Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2011 Suatu Telaah Budaya: Agama dalam Kehidupan Orang Jepang Sandra Herlina Program Studi Sastra Jepang. Fakultas Sastra. Universitas Al Azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja. Jakarta 12110 E-mail: sandra@uai. Abstrak - Pandangan orang Jepang terhadap agama adalah sebagai ikatan budaya dan Memiliki dua atau lebih agama dalam kehidupan seseorang adalah sesuatu yang wajar, dan hal tersebut menjadikan salah satu karakteristik agama Jepang. Dalam sejarahnya yang panjang, agama telah mengalami perkembangan, agama asli tetap dipertahankan walaupun muncul agama-agama baru, agama asli tetap hidup dengan harmonis meskipun terjadi sinkretisme. Ada beberapa agama yang ada di Jepang selain Shinto sebagai folk belieft dan sebagai kepercayaan, antara lain Budha, agama-agama Samawi. Shinshukyo dan agamaagama lainnya yang berdampingan secara Meskipun dikatakan bahwa agama tidak penting dalam kehidupan orang Jepang, namun pada kenyataannya orang Jepang tetap meneruskan kehidupan keagamaan dalam perilaku mereka sebagai "penjaga tradisi" kebudayaan mereka. PENDAHULUAN ekarang ini. Jepang diakui sebagai salah satu negara maju di dunia. Seperti apakah bangsa Jepang sehingga dapat membawa negaranya menjadi salah satu negara maju di dunia dan bagaimana pula kebudayaan bangsa ini? Saya pikir masalah ini cukup banyak menarik minat penelitipeneliti asing untuk menoleh dan meneliti Jepang . Adapun yang dimaksud dengan kebudayaan1 adalah, kebudayaan dapat diartikan sebagai suatu fenomena sosial dan tidak dapat dilepaskan dari perilaku dan tindakan warga masyarakat yang mendukung atau menghayatinya. Sebaliknya, keteraturan, pola, atau konfigurasi yang tampak pada perilaku dan tindakan warga suatu masyarakat tertentu dibandingkan perilaku dan tindakan warga masyarakat yang lain, tidaklah dapat dipahami tanpa dikaitkan dengan kebudayaan masyarakat Abstract - The Japanese view of religion as cultural ties and traditions. Having two or more religion in one's life is something that is reasonable and that is became one of Japanese religion character. In its long history, religions have experienced growth, the original religion live harmony is maintained despite an emerging syncretism or religious. There are some religions that exist in Japan other than folk belieft Shinto as the belief among others. Buddhist. Samawi religions. Shinshukyo and others who live together in harmony. Although it is said that religion is not important in Japanese life, but in fact the Japanese continue to run as part of religious life in their behavior as culture "guardians of tradition" Pada prinsipnya kehidupan beragama adalah kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan Supernatural yang memiliki pengaruh bagi kehidupan individu, kelompok masyarakat atau yang lainnya. Beragama sebagai fenomena universal kehidupan manusia yang seperti yang dikatakan oleh Bergson . , seorang filsuf Perancis bahwa kita dapat menemukan masyarakat tanpa sains, seni dan filsafat namun tidak ada masyarakat tanpa agama. Sementara itu seorang filsuf Norbeck . mengatakan bahwa ia tidak mengakui adanya beragama universal dalam kehidupan individual. Individu-individu yang non religius menurutnya makin umum di kalangan masyarakat modern, namun kepercayaan terhadap keagamaan tetap saja dipegang oleh semua Keywords Ae Japanese religion, culture Sutrisno Mudji Ed. , 2005 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2011 Sehubungan dengan kehadiran agama di Jepang, seorang peneliti keagamaan Miyake Hitoshi2 dalam bukunya Nihon shukyo No Kozo uuioAUA menjelaskan mengenai agama di dunia yang berhubungan dengan agama di Jepang menjadi beberapa kategori sebagai berikut: Mikai Shukyou. Agama Primitif. Penganutnya belum bisa baca dan tulis, contoh: animisme, kepercayaan terhadap roh dan dan gejala-gejala totemisme . nimal worshi. adalah keyakinan bahwa manusia memiliki hubungan dengan binatang. shamanisme, agama yang mempercayai ada kekuatan dukun. shinshinko, agama yang percaya bahwa yang diyakini dan dipercayai hidup di langit. Minzoku Shukyo yaitu agama rakyat atau agama negara yang hanya ada dalam satu bangsa saja, contoh: Shinto. Tao . Yahudi dan . Fuhen Shukyou yaitu agama-agama universal atau agama samawi, agama-agama yang dapat ditemukan dimana saja, contoh: Islam. Kristen. Budha dan lainnya. Adapun dalam kehidupan keseharian orang Jepang nampaknya agama bukanlah hal yang dianggap Masyarakat Jepang mempunyai pandangan yang sangat sekuler dan tidak begitu peduli pada Hal ini dapat dilihat dari jumlah penganut agama di Jepang dari data yang dikeluarkan dan direvisi oleh Kementrian Pendidikan Jepang barubaru ini sebagai berikut, penganut Shinto berkisar 107 juta orang. Budha berkisar 89 juta orang. Katolik dan Kristen Protestan sekitar 3 juta orang, serta sekitar 10 juta orang sebagai penganut agama lain-lain. Apabila dijumlahkan maka total seluruh penganut agama di Jepang akan berjumlah 290 juta. Ditambah dengan jumlah penganut berbagai aliran dari Budha dan Shinto saja hampir melebihi 200 juta orang. Dengan demikian penganut agama di Jepang berjumlah dua kali lipat dari jumlah Total penganut agama di Jepang melebihi jumlah penduduk ini diperoleh dari data yang dikumpulkan berdasarkan angket yang diambil dari berbagai organisasi keagamaan di seluruh Jepang dengan cara melihat tradisi beragamaan orang Jepang. Pada umumnya orang Jepang menganut lebih dari satu agama . ouble Pada umumnya orang Jepang ketika lahir mendapatkan upacara dalam Shinto, dan diikuti dengan berbagai upacara keagamaan dan ritual Hitoshi Miyake lainnya sepanjang hidupnya, ketika menikah dalam Shinto atau Kristen dan dalam upacara Budha pada kematian dan penghormatan terhadap leluhur. Selain Buddha dan Shinto, alasan apakah yang menyebabkan orang Jepang memeluk lebih dari satu agama? Hal ini mungkin sulit untuk dijelaskan. Meminjam pendapat dari seorang peneliti agamaagama di Jepang. Prof. Hanazono Toshimaro dari Universitas Tohoku yang mengatakan bahwa Jepang diibaratkan sebagai Aumusium agama-agama di duniaAy. Mungkin pernyataan tersebut diatas terlalu dilebih-lebihkan namun banyak peneliti yang berangapan demikian karena pada umumnya orang Jepang tidak percaya pada agama namun pada kenyataannya mereka menganut atau memeluk lebih dari satu agama. Konon agama asli orang Jepang adalah Shinto . yang artinya Aujalan para dewaAu. Setelah masuknya Budha melalui China dan Korea sekitar abad ke 6, melalui pergulatan yang panjang, terjadi interaksi yang serasi antara dewa-dewa Shinto dengan Budha yang dikenal dengan uuC honji Pada umumnya sekarang ini orang Jepang tidak ada yang hanya beragama Shinto atau Budha saja bahkan ditambah dengan Kristen atau dengan yang lainnya. Mereka meletakan prioritas-prioritas atau kebutuhan untuk pada masing-masing agama. Demikian pula sampai saat ini di rumah-rumah orang Jepang, utamanya di wilayah pedesaan terdapat altar Shinto dan Budha juga adakalanya ada patung Bunda Maria. Mereka juga pergi ke Jinja atau kuil Shinto dan pergi ke Otera atau kuil Budha mungkin juga pergi ke gereja atau kegiatan keagamaan lainnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Agama Kristen Katolik untuk pertama kalinya diperkenalkan di Jepang pada pertengahan abad 15 yang dibawa oleh para misionaris dari Portugis dan Spanyol antara lain dari Franciscus Xavier. Dalam waktu yang amat singkat agama Kristen dapat menyebar di kalangan penguasa militer karena mereka mengunakan Kristen atau budaya Barat terutama teknologinya untuk kepentingan Perang atau untuk politisasi pemerintahan, namun seabad kemudian agama ini dilarang karena Kristen dianggap berbahaya untuk pemerintah saat itu. Dapat dikatakan bahwa Kristen tidak memiliki pengaruh yang kuat dalam kebudayaan Jepang hingga kini. Kemungkinan adanya unsur monotheisme dalam agama ini sehingga susah diterima atau diasimilasikan ke dalam kebudayaan Jepang. Kemungkinan juga peraturan yang cukup Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol . No. September 2011 keras dalam Kristen juga menghambat penyebaran dan pengembangan Kristen sebagai agama karena dianggap tidak cocok dengan aturan temparamen orang Jepang, yang boleh minuman keras, memperbolehkan praktek sex bebas dan juga halhal yang sifatnya duniawi asal kesemuanya ini Monoteistik yang ada dalam Kristen khususnya agama-agama menghalangi perkembangan agama tersebut. Dalam kehidupan orang Jepang dapat menerima dewadewa yang begitu banyak dan juga memiliki berbagai fungsinya. Kesemua itu orang Jepang bisa menerimanya tanpa bingung atau perasaan Karena orang Jepang, secara tradisional Shinto memusatkan pada kesejahteraan kelompok sedangkan Budha memperperhatikan kesejahteraan keluarga. Kristen hanya hadir dalam kehidupan individu-individu perkotaan serta suasana kehidupan industri modern dan juga gaya Bagi orang Jepang semua fenomena alam yang hidup atau dianggap hidup . maupun yang tidak hidup . bahkan benda buatan manusiapun akan dianggap memiliki potensi untuk dianggap hidup apabila mereka yakini ada kekuatan gaib di benda-benda tersebut. Hal-hal inilah yang dikenal dengan folk belieft. Mengenai hal ini Harumi Befu mengatakan bahwa memang rakyat Jepang di dalam kepercayaan rakyatnya telah terjadi percampuran atau sinkritisme dengan agama-agama dari luar Jepang, namun orang Jepang tidak mengambil pusing terhadap hal Dari hal tersebut dapat kita pahami bahwa kepercayaan rakyat Jepang merupakan suatu sistem kepercayaan yang hanya orang Jepang dan di tanah Jepang saja yang mengerti dan mempercayainya walaupun memang terjadi sinkritisme tetapi warna dari Shinto dan tradisi Jepang tetap terjaga. II. KERANGKA TEORI / TINJAUAN PUSTAKA