Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 GAMBARAN PASIEN PALIATIF DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA BENGKULU Wahyudi Rahmadani1*. Tahratul Yovalwan2, 1,2 D3 Keperawatan. Universitas Bengkulu. Indonesia *Koresponden: Wahyudi Rahmadani. Alamat: Jalan Indragiri. Padang Harapan. Kecamatan Gading Cempaka. Kota Bengkulu. Bengkulu, 38225. Email: wrahmadani@unib. Received: 02 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 25 agust Abstrak Latar Belakang: Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang menempati peringkat utama penyebab kematian di seluruh dunia dan secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, diabetes, dan penyakit ginjal. Hipertensi sering disebut "pembunuh diam-diam", dikarenakan penderita penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala, oleh sebab itu banyak pasien tidak menyadari kondisi mereka sampai komplikasi muncul. Seiring dengan perkembangan penyakit dan penurunan fungsi organ tubuh, sebagian lansia dengan hipertensi kronis dapat masuk dalam kategori pasien yang memerlukan perawatan paliatif. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Metodologi Penelitian: Desain penelitian ini adalah deskriptif pada pasien hipertensi sebanyak 15 orang di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Penderita hipertensi pada penelitian ini memiliki usia Ou 60 tahun. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia penderita hipertensi adalah 63,13 tahun, status pendidikan: pendidikan sekolah dasar sebanyak 46,7% . , sekolah menengah pratama sebanyak 33,3% . , sekolah menengah atas sebanyak 6,7 % . , dan perguruan tinggi sebanyak 13,3% . Mayoritas pekerjaan responden merupakan ibu rumah tangga, dengan persentase sebesar 53,3% . Rata-rata tekanan darah penderita hipertensi adalah 159,80/94,73 mmHg Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa rata-rata usia penderita hipertensi dalam studi ini adalah 63,13 tahun, yang menunjukkan bahwa hipertensi umumnya dialami oleh kelompok usia lanjut. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar . ,7%), diikuti oleh sekolah menengah pertama . ,3%), perguruan tinggi . ,3%), dan sekolah menengah atas . ,7%). Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penderita hipertensi memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah. Selain itu, rerata tekanan darah responden tercatat sebesar 159,80/94,73 mmHg, yang termasuk dalam kategori hipertensi derajat 1, menandakan bahwa kondisi tekanan darah mereka memerlukan pemantauan dan intervensi yang tepat. Kata Kunci: lansia, hipertensi, paliatif Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Latar Belakang asasayang sering dialami oleh penderita hipertensi, yaitu Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis seperti: sakit kepala, cemas, wajah tampak kemerahan, yang paling sering dijumpai pada kelompok lanjut usia tengkuk terasa pegal, cepat marah, telinga berdengung, . Data dari World Health Organization (WHO, 2. sulit tidur,sesak napas, dan mudah lelah. Apabila dampak menyebutkan bahwa sekitar 1,28 miliar orang dewasa di yang terjadi pada penderita hipertensi jika tidak ditangani seluruh dunia mengalami hipertensi, dan prevalensinya dengan baik, maka penderita dapat mengalami seperti meningkat seiring bertambahnya usia. Pada lansia, infark miokard, gagal jantung, stroke, serangan iskemik hipertensi sering kali bersifat persisten dan disertai transien, diabetes, dislipidemia, dan penyakit ginjal kronis dengan berbagai komplikasi seperti gagal jantung, stroke, (CKD), dan dan gangguan ginjal kronis yang memperburuk status Zieleniewicz et al. , 2. fungsional dan kualitas hidup penderita (WHO, 2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 Hipertensi (Li et al. , 2024. melaporkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 620 kasus, yang menyebabkan 427. 218 kematian. memasuki fase lanjut atau memiliki komplikasi yang Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada signifikan sehingga memerlukan perawatan paliatif. tahun 2017 menemukan bahwa hipertensi menyumbang Kombinasi antara intervensi non-farmakologis dan 23,7% dari total kematian di Indonesia, melampaui farmakologis terbukti efektif dalam mengontrol tekanan penyakit lain seperti kanker . ,7%), diabetes melitus dan darah sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien. penyakit endokrin . ,3%), serta tuberkulosis . ,9%). Pendekatan Berdasarkan diagnosis medis dan pengukuran. Survei pembatasan garam, aktivitas fisik ringan, terapi relaksasi. Kesehatan Indonesia . mencatat sebanyak 638. rendaman kaki jahe merah, serta dukungan psikososial kasus hipertensi pada penduduk usia di atas 15 tahun dari keluarga menjadi pilar penting dalam pengelolaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. hipertensi secara aman dan berkelanjutan. Di sisi lain, prevalensi hipertensi di provinsi Bengkulu juga tergolong penggunaan obat antihipertensi seperti diuretik, calcium tinggi, yaitu mencapai 343. 210 kasus. Secara khusus, di channel blockers, dan ARB/ACE inhibitor perlu dilakukan Kota Bengkulu, 17. 146 warga didiagnosis menderita secara hati-hati, dengan dosis rendah dan pemantauan hipertensi pada tahun 2019, terdiri dari 8. 804 laki-laki dan 342 perempuan (Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, 2. membahayakan pada lansia (Ali & Tyerman, 2024. Unger Penyakit hipertensi ini disebabkan oleh pengapuran non-farmakologis DASH, et al. , 2. dinding pembuluh darah yang akan menghambat aliran Dalam konteks perawatan paliatif, tujuan utama darah pada beberapa bagian otot jantung. Pada saat bukan lagi sekadar menurunkan tekanan darah secara tekanan darah yang tinggi terjadi, keadaan ini selanjutnya akan memaksa otot bekerja lebih berat untuk memompa meningkatkan kenyamanan, serta menjaga martabat dan darah ke seluruh tubuh, dimana ini menyebabkan otot kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penatalaksanaan jantung menebal, sehingga daya pompa otot jantung akan hipertensi pada lansia dalam perawatan paliatif perlu menurun, sehingga akan menyebabkan gagal jantung, kerusakan pembuluh darah, gagal ginjal (Zieleniewicz et kebutuhan pasien, serta melibatkan peran aktif keluarga , 2. Keadaan ini akan menimbulkan beberapa dan tenaga kesehatan lintas profesi. Pendekatan ini keluhan pada penderitanya. Secara umum tanda dan gejala diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi lansia yang menghadapi penyakit kronis secara Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 lebih manusiawi dan bermartabat. Hasil Penelitian Tujuan Penelitian 1 Karakteristik Responden Tabel 1 Karakteristik Responden Mengidentifikasi Data Demografi Usia Responden Mengidentifikasi Data Demografi Tingkat Pendidikan Responden Variabel Mengidentifikasi Data Demografi Pekerjaan Persentase Nilai Usia Responden 60-64 tahun 33,3% Untuk mengidentifikasi tingkat hipertensi pada lansia 65-70 tahun 53,3% di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu >70 tahun 13,4% SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan 46,7% 33,3% 6,7% 13,3% Tidak bekerja Ibu rumah tangga Wirausaha PNS/pensiun 53,3 % 26,7% Pendidikan Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pertanyaan-pertanyaan yang mana pengukuran variable dilakukan pada saat tertentu. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Total . Tabel 1 menggambarkan distribusi usia pada lansia Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah seluruh lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Prosedur penarikan sampel pada penelitian secara total sampling, yaitu semua subjek yang ada dan memenuhi kriteria pemilihan inklusi dan eksklusi diambil sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi untuk dimintakan informed consent. Pada penelitian ini didapatkan jumlah sampel penelitian sebanyak 15 responden. mayoritas adalah 65-70 tahun . ,3%). Status pendidikan responden: pendidikan sekolah dasar sebanyak 46,7% . , sekolah menengah pratama sebanyak 33,3% . , sekolah menengah atas sebanyak 6,7 % . , dan perguruan tinggi sebanyak 13,3% . Mayoritas pekerjaan responden merupakan ibu rumah tangga, dengan persentase sebesar 53,3% . Rata-rata tekanan darah penderita hipertensi adalah 159,80/94,7 mmHg. Rata-rata tekanan darah pada lansia dengan Instrument Pengumpulan Data Pengumpulan menggunakan instrumen sebagai berikut: tensi meter digital dan kuesioner data demografi pasien. Analisa Data Hasil penelitian ini dilakukan analisis data menggunakan Tabel 2 Rata-rata tekanan darah Variabel Tekanan darah sistolik Mean Median Min-Maks CI for Mean 95% aplikasi Spss 24 untuk menggambarkan data demografi pada lansia dengan penyakit hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kota Bengkulu. Tekanan darah diastolik Mean Median Nilai 159,80 4,739 157,18-162,42 94,73 Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Variabel Nilai Min-Maks CI for Mean 95% 1,831 93,72-95,75 Tabel 2 menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik pada lansia yang menderita hipertensi adalah 159,80 mmHg dengan nilai minimum 152 mmHg dan maksimum 165 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik sebesar 94,73 mmHg dengan nilai minimum 91 mmHg dan maksimum 97 mmHg. kebiasaan melakukan fisik seperti (Rahmadani, 2. Menurut penelitian Satiyem et al . hasil penelitian menyebutkan ada hubungan signifikan positif antara tingkat pendidikan dengan kejadian hipertensi . 0,000. r 0,. dan usia dengan kejadian hipertensi . 0,000. r 0,. Diantara dua variabel yang paling beresiko adalah Kesimpulan: Ada hubungan signifikan antara tingkat pendidikan tingginya resiko terkena hipertensi pada pendidikan yang rendah, disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada seseorang yang berpendidikan rendah Pembahasan terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima Berdasarkan hasil penelitian didapatkan distribusi informasi . yang diberikan usia pada lansia mayoritas adalah 65-70 tahun . ,3%). Hal sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat ini sejalan dengan dengan penelitian Nurhayati et al . (Satiyem et al. , 2. yang menyebutkan bahwa semakin bertambahnya usia maka Hal ini didukung oleh penelitian lainya yang system kardiovaskular pada tubuh akan mengalami menyebutkan tingkat pendidikan berpengaruh terhadap penurunan yang akan berakibat pada tingkat kejadian hipertensi karena dengan kurangnya pendidikan dan hipertensi yang juga akan meningkat (Nurhayati et al. , 2. pengetahuan maka seseorang akan lebih rentan terkena Hal ini didukung oleh penelitian Mohi et al . dengan penyakit hipertensi dikarenakan kurangnya pengetahuan hasil penelitian sebagian besar usia responden yaitu pada tentang makanan yang sehat, individu dengan tingkat pada usia lanjut tua sebanyak 62 orang . ,4%). pendidikan lebih baik akan melakukan upaya menjaga Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa umur dengan kejadian kesehatan secara lebih tepat (Yunandar et al. , 2. hipertensi pada lansia terbukti mempunyai hubungan yang Sementara itu, pekerjaan responden pada hasil bermakna secara statistik, dengan P-value = 0,000 < = 0,05. penelitian ini mayoritas adalah ibu rumah tangga sebanyak 8 Selain itu, bahwa usia merupakan salah satu faktor utama orang . ,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian Setiandari, . hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar perubahan alamiah dalam tubuh pada jantung, pembuluh responden bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Perempuan darah, dan hormone. Usia berhubungan dengan disfungsi yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga beresiko lebih tinggi menderita hipertensi dibandingkan hipertensi, khususnya hipertensi sistolik pada usia dewasa dengan perempuan yang bekerja. Hal ini salah satunya tua (Ledoh et al. , 2024. Mohi et al. , 2. disebabkan oleh kurangnya aktifitas yang dilakukan IRT. Berdasarkan Semakin banyakkesibukan aktivitas dari ibu rumah tangga, pendidikan responden sebagian besar adalah sekolah dasar menyebabkan tidak punya waktu untuk berolahraga dan sebanyak 46,7% . , sementara sekolah menengah menyebabkan kurangnya aktifitas fisik sehingga berisiko pratama sebanyak 33,3% . , sekolah menengah atas menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan sebanyak 6,7 % . , dan perguruan tinggi sebanyak berat badan. Orang yang kurang melakukan aktivitas fisik 13,3% . Tingkat juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang mempengaruhi tekanan darah. Tingkat lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih pendidikan dapat berpengaruh terhadap gaya hidup seperti keras pada setiap kontraksi. Semakin kaku dan sering otot Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 jantung harus memompa darah, makasemakin besar tekanan Hipertensi Pada Lanjut Usia . -74 Tahu. ARTIKEL yang dibebankan pada arteri. Peningkatan tekanan darah PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 13 No. 27Ae36. menyebabkan terjadinya komplikasi seperti penyakit https://doi. org/10. 37048/kesehatan. jantung koroner, gangguan fungsi ginjal, stroke (Ariyanti et Li. Duan. Xu. Ruan. , & Zhang. , 2023. Cristanto et al. , 2021. Salamung et al. , 2. Hypertension PeerJ, 1Ae21. https://doi. org/10. 7717/peerj. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Usia lanjut berkontribusi terhadap peningkatan risiko hipertensi akibat penurunan fungsi kardiovaskular. Rendahnya tingkat pendidikan berdampak pada kurangnya pengetahuan kesehatan, yang memengaruhi pola hidup. Sementara itu. Mohi. Irwan, & Ahmad. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Wonggarasi Dengan The Kejadian Factors Puskesmas Associated With Hypertension In Elderly In The Working Area Of Puskesmas (Public Helath Cente. Wonggarasi I. Journal Health & Science: Gorontalo Journal Health and Science Community. Nurhayati. Ariyanto. , & Syafriakhwan. pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dengan aktivitas fisik Hubungan usia dan jenis kelamin terhadap kejadian rendah juga meningkatkan risiko hipertensi. Oleh karena Prosiding Seminar Nasional Penelitian Dan itu, diperlukan upaya edukasi dan promosi gaya hidup sehat Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 363Ae369. pada kelompok lansia, terutama yang berpendidikan rendah dan kurang aktif secara fisik. Rahmadani. Pengaruh Rendam Kaki Air Jahe Merah Hangat Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi Di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu. In Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Referensi