Excellent Midwifery Journal Volume 9 No. April 2026 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 STUDI KUALITATIF PEER PRESSURE TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMK X DI BATAM TAHUN 2025 Tiara Rizkia Putri1*. Ririn Wulandari2. Taufik Jamaan3 1-3Universits Aisyah Pringsewu Email: tiararizkia4@gmail. com, ririnkadarusno@gmail. taufikjaman@aisyahuniversity. DOI: https://doi. org/10. 55541/emj. ABSTRAK Latar Belakang : Tekanan teman sebaya . eer pressur. merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku seksual remaja, terutama dalam lingkungan pendidikan Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan jiwa remaja sangat besar. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah diketahui lebih dalam mengenai bagaimana proses peer pressure terhadap perilaku seksual remaja di SMK X di Batam Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap 20 siswa dan 1 guru Bimbingan Konseling sebagai informan. Data diambil menggunakan panduan wawancara dan telah dilaksanakan di SMK X di Batam. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% siswa mengalami tekanan teman sebaya baik secara verbal maupun nonverbal, khususnya dalam hal hubungan romantis dan kedekatan fisik. Lingkungan pergaulan di sekolah cenderung permisif, di mana 90% siswa menganggap memiliki pacar adalah hal yang wajar dan menjadi simbol kedewasaan. Sebanyak 75% informan mengaku pernah melakukan perilaku seksual ringan seperti berpelukan dan berciuman, yang umumnya dilakukan sebagai bentuk pembuktian cinta. Proses peer pressure terjadi secara bertahap, mulai dari ajakan ringan hingga dorongan emosional, menyebabkan 70% siswa mengalami konflik batin antara prinsip pribadi dan tekanan Selain itu, 60% siswa mengaku pernah melakukan perilaku seksual karena tekanan teman atau pasangan, bahkan tanpa menyadari sepenuhnya pengaruh tersebut. Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya intervensi dari pihak sekolah dan keluarga dalam membekali remaja dengan pendidikan karakter, kesadaran diri, serta keterampilan menolak tekanan sosial secara asertif. Kata Kunci : Peer Pressure. Teman Sebaya. Perilaku Seksual. Remaja ABSTRAC Background: Peer pressure is one of the key factors influencing adolescent sexual behavior, particularly within the secondary education setting. The influence of peers on adolescent psychological development is significant. Objective: The objective of this study is to gain a deeper understanding of how peer pressure influences adolescent sexual behavior at Vocational High School X in Batam in 2025. Method: This study employed a qualitative approach using in-depth interviews with 20 students and 1 Guidance and Counseling teacher as informants. Data were collected using an interview guide and were conducted at SMK X in Batam. Results: The findings revealed that 80% of students experienced peer pressure, both verbal and nonverbal, particularly regarding romantic relationships and physical intimacy. The social environment at school tends to be permissive, with 90% of students viewing having a boyfriend or girlfriend as normal and a symbol of maturity. A total of 75% of informants admitted to engaging in light sexual behavior such as hugging and kissing, which is generally done as a form of proving love. The process of peer pressure occurs gradually, ranging from mild invitations to emotional pressure, causing 70% of students to experience an internal conflict between personal principles and group pressure. Additionally, 60% of students admitted to having engaged in sexual behavior due to pressure from friends or partners, even without fully realizing the extent of that influence. Conclusion: The results of this study highlight the importance of interventions by schools and families in equipping adolescents with character education, self-awareness, and the skills to assertively resist social pressure. Keywords: Peer Pressure. Peers. Sexual Behavior. Adolescents Latar Belakang Sebagai generasi penerus bangsa, remaja berperan penting dalam melanjutkan pembangunan bangsa Indonesia serta mempunyai andil besar dalam menentukan nasib Diperkirakan remaja berjumlah 1,2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia. Remaja memiliki potensi sebagai sumber daya manusia kelompok Namun, di sisi lain remaja berisiko . Berdasarkan Youth Risk Behavior Survey (YRBS) terdapat banyak remaja melakukan berdampak buruk. Laporan Negara Amerika Serikat pada tahun 2020, 13Ae24 terdiagnosis HIV sebanyak 20%. Lebih dari separuh dari hampir 20 juta kasus baru penyakit menular seksual (PMS) terjadi di kalangan 15Ae24 Sedangkan di Indonesia, jumlah remaja belum menikah yang pernah melakukan hubungan seks pranikah sebanyak 2,4% . sia 10-19 tahu. dan 8,6% . sia 20-24 tahu. Fenomena ini lebih banyak terjadi di perkotaan sebanyak 5,7% . Kehamilan di usia muda (<20 hubungan seks pranikah (BKKBN. Pada usia ini biasanya siswi sedang duduk di bangku sekolah menengah atas. Sebagai salah satu sekolah menengah kejuruan, data siswa kelas X di SMK Negeri 8 berjumlah 250 siswa, dimana dari mempunyai pacar dan teman dekat, berciuman dan berpelukan. Hal ini dapat memicu terjadinya prilaku seksual di luar pernikahan. Pihak penyuluhan kepada siswa di SMK X di Batam dan sudah dilakukan sosialisasi kepada orangtua siswa terkait permasalahan tersebut (SMK X Batam 2. Perilaku seks pranikah pada remaja di latar belakangi oleh prilaku Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor prediposisi, faktor pendukung, prediposisi yang merupakan faktor perilaku dan faktor tersebut berasal dari dalam diri individu, misalnya tentang seks yang masih kurang. Penelitian Asmin et al. , . 10,8% remaja pernah melakukan Penelitian Aina et al. , . menunjukan bahwa sebanyak 61,4% pengetahuan remaja rendah tentang seks dan remaja berperilaku seksual yang beresiko sebanyak 16,5% di daerah Bukittinggi. ,4,. Faktor pemungkin merupakan faktor yang memungkinkan individu atau kelompok berperilaku tertentu, mengakses VCD porno, situs porno di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen pA) 66,6% anak laki-laki dan 62,3% anak perempuan Indonesia . melalui media daring . Faktor pendorong adalah faktor yang memperkuat terjadinya perilaku diantaranya peran keluarga dan peran teman sebaya . Menurut penelitian Andrianto et al hubungan peran orang tua terhadap seks remaja adalah orang tua memiliki peran penting dalam mencegah perilaku seksual yang tidak sehat atau berisiko pada Dukungan positif dan pendidikan seks yang benar dari orang tua dapat membantu remaja akurat tentang kesehatan seksual, mengembangkan sikap yang positif dan mencegah perilaku seksual yang tidak sesuai . , . Masalah pengetahuan remaja tentang seks yang rendah, membuat remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Hanya seksual dari orang tuannya. Oleh karena itu, mereka selalu terdorong untuk mencari informasi seks buku-buku temannya, internet, mengadakan eksperimen seksual, masturbasi. Minat utama seks remaja yaitu hubungan seks, konteks dan perilaku seksual kemudahan dalam mengakses VCD porno, situs porno di mengakses VCD porno, situs porno di mengakses VCD porno, situs porno di internet . Pengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja sangat besar. Menurut ZimmerGembeck 2015, teman sebaya sangat berpengaruh bagi kehidupan sosial dan perkembangan diri remaja. Informasi diperoleh dari teman sebaya . banyak memberikan dorongan untuk menentukan sikap remaja dalam Lingkungan dukungan teman sebaya . eer motivasi dan pembentukan identitas sosialisasi terutama ketika mulai menjalin hubungan asmara dengan pasangan lawan jenisnya (Priliana. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aina et al. , . terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh teman sebaya dengan perilaku seksual remaja. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sabila et al. , . sebanyak 28,1% remaja yang berhubungan seksual, signifikan antara peran teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Berdasarkan penelitian Raudatul Hulma & Maya Yasmin sebanyak 133 orang . ,3%) termasuk dalam cybersex kategori tekanan teman sebaya . , . Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di SMK X di Batam, jumlah siswa pada kelas X sebanyak 60 orang. Hasil wawancara lepas menunjukkan bahwa s7 dari 10 siswa yang berpacaran, berperilaku cenderung mengikuti peran dari teman sebaya. Remaja mengatakan mengkomunikasikan ide-ide, dan bagaimana bertindak dilingkungan sehari-hari. Wawancara ini juga dilakukan dengan 7 orang siswa lain, 5 diantaranya sudah berpacaran, berpelukan. Sedangkan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana proses peer pressure terhadap perilaku seksual remaja di SMK X di Batam Tahun 2025. keputusannya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Ketika AuSejauh mana tekanan temantemanmu keputusanmu tersebut? Kalau 0100 kira-kira berapa angkanya?Ay dan jawaban R2 Au90 buAy. Atau contoh percakapan lainnya AuKalau gak pacaran dibilang gak laku, atau dikira gak gaul. Jadi ya ikut-ikutan. Ay (R8, perempuan, 16 AuTeman-teman suka nyuruh buat nunjukin sayang ke pacar, kayak peluk atau cium. Ay (R2, laki-laki, 15 Sebagian kecil informan . tertekan, tetapi mengakui bahwa pengaruh sosial yang kuat dari lingkungan pertemanan mereka. Metode Penelitian pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam terhadap 20 siswa dan 1 guru Bimbingan Konseling sebagai informan. Data wawancara dan telah dilaksanakan di SMK X di Batam. Hasil Penelitian Tekanan teman sebaya . eer Hasil wawancara terhadap 20 siswa kelas X menunjukkan bahwa mayoritas informan . dari 20 sisw. mengakui adanya tekanan dari teman sebaya dalam berbagai bentuk. Tekanan tersebut muncul dalam bentuk dorongan merendahkan, atau ajakan untuk mengikuti perilaku kelompok, hubungan romantis dan aktivitas seksual ringan. Tekanan ini sering langsung, namun memengaruhi perilaku siswa agar menyesuaikan diri dengan standar kelompok. Dalam pengambilan keputusan romantis dengan lawan jenis responden juga terpengaruh peer pressure seperti pada R2 yang mengaku bahwa peer pressure Lingkungan pergaulan Lingkungan pergaulan siswa kelas X di SMK X di Batam digambarkan oleh informan sebagai lingkungan yang terbuka terhadap hubungan Sebanyak 18 dari 20 siswa menyatakan bahwa memiliki dianggap "biasa" dan Aulumrah. Ay Pacaran bukan hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi simbol status sosial dalam Lingkungan pergaulan seksual remaja di SMK X di Batam. Contohnya penasaran dengan video dewasa karena pembahasan terkait video berbincang-bincang. Bahkan pembahasan seputar seks ini dijadikan candaan, tantangan atau sekedar bertukar cerita yang secara memperngaruhi perilaku seksual AuKalau gak punya pacar kayaknya gak keren. Semua teman deketku Ay (R10, perempuan, 16 AuLingkungan sekolah itu ngaruh banget, ada geng cewek yang semua udah punya pacar. Ay (R5, laki-laki, 15 tahu. Namun pergaulan yang terlalu bebas karena merasa tidak nyaman dengan norma kelompok tersebut. AuPernah bu, sama si A saya pernah bahas video porno tapi ya karena penasaran aja bukan karena pingin lakuin gitu bu kami carinya di X buAy. (R1, perempuan, 15 tahu. Perilaku seksual remaja Dari 20 siswa, 15 orang mengaku pernah melakukan kontak fisik dalam hubungan romantis seperti berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Beberapa siswa perilaku seksual yang lebih jauh, meskipun belum tentu disetujui atau diinginkan. Informasi ini menunjukkan bahwa sebagian perilaku seksual ringan sudah terjadi di kalangan remaja. AuCiuman sama pacar pernah, tapi cuma iseng-iseng. Teman juga pada cerita pernah kayak gitu. Ay (R14, laki-laki, 16 tahu. AuAku diajak lebih dari itu, tapi aku Tapi Ay (R6, perempuan, 15 Sementara kemungkinan karena tekanan lingkungan yang terus menerus. Analisis sikap lebih dalam mengenai bagaimana proses peer seksual remaja Analisis wawancara menunjukkan bahwa proses peer pressure berjalan Tekanan tidak muncul dalam melainkan melalui internalisasi norma kelompok, keinginan untuk diterima, dan takut dikucilkan. dari 20 informan menyebutkan mengikuti arus karena tidak ingin terlihat berbeda atau aneh di antara teman-temannya. AuKadang aku mikir dua kali, ini mauku atau karena teman semua kayak gitu. Ay (R17, perempuan, 16 AuPas awalnya aku gak setuju, tapi lama-lama ngerasa biasa aja karena lingkungan. Ay (R3, laki-laki, 15 tahu. Beberapa siswa juga menolak merasakan konflik batin antara prinsip pribadi dan ekspektasi Hal ini menunjukkan memengaruhi proses pengambilan maupun psikologis. Peer pressure terhadap perilaku seksual remaja Secara umum, peer pressure berperan besar dalam membentuk lingkungan sekolah. Dari 20 informan, 12 siswa menyatakan secara eksplisit bahwa mereka dalam relasi karena merasa ditekan atau ingin menyesuaikan diri dengan norma kelompok. Sebanyak 6 siswa menyatakan memiliki prinsip tertentu, tetapi mempertahankannya karena takut dianggap berbeda. Hanya 2 siswa mempertahankan sikap dengan percaya diri. AuAku tahu itu salah, tapi ya semua teman deketku juga pernah, jadi aku pikir ya udah. (R11, perempuan, 16 tahu. AuTeman ngajak-ngajak bilangnya bukti cinta. Aku bingung Ay (R7, laki-laki, 15 Beberapa siswa menyebutkan pentingnya speran guru BK atau pendidikan seks untuk membantu mereka memahami batasan dan berdiskusi dengan nyaman. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa di SMK X Batam . %) mengalami tekanan teman sebaya baik dalam bentuk Tekanan ini sering muncul melalui dorongan verbal, candaan yang langsung untuk menyesuaikan diri hubungan romantis. Hal ini terhadap perkembangan jiwa dan Informasi yang diperoleh dari lingkungan pertemanan sering kali memberikan dorongan kuat bagi remaja dalam menentukan sikap dan cara mereka berinteraksi dengan pasangannya. Lingkungan pergaulan di sekolah ditemukan sangat permisif, di mana 90% siswa menganggap memiliki pacar adalah hal lumrah kedewasaan atau status sosial. Fenomena ini menciptakan kondisi di mana remaja tanpa pasangan sehingga mereka terdorong untuk menjalin hubungan asmara hanya agar diterima oleh kelompoknya. Dukungan dan lingkungan teman sebaya memang menjadi salah remaja, terutama saat mereka mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis. Proses pembentukan norma-norma kelompok yang dianggap sebagai standar perilaku di lingkungan Proses terjadinya tekanan teman terungkap berlangsung secara bertahap dan halus, bukan selalu melalui paksaan fisik yang kasar. Remaja cenderung mengikuti arus keinginan kuat untuk diterima dan ketakutan akan dikucilkan jika memiliki prinsip yang berbeda dari teman-temannya. Kondisi mengalami konflik batin antara nilai-nilai pribadi yang mereka anut dengan ekspektasi sosial Ketidakmampuan untuk mempertahankan prinsip pribadi di hadapan tekanan sosial pengambilan keputusan remaja masih sangat dipengaruhi oleh faktor emosional dan psikologis Tingginya tekanan teman sebaya tersebut berkorelasi langsung dengan perilaku seksual remaja, di mana 75% informan perilaku seksual ringan seperti "pembuktian Bahkan, tersebut dilakukan karena adanya dorongan atau tekanan dari teman maupun pasangan, bukan murni keinginan pribadi. Temuan ini sebelumnya yang menyatakan antara peran teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada Selain itu, lingkungan yang sering membahas atau berbagi konten pornografi turut memicu rasa penasaran yang memengaruhi perilaku seksual Temuan mengkhawatirkan adalah lebih dari separuh siswa . %) tidak menyadari sepenuhnya bahwa tertentu telah dipengaruhi oleh Hal kesadaran diri dan kurangnya keterampilan asertif remaja dalam menolak tekanan sosial yang Oleh dukungan positif dan pendidikan seks yang akurat dari pihak sekolah melalui guru Bimbingan Konseling (BK) sangat diperlukan memahami batasan yang sehat. Intervensi ini diharapkan dapat primer dalam mengurangi perilaku seks bebas dan risiko penyakit menular seksual di kalangan Kesimpulan Berdasarkan hipotesis, dan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab-bab penelitian ini sebagai berikut: Mayoritas siswa kelas X di SMK X Batam . %) mengalami tekanan teman sebaya, baik nonverbal, yang mendorong kelompok, khususnya terkait pacaran dan interaksi fisik dengan pasangan. Lingkungan sosial di SMK X Batam terhadap relasi romantis, di mana 90% siswa menganggap memiliki pacar sebagai hal yang wajar dan simbol kedewasaan, terpinggirkan dalam pergaulan. Sebanyak 75% siswa mengaku pernah melakukan perilaku berpelukan, berciuman, dan bergandengan tangan, yang umumnya dilakukan sebagai bentuk Aupembuktian cintaAy serta dipengaruhi oleh dorongan dari pasangan maupun tekanan lingkungan pertemanan. Proses peer pressure terhadap berlangsung secara bertahap, dimulai dari ajakan ringan, pembandingan antar teman, dalam hubungan pacaran, yang mengalami konflik batin antara prinsip pribadi dan tekanan Lebih dari separuh siswa . %) perilaku seksual tertentu karena tekanan teman atau pasangan, bahkan beberapa di antaranya Rekomendasi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu kebidanan dengan pencegahan perilaku seksual pada remaja. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi tahap awal pencehagan primer perilaku seks bebas pada remaja sehingga penyakit menular seksual pada Lebih lanjut, penelitian inidiharpkan dapat memperkaya literatur literatur dan menjadi masukan yang bermakna dan kebidanan dan tenaga kesehatan lainnya mengenai peer pressure terhadap perilaku seksual pada Terakhir, penelitian ini literatur referensi yang tersedia, mengembangkannya lebih lanjut dengan menggunakan desain Pendekatan mixed methods unutk meningkatkan validitas data. Referensi