Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 2025, 45-53 Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) https://journal. id/index. php/DBESTI P-ISSN: 3047-1028 E-ISSN: 3032-775X REENGINEERING REST API MONOLIT KE MICROSERVICE MENGGUNAKAN FRAMEWORK LARAVEL Asep Sahrudin1. Ahmad Rio Adriansyah2 1 ,2 Teknik Informatika. Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri Jakarta Selatan. DKI Jakarta. Indonesia 12640 asep20159ti@student. id, arasy@nurulfikri. Abstract The increasing population growth in Jakarta has also led to a surge in demand for housing, including boarding houses. This surge in demand has become a challenge in managing applications and websites that provide information and services related to boarding houses, particularly in terms of managing user activity within the system. Therefore, researchers are trying to restructure the existing boarding house application using a microservice model. This research discusses the restructuring of the backend application from a monolithic to a microservice model, with a case study on Kos Jenggot. The development method employed in this research is Extreme Programming (XP), which incorporates testing methods, including black-box and performance testing. The results of this research show that using the microservice model is superior to the monolithic model. with black box testing results of 100%, the feature can run well through performance for the most significant scenario, namely an access load of 200 users in 100 seconds which has a total error of 100% for the monolithic model and 40 % for microservice These results indicate that the microservice model is more effective than the monolithic model for restructuring boarding applications. Keywords: Backend. Microservice. Monolithic. Laravel. Locust Abstrak Pertumbuhan penduduk di Jakarta yang semakin meningkat turut membuat permintaan akan kebutuhan tempat tinggal, termasuk kos-kosan menjadi melonjak. Lonjakan permintaan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan aplikasi dan situs web penyedia informasi dan layanan terkait kos-kosan dalam mengelola aktivitas user di dalam sistem. Oleh karenanya, peneliti mencoba untuk melakukan reengineering aplikasi kos yang telah ada dengan menggunakan model Penelitian ini membahas reengineering aplikasi kos backend dari model monolitik ke microservice dengan studi kasus pada Kos Jenggot. Metode pengembangan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Extreme Programming (XP) dengan metode pengujian yakni menggunakan blackbox testing dan performance testing. Hasil penelitian ini menunjukkan lebih unggul menggunakan model microservice dibandingkan model monolitik, dengan hasil blackbox testing sebesar 100% fitur dapat berjalan baik melalui performa untuk scenario paling besar yakni beban akses 200 user dalam waktu 100 detik yang memiliki total eror 100% untuk model monolitik dan 40% untuk model microservice. Dari hasil tersebut diperoleh, bahwa efektifitas penggunaan model microservice pada reengineering aplikasi kos ini lebih unggul dibandingkan model monolitik. Kata kunci: Backend. Microservice. Monolitik. Laravel. Locust PENDAHULUAN Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir di Jakarta, data menunjukkan peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun. Dengan angka pertumbuhan sebesar 0,04% pada tahun 2020, meningkat menjadi 0,45% pada tahun 2021, dan mencapai 0,66% pada tahun 2022 . Pertumbuhan ini mengindikasikan adanya kebutuhan yang terus meningkat terhadap fasilitas tempat tinggal, termasuk kos-kosan sebagai salah satu pilihan utama bagi banyak penduduk Namun, dampak dari lonjakan permintaan tersebut dapat menimbulkan tantangan dalam pengelolaan aplikasi maupun situs web, yang menyediakan informasi dan layanan terkait kos-kosan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan reengineering aplikasi kos yang sudah ada dengan menggunakan arsitektur Pendekatan meningkatkan performa situs web serta mengurangi risiko Diterima 27 Maret 2024. Direvisi 28 Mei 2025. Diterima untuk publikasi 30 Mei 2025 46 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 terhadap lonjakan permintaan yang mungkin terjadi di masa Berdasarkan hal tersebut, pengelola atau penyedia kos membutuhkan sebuah rancangan website yang mudah dipahami dan mudah diakses oleh semua orang. Pada dasarnya, rancangan desain web kos yang sudah ada sebelumnya masih menggunakan arsitektur monolitik. Arsitektur monolitik adalah pendekatan pengembangan perangkat lunak yang menggabungkan semua komponen sistem dalam satu entitas tunggal . Meningkatnya penggunaan web Kos Jenggot turut berdampak pada proses pemeliharaan, performa, dan kompleksitas web yang dibangun menggunakan arsitektur monolit ini. Ketika melakukan peningkatan web atau memperbaiki sistem 2 yang error ketika menggunakan arsitektur monolitik, maka biasanya semua layanan atau service pada aplikasi akan ikut mati. Dengan adanya kendala yang ditemui saat meningkatkan skalabilitas web kos tersebut, maka pengembangan perangkat lunak dengan menggunakan arsitektur microservice adalah salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi dalam proses pengembangan dan perawatan aplikasi web kos ini. Arsitektur microservice adalah arsitektur pengembangan perangkat lunak yang memiliki tanggung jawab berdasarkan fungsionalitasnya atau memiliki fungsionalitas secara terpisah dan saling terhubung satu sama lain . Dengan demikian, pengembang dapat melakukan pembaharuan yang berjalan sendiri dan saling berkaitan dengan mekanisme ringan seperti HTTP API. Untuk itulah penggunaan microservice adalah pilihan perangkat lunak yang tepat untuk membuat sebuah aplikasi web yang membutuhkan pembaharuan secara berkala seperti aplikasi Web Kos Jenggot. Penelitian ini akan berfokus pada proses perancangan ulang atau reengineering pada arsitektur aplikasi yang sudah ada sebelumnya yakni pada proyek MSIB yang menggunakan arsitektur monolitik, untuk kemudian diubah menjadi microservice pada pengembangan aplikasi kos berbasis web di sisi backend-nya. Harapannya dengan adanya aplikasi kos yang dibangun menggunakan microservice nantinya dapat memberikan dampak positif yang sangat signifikan untuk beberapa pihak, seperti mahasiswa yang hendak mencari penginapan jangka panjang untuk kebutuhan kuliah lebih cepat dan terhindar dari error serta membantu pemilik Kos Jenggot dalam proses manajerial untuk meningkatkan efisiensi kos yang tersedia. Oleh karena itu peneliti mengambil penelitian yang berjudul AuReengineering REST API Monolit ke Microservice Menggunakan Framework LaravelAy. Restrukturisasi Sebuah konsep untuk "merestrukturisasi" atau "menyusun ulang" sesuatu agar mencapai tingkat kebaikan dan efisiensi dalam struktur atau tatanannya. "Penataan ulang" ini bisa terjadi dalam berbagai konteks, seperti bisnis, manajemen, teknologi, atau bahkan aspek-aspek sosial, dan sering kali meningkatkan kinerja suatu sistem atau entitas . Arsitektur Arsitektur merupakan suatu manifestasi kompleks dari pengetahuan dan kreativitas yang bertujuan untuk menghasilkan struktur-struktur yang tidak hanya memenuhi fungsi praktis, tetapi juga menjadi lambang dan cerminan dari peradaban dan identitas manusia . Indekos Kos adalah suatu bentuk akomodasi sementara yang umumnya ditempati oleh individu atau kelompok orang yang membutuhkan tempat tinggal untuk periode tertentu, seperti mahasiswa, pekerja, atau individu lainnya yang butuh tempat tinggal sementara. Konsep kos sangat penting dalam mengakomodasi kebutuhan perumahan sementara di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar . Hypertext Preprocessor (PHP) PHP sering digunakan untuk mengakses basis data, mengelola formulir, mengelola sesi pengguna, dan melakukan berbagai tugas lain yang mendukung fungsionalitas aplikasi web yang dinamis. Bahasa pemrograman ini telah menjadi salah satu alat yang sangat populer dalam pengembangan web . Database Database adalah suatu sistem perangkat lunak yang dirancang untuk menyimpan, mengelola, dan mengakses data dengan efisien. Database Management System (DBMS) adalah komponen utama dalam pengelolaan database, yang memungkinkan pengguna untuk melakukan berbagai operasi (CRUD). Database dan DBMS ini saling bekerja sama agar organisasi atau individu dapat menyimpan dan mengelola data mereka dengan cara yang efektif dan aman . Laravel Laravel adalah salah satu framework open-source yang didesain khusus untuk bahasa pemrograman PHP. Framework ini bertujuan untuk menyederhanakan proses pengembangan aplikasi web. Laravel menjadi pilihan yang sangat disukai oleh banyak pengembang karena mempercepat proses pengembangan dan membantu mereka menciptakan aplikasi web yang lebih efisien dan dapat diandalkan . MySQL 47 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Penggunaan SQL memungkinkan pengguna dapat merancang kueri yang kompleks untuk mengambil informasi dari database dengan efisien. DBMS yang menggunakan SQL umumnya digunakan dalam jenis aplikasi berbasis web yang memerlukan manajemen data yang efisien dan dinamis, seperti sistem manajemen konten atau aplikasi e-commerce . Monolitik Monolitik adalah pendekatan dalam pengembangan perangkat lunak di mana seluruh aplikasi atau sistem dibangun sebagai satu entitas tunggal yang utuh. Microservice kemudian diadopsi menggunakan servis yang berbeda. Lalu dilakukan dengan pengujian performance testing untuk melihat perbedaan di antara kedua servis Tahapan Penelitian Dalam proses penelitian tentang AuReengineering REST API Monolit ke Microservice Menggunakan Framework LaravelAy. Penulis melaksanakan serangkaian alur dan tahapan, yang meliputi pengumpulan data, analisis perancangan service, implementasi, testing, dan pelaporan. Gambar 1 berikut ini adalah helicopter view yang dilakukan tentang tahapan penelitian yang pada penelitian ini. Sebuah aplikasi dibangun sebagai sekumpulan layanan terpisah yang masing-masing bertanggung jawab atas fungsionalitas tertentu. Arsitektur microservice memiliki karakteristik layer yang terpisah dan saling terhubung . Blackbox Testing Blackbox testing merupakan salah satu teknik pengujian perangkat lunak yang dilakukan untuk mengamati output dari perangkat lunak berdasarkan fungsionalitasnya . Metode blackbox ini mencakup beberapa pendekatan antara lain Equivalence Partitioning. Boundary Value Analysis. Comparison Testing. Sample Testing. Robustness Tesing, dan lain-lain . METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dibahas mengenai metode pengumpulan data, instrumen penelitian, metode pengujian, serta tahapan penelitian. Metode Pengumpulan Data. Instrumen Penelitian, dan Metode Pengujian Penelitian ini mengadopsi pendekatan pengumpulan data yang bersifat komprehensif melalui penggunaan. Kombinasi metode ini dirancang untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai fenomena yang menjadi fokus penelitian. Berikut untuk penjelasan secara detail maksud dari kedua metode pengumpulan data Studi Literatur Studi Literatur dalam penelitian ini merupakan bagian penting dari mencapai dan mendukung tujuan tugas Membaca, mencari, dan mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk dalam proses studi literatur. Sumber-sumber ini termasuk jurnal ilmiah, kertas, skripsi atau penelitian terkait, website, buku, dan alat elektronik lainnya. Selain itu, pengamatan atau observasi juga dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi yang relevan tentang objek yang diamati. Metode Eksperimen Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan experiment adalah peneliti melakukan reengineering servis pada aplikasi yang sebelumnya sudah ada. Gambar 1. Tahapan Penelitian Metode Pengembangan Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengembangan yang terbukti efektif, yaitu Extreme Programming (XP), untuk mencapai tujuan pengembangan perangkat lunak yang inovatif dan berkualitas. Dengan memanfaatkan pendekatan ini, peneliti berusaha untuk memahami bagaimana XP dapat menghasilkan perangkat lunak yang responsif, tangguh, dan memenuhi standar kualitas yang tinggi. Extreme Programming (XP) adalah salah satu metodologi dalam pengembangan agile software development methodologies yang memiliki fokus terhadap . sebagain aktivitas utama dalam semua tahapan pada siklus pengembangan perangkat lunak . HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas mengenai analisis dan perancangan, analisis kebutuhan, dan perancangan sistem pada penulisan tugas akhir. 48 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Analisis dan Perancangan Analisis kebutuhan yang akan dibahas pada penulisan tugas akhir ini berdasarkan analisa pengujian sistem yang berjalan sebelumnya menggunakan arsitektur monolitik dengan melakukan pengetesan performance testing atau load testing untuk mendapatkan hasil perbedaan pengujian performa sistem berjalan. Berikut adalah satu proses analisa yang dilakukan pada arsitektur sebelumnya yang menggunakan monolitik dengan melakukan proses pengujian atau testing dengan performance testing menggunakan locust. Gambar 2. Proses Analisis Pertama untuk mengetahui hasil dari Performa menggunakan Arsitektur Monolitik Gambar 3. Use Case Diagram Gambar 2 tersebut merupakan salah satu hasil proses analisis yang dilakukan untuk mengetahui hasil performa yang dimiliki oleh arsitektur yang dibangun sebelumnya . sebagai bahan pertama yang akan dilakukan proses komparasi hasilnya nanti . etelah perancangan dan pengembangan arsitektur microservice selesa. untuk melihat keunggulan performa kedua arsitektur yang akan dilakukan pada bagian hasil penelitian. Dari gambar 3 tersebut dapat dijelaskan secara detail sebagai berikut: Admin . apat mengelola seluruh akses pada siste. Penyewa dapat melakukan proses booking dan melihat informasi kos yang tersedia. Pemilik dapat melakukan unggah kos yang dimiliki untuk supaya dapat diakses oleh public. Analisis Kebutuhan Sistem Pada bagian proses analisa kebutuhan sistem dilakukan dengan cara menganalisis sistem yang sudah ada yang dibangun menggunakan arsitektur monolitik melalui proses pengujian performa menggunakan locust tools. Activity Diagram dibuat untuk menggambarkan alur atau bisnis proses yang terjadi pada aplikasi kos ini. Activity Diagram Perancangan Sistem Use Case Diagram Untuk use case diagram yang digunakan dalam melakukan proses perancangan ini terdapat 3 role user yaitu admin, customer . dan pemilik. Gambar 4. Activity Diagram Customer Login 49 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Gambar 5. Activity Diagram Login Pemilik Gambar 6. Activity Diagram Akses Data Pemilik Kos Gambar 4, gambar 5, gambar 6, dan gambar 7 di atas merupakan activity diagram yang menggambarkan bisnis proses pada aplikasi kos. Gambar 7. Activity Diagram Akses Data Resource Role Customer ERD Diagram Perancangan database untuk kebutuhan aplikasi kos pada penelitian ini menggunakan database MySQL MariaDB. Untuk lebih jelasnya berikut gambar yang merupakan desain database ERD yang dirancang untuk kebutuhan aplikasi kos pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 8 50 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Dari hasil pengujian blackbox tersebut secara fungsionalitas mendapatkan hasil yang sesuai dengan daftar fitur dokumen spesifikasi kebutuhan pada proses analisa perancangan. Locust Performance Testing Pada bagian ini merupakan proses pengujian beban pada arsitektur yang sudah tersedia . dan pada arsitektur yang telah dilakukan proses reengineering untuk mendapatkan hasil tes performa yang lebih baik dari masing-masing arsitektur setelah proses komparasi. Untuk lebih jelasnya berikut tabel 1 merupakan daftar iterasi pengujian yang dilakukan selama tiga kali pengujian. Tabel 1. Iterasi Testing Jumlah User Rump Up (User Started/ Secon. 100 sec 100 sec 100 sec Implementasi Hasil Berikut ini merupakan bagian dari proses implementasi hasil pengujian pada project kos penelitian ini. Ada 3 kriteria yang diuji pada penelitian ini diantaranya: Gambar 8. ERD Diagram Project Kos Daftar Fitur Terkait daftar fitur yang tersedia pada microservice ini di antaranya sebagai berikut: Manajemen users Manajemen kos Manajemen fasilitas Manajemen kota Notifikasi email approval Manajemen rekomendasi kos Bisnis proses pada booking flow pemesanan kos. Monolitik vs microservice secara teknis dalam proses Hasil testing setelah dilakukan proses komparasi dua arsitektur . onolitik dan microservic. Bisnis proses dan modul yang tersedia pada aplikasi kos Berikut di bawah ini gambar 9, gambar 10, gambar 11, dan gambar 12 merupakan bisnis proses dan modul pada aplikasi kos. Perancangan Pengujian Blackbox Testing Pengujian blackbox pada perancangan arsitektur ini dilakukan untuk mencari letak kesalahan dari sisi fungsionalitas sistem yang dirancang dalam penelitian ini, berikut merupakan daftar modul yang dilakukan proses Manajemen users. Manajemen kos. Manajemen fasilitas. Manajemen kota Notifikasi email approval Manajemen rekomendasi kos. Gambar 9. Isi Pesan Email pada Customer Ketika Melakukan Booking Kos 51 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Pada gambar 13 di atas merupakan salah satu bentuk hasil arsitektur monolitik ketika server project dimatikan maka seluruh servis pada project kos tersebut ikut mati karena seluruh modul maupun servis tersimpan dalam satu project. Gambar 10. Isi Pesan Email yang Diterima Pemilik Ketika Ada Penyewa Melakukan Booking Kos Gambar 14. Hasil Tampilan Microservice Ketika Modul Rekomendasi Kos Dimatikan. Gambar 11. Isi Pesan Email yang Diterima Penyewa Ketika Sudah Disetujui oleh Pemilik Kos Gambar 15. Tampilan Modul Kos pada Arsitektur Microservice Pada gambar 14 dan gambar 15 tersebut merupakan salah satu bentuk isolasi pada microservice, ketika salah satu modul dimatikan pada modul rekomendasi kos tapi pada saat kita akses modul kos masih berjalan dengan lancar. Hasil Data Pengujian Gambar 12. Isi Email Penolakan Ketika Proses Booking Ditolak oleh Pemilik Monolitik vs Microservice Arsitektur monolitik terdiri dari gabungan layer menjadi satu kesatuan yang utuh, sedangkan untuk arsitektur microservice memiliki karakteristik layer yang terpisah dan saling terhubung . Pada bagian ini dijelaskan untuk membuktikan proses isolasi pada arsitektur microservice maupun monolitik. Pada bagian ini setiap service diuji dengan metode pengujian load testing. Tujuan penggunaan load testing pada penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil performa antara masing masing servis yang ada . onolitik dan Berdasarkan dari ketiga hasil pengujian pada kedua arsitektur . onolitik dan microservic. tersebut peneliti coba jelaskan dan ringkas ke dalam suatu tabel 2 di bawah ini supaya lebih tergambar hasil komparasinya. Tabel 2. Hasil Pengujian Ketiga Iterasi dari Screenshot di Atas Arsitektur Users Ramp up (Started Users / Secon. Laju Kinerja / RPS (Request Persecon. Failures Skenario Pertama Monolitik Gambar 13. Proses Isolasi pada Monolitik 100 detik 6 Detik 52 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 Arsitektur Microservice Users Ramp up (Started Users / Secon. Laju Kinerja / RPS (Request Persecon. Failures 100 detik 7 Detik Skenario Kedua Monolitik 100 detik 5 Detik Microservice 100 detik 3 Detik Skenario Ketiga Monolitik 100 detik 4 Detik Microservice 100 detik 6 Detik Berdasarkan dari ketiga hasil scenario testing di atas, pada tabel 2 menunjukkan bahwa beban akses users secara normalnya diangka 50/100 detik untuk mendapatkan total error sebesar 0% dan untuk scenario paling besar di waktu terakhir untuk beban akses 200 user dalam waktu 100 detik memiliki total error 100% untuk arsitektur monolitik dan masih tetap unggul untuk arsitektur microservice dengan mendapatkan total error dibawah 100% . %) untuk arsitektur microservice. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan, bahwa efektifitas penggunaan arsitektur microservice pada perancangan ulang project kos ini lebih disarankan menggunakan arsitektur microservice jika merujuk pada hasil testing performa tersebut. Evaluasi Sistem microservice lebih unggul dibandingkan menggunakan arsitektur monolitik. Performance Testing Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan reengineering arsitektur pada pengembangan aplikasi yang tadinya menggunakan arsitektur monolitik menjadi arsitektur microservice pada aplikasi kos jenggot menunjukkan hasil yang lebih bagus kualitasnya dengan mendapatkan hasil peningkatan yang lebih optimal dan lebih unggul pada arsitektur microservice. Dari hasil pengujian percobaan ke 1 untuk arsitektur monolitik diberikan beban akses sebesar 50 user mendapatkan hasil laju kerja 2. 6/detik dan dengan memberikan beban akses yang sama 50 user pada arsitektur microservice mendapatkan hasil laju kerja 1. 7/detik, pada percobaan yang kedua diberikan beban akses 100 user pada kedua arsitektur tersebut dengan mendapatkan hasil laju 5/detik pada arsitektur monolitik dan mendapatkan laju kinerja sebesar 3. 3/detik pada arsitektur microservice, pada percobaan ketiga dilakukan peningkatan yang lebih tinggi untuk kedua arsitektur tersebut yaitu memberikan beban akses sebesar 200 user untuk melihat perbedaan yang lebih signifikan, dari hasil percobaan ke 3 tersebut mendapatkan hasil laju kerja sebesar 5. 4/detik pada arsitektur monolitik dan 1. 6/detik untuk arsitektur Dari seluruh percobaan pada testing yang telah dilakukan pada aplikasi kos jenggot dapat kita simpulkan bahwa dengan menggunakan arsitektur Blackbox Testing Pada bagian pengujian blackbox ini digunakan untuk mengetahui kesesuaian fungsi dari fitur yang dikembangkan pada project kos penelitian. Ada beberapa modul yang dilakukan pengujian menggunakan blackbox pada project kos ini di antaranya: Modul users Modul kos Modul kota Modul fasilitas Modul kota Modul rekomendasi kos Fitur booking. Berdasarkan dari yang telah dilakukan pengujian blackbox hasil yang didapatkan dari keseluruhan scenario dan butir uji mendapatkan hasil yang sesuai dengan spesifikasi kebutuhan fitur. KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut: Melakukan reengineering backend web dari monolit ke microservice menggunakan Framework Laravel merupakan salah satu solusi yang memberikan dampak positif khususnya pada kinerja aplikasi yang telah dirancang sehingga memudahkan user tanpa harus menunggu terlalu lama ketika aplikasi hendak diakses oleh banyak user dan dapat dilihat dari hasil setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan locust tools pada scenario pertama mendapatkan 1. 7 RPS (Request per-secon. dengan stabil dengan tingkat failures 0%. Untuk beberapa perbedaan antara penggunaan arsitektur monolitik dan microservice pada penelitian ini yang terletak pada tingkat kinerja aplikasi yang dirancang, dimana aplikasi yang menggunakan arsitektur microservice memiliki performa lebih baik dibandingkan menerapkan arsitektur monolitik. Hal tersebut dibuktikan pada saat pengujian kinerja aplikasi menggunakan locust untuk melihat kekuatan aplikasi pada saat menerima beban yang tinggi ketika diakses oleh banyak user. Untuk tingkat keberhasilan komparasi keunggulan performa microservice dan monolitik dapat dilihat pada poin 4. 3 tentang hasil data pengujian di bagian tabel summary hasil testing 3 skenario yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil pengujian pada tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian arsitektur microservice bisa dikatakan berhasil lebih unggul secara performa maupun dari tingkat failures yang rendah ketika diberikan peningkatan beban sampai mentok di 200 users dalam waktu 100 detik. 53 | Journal of Digital Business and Technology Innovation (DBESTI) Vol. 2 No. 1 Mei 2025 DAFTAR PUSTAKA