At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir Vol. No. 1 (June 2. : 86-112 Available online at https://jurnal. id/index. php/tafasir Karakteristik Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoIrfAn dan Relevansinya terhadap Kepemimpinan dalam Islam Kontemporer Siswoyo Aris Munandar STAI Sadra. Jakarta Email: siswoyoaris31@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Al-Qur'an. Sufi Interpretation. Imam Khomeini. AoirfAn ABSTRACT Understanding the Qur'an in Islam has various methods of interpretation, one of which is the AoirfAn or mystical interpretation, which emphasizes spiritual experience and the revelation of the inner meaning of the holy verses. One of the important figures who used this approach was Imam Khomeini, a thinker and spiritual leader who developed the interpretation of the Qur'an based on philosophical Sufism and direct experience of the essence of divinity. This study uses a library research method, by examining various primary and secondary sources that discuss Imam Khomeini's interpretation, both from his own writings and from the interpretations of Islamic scholars. This study aims to analyze the characteristics of Imam Khomeini's interpretation, trace his epistemological sources, and understand how the AoirfAn approach in interpretation can contribute to the understanding of the Qur'an in the modern era. The results of this study Imam Khomeini's interpretation is one form of interpretation of the Qur'an that emphasizes the AoirfAn . approach or isyari interpretation. Unlike conventional interpretation methods that prioritize textual and rational approaches. Imam Khomeini interpreted the verses of the Qur'an based on spiritual experience and esoteric dimensions. His interpretation of the concepts of rahman and rahim in AlFatihah, as well as his understanding of the manifestation of God in the universe, show the spiritual depth of his interpretation. This study aims to explore more deeply the characteristics of Imam Khomeini's interpretation and its relevance in the study of Islamic How to Cite: Siswoyo Aris Munandar. AuTafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami AlQurAoanAy At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Vol. No. 1 (June 2. : 86-112. PENDAHULUAN A 2025. The author. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Dalam studi tafsir Islam, terdapat berbagai metode penafsiran yang dikembangkan oleh para ulama, salah satunya adalah tafsir sufistik. Tafsir ini berusaha menggali makna esoteris atau batin dari ayat-ayat Al-Qur'an, menafsirkan teks tidak hanya secara harfiah tetapi juga berdasarkan pengalaman spiritual, intuisi mistik, dan pendekatan filsafat ketuhanan. Salah satu tokoh penting yang mengembangkan tafsir sufistik dalam tradisi Islam, khususnya dalam mazhab Syiah, adalah Imam Khomeini . 2Ae1. Sebagai seorang pemimpin revolusi, filosof, faqih, dan arif. Imam Khomeini memiliki pemahaman mendalam tentang hubungan antara agama, spiritualitas, dan politik. Dalam tradisi Syiah, tafsir Al-QurAoan tidak hanya berkutat pada aspek tekstual dan historis, tetapi juga menekankan dimensi AoirfAn . yang berusaha mencapai pemahaman lebih mendalam tentang realitas Tuhan, alam semesta, dan manusia. Imam Khomeini, sebagai seorang ulama yang juga mendalami tasawuf dan filsafat Islam, memberikan kontribusi penting dalam tafsir sufistik dengan pendekatan yang unik, yang memadukan hikmah Ilahiah. AoirfAn, dan teori emanasi dalam filsafat Islam. Pendekatan Imam Khomeini terhadap tafsir tidak dapat dipisahkan dari latar belakang intelektual dan spiritualnya. Ia banyak terinspirasi oleh para pemikir besar Islam, seperti Ibn Arabi . 5Ae1. Mulla Sadra . 1Ae1. , dan Seyyed Haydar Amuli . 0Ae1. , yang semuanya menekankan pendekatan metafisik dan esoteris dalam memahami Al-Qur'an. Dalam karya-karyanya. Imam Khomeini sering menafsirkan ayat- ayat Al-Qur'an dengan menggunakan pendekatan isyarat . aAow. , yang bertujuan untuk menemukan makna tersembunyi di balik teks lahiriah. Studi mengenai tafsir sufistik Ihsan Abdillah and Mochammad Rizky Baihaqi. AuRagam Corak Tafsir: Tafsir Sufi,Ay Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsr 3, no. 1 (March 25, 2. : 23Ae30, https://doi. org/10. 15575/mjiat. Gholam Hossein Khodagoo and Soosan Safaverdi. AuA Comparative Study of the Discourse of the Constitutional Revolution and the Islamic Revolution with Emphasis on the Opinions of Mirza Naeini and Imam Khomeini,Ay Political Sociology Research 5, no. ): 280Ae96, https://doi. org/10. 30510/PSI. Zaimul Asroor Zaim and Cemal Sahin. AuOtentisitas Al-QurAoan Dalam Tafsir Syiah: Penolakan al-Tusi, al-Tabarsi Dan al-TabatabaAoi Terhadap Tahrif al-QurAoAn,Ay Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsr Hadith 12, no. 2 (December 20, 2. : 311Ae31, https://doi. org/10. 15642/mutawatir. Mutiara Ramadhani. Kerwanto, and Putri Hafizatul Aini. AuMemahami Corak Dan Metode Penafsiran Tafsir Syiah: (Kajian Terhadap Tafsir Al-Qummi Dan Tafsir Al-Miza. ,Ay El-Adabi: Jurnal Studi Islam 3, 2 (February 10, 2. : 1Ae13, https://doi. org/10. 59166/el-adabi. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 merupakan salah satu cabang kajian tafsir yang terus berkembang dalam wacana pemikiran Islam. Berbeda dengan tafsir klasik yang cenderung bersifat eksplisit dan berbasis linguistik, tafsir sufistik lebih menekankan makna batin dan perjalanan spiritual manusia dalam memahami wahyu Ilahi. Imam Khomeini, sebagai seorang pemikir dan ulama besar, memberikan kontribusi signifikan dalam bidang ini. Namun, penelitian mengenai tafsir sufistik Imam Khomeini masih tergolong terbatas dibandingkan dengan kajian tafsir sufistik lainnya, seperti tafsir Ibn Arabi atau tafsir Rumi. Padahal, pemikiran Imam Khomeini dalam tafsir sangat kaya dan memiliki dampak besar, baik dalam ranah intelektual maupun dalam praktik spiritual umat Islam. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengisi celah akademik tersebut dengan menganalisis secara mendalam konsep-konsep kunci dalam tafsir sufistik Imam Khomeini. Kajian ini menjadi sangat penting mengingat keistimewaan surah tersebut, terutama jika ditinjau dari perspektif sufistik. Sebagai seorang ulama yang mendalami tasawuf. Imam Khomeini memberikan pemaknaan mendalam terhadap surah ini. Meskipun banyak mufasir yang telah menelaah Surah Al-Qadr dari perspektif sufistik, penafsiran Khomeini memiliki karakteristik tersendiri yang mencerminkan keunggulan pendekatan spiritualnya dalam menghadapi tantangan modernitas. Selain itu, penelitian ini juga ingin menjawab beberapa pertanyaan mendasar, seperti: Bagaimana konsep tafsir sufistik Imam Khomeini? Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tafsir sufistik Imam Khomeini dan relevansinya dalam dunia Islam kontemporer. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip utama dalam tafsir sufistik Imam Khomeini. Penelitian ini Khoirul Imam. AuPemikiran Imam Khomeini Tentang Ayat-Ayat Wilayat Al-FaqihAy (Yogyakarta. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. , 2. Karam Siavoshi and Javad Muhammadi. AuA Comparative Study of the Concept of Seeing God in the Holy Quran from the Viewpoints of Imam Khomeini and AllAmah abAabA,Ay Journal of ShiAoa Islamic Studies 9, no. : 257Ae71, https://doi. org/10. 1353/isl. Azam Shahravi and Hasan Mehdipour. AuThe Role of Divine Names in Mystical Wayfaring as Outlined in Imam KhomeiniAos Spiritual Anthropology,Ay Journal of Islamic Mysticism 16, no. 31 (October 2. , https://doi. org/10. 22034/16. U Abdurrahman. AuMetodologi Tafsir Falsafi Dan Tafsir Sufi,Ay 9 2 . : 245Ae68, https://doi. org/10. 15575/adliya. Muhammad Ulil Abshor. AuEPISTEMOLOGI AoirfAn (Sebuah Tinjauan Kajian Tafsir Sufisti. ,Ay Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu AlqurAoan Dan Tafsr 3, no. : 249Ae 64, https://doi. org/10. 32505/at-tibyan. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memiliki relevansi dalam memahami bagaimana tafsir Al-QurAoan dapat menjadi sarana transformasi spiritual dalam kehidupan umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan tafsir sufistik Imam Khomeini, menelusuri prinsip-prinsip yang digunakannya, serta membahas implikasi pemikirannya terhadap perkembangan tafsir dalam Islam, khususnya dalam mazhab Syiah. Selain itu, penelitian ini juga akan menganalisis karya-karya utama Imam Khomeini dalam tafsir, seperti Adab Al-SalAh dan Tafsr Surat Al-Fatihah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif- analitis untuk mengkaji pemikiran tafsir sufistik Imam Khomeini dalam perspektif pendekatan AoirfAn. Metode ini dipilih karena sesuai dengan sifat penelitian yang berfokus pada eksplorasi makna, interpretasi teks, dan pemahaman konsep-konsep metafisik yang terkandung dalam pemikiran Imam Khomeini. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber primer dan sekunder. Sumber primer meliputi karya-karya Imam Khomeini yang relevan dengan tafsir dan sufisme, seperti Tafsr Surah al-Fatihah. Adab Al-SalAh, dan Sirr Al-SalAh. Sumber sekunder mencakup kajian akademik, artikel jurnal, buku, serta penelitian terdahulu yang membahas pendekatan AoirfAn dalam tafsir dan pemikiran Imam Khomeini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan . ibrary researc. , yaitu dengan menelusuri literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Analisis data dilakukan dengan metode interpretatif dan hermeneutika, yang bertujuan untuk menggali makna-makna yang tersembunyi dalam teks serta memahami bagaimana Imam Khomeini menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dalam kerangka pemikiran AoirfAn. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan metode triangulasi dengan membandingkan berbagai sumber dan perspektif yang berbeda mengenai tafsir sufistik Imam Khomeini. Dengan cara ini, penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif dan akurat tentang pendekatan AoirfAn dalam tafsir Al-QurAoan menurut Imam Khomeini. HASIL DAN PEMBAHASAN At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 Selayang Pandang Imam Khomaeini Imam Khomeini merupakan sosok revolusioner yang membawa perubahan besar di dunia, khususnya dalam sejarah Iran. Lahir dengan nama Sayyid Ayatullah Ruhollah Khomeini pada 24 September 1902 di Khomein. Provinsi Markazi, ia kemudian wafat di Tehran pada 3 Juni 1989. Khomeini dikenal sebagai pemimpin revolusi Islam Iran pada Sebagai seorang ulama, ia mendalami berbagai disiplin ilmu, termasuk politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Oleh karena itu, sepanjang hidupnya ia terus berjuang menegakkan nilai-nilai Islam dan membuktikan bahwa agama ini memiliki peran aktif dalam berbagai aspek kehidupan. Pemikirannya yang luas serta perjuangannya menjadikan namanya dikenal di seluruh dunia. Sejak kecil. Khomeini telah mendapatkan pendidikan dasar membaca dan menulis dari Akhund Mulla Abu al-Qasim di maktab Khaaneh, sebelum melanjutkan ke sekolah milik Mirza Mahmud. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di sekolah modern yang baru didirikan di Khomein. Ia juga belajar kaligrafi di bawah bimbingan Aqa Mirza Mahallati. Pada usia tujuh tahun, ia mulai mempelajari bahasa Arab dengan Syaikh JaAofar, sepupunya dari pihak ayah, serta dengan Mirza Mahmud. Pelajaran logika . ia peroleh dari iparnya. Hajj Ridha Najafi. Sebelum mencapai usia lima belas tahun. Khomeini sudah menguasai bahasa Persia dengan baik. Ia kemudian mendalami logika lebih lanjut dengan kakaknya. Sayyid Murtadha, yang lebih dikenal sebagai Ayatullah Pasandideh. Pada usia enam belas tahun, ia kehilangan ibunya, dan di tahun yang sama, bibinya juga meninggal dunia . Setelah peristiwa tersebut, ketika berumur tujuh belas tahun, ia dikirim oleh kakaknya ke Isfahan untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti jejak ayahnya. Namun, akhirnya ia dipindahkan ke Arak, kota tempat Syeikh Abdul Karim HaAoiri mengajar. 7 Setahun setelah kedatangannya di Arak. HaAoiri menerima undangan dari para ulama dan masyarakat di Qum untuk mengembangkan keilmuannya Imam Fatemeh Tabatabai AuMystical study of the concept of AoNothingAo with emphasis on the views of Khomeini,Ay Pajooheshnameh https://doi. org/10. 52547/pje. (July 161Ae86. Yamani Yamani. AuWasiat Sufi Ayatullah Khomeini: Aspek Sufistik Ayatullah Khomeinin Yang Tak Banyak Diketahui,Ay (Bandung: Mizan, 2. Andi Eka Putra. AuKonsep AoAoirfAn Dalam Sajak-Sajak Imam Khomeini,Ay Kalam: Jurnal Studi Agama Dan Pemikiran Islam 9, no. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. di sana. Empat bulan setelah kepindahan HaAoiri. Khomeini juga mengikuti gurunya dan menetap di madrasah Dar Al-Syifa di Qum. Di tempat inilah ia mulai lebih serius menekuni studi Islam dan berusaha menyelesaikan kurikulum yang dikenal sebagai Sath, sebagai syarat untuk mempelajari lebih lanjut bidang fiqh dan ushul fiqh di bawah bimbingan HaAoiri. Di tahun pertamanya di Qum. Imam Khomeini mulai memperdalam bidang hikmah . dan AoirfAn . Kajian-kajian ini berfokus pada pemahaman hakikat tertinggi secara rasional dan gnostik . aAorifa. , yang telah berkembang dalam tradisi Syiah. Guru pertama yang membimbingnya dalam bidang ini adalah Mirza Ali Akbar Yazdi dan Mirza Aqa Javad Maliki Tabrizi, yang mengajarkan tasawuf secara privat di rumahnya. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abdul Hasan RafaAoi Qazwani. Masa-masa awalnya di Qum bersamaan dengan peristiwa besar di Iran, yakni runtuhnya Dinasti Qajar dan naiknya Dinasti Pahlevi di bawah Reza Khan dengan dukungan Inggris pada tahun 1925. Dalam perjalanan intelektualnya, guru utama Khomeini dalam bidang gnosis dan tasawuf adalah Ayatullah Muhammad Ali Syahabadi. Khomeini sangat menghormatinya dan sering menyebutnya sebagai Auguru kita dalam teosofiAy . stadz-i ilahi-yi m. dalam berbagai karyanya. Ia bertemu dengan Syahabadi tidak lama setelah tiba di Qum, sekitar Ketika berdiskusi dengan Syahabadi. Khomeini segera menyadari bahwa ia telah menemukan seorang guru sejati dalam bidang AoirfAn. Karya-karya Khomeini tidak hanya berkaitan dengan pergerakan sosial dan politik, tetapi juga membahas tafsir AlQurAoan. Walaupun ia tidak menafsirkan seluruh ayat Al-QurAoan, beberapa surah yang ia tafsirkan mencerminkan wawasan keislamannya yang luas, terutama dalam merespons tantangan modernitas. Di antara karya tafsirnya, terdapat tiga surah utama yang ia bahas. Jalaludin Rakhmat. AuImam Khomeini: Sufi Yang Mengguncang Dunia,Ay 2025, https://w. com/imam-khomeini-sufi-yang-mengguncang-dunia/. Jurnal Muhammad Alfan Sidik. AuKosmologi Dalam Pandangan Imam Khomeini,Ay Rausyan Fikr: Ilmu Studi Ushuluddin Dan Filsafat (June 45Ae71, https://doi. org/10. 24239/rsy. Abdel Meghdadian and Mahdi Mohammadi. AuA Comparative Study of Mystical Meanings in Mahdavi Poems Written by Imam Khomeini and Aref Bojnourdi,Ay Journal of Islamic Mysticism 14, no. ): 187Ae212, https://doi. org/10. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 yaitu Surah Al-Fatihah. Al-Ikhlas, dan Al-Qadr. Ketiga surah ini dipilih karena memiliki keutamaan yang tinggi dan makna spiritual yang dalam. Imam Khomeini adalah seorang sufi yang tidak hanya memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf, tetapi juga berhasil mengaplikasikan nilai-nilai sufistik dalam sistem pemerintahan Islam. Ia membuktikan bahwa syariat Islam dapat dijadikan sebagai dasar bagi negara dan bangsa. Meskipun dikenal sebagai seorang sufi, ia tidak meninggalkan dunia dan kehidupan sosial. Justru, ia memainkan peran penting dalam menegakkan peradaban Islam. Melalui berbagai pidato dan tulisan, ia berusaha menghidupkan kembali ajaran Islam dalam kehidupan modern. Banyak karyanya yang bertemakan tasawuf, yang menunjukkan kedalaman pemahamannya dalam bidang ini serta bagaimana ia mengimplementasikannya dalam realitas sosial dan politik. Mulyadhi mengungkapkan kekagumannya terhadap Imam Khomeini sebagai seorang pemimpin yang memperoleh kekuasaan bukan karena kekayaan, tetapi melalui kecerdasan intelektual dan moralitasnya. Menurutnya, pemimpin dengan karakter seperti itu sangat jarang ditemukan, terutama di era modern ini. Imam Khomeini adalah seorang ulama, sufi, dan filsuf yang berhasil mendirikan pemerintahan Islam serta tetap konsisten dalam menjalankan nilai-nilai tasawuf. Bahkan saat sakit parah menjelang akhir hayatnya, ia tetap melaksanakan salat dengan penuh kesungguhan. Sikapnya yang sederhana tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berada di Prancis, ia menolak penggunaan alat pemanas di rumahnya agar dapat merasakan penderitaan yang dialami rakyat Iran. Setelah menggantikan Syah Pahlevi dan mendapatkan kekuasaan, beliau tetap memilih tinggal di rumah kontrakan sederhana. Kesederhanaan ini begitu luar biasa hingga membuat B. Habibie meneteskan air mata saat melihatnya secara langsung. Imam Khomeini menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menempati bangunan yang didirikan dengan dasar kezaliman karena ia berjuang untuk Imam Khoirul. AuPemikiran Imam Khomeini Tentang Ayat-Ayat Wilayat Al-FaqihAy (Yogyakarta. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. , 2. Khodagoo and Safaverdi. AuA Comparative Study of the Discourse of the Constitutional Revolution and the Islamic Revolution with Emphasis on the Opinions of Mirza Naeini and Imam Khomeini. Ay Hamid Algar. AuImam Khomeini Sang Sufi. Dalam Mata Air Cemerlang,Ay (Bandung: Mizan. Diambil dalam Seminar Tasawuf AuTafsir Sufistik Imam KhomeiniAy di STAI Sadra 2023 Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Sementara banyak pemimpin memilih hidup dalam kemewahan setelah berkuasa, ia justru meneladani Nabi Muhammad Saw. dengan menjalani kehidupan yang penuh kesederhanaan. Menurut Prof. Mulyadhi, kesederhanaan yang dijalani Imam Khomeini menjadi salah satu cara untuk menghindarkan diri dari fitnah dunia serta menjauh dari godaan korupsi. Seseorang yang tetap teguh di jalan Allah pasti akan menemukan solusi dalam setiap masalah, dan kehadiran Imam Khomeini diyakini sebagai bukti janji Allah dalam menebarkan cahaya-Nya di dunia. Abbaci menjelaskan bahwa pemahaman mendalam Imam Khomeini terhadap Al- QurAoan serta cara ia menafsirkannya merupakan faktor utama yang membentuk karakter kepemimpinannya dan kemampuannya dalam mengubah peradaban dunia. Ia berhasil mewujudkan cita-cita para nabi dengan mendirikan pemerintahan yang berdasarkan hukum Allah. Kesederhanaan menjadi karakteristik yang semakin memperkuat perannya sebagai pemimpin berpengaruh. Dalam tasawuf, seseorang yang telah mencapai kesederhanaan dalam aspek spiritual, intelektual, dan kehidupan sosial diyakini mampu menjangkau berbagai aspek kehidupan, dan hal ini terlihat jelas dalam kepribadian Imam Khomeini. Bagi Imam Khomeini. Al-QurAoan merupakan firman Allah yang tidak dapat diubah, bersifat universal, dan memiliki makna yang berlapis-lapis. Ia menegaskan bahwa meskipun seseorang telah menguasai bacaan, tajwid, tahsin, dan tafsir Al-QurAoan, mereka masih bisa dikategorikan sebagai orang yang mengabaikannya jika tidak memahami esensi dan tujuan dari kitab suci tersebut. Tujuan utama Al-QurAoan adalah menghubungkan manusia dengan Allah serta membentuk manusia yang memiliki sifatsifat ilahi. Labib menyoroti bahwa sosok Imam Khomeini dapat dianalisis dalam tiga aspek utama, yakni pengaruhnya dalam skala nasional. Islam, dan global. Ia memahami bahwa Al-QurAoan adalah petunjuk bagi seluruh manusia, tetapi pemahaman yang lebih dalam hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang bertakwa. Dalam hal ini, ia melakukan reformasi pemikiran Islam, terutama dalam komunitas Syiah, dengan memperkenalkan Diambil dalam Seminar Tasawuf AuTafsir Sufistik Imam KhomeiniAy di STAI Sadra 2023 Diambil dalam Seminar Tasawuf AuTafsir Sufistik Imam KhomeiniAy di STAI Sadra 2023 At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 konsep WilAyat al-FAqih. Awalnya, konsep ini hanya berkaitan dengan otoritas keagamaan, tetapi kemudian berkembang menjadi dasar legitimasi pemerintahan. Tidak seperti banyak ulama lain yang hanya menulis pemikiran mereka dalam buku. Imam Khomeini juga membangun sistem pemerintahan yang menjadi alternatif dari sistem demokrasi. Menurutnya, dalam demokrasi, seseorang berhak berkuasa jika mendapat dukungan publik, tetapi dalam WilAyat al-FAqih, legitimasi berasal dari ketuhanan, sementara penerimaan publik bersifat kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bahwa hukum Islam tidak hanya berlaku pada masa Nabi dan para imam, tetapi tetap relevan sepanjang zaman. Ketika konsep WilAyat al-FAqih diimplementasikan dalam pemerintahan, ia menjadi sistem yang memberikan supremasi tertinggi kepada seorang Rahbar sebagai pemimpin agama dan negara. Sistem ini sangat berbeda dengan demokrasi yang sering kali dalam praktiknya berubah menjadi oligarki. Karakterisktik Penafsiran Imam Khomaeni Berdasarkan berbagai literatur tafsir, terdapat tiga sumber utama dalam metode penafsiran Al-Qur'an. Pertama, tafsir bi al-raAoy, yang didasarkan pada pemikiran dan analisis rasional. Kedua, tafsir bi al-IsyAr, yaitu metode penafsiran yang menggali maknamakna tersembunyi dalam ayat Al-Qur'an tanpa menyalahi arti literalnya. Pendekatan ini umumnya digunakan oleh para praktisi tasawuf, sehingga sering disebut sebagai Tafsir Sufi. Ketiga, tafsir bi al-maAothr, yaitu tafsir yang bersumber dari riwayat, termasuk penafsiran ayat dengan ayat lain dalam Al-Qur'an, penjelasan dari Rasulullah, sahabat, serta para tabiAoin. Diambil dalam Seminar Tasawuf AuTafsir Sufistik Imam KhomeiniAy di STAI Sadra 2023 Hamid Algar. AuResponse to Browers: MarjaAoiyyah and Wilayat al-Faqih,Ay Journal of ShiAoa Islamic Studies 5, no. 1 (December 2. : 47Ae48, https://doi. org/10. 1353/isl. Saeful Anwar and Agus Sholahudin Shidiq. AuMengembalikan Fungsi Faqih Dan Ulama? Dalam Pemikiran Wilayat-I Faqih Khomeini Sebagai Model Ulama? Syi?Ah Pasca Revolusi Iran,Ay At-Tuhfah 10, no. : 101Ae9, https://doi. org/10. 32665/attuhfah. Hamid Mavani. AuKhomeiniAos Concept of Governance of the Jurisconsult (Wilayat al-Faqi. Revisited: The Aftermath of IranAos 2009 Presidential Election,Ay The Middle East Journal 67, no. : 207Ae28. Cecep Alba. AuKarakteristik Tafsir Sufi,Ay Istiqamah: Jurnal Ilmu Tasawuf 1, no. : 123- Wahyudi Wahyudi and Wahyudin Wahyudin. AuWajah Tafsir Sufistik Di Indonesia,Ay Jurnal Iman Dan Spiritualitas 1, no. 2 (May 4, 2. : 121Ae25, https://doi. org/10. 15575/jis. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Imam Khomeini lebih cenderung menggunakan tafsir bi al-Isyari dalam karyanya, seperti yang terlihat dalam Tafsir al-Adab al-MaAonawiyah li Al-SalAh. Dalam penafsirannya, ia lebih menekankan sisi batiniah dan jarang mengedepankan makna Corak penafsirannya memiliki nuansa sufistik karena banyak mengungkap makna di luar teks secara eksplisit. Walaupun Imam Khomeini tidak meninggalkan banyak karya tafsir yang lengkap selain Tafsir Surah al-Fatihah (Tafsr-e Shreh-e am. , berbagai ceramah, tulisan, dan kuliahnya mengandung banyak referensi tafsir AlQur'an. Kajian terhadap karya-karyanya menunjukkan kecenderungan intelektualnya dalam memahami Al-QurAoan melalui pendekatan mistis dan pengalaman spiritual. Berdasarkan konsep AoirfAn dan fitrah manusia yang ia kemukakan, tafsirnya mencerminkan pemahaman bahwa manusia secara naluriah mencari kesempurnaan spiritual untuk mencapai kebenaran tertinggi . l-aq. dan mengalami fanaAo dalam-Nya. Oleh karena itu, tafsir Imam Khomeini sepenuhnya berlandaskan pada konsep fitrah. Menurut Imam Khomeini. AoirfAn tidak dapat dipisahkan dari tafsir, sebab pada hakikatnya AoAoirfAn merupakan bagian dari tafsir itu sendiri. Jika AoAoirfAn adalah ekspresi dari fitrah manusia dan tafsir merupakan wujud pemahaman terhadap Al-Qur'an, maka keduanya saling berkaitan dalam menyingkap makna yang lebih dalam. Oleh karena itu, hubungan antara AoAoirfAn dan tafsir dapat dijelaskan melalui pandangan Imam Khomeini tentang keaslian . shAla. AoirfAn dalam Islam, yang meliputi beberapa aspek berikut: Pertama. Memasukkan unsur riwayat dalam penafsiran, terutama yang berkaitan dengan peran Ahl al-bayt dalam memahami Al-Qur'an dan hadis. Pendekatan ini mengajarkan bahwa memahami doa-doa yang diajarkan oleh Ahl al-bayt merupakan bagian dari tafsir Al-Qur'an. Kedua. Mengutamakan perenungan dan pemikiran mendalam dalam menafsirkan Al-Qur'an, dengan menekankan tadabbur . erenungi ayat-aya. serta menggunakan akal Wachyu Ambarwati Wachyu Ambarwati. Yusrina Salma, and Moh. Yardho. AuImplementasi Pemikiran Sufistik Dalam Tafsir Sufi Karya Sahl Al-Tustari,Ay Al-Kainah: Journal of Islamic Studies 3, no. 2 (December 27, 2. : 242Ae52, https://doi. org/10. 69698/jis. Amrillah Achmad. AuTelaah Tafsir Al-Mizan Karya Thabathabai,Ay Jurnal Tafsere. December 248Ae63, https://doi. org/10. 24252/jt. Ammar Fauzi. AuTafsir Fitri Imam Khomeini,Ay Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran 1, no. Alexander Knysh. AuAoAoirfAnAo Revisited: Khomeini and the Legacy of Islamic Mystical Philosophy,Ay Middle East Journal 46, no. : 631Ae53. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 dalam memahami teks wahyu. Metode ini menjadikan tafsir lebih mudah dicerna, baik dari segi budaya maupun intelektual. Ketiga. Menghubungkan tafsir dengan pengalaman spiritual, di mana pemahaman terhadap Al-Qur'an tidak hanya sebatas aspek intelektual tetapi juga harus diwujudkan dalam praktik kehidupan dan pengembangan batiniah. Keempat. Menekankan toleransi dalam tafsir, dengan menghindari penafsiran yang dapat memicu perpecahan dan lebih menonjolkan pemahaman yang mendalam mengenai makna spiritual Al-Qur'an. Kelima. Mengembangkan metode tafsir yang bersifat irfAn, yaitu penafsiran yang mengungkap dimensi batiniah tetapi tetap mempertimbangkan berbagai sudut pandang lainnya, sehingga mencakup berbagai perspektif keilmuan dan Salah satu contoh pendekatan AoirfAn dalam tafsir Imam Khomeini dapat dilihat pada penafsirannya terhadap Surah Al-Qadr ayat 1Ae5. Dalam tafsirnya, ia menafsirkan istilah Al-Qur'an sebagai refleksi keesaan Tuhan (Ahadiya. yang memperkenalkan nama-nama dan sifat-Nya. Malam Qadar diartikan sebagai manifestasi dari Nama Teragung . l-ism al-aAodza. , di mana seribu bulan merupakan simbol dari berbagai nama dan sifat Allah. Nabi Muhammad SAW dalam ayat ini digambarkan sebagai matahari yang menjadi sumber cahaya ilahi. Sementara itu, ayat tentang malaikat diartikan sebagai tingkatan spiritual yang berbeda-beda, dan Malam Qadar sendiri dimaknai sebagai keadaan ketika hakikat ilahi tersingkap dalam kehidupan manusia. Dalam tradisi Islam, tasawuf dan AoirfAn memiliki peran penting dalam perjalanan spiritual menuju pengenalan diri dan Tuhan. Imam Khomeini lebih memilih istilah AoirfAn dibanding tasawuf, karena istilah ini lebih umum dalam tradisi Syiah. Baginya, tafsir tidak hanya sekadar memahami teks, tetapi juga pengalaman spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, metode tafsirnya merupakan perpaduan antara filsafat, spiritualitas, dan praktik keagamaan, yang bertujuan untuk mengungkap makna hakiki dari Al-Qur'an. Salah satu gagasan utama dalam tafsir sufistik Imam Khomeini adalah konsep fitrah, yaitu sifat bawaan manusia yang murni dan suci. Menurutnya, fitrah merupakan landasan utama dalam proses mengenali diri sendiri . aAorifat al-naf. serta memahami Tuhan. Dalam pandangan Khomeini, manusia diciptakan dalam keadaan sempurna Imam Khomeini. AuTafsir Al-Fatihah, al-Ikhlash. Dan al-Qadr: Perspektif AoirfAnAy (Jakarta: Nur al-Huda, 2. Knysh. AuAoAoirfAnAo Revisited: Khomeini and the Legacy of Islamic Mystical Philosophy. Ay Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. dengan akal yang sehat dan keyakinan terhadap keesaan Allah. Oleh karena itu, memahami fitrah berarti memahami esensi manusia sebagai makhluk spiritual yang Imam Khomeini menghubungkan konsep fitrah dengan AoirfAn sebagai metode dalam menafsirkan Al- Qur'an. Ia menegaskan bahwa AoirfAn pada dasarnya adalah tafsir itu sendiri, karena melalui perjalanan spiritual yang selaras dengan fitrah, seseorang dapat menyingkap makna tersembunyi dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan demikian, fitrah menjadi aspek sentral dalam pendekatan sufistiknya terhadap tafsir. Pendekatan AoirfAn yang dikembangkan oleh Imam Khomeini melibatkan tiga tahap perjalanan spiritual, yaitu takhall, tauall, dan tajall. Ketiga tahapan ini mencerminkan proses penyucian diri dari sifat negatif dan perjalanan menuju kesadaran ilahi melalui pemahaman mendalam terhadap wahyu. Pertama. Takhall Ae Tahap pertama ini menuntut seseorang untuk melepaskan diri dari keterikatan duniawi dan menghilangkan egoisme. Dalam konteks tafsir sufistik, takhall juga berarti membebaskan diri dari pemahaman literal yang terbatas agar dapat menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan makna yang lebih dalam. Kedua. Tauall Ae Setelah proses pengosongan diri, individu kemudian mengisi jiwanya dengan sifat-sifat ilahi seperti cinta, kasih sayang, dan keadilan. Pada tahap ini, seseorang dapat melihat ayat-ayat Al-Qur'an sebagai refleksi dari sifat-sifat Tuhan. Ketiga. Tajall Ae Ini adalah puncak perjalanan spiritual, di mana seseorang mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan mampu merasakan kehadiran Tuhan melalui makna-makna Al-Qur'an yang mendalam. Pendekatan ini menegaskan bahwa tafsir sufistik Imam Khomeini bukan sekadar analisis teks, tetapi juga perjalanan batiniah yang membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan. Selain menghasilkan karya akademik. Imam Khomeini juga menggunakan puisi- puisi sufistik sebagai sarana untuk mengekspresikan kerinduannya kepada Allah. Dalam Nailyl Fida Husna. AuPenafsiran Isyari Dalam Surat Al Fatihah Perspektif Kiai Soleh Darat Dan Imam KhomeiniAy (Tulungagung. UIN SATU Tulungagung, 2. Diede Farhosh-Van Loon. Ayatollah KhomeiniAos Mystical Poetry and Its Reception in Iran and the Diaspora, 1st ed. Iranian Studies Series, v. 30 (Amsterdam: Amsterdam University Press, 2. Frank Bysch. AuBetween the Shah and Khomeini: The Federal Republic of Germany and the Islamic Revolution in Iran,Ay German Yearbook of Contemporary History 2, no. : 137Ae71, https://doi. org/10. 1353/gych. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 puisi-puisinya, ia sering kali menyampaikan simbolisme filosofis yang menggambarkan perjalanan spiritual menuju Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa AoirfAn tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami Al-Qur'an, tetapi juga menjadi wujud ekspresi cinta dan kerinduan kepada Allah. Dalam puisi-puisinya. Imam Khomeini sering menggunakan metafora untuk menjelaskan hubungan antara manusia dan Tuhan. Ia, misalnya, menggambarkan Tuhan sebagai "matahari" yang menerangi hati manusia atau "samudra" yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan spiritual seseorang. Memahami Tafsir Sufistik atau AoIrfAn Imam Khomeini Secara historis, tafsir sufistik merupakan bentuk kesungguhan spiritual dari individu yang memiliki hati yang bersih dan tulus dalam memahami makna firman Allah Swt. Tafsir ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah, mencerminkan kedalaman pemikiran serta tingkat tertinggi dari kesucian hati. Metode tafsir sufistik berbeda dengan pendekatan tekstual karena berusaha mengungkap makna tersirat . aAow. dari ayat-ayat Al-QurAoan. Namun, penafsiran ini hanya dapat dilakukan oleh kalangan tertentu, yaitu para sufi dan individu yang memiliki budi luhur serta telah menjalani latihan spiritual . Mereka mendapatkan petunjuk dari Allah untuk memahami makna-makna tersembunyi dalam Al-QurAoan. Dalam tafsir sufistik, ayat-ayat Al-QurAoan ditafsirkan dengan pendekatan yang selaras dengan prinsip kesufian. Kadang-kadang, interpretasi mereka tampak berbeda atau bahkan bertentangan dengan hukum syariat Islam. Namun, para ulama tetap mengakui bahwa tafsir sufistik berperan dalam mengungkap aspek batin dari Al-QurAoan, dengan asumsi bahwa kitab suci ini memiliki makna lahir . Ahi. dan batin . Ai. Oleh karena itu, tafsir sufistik berkontribusi dalam menggali dimensi batiniah Al-QurAoan melalui metode taAowl atau isyarat-isyarat tertentu, sementara makna lahiriahnya telah dikaji melalui metode tafsir konvensional. Charles Kurzman. AuAfter Khomeini: Iran Under His Successors,Ay The Middle East Journal 64, 4 . : 657Ae59. Putra. AuKonsep AoAoirfAn Dalam Sajak-Sajak Imam Khomeini. Ay Nor Salam and Syukri Syukri. AuDimensi Sufistik Dalam Tafsir Al-Mishbah,Ay Esoterik 2, no. 1 (March 8, 2. , https://doi. org/10. 21043/esoterik. Ahmad Midrar SaAodina and Agung Ahmad Zaelani. AuPro Dan Kontra Dalam Tafsir Sufi,Ay Jurnal Iman Dan Spiritualitas 3, no. 1 (February 8, 2. : 1Ae10, https://doi. org/10. 15575/jis. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tidak ada larangan dalam menafsirkan Al- QurAoan secara sufistik, asalkan bertujuan untuk mengeksplorasi kekayaan makna kitab suci ini dengan menggunakan simbol atau isyarat tertentu. Hal ini sejalan dengan konsep tafsir esoterik yang dikembangkan oleh Imam Khomeini. Menurutnya, tafsir esoterik bukanlah sekadar tafsir berbasis nalar . afsyr bi al-raAo. , melainkan sebuah bentuk pemahaman yang lebih dalam dan esensial. Ia meyakini bahwa berhenti pada makna lahiriah . Ahi. saja tanpa menyelami makna batinnya dapat berujung pada pengingkaran terhadap kenabian dan kewalian. Imam Khomeini juga menyatakan bahwa Al-QurAoan memiliki tujuh tingkatan batinAiatau dalam beberapa riwayat disebut memiliki tujuh puluh tingkatan batinAiyang hanya dapat dipahami oleh Allah dan orang-orang yang memiliki ilmu mendalam. Menurutnya, pemahaman terhadap Al-QurAoan berkorelasi dengan tingkatan spiritual Karena manusia memiliki tingkat persepsi yang berbeda-beda sesuai dengan kesiapan jiwanya, maka pemahaman terhadap Al-QurAoan juga bervariasi. Dalam tradisi sufi, individu yang mampu memahami pesan Al-QurAoan secara utuh adalah insan kamil . anusia sempurn. Ibn AoArabi menegaskan bahwa seseorang dapat memahami dimensi batin Al-QurAoan hanya jika ia memiliki kesiapan spiritual dan intelektual yang memadai. Imam Khomeini memiliki wawasan keislaman yang luas, mencakup berbagai disiplin ilmu seperti fikih, ushul fiqh, filsafat. AoirfAn, dan tafsir. Dalam bidang AoirfAn atau tasawuf, ia banyak dipengaruhi oleh pemikiran sufi besar seperti Ibn Arabi. Mulla Sadra, dan Haydar Amuli. Ia meyakini bahwa Al-QurAoan tidak cukup dipahami melalui pendekatan rasional atau tekstual semata, melainkan juga melalui pengalaman spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, dalam berbagai karyanya. Imam Khomeini kerap menggunakan metode taAowl, yaitu penafsiran yang bertujuan mengungkap makna tersembunyi di balik teks suci. Imam Khomeini menekankan bahwa cara untuk mencapai pemahaman batin terhadap Al-QurAoan adalah melalui penyucian jiwa serta menghiasi diri dengan akhlak mulia dan pengetahuan yang mendalam. Semakin seseorang menyucikan jiwanya, semakin dalam pula Al-QurAoan termanifestasi dalam dirinya. Irwan Muhibudin. AuTafsir Ayat-Ayat Sufistik (Studi Komparatif Tafsir Al-Qusyairi Dan Al- Jailan. Ay (Jakarta: UAI Press, 2. Muhamad Zaenal Muttaqin. AuGeneologi Tafsir Sufistik Dalam Khazanah Penafsiran Al-QurAoan,Ay Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam 7, no. 1 (June 28, 2. , https://doi. org/10. 24235/tamaddun. Khomeini. AuTafsir Al-Fatihah, al-Ikhlash. Dan al-Qadr: Perspektif AoirfAn. Ay At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 Salah satu konsep penting dalam tafsir sufistik Imam Khomeini adalah kesempurnaan insan kamil . anusia sempurn. Menurutnya. Al-QurAoan adalah peta perjalanan spiritual yang membimbing manusia menuju kesempurnaan sejati, yaitu kedekatan dengan Allah. Ayat-ayat yang membahas penciptaan manusia, perjalanan hidup, serta kebangkitan di akhirat dipahami sebagai simbol dari perjalanan ruhani manusia, dari alam materi menuju alam ketuhanan. Dalam hal ini. Imam Khomeini sejalan dengan Ibn Arabi, yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk mencapai maqam spiritual tertinggi jika ia melakukan penyucian jiwa . azkiyyat al- naf. dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah dan maAorifat . engetahuan Imam Khomeini sering menyoroti dimensi spiritual dalam ibadah Islam. memandang shalat, puasa, dan haji tidak hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi juga sebagai jalan bagi manusia untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan pada tingkat spiritual yang lebih dalam. Dalam kitabnya Adab Al-SalAh (Tata Cara Shala. , ia menguraikan bahwa shalat bukan sekadar serangkaian gerakan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual menuju Allah. Setiap tahap shalat, dari niat hingga sujud, memiliki simbolisme yang mencerminkan berbagai tingkatan kesadaran rohani. Menurutnya, sujud merupakan bentuk kepasrahan tertinggi seorang hamba di hadapan Allah, melambangkan pelepasan ego . anAA. dalam keberadaan Ilahi. Oleh sebab itu. Imam Khomeini menegaskan bahwa ibadah harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan kehadiran hati, bukan sekadar kebiasaan yang dilakukan tanpa makna. Salah satu contoh tafsir sufistiknya tampak dalam interpretasi Surah Al-Fatihah. Dalam karyanya Tafsr Surat Al-Fatihah, ia menjelaskan bahwa surah ini bukan sekadar doa pembuka dalam shalat, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang merepresentasikan perjalanan eksistensial manusia. Ayat IyyAka naAobudu wa iyyAka nastaAon (AuHanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolonganA. dimaknai sebagai perwujudan tauhid yang murni. Seorang hamba seharusnya bergantung sepenuhnya pada Allah, tanpa mengandalkan kekuatan dirinya Oleh karena itu. Imam Khomeini menafsirkan ayat ini sebagai panggilan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi serta melepaskan keterikatan terhadap dunia materi. Khomeini. Knysh. AuAoAoirfAnAo Revisited: Khomeini and the Legacy of Islamic Mystical Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Pendekatan sufistiknya juga terlihat dalam tafsir Surah An-Nur ayat 35, yang berbunyi Allah adalah cahaya langit dan bumi. Ia menafsirkan bahwa seluruh eksistensi di alam semesta adalah refleksi dari cahaya Ilahi. Konsep ini ia hubungkan dengan teori emanasi dalam filsafat Mulla Sadra, yang menyatakan bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan sebagai cahaya utama, sementara dunia hanyalah pantulan dari keberadaanNya. Oleh karena itu, untuk memahami Al-QurAoan secara mendalam, manusia harus melepaskan keterikatan duniawi dan membuka hati agar dapat menerima cahaya Ilahi. Selain itu. Imam Khomeini juga menyoroti konsep wilAyah . epemimpinan spiritual dan politi. dalam Islam. Ia berpendapat bahwa kepemimpinan yang ideal tidak hanya harus memahami hukum Islam secara lahiriah, tetapi juga memiliki hubungan spiritual yang mendalam dengan Allah. Ia menghubungkan konsep ini dengan peran para imam dalam tradisi Syiah, yang dianggap memiliki ilmu Ilahi dan bertugas membimbing umat menuju kebenaran. Oleh karena itu, menurut Imam Khomeini, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar persoalan politik, melainkan juga mengandung dimensi spiritual yang sangat penting. Meskipun tafsir sufistiknya memiliki kemiripan dengan pemikiran sufi seperti Ibn Arabi dan Rumi, terdapat perbedaan mendasar. Imam Khomeini menekankan pentingnya syariat sebagai fondasi dalam perjalanan spiritual, sementara sebagian sufi lebih mengutamakan pengalaman mistik individu yang kadang mengesampingkan aspek hukum Islam. Ia berpendapat bahwa seseorang tidak dapat mencapai maqam spiritual yang tinggi tanpa terlebih dahulu menjalankan syariat secara benar. Keunikan lain dari tafsir sufistiknya adalah aspek revolusioner. Berbeda dengan sufi klasik yang lebih cenderung menjauh dari urusan duniawi dan politik. Imam Khomeini justru melihat keterkaitan erat antara spiritualitas dan perjuangan sosial. Ia menafsirkan ayat-ayat Al- QurAoan yang membahas keadilan, penindasan, dan perjuangan melawan kebatilan sebagai panggilan bagi umat Islam untuk menegakkan keadilan di dunia. Pemikirannya ini sangat relevan dalam konteks perjuangan umat Islam modern. Dari berbagai aspek yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa tafsir sufistik Imam Khomeini merupakan pendekatan yang kaya dan mendalam dalam memahami AlQurAoan. Ia menggabungkan elemen tasawuf, filsafat, dan teologi Islam untuk menggali makna terdalam dari wahyu Ilahi. Pendekatannya tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga Philosophy. Ay At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 memiliki dampak nyata dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Dengan menekankan hubungan erat antara spiritualitas dan realitas sosial. Imam Khomeini menawarkan perspektif baru dalam tafsir sufistik yang tetap relevan hingga saat ini. Kitab Tafsr al-Adab al-MaAonawiyyah li Al-SalAh membahas dimensi etika batin dalam shalat. Kitab ini tidak hanya menjelaskan aturan-aturan lahiriah dalam ibadah, tetapi juga aspek-aspek rohani seperti etika berhadapan dengan Tuhan, tahapan spiritual seorang pencari kebenaran, serta konsep kekhusyukan dan gangguan setan dalam ibadah. Salah satu bab dalam kitab ini membahas etika dalam membaca Bismillah, diikuti dengan penjelasan mengenai surah-surah yang umum dibaca dalam shalat, seperti Surah Al- Fatihah . , serta Surah Al-Ikhlas dan Al-Qadr . Imam Khomeini tidak hanya memaparkan struktur dan rangkaian shalat, tetapi juga menyertakan penafsiran mendalam terhadap surah-surah tersebut. Setelah membahas makna bismillah dalam awal penafsiran surat Al-Ikhlas. Imam Khomeini kemudian menjelaskan bahwa kata "Qul" yang berarti "Katakanlah" merupakan perintah yang berasal dari konsep keesaan kolektif, yaitu perpaduan antara sifat baqa . dan fana . , yang berada pada tingkatan maqam barzakh yang luhur. Kata ini mencerminkan aspek kolektivitas sekaligus perbedaan. Dengan kata lain, maknanya adalah. AuWahai Muhammad, sebagai refleksi dari keesaan kolektif, maqam kehendak esensial, atau maqam suciAidan bahkan lebih dekat dengan maqam emanasiAikatakanlah dengan lisannya yang mengalami fana dalam dirinya dan tetap kekal dalam kebaqaan Allah: Dialah Yang Maha Esa. Ay Imam Khomeini juga menguraikan bahwa frasa "Qul Huwa AllAh Auad" bisa merujuk pada sifat fundamental, yaitu keagungan, yang merupakan tingkat kesederhanaan mutlak dari esensi Tuhan yang suci. Sementara itu, kata "Allah" dalam konteks ini menggambarkan nama keindahan. Oleh karena itu, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah merupakan pusat kesatuan dan manifestasi melalui proses emanasi, yang dalam beberapa aspek mencakup urusan ilahi. Berdasarkan kemungkinan pertama yang telah disebutkan sebelumnya, nasab Allah dalam ayat ini merujuk pada seluruh tingkatan maqam nama-nama keagungan dan keindahan, yang mencakup semua aspek dari namanama tersebut. Khomeini. AuTafsir Al-Fatihah, al-Ikhlash. Dan al-Qadr: Perspektif AoirfAn. Ay Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Selain itu, kata "Dia" dalam ayat ini juga berkaitan dengan eksistensi mutlak, yang dalam kajian filsafat dapat digunakan sebagai bukti dari enam prinsip utama, yaitu: Pertama. Maqam Ketuhanan, yaitu kedudukan yang mencakup semua bentuk kesempurnaan, serta manifestasi dari keesaan kolektif dalam aspek keagungan dan Dalam filsafat, telah dibuktikan bahwa eksistensi murni dan sifat "Dia" yang mutlak merupakan kesempurnaan sejati, dan tanpa itu, eksistensi tidak akan menjadi Kedua. Maqam keesaan, yang menunjukkan tingkat kesederhanaan intelektual, eksternal, dan eksistensial dalam bentuknya yang sempurna. Ketiga. Maqam yang dimohonkan pertolongannya, yang merujuk pada ketiadaan kuiditas . atau esensi dalam pengertian filosofis. Keempat. Tidak ada sesuatu pun yang bisa terpisah dari- Nya. Kelima. Dia sendiri tidak pernah terpisah dari apa pun. Keenam. Dia tidak memiliki tandingan atau kesetaraan, sehingga tidak ada yang dapat disamakan dengan-Nya. Hal ini didukung oleh dalil bahwa eksistensi murni tidak dapat diulang atau digandakan. Setelah menjelaskan tafsir Surah Al-Qadr. Imam Khomeini kemudian membahas makna rukuk dalam shalat. Hal ini menunjukkan bahwa kitabnya tidak hanya berisi penjelasan teknis mengenai shalat, tetapi juga memuat refleksi spiritual yang mendalam. Dalam latar belakang penulisan kitab ini, terlihat bahwa Imam Khomeini bertujuan untuk menyempurnakan pemahaman shalat, agar bisa mencapai kesempurnaan yang hakiki. menjelaskan bahwa shalat memiliki dua dimensi, yaitu lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah berkaitan dengan aturan dan larangan yang harus diikuti agar shalat sah, sedangkan aspek batiniah berkaitan dengan kesadaran hati dalam beribadah, sehingga seseorang yang shalat merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah. Dengan memahami kedua dimensi ini, seorang Muslim dapat melaksanakan shalat dengan penuh kesadaran dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Dengan menyingkap makna-makna teks melalui pengalaman spiritualnya. Imam Khomeini mencapai pemahaman esoterik yang dalam tradisi tafsir dikenal sebagai tafsir Dalam menafsirkan Al-QurAoan, ia mengacu pada pendekatan AoirfAn, yang sesuai dengan epistemologi AoAoirfAn. Dalam pendekatan ini, hakikat ketuhanan hanya dapat diperoleh melalui pengalaman langsung, tanpa melalui verifikasi empiris atau penalaran Khomeini. Imam Khomeini. AuAl-Adab al-MaAonawiyyahyah Li Ash-ShalaAy (Beirut: Muassisa al-AAolami, 2. Khomeini. Ay Khomeini. AuAl-Adab Al-MaAonawiyyahyah Li Ash-ShalaAy. Fauzi. AuTafsir Fitri Imam At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 Pengalaman langsung tersebut, yang bersifat otentik, asli, dan belum tersentuh oleh konstruksi logika, dirasakan melalui intuisi. Dalam khazanah intelektual Islam, jenis pengetahuan ini disebut sebagai al-Aoilm al-husr. Meskipun tafsir isyari sering kali menuai kritik, interpretasi Imam Khomeini dapat diterima karena memenuhi persyaratan ketat dalam ilmu tafsir Al-QurAoan. memastikan bahwa penafsirannya tidak bertentangan dengan makna lahiriah teks, tidak mengklaim sebagai satu-satunya makna yang sah dengan mengesampingkan makna eksplisit, serta didukung oleh landasan syariat sehingga tetap selaras dengan prinsip syariat dan rasionalitas. Selain tetap berpegang pada makna lahiriah teks. Imam Khomeini juga berkomitmen untuk menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan dengan mempertimbangkan hubungan antarayat . unAsaba. serta riwayat-riwayat yang bersumber dari ahl al-bayt. Menurut Imam Khomeini, doa-doa para imam ahl al-bayt mengandung unsur AoAoirfAn yang kental serta menjadi bagian dari khazanah tasawuf. Pendekatan ini tidak dapat disamakan dengan tafsir bathini, sebab ia menggunakan hermeneutika sufistik . , yang tetap berpijak pada prinsip-prinsip tafsir yang dapat dipertanggungjawabkan. Pandangan ini tercermin dalam penafsirannya terhadap istilah al-Rahman dan al-Rahim dalam surah Al-Fatihah. Imam Khomeini tidak hanya memahami istilah tersebut dalam makna zahir, tetapi juga menggali makna batinnya. Penafsirannya berlanjut hingga ke ranah eksistensi dan manifestasi ketuhanan. Dalam menjelaskan hal ini, ia mengutip QS. An-Nur . , yang menyatakan bahwa AuAllah adalah cahaya langit dan bumi,Ay serta QS. Az-Zukhruf . , yang menegaskan bahwa AuDialah Allah, yang di langit adalah Tuhan, dan yang di bumi adalah Tuhan. Ay 34 Menurutnya, kasih sayang Allah yang terkandung dalam sifat al-RaumAn mencerminkan keluasan eksistensi-Nya, yang merupakan manifestasi universal bagi seluruh ciptaan. Dengan kata lain, dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Allah tidak memiliki sekutu atau mitra, karena tidak ada makhluk lain yang memiliki sifat al-Rahman dalam proses penciptaan. Artinya, satu-satunya pencipta di alam semesta adalah Allah, yang menegaskan keberadaan-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada entitas lain yang berhak disebut sebagai Tuhan dalam ranah perwujudan . Ar al33 Knysh. AuAoAoirfAnAo Revisited: Khomeini and the Legacy of Islamic Mystical Philosophy. Ay Ahmad Fahruddin Jazuly. AuKonsep Emanasi Perspektif Imam Khomeini Dalam Tafsir Al- Adab Al-MaAonawiyah Li Al-SalAhAy (Surabaya. UIN Sunan Ampel, 2. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Sementara itu, kasih sayang yang terkandung dalam sifat al-Raum lebih bersifat khusus, yaitu sebagai pancaran bimbingan Ilahi yang hanya diberikan kepada mereka yang beruntung serta memiliki derajat spiritual yang tinggi. Relevansi Tafsir Sufistik Imam Khomeini dalam Kepemimpinan Islam Untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di era modern yang sebagian besar disebabkan oleh hilangnya visi keilahian setelah manusia semakin menjauh dari pusat eksistensinya, tidak ada jalan lain selain kembali ke pusat eksistensi tersebut. Salah satu cara yang paling signifikan untuk mencapai hal ini adalah melalui pendekatan tasawuf. Tasawuf memiliki keterkaitan erat dengan kondisi psikologis manusia, selain juga membahas aspek-aspek mistis. Kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan dengan Tuhan melalui tasawuf dapat membantu mengintegrasikan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang tampak terpisah-pisah. Dengan tasawuf, manusia disadarkan bahwa segala sesuatu berakar dari Tuhan, sehingga ilmu-ilmu yang berbeda tidak akan saling bertentangan karena semuanya berada dalam satu jalur dan tujuan yang sama. Dalam kehidupan pribadi Imam Khomeini. AoirfAn sangat erat kaitannya dengan akhlak dan pencerahan diri. Beliau secara disiplin melatih dirinya dengan keras serta menjadi teladan dalam hal kesederhanaan dan kecintaan terhadap kebenaran. Allah telah menganugerahkan manusia berbagai sarana, seperti akal, para nabi, dan para wali, agar mereka dapat menyelamatkan diri dari azab akhirat. Imam Khomeini menegaskan bahwa mereka yang senantiasa berusaha mencari pencerahan spiritual layak mendapatkan penghormatan dan penghargaan. Imam Khomeini meyakini bahwa seluruh keberadaan di alam semesta sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Tuhan, dan alam ini merupakan manifestasi dari keberadaan-Nya. Prinsip ini terefleksi dalam dua aspek, yaitu hukum Shabrina Aden. Alifarose Syahda Zahra, and Ubaidillah Ubaidillah. AuKonsep Tasawuf Amaliyah Sebagai Internalisasi Moderasi Beragama Perspektif KH. Djamaluddin Ahmad,Ay Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin. Pemikiran. Dan Fenomena Agama 24, no. 2 (December 1, 2. : 215Ae27, https://doi. org/10. 19109/jia. Sadari Ahmad and Sholahuddin Sholahuddin. AuSustainable Development Goals (SDGS) Dan Indonesia Maju: Dakwah Tasawuf Sebagai Model Moderasi Kebangsaan,Ay Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal 6, no. 3 (January 24, 2. : 941Ae49, https://doi. org/10. 47467/reslaj. Supriyadi Supriyadi and Miftahol Jannah. AuPendidikan Karakter Dalam Tasawuf Modern Hamka Dan Tasawuf Transformatif Kontemporer,Ay Halaqa: Islamic Education Journal 3, no. 2 (December 3, 2. : 91Ae95, https://doi. org/10. 21070/halaqa. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 takwn . ukum alam yang berasal dari Tuha. dan hukum tasyrAo . ukum agama yang menjadi pedoman kehidupan manusi. Imam Khomeini pernah menyampaikan pemikirannya terkait tafsir Al-QurAoan. Dalam salah satu buku tafsir yang ditulisnya di awal Revolusi Islam, beliau menegaskan bahwa dalam kondisi tertentu, orang cenderung mengaitkan apa pun yang terlintas di benaknya dengan Al-QurAoan. Sebagaimana yang diperlihatkan oleh Imam Khomeini, lahirnya Revolusi Islam merupakan hasil dari upaya menghidupkan kembali pemikiran politik Islam oleh pemimpin besar revolusi tersebut. Keberlanjutan revolusi ini sangat bergantung pada ketahanan serta ketangguhan pemikiran yang mendasarinya. Fenomena serupa juga terjadi di luar Iran, di mana kebangkitan masyarakat muslim diarahkan oleh bimbingan religius. Inilah yang kemudian dikenal sebagai "Ekspor Revolusi," yaitu upaya merespons berbagai kebutuhan intelektual manusia yang haus akan pengetahuan Ilahi. Dengan keberhasilan Revolusi Islam di Iran, harapan baru muncul bagi umat Islam, khususnya bagi mereka yang sebelumnya meyakini bahwa untuk membebaskan diri dari dominasi kekuatan adidaya, mereka harus bergantung pada kekuatan adidaya lain. Revolusi Islam telah mengubah anggapan ini, membuktikan bahwa pemerintahan Islam dapat ditegakkan bahkan di era modern. Pasca kemenangan Revolusi Islam, pengaruh ideologi asing mulai menyusut di kalangan umat Islam. Bahkan, banyak yang mulai memilih Islam sebagai jalan hidup yang lebih praktis. Gelombang pemikiran Revolusi Islam menyebar luas di dunia Islam, membangkitkan kembali semangat keagamaan dan menginspirasi pergerakan Islam di berbagai negara seperti Lebanon. Sudan. Aljazair. Mesir. Afghanistan, dan lainnya. Pengaruh pemikiran ini semakin kokoh karena visi Imam Khomeini yang berfokus pada pembebasan dunia Islam dari belenggu imperialisme dan kolonialisme serta mengembalikan kemuliaan serta kewibawaan umat Islam. Kepemimpinan beliau memberikan teladan revolusioner yang bersejarah, yang hingga kini tetap menginspirasi perjuangan pergerakan Islam di masa depan. Khomeini. AuTafsir Al-Fatihah, al-Ikhlash. Dan al-Qadr: Perspektif AoirfAnAy. Knysh. AuAoAoirfAnAo Revisited: Khomeini and the Legacy of Islamic Mystical Philosophy. Ay Anwar and Shidiq. AuMengembalikan Fungsi Faqih Dan Ulama? Dalam Pemikiran Wilayat-I Faqih Khomeini Sebagai Model Ulama' Syi'Ah Pasca Revolusi IranAy. Kurzman. AuAfter Khomeini: Iran Under His Successors. Ay Mavani. AuKhomeiniAos Concept of Governance of the Jurisconsult (Wilayat al-Faqi. Revisited: Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. Kepemimpinan memegang peranan penting dalam tegaknya sebuah negara. Kemajuan dan kejayaan suatu negara sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya. Jika seorang pemimpin memiliki kompetensi yang memadai serta memenuhi kriteria yang diperlukan, maka hal ini menjadi jaminan bagi kelangsungan negara tersebut. Sebaliknya, jika seorang pemimpin hanya mengikuti hawa nafsu dan kesenangannya sendiri tanpa memedulikan kepentingan rakyat, maka roda pemerintahan akan berputar tanpa arah yang jelas. Namun, jika konsep WilAyat al-FAqih yang diusung oleh Imam Khomeini dikaitkan dengan kondisi dan realitas di Indonesia saat ini, terdapat beberapa aspek yang kurang relevan untuk diterapkan. Salah satu syarat kepemimpinan menurut Imam Khomeini adalah bahwa seorang pemimpin harus berasal dari kalangan ulama. Indonesia adalah negara yang majemuk dengan berbagai suku, agama, dan budaya. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, menerapkan syarat kepemimpinan hanya kepada ulama tanpa mempertimbangkan definisi ulama secara lebih luas bisa menjadi tantangan tersendiri dalam sistem pemerintahan Indonesia. Sistem WilAyat al-FAqih cenderung bersifat teokratis, di mana kekuasaan mutlak dianggap sebagai hak Tuhan. Dalam doktrin politiknya, konsep ini menegaskan bahwa kekuasaan legislatif sepenuhnya berada di tangan Tuhan, sementara parlemen hanya berperan dalam merancang program-program kementerian berdasarkan ajaran Islam serta menentukan bentuk pelayanan pemerintahan di seluruh negeri. Dalam konteks ini, sistem pemerintahan WilAyat al-FAqih memiliki perbedaan mendasar dengan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia, yang lebih mengedepankan prinsip demokrasi dan pluralisme. Demokrasi di Iran memiliki karakteristik khas yang disebut sebagai demokrasi "Islam", karena menggabungkan dua elemen utama: kedaulatan rakyat yang diwakili oleh The Aftermath of IranAos 2009 Presidential Election. Ay Ideology,Ay Jason Wimberly. AuWilayat al-Faqih in HizballahAos Web of Concepts: A Perspective on Middle Eastern Studies https://doi. org/10. 1080/00263206. (September 687Ae710. Muhammad Khalid Muslih. AuWilayat Al-Faqih Baina al-Fiqhiyyah Wa al-Kalamiyyah,Ay TSAQAFAH 7, no. 2 (November 30, 2. : 411, https://doi. org/10. 21111/tsaqafah. Hamid Mavani. AuKhomeiniAos Concept of Governance of the Jurisconsult ( Wilayat al-Faqih ) Revisited: The Aftermath of IranAos 2009 Presidential Election,Ay The Middle East Journal 67, no. 2 (April 16, 2. : 207Ae 28, https://doi. org/10. 3751/67. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 presiden serta kedaulatan Tuhan yang berada di tangan WilAyat al-FAqih. Seperti halnya demokrasi di berbagai negara, sistem ini berkembang sesuai dengan kultur dan kondisi Iran. Hal yang menarik dalam sistem pemerintahan Iran adalah penerapan teori Trias Politika, yang juga digunakan dalam negara-negara demokrasi lainnya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh John Locke . dan kemudian dikembangkan oleh Montesquieu . , yang membagi kekuasaan menjadi tiga cabang utama: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Prinsip dasar teori ini adalah bahwa kekuasaan tidak boleh terpusat pada satu pihak untuk menghindari penyalahgunaan wewenang . buse of Demikian pula, dalam konsep WilAyat al-FAqih yang dikembangkan oleh Imam Khomeini, kekuasaan pemerintahan dibagi menjadi tiga lembaga utama: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun, dalam sistem ini, otoritas tertinggi tetap berada di tangan faqih, yaitu seorang Mujtahid yang memiliki kewenangan tertinggi dalam menafsirkan sumber hukum Islam. Semua kekuasaan dalam negara berlandaskan pada kedudukannya sebagai pemegang otoritas hukum dan spiritual tertinggi. Dalam struktur pemerintahan Republik Islam Iran, lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif tetap memiliki fungsi serta kedudukan masing-masing yang independen. Namun, secara hierarkis, ketiga lembaga ini berada di bawah WilAyat al-FAqih, yang membedakannya dari konsep demokrasi pada umumnya. Meskipun struktur politik Iran lebih bersifat teokratis, lembaga-lembaga politik modern tetap memainkan peran yang signifikan. Presiden dan parlemen dipilih melalui pemilihan umum, sementara anggota kabinet yang diangkat oleh presiden juga harus mendapatkan persetujuan mayoritas parlemen. Jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang di kawasan Timur Tengah. Iran merupakan salah satu negara yang menjalankan demokrasi prosedural, yang ditandai dengan penyelenggaraan pemilu secara Mohanad Hage Ali. AuTransnational Wilayat Al-Faqih,Ay in Nationalism. Transnationalism, and Political Islam, by Mohanad Hage Ali (Cham: Springer International Publishing, 2. , 175Ae220, https://doi. org/10. 1007/978-3-319-60426-8_6. Imam. AuPemikiran Imam Khomeini Tentang Ayat-Ayat Wilayat Al-FaqihAy. Rofiki Rofiki. AuPemikiran Politik Imam Khomeini: Konsep Wilayah Al-Faqih Dan Penerapannya Di Zaman Sekarang,Ay Al Imarah : Jurnal Pemerintahan Dan Politik Islam 7. No. 1 (January 21, 2. : 84. Https://Doi. Org/10. 29300/Imr. V7i1. Tafsir Sufistik Imam Khomeini: Pendekatan AoirfAn dalam Memahami Al-QurAoan (Siswoyo Aris Munanda. KESIMPULAN Tafsir Imam Khomeini adalah salah satu contoh penafsiran AoirfAn yang menggabungkan pendekatan spiritual dengan analisis teks suci. Dalam tafsirnya, beliau menekankan bahwa pemahaman terhadap Al-QurAoan tidak hanya bergantung pada logika dan metode rasional, tetapi juga harus didukung oleh pengalaman mistis dan penyucian Konsep Aoilm al-hudhuri, atau pengetahuan langsung yang diperoleh melalui pengalaman batin, menjadi salah satu prinsip utama dalam penafsirannya. Tiga karakteristik utama tafsir Imam Khomeini adalah: pertama, kesesuaiannya dengan makna lahiriah Al-QurAoan tanpa mengesampingkan aspek batinnya. keterkaitannya dengan konsep penyucian jiwa dalam tasawuf yang menekankan tazkiyat al-nafs sebagai syarat memahami hakikat Tuhan. dan ketiga, pandangannya mengenai tajall, yang menjelaskan bagaimana seluruh keberadaan merupakan manifestasi dari Tuhan. Melalui pendekatan ini. Imam Khomeini memberikan pemahaman baru mengenai hubungan antara manusia dan Tuhan, serta mengajak umat Islam untuk tidak hanya memahami Al-QurAoan secara tekstual, tetapi juga dengan hati dan pengalaman spiritual yang mendalam. Dengan demikian, tafsir AoirfAn yang dikembangkan oleh Imam Khomeini menjadi kontribusi penting dalam studi tafsir Islam dan relevan untuk dipelajari di era modern, terutama dalam memahami dimensi spiritual dari wahyu Ilahi. At-Tafasir: Journal of QurAoanic Studies and Contextual Tafsir. Volume 3. Number 1. June 2025 DAFTAR PUSTAKA