Volume 11. Nomor 1. Okt- Maret 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Gambaran Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Semester Akhir Di Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya Jakarta Utara Egeria D. Sitorus1. Suatmaji2. Siska Rahmawati3 1,2. Dosen Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya 3 Mahasiswa Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya *Koresponden: Egeria D. Sitorus. Alamat: Sunter Agung. Jakarta Utara. Email: egeriadorinasitorus@gmail. Received: 03 februari | Revised: 26 februari | Accepted: 12 maret Abstrak Latar Belakang: Robbins dan Wilner mengemukakan quarter life crisis adalah periode krisis yang biasa dirasakan pada seseorang berusia 18-29 tahun yang mulai mempertanyakan arah dan makna hidup, pencapaian yang sudah diraih, kepuasan terhadap apa yang sedang dijalani, serta banyaknya pilihan dalam hidup (Ameliya, 2. Menurut The Guardian, quarter live crisis berpengaruh pada 86% anak muda di dunia (Ramadhan, 2. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran quarter life crisis pada mahasiswa semester akhir di Akper Husada Karya Jaya Jakarta Utara. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik total sampling sebanyak 79 mahasiswa semester akhir di Akper Husada Karya Jaya. Hasil Hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 67,1% mahasiswa semester akhir akper husaada karya jaya mengalami quarter life crisis tingkat sedang dengan aspek utamanya yaitu kebimbangan dalam pengambilan keputusan. Kesimpulan: Quarter life crisis pada mahasiswa semester akhir di Akper Husada Karya Jaya berada di tingkat sedang. Berdasarkan jenis kelamin, walaupun sama-sama dalam kategori sedang, namun responden perempuan memiliki persentase quarter life crisis yang lebih tinggi. Hal ini karena perempuan lebih banyak memakai perasaannya sehingga lebih emosional dari pada laki-laki. Kata Kunci: Mahasiswa Akhir. Quarter Life Crisis, yang mungkin berbeda dengan orang lain. Ada orang yang Latar Belakang merasa senang dan bersemangat menghadapi tantangan perkembangan dalam hidupnya dimulai dari bayi, anak- yang ada di hadapannya, namun ada juga yang merasa cemas anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Semua tahapan dan takut yang didasari ketidakpastian masa depan dimana tersebut mempunyai karakteristik dan peran yang berbeda- keadaan ini dikenal dengan quarter life crisis (Alfiyani, 2. Tahapan yang dianggap paling krusial oleh masyarakat Robbins & Wilner mengemukakan quarter life crisis adalah perubahan dari masa remaja ke arah dewasa. Pada ialah periode krisis yang biasa dirasakan pada seseorang tahap ini, seseorang mulai mengeksplorasi diri untuk berusia 18-29 tahun yang mulai mempertanyakan tujuan menemukan jati dirinya. Setiap individu memiliki jawaban hidup, arti keberhasilan yang telah mereka capai, kepuasan Setiap Volume 11. Nomor 1. Okt- Maret 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 terhadap jalan hidup yang dipilih, serta kompleksitas pilihan mahasiswa semester akhir akan segera lulus dan perlu yang dihadapi dalam kehidupan (Ameliya, 2. Menurut mempersiapkan diri untuk pasca kelulusan. Robbins & Wilner seperti yang dikutip oleh Dinal . , terdapat 7 aspek masalah yang sering dihadapi individu Tujuan Penelitian selama mengalami quarter life crisis, termasuk kebingungan Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini dalam memilih keputusan, perasaan putus asa, penilaian diri adalah mengidentifikasi gambaran quarter life crisis pada yang negatif, merasa terjebak dalam situasi sulit, kecemasan, mahasiswa semester akhir di akademi keperawatan husada karya jaya. Jika tidak mampu menghadapi dengan baik, permasalahan tersebut tentunya bisa menimbulkan dampak Metode Penelitian psikologi seperti mengalami kecemasan bahkan depresi Desain Penelitian (Alisson dalam Dinal, 2. Peneliti menggunakan desain kuantitatif, yaitu metode yang World Health Organization (WHO) berlandaskan data konkrit dengan menerapkan pada sampel dan menyatakan, ada 301 juta kasus kecemasan di dunia, populasi, serta hasilnya dapat berbentuk angka yang dapat sedangkan depresi terjadi pada 280 juta orang di dunia yang dihitung dengan Analisa statistik. Menurut Ghozali . 50%nya lebih dirasakan pada wanita dari pada pria. Menurut Analisa statistik deskriptif adalah statistika yang bertugas data Riskesdas 2018 seperti yang dikutip oleh Akbidita . , diperkirakan sekitar 6% dari penduduk Indonesia kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi. yang berusia 15 tahun ke atas, atau sekitar 14 juta individu, mengalami gangguan emosional yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan. Hal ini menjadikan bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian yang menduduki peringkat keempat di dunia pada usia 15-29 tahun. Menurut The Guardian, quarter live crisis berpengaruh pada 86% anak muda di dunia (Ramadhan, 2. Mahasiswa ialah seseorang yang termasuk terkena dampak quarter life crisis sebagaimana mahasiswa berada di fase usia dewasa awal (Mashdaria, 2. Mahasiswa ialah individu yang mencari ilmu di perguruan tinggi (Siswoyo, dalam Hafizhuddin 2. Survei oleh GenSINDO pada responden dengan usia 18- 25 tahun menyatakan sebanyak 95% mahasiswa mencemaskan lima hal, diantaranya pendidikan, kesehatan, jodoh, pekerjaan, dan persaingan global (Nurdhifa,2. Berdasarkan penelitian oleh Mutiara . menyatakan bahwa quarter life crisis pada mahasiswa yang berada di tahap akhir studi diklasifikasikan sebagai tingkat sedang, mencapai sekitar 82%. Sejalan dengan Faiza. Muhammad & Wahyu . yang menyatakan bahwa mahasiswa semester akhir lebih banyak menghadapi quarter Populasi dan Sampel Penelitian ini populasinya adalah 79 mahasiswa semester terakhir dari Akper Husada Karya Jaya. Penulis menerapkan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total Banyaknya sampel yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu sebanyak 79 Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang dibuat dengan google form dan alat pengolah data berupa Kuesioner serangkaian pernyataan kepada responden. Kuesioner yang digunakan ialah skala Quarter Life Crisis yang terdiri dari 7 Aspek Permasalahan sesuai penjelasan Robbins & Wilner . yang telah dimodifikasi oleh Dinda . dengan nilai cronbachAos alpha 0,830. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan pada 29 April Ae 2 Mei dengan menyebarkan kuesioner kepada masing-masing responden melalui WhatsApp. life crisis dibandingkan mahasiswa semester dua karena Volume 11. Nomor 1. Okt- Maret 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Analisa Data Hasil kategorisasi dari tabel 4. 3 menunjukkan 19,8% Menurut Notoatmodjo . Analisa univariat adalah teknik Analisa data yang terdiri dari satu variabel yang keputusan, 12% responden merasa putus asa, 15,8% kemudian dianalisis tanpa mengaitkan dengan variabel lain. responden merasa penilaian diri yang negatif, 8% responden Penelitian merasa terjebak dalam situasi sulit, 10% merasa cemas, menyampaikan satu karakteristik variabel yang diteliti yang 18,8% merasa tertekan, dan 15,7% merasa khawatir kemudian akan diperoleh statistiknya dibantu dengan terhadap hubungan interpersonal. program SPSS versi 25. Tabel 4. 4 Kategori Quarter Life Crisis Berdasarkan Jenis dalam pengambilan Kelamin Pertimbangan Etik Kategorisasi Hasil Penelitian Jenis kelamin Laki laki F Perempuan 21,4% 9,2% 57,1% 69,2% Tinggi 21,4% 21,5% Total Pada tabel 4. 7 menunjukkan hasil kategorisasi Quarter life Tabel 4. 1 Distribusi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin crisis berdasarkan jenis kelamin. Dimana pada laki-laki Jenis kelamin Frekuensi Laki-laki Perempuan 82,3% Total Berdasarkan data di atas menunjukkan dari 79 responden didapatkan sebanyak 3 orang . ,4%) di kategori rendah, 8 mahasiswa semester akhir terdapat 14 orang atau 17,7% rendah, 45 orang . ,2%) berada di kategori sedang, dan 14 responden dengan jenis kelamin laki-laki, dan 65 atau 82,3% orang . ,5%) berada di kategori tinggi. Pada tanggal 26 April 2024 telah dilakukan uji etik dan telah dinyakan lolos dan telah diterima oleh reviewer. responden dengan jenis kelamin Perempuan. ,1%) berada di kategori sedang, dan 3 orang . ,4%) berada di kategori tinggi. Pada jenis kelamin Perempuan, sebanyak 6 orang . ,2%) berada di kategori Tabel 4. 5 Distribusi Aspek Quarter Life Crisis Tabel 4. 2 Hasil Kategorisasi Quarter Life Crisis Kategori Frekuensi Rendah 11,4% Sedang 67,1% Tinggi 21,5% Total Pada tabel 4. 2 menjelaskan yakni responden yang mengalami quarter life crisis sebanyak 9 responden . ,4%) berada dalam kategori rendah, 53 responden . ,1%) berada dalam kategori sedang, dan 17 responden . ,5%) berada dalam kategori tinggi. Tabel 4. 3 Distribusi Persentase Berdasarkan Aspek Aspek Keseimbangan dalam mengambil Keputusan Putus asa Penilaian diri yang negative Terjebak dalam situasi sulit Cemas Tertekan Khawatir terhadap hubungan Total 19,8% 15,8% 18,8% 15,7% Berdasarkan Jenis Kelamin Aspek Jenis kelamin Laki laki Perempuan Percent n Percent 131 19,76% 625 19,81% Keseimbangan Keputusan Putus asa 11,16% 384 12,17% Penilaian diri yang 106 15,99% 497 15,75% Terjebak dalam 125 18,85% 179 5,67% situasi sulit Cemas 9,35% 10,14% Tertekan 9,65% 20,70% Khawatir terhadap 101 15,23% 497 15,75% Total 663 100% 3155 100% Berdasarkan table 4. 8 didapatkan data aspek quarter life crisis berdasarkan jenis kelamin dimana pada laki-laki aspek tertingginya adalah kebimbangan dalam pengambilan keputusan sebesar 19,76%, kemudian untuk perempuan adalah aspek tertekan sebesar 20,70%. Sedangkan untuk Volume 11. Nomor 1. Okt- Maret 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 aspek terendahnya pada laki-laki ialah aspek cemas sebesar husada karya jaya baik itu perempuan atau laki-laki memiliki 9,35%, lalu pada Perempuan sebesar 5,67% dengan aspek tingkatan yang sama yaitu sedang. Namun, jika dilihat dari terjebak dalam situasi sulit. Perempuan memiliki data yang lebih tinggi, sebagaimana memang karena responden perempuan lebih Pembahasan Hasil yang didapatkan yakni bahwa dari 79 Berdasarkan hasil penelitian dari Herawati et al. responden mahasiswa semester akhir terdapat 14 orang . salah satu faktor yang mempengaruhi quarter life atau 17,7% responden dengan jenis kelamin laki-laki, dan 65 crisis yakni jenis kelamin. Hal ini didukung oleh Greenberger atau 82,3% responden dengan jenis kelamin perempuan. Artinya, responden berjenis kelamin perempuan lebih dominan daripada responden laki-laki. Quarter Life Crisis mengendalikan stress, dan merasa takut gagal. Dimana pada mahasiswa semester akhir di Akper Husada Karya Jaya seorang perempuan dalam bertindak lebih memakai berada dalam kategori sedang sebesar 67,1%. Hasil ini perasaannya dengan sifat keibuan dan empati yang selaras dengan penelitian Mutiara . , yang mengatakan dimilikinya (Chong, et al. , 2. Otnel bahwa Quarter Life Crisis yang dialami mahasiswa semester Hasil analisis didapatkan data aspek quarter life akhir berada dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 82%. crisis berdasarkan jenis kelamin dimana pada laki-laki aspek Kemudian di dukung juga berdasarkan hasil temuan Hayati tertingginya adalah kebimbangan dalam pengambilan . yakni sebanyak 73,5% mahasiswa semester akhir di keputusan sebesar 19,76%, kemudian untuk perempuan UIN Sunan Gunung Djati mengalami quarter life crisis tingkat adalah aspek tertekan sebesar 20,70%. Sedangkan untuk aspek terendahnya pada laki-laki ialah aspek cemas sebesar Responden pada kategori sedang berarti sudah 9,35%, lalu pada Perempuan sebesar 5,67% dengan aspek mampu mengontrol quarter life crisisnya dengan Upaya- terjebak dalam situasi sulit. Artinya, responden laki-laki upaya seperti mampu mengungkapkan perasaan kepada masih banyak yang belum bisa menentukan dan meyakinkan orang lain, mempererat hubungan dengan sang pencipta, menyibukkan diri dengan hal yang disukai, dan yang paling menjatuhkan harapannya, sehingga perasaan bimbang penting adalah mampu mengenal diri sendiri (Mutiara. Aspek tertinggi quarter life crisis yaitu kebimbangan kecemasannya sebagaimana dibuktikan cemas menjadi dalam pengambilan Keputusan sebesar19,8%, sebagaimana aspek quarter life crisis terendah. Sedangkan untuk yang dikatakan Robbins dan Wilner dalam Sembiring . , responden perempuan banyak yang merasakan tertekan seseorang dengan aspek ini akan merasa bimbang dalam akan kehidupan. Hal ini biasanya dikarenakan banyak menentukan pilihan, seperti pekerjaan, finansial, dan hal tuntutan yang memaksa agar bisa berhasil meraih kepuasan lainnya, serta mempertanyakan kembali apa yang telah orang lain seperti tuntutan dari keluarga, lingkungan sekitar, diputuskan karena takut tidak sesuai harapan. teman, atau bahkan pasangan. Namun. Aspek terendah yaitu terjebak dalam situasi sulit Perasaan tertekan ini tentunya akan membuat sebesar 8% sebagaimana sejalan dengan temuan Sujudi individu menjadi tidak nyaman karena adanya perasaan . yang mengungkapkan bahwa kondisi ini dapat terbebani yang dapat menjadikan aktivitas individu menjadi disebabkan karena tugas kuliah namun dapat teratasi oleh tidak maksimal (Robbins dan Wilner dalam Sumartha, 2. adanya komunikasi yang baik dengan keluarga, berpikiran Meskipun kebanyakan responden perempuan merasakan positif pada Tuhan, dan focus dengan tujuan. Quarter life tertekan, untungnya mereka dapat mengontrol perasaannya crisis yang dialami mahasiswa semeseter akhir di akper hingga tidak terjebak dalam situasi sulit sebagaimana Volume 11. Nomor 1. Okt- Maret 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 dibuktikan hal ini menjadi aspek quarter life crisis terendah. Vi tahun 2019 (Doctoral dissertation. UIN Sunan Gunung Djati Bandun. Kesimpulan Mashrida Huwaina. Khoironi. Pengaruh Pemahaman Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Konsep Percaya Diri Dalam Al-Quran Terhadap quarter life crisis pada mahasiswa semester akhir di Akper Masalah Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa. Jurnal Husada Karya Jaya berada di tingkat sedang sebesar 67,1% Pendidikan Agama Islam. dengan aspek utama yang menjadi pendukungnya adalah Mutiara. Quarter life crisis mahasiswa BKI tingkat kebimbangan dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan Skripsi: Studi Bimbingan Konseling Islam, jenis kelamin, walaupun sama-sama dalam kategori sedang. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. namun responden perempuan memiliki persentase quarter Nurdhifa. Hal Paling Dicemaskan saat Quarter life crisis yang lebih tinggi. Hal ini karena perempuan lebih Life Crisis. from GENSINDO Retrived Maret 20. banyak memakai perasaannya sehingga lebih emosional https://gensindo. com/ Notoatmodjo. dari pada laki-laki. Metodologi Penelitian. Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta Referensi