SOSFILKOM Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT OLEH KEPALA DESA DAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUM DESA) ARYA KAMUNING KADUELA MELALUI PENGEMBANGAN DESA WISATA (Studi Kasus Telaga Biru Cicerem Di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuninga. Fasya Izzatur Rahim. Sastra Abijaya. Universitas Muhammadiyah Cirebon fasyaizzaturrahim1932@gmail. sastraabijaya@umc. ABSTRAK Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemberdayaan masyarakat oleh Kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning Kaduela dalam pengembangan Desa wisata Telaga Biru Cicerem di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan. Adapun teknik dalam pengumpulan data ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang kemudian diiringi teknik snowball. Penelitian ini menggunakan teori pemberdayaan masyarakat menurut Totok Mardikanto yang didukung oleh tahap seleksi lokasi, tahap sosialisasi pemberdayaan masyarakat, tahap proses pemberdayaan masyarakat dan tahap pemandirian masyarakat. Kemudian teori pengembangan pariwisata menurut yang didukung oleh objek atau daya tarik wisata, sarana wisata, prasarana wisata, tata laksana atau infrastruktur dan peran masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberdayan masyarakat yang dilakukan oleh Kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning melalui pengembangan Desa wisata dilaksanakan di salah satu lokasi di Telaga Biru Cicerem di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan. berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tetapi ada beberapa indikator yang harus dievaluasi seperti di bagian tahap proses pemberdayaan masyarakat, untuk UMKMnya harus dipikirkan kembali produk makanan yang nantinya menjadi ciri khas asli Desa Kaduela. Kemudian terkait pengelolaan pada pengembangan wisatanya sudah baik dari segi pelayanan, keamanan dan lain sebagainya. Kata Kunci : Pemberdayaan masyarakat, pengembangan. Desa wisata ABSTRACT This research uses qualitative methods with descriptive research type. The aim of this research is to find out and describe community empowerment by the Village Head and BUM Arya Kamuning Kaduela Village in the development of the Telaga Biru Cicerem tourist village in Kaduela Village. Pasawahan District. Kuningan Regency. The techniques for collecting this data use observation, interviews and documentation techniques. The selection of informants in this research used a purposive sampling technique which was then accompanied by a snowball technique. This research uses the community empowerment theory according to Totok Mardikanto which is supported by the location selection stage, community empowerment socialization stage, community empowerment process stage and community self-reliance stage. Then the theory of tourism development is supported by tourist objects or attractions, tourist facilities, tourist infrastructure, management or infrastructure and the role of the community. The results of this research show that community empowerment carried out by the Village Head and BUM Arya Kamuning Village through the development of a tourist village was carried out at one of the locations at Telaga Biru Cicerem in Kaduela Village. Pasawahan District. Kuningan Regency. succeeded in improving people's standard of living. However, there are several indicators that must be evaluated, such as in the community empowerment process stage, for MSMEs, food products must be rethought which will become the original characteristic of Kaduela Village. Then, regarding the management of tourism development, it is good in terms of service, security and so on. Keywords : Community empowerment, development, tourist villages Diterbitkan oleh FISIP UMC SOSFILKOM PENDAHULUAN Potensi alam Indonesia sangat beragam, sehingga sektor pariwisata dapat mempertahankan dan melestarikan potensi alam mereka. Dalam hal pariwisata, ada beberapa provinsi di Indonesia yang memiliki tempat wisata yang lebih baik dibandingkan provinsi lainnya, tentu saja Indonesia adalah salah satu negara dengan kondisi geografis yang subur dan sumber daya alam yang melimpah, yang membuat setiap daerah memiliki karakteristik unik. Banyaknya wilayah yang memiliki keindahan alam yang sangat indah dan mengagumkan, masyarakat sekitar harus sadar akan potensi utama pariwisata Indonesia. Sehingga tidak kalah dengan keindahan alam di negara lain dan akan berdampak positif jika dikembangkan dengan baik. (Saputra, 2019 dalam Wahyuningsih Rani & Pradana Wahyu Galih 2021 : . Undang-undang no. tahun 2014 tentang Desa, menjabarkan bahwa Desa merupakan suatu kesatuan masyarakat hukum dengan batasan wilayah kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati pada sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (Prakoso Aditha Agung, 2022 : . Dengan disahkannya Undang-Undang Desa, sebuah Desa memiliki wewenang sepenuhnya untuk memutuskan bagaimana membangun desa mereka sendiri melalui musyawarah Desa. BUM Desa adalah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat Desa sesuai dengan potensi yang dimiliki setiap Desa kesejahteraan masyarakat Desa (Pratiwi Nadia Bela, 2022 : . Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang terdiri dari upaya kolektif yang dikombinasikan dengan Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 Pengembangan Desa wisata diharapkan mencapai keseimbangan berkelanjutan (Hakim, 2020 : . Konsep akomodasi, makanan dan minuman, serta kebutuhan wisata lainnya, adalah pembangunan wilayah. Di satu sisi. Pemerintah Daerah. Pemerintah Desa, dan masyarakat sangat tertarik pada pengembangan ekonomi lokal bersama dengan desentralisasi, yang akan memberi Pemerintah Daerah lebih banyak wewenang untuk berkembang. Masyarakat Indonesia mulai dengan membangun Desa wisata. Ini sudah sangat umum di Indonesia, dan seiring berjalannya waktu, orang-orang semakin kreatif untuk mengubah Desa mereka agar lebih dikenal oleh masyarakat umum dan bahkan oleh Negara lain. Banyak model wisata modern yang ingin menciptakan suasana wisata baru seperti kembali merasakan berinteraksi dengan masyarakat dan aktivitas sosial budayanya, yang menghasilkan banyak pariwisata di daerah pedesaan yang dikemas dalam bentuk Desa wisata (Pradana, 2021 : Saat ini. Desa wisata memiliki daya pikat yang kuat. Indonesia memiliki banyak tradisi dan kebudayaan yang berbeda, dan keindahan alam di setiap Desa memiliki sesuatu yang unik. Wisatawan pasti akan mengunjungi salah satu Desa wisata di Indonesia jika mereka ingin tahu tentang Prinsip utama yang diterapkan oleh Desa adalah bahwa nilai-nilai luhur tradisi dan kebudayaan yang sudah ada harus Konservasi lingkungan untuk mencegah habitatnya punah, atau prinsip ekowisata, adalah ide yang dapat digunakan saat ini. Telaga Biru Cicerem di Desa SOSFILKOM Kaduela merupakan salah satu wisata yang dikelola oleh BUM Desa Arya Kamuning. Sebelumnya wisata ini belum terlalu ramai dan belum terkenal seperti sekarang meskipun sudah beroperasi dari beberapa tahun yang lalu. Kini wisata Telaga Biru Cicerem sudah terkenal ke berbagai daerah, pejabat pemerintah publik figur, sampai viral di berbagai macam sosial Ridwan Kamil pun yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pun berkunjung ke wisata ini. Kemudian pada tanggal 10 November 2023 wisata ini didatangi oleh DPRD Provinsi Jawa Barat yang sedang melakukan kunjungan kerja. Selanjutnya, publik figur seperti Citra Kirana dan Ria Ricis pernah berkunjung ke wisata ini pada tahun 2023. Wisata ini mulai ramai dikunjungi dan maju semenjak pergantian Kepala Desa. Bapak H. Toyib selaku kepala Desa sangat mendukung kemajuan wisata ini dan memperkenalkan wisata ini ke berbagai pejabat pemerintah. Ada beberapa tahapan dalam pemberdayaan masyarakat mealui Desa dilakukan oleh Kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning dalam memajukan wisata ini. Dalam memajukan wisata ini BUM Desa Arya Kamuning mempunyai media internal yaitu pembuatan artikel terkait desa wisata Telaga Biru Cicerem dan bekerja sama dengan media eksternal seperti. Detik. Jelajah Desa. Tribun News dan Kompas agar wisata ini lebih diberbagai daerah. Bahkan wisata ini pernah menjadi juara ke 2 Desa maju / mandiri dalam lomba desa wisata Nusantara tahun 2023. Kemudian, ketua BUM Desa membuat peraturan untuk pedagang di wisata Telaga Biru Cicerem. Peraturan itu berisi larangan pedagang dari luar Desa Kaduela untuk berdagang di tempat wisata tersebut. BUM Desa memberdayakan masyarakatnya dengan hal perekonomian di Desa tersebut. BUM Desa Arya Kamuning, masyarakat setempat untuk bekerja di Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 wisata tersebut dan tidak merekrut karyawan dari luar Desa atau luar Desa Wisata Telaga Biru Cicerem merupakan salah satu wisata yang mempunyai Pendapatan Asli Desa (PA Des. terbesar se Kabupan Kuningan. Hal ini tentu saja berkat kerja keras BUM Desa Arya Kamuning dalam mengelola Desa Wisata ini dan dukungan dari Kepala Desa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Adapun teknik dalam pengumpulan data ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian ini dilakukan di Telaga Biru Cicerem di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan dan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Maret - 22 Maret 2024. Pemilihan menggunakan teknik purposive sampling yang kemudian diiringi teknik snowball Informan dalam penelitian ini berjumlah 15 Penelitian ini menggunakan teori pemberdayaan masyarakat menurut Totok Mardikanto yang didukung oleh tahap seleksi lokasi, pemberdayaan masyarakat, tahap proses pemberdayaan masyarakat dan tahap pemandirian masyarakat. Kemudian teori Suwantoro yang didukung oleh objek atau daya tarik wisata, sarana wisata, prasarana wisata, tata laksana atau infrastruktur dan peran masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberdayaan Masyarakat Dalam bagian pembahasan ini peneliti menggunakan pelaksanaan penelitian pemberdayaan masyarakat menggunakan teori menurut Totok Mardikanto. Adapun indikatorindikator yang digunakan dalam pemberdayaan masyarakat yaitu . SOSFILKOM sebagai berikut : Tahap Seleksi Lokasi Dalam pelaksanaan lokasi untuk pemberdayaan masyarakat. Kepala Desa Kaduela dan BUM Desa Arya Kamuning memilih 2 masyarakat yaitu di Telaga Biru Cicerem dan Side Land. Telaga Biru Cicerem yaitu wisata alam sedangkan Side Land yaitu kolam Meskipun ada 2 lokasi lagi yaitu Telaga Nilem dan Telaga Remis yang bisa menjadi tempat untuk pemberdayaan masyarakat, tetapi BUM Desa Arya Kamuning hanya mengelola 2 lokasi saja sebagai tempat pemberdayaan masyarakat yaitu di Telaga Biru Cicerem Side Land dikarenakan Telaga Nilem dan Telaga Remis dikelola oleh PDAU. Dalam penelitian ini peneliti melaksanakan penelitian hanya di satu lokasi saja yaitu di Telaga Biru Cicerem. Telaga Biru Cicerem pemberdayaan masyarakat karena terletak 200 M dari pusat pemerintahan Desa Kaduela dan wisatanya dekat dengan gedung BUM Desa Arya Kamuning. Selain itu lokasinya juga luas diberdayakan dengan menjadi pedagang di wisata tersebut. Tidak hanya berdagang, karena wisata memerlukan tenaga kerja wisata. Jadi diberdayakan dengan menjadi tenaga kerja wisata. Pada saat acara formal seperti musyawarah disetiap dusun atau Pemerintahan Desa memotivasi dan mengingatkan potensi yang ada di Desa Kaduela agar mendapatkan Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 aspirasi - aspirasi dari masyarakat. Pada saat kepemimpinan pak Iim selaku ketua BUM Desa Arya Kamuning ada kebijakan bagi semua masyarakat Desa Kaduela asli diperkenankan untuk berdagang dan bekerja di wisata Telaga Biru Cicerem. Karena adanya kebijakan seperti itu masyarakat jadi berpikir terkait potensi sumber daya alam yaitu Telaga Biru Cicerem ini bisa membuat pertumbuhan ekonomi. Mereka banyak yang mendaftar menjadi pedagang dan ada 45 pedagang yang mendaftar. Dulu mereka belum mengetahui terkait potensinya jadi masih sedikit yang berdagang dan belum ramai. Tetapi kini para pedagang sudah ramai. Bahkan kini yang bekerja itu dari mulai anak sekolah yang bekerja di masyarakat yang belum mempunyai pekerjaan dan pekerja serabutan. Tahap Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Sosialisasi masyarakat dimulai dari perencanaan dan sudah ada beberapa perencanaan dari Kepala Desa Kaduela dan BUM Desa Arya Kamuning. Proses ini telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh BUM Desa sebagai pengelola wisata di Telaga Biru Cicerem. Ada beberapa usaha yang dilakukan oleh Kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning dalam masyarakat selain diberdayakan melalui tenaga kerja wisata dan Ada pengelolaan home stay dirumah - rumah permukiman tempat peristirahatan wisatawan yang ingin menginap. Di home stay ini kebanyakan yang menginap para pengujung yang jarak tempat . SOSFILKOM tinggalnya jauh dari lokasi menuju Sehingga memungkinkan apabila dalam sehari pulang pergi. Kemudian ketika kedatangan wisatawan mengarahkan kepada wisatawan untuk membeli produk UMKM diseputaran Desa Kaduela masyarakatnya bertambah. Kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning dalam proses sosialisasi pemberdayaan masyarakat menjaga, merangkul dan mengajak masyarakat asli Kaduela untuk berdagang dan bekerja dengan memanfaatkan wisata Telaga Biru Cicerem. Karena mencari pekerjaan itu Karena, sekarang itu hampir semuanya harus memenuhi persyaratan terkait dengan batas ketentuan usia, jenjang pendidikan dan Masyarakat diberdayakan di wisata dan masyarakat menyadari bahwa bekerja itu tidak perlu merantau atau lokasinya yang jauh. Karena kalau merantau membutuhkan biaya untuk transportasi dan tempat tinggal seperti kotsan atau Tetapi jika mereka di Desa mereka bisa tinggal bersama keluarga dan tidak perlu tempat tinggal. Mereka juga bisa jalan kaki untuk menuju tempat Tahap Proses Pemberdayaan Masyarakat Proses pemberdayaan ini menghasilkan berbagai macam Masyarakat di Desa Kaduela bisa Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 menghasilkan UMKM ataupun menjadi tenaga kerja wisata. Pedagang yang ada diwisata Telaga Biru Cicerem berjumlah 45 pedagang. Mereka disediakan tempat untuk berdagang dan Para pedagang tidak dipungut biaya sewa, hanya ada biaya untuk kebersihan saja. Jenis UMKM yang dijual makanan dan minuman ringan dalam kemasan. Tetapi untuk produksi. Desa Kaduela sendiri mempunyai KWT (Kelompok Wanita Tan. mereka yang mengolah biji durian dan dimanfaatkan menjadi stik, keripik pisang, rempeyek, produksi dodol dan keripik KWT ini memanfaatkan buah Ae buahan serta tumbuhan lainnya untuk dijadikan makanan. Lalu ada makanan berat seperti ayam penyet. Jenis kuliner lainnya seperti bakso, mie ayam, siomay dan masih banyak lagi tersedia diarea wisata. Kemudian ada produk UMKM sejenis hand made dan handy cup yang diproduksi peorangan. Hand Made disini berupa aneka gelang, strap masker, phone strap, bros dan gelang manik. Beberapa aksesoris pun diperjual belikan di sekitar area Masyarakat di Desa Kaduela sangat kreatif sehingga jenis barang ataupun makanan yang dijual beraneka ragam. Pengunjung pun bisa membeli pakan ikan yang dijual untuk memberi makan ikan ikan yang ada di Telaga. Para pedagang ini banyak yang berjualan di hari weekend, tanggal merah dan libur anak sekolah. Karena dihari Ae hari tersebut pengunjungnya ramai. Berbagai macam lapangan pekerjaan yang dibuka di Telaga Biru Cicerem. Jenis pekerjaanya . SOSFILKOM petugas ticketing, petugas music, penjaga loket disetiap wahana, penjaga perahu, penjaga ayunan, pekerja bangunan dan masih banyak lainnya. Jadi diwisata itu tidak terfokus hanya satu bidang saja, melainkan berbagai macam Masyarakat bisa mendaftar bekerja sesuai kemampuan yang mereka Syarat bekerja disini hanya masyarakat asli Desa Kaduela. Para pekerja disini bergantian selama 2 Minggu sekali, jadi tidak semua para pekerja itu bekerja setiap hari. Tetapi bekerja berdasarkan jadwal yang sudah ditetapkan oleh BUM Desa Arya Kamuning. Para pekerja di wisata dimulai dari anak SMP yang berusia sekitar 14 atau 15 tahun hingga usia 50 tahun lebih. Dengan adanya lapangan pekerjaan ini bagi yang masih sekolah bisa memenuhi kebutuhan mereka dengan hasil upah yang didapat selama mereka bekerja meskipun mereka hanya bekerja dihari libur sekolah saja. Adanya berbagai macam pekerjaan pengangguran dan BUM Desa Arya Kamuning berhasil memberdayakan dengan hal ini. Tahap Pemandirian Setelah dilakukan proses pemilihan lokasi, proses sosialisasi pemberdayaan masyarakat dan proses pemberdayaan masyarakat. Diharapkan masyarakat Kaduela tidak ada lagi yang menganggur dan bisa hidup mandiri. Bagi yang sudah mendapatkan pendapatan, pendapatannya bisa bertambah. Kepala Desa sangat berpengaruh dalam kemajuan wisata ini, karena beliau banyak Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 berinovasi dalam pembangunan dan membuat Desa ini mejadi maju dan berkembang pesat. Karena beliau selain menjadi Kepala desa Insyinyur. Masyarakat sangat merasakan manfaatnya dan merasa terbantu dengan adanya desa wisata ini. Karena mereka diberdayakan dengan bekerja dan berdagang disini yang membuat pendapatan mereka berubah menjadi lebih Jadi ada dampak positif yang mereka rasakan. Mereka jadi ikut serta dalam membangun desa mereka. Dengan adanya pemberdayaan masyarakat ini, masyarakat mampu mereka karena perekonomian masyarakat di Desa Kaduela sangat jelas terbantu dengan adanya wisata Telaga Biru Cicerem. Pengelolaan wisata Telaga Biru sifatnya internal. BUM Desa kepada seluruh yang terlibat langsung maupun tidak langsung diwisata agar kompak untuk menjaga Sapta Pesona. Salah satunya kebersihan, keramahan dan sebagainya. Pengelolaan ini ditata mulai dari jalan utama, penghijauan, penanaman pohon, adanya ayunan, adanya kolam terapi dan penambahan ikan Ae ikan dari hasil pendapatan wisata. Adanya beberapa tempat sampah dibeberapa titik lokasi wisata sebagai wujud nyata dari penerapan Sapta Pesona. Sehingga Hal ini bertujuan untuk kenyamanan para wisatawan dan menarik para wisatawan agar sering berkunjung ke tempat wisata ini. SOSFILKOM Pengembangan Pariwisata Dalam bagian pembahasan ini pengembangan pariwisata dengan menggunakan teori dari Suwantoro . Adapun indikator - indikator pengembangan pariwisata yaitu : Objek atau Daya Tarik Wisata Objek atau daya tarik wisata yang menjadi daya tarik wisata Telaga Biru Cicerem adalah airnya yang berwarna biru dan terdapat berbagai macam ikan. Suasananya sejuk dan jauh dari kebisingan jalanan perkotaan. BUM Desa Arya Kamuning bekerja sama dengan fotografer, karena fotografer itu bukan milik BUM Desa tetapi mereka itu dari Fotografer bagi hasil 5% dari pendapatan mereka. Kemudian ada kerja sama dengan media berita dan wartawan . Media berita seperti Kompas. Tujuannya agar wisatanya ini bisa diliput dan dikenal oleh kalangan Kemudian bekerja sama dengan agen travel. Karena dibutuhkan dalam penunjang perjalanan wisata. Tetapi dalam hal lingkungan bisnis BUM Desa Arya Kamuning sendiri tidak menerima investor dari pihak manapun. Kemudian pemerintahan Desa juga tidak melakukan kerja sama selain dengan agen travel dengan tujuan agar tidak ada persaingan dengan BUM Desa. Sarana Wisata Di wisata Telaga Biru Cicerem sudah ada transportasi. Transportasi ini mempemudah Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 mengelilingi area wisata atau pun meminta jemputan dikala parkiran area wisata penuh. Sarana transportasi yang ada diwisata Telaga Biru Cicerem yaitu ada 2 buah mobil settle. Mobil berwarna kuning yang terlihat seperti sebuah odong Ae Mobil ini dipergunakan ketika bus tidak dapat memasuki area parkir wisata dan wisatawan diangkut menggunakan mobil ini menuju area wisata. Pemerintahan Desa terminal Ae terminal wisata ketika mobil besar berhenti diterminal Cipaniis tetapi sampai sekarang beberapa kali pemerintahan Desa melaksanakan rapat. Prasarana Wisata Prasarana peristirahatan dan akses jalan yang Banyak bangunan Ae bangunan yang terlihat di wisata Telaga Biru Cicerem dimulai dari area masuk sampai dengan area Bangunan yang terdapat di wisata Telaga Biru Cicerem yaitu kantor BUM Desa, gazebo 14 unit, mushola 2, toilet 15, villa 5, post satpam, loket, dan ada beberapa galeri yang disewakan untuk UMKM. Banyaknya gazebo agar wisatawan bisa beristirahat di beberapa titik lokasi wisata. Jadi tidak jauh jika ingin beristirahat. Karena disekeliling area wisata sudah ada gazebo yang disewakan. Toilet yang banyak agar para wisatawan tidak mengantri pada saat ingin membuang air besar ataupun air kecil. Bagi yang ingin menginap pun bisa diarea wisata karena terdapat beberapa villa dan sebuah penginapan di area permukiman . SOSFILKOM rumah - rumah warga. Jalan menuju tempat wisata mudah diakses karena sudah ada digoogle maps dan di youtube. Kedua media ini pembantu wisatawan dalam tempat wisata. Tetapi untuk wisatawan dari daerah Cirebon mereka diarahkan menuju jalan belakang yang melewati wisata Telaga Nilem dan Telaga Remis terlebih dahulu. Jalan dari arah belakang itu rusak dan curam. Itu menjadi tugas pemerintahan jalannya karena akses jalan tersebut juga dipergunakan untuk mobilisasi masyarakat setempat. Tata Laksana atau Infrastruktur Tata infrastruktur di Telaga Biru Cicerem dilaksanakan dengan mengikuti Sapta Pesona. Ketua BUM Desa yaitu pak Iim selalu pentingnya menjaga Sapta Pesona di area lingkungan wisata kepada para tenaga kerja wisata dan para Sistem koordinasi yaitu arahan- arahan pimpinan atau pengelola wisata kepada tenaga kerja wisata dan pedagang guna Arahan terkait sepenuhnya oleh BUM Desa Arya Kamuning. Bagi pedagang yaitu memasang listrik sendiri. Jadi terkait keperluan berdagang itu mereka sendiri yang mengaturnya. BUM Desa hanya memberikan lokasi dan arahan terkait dimana tempat berdagang. Bagi tenaga kerja wisata menyiapkan daftar Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 untuk kesiapan bekerja hari ini dan seterusnya. Kemudian ketua BUM Desanya arahan secara berkala kepada tenaga kerja wisata dan berpegang teguh kepada sapta pesona untuk mengedepankan wisatawan. Menurut sekretaris BUM Desa untuk bangunan itu hak pregoratif ketua BUM Desa yaitu pak Iim. Tetapi menurut salah satu orang anggota karang taruna masyarakat dan karang taruna masukan tetapi masukan itu disaring kembali oleh pihak BUM Desanya. Karena menurut pak Iim Telaga Biru Cicerem ini akhirnya dipergunakan untuk masyarakat, untuk pertanian, perikanan tanpa mengganggu air situ Ciceremnya. Jadi masukan itu diterima dan disaring oleh BUM Desanya Keamanan diarea wisata Telaga Biru Cicerem terdapat security atau satpam yang berjaga ketika jam operasional wisata dan ketika jam setelah operasional Kemudian ada petugas yang berpatroli berkeliling setiap 30 menit sekali untuk mengecek keamanan di wisata. Misalkan ada yang kehilangan helm atau kunci motor pun langsung infonya Bagi Pekerja dan pengunjung yang menemukan, langsung ke sumber suara. Jadi keamanannya bagus karena cepat Sistem komunikasi untuk memberikan informasi di Telaga Biru Cicerem dikelola oleh koordinator media yang selalu membuat promosi, selalu upload Telaga Biru Cicerem mempunyai akun resmi seperti IG, . SOSFILKOM FB, website, tiktok. Informasinya sudah tersebar secara nasional disamping instansi Ae instansi juga memberikan informasi ke yang Wisata Telaga Biru Cicerem internasional yang bernama WBN (Warisan Budaya Nusantar. Jadi informasi terupdate bisa diakses di social media karena dari pihak koordinatornya cepat memberikan informasi terbaru. Peran Masyarakat Peran masyarakat terhadap wisata sangat penting, karena adanya wisata itu juga merupakan penerimaan dari masyarakat. Masyarakat di Desa Kaduela sangat menerima dengan baik ketika Telaga Biru Cicerem menjadi wisata. Bahkan mereka secara tidak langsung menjadi tour guide ketika wisata melintasi permukiman warga. Untuk tour Ketika koordinatornya berhalangan hadir bisa ditemani secara virtual melalui WhatsApp atau dipandu oleh Sekretaris BUM Desa yang bisa menggunakan Bahasa asing ketika ada wisatawan dari turis. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian yang telah dilaksanakan peneliti terkait kepala Desa dan BUM Desa Arya Kamuning di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan melalui pengembangan Desa wisata di Telaga Biru Cicerem di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan dengan menggunakan 2 teori yaitu pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pariwisata. Pemberdayaan masyarakat terdiri dari 4 indikator yaitu tahap seleksi lokasi, tahap sosialisasi pemberdayaan masyarakat, tahap proses Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 pemberdayaan masyarakat dan tahap pemandirian masyarakat. Tahap Seleksi Lokasi Pada tahap seleksi lokasi sudah sesuai dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki di Desa Kaduela yaitu Telaga Biru Cicerem. Dari perangkat Desa Kaduela dan BUM Desa Arya Kamuning di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan berhasil menyadarkan warganya untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada dengan cara memotivasi Tahap Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Pada tahap sosialisasi pemberdayaan masyarakat Kepala Desa Kaduela dan BUM Desa Arya Kamuning di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan berhasil mengajak dan merangkul masyarakat asli Kaduela untuk bekerja dan berdagang di tempat Tahap Proses Pemberdayaan Masyarakat Pada tahap proses pemberdayaan masyarakat menghasilkan dua jenis kegiatan yaitu UMKM dan tenaga kerja. UMKM yang dijual berupa beberapa makanan, minuman dan hand made, tetapi belum ada ciri khas dari desa Kaduelanya sendiri. Jenis pekerjaannya beragam seperti petugas ticketing, petugas pakrir dan lainnya. Tahap Pemandirian Masyarakat Pada tahap pemandirian masyarakat. Masyarakat tenaga kerja wisata dan UMKM ini masyarakat menjadi terbantu ekonominya. Pengembangan pariwisata yang terdiri dari 5 indikator yaitu objek atau daya tarik wisata, sarana wisata, prasarana wisata, tata laksana atau infrastruktur, dan peran Objek atau Daya Tarik Wisata Pada objek atau daya tarik wisata di Telaga Biru Cicerem. BUM SOSFILKOM Desa Arya Kamuning di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan menjalin kerja sama dengan photographer agar objek Sarana Wisata Pada sarana wisata BUM Desa Arya Kamuning di Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan menambahkan mobil settle untuk mobilisasi wisatawan jika memang dikemudian hari mobilnya itu Prasarana Wisata Pada bangunan wisata yang ada di Telaga Biru Cicerem yaitu gedung BUM Desa, lengkap dengan tempat ibadah, adanya wc, bangunan untuk kegiatan UMKM dan lainnya. Akses jalannya sangat mudah karena sudah ada dalam google maps dan youtube. Akan tetapi jika lewat dari blok Pakuncen, jalannya masih rusak. Tata Laksana atau Infrastruktur Pada tata laksana atau koordinasi, tenaga kerja wisata diarahkan untuk tetap mengikuti Sapta Pesona dalam bekerja dan adanya pertemuan beberapa bulan sekali untuk diberikan masukan oleh ketua BUM Desa. Masyarakat dan karang taruna diberikan izin terkait bangunan. Tetapi masukan itu disaring kembali oleh pihak Perangkat Desa dan BUM Desa. Sistem keamanan di wisata ada petugas yang berjaga ketika jam operasional dan sesudah jam Bagi barang yang kehilangan bisa menghubungi sumber suara agar nantinya Ada petugas yang Diterbitkan oleh FISIP UMC Volume XVi Nomor 02 Juli-Desember 2024 memberikan informasi melalui media sosial. Bagi wisatawan juga bisa menghubungi kontak yang tercantum apabila membutuhkan jemputan atau pun hal lainnya. Peran Masyarakat Peran masyarakat di wisata Telaga Biru Cicerem yaitu memberikan informasi terkait wisata dan memberikan dorongan terhadap kemajuan wisata. DAFTAR PUSTAKA