Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni KEMAMPUAN MENULIS TEKS ANEKDOT MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELAS IX SMP KATOLIK ST. FRANSISKUS DE SALLES KOKOLEH Sonia S. Kansil1. Selviane E. Mumu2. Nontje J. Pangemanan3 Jurusan Pendidikan Bahasa dann Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Manado. Tondano. Indonesia Email: sonia. kansil1998@gmail. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kemampuan menulis teks anekdot siswa kelas IX SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode penelitian ini menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh. 24 siswa kelas IX SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh adalah sumber data dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui tes tertulis di mana para siswa menulis sebuah teks anekdot. Selain itu penelti juga menggunakan teknik observasi untuk mengamati proses pembelajaran di dalam kelas. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kemampuan menulis teks anekdot siswa kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh dapat dikelompokkan dalam 4 kategori penilaian: Amat baik. Baik. Cukup, dan kurang. Siswa yang memiliki tingkat kemampuan menulis teks anekdot pada kategori amat baik berjumlah 8 siswa . ,33%). Siswa dengan keterampilan menulis teks anekdot pada kategori baik berjumlah 9 orang siswa . ,50%). Pada kategori cukup, ada sebanyak 7 . ,17%), dan siswa yang berada pada kaegori kurang. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan menulis berada pada kategori baik dengan skor rata-rata 81,67. Kata kunci : Kemampuan menulis. Teks anekdot. Audiovisual. Media Abstract : This study aims to provide an overview of the 9th Grade StudentsAo ability to write anecdote text at SMP Katolik St. Fransiskus de Sales Kokoleh. The research method used by researchers is a quantitative descriptive method which is used to describe reality or facts according to the data obtained. 24 9th Grade students at SMP Katolik St. Fransiskus de Sales Kokoleh are the data source in this study. Students were given a written test on which they had to write an anecdote text as part of the data collection In addition, researchers also use observation techniques to observe the learning process in the classroom. The findings revealed that the 9th Grade students' ability to write an anecdote text fell into one of four assessment categories: very good, good, competent, and poor. 8 students . 3%) have the ability to write anecdotes in the very good category. There were 9 students . 6%) with a good level of ability to write anecdote text. 7 students . 16%) were in the competent category for writing anecdotes and there were no students in the poor category. It is known that the students' ability to write an anecdote text is in the good category . t intervals of 72 Ae . So, it can be concluded that the studentsAo ability to write anecdote texts at SMP Katolik St. Fransiskus de Sales Kokoleh is in the good category with an average score of 81. Keywords : Writing Skills. Anecdote Text. Audiovisual. Media Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni PENDAHULUAN Kurikulum 2013, hingga saat ini, masih merupakan kurikulum yang paling Indonesia (Fernandes, 2. Mumpuni . kemudian menjelaskan Aukurikulum 2013 adalah kurikulum yang digunakan di banyak satuan pendidikan. Ay Namun, saat ini pemerintah sedang berusaha dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum 2013 adalah Ausebuah kurikulum yang digunakan setelah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),Ay (Zaini, 2. Dalam kurikulum 2013. Ausiswa menjadi pusat pembelajaran dan guru diposisikan sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran,Ay (Al Faris, 2. Bahasa Indonesia merupakan salah satu muatan pelajaran wajib dalam kurikulum 2013 (Pradita, 2. Secara lebih detail. Kurikulum 2013 mengatur bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di setiap pembelajran yang berbasis teks (Ismayani. Ariyati, 2017. Aji, 2. Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks Aumenyediakan ruang kepada siswa untuk mengembangkan berbagai jenis kerangka berpikir,Ay (Ramadania, 2. Hal ini, menurut Agustina . , dikarenakan setiap teks yang dipelajari bersifat unik karna memiliki struktur berpikir yang berbeda. Hermaditoyo . lebih lanjut menjelaskan jika Ausemakin banyak jenis teks yang dikuasai maka semakin banyak pula struktur berpikir yang dikuasai siswa. Ay Oleh karena itu. Aupembelajaran berbasis teks dalam bahasa Indonesia menuntut siswa untuk menguasai berbagai teks secara sistematis baik lisan maupun tulisan,Ay (Kusniarti dan Mujianto, 2. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbasis teks pada setiap tingkat satuan pendidikan memiliki sebuah tujuan. Menurut Akhyar Autujuan Indonesia berdasarkan kurikulum 2013 diarahkan pada pengembangan kompetensi bahasa, keterampilan membaca, dan keterampilan Ay Dengan demikian, para siswa diharapkan untuk dapat berkomunikasi dalam berbagai konteks secara cerdas dan santun melalui pengembangan komptensi tersebut (Muspiroh, 2. Salah satu dari empat keterampilan berbahasa adalah keterampilan menulis. Keterampilan ini Aumembutuhkan sebuah penguasaan terhadap berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri,Ay (Hikmatin, 2. Menurut Wicaksono . Aumenulis adalah proses berpikir yang diawali dengan memikirkan ide-ide yang akan disampaikan, menulis merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap. Ay Tidak ada ekspresi wajah, intonasi, gerakan fisik, dalam sebuah tulisan (Justisiani, 2. Hal inilah yang menjadi pembeda antara sebuah percakapan dan sebuah tulisan. AuMenulis adalah bentuk komunikasi yang perlu dilengkapi dengan tanda-tanda penjelasan, aturan, ejaan, dan tanda baca, dan menulis adalah bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan pengarang kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak tempat dan waktu,Ay (Martaulina. Sehingga, menulis adalah Ausuatu bentuk komunikasi yang mengungkapkan gagasan dan perasaan secara tidak langsung dengan memperhatikan kaidahkaidah penulisan,Ay (Yarmi, 2. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkatan SMP, salah satu teks yang Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni harus dipelejari siswa adalah teks anekdot. Menurut Sikumbang dan Rosadi . Auteks anekdot, secara umum, membahas hal-hal lucu yang di dalamnya terdapat pesan atau kritik yang ingin disampaikan secara tersirat. Ay Teks anekdot juga merupakan cerita dengan humor yang mengandung kritik dan didasarkan dari kisah nyata (Syahputri, 2. Selain itu. Chaer seperti dikutip dalam Mulyati . mendefinisikan teks anekdot sebagai Auteks yang berisi pengalaman seseorang yang tidak biasa, pengalaman yang tidak biasa itu disampaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk menghibur. Ay Dengan demikian pembelajaran teks anekdot menjadi sangat penting bagi siswa karena dapat menjadi sarana pembelajaran nilai moral (Pantow. Ratu, dan Meruntu, 2. Proses pembelajran Bahasa Indonesia, akan menggunakan media yang tepat (Yuniati. Leksono dan Subandowo, 2. Salah satu media yang bisa digunakan oleh guru adalah media audiovisual. Penggunaan media audiovisual akan membantu karena materi yang akan disampaikan tidak hanya ceramah dari guru tetapi dilengkapi dengan gambar atau video. Hal ini memungkinkan siswa untuk lebih memahami materi yang disampaikan dan menarik minat siswa untuk belajar. Menurut Fadilah . Aupenggunaan media audiovisual dapat memudahkan siswa untuk menyerap materi dan informasi serta membantu siswa mencapai hasil belajar yang optimal. Ay Oleh karena itu, penggunaan media audiovisual juga harus dimanfaatkan dengan baik oleh guru dan siswa untuk menciptakan kegiatna pembelajaran yang bermakna (Sihombing, 2. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti keterampilan menulis teks anekdot dengan menggunakan media audiovisual. Peneliti berasumsi bahwa media audiovisual akan mendorong siswa yang kurang tertarik untuk mengembangkan kemampuan menulisnya. Kurang dilatarbelakangi kurangnya minat siswa, kurangnya motivasi dari guru, atau pembelajaran yang monoton. Selain menarik untuk diangkat, beberapa penelitian terdahulu berfokus pada penggunaan media audiovisual untuk pembelarajan teks anekdot di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Syahroh. Siddik dan Mulawarman . membahas tentang kemampuan siswa kelas X dalam menggunakan media foto dan video Mayora . meneliti tentang keterampilan menulis teks anekdot siswa kelas X dengan bantuan media audiovisual. Pinkan dan Kusmiatun . meneliti tentang penggunaan media audiovisual berbentuk film pendek pada siswa kelas X. Dengan demikian penelitian ini lebih berfokus pada pembelajaran keterampilan menulis teks anekdot dengan menggunakan media audiovisual yang ada pada tingkatan SMP. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menulis teks anekdot dengan menggunakan media audiovisual pada siswa kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah aplikasi metode peneltian deskriptif yang bersifat analitik. Menurut Sugiyono . Aumetode penelitian analitik adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya atau berdasarkan Ay Dalam penelitian ini deksripsi analitik dimaksudkan untuk memberikan Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni Peneliti merakapitulasi hasil tes siswa berdasarkan indikator penilaian yang telah ditetapkan. Peneliti membuat persentase nilai kemampuan menulis teks anekdot siswa dengan menggunakan formula yang dikemukan oleh Djiwandono . ycIycoycuyc ycIycnycycyca yaycaycycnyco ycNyceyc = y 100% ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco Peneliti mengelompokan hasil tes siswa dalam kategori kemampuan menulis yang telah ditetapkan sebelumnya. Kategori kemampuan siswa tergambar dalam tabel di bawah ini. Rentang Nilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang ycAycnycoycaycn ycIycaycyca Oe ycycaycyca = ycNycuycycayco ycIycoycuyc ycIycnycycyca yaycycoycoycaEa ycIycnycycyca HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran menulis teks anekdot sebagaimana hasil penelitian yang diperoleh ternyata memerlukan kecakapan guru membimbing siswa dan juga perlu memanfaatkan media pembelajaran yang Keberhasilan pembelajaran menulis teks anekdot dalam penelitian ini didukung oleh penggunaan media pembelajaran yang tepat yakni video sebagai media Dampak langsung dari pemanfaat media audiovisual terlihat pada hasil belajar siswa, khsusnya kemampuan menulis teks anekdot. Kemampuan siswa menulis teks anekdot disajikan pada tabel di bawah ini. Tabel 2. Hasil Kemampuan Menulis Teks Anekdot Siswa Rubrik Penilaian Menulis Anekdot JUMLAH Analisis data dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: Kategori Peneliti melakukan perhitungan nilai rata-rata berdasarkan formula yang dikemukana oleh Djiwandono . Siswa Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2021 di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. 24 siswa kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh adalah sumber data yang dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen berupa observasi dan tes. Observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran di dalam kelas, di mana peneliti turun langsung dan mengamati kegiatan pembelajaran. Selama proses observasi peneliti tidak terlibat dalam proses pembelajaran. Artinya peneliti hanya menjadi pengamat proses pengumpulan data dalam bentuk catatancatatan. Instumen tes digunakan untuk mengukur keterampilan menulis teks anekdot siswa kelas XI di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. Tabel 1. Kategori Kemampuan Menulis Teks Anekdot Siswa sebuah gambaran terhadap kemampuan menulis teks anekdot siswa kelas IX SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni TOTAL Nilai Rata-rata 81,67 Berdasarkan data pada Tabel 1, ada 5 indikator penilaian yang digunakan untuk mengukur emampuan menulis teks anekdot siswa kelas IX SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh. Indikator tersebut adalah: . Ketepatan dalam pemilihan judul teks anekdot (KJ), . Kelengkapan isi teks anekdot (KI), . Tingkat keaktualan teks anekdot (KT), . Seberapa menarik teks anekdot yang dibuat (KA), dan . Seberapa menarik penyajian ceritanya (KC). Nilai maksimal untuk setiap indikator adalah 20. Sehingga jika seorang siswa berhasil mencapai nilai 20 untuk setiap indikator maka siswa tersebut akan mendapatkan nilai maksimal, 100. Berdasarkan data pada setoap indikator tersebut maka diperolehlah persentasi ketercapaian setiap kategori seperti yang tergambar pada grafik di bawah ini. Grafik 1. Persentase Capaian Setiap Indikator Kemampuan Menulis Teks Anekdot Siswa Kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh Garfik 1 menunjukkan bahwa seluruh siswa telah mampu untuk memilih judul teks anekdot dengan tepat, di mana seluruh siswa mendapatkan nilai masimal. Dari segi kelengkapan isi, sebagian besar siswa telah mampu memahami struktur teks anekdot dengan baik. Sebesar 96,9% siswa menunjukkan keterampilan dalam menulis teks anekdot berdasarkan strukturnya dan menggunakan unsur kebahasaan yang Data pada grafik 1 juga menunjukkan bahwa sebesar 63,5% siswa telah mampu untuk membuat sebuah teks anekdot yang bersifat aktual atau didasarkan pada Persentase capaian pada indikator ini adalah yang paling rendah dibandingkan kategori lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa masih belum mampu membuat keterkaitan antara Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni teks anekdot yang telah mereka buat dengan kejadian yang ada di dunia nyata. Penggunaan media audiovisual dengan menggunakan media gambar dan video belum bisa mendorong siswa untuk membuat teks anekdot yang bersifat aktual. Hal ini akan membuat teks anekdot terasa kurang kontekstual dan melemahkan pesan moral dan kritik sosial yang ingin disampaikan oleh para siswa. Pada indikator seberapa menarik teks anekdot yang dibuat oleh siswa, sebesar 68,8% siswa telah menunjukan bahwa mereka mampu untuk membuat cerita anekdot yang menarik. Capaian indikator ini adalah capaian kedua terendah setelah tingkat keatualan teks anekdot yang dibuat Hal ini dikarenakan indikator ini berkaitan dengan indikator tingkat keaktualan cerita. Karena teks anekdot yang dibuat tidak terlalu aktual maka teks yang disajikan menjadi kurang menarik. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin aktual sebuah teks anekdot makan akan semakin menarik teks anekdot tersebut. Penguasaan terhadap struktur dan unsur kebahasaan teks anekdot tidak lantas membuat siswa bisa menyajikan cerita yang aktual dan menarik. Peranan media audovisual belum bisa mendorong sebagian siswa untuk membuat cerita yang Pada indikator penyajian cerita dalam tesk anekdot, diketahui bahwa sebesar 2% siswa telah mampu menyajikan cerita secara menarik. Hal ini dikarenakan sebagain besar siswa telah mampu menguasai struktur dan unsur kebahasaan teks anekdot. Penguasaan struktur dan unsur kebahasaan teks membantu siswa untuk bisa menyajikan cerita secara Di sini tampak bahwa penggunaan media audiovisual mampu untuk mendorong siswa dalam menyajikan cerita dalam teks anekdot secara menarik. Penggunaan gambar dan video mampu membuat siswa menyajikan cerita dalam teks anekdot secara singkat dan tidak terlalu mendetail seperti pada teks narasi. Secara klasikal, siswa kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus de Sales Kokoleh telah menujukkan kemampuan menulis teks anekdot yang baik. Hal ini ditandai dengan nilai rata-rata siswa yang diperoleh dengan menggunakan formula Djiwandono . ycAycnycoycaycn ycIycaycyca Oe ycycaycyca = ycNycuycycayco ycIycoycuyc ycIycnycycyca yaycycoycoycaEa ycIycnycycyca ycAycnycoycaycn ycIycaycyca Oe ycycaycyca = ycAycnycoycaycn ycIycaycyca Oe ycycaycyca = 81,66 Berdasarkan kategori pada Tabel 1, maka kemampuan menulis teks anekdot siswa berada pada kategori baik. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan media peningkatan keterampilan menulis teks anekdot siswa. Lebih lanjut, perlu juga digambarkan capaian untuk setiap kategori dalam tabel di bawah ini. Tabel 3. Persentase Kemampuan Menulis Teks Anekdot Siswa Berdasarkan Kategori Skor Siswa. Kategori Jumlah Siswa Persentase Sangat Baik Baik Cukup Kurang Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang berada pada kategori kurang sehingga terlihat bahwa penggunaan media audiovisual memberikan pengaruh dalam meningkatkan keterampilan menulis teks anekdot siswa. Berdasarkan jumlah siwa Vol 2 No 12 . : KOMPETENSI : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni dan persentasenya, skor siswa terbagi hampir secara merata untuk kategori kemampuan menulis teks anekdot siswa. Berdasarkan hasil temuan diketahui bahwa sebagian besar siswa telah mampu menulis teks anekdot dengan menerapkan struktur teks anekdot disertai dengan penulisan sesuai dengan unsur kebahasaan yang tepat. Hal ini terlihat dari hasil teks anekdot karya siswa yang mempunyai struktur berupa yang singkat dan disertai dengan humor. Temuan ini sejalan dengan Siang. Monoarfa. Pangemanan . tentang pembelajaran teks menyimak anekdot pada siswa kelas X SMK. Hasil penelitian penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini karena keberhasilan pembelajaran menulis teks anekdot perlu didukung oleh penggunaan media pembelajaran yang tepat yakni video sebagai media audiovisual. Temuan tersebut didukung juga oleh hasil penelitian Wuisang. Wengkang. Polii . , yang berjudul AuKemampuan Menganalisis Unsur-Unsur Pembentuk Iklan dalam Media Audiovisual Siswa Kelas Vi SMP Negeri 3 Tondano. Ay Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media audiovisual memampunkan siswa untuk menganalisis unsur-unsur teks iklan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kemampuan menulis teks anekdot siswa kelas IX di SMP Katolik St. Fransiskus De Salles Kokoleh dapat dikelompokkan dalam 4 kategori penilaian: Amat baik. Baik. Cukup, dan kurang. Siswa yang memiliki tingkat kemampuan menulis teks anekdot pada kategori amat baik berjumlah 8 siswa . ,33%). Siswa dengan keterampilan menulis teks anekdot pada kategori baik berjumlah 9 orang siswa . ,50%). Pada kategori cukup, ada sebanyak 7 . ,17%), dan siswa yang berada pada kaegori kurang. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan menulis berada pada kategori baik dengan skor rata-rata 81,67. REFERENSI