Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2024: 259-264 KOMUNIKASI BERMEDIA: PENGELOLAAN PESAN OLEH PENULIS SUNDA DI KOTA BANDUNG Santi Susanti1, dan Wahyu Gunawan2 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Sumedang. Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Padjadjaran. Sumedang. Indonesia E-mail: 1santi. susanti@unpad. gunawan@unpad. ABSTRAK. Informasi yang disampaikan dalam tulisan memiliki kekuatan untuk memengaruhi khalayaknya sehingga penulis harus berhati-hati dalam menuliskan informasi yang disampaikannya agar tidak menimbulkan dampak negatif di masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengungkap upaya para penulis mengelola informasi yang akan disampaikan kepada pembacanya melalui melalui karya-karya yang dihasilkan, serta tanggung moral yang mendasari para penulis dalam menyampaikan tulisan yang dibuatnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi kepada 8 penulis Sunda di Kota Bandung, serta kajian dokumentasi yang relevan dengan penelitian. Hasil penelitan menunjukkan para penulis memaknai tulisannya sebagai lini masa penanda rekaman ekspresi saat tulisan tersebut dihasilkan untuk melihat perkembangan pola pikir dan cara pandang penulis terhadap sesuatu yang ditullsnya. Tanggung jawab moral yang diemban para penulis dalam tulisan yang dihasilkannya, umumnya bertujuan untuk menjaga kemungkinan munculnya pengaruh negatif dari tulisan yang dihasilkan. Tanggung jawab moral tersebut yaitu tidak menulis hal-hal yang mengganggu masyarakat, mengajak pembacanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah keburukan, menjadikan tulisan sebagai karya tulis yang mendidik, memberi informasi dan menghibur, serta tidak sampai merusak, kebenaran filosofis sejarah Sunda, bermanfaat bagi ummat, menjaga kata-kata yang akan dituliskan agar tidak meracuni masyarakat, dapat menemani banyak orang tumbuh bersama, dan tidak berbenturan dengan SARA (Suku. Agama. Ras, dan Antargolonga. Kata Kunci: Komunikasi bermedia. pengelolaan pesan. tanggung jawab moral. MEDIATED COMMUNICATION: MESSAGE MANAGEMENT BY SUNDANESE WRITERS IN BANDUNG CITY ABSTRACT. Information conveyed in writing has the power to influence its audience so that writers must be careful in writing the information they convey so as not to cause negative impacts in society. This research aims to reveal the writers' efforts to manage the information that will be conveyed to their readers through the works produced, as well as the moral responsibility that underlies the writers in conveying the writings they make. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach. Data collection was conducted through interviews and observations with 8 Sundanese writers in Bandung City, as well as a review of documentation relevant to the research. The results showed that the writers interpreted their writing as a timeline marking the recording of expressions when the writing was produced. Its function is to see the development of the author's mindset and perspective on something he wrote. The moral responsibility that writers carry in the writing they produce, generally aims to maintain the possibility of negative influences from the writing they produce. The moral responsibility is not writing things that disturb society, inviting readers to do good and prevent bad, making writing as a work of writing that educates, informs and entertains, and does not damage, the philosophical truth of Sundanese history, benefits the ummah, keeps the words to be written so as not to poison the community, can accompany many people to grow together, and does not clash with SARA (Ethnicity. Religion. Race, and Intergrou. Keywords: Mediated communicatio. message management. moral responsibility. PENDAHULUAN Kekayaan bahasa yang paling signifikan adalah kemampuannya untuk menyampaikan pesan, yang mengandung emosi, pemikiran maupun keinginan. Bahasa berfungsi sebagai sarana bagi manusia untuk berkomunikasi dan bertukar informasi. Menurut Sarah Trenholm dan Arthur Jensen (Wiryanto, 2. , komunikasi merupakan proses pengiriman pesan dari sumber kepada penerima melalui berbagai saluran penyampai pesan. Effendy . membagi proses penyampaian pesan ke dalam dua tahap, yaitu proses komunikasi primer dan proses komunikasi sekunder. Komunikasi primer memanfaatkan lambang sebagai alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, salah satunya adalah bahasa. Sementara itu, komunikasi sekunder merupakan tahap lanjutan dari komunikasi primer, di mana media atau alat digunakan sebagai sarana kedua setelah lambang sebagai sarana pertama. Tulisan adalah produk kreatif yang dihasilkan oleh seorang penulis dan dapat Komunikasi Bermedia: Pengelolaan Pesan oleh Penulis Sunda di Kota Bandung (Santi Susanti, dan Wahyu Gunawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 disebarluaskan kepada publik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia . 8: . , tulisan didefinisikan sebagai hasil menulis, cara menulis, atau karangan yang dapat ditemukan dalam majalah, surat kabar, cerita dongeng, dan lainlain. Karya tulis ini mencerminkan pemikiran penulis yang dituangkan melalui proses penulisan, yang melibatkan penciptaan huruf dengan alat seperti pena, pensil, atau kapur, serta mengekspresikan ide dan emosi melalui tulisan. Seorang penulis atau pengarang adalah individu yang menciptakan karya tulis dalam berbagai bentuk, termasuk karya ilmiah, makalah, buku, artikel, opini, dan sastra, baik itu prosa maupun puisi. Media untuk menyampaikan tulisan tersebut dapat berupa buku, majalah, koran, atau platform digital seperti situs web dan Mereka yang menjadikan menulis sebagai profesi utama biasanya dikenal sebagai penulis atau pengarang. Menurut Mulyana . 0: . , tulisan termasuk salah satu fungsi komunikasi, yaitu komunikasi ekspresif, yang bertujuan tidak selalu memengaruhi orang lain, tetapi dapat menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan . Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan melalui kata-kata. Tulisan merupakan bentuk ekspresi pikiran dan perasaan manusia yang diungkapkan melalui kata-kata tertulis. Fungsi utamanya adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung yang menjembatani penyampaian pesan dari penulis kepada pembaca (Ong, 2. Setiap penulis memproyeksikan sesuatu mengenai dirinya ke dalam tulisan. Bahkan dalam tulisan yang obyektif ataupun tidak mengenai orang tertentu sekalipun, penulis terlihat sebagai pribadi Penulis memegang peranan tertentu dan tulisannya mengandung nada yang sesuai dengan maksud dan tujuannya (Tarigan, 1992: . Tulisan merupakan media yang menjembatani penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Penulis menyampaikan pesan dalam bentuk tulisan melalui saluran yang dipilihnya kepada pembaca. lnformasi yang disampaikan memiliki kekuatan untuk memengaruhi khalayaknya sehingga penulis harus berhatihati dalam menuliskan informasi yang disampaikannya, jangan sampai berdampak negatif di Tulisan ini berfokus pada upaya para penulis mengelola informasi yang akan disampaikan kepada pembacanya melalui melalui karya-karya yang dihasilkan. Apa sajakah tanggung jawab moral yang mendasari mereka dalam menghasilkan tulisan. Narasumber dalam tulisan ini adalah para penulis senior di Kota Bandung, yang juga masih aktif atau pernah berprofesi sebagai seorang Mereka aktif menulis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa lndonesia dan Bahasa Sunda. Mereka adalah Usep Romli. Us Tiarsa. Hawe Setiawan. Dadan Sutisna. Eddy D. Iskandar. Taufik Faturohman. Aam Amilia dan Aan Merdeka Permana. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Menurut Polkinghorne . alam cresswell, 1999: , penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggambarkan makna pengalaman hidup sejumlah individu tentang konsep Fenomenologis menggali struktur kesadaran dalam pengalaman manusia Studi fenomenologi menggambarkan fenomena kesadaran manusia dalam kognitif dan tindakan perseptual. seorang peneliti fenomenologi berusaha mencari pemahaman seseorang dalam membangun makna dan konsep yang intersubyektif. oleh karena itu seperti yang dijelaskan oleh Kuswarno, bahwa penelitian fenomenologi berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup seseorang mengenai suatu gejala (Kuswarno, 2. Dalam penelitian ini, fenomena yang digambarkan adalah tanggung jawab moral penulis dalam tulisan yang dibuatnya. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam sebagai sumber primer. Sementara sumber sekunder diperoleh melalui kajian pustaka dan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitan berupa foto, berita, artikel di surat kabar. majalah, foto dan Teknik analisia data menggunakan model analisis data interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Data yang terkumpul dianalisis melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Ketiga tahap tersebut berlangsung terus menerus hingga data penelitian dirasakan cukup. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Tulisan Blummer dalam Griffin . 6: 56-. menjelaskan tiga premis yang mendasari orang bertindak, yaitu, . Manusia bertindak pada seseorang atau sesuatu berdasarkan makna yang dimilikinya tentang orang atau sesuatu tersebut. Makna timbul dari interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan orang lain. Komunikasi Bermedia: Pengelolaan Pesan oleh Penulis Sunda di Kota Bandung (Santi Susanti, dan Wahyu Gunawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 lnterpretasi seseorang pada simbol/ lambang dimodifikasi oleh proses pemikirannya sendiri. Bahasa menjadi media utama dalam menyampaikan pemikiran penulis. Sebagai sarana berhubungan dengan orang lain, bahasa memungkinkan manusia bergaul dengan orang lain untuk kesenangan dan mempengaruhi mereka untuk tujuannya. Melalul bahasa, manusia dapat mengendalikan lingkungannya, termasuk orang-orang di sekitarnya. Fungsi menciptakan koherensi, memungkinkan manusia hidup lebih teratur. saling memahami dirinya, kepercayaannya dan tujuan-tujuannya. Semua itu harus disampaikan dengan kata-kata yang mengikuti aturan-aturan tertentu yang telah disepakati bersama. Mary Finocchiaro . membagi bahasa ke dalam lima fungsi sebagai berikut: Fungsi personal, yaitu bahasa digunakan untuk mengekspresikan emosi, kebutuhan, pikiran dan sikap seseorang. Fungsi interpersonal, yaitu bahasa digunakan untuk memelihara relasi-relasi sosial. Contoh sapaan, ucapan selamat. Fungsi direktif, yaitu bahasa bisa digunakan untuk mengendalikan perilaku orang lain dalam bentuk nasihat, perintah, ajakan. Fungsi referensial, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan obyek atau kejadian dalam lingkungan atau budaya tertentu. Fungsi imajinatif, yaitu bahasa digunakan untuk melahirkan karya sastra yang berbasis pada kekuatan lmajinasi. Contoh novel, puisi, cerpen. ttp://endonesa. com/ 2009/12/16/bahasa-dan-perananny. Fungsi-fungsi bahasa tersebut, menurut Hamid Hasan Lubis . , tidak dapat dilepaskan dari situasi tempat fungsi itu dijalankan. Ketika tujuan komunikasi sudah ditetapkan, untuk mencapainya, maka cara melaksanakan kegiatan berbahasanya disesuaikan dengan kondlsi dan situasi tempat fungsi bahasa akan Bagi Eddy D. Iskandar, tulisan yang dihasilkannya, terutama dalam bahasa sunda, dimaknainya sebagai upaya untuk memelihara bahasa sunda. perannya sebagai Pemimpin Redaksi Galura, surat kabar mingguan berbahasa Sunda, merupakan wujud nyata memelihara kecintaan terhadap Sunda. Hal ini senada dengan Us Tiarsa. Selain sebagai pemelihara bahasa, tulisan yang dihasikannya pun dimaknai sebagai identitas atau cemin suatu bangsa. Sementara bagi Aam Amilia, tulisan yang dihasilkannya merupakan rekaman ekspresi pada saat tulisan itu dihasilkan. Perannya lebih pada lini masa, sebagai penanda bagi perkembangan cara pandang dan perbedaan pola pikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dihasilkan para pernulis berbentuk fiksi dan adapun media yang digunakan para penulis untuk menyampaikan tulisannya bervariasi, takni surat kabar, majalah, buku, media sosial . , blog, dan film. Proses Penyampaian Pesan Penggalian Ide lde merupakan konsep awal dari pesan yang akan disampaikan oleh penulis. lde yang muncul, kemudian dikembangkan secara kreatif oleh penulis menjadi suatu tulisan sebagai informasi yang berisi pesan yang akan diterima Bentuk pesan tersebut akan berbeda, tergantung kreatifitas penulis untuk merealisasikan idenya ke dalam bentuk yang disukai atau dianggap sesuai. Dalam penelitian ini, berdasarkan hasil wawancara dengan para informan, diketahui bahwa sebagian besar ide diperoleh secara spontan melalui berbagai sumber yang berbeda, misalnya mencermati peristiwa yang terjadi, informasi yang diterima, ketidaksengajaan dan Secara garis besar, cara informan memperoleh ide terletak pada kemampuannya untuk membaca dalam arti luas. Tidak hanya teks, tapi segala peristiwa, informasi, pergaulan dan halhal yang dilihat dan dialaminya. Seluruh informan melakukan upava unhrk memperoleh ide dengan 'membaca' secara luas peristiwa yang terjadi, dialami maupun dicermatinya. Kemunculan ide tersebut ada yang sengaja dicari karena adanya rasa ingin tahu, ada juga yang diperoleh secara tidak sengaja, atau secara spontan keluar berdasarkan hasil pergaulan dan pengendapan dari'membaca' tadi. Pemilihan Tema Tema merupakan hal mendasar yang menjadi gambaran keseluruhan suatu tulisan sekaligus bisa menjadi ciri seorang penulis. Pemilihan tema ini didasarkan atas rasa suka para informan terhadap tema yang dipilihnya dan kemampuan mereka untuk menggalinya. Pemilihan tema tulisan tidak terlepas dari berbagai hal yang mempengaruhi informan, sejak kecil hingga Rancangan Penyampaian Pesan Setelah ide muncul dan tema ditentukan, maka tahapan selanjutnya adalah rancangan penyampaian pesan. Berdasarkan hasil peneli- Komunikasi Bermedia: Pengelolaan Pesan oleh Penulis Sunda di Kota Bandung (Santi Susanti, dan Wahyu Gunawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 tian, tidak semua informan melakukan proses perancangan pesan yang akan disampaikannya. Sebagian besar menulis secara spontan. (Usep Romli. Eddy D. Iskandar. Taufik Faturohman. Hawe Setiawan. Dadan Sutisn. Sebagian lagi merancang secara imajiner (Us Tiarsa dan Aam Amili. dan merancang secara tertulis (Aan Merdeka Perman. Jenis Tulisan Untuk menuangkan pikiran dan perasaannya, setiap penulis memilih jenis tulisan yang dianggap bisa mewakili. Pemilihan tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanan penulis untuk menuangkannya. Berdasarkan penelitian ini, para informan menuliskan gagasan dan perasaannya ke dalam bentuk yang disukainya dan mereka merasa mampu untuk melakukannya. Jenis tulisan yang dimaksud adalah fiksi dan non fiksi. Secara garis besar, informan tidak memilih satu, melainkan dua jenis tulisan, yaitu fiksi dan nonfiksi sebagai sarana penyampai pesan kepada pembacanya. Meskipun dari dua jenis tulisan tersebut, ada yang dominan dalam Hanya Hawe Setiawan yang lebih banyak menulis dalam nonfiksi untuk menyampaikan pesannya. Pendalaman Materi Setelah menentukan jenis tulisan yang digunakan untuk mengekpresikan ide, para penulis biasanya melakukan pendalaman materi yang akan dituliskannya. Pendalaman materi merupakan upaya para penulis Sunda untuk melengkapi tulisannya dengan data-data atau fakta yang akan mendukung penyampaian ide sehingga menjadi satu jalinan cerita yang utuh, menarik, mudah dimengerti dan bisa diterima Berdasarkan penelitian ini, ada tiga cara yang biasa dilakukan oleh penulis untuk mendalami materi yang akan dituliskannya, yaitu investigasi, observasi dan referensi. Penyampaian Pesan Tulisan merupakan bentuk penyampaian gagasan dan perasaan dari seorang penulis kepada pembacanya. Setelah melalui proses pendalaman materi, maka hasilnya diwujudkan dalam bentuk tulisan. Dalam suatu tulisan, ada pokok pikiran yang ingin disampaikan oleh penulis, yang intinya merupakan pesan terhadap Supaya pesan dapat diterima dan dipahami oleh pembacanya, maka penulis menata sedemikian rupa idenya dalam rangkaian kalimat yang mudah dimengerti, tanpa menyampingkan logika berpikir tulisan yang dihasilkannya. Berdasarkan hasil penelitian, secara garis besar, informan penelitian ini menuangkan pikiran dan perasaannya ke dalam tulisan yang kalimat-kalimatnya mudah dimengerti oleh pembaca sehingga pesan yang terkandung di dalamnya diharapkan bisa dipahami dengan baik. Fakta dan data pun menjadi pendukung bagi penggambaran isi pesan yang disampaikan. Membatasi diri pada pokok-pokok pikiran yang akan disampaikannya dan tidak terlalu dituliskan detail, seperti halnya menulis di jurnal. Selain itu, pesan yang disampaikan disesuaikan dengan kondisi jaman, baik dalam gaya maupun dalam pilihan tema dan kutipan-kutipannya. pesan yang dikomunikasikan pun disesuaikan dengan karakter pembacanya dan apa yang kirakira disenanginya. Tanggung Jawab Moral Tulisan yang Disampaikan Tanggung jawab moral yang dimaksud adalah sisi-sisi kebaikan yang disertakan oleh informan dalam tulisannya atas kesadarannya Tanggung jawab moral yang dibawa oleh informan dalam tulisannya sangat beragam meskipun pada intinya, bermuara pada kebaikan. Dalam hal ini. Us Tiarsa, mengatakan, posisinya sebagai penulis merupakan panggilan hati nuraninya yang membawa implikasi adanya suatu tanggung jawab moral yang terdapat dalam isi pesan yang disampaikannya. Bentuk tanggung jawab moral dalam setiap tulisan Us Tiarsa misalnya, tidak menulis hal-hal yang menganggu "Saya tidak boleh mengiyakan seseorang berbuat korup misalnya. Seorang penulis bisa saja menulis korupsi itu baik, tapi itu kan tidak punya tanggung jawab terhadap masyarakat, yang harus dicegah berbuat seperti itu," Sementara nilai-nilai moral yang disampaikan Usep Romli, didasarkan pada unsur Usep berprinsip, dalam menulis harus tetap beriman pada Allah dan amal soleh pada manusia. Artinya, jika beriman pada Allah, harus berkaitan dengan sifat religius manusia, dengan cara hormat, tunduk dan patuh pada aturan Allah, sedangkan beramal pada manusia, harus yang baik dan tidak mungkin memberikan yang jelek. Melalui tulisannya. Usep mengajak pembacanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah Melalui tulisannya. Usep mengharapkan, pembaca terbuka hati dan pikirannya bahwa moralitas dan etika merupakan bagian dari jalan hidup, way of life dalam bermasyarakat. Komunikasi Bermedia: Pengelolaan Pesan oleh Penulis Sunda di Kota Bandung (Santi Susanti, dan Wahyu Gunawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 "lya. Bapak prinsipnya begitu. Kalaupun umpamanya bapak menceritakan pelacur, tapi tentu bapak tidok akan ngabibita orang untuk lacur' Justru mencegah. Bapak pernah menulis tema tentang pelacur, tapi sisi pandangnya itu dari aspek bagaimana supaya orang tidak melacur," Bagi Aam Amilia, tanggung jawab moral yang terkandung dalam perannya sebagai penulis berpegang pada tiga prinsipnya, yaitu sebuah karya tulis itu harus mendidik, memberi informasi dan menghibur' Kemudian jangan sampai ikut merusak. Ya tanggung jawab moral ulah nepi ka milu ngaruksak. Atuh mamatahan ulah terlalu menggurui. Kan ibu mah berpinsip pada tiga weh. Bahwa sebuah karya itu harus mendidik, memberi informasi dan ibu mah selalu eta weh dipegang teguh. Sabisa-bisa. Sedangkan bagi Aan Merdeka Permana, tanggung jawab moral yang ada dalam tulisannya tentang sejarah Sunda, bukan pada kebenaran ceritanya, tetapi pada kebenaran filosofinya. Kepada saya disampaikan cerita. Anu kudu dihormat teh rakyat, lain raja, sebab ajen inajen hirup, kualitas hidup, ayana di rakyat, lain di raja. itu kan berita yang isinya sangat filosofis, tapi kebenerannya Bukan rakyat yang harus menghormat raja, tapi raja yang harus menghormat rakyat. Itu sangat filosofis, yang oleh manusia jaman sekarang tidak pernah bisa dilaksanakan, da ayeuna mah maunya raja yang harus dihormat dan dilayani rakyat, bukan melayani rakyat. Eddy. Iskandar. Pemimpin Redaksi SKM Galura, menuturkan, setiap karya yang dihasilkannya memiliki tanggung jawab moral bisa amanah, bermanfaat bagi ummat. "Prinsipnya, ketika mau berbuat sesuatu, asalakan berguna bagi orang banyak, tidak akan sesulit yang dibayangkan, meski lebih capek saat mengerjakannya". Prinsip moral tersebut pernah diterapkan Eddy, ketika menyusun buku Bandung Tonggak sejarah Film Indonesia. Saat buku tersebut sudah naik cetak dengan bantuan sponsor. Eddy membagikan buku tersebut secara gratis, meskipun bisa saja dijual. Sementara dari sisi isi. Eddy berpendapat, dalam sebuah cerita, yang penting moral ceritanya, sehingga pesan dalam ceritaya tidak pernah menganjurkan yang negatif seperti seks bebas misalnya. Taufik Faturohman menuturkan, tanggung jawab moral muncul ketika proses menulis Dalam proses tersebut, ia harus memikirkan kata yang diucapkan dan yang ditulis, supaya bisa dipertanggungjawabkannya. "Karena kita tidak mau meracuni masyarakat, tidak mau meracuni generasi Jadi moralitas itu kita tanamkan ketika berporses. Katka udah jadi karya, silahkan, mau dicaci maki, mau dibajak orang, silahkan. Bagi Hawe Setiawan, tanggung jawab moral dari tulisannya adalah bisa menemani banyak orang tumbuh bersama. "Saya tidak menganggap diri saya pemegang kebenaran. Sama sekali nggak. Saya hanya menganggap diri saya sebagai teman berkomunikasi saja. Citra diri saya bukan citra diri penulis yang maha tau. Nggak. Saya bagian dari dunia sehari-hari. Hanya kebetulan profesinya Dadan Sutisna mengutarakan, tanggung jawab moral dalam tulisannya, diupayakan tidak berbenturan dengan SARA. "Bagaimanapun saya akan menjaga. Tulisan saya itu tidak akan menuai Dadan mencontohkan, ia pernah menulis cerpen tentang santet, ketika soal yang satu ini ramai dibicarakan. Tapi dengan pertimbangan dapat menimbulkan kontroversi, maka Dadan tidak jadi mengirimkan cerpen tersebut. Nggak jadi saya kirimin. Saya menghindari, meski sedikit, tulisan-tulisan berbau SARA. Intinya itu. Jadi, yang menuai kontroversi. Tulisan itu tetep ada, tapi nggak saya publikasikan. Mungkin saja suatu saat ketika kondisinya berbeda, saya publikasikan. Pemilihan Media Penulis memiliki kebebasan untuk menyalurkan pesan dalam bentuk tulisan ke dalam media yang sesuai. Demikian pula dengan para penulis Sunda informan penelitian ini. Beragam media dipilih untuk menyampaikan tulisannya. Media tersebut antara lain surat kabar, majalah, buku dan media sosial. Perkembangan teknologi dan informasi memungkinkan penulis untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya ke dalam media sosial. Di antara para penulis Sunda informan penelitian, beberapa di antaranya aktif menggunakan facebook sebagai media penyam- Komunikasi Bermedia: Pengelolaan Pesan oleh Penulis Sunda di Kota Bandung (Santi Susanti, dan Wahyu Gunawa. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 pai informasi, yakni Dadan Sutisna. Taufik Faturohman dan Hawe Setiawan. Dalam Facebook-nya. Dadan lebih banyak menulis artikel dalam bahasa Sunda dengan tema yang up to date, antara lain tentang teknologi serta eksistensi bahasa sunda. Hal ini membuktikan bahwa bahasa sunda tidak hanya bisa dipakai untuk menulis cerita dengan tema-tema tentang pedesaan, juga dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan mengenai teknologi dan opini tentang suatu peristiwa. Sementara itu. Taufik Faturohman, memanfaatkan Facebook sebagai media untuk menyampaikan karya berupa tulisan humor dalam bahasa Sunda. Tujuannya, agar pembacanya menyukai bahasa Sunda. Hawe Setiawan menulis mengenai aktivitas seni budaya Sunda dalam bahasa sunda dan bahasa lndonesia serta Keberadaan media sosial dirasakan memiliki manfaat dalam pelestarian budaya Sunda, salah satu bahasa Sunda. Melalui media sosial, kini, siapapun dapat dengan mudah mengakses segala hal yang berhubungan dengan budaya Sunda. bermanfaat bagi ummat (Eddy D. Iskanda. , menjaga kata-kata yang akan dituliskan agar tidak meracuni masyarakat (Taufik Faturohma. , dapat menemani banyak orang tumbuh bersama (Hawe Setiawa. , dan tidak berbenturan dengan SARA (Dadan Sutisn. Perilaku etis para penulis tersebut dapat menjadi panutan bagi penulis muda atau pengguna media sosial dalam menyampaikan informasi, agar tidak menimbulkan keresahan dan efek negatif terhadap masyarakat (Ess. Menjadi penyampai informasi yang santun dan memiliki tanggung jawab moral dalam setiap pesan yang disampaikan merupakan langkah bijak yang dapat dilakukan agar tercipta iklim komunikasi yang baik dan sehat melalui media yang tersedia. SIMPULAN Griffin. EM. A First Look ot Communication Theory. New York USA: Mc GrawHill. Tulisan merupakan bentuk ekspresi pikiran dan perasaan manusia yang disampaikan melalui kata-kata. Fungsi utama tulisan adalah alat komunikasi tidak langsung yang menjembatani penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan. Para penulis di Kota Bandung memaknai tulisan mereka sebagai rekaman ekspresi pada saat tulisan tersebut dibuat, yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan pola pikir dan cara pandang penulis terhadap topik yang ditulisnya. Melalui bahasa yang digunakannya, terutama bahasa Sunda, tulisan yang dihasilkan para penulis bermakna sebagai upaya memelihara kelang-sungan bahasa Sunda. Sementara itu, tanggung jawab moral yang diemban para penulis dalam tulisan yang dihasilkannya, umumnya bertujuan untuk menjaga kemungkinan munculnya pengaruh negatif dari tulisan yang dihasilkan. Tanggung jawab moral tersebut yaitu tidak menulis hal-hal yang mengganggu masyarakat (Us Tiars. , mengajak pembacanya untuk berbuat kebaikan dan mencegah keburukan (Usep Roml. , menjadikan tulisan sebagai karya tulis yang mendidik, memberi informasi dan menghibur, serta tidak sampai merusak (Aam Amili. , kebenaran filoso-fis sejarah Sunda (Aan Merdeka Perman. DAFTAR PUSTAKA