BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ PELATIHAN PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DAN PENGENALAN BIODIGESTER Siti Maryam1*. Muhammad Fitri Budi Utomo2. Sarsono3. Srinoto4. Sahid Praptomo5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Batik Surakarta *E-mail: stmuniba17@gmail. ABSTRAK Pelatihan pengolahan sampah organik dan pengenalan biodigester dilaksanakan sebagai bagian dari program AuBUMDes Gedang Selirang Menuju Kemandirian Energi Melalui Pengolahan Sampah Organik Menjadi BiogasAy yang didanai DRTPM Diktiristek. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat Desa Gedangan. Kecamatan Grogol. Kabupaten SukoharjoAikhususnya ibu PKK, pengurus RT/RW, dan anggota BUMDes Gedang SelirangAitentang pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan dan potensi pemanfaatan teknologi biodigester. Metode pelaksanaan berupa penyuluhan melalui presentasi dan diskusi interaktif, dengan praktik sederhana hanya pada pemilahan serta pengolahan sampah organik, sedangkan biodigester diperkenalkan melalui pemaparan konsep. Tingkat pemahaman peserta diukur menggunakan pretest dan posttest berisi 10 soal pilihan ganda. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 45,2 menjadi 82,2 poin, dengan kenaikan tertinggi pada topik teknik pemilahan sampah rumah tangga dan prinsip kerja biodigester. Peningkatan pemahaman ini menegaskan bahwa metode penyuluhan berbasis presentasi dan diskusi efektif mentransfer konsep pengolahan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan, meskipun praktik biodigester belum dilakukan. Pelatihan ini menjadi fondasi awal bagi BUMDes Gedang Selirang untuk mewujudkan kemandirian energi melalui pengolahan sampah organik menjadi biogas, menekan biaya operasional pengangkutan sampah, serta membuka peluang pengembangan energi terbarukan di tingkat desa. Kata kunci: pengolahan sampah. kemandirian energi TRAINING ON ORGANIC WASTE MANAGEMENT AND INTRODUCTION TO BIODIGESTER ABSTRACT The training on organic waste management and the introduction of biodigester technology was carried out as part of the program AuBUMDes Gedang Selirang Towards Energy Self-Sufficiency through Organic Waste Processing into BiogasAy funded by DRTPM Diktiristek. This activity aimed to enhance the understanding of the Gedangan Village community. Grogol Sub-district. SukoharjoAiparticularly the PKK womenAos group. RT/RW administrators, and members of BUMDes Gedang SelirangAiregarding sustainable organic waste management and the potential use of biodigester technology. The implementation method consisted of a presentation-based outreach and interactive discussion, with simple practice limited to sorting and processing household organic waste, while the biodigester was introduced conceptually through material presentation. ParticipantsAo comprehension levels were measured using pretest and posttest instruments comprising 10 multiple-choice The evaluation results showed an increase in the average score from 45. 2 to 82. 2 points, with the highest improvements observed in topics related to household waste sorting techniques and the working principles of biodigester technology. This significant gain confirms that a presentation-and-discussion-based training method is effective in transferring knowledge of organic waste processing and renewable energy utilization, even without direct biodigester practice. This training serves as an essential foundation for BUMDes Gedang Selirang to achieve energy self-sufficiency through the conversion of organic waste into biogas, reduce operational costs of waste transportation, and open opportunities for developing renewable energy at the village Keywords: waste management. energy self-sufficiency PENDAHULUAN Pertumbuhan kawasan perkotaan di sekitar Solo Baru menjadikan Desa Gedangan. Kecamatan Grogol. Kabupaten Sukoharjo, sebagai wilayah dengan aktivitas sosial dan ekonomi yang semakin Page | 89 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ padat (Rahmayana & Handayani, 2. Desa ini memiliki 44 RT dan 6 RW yang terbagi dalam dua dusun, dengan jumlah penduduk mencapai 7. 770 jiwa atau sekitar 2. 150 kepala keluarga. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi, volume sampah rumah tangga di Desa Gedangan mencapai kurang lebih 10 ton per hari, terdiri atas sekitar 70% sampah anorganik dan 30% sampah organik. Kondisi ini menimbulkan tantangan serius dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan (Sari et al. , 2. Pengelolaan sampah di Desa Gedangan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. Gedang Selirang yang berdiri sejak 2021. Sampah dikumpulkan dari rumah tangga, pasar, dan fasilitas umum, kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) seluas A1. 500 mA di Dukuh Jlopo. Pada tahap ini hanya dilakukan pemilahan dasar antara sampah organik dan anorganik, sedangkan sistem pemilahan lanjutan, khususnya untuk pengolahan sampah organik, belum tersedia. Akibatnya, tumpukan sampah organik menimbulkan permasalahan lingkungan yang serius, seperti emisi gas metana (CHCE) yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global (Satriani et al. Selain menimbulkan dampak lingkungan, masalah ekonomi juga menjadi perhatian. Pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Mulur. Kecamatan Bendosari, memerlukan biaya operasional tinggi, yakni sekitar Rp175. 000 per sekali angkut dengan frekuensi 2Ae3 kali per hari. Dalam satu bulan. BUMDes harus mengeluarkan biaya hingga Rp12. 000, sementara pendapatan dari iuran masyarakat tidak mencukupi, sehingga menimbulkan defisit keuangan sekitar Rp2. per bulan. Kondisi ini menjadi beban yang signifikan bagi keberlanjutan layanan pengelolaan sampah Secara sosial, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah sejak dari rumah tangga memperburuk kualitas proses pengelolaan sampah di TPS (Salam, 2. Apabila tidak segera diatasi, pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan akibat tumpukan sampah akan meningkat, sehingga menurunkan kualitas hidup warga dan memperbesar beban pelayanan publik, khususnya pada sektor kebersihan dan kesehatan lingkungan (Malihah, 2. Melihat kompleksitas permasalahan tersebut, diperlukan upaya inovatif yang tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi (Makkawaru, 2. Salah satu alternatif solusi yang relevan adalah pemanfaatan sampah organik melalui teknologi anaerobic biodigester (Herafik et al. , 2. Teknologi ini mampu mengolah sampah organik menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan, sekaligus menghasilkan residu berupa pupuk organic (Harun & Lihawa, 2. Penerapan biodigester di tingkat desa berpotensi menurunkan biaya operasional pengelolaan sampah, mengurangi emisi gas metana, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan dan pemanfaatan sampah organic (Kusumandari et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa AuPelatihan Pengolahan Sampah Organik dan Pengenalan BiodigesterAy dilaksanakan di kantor Kepala Desa Gedangan dengan melibatkan ibu-ibu PKK, pengurus RT dan RW, serta anggota BUMDes Gedang Selirang. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan, serta memperkenalkan teknologi biodigester sebagai inovasi ramah lingkungan yang mendukung kemandirian energi dan ekonomi desa. Diharapkan, melalui kegiatan ini. Desa Gedangan dapat mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang efisien, ramah lingkungan, dan berdaya guna ekonomi. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari program AuBUMDes Gedang Selirang Menuju Kemandirian Energi Melalui Pengolahan Sampah Organik Menjadi BiogasAy yang didanai DRTPM Diktiristek. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Gedangan. Kecamatan Grogol. Kabupaten Sukoharjo, dengan peserta ibu-ibu PKK, pengurus RT dan RW, serta anggota BUMDes Gedang Selirang. Metode pelaksanaan disusun untuk menilai efektivitas penyuluhan dan presentasi materi, dengan praktik sederhana hanya pada pengolahan sampah organik, sedangkan pengenalan biodigester dilakukan melalui pemaparan materi tanpa praktik langsung. Page | 90 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Tahapan Kegiatan Persiapan Kegiatan Tim pengabdian melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan BUMDes untuk menentukan jadwal, menyiapkan sarana . erangkat presentasi, slide materi, dan lembar pretestAeposttes. , serta menyusun modul pelatihan yang ringkas namun komprehensif. Pretest Sebelum pemaparan materi, seluruh peserta mengikuti pretest berupa kuesioner pilihan ganda yang mengukur pengetahuan awal tentang: o konsep pemilahan dan pengolahan sampah organik, o dampak emisi gas metana (CHCE), dan o prinsip dasar teknologi biodigester. Hasil pretest menjadi tolok ukur awal tingkat pemahaman peserta. Penyuluhan dan Pemaparan Materi Kegiatan inti berupa presentasi dan diskusi interaktif yang disampaikan oleh narasumber. Materi o pentingnya pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga, o potensi pemanfaatan sampah organik menjadi energi terbarukan melalui biodigester, o manfaat lingkungan dan ekonomi dari teknologi biodigester bagi desa. o Praktik sederhana dilakukan pada sesi pengolahan sampah organik, yakni demonstrasi pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos. o Pengenalan biodigester hanya berupa pemaparan konsep dan diskusi interaktif . anpa praktik Posttest dan Evaluasi Setelah penyuluhan selesai, peserta mengikuti posttest dengan kuesioner yang sama seperti pretest untuk menilai peningkatan pemahaman. o Perbandingan skor pretest dan posttest dianalisis secara deskriptif untuk mengukur persentase o Evaluasi kualitatif diperoleh dari umpan balik lisan mengenai kejelasan materi, relevansi topik, dan minat peserta dalam menerapkan konsep pengolahan sampah dan biodigester. Dokumentasi dan Laporan Seluruh proses kegiatan, termasuk data hasil pretestAeposttest dan catatan diskusi, didokumentasikan sebagai dasar penyusunan laporan pengabdian dan rekomendasi tindak lanjut. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Pemahaman Peserta Hasil pengukuran pretestAeposttest menunjukkan kenaikan rata-rata skor dari 45,2 menjadi 82,2 poin atau peningkatan sebesar A37 poin. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa metode penyuluhan berbasis presentasi dan diskusi interaktif efektif mentransfer konsep dasar pengolahan sampah organik dan pemanfaatan biodigester. Peningkatan tertinggi tercatat pada topik teknik pemilahan sampah rumah tangga ( 38,3 poi. dan prinsip kerja biodigester ( 36,7 poi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun belum ada praktik langsung terkait biodigester, penyampaian materi melalui visualisasi infografis, contoh kasus, dan tanya jawab mampu menjembatani pemahaman peserta. Temuan ini sejalan dengan studi penyuluhan lingkungan (Setiawan dkk. , 2. yang menegaskan bahwa metode presentasi Page | 91 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ interaktif dengan media visual dapat menghasilkan dampak kognitif yang setara dengan praktik terbatas, selama disertai kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Relevansi terhadap Permasalahan Mitra BUMDes Gedang Selirang menghadapi beban biaya operasional tinggi untuk mengangkut sampah ke TPA, dengan defisit sekitar Rp2 juta per bulan. Dari total sampah A10 ton/hari, sekitar 3 ton merupakan sampah organik yang saat ini hanya ditimbun. Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk mengalihkan sebagian sampah organik menjadi sumber energi terbarukan, sehingga potensi biaya pengangkutan berkurang sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui pemanfaatan Peserta pelatihan, yang sebagian besar adalah pengurus RT/RW dan anggota BUMDes, merupakan pemangku kepentingan kunci dalam rantai pengelolaan sampah desa. Peningkatan pemahaman mereka bukan sekadar capaian akademik, tetapi juga fondasi untuk menggerakkan partisipasi masyarakat luas, yang selama ini rendah dalam pemilahan sampah dari sumbernya. Implikasi Sosial dan Ekonomi Secara sosial, pelatihan ini menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah organik bukan sekadar kewajiban kebersihan, tetapi peluang ekonomi desa. Beberapa peserta mengusulkan rencana pemanfaatan biogas untuk dapur umum BUMDes dan untuk mengurangi konsumsi LPG di rumah tangga. Inisiatif ini menunjukkan potensi perubahan perilaku menuju pemanfaatan energi alternatif yang ramah lingkungan. Dari sisi ekonomi, pengolahan sampah organik melalui biodigester dapat menekan biaya operasional pengangkutan ke TPA, yang saat ini mencapai Rp10,5Ae12 juta per bulan. Jika teknologi biodigester berhasil dioperasikan. BUMDes berpeluang mengurangi frekuensi pengangkutan dan menekan defisit yang selama ini menjadi beban keuangan. Tantangan Implementasi Biodigester Meskipun pemahaman peserta meningkat, tantangan implementasi tetap perlu dicermati. Pertama, investasi awal dan perawatan biodigester memerlukan pendanaan dan komitmen jangka panjang. Kedua, keberhasilan sistem bergantung pada konsistensi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, yang hingga kini masih rendah. Ketiga, pendampingan teknis pasca-instalasi diperlukan agar BUMDes mampu mengoperasikan biodigester secara mandiri. Keterkaitan dengan Target Kemandirian Energi Pelatihan ini adalah tahap awal program pengabdian DRTPM Diktiristek yang bermuara pada pemberian dan instalasi unit biodigester. Dengan bekal pengetahuan yang meningkat, peserta memiliki kesiapan konseptual untuk menerima dan mengelola teknologi tersebut. Secara strategis, pelatihan ini menempatkan BUMDes Gedang Selirang pada jalur menuju kemandirian energi berbasis potensi lokal, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDG. pada pilar energi bersih dan pengelolaan lingkungan. SIMPULAN Pelatihan pengolahan sampah organik dan pengenalan biodigester di Desa Gedangan. Kecamatan Grogol. Kabupaten Sukoharjo berhasil meningkatkan pengetahuan peserta secara signifikan. Hasil evaluasi pretestAeposttest menunjukkan kenaikan rata-rata pemahaman peserta dari 45,2 menjadi 82,2 Peningkatan terbesar terjadi pada topik pemilahan sampah rumah tangga dan prinsip kerja biodigester, meskipun belum dilakukan praktik langsung untuk teknologi biodigester. Hal ini membuktikan bahwa metode penyuluhan berbasis presentasi dan diskusi interaktif efektif mentransfer konsep pengolahan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan. Pelatihan ini sekaligus menjadi fondasi awal bagi BUMDes Gedang Selirang untuk mewujudkan kemandirian energi melalui pengolahan sampah organik menjadi biogas, sekaligus menekan biaya operasional pengangkutan sampah yang selama ini menimbulkan defisit anggaran. Penelitian berikutnya disarankan untuk Page | 92 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ mengukur dampak operasional biodigester terhadap pengurangan biaya pengangkutan sampah dan penurunan emisi gas metana (CHCE) secara kuantitatif, sehingga efektivitas program kemandirian energi BUMDes Gedang Selirang dapat dibuktikan secara ilmiah sekaligus menjadi model replikasi bagi desa DAFTAR PUSTAKA