Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 1, 2025 Page: 20-34 ANALISIS STRUKTURAL NASKAH DRAMA BERJUDUL SENJA DENGAN DUA KELELAWAR KARYA KRIDJOMULYO Akhmad Fatoni. Seftia Wulan Ayu Ningrum Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Islam Majapahit Email: Fatoni. akhmad@unim. cantikwulan273@gmail. Abstrak Dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan, realitas sosial, kekayaan budaya sastra, pengembangan ilmu pengetahuan, serta wacana budaya dan sosial, naskah drama Kirdjomulyo memiliki peranan yang sangat signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan unsur-unsur struktural yang terdapat dalam naskah drama berjudul AuSenja dengan Dua Kelelawar. Ay Analisis struktural digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti karya sastra dari sudut pandang intrinsik, dengan menekankan elemen-elemen yang membentuk struktur dan makna dalam karya tersebut. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, yang memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi informasi secara mendalam mengenai konteks dan isi naskah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah "Senja dengan Dua Kelelawar" mengangkat tema percintaan yang mendalam, mencerminkan dinamika hubungan antar karakter dalam konteks sosial yang lebih luas. Naskah ini memperkenalkan delapan karakter, masing-masing dengan peran dan karakteristik yang berbeda, sehingga menciptakan interaksi yang kompleks dan Alur cerita disusun secara kronologis, sementara latar sosial, waktu, dan tempat memberikan konteks yang kaya bagi perkembangan narasi. Selain itu, penggunaan sudut pandang serba tahu orang ketiga memungkinkan pembaca untuk memahami perspektif berbagai karakter secara mendalam, sehingga memperkaya pengalaman membaca dan menonton drama ini. Kata kunci: Struktural. Naskah. Drama. Abstrac In the context of human values, social reality, the richness of literary culture, the development of science, and cultural and social discourse, the Kirdjomulyo drama script has a very significant role. This study aims to describe the structural elements contained in the drama script entitled "Senja dengan Dua Kelelawar. " Structural analysis is used as an approach to examine literary works from an intrinsic perspective, with an emphasis on the elements that form the structure and meaning in the work. This research method is descriptive and uses data collection techniques through literature studies, which allows researchers to explore information in depth regarding the context and content of the script. The results of the study show that the script "Senja dengan Dua Kelelawar" raises a deep theme of romance, reflecting the dynamics of relationships between characters in a broader social context. This script introduces eight characters, each with different roles and characteristics, creating complex and interesting interactions. The storyline is arranged chronologically, while the social setting, time, and place provide a rich context for the development of the narrative. In addition, the use of a third-person omniscient point of view allows readers to understand the perspectives of various characters in depth, thus enriching the experience of reading and watching this drama. Keyword: Structural. Script. Drama. Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 Pendahuluan Drama merupakan salah satu genre sastra penting yang menyampaikan narasi melalui dialog dan aksi yang ditampilkan di atas panggung. Sebagai sebuah bentuk seni, drama menawarkan pengalaman unik bagi penontonnya, karena cerita terungkap melalui interaksi dan percakapan antar-tokoh, bukan melalui narasi ekstensif yang biasa terdapat dalam novel atau puisi. (Nuryanto 2017:. menggolongkan drama sebagai penggambaran konflik manusia yang diungkapkan memanfaatkan dialog dan aksi di hadapan penonton. Seringkali, drama antar-tokoh, mengangkat tema-tema universal seperti cinta, kekuasaan, pengkhianatan, dan kondisi manusia. Selain berfungsi sebagai sumber hiburan, drama memainkan peran penting sebagai komentar sosial dan politik, yang berfungsi untuk mengkritik otoritas atau menyoroti nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Harymawan (Maharani, 2. , istilah Yunani AudraomaiAy berarti Aumelakukan,Ay Aubertindak,Ay dan konsep serupa, yang memberikan wawasan fundamental mengenai esensi drama. Dengan memaknai drama sebagai AutindakanAy atau Auperbuatan,Ay kita dapat memahami bahwa drama lebih dari sekadar teks ia merupakan representasi dari interaksi manusia yang dinamis dan Dalam mengekspresikan berbagai aspek kehidupan, termasuk emosi, konflik, dan pengalaman manusia yang bersifat universal. Drama dapat dipandang sebagai karya sastra yang disajikan dalam bentuk dialog dan diperankan oleh aktor untuk dinikmati oleh penonton (Putra, 2. Melalui dialog dan aksi yang ditampilkan di atas panggung, drama menciptakan pengalaman imersif bagi penonton, memungkinkan mereka terlibat secara emosional dengan cerita dan karakter. Drama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat refleksi sosial dan budaya, di mana penonton dapat merenungkan nilai-nilai dan isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat. Dalam hal ini, drama berfungsi sebagai jembatan antara seni dan kehidupan nyata, mengajak penonton untuk mempertimbangkan makna dari tindakan dan perilaku yang ditampilkan dalam pertunjukan. Menurut Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 (Budiantara, 2. , drama merupakan salah satu genre sastra yang ditampilkan secara fisik melalui dialog antara para tokoh yang terlibat. Banyak pelaut yang berlari hidup oleh penulis, dan naskah tersebut diproduksi ulang menjadi sebuah karya drama. (Nurgiyantoro, 2. menegaskan bahwa fiksi adalah hasil dari dialog, refleksi, dan reaksi penonton terhadap lingkungan dan kehidupan. Tidak tepat jika fiksi hanya diukur dari hasil imajinasi semata, karena terdapat juga elemen penghayatan dan perenungan yang mendalam. Keberadaan naskah drama sangat strategis, menjadikannya sebagai kebutuhan yang tak terpisahkan dari pendidikan. Pendidikan seharusnya berupaya untuk menyelaraskan dan mendidik masyarakat melalui pesan moral yang disampaikan oleh pengarang dalam naskah drama. Oleh karena itu, naskah drama sangat penting untuk dipelajari. Sebagaimana diungkapkan oleh Adita Widara Putra (Putra, 2. , drama memiliki dua dimensi utama, yaitu dimensi sastra dan dimensi pertunjukan, yang mengalami transformasi makna menjadi 'drama sebagai karya seni pertunjukan. Dimensi sastra berfokus pada elemen teks dan narasi yang terdapat dalam drama, sedangkan dimensi pertunjukan menyoroti pentingnya aspek visual dan performatif yang ditampilkan di atas panggung. Hal ini menunjukkan bahwa drama tidak hanya dapat dinikmati sebagai bacaan, tetapi juga sebagai bentuk hiburan yang menarik dan memikat perhatian penonton. Dengan demikian, drama berfungsi sebagai penghubung antara karya sastra dan seni pertunjukan, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi audiens. Menurut Hassanudin (Pratama, 2. , drama memiliki dua dimensi karakter yang saling melengkapi. Dimensi ini mencakup karakter yang ada dalam teks serta cara karakter tersebut diinterpretasikan dan diperankan oleh aktor di atas panggung. Keberhasilan sebuah pertunjukan drama tidak hanya ditentukan oleh kualitas naskah, tetapi juga oleh kemampuan sutradara, aktor, dan penata pentas dalam menyampaikan cerita dengan cara yang menarik dan mengesankan. Salah satu faktor penting dalam kesuksesan pertunjukan adalah ketergantungan drama pada teksnya sebagai permainan teks. artinya, dialog dan aksi dalam naskah harus mampu hidup dan beresonansi dengan penonton saat Dengan kombinasi antara teks yang kuat dan pertunjukan yang memikat, drama dapat menciptakan pengalaman teater yang tak terlupakan. Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 mengajak penonton untuk terlibat secara emosional dengan cerita dan karakter yang ditampilkan. Pembahasan seputar drama sering kali menitikberatkan pada aspek terabaikannya hakikat mendasarnya sebagai sebuah karya sastra. Sebagaimana diutarakan Hasanudin (Jayanti dkk. , 2021:. , drama mencakup dua dimensi penting, yakni sebagai genre sastra dan sebagai seni pertunjukan. Dalam kapasitasnya sebagai genre sastra, drama dikenal sebagai naskah yang tersusun dari dialog-dialog yang dapat diapresiasi, dipahami, dan diinterpretasikan melalui Sebaliknya, dalam perannya sebagai seni pertunjukan, drama terwujud sebagai sebuah produksi yang memadukan berbagai unsur seni, meliputi gerak, tari, pertunjukan vokal, musik, dan seni rupa lainnya. Drama Naskah Kirdjomulyo AuSenja dengan Dua KelelawarAy sangat populer karena berbagai alasan, termasuk kekayaan budaya sastra, pengembangan ilmu pengetahuan, nilai-nilai kemanusiaan, dan diskusi budaya dan sosial. Kajian skripsi ini dapat membantu khalayak umum dan mendorong perubahan yang baik dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Menurut Saleh Saad (Riswandi, 2. , ada dua cara pembaca dapat menikmati karya sastra: secara emosional. Cara pertama melibatkan menikmati karya sastra secara langsung dan memahami Cara kedua melibatkan menganalisis karya sastra berdasarkan standar dan prinsip tertentu. Oleh karena itu, penulis akan menggunakan pendekatan struktural untuk menyelidiki naskah drama Kirdjomulyo "Senja dengan Dua Kelelawar". Memanfaatkan metode ini disebabkan oleh keinginan untuk menikmati dan memahami elemen yang terkandung dalam karya sastra Metode Penelitian Penelitian kualitatif deskriptif termasuk dalam penelitian ini. Sugiyono menyatakan bahwa metode deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan satu atau lebih variabel mandiri tanpa membandingkannya dengan variabel lain. Metode ini dipilih karena lebih cocok digunakan dalam penelitian yang mendeskripsikan objek secara alami. Menurut Sugiyono (Abdussamad: 2. , setelah tahap deskripsi, peneliti melanjutkan ke tahap Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 Peneliti mengurangi jumlah data yang mereka kumpulkan dengan memilih dan memfokuskan data pada elemen yang dianggap relevan dan penting untuk Studi ini merupakan bagian dari studi pustaka. Alih-alih melakukan penelitian di lapangan, studi pustaka fokus pada penelusuran informasi dari sumber-sumber tertulis untuk mempelajari naskah drama Kirdjomulyo AuSenja dengan Dua KelelawarAy. Kajian ini mempelajari karya sastra dengan melihat unsurunsurnya, keseluruhan satu sama lain, dan relevansinya dengan konteks yang lebih Sugiyono menyatakan bahwa Austudi kepustakaan sangat penting dalam melakukan penelitian, hal ini karena penelitian tidak akan lepas dari literatur-literatur ilmiahAy (Ansori dkk: 2. Drama AuSenja dengan Dua KelelawarAy menggunakan pendekatan struktural dalam penelitian ini. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil dan Pembahasan Menurut (Luxemburg, 1. dan (Riswandi, 2. , struktur dalam kajian sastra merujuk pada hubungan yang stabil antara kelompok fenomena yang diamati Dalam Luxemburg mengelompokkan karakter dalam cerita ke dalam beberapa kategori, termasuk tokoh utama . , tokoh antagonis, dan karakter tambahan lainnya. Klasifikasi ini memfasilitasi analisis yang lebih mendalam mengenai peran masingmasing karakter dalam narasi serta bagaimana interaksi di antara mereka membentuk keseluruhan cerita. Dengan demikian, pendekatan struktural tidak hanya menyoroti elemen-elemen individual dalam karya sastra, tetapi juga mengungkap pola dan hubungan yang lebih luas, memungkinkan pembaca untuk memahami makna yang lebih kompleks dari teks sastra tersebut. Pendeskripsian berikut menjelaskan hasil analisis penelitian yang dilakukan pada naskah drama Senja dengan dua kelelawar menggunakan pendekatan struktural: teori struktural Robert Stanton digunakan untuk tema, fakta cerita . okoh, penokohan, alur, dan lata. , dan sarana sastra . udut pandang, gaya, dan nada, amana. Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 Unsur Struktual Pada Naskah Drama AuSenja dengan Dua KelelawarAy Karya Kirdjomulyo Tema Tema dalam naskah drama memiliki dimensi yang kaya dan berhubungan erat dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Hartoko dan Rahmanto (Nurgiantoro, 2015:. menyatakan bahwa tema dalam drama berfungsi sebagai sarana untuk memahami kondisi sosial, emosional, dan psikologis karakter serta masyarakat yang diwakilinya. Dalam hal ini, drama Kirdjomulyo berjudul AuSenja dengan Dua KelelawarAy mengangkat tema yang mendalam mengenai cinta yang sepihak, penyesalan atas pilihan yang diambil, serta pencarian makna hidup dan identitas Tema-tema ini tidak hanya mencerminkan pengalaman pribadi karakter, tetapi juga menggambarkan dilema universal yang dapat dihubungkan oleh penonton dari berbagai latar belakang. Drama ini menggali tema pengorbanan dan cinta sejati dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Nilai-nilai budaya dan tradisi yang khas terlihat jelas melalui latar cerita, dialog antar tokoh, serta adat istiadat yang Sebagai contoh, interaksi antara karakter mencerminkan norma sosial dan harapan masyarakat Jawa terhadap hubungan antarmanusia. Dengan demikian, penonton tidak hanya disuguhkan dengan kisah cinta yang emosional, tetapi juga diajak untuk merenungkan bagaimana budaya dan tradisi membentuk perilaku individu dalam konteks sosial mereka. Pengarang memilih tema ini, dalam karya sastra untuk mencerminkan dan nilai-nilai kemanusiaan, dinamika sosial, dan identitas budaya. Dalam naskah drama AuSenja dengan Dua KelelawarAy karya Kirdjomulyo, tema yang diangkat adalah percintaan yang mendalam, yang tidak hanya fokus pada hubungan antar karakter tetapi juga mencerminkan konteks sosial yang lebih luas. Tema percintaan dalam drama ini menggambarkan pengalaman emosional yang universal, seperti cinta yang sepihak dan penyesalan. Hal ini memungkinkan penonton untuk memikirkan dilema moral dan emosional yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Drama ini menyajikan latar belakang masyarakat Jawa, di mana norma-norma sosial dan Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 tradisi berperan penting dalam membentuk hubungan antar karakter. Melalui interaksi mereka, pengarang mengajak penonton untuk memahami bagaimana budaya mempengaruhi perilaku individu. Dengan memperkenalkan delapan karakter yang memiliki peran dan sifat berbeda, pengarang menciptakan dinamika yang kompleks. Setiap karakter tidak hanya berfungsi untuk menggerakkan alur cerita tetapi juga untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan sosial yang lebih Dapat disimpulkan bahwa tema drama ini memiliki makna yang kompleks sehingga membuat penonton terpesona dan merenungkan semua aspek kehidupan Melalui penggambaran yang mendalam tentang cinta dan penyesalan, penonton diundang untuk merasakan emosi karakter serta memahami kompleksitas hubungan antar manusia. Drama AuSenja dengan Dua KelelawarAy berhasil menyajikan kisah yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan, nilai-nilai budaya, dan pencarian identitas diri. Dengan demikian, drama ini menjadi refleksi yang kuat tentang kondisi manusia dalam konteks sosial yang lebih luas. Tokoh Tokoh dalam sebuah drama merupakan elemen yang sangat vital dalam membentuk alur cerita serta menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh Menurut Sudjiman (Giawa dkk. , 2. , tokoh dalam karya sastra adalah karakter yang diciptakan oleh penulis dan mengalami berbagai peristiwa dalam Keberadaan tokoh tidak hanya memberikan nuansa pada cerita, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung bagi penonton untuk memahami tema dan konflik yang ada. Dalam hal ini, penokohan atau karakterisasi menjadi aspek penting yang menentukan bagaimana seorang tokoh menjalani perannya dalam sebuah drama. Dengan demikian, penokohan berperan dalam memberikan makna pada cerita dan membangun karakter tokoh dalam karya sastra, sehingga penonton dapat merasakan kedalaman emosi dan motivasi yang mendasari tindakan mereka. Dalam naskah drama Kirdjomulyo yang berjudul "Senja dengan Dua Kelelawar," sejumlah karakter diperkenalkan dengan latar belakang dan sifat yang beragam, menciptakan dinamika yang menarik di antara mereka. Setiap karakter memiliki peran tertentu yang mendukung alur cerita, baik sebagai protagonis maupun Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 antagonis, serta berkontribusi dalam pengembangan tema utama drama. Melalui interaksi antar karakter, penonton diajak untuk merenungkan nilai-nilai kehidupan, konflik internal, dan realitas sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian, penokohan dalam drama ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai sarana untuk mengeksplorasi isu-isu mendalam yang relevan dengan kehidupan manusia, menjadikan "Senja dengan Dua Kelelawar" sebagai karya yang kaya akan makna dan refleksi sosial. Berikut adalah karakter dari para tokoh: Mursiwi, dalam karakter mursiwi menyampaikan sifat materialis, curang, dan sering pamer. Dia sering kali terobsesi dengan kekayaan dan status sosial, yang membuatnya rela melakukan tindakan curang untuk mencapai tujuannya. Sikap pamer yang ditunjukkan Mursiwi mencerminkan ketidakpuasan dalam hidupnya, di mana ia merasa perlu menunjukkan keberhasilannya kepada orang lain untuk mendapatkan pengakuan dan validasi. Karakter ini menjadi simbol dari mereka yang terjebak dalam ambisi materialistis, sering kali mengorbankan integritas demi mencapai kesuksesan yang diinginkan. Sulaiman, meskipun memainkan peran kecil dalam drama tersebut, dia menyampaikan pesan yang signifikan terhadap bagaimana konflik berakhir. Karakter ini berfungsi sebagai katalisator dalam perkembangan cerita, memberikan wawasan atau nasihat yang membantu tokoh utama mengambil keputusan penting. Dengan kehadirannya. Sulaiman menunjukkan bahwa bahkan karakter dengan peran minor dapat memiliki dampak besar pada alur cerita dan resolusi konflik, menekankan pentingnya setiap individu dalam konteks sosial yang lebih luas. Peran ismiyati menyampaikan pesan melalui karakternya yang keras dan berani berkorban demi cintanya. Dia menunjukkan keteguhan hati dan keberanian dalam menghadapi tantangan, serta tidak ragu untuk mengambil risiko demi orang yang dicintainya. Meskipun memiliki sifat yang kuat. Ismiyati juga menunjukkan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, tidak terburu-buru dalam bertindak tanpa pertimbangan matang. Karakter ini menggambarkan Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 sosok perempuan yang tangguh, mampu berdiri di atas kakinya sendiri sambil tetap setia pada nilai-nilai cinta dan pengorbanan. Suwarto adalah sosok penyayang yang menjaga kehormatan keluarganya dengan penuh dedikasi. Dia memiliki keinginan yang tinggi untuk mencapai sesuatu dalam hidupnya, namun terkadang menunjukkan ketidaksenangan ketika menerima nasihat dari orang lain. Suwarto menggambarkan karakter yang berjuang antara ambisi pribadi dan tanggung jawab terhadap keluarga, menciptakan dinamika menarik dalam hubungan interpersonal di sekitarnya. Mardikun memiliki karakter dewasa dan senang memberi nasihat kepada orang Dia dikenal sebagai sosok dermawan yang selalu siap membantu mereka yang membutuhkan. Mardikun menjadi panutan bagi karakter lain dalam drama ini, menawarkan kebijaksanaan dan dukungan moral ketika situasi menjadi sulit. Sifat dermawan ini tidak hanya mencerminkan kebaikan hati, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya saling membantu dalam komunitas. Tomokaryo sebagai tokoh pendukung yang lucu, menciptakan suasana ceria di tengah cerita dengan humor dan keceriaannya. Dia sangat mencintai keluarganya dan menjunjung tinggi solidaritas di antara anggota komunitasnya. Tomokaryo berfungsi sebagai pengingat bahwa meskipun ada konflik serius dalam drama, penting untuk tetap menjaga ikatan sosial dan menemukan kebahagiaan dalam hubungan antar manusia. Siswoyo mirip dengan Tomokaryo, bekerja sebagai pegawai di stasiun kereta Karakter ini menambah kedalaman pada narasi dengan memberikan perspektif tentang kehidupan sehari-hari masyarakat biasa yang terlibat dalam industri transportasi. Melalui pekerjaannya. Siswoyo berinteraksi dengan berbagai karakter lain, memperkaya alur cerita dengan pengalaman dan pandangannya tentang kehidupan. Marsudi adalah karakter yang penuh kasih sayang terhadap keluarganya dan sangat mencintai anak-anaknya. Dia menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang mendalam, berusaha untuk menjadi figur ayah yang baik bagi keluarganya. Karakter Marsudi menggambarkan nilai-nilai keluarga yang kuat dan pentingnya kasih sayang dalam membangun hubungan harmonis di antara anggota Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 Alur Alur maju merupakan pilihan yang diambil oleh pengarang naskah drama Kirdjomulyo berjudul "Senja dengan Dua Kelelawar," Alur maju memudahkan penonton untuk mengikuti perkembangan cerita dan karakter. Dengan gameplay yang terstruktur, penonton dapat memahami hubungan antar karakter dan konflik yang berkembang tanpa kerumitan, sehingga pengalaman menonton menjadi lebih Dengan alur yang disusun secara kronologis, ketegangan dalam cerita dapat dibangun secara bertahap. Penonton dapat merasakan emosi dan konflik yang dialami karakter seiring dengan berjalannya waktu, sehingga meningkatkan keterlibatan emosional mereka terhadap cerita. Alur maju memungkinkan menggambarkan perkembangan karakter yang jelas. Penonton dapat melihat bagaimana karakter berevolusi melalui pengalaman dan pilihan yang mereka buat, serta bagaimana hal tersebut mempengaruhi hubungan antar Dengan menggunakan alur maju, konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi cerita dapat disampaikan dengan lebih baik. Penonton dapat memahami nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat, serta bagaimana hal tersebut mempengaruhi tindakan dan keputusan karakter. Setelah peristiwa tragis tersebut. Ismiyati dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak bertanggung jawab atas kematian Mursiwi, yang menambah kompleksitas pada karakter dan alur cerita. Saat penyelidikan berlangsung, terungkap bahwa pelaku sebenarnya adalah seorang pria misterius yang mencari Mursiwi, yang ternyata adalah mantan kekasih Mursiwi yang ingin membalas dendam karena Dengan pengungkapan ini, ketegangan dalam cerita mencapai puncaknya, dan Ismiyati dibebaskan dari segala tuduhan. Pada akhirnya, kisah cinta antara Ismiyati dan Suwarto dapat tumbuh kembali, menandakan harapan baru di tengah tragedi yang telah terjadi. Alur maju ini tidak hanya mendorong cerita ke depan tetapi juga mencerminkan dinamika emosional yang rumit antara cinta, pengkhianatan, dan penebusan. Latar Latar atau setting dalam sebuah drama dirancang untuk memberikan kesan realistis kepada penonton, sehingga mereka dapat membangun imajinasi mereka sendiri Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 tentang cerita yang disajikan. Menurut Robert Stanton (Mustaqim dkk. , 2. , latar adalah "lingkungan yang menjadi tempat/waktu berlangsungnya satu kejadian dalam cerita," yang memainkan peran penting dalam membentuk suasana dan konteks narasi. Dalam naskah drama Kirdjomulyo berjudul AuSenja dengan Dua Kelelawar,Ay latar yang digunakan mencakup berbagai lokasi, yaitu:: Latar Tempat . Stasiun Kereta Api, tempat saksi bisu berbagai peristiwa yang terjadi, termasuk pertemuan Ismiyati dengan Suwarto, kematian Mursiwi, dan mengungkap fakta tentang bagaimana Mursiwi terbunuh. Rumah Ismiyati digambarkan sebagai rumah yang penuh dengan kesedihan dan keterpurukan. Kantor polisi, kafe, dan tempat lain yang membantu Latar Waktu . Sebagian peristiwa besar digambarkan pada malam hari untuk menciptakan suasana yang tegang, mencekam, dan misterius. Judul drama menunjukkan senja sebagai pergeseran antara cinta dan benci, bahagia dan sedih, dan kebenaran dan kisah nyata. Sudut Pandang Menurut Robert Stanton (Mustaqim et al. , 2019:. , sudut pandang sebagai pusat kesadaran yang membantu pembaca memahami berbagai peristiwa dalam sebuah cerita. Hasil analisis terhadap naskah drama Mangir, cerita ini disampaikan melalui sudut pandang orang ketiga. Terlihat dari cara tokoh disebutkan langsung dengan nama mereka dalam dialog dan interaksi, tanpa kehadiran pencerita yang terlibat secara pribadi. Sudut pandang memiliki peranan yang krusial dalam drama, berfungsi sebagai sarana bagi penulis untuk mengarahkan penonton dalam memahami alur cerita dan karakter yang ada. Dengan pemilihan perspektif yang tepat, penulis dapat menciptakan suasana yang sesuai, menentukan kredibilitas karakter, serta menarik perhatian audiens. Menurut Nurgiyantoro (Sobirin, 2. , pemilihan sudut pandang yang tepat memungkinkan penulis untuk menyampaikan ide dan narasi mereka dengan lebih efisien kepada pembaca. Hal ini menunjukkan bahwa sudut pandang tidak hanya memengaruhi cara penyampaian cerita, tetapi Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 juga bagaimana penonton merasakan dan menginterpretasikan emosi serta konflik yang muncul dalam drama. Dalam naskah drama AuSenja dengan Dua KelelawarAy karya Kirdjomulyo, penulis memilih sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Dengan pendekatan ini, pembaca diberikan akses ke pikiran dan perasaan berbagai karakter, sehingga menambah kedalaman dalam narasi. Sudut pandang ini memungkinkan penulis untuk menjelaskan latar belakang setiap karakter dan dinamika hubungan di antara mereka dengan lebih menyeluruh. Selain itu, penggunaan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu membantu penonton memahami konteks sosial dan emosional dari peristiwa yang terjadi, sehingga memperkaya pengalaman menonton dan memberikan wawasan yang lebih dalam tentang tema-tema yang diangkat dalam drama tersebut. Amanat Amanat dalam karya sastra, sebagaimana diuraikan oleh Nurgiyantoro (Ningsih , 2. , merujuk pada pesan atau gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca setelah mereka menyelesaikan sebuah cerita. Amanat ini bersifat subjektif dan dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang masing-masing individu, sehingga setiap pembaca berpotensi menemukan makna yang berbeda berdasarkan pengalaman dan pandangan pribadi mereka. Dalam naskah drama Kirdjomulyo yang berjudul AuSenja dengan Dua Kelelawar,Ay terdapat amanat yang kaya dan beragam nilai kehidupan yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas Melalui alur cerita dan karakter-karakter yang ditampilkan, penulis menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, serta bagaimana kedua hal tersebut menjadi dasar bagi interaksi sosial yang sehat. Selain itu, drama ini mendorong pembaca untuk belajar dari kesalahan dan mengambil hikmah dari pengalaman tersebut. Dalam konteks hubungan antar individu, tema cinta juga menjadi fokus utama. Penulis menyoroti peran cinta sebagai kekuatan yang mengikat dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dengan menggambarkan perjalanan emosional para karakter dalam drama ini, penulis menekankan bahwa meskipun kehidupan dipenuhi dengan rintangan, keinginan Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 1, 2025 Akhmad Fatoni 1. Seftia Wulan Ayu Ningrum 2 untuk mengekspresikan diri dan saling memahami adalah hal yang sangat penting. Melalui amanat ini, "Senja dengan Dua Kelelawar" tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai refleksi mendalam mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Simpulan Drama "Senja dengan Dua Kelelawar" karya Kirdjomulyo mengangkat tematema yang mendalam dan kompleks, termasuk cinta yang terjalin di tepi, penyesalan atas pilihan yang diambil, serta pencarian makna hidup dan identitas. Dalam karya ini, penulis tidak hanya menggambarkan interaksi antar karakter, tetapi juga menekankan pengorbanan dan cinta sejati sebagai elemen krusial dalam membangun hubungan yang berarti. Selain itu, drama ini mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu, menampilkan nilai-nilai dan budaya yang khas serta dampaknya terhadap interaksi sosial antar tokoh. Dengan delapan karakter, di mana Ismiyati. Suwarto, dan Mursiwi berperan sebagai tokoh utama, drama ini mengeksplorasi dinamika emosional di antara mereka. Alur cerita mengikuti struktur maju, memungkinkan penonton untuk mengikuti perkembangan cerita secara Latar tempat yang digunakan mencakup stasiun kereta api, rumah Ismiyati, kantor polisi, dan kafe, yang menciptakan konteks relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu. Latar waktu yang diambil adalah malam dan senja, memberikan nuansa dramatis yang mendukung tema cerita. Kehadiran kaum marginal dan masyarakat pascakemerdekaan menambah kedalaman latar belakang sosial dalam drama ini. Sudut pandang orang ketiga yang serba tahu dipilih untuk memberikan wawasan menyeluruh mengenai pikiran dan perasaan setiap karakter. Dengan demikian, drama Kirdjomulyo "Senja dengan Dua Kelelawar" tidak hanya membahas makna cinta sejati dalam membangun hubungan, tetapi juga menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan, belajar dari kesalahan, serta semangat untuk mengekspresikan diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Akhmad Fatoni1. Seftia Wulan Ayu Ningrum2 Daftar Pustaka