JPKM Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat https://jurnal. stikes-bhm. id/index. php/jpkm Corresponding Author. email address : nur. rohmahpri@gmail. Received : 22 Oktober 2025 Revised : 14 Februari 2026 Accepted : 22 April 2026 Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Anak di Kabupaten Banjar Nur Rohmah Prihatanti. Norlaila Sofia. Noor Adha Aprilea Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Indonesia ABSTRAK Stunting adalah kegagalan pertumbuhan linier kronis akibat interaksi kekurangan gizi kronik, infeksi berulang, serta kondisi lingkungan dan sosial selama periode kritis perkembangan. Prevalensi stunting nasional adalah 21,6% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi stunting sebesar 24,6% dan di Kabupaten Banjar mencapai 27,4%. Kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar anak dapat menjadi indikator apakah anak mengalami stunting. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional, dengan populasi semua ibu yang memiliki anak di bawah lima tahun dan sampel 30 ibu dari Kabupaten Banjar yang memiliki anak berusia 12Ae24 bulan melalui pengambilan sampel secara acak sesuai kriteria. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2025 dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square dengan signifikansi p <0,05 ( = 0,. Hasil temuan, 70% ibu menunjukkan praktik pengasuhan yang baik dan 30% kurang baik. Sebanyak 40% anak diketahui mengalami Hubungan antara gaya pengasuhan dan stunting secara statistik signifikan . = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk menghindari stunting dipengaruhi oleh kualitas kebiasaan pengasuhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mencegah stunting, praktik pengasuhan harus ditingkatkan, termasuk lebih memperhatikan anak, memberi lebih banyak stimulasi, dan mengedukasi orang tua. Kata kunci: Pola Asuh. Stunting. Anak. The Relationship Between Parenting Patterns and the Incidence of Stunting in Children in Banjar District ABSTRACT Stunting is a chronic linear growth failure resulting from the interaction of chronic malnutrition, recurrent infections, and environmental and social conditions during critical periods of development. The national prevalence of stunting was 21. 6% based on the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI). South Kalimantan Province has a stunting prevalence of 24. 6% and Banjar Regency reaches 27. ParentsAo ability to meet their childrenAos basic needs can be an indicator of whether a child is stunted. This study used a cross-sectional design with observational approach, involving all mothers with children under five as the study population, and a sample of 30 mothers from Banjar Regency who had children aged 12Ae24 months selected through random sampling based on predefined criteria. This study was conducted in March 2025, with data collected using questionnaires and analyzed using the chi-square test with a significance threshold of p < 0. 05 ( = 0. The findings showed that 70% of mothers demonstrated good parenting practices and 30% demonstrated poor practices. As many as 40% of children were found to be stunted. The relationship between parenting style and stunting was statistically significant . = 0. This indicates that efforts to prevent stunting are influenced by the quality of parenting habits. The study concludes that improving parenting habits is essential to prevent stunting, including providing more attention to children, offering greater stimulation, and educating parents. Keywords: Parenting Patterns. Stunting. Children. DOI : 10. 47575/jpkm. 824 | VOL. 7 NO. 1 APRIL 2026 | ISSN (Onlin. : 2774-8502 | Page : 1-9 This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Prihatanti dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Anak PENDAHULUAN Stunting adalah kegagalan pertumbuhan linier kronis akibat interaksi kekurangan gizi kronik, infeksi berulang, dan kondisi lingkungan atau sosial selama periode kritis perkembangan. Sebagai masalah gizi, stunting memiliki konsekuensi luas terhadap kualitas dan daya saing sumber daya manusia di masa mendatang. Gangguan dalam perkembangan otak, termasuk penurunan kapasitas belajar, rentang perhatian, dan daya ingat, adalah kemungkinan akibat bagi anak-anak yang mengalami stunting selama seribu hari pertama kehidupan . 0 HPK). Kekurangan gizi kronis pada awal kehidupan juga dapat menghambat perkembangan struktur dan fungsi otak sehingga mempengaruhi prestasi akademik dan capaian pendidikan di kemudian hari. Dampak tersebut berlanjut hingga usia produktif, dimana individu yang mengalami stunting cenderung memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang lebih rendah, sehingga berpengaruh terhadap peluang kerja dan pendapatan. Seorang anak dikatakan mengalami stunting jika mengalami kekurangan gizi jangka panjang, tinggi badan anak jauh di bawah rata-rata untuk usianya. Seribu Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK), yang dimulai selama kehamilan dan berakhir pada usia dua tahun, adalah periode yang paling rentan terhadap kekurangan gizi jenis ini. Pada fase ini, kekurangan zat gizi esensial dapat menghambat pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan kognitif anak. Penentuan status stunting dilakukan dengan menilai tinggi badan anak berdasarkan umur (TB/U). Seorang anak dikategorikan mengalami stunting apabila hasil pengukuran menunjukkan nilai kurang dari Oe2 standar deviasi (Oe2 SD) dibandingkan dengan standar pertumbuhan anak yang ditetapkan oleh WHO (Kemenkes RI, 2024. Saleh dkk. Tingkat stunting di bawah 20% dianggap ideal oleh World Health Organization (WHO). Namun demikian. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi 24,6%, yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, sebagaimana dilaporkan dalam Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Di antara kabupaten-kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten Banjar memiliki angka stunting yang cukup tinggi, terutama pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Prevalensi stunting di Kabupaten Banjar mencapai 27,4%, melampaui angka nasional yang berada pada 21,6%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Banjar masih menghadapi tantangan besar dalam menurunkan stunting terutama yang disebabkan oleh faktor non gizi langsung seperti pola asuh (Kementerian Kesehatan RI, 2023. Munira. Thohir & Zainuddin, 2. Stunting dapat disebebkan oleh beberapa faktor yang telah dikategorikan oleh United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF) yaitu penyebab langsung . eperti konsumsi makanan dan penyakit menula. atau tidak langsung . eperti pola pengasuhan, aksesibilitas makanan, sanitasi, dan layanan kesehata. Pola pengasuhan merupakan salah satu elemen terpenting dalam menentukan kondisi gizi dan kesehatan anak. Apabila kebutuhan fisik maupun emosional anak tidak terpenuhi secara optimal, kondisi tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap status gizi, kesehatan, serta proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. (Aminin dkk. , 2022. UNICEF Indonesia, 2. Pola asuh berpengaruh besar terhadap pertumbuhan anak karena berkaitan dengan pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua . hususnya ib. dalam pemberian makanan, stimulasi psikososial, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pola asuh yang baik mencakup pengasuhan yang hangat dan responsif, aturan yang konsisten, disiplin positif tanpa kekerasan, stimulasi kognitif lewat permainan dan bacaan, perhatian pada gizi dan kesehatan, serta memberi teladan sekaligus mendorong kemandirian sesuai usia. Pendekatan tersebut membuat anak merasa aman, berkembang secara emosional dan intelektual, serta belajar keterampilan sosial dan pengaturan diri karena orang tua bertindak sebagai pendamping yang tegas namun penuh Sebaliknya, pola asuh yang tidak baik seperti keterlambatan pemberian makanan tambahan, tidak melakukan inisiasi menyusu dini, atau tidak memberikan ASI eksklusif sehingga dapat meningkatkan risiko stunting. Selain faktor gizi, tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga juga mempengaruhi kualitas pola asuh. Di beberapa Kecamatan di Kabupaten JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 7. 2026: 1-9 | 3 Banjar, seperti Martapura dan Astambul, kondisi sosial ekonomi yang bervariasi serta keterbatasan akses informasi gizi menyebabkan praktik pengasuhan tidak selalu sesuai dengan rekomendasi kesehatan anak. Sedangkan kondisi sosial ekonomi Kabupaten Banjar tergolong lebih baik dibandingkan Kabupaten lain di Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu indikator yang mencerminkan kondisi ini adalah persentase penduduk miskin di Kabupaten Banjar yang sangat rendah yaitu 2,3% dari total populasi (Aboka dkk. , 2024. Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, 2022. Kementerian Kesehatan RI, 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga memperlihatkan hubungan yang signifikan antara pola asuh dan stunting dengan aspek yang diukur mencakup pola pemberian makan, perawatan kesehatan, kebersihan serta sanitasi, stimulasi dan pengasuhan psikososial. Menurut Fitriani dkk. , ibu yang menggunakan teknik pengasuhan yang efektif mengurangi risiko stunting pada anak mereka dibandingkan dengan ibu yang menggunakan teknik pengasuhan yang buruk. Selain itu, beberapa hal memengaruhi gaya pengasuhan, termasuk norma budaya, tingkat pendidikan orang tua, dan kebiasaan daerah. Dengan mempertimbangkan tingginya prevalensi stunting serta pentingnya peranan pola asuh orang tua, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting pada anak di Kabupaten Banjar. METODE PENELITIAN Desain cross-sectional digunakan dalam studi observasional analitik ini. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2025 di wilayah kerja Puskesmas Astambul Kabupaten Banjar. Setiap ibu yang anaknya berusia kurang dari lima tahun merupakan populasi penelitian. Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki anak berusia 12Ae24 bulan. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 responden dan telah memenuhi batas minimal kelayakan Penetapan dengan pendekatan simple random sampling berdasar kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan sebelumnya. Kriteria inklusi meliputi penduduk wilayah penelitian, ibu dari anak-anak berusia 12Ae24, serta memberikan izin tertulis dan informasi lengkap . nformed Kelainan bawaan atau gangguan kronis yang dapat memengaruhi pertumbuhan merupakan kriteria eksklusi. Kejadian stunting merupakan variabel dependen, sedangkan pola asuh merupakan variabel independen. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi p < 0,05 ( = 0,. Izin etik penelitian telah diberikan oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin nomor 134/KEPK-PKB/2025. Tabel 1 Karakteristik Responden Karakteristik Paritas Melahirkan <2 dan >3 kali Melahirkan 2-3 kali Pendidikan Dasar (SD dan SMP) Menengah (SMA) Usia <20 tahun dan >35 tahun 20-35 tahun Total Sumber: Data Primer Diolah, 2025 Prihatanti dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Anak HASIL DAN PEMBAHASAN Studi ini mengkaji hubungan antara pola asuh dan kejadian stunting pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Astambul Kabupaten Banjar. Karakteristik responden yang terlibat dalam penelitian ditampilkan pada tabel 1. Hasil dari 30 responden, berdasar kriteria paritas, mayoritas ibu telah melahirkan dua atau tiga kali. Mayoritas ibu yang berpartisipasi telah menyelesaikan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Dari segi usia, mayoritas dalam kelompok usia 20 hingga 35 tahun. Pola pengasuhan orang tua dan prevalensi stunting pada anak-anak ditampilkan pada Tabel 2. Berdasar tabel 2, hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden telah menerapkan pola asuh baik, yaitu sebanyak 21 orang . %). Temuan penelitian ini mengindikasikan mayoritas orang tua telah mengaplikasikan pola pengasuhan yang mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara optimal. Pola asuh yang baik tersebut mencakup pemberian makanan yang sesuai serta stimulasi psikososial yang memadai. Selain itu, hasil analisis juga mengungkapkan bahwa kejadian stunting pada anak usia 1-2 tahun ditemukan pada 12 anak . %), sementara 18 anak . %) termasuk dalam kategori tidak stunting. Data memperlihatkan bahwa mayoritas anak mengalami pertumbuhan normal, meskipun masih terdapat proporsi yang cukup besar dari anak yang mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi tersebut diperkuat melalui studi Pangestu dkk. yang menunjukkan bahwa berdasarkan data penelitian Mei hingga Juni 2024 di Kabupaten Paiton, balita yang paling rentan terhadap stunting berusia antara 12-24 bulan, dengan 51 anak terdampak atau 34,9% dari seluruh kasus. Kelompok usia ini merupakan periode penting yang sangat rentan terhadap pertumbuhan terutama dalam dua tahun pertama kehidupan. Kekurangan gizi dan infeksi pada fase ini dapat menyebabkan stunting apabila tidak ditangani secara tepat. Oleh karena itu, upaya intervensi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan selama dua tahun pertama kehidupan menjadi periode yang penting ketika melakukan pencegahan stunting. Tabel 3 menampilkan hasil analisis mengenai hubungan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting pada anak usia 12Ae24 Didapatkan p-value senilai 0,034 . < 0,. yang menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pola pengasuhan dan kejadian stunting pada anak. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pola pengasuhan sangat mempengaruhi kondisi gizi dan perkembangan anak. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua dan Status Stunting Anak Karakteristik Pola Asuh Orang Tua Baik Tidak Baik Status Stunting Anak Stunting Tidak Stunting Jumlah Sumber: Data Primer Diolah, 2025 Tabel 3 Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Kejadian Stunting pada Anak Kejadian Stunting pada anak Variabel p-value Stunting Tidak Stunting Pola Asuh Orang Tua Baik 33% 21 100% 0,034 Tidak Baik Sumber: Data Primer Diolah, 2025 JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 7. 2026: 1-9 | 5 Hasil ini sejalan dengan penelitian Rahayu & Sulastri . bahwa pola asuh tipe demokratis dapat menurunkan risiko stunting sebanyak 35%. Putri & Handayani . juga menemukan korelasi yang kuat antara gaya pengasuhan dan kejadian stunting . = 0,. Kementerian Kesehatan RI . juga menekankan perlunya mendorong praktik pengasuhan positif sebagai upaya memerangi stunting secara nasional. Pencegahan stunting lebih efektif bila menargetkan 1000 hari pertama kehidupan melalui kombinasi intervensi gizi spesifik . uplementasi dan pemberian maka. , intervensi sensitif gizi . erlindungan sosial dan pendidikan ib. , pengendalian infeksi dan stimulasi perkembangan. Thayeb dkk. menjelaskan bahwa ada hubungan yang kuat antara praktik pengasuhan ibu dan terjadinya stunting pada anak-anak di wilayah kerja Puskesmas Singaparna, dengan nilai p sebesar 0,000 . <0,. , yang konsisten dengan hasil penelitian Temuan tersebut mengindikasikan pola asuh yang tergolong baik berkaitan dengan tingkat kejadian stunting yang lebih rendah. Sebaliknya, pola asuh ibu yang kurang baik berkorelasi dengan meningkatnya angka kejadian stunting. Kondisi tersebut memperlihatkan pola asuh dengan kategori baik berkorelasi dengan angka stunting yang lebih rendah, sedangkan kurang baiknya pola asuh ibu berkorelasi dengan angka stunting yang lebih tinggi. Pola asuh mempengaruhi stunting karena orang tua yang penuh perhatian, terutama ibu, menyediakan makanan bergizi serta perawatan kepada anak, dengan mendukung status gizi dan mengurangi risiko stunting. Penelitian yang dilakukan di wilayah Kalimantan Selatan juga menunjukkan bahwa kurang optimalnya pola asuh mampu menaikkan risiko terjadinya stunting pada Temuan dari beberapa penelitian tersebut mendukung teori yang menyatakan bahwa praktik pemberian makan, perawatan kesehatan, serta kebersihan lingkungan merupakan faktor langsung yang mempengaruhi pertumbuhan Namun demikian, terdapat pula beberapa penelitian yang melaporkan bahwa pola asuh tidak selalu memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Perbedaan temuan ini kemungkinan disebabkan oleh variasi karakteristik responden, seperti tingkat pendidikan ibu, kondisi sosial ekonomi, serta akses terhadap fasilitas kesehatan di masing-masing lokasi penelitian. Selain itu, perbedaan metode pengukuran pola asuh, jumlah sampel, serta desain penelitian juga dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Pada lokasi penelitian ini, meskipun mayoritas ibu memiliki pola asuh tergolong baik, masih ditemukan kasus stunting. Kondisi tersebut memperlihatkan pola asuh bukan satu-satunya faktor penentu, melainkan berinteraksi dengan faktor lain seperti ketahanan pangan rumah tangga, sanitasi lingkungan, serta riwayat infeksi berulang. Dengan demikian, perbedaan maupun persamaan hasil penelitian dengan studi lain perlu dipahami dalam konteks karakteristik populasi, kondisi lingkungan, dan pendekatan metodologi yang digunakan (Qatrunnada dkk. , 2. Pola pengasuhan orang tua terutama terkait pemberian makanan, perawatan kesehatan, dan stimulasi emosional memegang peranan krusial ketika menentukan status gizi serta mencegah stunting. Stimulasi dan kasih sayang yang konsisten, makanan yang sehat dan seimbang, serta kebiasaan kebersihan yang tepat adalah semua komponen dari perawatan yang baik. Orang tua yang memiliki pengetahuan gizi memadai dan menerapkan pengasuhan responsif cenderung lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak sehingga mendukung pertumbuhan optimal. Sebaliknya, praktik pengasuhan yang kurang tepat seperti pemberian makanan pendamping yang terlambat, tidak melakukan inisiasi menyusui dini, atau tidak memberikan ASI eksklusif meningkatkan risiko kekurangan gizi kronis dan stunting (Aprilea dkk. , 2024. Hidayat & Nurhayati, 2. Pola asuh yang baik mampu mencegah kebutuhan nutrisi terpenuhi, mengurangi infeksi yang mengganggu penyerapan psikososial pada periode kritis pertumbuhan sehingga mendukung pertumbuhan linear Pada 1000 hari pertama kehidupan . Prihatanti dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Anak masa kehamilan sampai usia 2 tahu. selAcsel tulang dan jaringan berkembang dengan cepat sehingga kekurangan energi, protein, atau mikronutrien . at besi, zinc, vitamin A) serta infeksi berulang dapat mengganggu pembelahan sel dan metabolisme sehingga menyebabkan tinggi badan yang lebih pendek permanen. Praktik pola asuh yang baik termasuk nutrisi ibu selama hamil. ASI eksklusif 0Ae6 bulan, pengenalan makanan pendamping bergizi sejak 6 bulan, pemberian makanan kaya protein dan mikronutrien, pemberian vaksinasi lengkap, perawatan cepat saat sakit, serta kebersihan dan sanitasi yang baik untuk mencegah diare dan kondisi subklinis seperti Environmental Enteric Dysfunction (EED). Kondisi ini dapat mengakibatkan kehilangan dan malabsorpsi nutrisi, perawatan responsif dan stimulasi kognitif atau emosional, menurunkan stres kronis . yang dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan nafsu makan, serta kepatuhan makan. Sementara pengetahuan orang tua dan akses layanan kesehatan memperkuat semua intervensi ini. UNICEF menekankan bahwa intervensi gizi terpadu, pencegahan penyakit, dan stimulasi perkembangan lebih efektif menurunkan risiko stunting daripada tindakan tunggal (UNICEF. Pola asuh mengacu pada cara orang tua berinteraksi, membimbing, dan mengawasi anak sepanjang proses perkembangan pribadi dan sosialnya. Di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa pola asuh orang tua umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, yang mencerminkan praktik pengasuhan yang sudah berjalan namun belum selalu optimal dan efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, kebiasaan perawatan/ pemberian makan, pemanfaatan layanan kesehatan, serta kondisi lingkungan seperti sanitasi dan akses air bersih, dengan pengasuhan yang juga kuat dipengaruhi dukungan keluarga besar dan nilai budaya Banjar (Qatrunnada dkk. , 2. Mayoritas pola asuh yang berada pada kategori baik di lokasi penelitian menunjukkan bahwa secara umum ibu telah memiliki pemahaman dan praktik pengasuhan dasar yang memadai, terutama terkait penyediaan makanan, pemanfaatan pelayanan kesehatan, serta perawatan sehari-hari anak. Kondisi ini berhubungan dengan karakteristik responden, seperti tingkat pendidikan menengah, dan usia produktif yang mempermudah menerima serta memahami informasi kesehatan. Selain itu, apabila mayoritas ibu berstatus sebagai ibu rumah tangga, maka ketersediaan waktu untuk mengasuh anak secara langsung turut berkontribusi pada konsistensi praktik Dukungan keluarga besar yang masih kuat di masyarakat juga dapat memperkuat pengawasan dan perawatan Namun demikian, masih ditemukan kejadian stunting di lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh yang tergolong baik belum sepenuhnya mampu mencegah gangguan pertumbuhan. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya faktor lain yang berinteraksi, misalnya keterbatasan kualitas dan keragaman pangan, kondisi sanitasi lingkungan, riwayat infeksi berulang, serta faktor sosial ekonomi keluarga. Dengan kata lain, pola asuh yang baik merupakan faktor protektif, tetapi dampaknya terhadap pencegahan stunting sangat dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan sumber daya keluarga. Oleh karena itu, intervensi pencegahan stunting tidak cukup hanya meningkatkan praktik pengasuhan, tetapi juga perlu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, akses sanitasi layak, serta pencegahan penyakit infeksi agar pertumbuhan anak dapat optimal (UNICEF. World Health Organization, 2. Pada prinsipnya pola asuh orang tua merupakan perpaduan antara tingkat tuntutan dan responsivitas terhadap kebutuhan anak, yang kemudian membentuk berbagai pola pengasuhan yang memengaruhi pertumbuhan serta perkembangan anak dengan cara yang Baumrind . mengklasifikasikan pola asuh menjadi tiga tipe utama, yaitu pola asuh demokratis, otoriter, dan permisif (Dewi. Pada pola asuh demokratis, orang tua menetapkan aturan yang jelas namun tetap memberi kebebasan kepada anak, menghargai pendapat anak dan memberikan penjelasan atas Anak tumbuh percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab. Sehingga anak cenderung memiliki pertumbuhan normal karena orang tua aktif memberikan perhatian terhadap kebutuhan JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 7. 2026: 1-9 | 7 gizi, kebersihan, dan kesehatan anak. Pola asuh demokratis paling mendukung pencegahan stunting karena orang tua responsif terhadap kebutuhan anak, terbuka terhadap informasi kesehatan, serta aktif mencari layanan gizi dan imunisasi. Anak mendapat pola makan yang sesuai dan perhatian positif sehingga pertumbuhannya optimal. Pada pola asuh otoriter, orang tua menuntut kepatuhan mutlak tanpa memberi ruang berdiskusi dan hukuman sering digunakan sebagai kontrol. Orang tua terlalu menuntut tanpa memahami kebutuhan anak, misalnya memaksa makan tanpa memperhatikan keseimbangan gizi. Akibatnya, asupan gizi bisa kurang tepat dan anak cenderung merasa tertekan, yang memengaruhi nafsu makan dan kesehatan secara keseluruhan. Anak lebih berisiko mengalami stunting akibat tekanan psikologis dan kurangnya komunikasi dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi. Pada pola asuh permisif, orang tua sangat hangat tetapi minim kontrol atau aturan. Anak dibiarkan mengambil keputusan sendiri. Anak dibiarkan makan sesuai keinginannya tanpa arahan orang Akibatnya, anak bisa kurang disiplin, sulit mengendalikan diri, pola makan tidak teratur, asupan gizi sering kurang seimbang, dan risiko stunting meningkat (Dewi, 2022. Hidayat & Nurhayati, 2023. Noorhasanah & Tauhidah. Pola asuh yang baik pada anak dapat dilakukan melalui beberapa aspek. Aspek pemberian nutrisi seimbang dapat berupa memberikan makanan bergizi bervariasi serta memastikan waktu makan yang teratur dan suasana menyenangkan. Aspek kasih sayang dan kedekatan emosional dapat berupa memeluk, menatap mata anak saat berbicara, dan memberikan pujian ketika anak berperilaku baik agar ia merasa aman dan dihargai. Aspek stimulasi motorik dan kognitif dapat dilakukan dengan mengajak bermain sederhana seperti menyusun balok, menggambar, bernyanyi, menghitung benda, atau membaca buku bergambar bersama dan memberi kesempatan Aspek kemandirian bertahap dapat dilakukan dengan membiarkan anak mencoba memakai baju sendiri, membereskan mainan, atau memilih camilan sehat dan semua diajarkan dengan sabar tanpa memaksa. Aspek disiplin positif terdiri dari menetapkan aturan yang jelas dengan bahasa yang sederhana, menjelaskan alasan aturan tersebut, dan menghindari hukuman fisik atau teriakan. Praktik kesehatan dan kebersihan meliputi memastikan menjaga kebersihan makanan, cuci tangan sebelum makan, serta secara rutin membawa anak-anak ke Posyandu (Dewi, 2022. Pangestu dkk. Penerapan pola asuh yang baik dan efektif memerlukan keseimbangan antara pengawasan, responsivitas, serta kehangatan dari orang tua. Pada persoalan tersebut, orang tua diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar anak yang meliputi asupan nutrisi yang cukup, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta dukungan terhadap tahapan pertumbuhan serta perkembangan anak. Pola asuh secara responsif, demokratis, dan penuh kasih sayang memiliki peran penting dalam upaya pencegahan stunting, karena dapat memastikan anak memperoleh nutrisi yang memadai, keterlibatan emosional yang positif, serta perawatan yang sesuai. Penerapan pola asuh secara baik juga berkontribusi pada kestabilan emosional anak, meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan pengendalian diri, serta mendorong prestasi dan hubungan sosial yang Kondisi tersebut juga dapat membantu menurunkan risiko munculnya berbagai masalah perilaku maupun gangguan kesehatan mental pada anak (Hidayat & Nurhayati, 2023. Noorhasanah & Tauhidah, 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting pada anak di Kabupaten Banjar, dengan p-value sebesar 0,034. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan pola asuh memiliki keterkaitan dengan kondisi kesehatan anak. Pola asuh yang baik cenderung berkaitan dengan tingkat kejadian stunting yang lebih rendah. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pola asuh orang Hal tersebut dapat dilakukan melalui pemberian perhatian yang lebih optimal kepada anak, stimulasi perkembangan yang tepat, serta peningkatan edukasi bagi orang . Prihatanti dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kejadian Stunting pada Anak tua mengenai pentingnya peran mereka dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan Selain itu, pemenuhan gizi dan kesehatan anak sejak usia dini menjadi aspek penting yang perlu diperkuat melalui edukasi gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan, dan akses pelayanan kesehatan yang memadai. Perbaikan kondisi lingkungan seperti ketersediaan air bersih, sanitasi yang baik, beserta lingkungan tempat tinggal yang sehat juga harus menjadi Pencegahan stunting memerlukan strategi multisektoral yang dimulai sejak kehamilan dan fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan . 0 HPK). Sehingga intervensi multidimensional yang melibatkan berbagai sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan lingkungan perlu diterapkan secara berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi stunting secara signifikan. Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Profil Kesehatan Kabupaten Banjar Tahun 2022. Banjar: Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. DAFTAR PUSTAKA