JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit Moudyana Lukman1*. Sri Vitayani2. Selis Frisa2 Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Umum. Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia Departemen Ilmu Penyakit Kulit Kelamin Fakultas Kedokteran. Universitas Muslim Indonesia. Makassar. Indonesia *Corresponding author email: maudyana@gmail. Article Info Article history: Received June 10, 2025 Approved August 10, 2025 Keywords: Prevalence. Disease. Morbus Hansen. Leprosy ABSTRACT Leprosy or Morbus Hansen is a chronic infectious disease with prominent involvement of the skin and nerves caused by the bacillus Mycobacterium leprae. Leprosy is divided into two main forms depending on the degree and type of immunity. Lepromatous lessing with a dominant Th2 response and tuberculoid with a dominant Th1 response. Early diagnosis and rapid treatment of all new cases of leprosy treated with multidrug (MDT) is a recommendation from the World Health Organization (WHO) is still a key strategy in controlling leprosy and further preventing nerve damage and disability. Objective: This report aims to know the prevalence of leprosy in 2019 - 2024 in Hospitals. Method: The method used is a literature review with a Narrative Review Results: The results obtained in this literature are 15 articles obtained with arrangement from 2020 - 2025 and an in-depth analysis of the strengths and weakness of each article has been carried out regarding the prevalence of leprosy in 2019 - 2024 in Hospitals, 15 articles mention the prevalence of leprosy in 2019 - 2024 in Hospitals. The most dominant characteristics of Hansen's disease in this literature review are age and type of Hansen's disease, followed by gender. Although there are several other characteristics such as occupation. ABSTRAK Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit menular kronis dengan keterlibatan yang menonjol pada kulit dan saraf yang disebabkan oleh basil Mycobacterium leprae. Kusta dibagi menjadi dua bentuk utama yang bergantung pada derajat dan jenis kekebalan Kusta dengan respons Th2 yang dominan dan tuberkuloid dengan respons Th1 yang Diagnosis dini dan pengobatan yang cepat dari seluruh kasus kusta baru yang diobati dengan multidrug (MDT) merupakan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih jadi kunci strategi dalam pengendalian kusta dan selanjutnya mencegah rusaknya saraf dan cacat. Tujuan : Laporan ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit. Metode : Metode yang digunakan yaitu literature review dengan desain Narrative Review. Hasil : Hasil yang didapatkan pada literatur ini yaitu terdapat 15 artikel yang didapatkan dengan rentan waktu dari tahun 2020 Ae 2025 dan sudah dilakukan analisis mendalam kekuatan dan kelemahan masing-masing artikel mengenai prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit, 15 artikel menyebutkan prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit. penyakit morbus hansen yang paling dominan dalam review literatur ini adalah usia dan tipe morbus hansen, diikuti dengan jenis kelamin. Walaupun terdapat beberapa karakteristik lain seperti pekerjaan. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1587 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . How to cite: Lukman. Vitayani. , & Frisa. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 1587Ae1599. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Lepra atau Kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit menular kronis dengan keterlibatan yang menonjol pada kulit dan saraf yang disebabkan oleh basil Mycobacterium Lepra dibagi menjadi dua bentuk utama yang bergantung pada derajat dan jenis kekebalan Lepra dengan respons Th2 yang dominan dan tuberkuloid dengan respons Th1 yang Lepra merupakan masalah kesehatan yang serius di sejumlah negara berpenghasilan Meskipun jarang membunuh. Lepra merupakan penyakit yang merusak, melumpuhkan, dan menstigmatisasi. Mycobacterium leprae berkembang biak dengan lambat dan masa inkubasi penyakit rata-rata adalah 3-5 tahun. Gejala dapat terjadi dalam 1 tahun tetapi juga dapat berlangsung selama 20 tahun atau bahkan lebih. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan terapi Lepra kemungkinan ditularkan melalui droplets, dari hidung dan mulut, selama kontak dekat dan sering dengan kasus yang tidak diobati (Amaliah et al. , 2. Lepra yang mungkin sudah ada sejak 600 SM di India, dan 200 SM di Cina dan Jepang. Bukti ilmiah paling awal tentang Lepra berasal dari kerangka Mesir dan dua mumi Koptik masing-masing dari abad kedua SM dan abad kelima Masehi. Salah satu teori adalah bahwa Lepra dibawa dari India ke lembah Mediterania oleh tentara Alexander Agung antara 327 dan 326 SM dan kemudian menyebar ke seluruh Kekaisaran Yunani dan Romawi. Studi terbaru menggunakan genomik komparatif telah menunjukkan bahwa semua kasus Lepra yang masih ada disebabkan oleh klon tunggal, dan penyakit tersebut tampaknya berasal dari Timur Dekat atau Afrika timur (Darmawan & Rusmawardiana, 2. Angka prevalensi Lepra di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 0,70 kasus/10. penduduk dan angka penemuan kasus baru sebesar 6,08 kasus per 100. 000 penduduk. Ada provinsi yang prevalensinya masih di atas 1 per 10. 000 penduduk. Pada anak,selama periode 2013-2017, angka penemuan kasus baru pada tahun 2013 merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 11,88 per 100. 000 penduduk (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2018:. Jumlah penderita Lepra terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Timur pada periode tahun 2015- 2017, namun dengan penurunan penderita sebesar 15,95%,sedangkan provinsi yang mengalami kenaikan jumlah penderita paling tinggi dalam kurun waktu 2015-2017 terdapat di provinsi Maluku sebesar 102,84% (Fitria & Mellaratna, 2. Diagnosis dini dan pengobatan yang cepat dari seluruh kasus Lepra baru yang diobati dengan multidrug (MDT) merupakan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih jadi kunci strategi dalam pengendalian Lepra dan selanjutnya mencegah rusaknya saraf dan cacat. Diagnosis dini pada pasien merupakan peluang yang tinggi untuk meurunkan bahkan menghentikan penularan lebih lanjut. Meskipun demikian, banyak laporan terbaru di dunia memperlihatkan masih banyak pasien yang terlambat didiagnosis (Kasim. Yusuf & Salawali. Sehingga, berdasarkan pemaparan diatas, penulisan artikel review ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi reaksi lepra tahun 2019-2024 di rumah sakit dengan cara melakukan kajian literatur dari berbagai hasil panelitian yang terbit secara online, baik dalam linkup nasional maupun internasional. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1588 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . METODE Penelitian ini merupakan penelitian Literature Review dengan desain Narrative Review. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia. Dengan penggunaan metode ini, dapat dilakukan review dan identifikasi jurnal secara sistematis, yang pada setiap prosesnya mengikuti langkah-langkah atau protokol yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini juga menggunakan metode PICO dalam mencari literature. Jenis data pada penilitian ini berupa data sekunder, yaitu database dari berbagai referensi, seperti jurnal penelitian, review jurnal, annual report, buku dan data-data yang berkaitan dengan karakteristik penyakit lepra diterbitkan pada tahun 2020-2025. Pencarian literatur dilakukan melalui database elekronik yaitu Google Scholar. Clinical Key. PubMed. Researchgate, hasil survey nasional seperti RIKESDAS. PSG dan WHO, dicari dengan menggunakan kata kunci: Morbus hansen. Analisis konten dilakukan dengan menggunakan tabel sintesis dengan membandingkan metode penelitian, subjek dan objek penelitian, serta variabel yang diteliti mencakup prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Tabel 1. Hasil Peneltian Prevalensi Lepra Tahun 2019-2024 di Rumah Sakit Penulis Zuraida, . Penerbit Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Tujuan Penelitian ini kusta dengan BTA RSUD Budhi Asih Subjek Sampel adalah data pasien baru kusta rawat jalan yang n BTA MH RSUD Budhi Asih Ae 290 pasien. Metode Penelitian ini pada pasien rawat jalan RSUD Budhi Asih Januari 2015 Desember Putera, . Intisari Sains Medis Penelitian ini prevalensi dan Kabupaten Klungkung COVID-19. Sampel kusta sesuai data Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung yang baru Penelitian n rancangan kusta yang Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung Hasil C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) . ,66%) dan Tipe Multibasiler (MB) . ,34%). C Usia : usia O 19 . ,62%), usia 20 Ae . ,31%), usia Ou 51 . ,07%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 73 ,87%) Perempuan sebanyak 30 . ,13%). C Pekerjaan : C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 0 . %) dan Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 22 . %). C Usia : usia 0 Ae 14 tahun sebanyak 1 . ,5%), usia 15 Ae 64 sebanyak 19 . ,4%), usia Ou 62 sebanyak 2 . ,1%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 13 ,1%) Perempuan sebanyak 9 . ,9%). C Pekerjaan : Belum/ Tidak Bekerja sebanyak 3 . ,6%). Implikasi Pasien baru kusta berjenis kelamin laki-laki,usia kusta MB . Perlu pengawasan oleh sektor kesehatan pencegahan dan penyakit kusta. Prevalensi kusta Kabupaten Klungkung kurun pandemi COVID-19 Telah mencapai target eleminasi termasuk daerah kusta tinggi . igh Karakteristik penderita kusta pada daerah ini Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1589 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Sangadji , et al Mahesa: Malahayati Health Student Journal Penelitian ini untuk Untuk kusta baru di RSUD Dr. Chasan Boesoirie Ternate Januari 2019 Ae Desember Sari, et Jurnal Kedoktera n Unram Penelitian ini kualitas hidup pasien kusta Amaliah , et al Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedoktera Tujuan penelitian ini adalah untuk Lepra (Kust. rawat jalan di buruh sebanyak 1 ,5%), IRT sebanyak 3 . ,6%), petani sebanyak 9 ,9%), sebanyak 4 . ,2%) sebanyak 2 . ,1%). C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 1 . ,4%) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 41 . ,6%). usia 0-17 C Usia : tahun sebanyak 12 . ,6%), usia 18 Ae 64 sebanyak 28 . ,7%), usia Ou 65 sebanyak 2 . ,8%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 47 pasien . ,3%) dan perempuan sebanyak 25 pasien . ,7 %). C Pekerjaan : - Sampel rawat jalan di poliklinik RSUD Dr. Chasan Boesoirie Ternate kusta pada 2019Desember Subjek pada ini adalah kusta yang yang berada Kota Mataram Metode ini adalah Penelitian ini studi potong lintang untuk hidup pasien kusta pada C Tipe : C Usia : usia 12-20 tahun sebanyak 3 . ,0%), usia 21-40 sebanyak 9 . ,0%), sebanyak 8 . ,0%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 13 ,0%) dan perempuan sebanyak 7 pasien . ,0 %) : Ibu C Pekerjaan sebanyak 6 . ,0%), swasta sebanyak 6 ,0%), sebanyak 2 . ,0%), sebanyak 2 . ,0%) sebanyak 4 . ,0%). Sampel pasien yang Lepra . dan rawat jalan Penelitian ini C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 9 . ,4%) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 33 . ,6%). C Usia : usia 0-5 tahun sebanyak . ,3%), 611 tahun sebanyak . ,9%), 12-16 tahun sebanyak . ,5%), 17- Pasien kusta baru adalah kelompok terbanyak adalah laki laki, menurut terbanyak adalah 1 , tipe kusta terbanyak adalah tipe multibasiler, dan berdasarkan riwayat kontak terbanyak adalah riwayat kontak. Prevalensi kusta di Kota Mataram kasus per 10. penduduk, lebih nasional tahun Sebagian pasien memiliki yang tergolong rendah terutama serta hubungan Manajemen tatalaksana pasca terutama terkait kecacatan kusta. Karakteristik penderita Lepra (Kust. pengobatan rawat Tamalate Makassar periode 2018Ae2021 yaitu terbanyak pada Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1590 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Mahfud, . Jurnal Pendidikan Tambusai Mahapu tra, et al Jurnal Ners Tamalate Makassar periode 2018Ae Puskesmas Tamalate Makassar pada tahun dengan cara pasien yang oleh dokter Kusta . yang rawat jalan. yaitu rekam medik pasien nya dengan Penelitian ini Lepra (Kust. rawat jalan di Tamalate Makassar periode 2017 Ae Sampel Penderita Lepra yang Menjalani Pengobatan Rawat Jalan Puskesmas Tamalate Makassar Periode 2017 - 2022 Metode pada penelitian ini bagian rekam Puskesmas Tamalate Makassar Penelitian hansen di Poliklinik Kulit dan Kelamin Sampel 24 pasien Morbus Hansen Poliklinik Kulit dan Kelamin Pada Morbus Hansen di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSPAL 25 tahun sebanyak . ,7%), 26-35 tahun . ,6%), sebanyak . ,5%), 4655 tahun sebanyak . ,5%), 56-65 tahun sebanyak . ,8%), 65 sebanyak . ,1%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 34 %) dan perempuan sebanyak 8 pasien . %) : Tidak C Pekerjaan bekerja sebanyak 10 ,8%), IRT sebanyak 7 . ,7%). Buruh Harian . ,1%). Pegawai swasta sebanyak 2 ,8%), PNS sebanyak 1 . ,8%). Pelajar sebanyak 6 . ,3%). C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 9 . %) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 41 . %). C Usia : usia 0-5 tahun sebanyak 1 . %), 511 tahun sebanyak 6 . %), 12-25 tahun sebanyak 15 . %), sebanyak 17 . %), 46 tahun ke atas sebanyak 11 . %). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 39 %) dan perempuan sebanyak 11 pasien . %) : Tidak C Pekerjaan bekerja sebanyak 24 %). IRT sebanyak . %). Buruh Harian sebanyak 8 %), Pegawai swasta sebanyak 4 . %). PNS sebanyak . %). Pelajar sebanyak 10 . %). C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 3 . ,5%) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 21 . ,5%). C Usia : usia 11-20 tahun sebanyak 3 . ,5%), 21-30 tahun sebanyak 6 . ,0%), sebanyak 5 . ,8%). Multibasiller, berjenis kelamin laki-laki buruh harian. Berdasarkan bahwa ditemukan penderita kusta yang menjalani pengobatan rawat jalan terbanyak pada tipe kusta Multibasiller, 26- 45 tahun, laki-laki pasien yang tidak Prevalensi Morbus Hansen pada pasien laki-laki, dengan rasio Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1591 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . RSPAL Ramelan Periode 2016Ae RSPAL Ramelan Ramelan 2016Ae sebanyak 6 . ,0%), sebanyak 2 . ,3%), sebanyak 2 . ,3%). C Jenis Kelamin pasien . ,3%) . ,7 Pekerjaan : - Serta Pasien Morbus Hansen tahun dan 4150 Berdasarkan tipe morbus (MB) sebesar 87,5%. Li, et al Frontiers in Public Health Penelitian ogi kusta Provinsi Jiangsu Sampel Morbus Hansen yang di Provinsi Jiangsu n Delta Sungai Yangtze di pesisir Tiongkok Dalam Microsoft Excel SPSS untuk C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) . ,08%) dan Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 36 . ,92%). C Usia : rata rata usia 60,56 ,42%) C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 232 pasien . ,0%) dan perempuan sebanyak 131 pasien . ,0%) C Pekerjaan : Petani . ,3%), sebanyak 47 . ,4%), rumah tangga dan sebanyak 15 . ,3%), pensiunan sebanyak 6 . ,7%), pelajar sebanyak 4 . ,1%), jasa bisnis sebanyak 8 . ,3%). Penelitian ini kusta di Provinsi Jiangsu dari Hasilnya bahwa NCDR kusta menurun, tetapi kasuskasus baru kecacatan, yang merupakan tanda Kasus kusta yang baru terdeteksi secara terkonsentrasi di provinsi barat laut, seperti kota Suqian. Putri, et al . BKM Public Health & Communi Medicine Penelitian kusta dan n di klinik Rumah Sakit UNRAM. Sampel datang ke ogi dan Januari April Penelitian ini pada pasien Januari 2021 hingga April C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 5 . ,5%) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 35 . ,5%). usia <17 C Usia : tahun sebanyak 0 . %), 17-25 tahun sebanyak 10 . ,0%), sebanyak 18 . %), sebanyak 10 . %), >65 tahun sebanyak 2 . %). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 21 pasien . ,5%) dan perempuan sebanyak 19 pasien . ,5%). Prevalensi penelitian ini penting untuk beban penyakit dan membangun terhadap kusta. Peran penyedia kesehatan sangat penting dalam kesadaran pasien kusta untuk merawat diri sendiri karena hal ini penting untuk mencegah kecacatan yang Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1592 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Prakoes wa, et al Berkala Ilmu Kesehata Kulit Kelamin Penelitian ini pasien kusta. Rumah Sakit Pendidikan Dermatologi Venereologi di Indonesia. Sampel Klinik Rawat Jalan Dermatol ogi dan Venereol ogi di 13 Rumah Sakit Pendidik Indonesi a antara Januari 2018 dan Desembe Penelitian ini pasien dari Klinik Rawat Jalan Dermatologi Venereologi di 13 Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia Januari 2018 Desember Earlia, . Berkala Ilmu Kesehata Kulit Kelamin Penelitian ini profil pasien Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin RSUDZA Banda Aceh. Sampel pasien kusta Poliklinik Rawat Jalan Departeme Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUDZA Banda Aceh Januari Desember Tanojo, . Berkala Ilmu Kesehata Penelitian ini Sampel Penelitian n data rekam medis pasien kusta yang ke Poliklinik Rawat Jalan Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin RSUDZA Banda Aceh Januari 2017 - Desember Penelitian ini : Tidak C Pekerjaan bekerja sebanyak 16 %), Pelajar/Mahasiswa sebanyak 3 . ,5%). Karyawan sebanyak . ,5%), wiraswasta sebanyak 7 . ,5%). Ibu Rumah Tangga sebanyak 1 . ,5%). Pegawai Negeri Sipil sebanyak 3 . ,5%). Pekerja Harian sebanyak 2 . %), polisi sebanyak 1 . ,5%). C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) . 1%), Tipe Multibasiler (MB) . 2%), 7%), tipe . 6%), tipe histoid sebanyak . 2%) dan sebanyak . 2%). usia <14 C Usia : ,7%), usia >14 . ,3%). C Jenis Kelamin : laki ,8%) perempuan sebanyak . 2%). C Pekerjaan : - Kasus kusta di Indonesia sebagian besar dialami oleh lakilaki dewasa. Jenis kusta yang paling sering terjadi adalah MB, dengan ENL sebagai reaksi kusta yang paling umum. Kecacatan tingkat 1 adalah yang paling banyak terjadi, oleh karena itu edukasi yang tepat sangat diperlukan untuk mencegah pasien kecacatan tingkat C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 52 . ,4%) Tipe Multibasiler (MB) . ,6%). usia <12 C Usia : tahun sebanyak 3 . ,6%), usia 12-17 tahun sebanyak 11 . %), 18-40 tahun . ,1%), 41-65 tahun sebanyak 49 . ,8%), >65 tahun sebanyak 10 . ,5%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 125 ,3%) perempuan sebanyak 58 . ,7%). C Pekerjaan : - Diagnosis kusta didasarkan pada gambaran klinis, bakteriologis dan Diagnosis dini, pengobatan dini dan kepatuhan terhadap terapi akan mengurangi sehingga dapat prevalensi kusta di Aceh. C Tipe : C Usia : usia 20-39 tahun sebanyak 98 Kusta MB di daerah endemis, yang lebih sering Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1593 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Kulit Kelamin analisis darah putih pasien terutama yang dengan reaksi pasien kusta di Rumah Sakit Pendidikan Soetomo . ,6%), usia 40-59 tahun sebanyak 61 . ,6%), usia Ou60 sebanyak 17 . ,65%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 126 ,5%) perempuan sebanyak 50 . ,4%). C Pekerjaan : - Busnia, . Internatio Journal of Health Medicine Penelitian ini profil pasien Poliklinik Kulit Kelamin RSUP Dr M. Djamil Padang tahun Sampel pasien kusta di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr Djamil Padang Penelitian ini teknik total rekam medis C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) . ,64%) dan Tipe Multibasiler (MB) . ,36%). usia O14 C Usia : tahun sebanyak 0 %), usia > 14 tahun sebanyak 39 . %). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 29 ,36%) perempuan sebanyak 10 . ,64%). C Pekerjaan : - Darlong , et al Indian Journal of Dermatol Venereolo Leprology Penelitian ini anak dengan kusta: Faktorfaktor Subjek adalah anak kusta yang Rumah Sakit Misi Kusta Muzaffarpu (Biha. Purulia (Benggala Bara. dan Faizabad (Uttar Prades. India, bulan Juni Desember Penelitian ini teknik total rekam medis C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) sebanyak 26 . %) Tipe Multibasiler (MB) sebanyak 58 . %). C Usia : usia 4-9 tahun sebanyak 39 . %), usia 10-14 tahun sebanyak 45 . %). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 49 perempuan sebanyak 35 . %). C Pekerjaan : - ditemukan pada laki-laki G2D yang lebih tinggi daripada Indonesia secara Hal ini penemuan kasus Perbedaan antara kusta MB Sebagian besar kasus kusta di Poliklinik Kulit Kelamin RSUP Dr. Djamil Padang tahun 2018-2021 >14 kelamin laki-laki. Kota Padang, riwayat kontak multibasiler, hasil BTA tidak ada reaksi. Kusta pada anak terus terjadi di kantong-kantong endemik di India BTA positif dan kelainan bentuk. Para wali dari anak-anak mengutip banyak dalam presentasi. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1594 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Moraes, et Anais Penelitian Brasileiros de bertujuan untuk al . Dermatologia mengkarakterisasi kusta di negara Rio Grande do Sul dari tahun 2000 Subjek pasien kusta pada Sistem Informasi Penyakit Menular (SINAN. Sistema de Informayyo de Agravos Notificayyo bulan Juli 2020, yang oleh Pusat Surveilans Kesehatan Negara Bagian Rio Grande do Sul. Penelitian ini l retrospektif. C Tipe : Tipe Kusta Paubasiler (PB) . ,0%) dan Tipe Multibasiler (MB) . ,0%). usia 0-14 C Usia : tahun sebanyak 77 . ,9%), usia 15-29 tahun sebanyak 453 . ,9%), usia 30-49 tahun sebanyak 1287 . ,0%), usia 50-60 tahun sebanyak 1170 . ,2%), usia 61-79 tahun sebanyak 1076 . ,9%), usia 80 atau lebih tahun sebanyak 88 . ,1%). C Jenis Kelamin : laki laki sebanyak 2181 perempuan sebanyak 2019 . %). C Pekerjaan : - Temuan menyajikan profil rendah dan hasil kesehatan yang relevan dengan Rio Grande do Sul, yang dimasukkan skenario nasional kusta yang sangat Lima belas artikel dianalisis dengan menggunakan tabel sintesis untuk melihat variabel yang diteliti oleh masing-masing penelitian mengenai prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit. Dari 15 artikel yang membahas prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit, 13 artikel yang membahas tentang prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit berdasarkan tipe, paling banyak ditemukan dengan tipe Multi Basiler (MB) kecuali pada jurnal 4, 8, dan 12. Empat belas artikel menggunakan studi deskriptif. satu artikel menggunakan desain kohort . Hasil analisis mengenai prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit, 11 artikel menyebutkan prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit berdasarkan usia, paling banyak ditemukan pada usia 18-60 hal itu di sebutkan pada jurnal 1 sampai 12, dan 15. Empat belas artikel menggunakan desain deskriptif, satu artikel menggunakan desain kohort . Selanjutnya, penulis mengidentifikasi 15 artikel yang membahas tentang prevalensi lepra tahun 2019 Ae 2024 di Rumah Sakit berdasarkan jenis kelamin, paling banyak ditemukan pada jenis kelamin laki laki . urnal 1 sampai . , empat belas artikel menggunakan desain deskriptif . urnal 1 sampai 14, dan . , satu artikel menggunakan desain kohort . Lepra ke dalam tipe TT dan BT yang termasuk ke dalam tipe pausibasiler dan tipe BB. BL dan LL yang termasuk ke dalam tipe multibasiler. Salah satu kekuatan beberapa artikel tersebut yaitu, relatif cepat untuk dilakukan. , peneliti dapat mengumpulkan semua variabel sekaligus serta prevalensi untuk semua faktor dapat diukur. Lepra ke dalam tipe TT dan BT yang termasuk ke dalam tipe pausibasiler dan tipe BB. BL dan LL yang termasuk ke dalam tipe Salah satu kekuatan beberapa artikel tersebut yaitu, relatif cepat untuk dilakukan. peneliti dapat mengumpulkan semua variabel sekaligus serta prevalensi untuk semua faktor dapat Diagnosis kusta dapat tegak bila ditemukan paling sedikit satu tanda kardinal . ardinal Apabila tidak atau belum ditemukan disebut suspek Lepra dan pasien perlu diamati dan diperiksa ulang 3 sampai 6 bulan sampai diagnosis lepra dapat ditegakkan atau disingkirkan. Selain tanda kardinal, dari anamnesis didapatkan riwayat berikut: riwayat kontak dengan pasien lepra, latar belakang keluarga dengan riwayat tinggal di daerah endemis dan keadaan sosial ekonomi dan riwayat pengobatan lepra (Li et al. , 2. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1595 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Rekomendasi WHO untuk multidrug therapy (MDT) tipe multibasiler yaitu rifampicin 600 mg/bulan, dapson 100 mg/hari, dan klofazimin 300 mg/bulan yang diikuti dengan 50 mg/hari di rumah. Pemberian diberikan dalam jangka waktu 12 bulan. Sedangkan terapi MDT tipe PB yaitu rimfampicin 300 mg/bulan dilanjutkan dengan dapson 100 mg/hari (Li et al. PEMBAHASAN Morbus Hansen (MH) yang disebut lepra atau kusta adalah suatu penyakit menular yang menimbulkan masalah dalam dunia kesehatan di seluruh dunia. Masalah yang timbul bukan hanya dari segi medis tapi juga mempengaruhi kehidupan sosial penderita karena adanya stigma yang buruk dari Masyarakat (Mahfud et al. , 2. leprae ditemukan pertama kali tahun 1872 oleh Gerhard A. Hansen dan termasuk dalam ordo Actinomycetalis dan family Mycobacteriacae. leprae merupakan kuman obligat intraseluler dan dapat bertahan terhadap fagositosis karena mempunyai dinding sel sangat kuat dan resisten terhadap lisosim (Mahaputra et al. , 2. dunia negara indonesia adalah negara tertinggi ketiga setelah negara lain yaitu negara India dan Brazil yang didapatkan kasus baru penderita lepra pada tahun 2017 adalah 15. 910 atau penemuan kasus lepra baru yaitu 6,07 per 100. 000 pendudu. beberapa faktor yang mempengaruhi penyakit Lepra yaitu faktor manusia seperti jenis kelamin, usia, etnik dan suku serta faktor sosial ekonomi. 4 WHO mengklasifikasikan penyakit kusta menjadi 2 yaitu Lepra Multibasiler (MB) dan lepra Pausibasiler (PB). Ini berdasarkan gejala klinis serta hasil penunjang yaitu BTA dengan pemeriksaan kerokan jaringan kulit (Kasim. Yusuf & Salawali, 2. Peneltiain Mahfud pada tahun 2024. Mahfud menyebutkan masa inkubasi lepra sangat bervariasi, antara 40 hari sampai 40 tahun, umumnya beberapa tahun dengan rata-rata 3-5 tahun. Penderita lepra terbanyak pada kelompok usia 25-44 tahun karena masa inkubasi lepra yang lama, sehingga mungkin penderita tertular pada usia muda, tetapi muncul gejala pada usia lebih Dalam literatur lain disebutkan, usia tua meningkatkan risiko tertular lepa akibat menurunnya sistem imunitas seluler tubuh. Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit lepra Kediri, penderita usia dewasa lebih banyak daripada penderita usia anak-anak dengan persentase lebih dari 90%. Hal ini disebabkan oleh karena masa inkubasi Mycobacterium leprae yang membutuhkan waktu lama sekitar 40 hari sampai 40 tahun, sehingga gambaran klinis muncul pada usia dewasa (Mellaratna, 2. Perbedaan tinggi kasus MB dengan PB dapat berhubungan dengan kemampuan lepra tipe MB untuk lebih mudah menular akibat respons imun seluler terhadap bakteri yang lemah, yang mengakibatkan jumlah bakteri lebih banyak pada lesi. Selain itu, penelitian oleh Safira et al menemukan bahwa tingkat pengetahuan yang rendah berhubungan dengan lepra tipe MB. Tingginya kasus MB yang dilaporkan dibandingkan dengan kasus PB juga dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk adanya perbedaan definisi kasus dan kemungkinan adanya overklasifikasi oleh tenaga kesehatan di lapangan (Putera & Artana. Jumlah penderita laki-laki mendominasi kasus di setiap tahunnya. Sesuai dengan laporan WHO didapatkan frekuensi penyakit lepra pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Beberapa studi lainnya mendukung laporan ini. Seperti penelitian di China yang juga ditemukan lebih banyak penderita lepra laki-laki daripada perempuan. Studi lainnya oleh Gnimavo, et al didapatkan sebanyak 55% pasien lepra adalah laki-laki. Lebih rendahnya frekuensi penderita lepra perempuan dikaitkan dengan beberapa faktor termasuk faktor lingkungan dan gaya hidup. Pada umumnya, perempuan lebih fokus pada penampilan fisik mereka, sehingga perubahan yang Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1596 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . terjadi pada fisik memungkinkan perempuan lebih tanggap dan segera mencari pertolongan Sebaliknya pada laki-laki umumnya acuh pada penampilan. Dari segi aktivitas sosial, perempuan cenderung lebih mudah menahan diri untuk bepergian sedangkan laki-laki pada umumnya sebagai kepala keluarga lebih dinamis sehingga lebih rentan untuk tertular suatu Lebih tertutupnya pakaian perempuan khususnya di Indonesia juga berdampak pada pemaparan penyakit yang lebih mudah dicegah (Sangadji et al. , 2. Penelitian Li et al . membuktikan rendahnya tingkat pendidikan dari kasus baru di provinsi Jiangsu dan ketidaktahuan mereka akan status penyakit serta cara penularannya. Pekerjaan dengan paparan lingkungan yang tinggi . isalnya, pertania. , tingkat pendidikan yang rendah, dan kemiskinan merupakan faktor risiko untuk lepra, yang mungkin menjelaskan tingginya proporsi pasien petani dalam penelitian ini. Ketakutan, stigma dan ketidaktahuan tentang lepra masih ada di antara pasien petani. Berdasarkan analisis 15 jurnal di atas, didapatkan 4 hal terkait kasus lepra antara lain : Tipe. Lepra tipe multibasiler lebih sering ditemukan daripada lepra tipe pausibasiler. Lepra tipe multibasiler lebih mudah menular kepada orang lain dikarenakan respon imun seluler yang lemah terhadap bakteri Mycobacterium Leprae. Hal itu menyebabkan lebih banyak bakteri pada lesi yang menjadi sumber infeksi (Zuraida, . Usia. Penyakit lepra bisa menyerang semua kelompok umur bisa dari pasien bayi hingga yang usianya telah mencapai usia lanjut. Tapi yang terlihat dilapangan dan praktek sehari hari terbanyak ditemukan pada pasien yang umurnya masih muda dan umur produktif. Kemungkinan ini bisa terjadi karena pasien orang dengan umur yang produktif saat itu adalah fase dimana pergaulan dan aktivitas yang dilakukan lebih tinggi jika dibandingkan dengan umur yang non produktif. Maka dari itu usia produktif lebih rentang tertular penyakit infeksi termasuk lepra ini (Fitria, 2. Jenis Kelamin. Pada umumnya, lepra dapat menginfeksi semua orang baik laki laki ataupun perempuan. Perbandingan penderita lepra antara laki laki dengan perempuan adalah 2:1 dengan laki laki yang lebih banyak terkena. Walaupun ada beberapa daerah yang menunjukan insidensi yang hampir sama atau bahkan insidensi pada perempuan lebih banyak daripada laki laki (Bhandari et al. , 2. Pekerjaan. Jenis pekerjaan juga merupakan salah satu faktor risiko kejadian penyakit Orang-rang yang bekerja sebagai petani maupun buruh memiliki risiko tiga setengah kali terjangkit penyakit lepra jika dibanding dengan orang yang memiliki pekerjaan selain petani maupun buruh. Orang-orang yang memiliki pekerjaan sebagai pekerja kasar yang harus mengeluarkan tenaga yang banyak dan pasien yang pekerjaannya sering mengalami kelelahan fisik juga diduga menjadi lebih mudah terkena penyakit lepra (Fitria, 2. Faktor risiko yang berkaitan erat dengan penyakit lepra adalah masalah sanitasi dan higienitas diri, sehingga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi hal yang paling utama dilakukan untuk pencegahan penularan. Penderita lepra diharapkan mampu menerapkan PHBS dengan baik dan benar, sehingga penderita mampu merawat diri sendiri serta tidak menularkan bakteri penyebab kepada anggota serumah maupun masyarakat sekitar, dan Masyarakat yang dalam kondisi sehat tetap terjaga kesehatannya (Eso et al. , 2. Prevalensi Lepra Tahun 2019 Ae 2024 di Rumah SakitA - 1597 Lukman et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . KESIMPULAN Berdasarkan hasil identifikasi dan telaah beberapa dalam review literatur ini, maka dapat dibuat kesimpulan bahwa karakteristik usia dan tipe lepra adalah faktor yang paling dominan dalam review literatur ini, diikuti dengan jenis kelamin. Walaupun terdapat beberapa karakteristik lain seperti pekerjaan. DAFTAR PUSTAKA