PENERAPAN BERMAIN PAPER CLAY UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK WILAYAH CILEDUG Abstract STUDI KASUS Chika Rafelia Anak usia prasekolah . Ae6 tahu. berada pada tahap perkembangan pesat, termasuk dalam aspek motorik halus yang berperan penting untuk menunjang kesiapan belajar, keterampilan sosial, dan aktivitas sehari-hari. Hambatan dalam perkembangan motorik halus dapat membatasi aktivitas anak di sekolah dan berpengaruh pada aspek akademik maupun sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis intervensi bermain paper clay dalam meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak prasekolah di TK Aisyiyah 76 Ciledug. Elfira Awalia Rahmawati2* Sri Atun Wahyuningsih 3 Luthfi Adillah 4 1,2 Departemen Keperawatan Anak Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Keperawatan Jiwa. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 4Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: Elfira Awalia Rahmawati email: elfira. awalia@akper-pelni. Kata Kunci: Anak Prasekolah Paper Clay Motorik Halus Metode: Penelitian menggunakan metode studi kasus dengan melibatkan 3 Intervensi diberikan selama 10 hari setelah pembelajaran, masing-masing selama 20Ae30 menit. Penilaian keterampilan motorik halus dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan motorik halus yang diisi pada saat sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa ketiga responden mengalami peningkatan keterampilan motorik halus dari kategori Aucukup meningkatAy menjadi kategori AumeningkatAy. Responden I memperoleh persentase dari 50% . ukup meningka. menjadi 66% . Responden II memperoleh persentase 50% . ukup meningka. menjadi 61% . , dan Responden i memperoleh persentase 55% . ukup meningka. menjadi 72% . Kesimpulan: Perkembangan terlihat pada aspek keterampilan memegang pensil, menulis, serta koordinasi tangan, meskipun pada keterampilan menggunting masih diperlukan latihan tambahan. Berdasarkan hasil analisis, intervensi bermain paper clay terbukti efektif dalam menstimulasi keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah. Dengan demikian, kegiatan bermain berbasis media paper clay dapat dijadikan salah satu alternatif stimulasi yang menyenangkan dan bermanfaat dalam mendukung tumbuh kembang anak Diterima: 2 Januari 2026 Diperbaiki: 19 Januari 2026 Dipublikasikan: 31 Januari 2026 E-ISSN Sitasi artikel ini: Rafelia. Rahmawati. Wahyuningsih. Adillah. Penerapan Bermain Paper Clay Untuk Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Pada Anak Usia Prasekolah di TK Wilayah Ciledug. Volume 2 . , 1-8. https://journal. id/index. php/jkpp Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 PENDAHULUAN Anak-anak yang berusia prasekolah . -6 tahu. mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang cepat, mencakup kemampuan motorik kasar dan halus, nilai-nilai, kecerdasan sosial, dan emosional, serta kemajuan dalam kemampuan berbahasa (Rahayuningrum & Wahyuni, 2. Perkembangan keterampilan motorik halus ini sangat penting bagi anak usia prasekolah karena keterampilan motorik bergantung pada koordinasi antara berbagai bagian tubuh, seperti mata, tangan dan sistem saraf (Widyaningrum, et al, 2. Dalam perkembangan motorik halus juga perlu adanya stimulasi untuk anak prasekolah dalam kegiatan bermain. Adanya hambatan dalam perkembangan ini dapat membatasi kegiatan anak disekolah serta dapat menghambat aspek sosial dan akademis anak (Setianingsih et al, 2. Proses perkembangan yang lambat disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari faktor genetik, individu maupun lingkungan. Seperti halnya yang dikemukan oleh (Khadijah dan Amelia, 2. bahwa motorik halus dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti, keturunan, kekurangan gizi, cacat bawaan, pola asuh dan latar budaya yang berbeda (Mahmudah et al. , 2. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2021, sekitar 15-20% anak-anak prasekolah mengalami masalah dalam keterampilan motorik halus. Selain itu, menurut data dari UNICEF (United Nations ChildrenAos Fun. pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 3 juta anak, atau sekitar 27,5%, mengalami masalah dalam perkembangan motorik mereka. Di Indonesia sekitar 8% anak prasekolah menderita gangguan perkembangan motorik halus, yakni tingkat tertinggi ketiga dari gangguan tumbuh kembang di Asia Tenggara (Rumahorbo, 2. Keterlambatan dalam perkembangan motorik halus juga berpengaruh negatif pada proses belajar di sekolah, yang berdampak pada berbagai perilaku seperti malas menulis, berkurang minat untuk belajar, serta mempengaruhi kepribadian anak, contohnya anak merasa kurang percaya diri, ragu-ragu, dan sering merasa cemas terhadap lingkungan (Winarsih et al. , 2. Penggunaan media berperan penting dalam mendukung perkembangan motorik halus pada anak, oleh karena itu media tersebut harus disajikan secara kreatif dan dilengkapi dengan aktivitas yang menyenangkan untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik. Bermain merupakan kegiatan yang sangat disukai oleh anakanak, sehingga sering kali dunia anak disebut sebagai dunia permainan. Melalui aktivitas bermain, anak-anak memperoleh kesempatan untuk memahami lingkungan sekitar, berinteraksi dengan teman sebaya, mengelola emosi, serta mengekspresikan diri mereka. (Nurhayati et al, 2. Paper clay merupakan suatu kerajinan dengan bahan dasar koran, kardus ataupun kertas yang sifatnya mudah dihancurkan setelah direndam dengan menggunakan air (Maghfiroh & Yuliani, 2. Penggunaan kegiatan paper clay ini dapat menstimulus motorik halus anak, karena dalam proses Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 pembuatannya mengandung beberapa aktivitas yang berhubungan dengan kekuatan lengan anak, seperti merobek, memeras, meremas, menekan dan sebagainya. Penelitian terdahulu mendukung efektivitas paper clay terhadap motorik halus. Waruwu & Marinu . di TK Insan Cemerlang Pringsewu kelompok B2 mengungkapkan hasil bahwa 28 anak dari 33 menunjukkan adanya peningkatan skor keterampilan motorik halus dari 69,03 menjadi 87,66. Penelitian marsuki et al . di Desa Madello, dengan melibatkan sebanyak 7 responden melaporkan hasil serupa, di mana rata-rata skor keterampilan motorik meningkat dari 16,71 menjadi 33,14 setelah diberikan permainan paper clay. Penelitian Asti . di PAUD Doa Ibu melibatkan16 anak juga menememukan perubahan kategori perkembangan motorik halus dari belum berkembang menjadi berkembang sesuai harapan hingga berkembang sangat baik setelah intervensi. Berdasarkan uraian diatas. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menstimulasi kemampuan motorik halus adalah melalui kegiatan bermain yang sesuai dengan usia anak. Bermain paper clay ini merupakan salah satu bentuk aktivitas kreatif yang membantu menguatkan otot-otot halus tangan anak. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan intervensi melalui kegiatan bermain paper clay untuk meningkatkan keterampilan pada anak usia prasekolah di TK aisyiyah 76 Ciledug. METODE Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Penelitian dilaksanakan pada 3 orang responden anak usia prasekolah di TK Aisyiyah selama 10 hari pada tanggal 9-18 Agustus 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia prasekolah di TK Aisyiyah 76 Ciledug. Sampel yang diambil adalah 3 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi: . Anak berusia 4-6 tahun, . Anak dengan keterampilan motorik halus yang belum meningkat . - 44% ) atau cukup meningkat . % - 55%), . Anak yang sedang dalam kondisi sehat, . Orangtua yang bersedia menjadi responden dalam kegiatan intervensi paper clay. Kriteria ekslusi meliputi: . Anak dengan gangguan perkembangan, . Anak yang tidak hadir secara konsisten, . Anak yang meninggalkan / pulang saat dilakukan intervensi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan bermain permainan paper clay dan lembar observasi untuk menilai keterampilan motorik halus. Prosedur intervensi dilakukan dengan permainan paper clay yang berdurasi 20-30 menit setelah pembelajaran dikelas. Perlindungan hak responden dilakukan dengan meminta persetujuan tertulis dari orang tua/wali melalui informed consent, menjaga kerahasiaan identitas anak, serta memastikan tidak ada paksaan selama partisipasi penelitian. Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 HASIL Penelitian ini melibatkan tiga anak perempuan usia prasekolah . -6 tahu. di TK Aisyiyah 76 Ciledug. Berdasarkan hasil pengukuran awal . re-tes. , seluruh responden menunjukkan keterampilan motorik halus yang belum optimal. Setelah dilakukan intervensi bermain paper clay selama 10 hari setelah pembelajaran dikelas. Keterampilan motorik halus anak mengalami peningkatan yang ditunjukkan melalui persentase hasil observasi. Tabel 1Perbandingan Persentase Keterampilan Motorik Halus Sebelum dan Sesudah Intervensi Responden Responden I Responden II Responden i Presentase Sebelum Intervensi Setelah Intervensi Berdasarkan tabel di atas, pada responden didapatkan hasil persentase sebelum dilakukan intervensi bermain paper clay 50% dan setelah dilakukan intervensi 66% dimana pada responden I mengalami peningkatan sebanyak 16%. Pada responden II didapatkan hasil persentase sebelum dilakukan intervensi bermain paper clay 50% dan setelah dilakukan intervensi 61% dimana pada responden II mengalami peningkatan sebanyak 11%. Pada responden i didapatkan hasil persentase sebelum dilakukan intervensi bermain paper clay 55% dan setelah dilakukan intervensi 72% dimana pada responden i mengalami peningkatan sebanyak 17%. Secara rata-rata, persentase keterampilan motorik halus sebelum intervensi adalah 52%, kemudian meningkat menjadi 66% setelah intervensi. Hal ini menunjukkan adanya rata-rata peningkatan sebesar 14% pada ketiga responden. Grafik 1 Perbandingan Sebelum dan Sesudah Grafik pada gambar menunjukkan perbedaan persentase keterampilan motorik halus sebelum dan sesudah intervensi. Ketiga responden memperlihatkan peningkatan yang konsisten, meskipun besaran kenaikan bervariasi. Peningkatan terbesar terdapat pada responden i. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi bermain paper clay berdampak positif terhadap keterampilan motorik halus anak prasekolah. Kegiatan meremas, membentuk, mencetak, dan Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 menggunting paper clay dapat menstimulasi otot jari serta melatih koordinasi tangan dan mata. Perubahan terlihat dari hasil observasi setelah intervensi, di mana anak lebih terampil menggunakan jari, lebih mantap saat memegang alat, serta mampu menyelesaikan aktivitas dengan lebih rapi. Selain itu, anak juga tampak lebih berminat, lebih fokus, dan antusias dalam mengikuti kegiatan. Hal ini membuktikan bahwa paper clay efektif digunakan sebagai media stimulasi keterampilan motorik halus sekaligus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak prasekolah. PEMBAHASAN Usia Penelitian ini melibatkan anak usia 5Ae6 tahun, dengan dua responden berusia 5 tahun dan satu responden berusia 6 tahun. Pada tahap prasekolah akhir, kontrol gerakan otot kecil mulai matang. Sejalan dengan Rahmawati et al. , kegiatan bermain paper clay efektif meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 5Ae6 tahun melalui stimulasi kreatif yang sesuai Jenis Kelamin Seluruh responden berjenis kelamin perempuan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan motorik halus dari kategori Aucukup meningkatAy menjadi AumeningkatAy. Anak perempuan lebih teliti, sabar, dan berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang memerlukan koordinasi tangan dan mata. Hal ini didukung oleh Robingatin et al. yang menyatakan bahwa anak perempuan cenderung memiliki kemampuan motorik halus lebih baik dibandingkan anak laki-laki karena lebih teratur dan fokus. Riwayat Kesehatan fisik Ketiga responden berada dalam kondisi fisik yang sehat dan aktif. Tidak ditemukan adanya gangguan tumbuh kembang yang memengaruhi gerakan halus tangan. Kondisi fisik yang baik mendukung keberhasilan dalam mengikuti kegiatan paper clay. Hal ini sesuai dengan pendapat Dubale et al. bahwa anak dengan kondisi fisik sehat memiliki respon motorik yang lebih optimal terhadap stimulasi. Stimulasi dan interaksi Responden I mendapat stimulasi dari guru dan orang tua dengan hasil peningkatan signifikan. Responden II hanya mendapat stimulasi dari guru sehingga peningkatannya sedang. Responden i memperoleh dukungan dari rumah dan sekolah, menjadi yang paling aktif dan antusias. Hal ini sejalan dengan Fitriani & Yurwanti . bahwa stimulasi rutin mempercepat perkembangan motorik halus anak. Terapi Bermain Paper Clay Hasil terapi menunjukkan peningkatan kemampuan motorik halus pada ketiga responden. Responden I naik dari 50% ke 66%, responden II dari 50% ke 61%, dan responden i dari 55% ke Responden i menunjukkan hasil terbaik dengan bentuk paling rapi. Temuan ini sejalan Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 dengan Marsuki et al. dan Waruwu & Marinu . bahwa paper clay efektif menstimulasi koordinasi tangan dan jari anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di TK Aisyiyah 76 Ciledug menunjukkan bahwa intervensi bermain paper clay ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak prasekolah. Responden terdiri dari tiga anak perempuan berusia 5 hingga 6 tahun. Sebelum intervensi, pada kemampuan motorik halus anak responden I dan II berada pada 50% . ategori cukup meningka. , sedangkan responden i mencapai 55% . ategori cukup meningka. Setelah intervensi, pada kemampuan mereka meningkat menjadi 66% pada responden I . enaikan 16%), 61% pada responden II . enaikan 11%), dan 72% pada responden i . enaikan 17%). Hasil ini menunjukkan bahwa bermain paper clay secara signifikan dapat meningkatkan keterampilan motorik halus. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan para pihak yang terlibat dalam penelitian ini PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang timbul pada saat melakukan penelitian ini PENDANAAN Penelitian ini tidak dibayai oleh pihak manapun dan menggunakan dana pribadi. KONTRIBUSI PENULIS Chika Rafelia: Penulis utama, konseptualisasi, metodologi, analisis, dan referensi Elfira Awalia Rahmawati: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Sri Atun Wahyuningsih: Validasi, analisis formal, dan kurasi data Luthfi Adillah: Validasi, analisis formal, dan kurasi data ORCiD ID Chika Rafelia ORCiD ID : Tidak tersedia Elfira Awalia Rahmawati ORCiD ID : 0000-0002-0383-2203 Sri Atun Wahyuningsih ORCiD ID : 0009-0005-7316-0130 Luthfi Adillah ORCiD ID : 0000-0002-1146-819X Jurnal Keperawatan Degeneratif Pelni. Volume 2. Issue 1. Januari 2026 RAFELIA. RAHMAWATI. WAHYUNINGSIH. ADILLAH. e-ISSN: 3089-34337 REFERENSI