Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 Submitted 27th November 2021 Accepted 20th Januari 2022 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOPI RAKYAT SEBAGAI DESTINASI WISATA DI BONGANCINA. KECAMATAN BUSUNGBIU, KABUPATEN SINGARAJA Francisca Titing Koerniawaty, 2I Made Darsana, 3Moch Nur Efendi, 4Firman Sinaga. Bondan Pambudi Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional titing@gmail. ABSTRAK Desa Bongancina sangat cocok untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional, merespon peluang ini dengan mengambil bentuk kegiatan yang dikemas dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. pengabdian ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan diikuti dengan diskusi serta evaluasi akhir untuk mengukur tingkat capaian yang dihasilkan. Kegiatan ini sendiri merupakan kegiatan pengabdian internal kampus IPB Internasional dengan mengembangkan upaya kemitraan pada masyarakat pelaku usaha di desa Bongancina. Kegiatan pengabdian dalam bentuk pendampingan di Desa Bongancina, terkait dengan pengembangan Desa Bongancina menjadi Desa Wisata, sudah berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini tampak dari antusias warga dari berbagai profesi untuk mengikuti kegiatan ini. Dukungan dari pihak kampus Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional berupa pendanaan dan bantuan sarana serta prasarana memiliki peran besar untuk keberhasilan kegiatan pengabdian ini. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini, sehingga program pengabdian kepada masyarakat Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional bisa selesai sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Kata Kunci: Pemberdayaan masyarakat, kopi rakyat. Desa Bongancina ABSTRACT Bongancina village is very potential to be developed into a tourist village. The Institute of International Tourism and Business, responded to this opportunity by taking the form of activities packaged in community service activities. This service is carried out with the extension method and is followed by discussion and final evaluation to measure the level of achievement produced. This activity itself is an internal service activity of the IPB International campus by developing partnership efforts in the business community in Bongancina village. The services in the form of assistance in Bongancina Village, related to the development of Bongancina Village into a rural tourism has been implemented based on needs. This can be seen from the enthusiasm of villagers from various professions to take part in this activity. Support from the campus of the Institute of Tourism and International Business in the form of funding and assistance with facilities and infrastructure has a big role to play in the success of this service activity. Community involvement is the main key to the success of this program, so that the community service https://jam. http://creativecommons. org/licenses/by/4. Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 program of the Institute of Tourism and International Business can be completed according to a predetermined schedule. Keywords: Community empowerment, people's coffee. Bongancina Village PENDAHULUAN Bali termasuk beruntung karena memiliki potensi perkebunan yang besar. Paling tidak Bali memiliki 170 ribu hektar areal tanaman industri yang 99 persen di antaranya adalah perkebunan rakyat. Bila dirinci lebih lanjut ada kebun kelapa seluas 72 ribu ha, kopi 40 ribu ha, cengkeh 26 ribu ha, mete 16 ribu ha dan kakao 6 ribu ha. Desa Bongancina, yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng Bali. Di desa yang terbagi atas empat dusun yaitu Bongancina. Puncak Sari. Tista dan Sepang ini memiliki ratusan hektar tanaman industri seperti kopi, cengkeh, kakao, manggis dan durian. Desa kecil di pelosok Buleleng Bali ini ternyata telah menerapkan teknologi canggih untuk mengelola sistem pertaniannya. Dari pengolahan limbah untuk makanan ternak kambing, hingga pemakaian teknologi laser untuk pembiakannya. Dengan memadukan konsep sinergis perkebunan dengan peternak, para petani Bongancina ini mampu meningkatkan pendapatan hingga tiga kali lipat (Widiata,I G M, 2. Panorama alam yang asri serta perkebunan kopi yang mendominasi menjadi peluang yang sangat besar untuk dikembangkan di samping sayur mayur serta buah-buahan, seperti durian, manggis dan cengkeh. Dengan potensi yang dimiliki Desa Bongancina tersebut, maka sangat cocok untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional, merespon peluang ini dengan mengambil bentuk kegiatan yang dikemas dalam kegiatan pengabdian kepada Kegiatan pengabdian ini dikemas dalam bentuk kegiatan pendampingan kepada masyarakat terutama penguatan SDM ( Sumber Daya Manusi. dan kelembagaan, agar pada tahap awal kegiatan ini mampu untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengembangan potensi SDA ( Sumber Daya Ala. maupun SDM di Desa Bongancina untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata. Selanjutnya, ketika kegiatan ini berhasil diharapkan akan dapat mendongkrak pendapatan masyarakat serta mampu melestarikan alam di Desa Bongancina. METODE Gambar 1. Kegiatan Pengabdian di Desa Bongan Cina https://jam. http://creativecommons. org/licenses/by/4. Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Bongan Cina. Singaraja dilakukan pada bulan April sampai dengan Bulan Oktober 202. Kegiatan dilakukan di Balai Desa Bongan Cina. Kegiatan ini melibatkan para petani kopi dan ibu-ibu PKK, pemuda desa dan masyarakat lainnya yang tertarik untuk meningkatkan pengetahuannya terkait pengelolaan untuk menjadi desa wisata. Kegiatan ini diinisiasi oleh tim dari IPB Internasional dari staf dosen di Lab. Metode kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan diikuti dengan diskusi serta evaluasi akhir untuk mengukur tingkat capaian yang dihasilkan. Kegiatan ini sendiri merupakan kegiatan pengabdian internal kampus IPB Internasional dengan mengembangkan upaya kemitraan pada masyarakat pelaku usaha di desa Bongan Cina. Permasalahan yang dihadapi selama ini adalah harga komoditi kopi hasil perkebunan masyarakat sampai saat ini pengelolaannya belum maksimal baik dari aspek produk maupun pemasaran. Demikian juga komoditi cengkeh yang harganya selalu berfluktuatif sehingga petani tidak mampu untuk memperkirakan hasil panen secara pasti. Cengkeh dan kopi termasuk komoditi yang harganya seringkali jatuh sehingga merugikan petani. Belum lagi masalah produktivitas yang rendah. Oleh karena itu Desa Bongancina sangat memerlukan pendampingan baik dari pemerintah maupun institusi pendidikan tinggi agar mereka mampu mengembangkan sebuah alternatif dengan mengintegrasikan komoditas dikemas dengan paket wisata. Alternatifnya adalah memadukan konsep perkebunan dengan peternakan tanpa mengurangi fungsi dan volume kebun itu sendiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Permasalahan yang dihadapi Desa Bongancina selama ini adalah potensi di Desa Bongancina belum dapat dikelola dengan maksimal, padahal desa ini menyimpan potensi yang besar terkait dengan produk pertanian terutama kopi, cengkeh, buah-buahan serta aneka produk makanan. Yang tak kalah menariknya yakni desa ini cocok untuk dijadikan desa wisata karena panorama alam yang sangat eksotis serta kondisi iklim yang sangat mendukung. Namun dari aspek pertanian terkadang harga komoditi yang dihasilkan di Bongancina yang sangat fluktuatif sehingga menyulitkan bagi warga untuk merencanakan kebutuhannya. Cengkeh dan kopi termasuk komoditi yang harganya seringkali jatuh sehingga merugikan petani. Disamping itu produk cengkeh Bongancina juga terkendala masalah produktivitas yang rendah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali pada tahun 2000 di Desa Bongancina dikembangkan sebuah alternatif dengan mengintegrasikan satu komoditas dengan komoditas lain. Alternatifnya adalah memadukan konsep perkebunan dengan peternakan tanpa mengurangi fungsi dan volume kebun itu sendiri. BPTP akhirnya pada tahun 2000 memulai sebuah uji coba untuk menciptakan sinergi antara pengelolaan tanaman perkebunan dan peternakan kambing. Tetapi konsep sinergi yang dimaksud bukan sekedar memberikan pupuk kandang pada tanaman, atau memberikan hijauan pakan . pada ternak kambing. Akhirnya beberapa konsep teknologi majupun Yang pertama adalah untuk memanfaatkan hasil limbah perkebunan itu Sebelum tahun 2000, menurut Kepala Desa Bongancina. Dewa Putu Resada, penduduk sekitar hanya membuang limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi ataupun kakao. AyUntuk kakao kita jual bijinya saja, sedangkan kulitnya menjadi sampah. Hal yang sama juga diberlakukan untuk kopi, yang https://jam. http://creativecommons. org/licenses/by/4. Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 dipakai adalah kulit kopi. Tetapi limbah kulit inilah yang kemudian diproses menjadi makanan. Dari hasil pengkajian, ditemukan fakta bahwa setelah diolah melalui proses fermentasi kandungan gizi kakao mencapai 18 persen, dan 12,5 persen untuk limbah kopi. Ini tentu jauh lebih tinggi daripada kandungan dedak atau bekatul yang hanya 13 persen. Lalu dibuatlah metode bagaimana pengolahan limbah kakao dan kopi ini. Menurut Guntoro, menjelaskan tentang cara pengolahan kulit kakao dan kulit kopi. Yakni, pertama kulit kakao dan kopi, dihancurkan dengan alat penggilingan kemudian difermentasi dengan unsur bernama aspergillus Dedak limbah kopi dan kakao yang berprotein tinggi ini, ternyata mampu membuat pertumbuhan ternak kambing menjadi lebih cepat gemuk . Hasilnya dengan diberi pakan limbah sebesar 100 gram per ekor setiap harinya, berat badan seekor ternak bertambah 95-100 gram per hari. Namun hasil yang berbeda, kalau diberi makanan hijauan ternak, hanya bertambah 65 gram per hari. Warga Bongancina yang tergabung dalam kelompok AySatwa Sari RambanAy rutin mengaplikasikan teknologi baru ini untuk mempercepat pertumbuhan berat badan Teknologi maju juga diterapkan dalam masalah pembiakannya. Kalau memelihara kambing dengan teknik tradisional, kendala yang ditemui adalah jarak beranak kambing yang relatif panjang, yaitu 11 bulan. Juga jumlah anak kambing yang dilahirkan sedikit. Karena itu dikembangkan teknologi AoLaserpunkturAo untuk meningkatkan daya reproduksi ternak kambing tersebut. Caranya adalah dengan memberikan penyinaran dengan sinar laser pada 22 titik akupuntur pada tubuh kambing betina. Fungsinya adalah untuk meningkatkan daya reproduksi melalui sinkronisasi birahi dan superovulasi. Hasil penyinaran ini, selang masa beranak bisa dipersingkat dan frekuensinya bisa ditingkatkan. Sedangkan superovulasi dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah beranak dalam setiap kelahiran. Hasilnya dalam enam atau tujuh bulan seekor kambing sudah bisa beranak dan jumlahnya mencapai tiga ekor atau empat ekor. Untuk mempercepat penyebaran bibit unggul. Desa Bongancina ini juga mendatangkan kambing Etawa. Dari kambing pejantan ini mampu menghasilkan semen beku untuk IB. Dengan inseminasi buatan (IB), dalam setahun seekor kambing pejantan Etawa mampu melayani kawin 6 ribu hingga 8 ribu ekor AySemen beku produksi BPTP Bali ini memberi tingkat kebuntingan hingga 65 persenAy, jelas Guntoro. Tercatat, hingga saat ini sudah hampir 350 KK Desa Bongancina telah menerapkan teknologi ini. Hasilnya pun menurut sang Kades sangat Buktinya, pendapatan masyarakat petani Bongancina yang dulunya sekitar Rp 210 ribu, kini bisa mencapai Rp 2,9 juta dalam setiap bulannya. Jumlah tersebut sudah mencakup hasil penjualan dari perkebunan maupun Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk membeli makanan ternak lagi. Cukup dengan mengolah limbah kopi atau kakaonya. Sementara dengan teknologi laser dan inseminasi buatan, jumlah ternak kambing mampu meningkat tiga kali lipat dari hasil sebelumnya. Tantangan yang dihadapi Desa Bongancina untuk dikembangkan pada kriteria alam adalah satwa liar yang ada di sekitar hutan tidak dapat dilihat langsung. Masyarakat kurang mendapat informasi yang akurat mengenai vegetasi, sehingga belum terdorong untuk mendapatkan penghasilan ganda selain sebagai petani dari adanya kegiatan https://jam. http://creativecommons. org/licenses/by/4. Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 Gambar 2. Pelatihan dan Pendampingan Pengabdian Terkait dengan lingkungan fisik adalah kurangnya pemahaman terhadap penjagaan polusi pada badan air seperti sungai atau telabah. Kriteria lingkungan fisik kedua adalah kurangnya sosialisasi pemahaman terhadap pembagian tiga zona yaitu utama mandala . onservasi murn. , madya mandala . emanfaatan terbata. , nista mandala . , yang dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan lahan selain pertanian juga berpotensi sebagai daya tarik wisata. Pengaturan tata ruang desa sesuai dengan PERDA Provinsi Bali No. 16 tahun 2009 belum disosialisasikan dengan maksimal sehingga kesadaran masyarakat untuk ikut terlibat dalam pembangunan desa yang berkelanjutan. Pemukiman masyarakat lokal yang masih tradisional jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan pemukiman bergaya modern. Budaya masyarakat Bongancina, merupakan potensi yang paling signifikan bagi pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Kurang pemahaman masyarakat lokal terhadap budaya dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat pengembangan desa wisata karena daya tarik destinasi wisata terletak pada unsur-unsur keunikan kearifan lokal (Komariah, 2. Adapun tantangan pada kriteria budaya adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai mitos atau legenda desa yang dapat menjadi salah satu potensi daya tarik Eksistensi olahraga tradisional yang khas dan unik dari Desa Bongancina yang menjadi daya wisata budaya masih belum mendapat perhatian dari masyarakat Di samping itu seniman tari berskala maestro yang dapat dikenang dalam sejarah tidak ditemukan di desa ini. Masyarakat yang berprofesi sebagai usada atau memberikan pengobatan tradisional sangat langka. Artefak sejarah berupa situs purbakala yang diakui negara dan masih dipelihara secara aktif oleh masyarakat tidak ditemukan di desa ini. Sebagian besar masyarakat belum memahami tentang keseimbangan antara merawat dan mengkomersialkan seni, begitu pula aturan tegas untuk menjaga kesenian sakral. Terkait dengan infrastruktur, hal ini terkait dengan pembangunan pariwisata tidak terlepas dari infrastruktur yang sangat menunjang adanya pergerakan dalam perkembangan pariwisata (Putri et al. , 2. Infrastruktur yang berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah desa secara mandiri belum disosialisasikan secara merata kepada masyarakat Bongancina. Pasar tradisional sebagai infrastruktur penunjang pariwisata belum disosialisasikan secara merata, sehingga masyarakat dapat memahami dengan baik terhadap standar kebersihan dan kenyamanan pasar Tantangan kelima adalah kriteria kelembagaan. Masyarakat lokal belum memahami eksistensi lembaga saba desa yang merupakan lembaga pertimbangan di tingkat desa. Badan pengelola desa wisata belum bekerja secara efektif untuk mensosialisasikan bahwa kegiatan pariwisata dapat membantu peningkatan https://jam. http://creativecommons. org/licenses/by/4. Jurnal Abdi Masyarakat Vol 02 No 01, 2022: 23-29 https://dx. org/10. 22334/jam. ISSN: 2776-1819 Kelompok warga . pengelola sampah/pemilah sampah yang telah berdiri minimal 6 bulan terakhir belum terbentuk. Selain itu desa ini belum memiliki POKDARWIS atau KOMPEPAR yang merupakan kelembagaan masyarakat lokal yang berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pariwisata . ttps://w. Perkembangan dan pembangunan pariwisata juga dapat dipengaruhi oleh sikap dan tata kehidupan masyarakat lokal. Masyarakat Desa Bongancina masih kurang memahami keberadaan sistem resolusi konflik internal . adia, antar dadia, banja. dan sistem resolusi konflik eksternal . asuwitran nyatur des. Proporsi penduduk pendatang ternyata lebih dari 25%, hal ini perlu adanya kontrol dari kelembagaan desa, sehingga pengembangan desa wisata dapat dilakukan secara berkelanjutan. SIMPULAN Kegiatan pengabdian dalam bentuk pendampingan di Desa Bongancina, terkait dengan pengembangan Desa Bongancina menjadi Desa Wisata, sudah berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini tampak dari antusias warga dari berbagai profesi untuk mengikuti kegiatan ini. Dukungan dari pihak kampus Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional berupa pendanaan dan bantuan sarana serta prasarana memiliki peran besar untuk keberhasilan kegiatan pengabdian ini. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini, sehingga program pengabdian kepada masyarakat Institut Pariwisata Dan Bisnis Internasional bisa selesai sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Disamping itu model pengembangan masyarakat berbasis ekowisata yang dimaksud dalam kegiatan pengabdian ini adalah suatu bentuk rancangan atau desain dalam memilih pendekatan yang efektif mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berprinsip pada pelestarian alam, dimana antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem berlangsung secara seimbang untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Semakin baik keadaan alam, semakin tinggi pula tingkat kegiatan ekonomi masyarakat sehingga kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Disamping itu perlu diadakan evaluasi terkait dengan hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA