barnett. Devin McCarthy, 1. Kemampuan militer Rusia terlalu bertumpu pada senjata-senjata berat seperti artileri, tank dan kendaraan lapis baja. Pada serangan awal yang berskala penuh, mereka dengan cepat dapat masuk ke sejumlah wilayah. Sayangnya, formasi serangan yang dilakukan lebih merupakan barisan parade daripada formasi tempur. Asumsi Rusia adalah Ukraina tidak akan mampu menghadapi serangan ini oleh sebab ketakutan menderita kerugian besar. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Pasukan Rusia dengan mudah menakhlukkan wilayah Kyiv. Chernihiv dan Sumy. Laporan analis intelijen Amerika Serikat menyatakan bahwa pergerakan pasukan artileri dan kendaraan lapis baja yang maju ke garis depan, tidak didukung oleh pasukan infantry. Sebagai contoh, unit-unit Penjaga Nasional Rusia (Rosgvardiy. dilaporkan maju bersama, dan kadang-kadang di depan, pasukan militer Rusia, nampaknya dengan sedikit koordinasi. Hal ini mendandakan lemahnya koordinasi dan komunikasi antar lini. Banyak laporanmenyebutkan bahwa unit unit pasukan Rusia beroperasi tanpa komunikasi yang baik dan seringkali menggunakan peralatan sipil untuk berkomunikasi (Bowen, 2. Pasukan Rusia nampaknya tidak mendapatkan pelatihan yang memadahi dan diperparah oleh struktur komando yang sangat hierarkis sehingga respon pasukan dilapangan menjadi lamban akibat harus menunggu perintah dari Keadaan semakin parah ketika Amerika Serikat memberikan bantuan peluncur roket M142 HIMARS yang dapat digunakan untuk menghancurkan gudang logistic dan barikade Rusia. Meskipun jangkauan peluncur roket ini kurang dari 100 km dan tak dapat menjangkau kunci-kunci logistic Rusia, namun telah mampu menghambat laju pergerakan pasukan Rusia dengan memotong logistiknya. Masalah lain yang dihadapi oleh Rusia adalah persoalan semangat dan moralitas berperang. Hal ini sempat menajdi polemik. Moral para prajurit Rusia mengalami penurunan yang sangat besar. Panggilan telepon yang diperoleh dari para prajurit Rusia yang ditempatkan di medan perang menjelaskan situasi dan perasaan ketidakacuhan terhadap pejabat tinggi Rusia. Beberapa percakapan telepon dari prajurit yang bertugas di garda depan dengan keluarganya mengindikasikan keputus-asaan mereka dalam berperang. Mereka sepertinya tidak terlalu acuh pada perintah atasan dan bahkan menginginkan keluar dari kesatuan sebagai prajurit dan ingin hidup di Kyiv (McFall, 2. Padahal di fase awal serangan mereka tampak sangat percayadiri bahkan terlalu percaya diri untuk dapat menundukkan Zelensky dengan mudah. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Keruntuhan moral dan semangat prajurit Rusia memang beralasan. Pertama, tampak mereka kurang sekali dengan persiapan dan rasa percaya diri yang berlebihan, namun di medan perang mereka menemukan berbagai Kepercayaan diri ini runtuh dengan melihat perlawanan sengit dari Ukraina sehingga banyak korban tewas pada sisi Rusia. Kedua, mereka juga sangat terkejut dengan serangan balik Ukraina yang mengandalkan pada senjata modern seperti drone. Pada tataran ini seolah prajurit Rusia yang mengandalkan pada artileri dan senjata berat harus melawan senjata-senjata tak berawak . nmanned combat aerial vehicl. atau yang dikenal sebagai drone. Penggunaan drone dalam perang Rusia-Ukraina telah menjadi permainan baru di medan perang. Kyiv telah mencoba untuk memperluas program dronenya untuk menyempitkan kesenjangan kemampuan militer terhadap Rusia dengan bekerja sama dengan lebih dari 80 produsen drone berbasis di Ukraina, salah satunya adalah AeroDrone. Ukraina fokus pada pengembangan drone kamikaze dan jarak yang lebih jauh. Pada tahun 2023. Kyiv menyatakan bahwa akan menghabiskan hampir $550 juta dalam pengembangan drone (Hunder. Sejauh ini. Ukraina telah berhasil memproduksi drone dengan jangkauan 000 km secara domestik dan terus bekerja untuk menciptakan drone murah dan mudah diproduksi untuk membantu dalam perang (Reuter, 2. Akhirnya, kegagalan invasi Rusia juga disebabkan oleh perlawanan masyarakat global, baik pemerintah maupun non pemerintah yang melakukan protes, penolakan dan perlawanan terhadap kebijakan Presiden Putin. Sudah barang tentu, negara negara besar yang tergabung dalam NATO akan berada pada barisan Ukraina. Secara serius, negara negara ini telah memberikan batuan ekonomi dan militer kepada Ukraina pada satu sisi dan juga memberikan sanksi ekonomi pada Rusia. Invasi Rusia terhadap Ukraina secara sangat cepat mendapatkan respon negatif dari dunia internasional. Sebagian besar negara dan organisasi internasional mengutuk serangan tersebut. Pada 2 Maret 2022. Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (UNGA) melakukan pemungutan surata untuk mengutuk seranga tersebut, dengan hasil 141 negara mendukung pengutukan dan hanya 5 yang menentang, sementara sisanya 35 yang lain tercatat absen. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Reaksi paling keras datang dari Uni Eropa dan Amerika Serikat yang selain mengutuk serangan tersebut juga bergegas untuk memberlakukan sanksi serius kepada Rusia. Gambar 2. Reaksi Dunia atas Invasi Rusia Beberapa pekan setalah serangan Rusia. Amerika Serikat memberikan berbagai macam sanksi pada fase pertama. Sanksi tersebut meliputi: Pembatasan transaksi dengan bank sentral Rusia, yang membatasi kemampuannya untuk mengakses cadangan asing yang dinyatakan dalam dolar, serta transaksi dengan Kementerian Keuangan Rusia dan Dana Kekayaan Nasional. Pengetatan ekspor yang menargetkan sektor pertahanan dan maritim Rusia. produksi energi. dan "berbagai operasi komersial dan industri. Kendali ekspor termasuk pembatasan pada "teknologi sensitif AS yang diproduksi di negara-negara asing menggunakan perangkat lunak, teknologi, atau peralatan asal AS. Penerbitan Undang-undang perdagangan normal dengan Rusia dan sekutunya Belarusia melarang impor ke Amerika Serikat minyak Rusia dan produk energi Sebelum pengesahan undang-undang ini. Presiden Biden menetapkan larangan melalui perintah eksekutif atas impor minyak Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 mentah Rusia, produk petroleum, gas alam cair, dan batu bara ke Amerika Serikat (Welt, 2. Selain Amerika Serikat. Uni Eropa juga memberikan sejumlah sanksi kepada Rusia sebagai respon atas serangan ke Ukraina. Sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Uni Eropa telah memberlakukan 10 (Anna Caprile. Angelos Delivorias, 2. paket sanksi dan pembatasan terhadap Rusia. Langkah-langkah tersebut dirancang untuk melemahkan basis ekonomi Rusia, mencegah Rusia untuk mendpatkan pasokan melakukan perang. Langkah-langkah khusus telah diambil dalam penegakan dan pencegahan terhadap keberangsungan invasi atas Ukraina. Secara keseluruhan Sanksi Uni Eropa berupa travel ban terhadap pemimpin politik, anggota parlemen (Dum. , pebisnis dan anggota oligarki, para perwira militer, dan anngota dewan keamanan Rusia. Paket sanksi berikutnya adalah pembekuan asset asset Rusia yang ada di Eropa, sanksi dalam bidang keuangan, pertahanan, transportasi, maupun energi. Selain sanksi ekonomi. Amerika Serikat dan negara negara NATO juga memberikan bantuan ekonomi dan keamanan terhadap Ukraina. Paket bantuan keamanan berupa bantuan persenjataan berupa (Christina L Arabia. Andrew S. Bowen. Cory Welt, 2. 39 Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS). 12 Sistem Peluru Kendali Permukaan-ke-Udara Lanjutan Nasional (NASAMS). 1 baterai pertahanan udara Patriot. sistem pertahanan udara lainnya. dan 21 radar pengawasan udara 31 tank Abrams, 45 tank T-72B, dan 186 kendaraan tempur infanteri Bradley 300 Pembawa Personel Lapis Baja M113 dan 189 Stryker 000 rudal anti-pesawat Stinger 000 Javelin dan 90. 000 sistem anti-armor lainnya Phoenix Ghost. Switchblade, dan UAS lainnya 198 meriam 155 mm dan 72 meriam 105 mm dan artileri 227 sistem mortar Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 Sistem Ranjau Anti-Armor Jarak Jauh (RAAM) 000 rudal Tube-Launched. Optically Tracked. Wire Guided (TOW) Rudal anti-radiasi berkecepatan tinggi (HARM) dan sistem roket pandu 000 peluncur granat dan senjata kecil Peralatan komunikasi, radar, dan intelijen Pelatihan dan pemeliharaan Dukungan ekonomi dan militer ini membuat Ukraina mampu mengimbau pergerakan pasukan Rusia. Senjata-senjata canggih seperti HIMARS, mampu menghancurkan rantai pasokan logistik pasukan Rusia. Pasukan Ukraina juga semakin bersemangat dengan berbagai bantuan KESIMPULAN Keunggulan dalam kuantitas dan kualitas militer tidak dapat menjamin kemenangan dalam pertempuran. Terdapat banyak variabel yang mempengaruhi kekalahan dan kemenangan daam perang. Jika diukur dari angka saja. Rusia jauh mengungguli Ukraina, tetapi di medan pertempuran banyak hal yang terlibat. Invasi Rusia yang pada awalnya berjalan dengan baik, tak mampu berlanjut dan justru menjebak pasukan Rusia di Ukraina yang sulit maju, namun enggan bergerak mundur. Rusia justru kehilangan ribuan pasukannya. Variabel-variabel dalam medan pertempuran diantaranya adalah persoalan perencanaan dan intelijen, logistik dan persenjataan, taktik dan strategi, serta moralitas dan semangat pasukan. Satu faktor eksternal yang juga berkontribusi adalah dukungan dari masyarakat internasional, khususnya negara-negara yang menjadi sekutunya. Meskipun Rusia unggul dalam skala jumlah pasukan dan persenjataan, namun lemah dalam aspek yang lain, seperti perencanaan, intelijen, taktik, moralitas serta logistik. Jurnal Dinamika Global Vol. 9 No. Juni 2024 P-ISSN 2548-9216 | E-ISSN 2684-9399 DAFTAR PUSTAKA