Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta EKOLOGI SOSIOKULTURAL PEMBELAJARAN WACANA DALAM KONTEKS LINGKUNGAN PERTANIAN INDUSTRIAL Rusdhianti Wuryaningrum1 Universitas Jember. Indonesia Email Address fkip@unej. Keywords: ekologi sosiokultural, pembelajaran wacana, konteks pertanian industrial Abstrak Artikel ini membahas ekolologi sosiokultural sebagai bagian penting dalam pendidikan bahasa. Wacana merupakan fokus pembelajaran bahasa Indonesia. Visi diferensiasi memiliki dua sisi makna: upaya memenuhi unsur kontekstual pembelajaran, memenuhi kebutuhan peserta didik dalam belajar. Sebagai bagian konteks lingkungan, pertanian industrial merupakan aspek strategis pembelajaran. Posisi ekologi sosiokultural dalam artikel ini digunakan untuk mendeskripsikan subtansi yang perlu dikembangankan dalam pembelajaran wacana. Ekologi sosiokultural dipandang sebagai pendekatan yang menyelidiki hubungan bahasa dengan lingkungan sosial dan budaya. Ekologi sosiokultural bahasa melihat interaksi manusia dan bahasa yang keduanya dibentuk oleh struktur sosial dan kemasyarakatan yang lebih besar mencakup institusi, proses ekonomi, dan sumber daya sosiokultural. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif. pemerolehan data dengan observsi dan studi pustaka dengan penerapan analisis logis untuk menyusun paparan secara sistematis terkait praktik konteks lingkungan pertanian industrial. Analisis tersebut digunakan untuk mendeskripsikan penerapan model ekologi perkembangan Bronfenbrenner yang terdiri atas aspek mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem. Keempat aspek tersebut merupakan alternatif upaya pencapaian diferensiasi dalam pendidikan. Pendahuluan Pemerolehan bahasa, dalam pandangan Vigotsky adalah sign form, misalnya dalam pemerolehan leksikal-gramatikal. Internalisasi bersifat transformatif, personalis, serta mencakup inward . okus interna. dan outward . okus eksterna. (Van Compernolle, 2. Lingkungan sosial adalah pengaruh signifikan dalam memahami dan menentukan sikap dalam bahasa. Penelitian (Wuryaningrum, 2. menunjukkan bahwa pemahaman aspek pragmatik dikonstruk oleh lingkungan karena pada dasarnya lingkungan memengaruhi bahasa dan sebaliknya. Oleh karena itu, grounded theory menunjukkan bahwa hubungan bahasa, pemerolehan bahasa, dan lingkungan sangat erat. Untuk menggambarkan hubungan yang kompleks antara individu, media, dan masyarakat dalam konteks interaksi pembelajaran yang lebih luas, pendekatan ekologi sangat sesuai untuk diterapkan dalam memahami perkembangan mental, psikososial, dan linguistik (Rummler, 2. Langkah pertama menuju pendekatan ekologis terhadap bahasa diambil ketika Haugen pada tahun 1970 mendefinisikan ''ekologi bahasa'' sebuah kajian interaksi antara bahasa tertentu dan lingkungannya''. Ekologi bahasa melihat faktor-faktor lingkungan memengaruhi bahasa bukan sekadar bahasa X serumpun dengan bahasa Y (Steffensen, 2. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Sejarah ekolinguistik mengidentifikasi empat untaian yang berbeda dalam cara menafsirkan lingkungan dan bahasa dalam beberapa pendekatan (Steffensen, 2. Pendekatan ekologi simbolik: menyelidiki eksistensi bahasa atau 'sistem simbol' dalam suatu wilayah tertentu. Pendekatan ekologi alami: ini menyelidiki bagaimana bahasa berhubungan dengan biologis dan ekosistem lingkungan . opografi, iklim, fauna, flora, dl. Pendekatan ekologi sosiokultural: menyelidiki hubungan bahasa dengan sosial dan budaya sebagai kekuatan yang membentuk kondisi penutur dan masyarakat tutur. Pendekatan ekologi kognitif: menyelidiki bagaimana bahasa diaktifkan oleh dinamika antara bio organisme logis dan lingkungannya, dengan fokus pada kapasitas kognitif yang menimbulkan fleksibilitas, adaptasi organisme. Artikel ini memberikan gambaran fondasi ekologi sosiokultural yang memengaruhi pembelajaran bahasa dan praktik pemanfaatannya sebagai pemahaman perkembangan siswa dalam model ekologikal perkembangan bahasa. Konsekuensi pemilihan pembelajaran bahasa berbasis teks adalah tuntutan keterampilan produktif yang sangat penting. Produksi teks siswa merupakan produk yang merepresentasikan pemahaman aspek bahasa dari fonologi hingga sintaksis, pemahaman makna yang terepresentasi dalam pemilihan diksi . , dan pemahaman konteks serta fungsi sosial. Secara teknis, siswa berhadapan dengan kaidah tata tulis dan ejaan. Di samping itu, secara harafiah, siswa perlu memperhatikan struktur wacana, kohesi, dan koherensinya. Muara dari pembelajaran bahasa adalah Kompetensi kreativitas merupakan komponen tertinggi dalam pembelajaran. Oleh karena itu, tantangan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman pembelajaran wacana sebagai representasi pendidikan bahasa. Misalnya, untuk memahami teks prosedur, siswa perlu memahami bahan, konteks kalimat komunikatif agar wacana yang dihasilkan bisa dipahami dan berterima. Pendidik bahasa perlu memahami perkembangan peserta didiknya dalam memahami sosok wacana yang dipelajari dan sosok siswa yang belajar bahasa. Urie Bronfenbrenner melahirkan teori ekologi sosial pada 1980-an. Dalam pandangannya, terdapat pandangan tentang tipe ekosistem yang berkaitan dengan bahasa. Alfred Schytz bahasa dalam dimensi kehidupan sehari-hari diatur bergantung pada intensitas interaksi orang-orang di dalamnya, dan periode perkembangan . Mikrosistem mencakup hubungan dengan orang atau kelompok lain, . Mesosistem adalah jumlah hubungan . dari seorang anak dan hubungan antara mikrosistem ini, . Eksosistem adalah sistem hubungan yang tidak dimiliki anak secara langsung sehingga mereka tidak memiliki pengaruh langsung . Kronosistem mencakup dimensi temporal dalam perkembangan seorang anak, 91 | Rusdhianti Wuryaningrum . Sistem makro mencakup semua hubungan dalam masyarakat termasuk nilai, konvensi, peraturan, (Rummler, 2. Gambar 1: AoBronfenbrennerAos Ecological SystemAo ( Psychology Notes HQ , 2013 dalam (Watson, 2. Tahapan perkembangan ekologi tersebut perlu diketahui oleh pendidik bahasa dan bidang ilmu lain untuk memberikan gambaran peran lingkungan dan pada tahap apa peserta didik perlu mendapatkan perhatian agar dapat mengoptimalkan kemampuan memproduksi wacana. Konteks yang diangkat dalam artikel ini adalah konteks pertanian industrial, sebagai bagian aspek sosial dan sosietal yang dihadapi peserta didik di Kabupaten Jember. Aspek sosial berkaitan dengan respon masyarakat terhadap bahasa, sikap bahasa, dan dukungannya terhadap perkembangan peserta didik. Dalam lingkungan pertanian industrial, sikap bahasa dibangun sejalan dengan kemampuan masyarakat pertanian industrial mendayagunakan bahasa dalam berbagai keperluan, baik mmenarasikan, mempersuasi, mendeskripsikan, bahkan berargumentasi (Wuryaningrum. Muti'ah, & Syukron, 2. Aspek sosietal dalam pertanian industrial adalah hal yang unik dan perlu Kelas sosial konsumen merupakan aspek sosietal yang akan menunjukkan implikasi pada strata Penelitian ini akan mengkaji sistem perkembangan model ekologis perkembangan anak oleh Bronfenbrenner salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran wacana dengan konteks pertanian industrial. Artikel ini ditulis dalam konteks pendidikan di Jawa Timur, khususnya pada subkonteks pertanian industrial di Jember, sebagai salah satu lokasi pengamatan. Ada pun perkembangan sistem pekembangan model ekologis tersebut terdiri atas. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | . mikrosistem mengacu pada 'lingkungan langsung' anak, yang dapat mencakup konteks keluarga dekat, lingkungan atau sekolah, . mesosistem menghubungkan berbagai pengaruh dekat dari microsistem bersama-sama dan menyediakan koneksi ke berbagai bagian kehidupan anak seperti ketika guru berkomunikasi dengan orang tua atau pekerja sosial berkomunikasi dengan saudara kandung anak, . eksosistem menggambarkan yang lebih besar: sistem sosial yang pengaruhnya tidak tidak berfungsi secara langsung. Pengaruh dari sistem ini terjadi melalui interaksi dengan struktur lain seperti pekerjaan orang tua jadwal atau tekanan kehidupan keluarga, . kronosistem mencakup dimensi temporal dalam perkembangan anak, . makrosistem lebih berkaitan dengan budaya dan pengaruh tidak langsung yang memengaruhi seorang anak dan perkembangannya. Hal ini mengacu pada pengaruh organisasi yang berkaitan dengan anak, termasuk: kelompok agama, etnis atau kelas sosial. Fokus kajian pada artikel ini adalah . pendekatan ekologi dalam pembelajaran wacana, . aspek sosiokultur dalam pembelajaran wacana dalam perspektif ekologi, dan . pemahaman tahapan perkembangan model ekologi dan ketiganya akan menjelaskan . model perkembangan ekologi dalam pembelajaran wacana pada konteks pertanian industrial. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 2: Kerangka Kajian Ekologi Sosiokultural Pada penelitian Wuryaningrum. Muti'ah, & Rijadi . dikembangkan bahan ajar berbasis pemanduan edukasi wisata kopi dan kakao untuk pembelajaran keterampilan berbicara. Dalam bahan 93 | Rusdhianti Wuryaningrum ajar tersebut ditemukan adanya aspek-aspek konteks sosiokultural dapat dimaknai dari tuturan pemanduan wisata kopi kakao yaitu mengembangkan pengetahuan deksriptif dan prosedural kepada penyimak atau audien adalah hal yang sangat penting. Dari penelitian tersebut dapat dimaknai bahwa konteks sosial dan sosietal merupakan bagian yang perlu diajarkan karena perkembangan bahasa anak atau peserta didik kadang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan konteks. Terlebih dalam konteks seting masyarakat digital, yang relatif bermedia sosial, genre tuturan lisan yang ditulis merupakan salah satu faktor baru yang menentukan pilihan sikap bahasa. Dalam konteks formal pun, tampak siswa belum bisa memahami ragam bahasa yang dipilihnya. Artikel ini akan memaparkan tahap perkembangan ekologi yang dapat dijadikan dasar dalam pembelajaran wacana. Tahap perkembangan ekologi tersebut memberikan gambaran aspek konteks sosial dan sosietal yang diperoleh peserta didik dan yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengembangkannya. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif ini menjelaskan poin-poin yang terdapat dalam tahap model perkembangan ekologis Bronfenbrenner yang terdiri atas tahap mikrosistem, mesosistem, eksosistem, kronosistem, dan makrosistem. Kelima tahap tersebut perlu dipelajari dengan menginteranalisasi perkembangan peserta didik dalam memahami wacana. Perspektif penelitian ini adalah peserta didik telah mengalami tahapan tersebut yang tentu saja tidak bisa dipaparkan per individu subtansi dari tiap tahapnya. Tetapi, bagi pemebelajaran bahasa, hal tersebut perlu disadari sebagai model yang dapat diterapkan untuk mengembangkan psikososial, khususnya pada saat mempelajari wacana. Riset ini menganalisis secara deskriptif melalui observasi, kajian pustaka, klarifikasi temuan penelitian yang pernah dilakukan pada pembelajaran wacana dengan konteks pertanian industrial. Analisis data dilakukan dengan identifikasi, eksplanasi, dan Hasil penelitian ini adalah dekripsi subtansi ekologi dari aspek sosiokultural pada tahap perkembangan ekologis yang diinterpretasikan terjadi pada peserta didik dalam lingkungan pertanian industrial, dan dekkripsi penerapannya pada pembelajaran wacana, khususnya pada keterampilan aktif-produktif . erbicara dan menuli. Hasil dan Pembahasan Mikrosistem memiliki pengaruh terbesar pada perkembangan anak dan dapat menciptakan pengalaman yang dapat sangat bermanfaat untuk memelihara, atau merugikan perkembangan mereka (Rogoff, 2. Dari paparan tersebut seolah-olah terdapat gambaran bahwa tahap mikrosistem adalah tahap terpenting dalam pandangan perkembangan ekologis. Namun, perlu diketahui bahwa setiap tahapan ekologis memiliki dampak dan peran masing-masing serta dapat terjadi dalam kurun waktu yang berbeda-beda serta sangat memungkinkan terjadinya secara tumpang Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Dari hasil kajian pustaka dan observasi dapat dideksripsikan . pendekatan ekologi dalam pembelajaran wacana, . aspek sosiokultur pembelajaran wacana dalam perspektif ekologi, dan . pemahaman tahapan perkembangan model ekologi dan ketiganya akan menjelaskan . model perkembangan ekologi dalam pembelajaran wacana pada konteks pertanian industrial. Pendekatan Ekologi Dalam Pembelajaran Wacana Ekologi adalah sistem teknis, sosial, budaya atau spasial yang komponen-komponennya tidak dapat didekonstruksi atau dipisahkan. Elemen mereka saling bergantung dan saling berkaitan erat. Pendekatan ekologis dalam pendidikan perlu menempatkan individu sebagai pusat. Hubungan antara individu di pusat dan dunia luar dapat dicirikan melalui referensi ke ekuilibrium atau keseimbangan, korespondensi dan atau timbal balik (Rummler, 2. Ekologi menjelaskan perubahan alamiah yang terjadi pada individu. Pendekatan ekologi perlu menyadari perubahan lingkungan yang mendorong fenomena kebahasaan, penguasaan bahasa, dan perubahan sikap dalam berbahasa. Pendekatan ekologi dalam bahasa, seperti pendapat Haugen yang dikutip dalam artikel ini, adalah studi tentang interaksi antara bahasa tertentu dan lingkungannya. Dalam perkembangannya makna, bahasa bukan hanya tentang kosa kata, semantik berupa metafora yang berkembang atau konstruksi kalimat, tetapi juga pola argumentasi dan penalaran. Bahkan (Harsin, 2. melakukan studi yang menunjukkan bahwa argumentasi perlu melibatkan teori kontemporer tentang teknologi dan budaya media baru untuk memahami bagaimana argumen publik tertanam secara empiris. Dari hasil risetnya, diketahui bahwa argumen publik dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang secara empiris terukur dan Karena itu, secara deskripstif analogis, dapat dikatakan pula bahwa ekologi merupakan perubahan sosial telah mengubah paradigma sebagai bagian argumen. Argumen merefleksikan pandangan dan nilai yang diyakini. Secara lebih umum, ekologi perlu dilihat sebagai keterkaitan dinamis dari proses dan objek, makhluk dan benda, pola, dan materi (Fuller, 2. dalam budaya, ekologi adalah hubungan antara materialitas dan informasi telah didefinisikan ulang (Goddard & Parikka, 2. Dengan demikian, pendekatan ekologi melihat pembelajaran bahasa sebagai bagian yang didampaki oleh lingkungan. Tentu saja akan sangat sia-sia apabila pembelajaran bahasa tidak melihat konteks lingkungan, upaya adaptasi, perkembangan, dan tindak tutur yang dikonstruk oleh lingkungan. Aspek Sosiokultur Pembelajaran Wacana Dalam Perspektif Ekologi Pembelajaran wacana dengan melibatkan aspek sosiokultur bertujuan mendidik dengan memberikan nilai-nilai positif. Aspek sosiokultur tersebut muncul dalam wacana kegaiatan adat, tradisi lisan, dan pemahaman nilai-nilai positif lokalitas (Yuniawan, 2. Nilai-nilai dalam konteks sosiokultur dalam perspektif ekologi menjelaskan lebih dari pada yang diungkapkan di atas. Ekologi berkaitan dengan sistem lingkungan termasuk perubahan sosial dan kecenderungan cara berpikir. Dari 95 | Rusdhianti Wuryaningrum aspek lingkungan, fenomena geografis merupakan bagian dari perspektif ekologi, termasuk pula kondisi pergerakan masayarakat. Jember. Jawa Timur, merupakan daerah dengan konteks pertanian Oleh karena itu, universitas Jember menjadikan pertanian industrial sebagai bagian visi, sebagai respon peduli pada pendidikan kontekstual dan realisasi dasar sosiologis. Di dalam pertanian industrial, terdapat berbagai jenis wacana yang dapat disinkronkan dalam pembelajaran dan dapat memenuhi kebutuhan secara harafiah. Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks atau wacana pada dasarnya adalah aktivitas belajar memahami jenis teks dan mengembangkan atau menulis teks yang telah dipahaminya. Dalam kegiatan belajar, pemahaman teks terdiri atas aktivitas mengidentifikasi isi atau informasi teks, menelaah struktur teks, menentukan unsur-unsur kebahasaan suatu teks, membedakan teks yang satu dengan teks yang lain, memperbaiki penggunaan bahasa dalam teks. Dalam kegiatan tersebut, secara induktif, peserta didik harus mampu menentukan ciri-ciri dan mengabstraksi jenis teks yang Kegiatan menulis teks yang telah dipelajari dilakukan dengan menentukan isi teks yang akan dibuat . embangun kontek. , menentukan model teks . , membuat teks dengan bimbingan intensif dari guru, dan membuat teks secara mandiri (Isodarus, 2017 ). Permasalahan yang perlu menjadi titik tumpu kebutuhan penerapan pendekatan ekologi adalah, . perkembangan jenis teks dan karakteristiknya, . perkembangan sosial fungsi teks-teks tersebut dalam masyarakat, . perkembangan subtansi teks terkait dengan perkembangan media, terutama media sosial, . perkembangan ekologi peserta didik yang berkembang dengan media sosial dan akan berdampak pada karakteristik bahasa dan bahkan perspektifnya tentang unsur kebahasaan dan subtasi teks. Salah satu karakteristik bahasa adalah dinamis (Indrayanti, 2. Karena itu, generasi muda, termasuk peserta didik memiliki lisensi mengembangkan bahasa atau mengikuti perkembangan Kembali pada titik tumpu kebutuhan pembelajaran yang diurai di atas, perspektif ekologi tidak bisa mengabaikan perubahan lingkungan, termasuk konteks sosial dan sosietal perlu menjadi Dalam konteks lingkungan pertanian industrial, pendekatan ekologi akan memberikan peluang bagi pembelajaran yang inovatif dan kontekstual. Salah satu realitas perkembangan adalah wacana persuasif. Dulu, pemahaman kalimat efektif dan efisien ditandai dengan kalimat yang singkat sangat dibutuhkan dan menjadi konsep dalam wacana iklan. Dulu, agen hanya bergerak pada televisi dan medi cetak, atau media siar . Namun, perkembangan media sosial, memungkin perubahan besar dalam wacana persuasif. Bahasa elaboratif sangat dibutuhkan dalam wacana persuasif di media sosial tanpa menghilangkan makna efektif dan efisien. Keminiman kalimat tidak menjadi Persuasi tidak hanya diwujudkan dalam tindak tutur bermodus ajakan dan imperatif Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | tetapi juga hadir dalam pertanyaan dengan diawali deskripsi yang luas bahkan berwujud paparan atau deskripsi, misalnya dalam endorsement barang atau jasa. Perspektif ekologi tidak hanya melihat sosiokultur berupa nilai-nilai budaya, adat, dan tradisi sebagai wacana yang perlu diajarkan, tetapi juga melihat perubahan dan dinamika masyarakat terkait perubahan sosial, geografis, iklim, dan media, serta teknologi. Dalam konteks pertanian industrial, persuasi tentang jenis kopi atau coklat, produk olahan, dan lokasi wisata edukasi merupakan bagian dari respon terhadap perspektif ekologi. Karena itu, integrasi penggunaan bahasa dalam konteks pertanian industrial merupakan bagian penting dalam perspektif ekologi. Tahap Perkembangan Model Ekologi (PPCT) Dalam perkembangan model ekologi terdapat 4 tahap atau bisa pula disebut periode perkembangan, . mikrosistem mencakup hubungan dengan orang atau kelompok lain, . mesosistem adalah jumlah dari hubungan . anak dan hubungan antara mikrosistem ini, . eksosistem adalah sistem hubungan yang tidak dimiliki anak secara langsung sehingga mereka tidak memiliki pengaruh langsung pada dirinya, . makrosistem mencakup semua hubungan dalam masyarakat termasuk nilai, konvemsi, peraturan, dll Kerangka kerja ekologis ini menekankan bahwa untuk memahami fenomena partisipasi anak, kita perlu mempertimbangkan kondisi dan proses yang mempengaruhi anak-anak dan remaja, memperluas lingkungan dengan mempertimbangkan untuk memasukkan keluarga anak-anak, masyarakat, para profesional yang bekerja dengan mereka, pembuat kebijakan, semua unsur perlu dipertimbangkan sebagai penyumbang pengetahuan (Gal, 2. Dalam artikel ini, fenomena yang diangkat adalah aspek lingkungan pertanian industrial di Kabupaten Jember. Menurut Bronfenbrenner, untuk memahami perkembangan anak secara utuh perlu diperhatikan empat konsep yang saling terkait: proses, persona, konteks, dan waktu (Process. Person. Context. Time atau PPCT). Proses berhubungan dengan interaksi dan aktivitas pelibatan anakt bersama dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya. Interaksi dan aktivitas mempengaruhi perkembangan anak-anak. Perkembangan biasanya terjadi selama periode waktu yang lama dan disebut proses Persona berkaitan dengan karakteristik . anak, seperti usia, jenis kelamin, etnis, dan fisik penampilan, yang dapat mempengaruhi interaksi langsung karena harapan yang mereka bentuk. Persona juga mencakup karakteristik juga mencakup sumber daya, yaitu sumber daya mental dan 97 | Rusdhianti Wuryaningrum emosional anak seperti pengalaman masa lalu, keterampilan, kecerdasan, serta sumber daya sosial dan material seperti pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan orang tua. Karakteristik kekuatan orang tersebut meliputi motivasi, temperamen, dan kegigihan. Konteks berkaitan dengan lingkungan di mana proses terjadi, dan itu mencakup empat sistem yang saling terkait mikro, meso, ekso, dan makro (Gal. Mikrosistem berkaitan dengan hubungan siswa dengan keluarga, karakteristik, dan proses, dinamika dan interaksi yang terjadi antara anak dengan keluarga lainnya anggota. Mesosistem berkaitan dengan lingkungan di luar keluarga, anak-anak tetangga terdekat, lingkungan organisasi di luar sekolah, area publik. Eksosistem berhubungan dengan arena yang tidak memiliki kontak langsung tetapi masih mempengaruhi perkembangan anak secara signifikan. misalnya, tempat kerja orang tua, jaringan sosial orang tua, dan lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang merumuskan kebijakan terkait anak. Makrosistem mewakili kekuatan sosial, politik, dan hukum yang lebih besar yang mempengaruhi anak-anak dan keluarga mereka. Elemen terakhir model PPCT Bronfenbrenner adalah waktu (Bronfenbrenner & Morris, 1. Waktu bisa mikro . urasi interaks. , meso . ingkat konsistensi interaksi tertentu dalam konteks tertent. , dan makro . eristiwa sejarah berskala besar dan waktunya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan ana. Menurut Bronfenbrenner, keempat unsur itu dalam model PPCT saling Studi empiris harus mengkaji semuanya bersama-sama untuk memahaminya perkembangan anak. Makrosistem merupakan unsur besar yang luas, seperti lanskap budaya dan politik, mempengaruhi eksosistem tempat kerja dan berdampak pada interaksi (Garbarino, 2. Dalam kehidupan peserta didik, makrosistem dapat terealisasi pada aktivitas pembelajaran. Konteks lingkungan sosial dan budaya merupakan bagian dari periode perkembangan. Jika pada periode makrosistem terdapat hal yang belum mencukupi karena kurang terintegrasinya konteks nyata dalam belajar, guru dapat memanfaatkan konteks dari lanskap sosial, budaya, geografis, dan lain-lain. Makrosistem dalam Pembelajaran Wacana pada Konteks Pertanian Industrial Berdasarkan observasi dan riviu pada penelitian pembelajaran berkonteks lingkungan pertanian industrial, terdapat beberap hal yang dapat dipelajari. Konteks lingkungan pertanian industrial dapat dianggap sebagai lanskap yang besar yang di dalamnya mengandung aspek ekologi, khususnya makrosistem. Konteks pertanian industrial menghasilkan wacana-wacana yang sesuai degan fitur pembelajaran yang dibutuhkan. Argumentasi wacana kopi menunjukkan potensi penggunaan konteks pertanian industrial dalam pembelajaran (Wuryaningrum. Muti'ah, & Syukron. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Dari fakta ini dapat kita kaji beberapa hal mengenai pembelajaran wacana dengan konteks pertanian industrial dari aspek makrosistem. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa wacana yang dapat diinisisasi sebagai hal yang berdampak mikro, meso, dan ekso. Dalam pembelajaran wacana, konteks pertanian industrial dapat dikembangkan sebagai bahan ajar, media, dan secara ekplisit menjadi bagian dalam interaksi kelas pada realisasi sintak pembelajaran inovatif. Secara khusus, dalam artikel ini, dibahasa jenis wacana yang diperankan oleh konteks pertanian Dari visi makrosistem, hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik perlu dibawa pada lanskap yang akan melihat mereka pada Audunia baruAy atau Audunia lamaAy yang belum pernah mereka perhitungkan akan berdampak pada keterampilan produktif bahasa. Cara pandang subbagian ini membahas makrosistem sebagai wacana yang perlu mereka kenali dan terapkan dalam pembelajaran, bukan sebagai bagian statis yang harus dilewati. Hal tersebut menjadi catatan bagi guru untuk mempertimbangkan konteks lingkungan, lanskap sosial dan sosietal dalam menyajikan bahan ajar atau mengembangkannya. menggunakan media pembelajaran, dan menerapkan pembelajaran inovatif. Tabel berikut menyajikan jenis wacana yang dapat diperankan oleh konteks pertanian industrial. Tabel 1. Jenis Wacana dalam Konteks Pertanian Industrial Konteks Pertanian Industrial Prosedur pengolahan kopi Jenis Wacana/ Teks Prosedur Klaim sejarah kopi, isu saintifik kesehatan, dampak, peluang usaha, ketepatan pemasaran, sikap sosial masyarakat pada kelas sosial tertentu. Kisah menghadapi masalah hidup, posisi lingkungan sosial, dsb. Argumentasi Informasi aktual tentang lingkungan Berita Produk suatu usaha pertanian idustrial, lokasi edukasi, pariwisata, dsb Deskripsi Persusi Karakteristik pertanian indutrial, sejarah, politik, dan perkembangannya Eksposisi Pengamatan proses, fenomena saintifik, sosial, sosietal, dan budaya. Laporan Narasi Komponen Materi Tahapan pengolahan pascapanen, pengolahan biji coklat/ kopi, tahap pengolahan bubuk coklat/ kopi, tahap pengolahan berbagai usaha Fakta dan opini berdasarkan data objektif, membuktikan kebenaran klaim, mendukung dan memberikan jaminan pada Menyajikan pengisahan berkonteks sosial pertanian, kondisi tingkat sosietal, kisah dengan latar hasil atau produk pertanian industrial. Unsur-unsur yang mendukung sebagai berita dalam media online maupun offline. Deskripsi keunggulan produk, manfaat, dan Keutuhan informasi tentang alur pertanian industrial, fenomena sosial, budaya, dan aspek sosietal dalam masyarakat. Fenomena faktual perstiwa, sains. Dari aspek kebahasaan jenis kalimat yang dijarkan adalah perintah, kalimat tanya, dan kalimat berita . ujuan/modu. kalimat pasif, kalimat aktif, kalimat kesalingan, kalimat refleksif . kalimat langsung dan kalimat tidak langsung . elangsungan kalima. kalimat topik, kalimat penjelas, 99 | Rusdhianti Wuryaningrum kalimat penegas . ungsi dalam paragra. kalimat pendapat, kalimat fakta, kalimat definisi, kalimat keadaan atau sifat, kalimat perbuatan, kalimat peristiwa atau proses . , kalimat tak berklausa, kalimat tunggal . , dan kalimat majemuk . erdasarkan jenis klausany. (Isodarus, 2017 ). Secara linguistik-pedagogi, kiranya hal tersebut dapat dijadikan dasar untuk menerapkan pertanian industrial dalam pembelajaran wacana sebagai pertimbangan periode makrosistem dalam perkembangan ekologi. Lanskap Pertanian Industrial Konsep dan Karakteristik Wacana Makrosistem Pembelajaran Wacana pada Konteks Pertanian Industrial Mikro, meso, dan Aspek Linguistik Wacana Gambar 4. Makrosistem dalam Pembelajaran Wacana Simpulan Perkembangan ekologis adalah periode perkembangan yang terdiri atas mikrosistem berkaitan dengan perkembangan peserta didik pada lingkup keluarga dan hal-hal yang secara intim melekat pada dirinya, mesosistem adalah gabungan individu yang memiliki mikrosistem yang berbeda-beda, eksosistem adalah periode saat peserta didik berinteraksi dengan hal di luar dirinya, misalnya kultur yang dimiliki orang tua atau teman di lingkungan orang tua atau teman mereka, misalnya lingkungan kerja orang tua memengaruhi orang tua dan hal tersebut berdampak tidak langsung dan cepat pada peserta didik. Makrosistem adalah periode yang mengkafer semua unsur termasuk lanskap lingkungan sosial, budaya. Penerapan pada konteks pertanian industrial dapat dilakukan dengan memanfaatkan konteks wacana pertanian industrial sebagai bagian lanskap makrosistem dalam periode Konsep dari makrosistem dengan lanskap pertanian indutrial adalah pemeranan segala hal yang berkaitan dengan pertanian industrial untuk mengembangkan kepekaan pada Dalam pendidikan, makrosistem bukan hanya sebagai periode, tetapi juga bagian dari aspek pedagogi yang dapat diintegrasikan dengan konteks lingkungan. Daftar Rujukan Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2022 | Bronfenbrenner. , & Morris. The ecology of developmental processes. In W. (Eds. Handbook of child psychology: Theoretical Models of Human Development . USA: John Wiley & Sons Inc. Fuller. Media Ecologies. Materialist Energies in Art and Techno-culture. Cambridge. Massachusetts. London. England: The MIT Press. Gal. An ecological model of child and youth participation . Children and Youth Services Review, 79, 57-64. Garbarino. ( 2. Ecological perspective on child well-being. In A. -A. (Eds. Handbook of Child Well-Being . Dordrecht. Netherlands: Springer. Goddard. , & Parikka. Editorial. Unnatural Ecologies. The Fibreculture Journal, 1-5. Harsin. Public argument in the new media ecology: Implications of temporality, spatiality, and cognition. Journal of argumentation in context, 3. , 7-34. Indrayanti. Potret Penggunaan Bahasa Remaja dalam Perspektif Kalangan Mahasiswa. Prasasti (CONFERENCE SERIES), 126-131. Isodarus. 7 ). Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Sintesis, 11. , 1-11. Rogoff. The Cultural Nature of Child Development. New York: Oxford. Rummler. Foundations of socio-cultural ecology: Consequences for media education and mobile learning in schools. MedienPydagogik: Zeitschrift fyr Theorie und Praxis der Medienbildung, . Steffensen. Ecolinguistics: the State of the Art and Future Horizons. Language sciences, 41, 6-25. Van Compernolle. Sociocultural theory and L2 instructional pragmatics (Vol. UK: Multilingual Matters. Watson. Exploring the Concept of Community in Relation to Early Years Practice. Education in the North, 24. , pp. Wuryaningrum. July . Perspektif Sosiokultural Vigotsky dalam Pemerolehan Pragmatik pada Konteks Pembelajaran. Sandibasa: Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia , pp. Vol. No. 1, pp. 101 | Rusdhianti Wuryaningrum Wuryaningrum. Muti'ah. , & Rijadi. Pemanfaatan Kajian Tuturan Pemanduan Wisata Kopi-Kakao dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara. SAP (Susunan Artikel Pendidika. , 6. Wuryaningrum. Muti'ah. , & Syukron. Claim Category in Indonesian Coffee Discourse Argument. ARBITRER, 9. , 17-26. Yuniawan. Pengembangan Model Materi Ajar Berbasis Konteks Sosiokultural di SMP (Kontribusi Sosiolinguistik dalam Peningkatan Kompetensi Komunikatif Berbahasa Indonesi. Lingua, 5 . , 1-14.