Vol. No. Tahun 2025 e-ISSN 2723-0120 p-ISSN 2828-3511 ANALISIS BIAYA PRODUKSI TERHADAP KEPUTUSAN PENETAPAN HARGA JUAL PADA UMKM TENUN HEYBAJO DI LABUAN BAJO 1*Ignacia Betrya Andistan, 2Putu Putri Prawitasari, 3Gusi Putu Lestara Permana, 4Ketut Tanti Kustina Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional Denpasar betrya17@gmail. com, putriprawitasari@undiknas. ABSTRAK Penelitian terserbut bermaksud guna produksi serta penetapan biaya jual pada UMKM Tenun Heybajo di Labuan Bajo, dengan fokus pada pengaruh tekhnik perhitungan HPP terhadap keputusan harga jual. Tenun Heybajo menjumpai rintangan didalam menentukan biaya jual yang tepat, mengingat biaya bahan baku serta tenaga kerja yang tinggi akibat proses produksi manual. Metode penelitian yang digunakan adalah campuran . ixed metho. , dengan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh data numerik serta kualitatif untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penetapan harga jual. Berdasarkan analisis biaya produksi, ditemukan bahwa penggunaan metode tradisional menghasilkan HPP besarmua Rp 930. 000, sementara teknik full costing mencatatkan HPP besarnya Rp 990. Selisihnya terlaksana sebab perhitungan tarif overhead yang lebih rinci dalam tekhnik full costing. Kedua tekhnik tersebut menghasilkan biaya jual yang hampir sama, namun tekhnik full costing lebih sesuai didalam menggambarkannya tarif yang sebenarnya. Penetapan tarif jual melalui tekhnik cost plus pricing pada kedua cara menunjukkan tarif jual yang sesuai melalui margin keuntungan yang diharapkan yakni besarnya 30% melalui hasil tarif yang lebih tinggi dalam tekhnik full costing, yakni Rp 1. Penelitiannya menganjurkan penggunaan tekhnik full costing guna UMKM yang ingin lebih akurat dalam menentukan harga jual dan mengoptimalkan keuntungan, sambil mempertahankan daya saing di pasar. Kata Kunci: biaya produksi, harga pokok produksi, harga jual. ABSTRACT This study aims to analyze production costs and pricing decisions at the Tenun Heybajo micro, small, and medium enterprise (MSME) in Labuan Bajo, focusing on the impact of the cost of goods sold (COGS) calculation methods on pricing decisions. Tenun Heybajo faces challenges in setting appropriate selling prices due to high raw material and labor costs caused by manual production processes. The research uses a mixed-method approach, combining quantitative methods to gather numerical data and qualitative methods to gain a deeper understanding of the factors affecting pricing decisions. Based on the analysis of production costs, it was found that using the traditional method results in a COGS of IDR 930,000, while the full costing method reports a COGS of IDR 990,000. The difference occurs due to a more detailed calculation of overhead costs in the full costing method. Both methods result in nearly the same selling price, but the full costing method provides a more accurate reflection of actual costs. Pricing decisions using the cost plus pricing method for both methods show a selling price aligned with the desired profit margin of 30%, with the full costing method resulting in a Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. higher selling price of IDR 1,287,000. This study recommends the use of the full costing method for MSMEs seeking more accurate pricing and profit optimization, while maintaining market Keywords: production cost, cost of goods sold, selling price. PENDAHULUAN Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Pada tahun 2023, terdapat lebih dari 65,5 juta UMKM di Indonesia, menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM. Usaha-usaha ini menyumbang 61,1% dari PDB negara. Selain itu. UMKM merupakan komponen vital perekonomian Indonesia, yang mempekerjakan lebih dari 97% pekerja di negara ini. Namun, kinerja UMKM sebagian besar bergantung pada kemampuan mereka untuk secara efektif mengendalikan biaya produksi dan menetapkan harga jual agar tetap kompetitif dalam menghadapi persaingan ekonomi yang semakin ketat. Oleh karena itu, analisis biaya produksi tidak hanya merupakan masalah akuntansi semata, tetapi juga menjadi instrumen strategis yang dapat memengaruhi margin keuntungan serta memastikan kelangsungan usaha. Salah satu sektor UMKM yang terus berkembang adalah industri tenun Sektor ini merupakan bagian dari UMKM dalam ekonomi kreatif, dengan produk tenun Indonesia yang dikenal memiliki keindahan artistik tinggi serta jadi unsur warisan tradisi yang mesti dijaga (Ulfa et al. , 2. Meskipun demikian, data dari Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha tenun menghadapi kendala seperti perubahan harga bahan baku yang tidak menentu, keterbatasan peralatan produksi, serta proses pembuatan yang masih dilakukan secara manual. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi menjadi cukup besar. Akibatnya, para pelaku UMKM sering kali kesulitan dalam menentukan tarif jual yang selaras, karena harus memertimbangkan keseimbangan antara biaya produksi, nilai produk, dan daya beli konsumen (Mafuah et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa analisis biaya produksi sangat penting sebagai dasar dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan harga jual, sehingga UMKM tenun tradisional dapat bertahan dan berkembang dalam persaingan pasar yang semakin ketat. Perusahaan senantiasa menentukan tarif barang melalui tujuan meningkatkan penjualan dan keuntungan. Perusahaan harus memahami semua biaya produksi, mulai dari pembuatan hingga produk akhir siap dijual, agar dapat memperoleh keuntungan yang diperlukan. Perusahaan dapat menentukan harga jual yang tepat dengan menghitung semua biaya produksi. Kesalahan dalam perhitungan biaya sering menjadi masalah utama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Ketidakakuratan dalam menentukan biaya produksi dapat berdampak serius terhadap kelangsungan usaha dan bahkan berisiko menyebabkan kebangkrutan (Restu et al. , 2. Ketidaktepatan dalam perhitungan biaya ini dapat langsung memengaruhi penetapan harga jual produk (Hardina et al. Harga yang terlalu tinggi dapat membuat konsumen beralih ke pesaing yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan kualitas serupa, sementara harga yang terlalu rendah berisiko membuat perusahaan gagal menutup seluruh biaya produksi. Afifah & Rumefi . menjelaskan bahwa harga jual yang ideal merupakan jumlah dari total biaya produksi serta margin yang diinginkan. Oleh karena itu, penentuan Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. tarif yang sesuai amat krusial bagi UMKM untuk menjaga daya saing, memperoleh keuntungan wajar, dan memastikan kelangsungan usaha. Perusahaan harus menentukan biaya produksi menggunakan strategi yang selaras dengan tujuan dan keunggulan kompetitif mereka agar dapat memperoleh Sejumlah faktor penting memengaruhi biaya barang yang diproduksi, termasuk harga tenaga kerja langsung, bahan baku, dan biaya overhead manufaktur (Suciati dkk. , 2. Gaji, upah, dan tunjangan karyawan yang secara langsung berpartisipasi dalam proses produksi dianggap sebagai biaya tenaga kerja langsung. Menurut Trianawati dan Sarwono . , biaya overhead pabrik mencakup semua pengeluaran tidak langsung yang memfasilitasi proses produksi, termasuk air, listrik, keamanan, dan biaya lain yang tidak terkait dengan aktivitas produksi. Pendekatan penetapan harga biaya plus, yang menambahkan keuntungan yang diharapkan perusahaan ke semua pengeluaran yang dikeluarkan, adalah salah satu cara untuk menetapkan harga jual. Penetapan harga jual barang menjadi lebih sederhana bagi perusahaan dengan pendekatan ini (Artika dkk. , 2025. Pemilik bisnis dapat menggunakan penetapan biaya penuh atau penetapan biaya variabel untuk menentukan komponen biaya dalam biaya barang yang Melati dkk. mendefinisikan pendekatan biaya lengkap sebagai proses untuk menentukan biaya barang yang diproduksi dengan mempertimbangkan semua aspek biaya produksi, seperti biaya tenaga kerja langsung, bahan baku, dan biaya overhead pabrik tetap dan variabel. Sistem ini menerapkan semua biaya overhead pabrik ke biaya barang yang diproduksi, baik berdasarkan biaya aktual yang dikeluarkan atau berdasarkan tarif yang telah ditentukan pada kapasitas normal (Rahayu & Situngkir, 2. Oleh karena itu, biaya overhead tetap akan dimasukkan dalam biaya persediaan barang yang belum terjual dan hanya akan dicatat sebagai pengeluaran setelah produk terjual. Metode ini dapat digunakan sebagai dasar yang lebih akurat untuk menentukan harga jual dan mengevaluasi profitabilitas bisnis karena memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang semua pengeluaran yang ditanggung perusahaan selama proses produksi (Guritno et al. , 2. Melati et al. dalam penelitiannya tentang penerapan metode full costing di CV. Silvi MN Paradilla Parengan menunjukkan bahwa sebelumnya perusahaan belum memasukkan seluruh komponen biaya, terutama tarif overhead tetap misalkan penyusutan mesin serta listrik. Biaya barang yang diproduksi (COGS) lebih besar setelah menerapkan teknik biaya penuh, tetapi lebih mencerminkan total biaya Hasilnya adalah harga jual yang lebih realistis, yang mencakup semua pengeluaran dan menghasilkan keuntungan yang layak. UKM CJH Catering di Purwakarta menggunakan metodologi biaya penuh dan biaya variabel dalam studi berbeda yang dilakukan oleh Rahayu & Situngkir . Hasilnya menunjukkan bahwa full costing menghasilkan biaya produksi lebih tinggi karena mencakup seluruh biaya tetap dan variabel, sementara variable costing hanya menghitung biaya yang berubah sesuai volume produksi. Secara manajerial, full costing lebih tepat digunakan untuk menentukan tarif jual dan menilai profitabilitas jangka panjang, sementara variable costing lebih sesuai guna ketetapan jangka pendek. Tenun Heybajo ialah bagian UMKM lokal yang bergerak dibidang produksi dan penjualan kain tenun khas Labuan Bajo. Nusa Tenggara Timur. Usaha ini dikenal karena tetap mempertahankan teknik tenun tradisional memakai media tenun bukan Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. mesin (ATBM), yang memberikan karakter unik dan nilai estetika tinggi pada setiap Namun, penggunaan metode tradisional tersebut menyebabkan waktu produksi lebih lama dan biaya produksi relatif tinggi. Berdasarkan pengamatan lapangan. Tenun Heybajo menghadapi tantangan dalam menetapkan harga jual akibat meningkatnya biaya bahan baku, seperti benang katun dan pewarna alami, yang naik sekitar 15% sejak tahun 2023. Selain itu, sistem upah harian yang diterapkan pada penenun berdasarkan jumlah kain yang dihasilkan menyebabkan fluktuasi biaya tenaga kerja. Tantangan ini semakin kompleks karena pewarna alami yang digunakan, seperti kulit mahoni, batang nangka, kayu secang, dan daun indigofera, membutuhkan proses pengolahan yang panjang dan biaya tambahan dibandingkan pewarna sintetis. Di sisi lain, keberadaan tenun Labuan Bajo memiliki nilai budaya yang tinggi, bahkan telah diperkenalkan dalam forum nasional seperti pertemuan G20 sebagai produk unggulan daerah. Permasalahan utama yang dihadapi UMKM Tenun Heybajo adalah belum optimalnya penerapan analisis biaya produksi didalam penentuan tarif jual. Selama ini, keputusan biaya cenderung mengikuti harga pasar atau menyesuaikan dengan pesaing tanpa memperhitungkan seluruh komponen biaya yang sesungguhnya Akibatnya, laba yang diperoleh tidak konsisten dan terkadang tidak menutup biaya operasional. Kondisi ini menunjukkan perlunya analisis menyeluruh terhadap struktur biaya produksi Tenun Heybajo agar perusahaan bisa menentukan tarif jual yang sesuai, menjaga keberlanjutan usaha, serta berperan didalam pelestarian warisan budaya tenun tradisional Labuan Bajo. Penetapan harga jual adalah unsur yang amat krusial didalam aktivitas usaha sebab memengaruhi kepuasan konsumen serta keuntungan yang diperoleh Menurut Mursyidi . , biaya jual mesti mampu menutupi semua biaya produksi serta memberi margin yang nomal bagi perusahaan. Penetapan harga yang tepat bergantung pada perhitungan yang akurat atas biaya produksi dan laba yang diinginkan. Perubahan biaya produksi, baik yang bersifat internal maupun eksternal, dapat memengaruhi harga jual dan volume penjualan (Ventura Hernyndez et al. , 2. Faktor internal mencakup efisiensi proses produksi, sementara faktor eksternal seperti fluktuasi harga bahan baku dan kebijakan pemerintah juga turut Semua pengeluaran yang dikeluarkan selama pembuatan barang atau jasa disebut sebagai biaya produksi. Pengeluaran ini terdiri dari tenaga kerja langsung, bahan baku, dan biaya overhead manufaktur (Altynbekov dkk. , 2. Sementara biaya tenaga kerja langsung mencakup gaji karyawan yang secara langsung berpartisipasi dalam proses produksi, biaya bahan baku mencakup pembelian barang yang digunakan dalam produksi. Listrik, penyusutan mesin, dan pemeliharaan fasilitas manufaktur adalah contoh pengeluaran overhead pabrik yang tidak terkait langsung dengan produk (Sofia Prima Dewi, 2. Mulyadi . menyatakan bahwa seluruh biaya mengubah bahan baku menjadi barang jadi adalah biaya komoditas yang diproduksi. Pengeluaran ini terdiri dari tenaga kerja langsung, bahan baku langsung, dan biaya overhead manufaktur. Menurut Hansen dan Mowen . , biaya barang yang diproduksi digunakan untuk mengevaluasi pengendalian biaya dan efisiensi produksi selain menetapkan harga Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. Akibatnya, menentukan biaya barang yang diproduksi sangat penting untuk menjamin profitabilitas maksimum dan daya saing pasar. Ada beberapa cara untuk menentukan harga jual yang tepat. Pendekatan penetapan harga biaya plus adalah salah satunya. Hal ini meningkatkan biaya produksi keseluruhan per unit sebesar persentase keuntungan tertentu (Hansen & Mowen, 2. Metode ini membantu perusahaan dalam memastikan bahwa seluruh biaya dapat tertutup dan memperoleh keuntungan yang stabil. Mulyadi . juga menekankan bahwa metode ini efektif untuk perusahaan dengan struktur biaya yang Di sisi lain, penetapan harga jual juga harus mempertimbangkan kondisi pasar dan nilai produk di mata konsumen (Hamid & Albab, 2. Ada dua metode untuk menghitung biaya barang manufaktur: biaya penuh dan biaya variabel. Semua biaya, baik variabel maupun tetap, termasuk dalam biaya penuh untuk menentukan harga barang manufaktur (Mulyadi, 2. Hanya biaya yang berubah seiring volume produksi yang diperhitungkan oleh biaya variabel. Menurut Hansen dan Mowen . , setiap pendekatan menawarkan pro dan kontra berdasarkan tujuan perusahaan dalam menetapkan harga jual dan mengevaluasi profitabilitas jangka panjang. Menerapkan metode penetapan harga biaya plus dengan pendekatan biaya penuh menghasilkan hasil yang lebih realistis dalam memilih harga jual yang dapat diterima dan mengoptimalkan keuntungan, menurut sejumlah penelitian sebelumnya (Tongkad dkk. , 2022. Artika dkk. , 2. Menurut penelitian-penelitian ini, banyak bisnis tidak mempertimbangkan biaya tetap ketika menetapkan harga jual mereka, yang dapat mengakibatkan harga terlalu rendah dan kerugian jangka panjang. Secara umum, pemahaman yang detail tentang biaya manufaktur dan variabel lain yang memengaruhi harga pasar diperlukan untuk menetapkan harga jual yang Penetapan harga yang akurat dan menguntungkan telah terbukti menjadi masalah bagi bisnis, yang berhasil diatasi oleh metode penetapan harga biaya plus berbasis biaya penuh. Penulis ingin mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana biaya produksi digunakan untuk menentukan harga jual berdasarkan uraian ini. Hal ini akan membantu UMKM Tenun Heybajo memahami struktur biaya produksi mereka yang sebenarnya dan memberikan UMKM tenun lokal pemahaman yang lebih baik tentang efisiensi biaya dan strategi penetapan harga. Dengan demikian, analisis tersebut diinginkan bisa digunakan jadi acuan didalam menentukan harga jual yang rasional dan berkelanjutan. Penelitian eksplorasi ini berjudul "Analisis Biaya Produksi terhadap Keputusan Penetapan Harga Jual pada UMKM Tenun Heybajo di Labuan Bajo. METODE PENELITIAN Penelitian tersebut memakai tekhnik campuran dengan desain penjelasan sekuensial, yaitu desain penelitian yang secara bertahap memadukan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Tahapan awal dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran angket survei untuk memperoleh data numerik yang bersifat objektif dan terukur. Tahap kedua dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman terhadap hasil kuantitatif serta menjelaskan konteks di balik temuan tersebut. Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. Pendekatan campuran ini dipilih karena dinilai paling sesuai untuk menggambarkan fenomena penerapan Key Performance Indicators (KPI) dan pengaruhnya terhadap peningkatan kinerja sumber daya manusia (SDM) pada lembaga nirlaba di kawasan Bintaro Jaya secara komprehensif. Menurut Creswell dan Plano Clark . 8, hlm. desain sequential explanatory memungkinkan peneliti memperoleh keutuhan pemahaman dengan mengombinasikan kekuatan data kuantitatif yang bersifat luas dengan data kualitatif yang bersifat mendalam dan kontekstual. HASIL PENELITIAN Perhitungan Harga Pokok Produksi Tenun Heybajo Perhitungan HPP metode tradisional adalah cara sederhana yang umum digunakan oleh UMKM didalam menetpkan jumlah tarif produksi. Metode tersebut biasanya hanya menghitung tiga elemen pokok yakni tarif bakan baki, tarif pekerja langsung serta tarif overhead dasar seperti listrik dan konsumsi. Perhitungan dilakukan secara praktis tanpa pemisahan rinci terhadap biaya tidak langsung, sehingga hasilnya bersifat estimasi namun tetap menggambarkan biaya nyata yang dikeluarkan usaha selama prosesnya produksi. Berikut merupakan perhitungan tarif utama pembuatan yang dilaksanakan atas UMKM Tenun Heybajo menggunakan perhitungan tradisional. Pada bagian ini dilakukan perhitungan biaya produksi kain tenun Songke Manggarai ukuran 240 cm y 100 cm yang diproduksi oleh Tenun Heybajo pada bulan Oktober. Biaya Bahan Baku Langsung Biaya bahan baku langsung yakni seluruh tarif yang dikeluarkannya guna membeli material utama yang secara fisik menjadi unsur dari produk jadi. Dalam produksi kain tenun, bahan baku langsung meliputi benang katun warna dasar, benang motif, pewarna alami, dan bahan tambahan seperti perekat benang atau minyak kayu cendana. Biaya ini merupakan komponen penting HPP karena kualitas dan jumlah bahan baku sangat memengaruhi kualitas produk akhir. Berikut rincian bahan baku untuk 1 kain ukuran 240 x 100 cm. Table 4. 1 Perhitungan Biaya Bahan Baku Oleh Heybajo Bahan Baku Jumlah Harga Total Pemakaian Benang katun warna dasar 1,0kg Rp110. 000/kg Rp110. Bennag katun warna motif 0,25kg Rp140. 000/kg Rp35. erah, kuning, outi. Pewarna alami . ulit kayu 1 paket Rp30. 0000/paket Rp30. dan daun taru. Perekat benang dan minyak 1 paket Rp25. 000/paket Rp25. kayu cendana Total Biaya Bahan Baku Rp200. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Biaya Tenaga Kerja Langsung (TKL) Tarif pekerja langsung yakni tarif yang dibayar ke pekerja yang ikutserta langsung didalam proses pembuatan. Pada usaha tenun tradisional, biaya ini ditujukan untuk penenun yang menjalankan seluruh proses mulai dari memasang Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. lungsi, menyusun motif, hingga menenun kain. Besarnya biaya tenaga kerja sangat dipengaruhi oleh waktu pengerjaan dan tingkat kerumitan motif, sehingga menjadi salah satu komponen terbesar dalam HPP. Perhitungan yang dilakukan Tenun Heybajo menggunakan sistem upah borongan berdasarkan lama pengerjaan. Lama pengerjaan untuk 1 kain motif sedang yaitu 14 hari kerja. Table 4. 2 Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Oleh Heybajo Jumlah Tarif/Upah Total Upah penenun harian 14 hari Rp50. 000/hari Rp700. Total Biaya Tenaga Kerja Langsung (TKL) Rp700. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Biaya Overhead Produksi (BOP) Tradisional BOP tradisional adalah perhitungan biaya overhead pabrik yang dilakukan secara sederhana tanpa pemisahan antara tarif pendukung serta tarif variable. Dalam tekhnik ini. UMKM biasanya cuma mencatat biaya pendukung produksi yang terlihat secara langsung, seperti listrik, konsumsi penenun, dan perawatan ringan alat tenun. Perhitungan dilakukan secara praktis berdasarkan pengeluaran harian atau bulanan, sehingga hasilnya berupa estimasi biaya overhead yang bersifat umum, bukan perhitungan yang dirinci berdasarkan fungsi atau karakteristik biaya. BOP tradisional digunakan karena mudah diterapkan dan tidak memerlukan pencatatan akuntansi yang kompleks. Berikut perhitungan BOP oleh Tenun Heybajo. Tabel 4. 3 Perhitungan Biaya Overhead Produksi Oleh Heybajo Jenis BOP Total Listrik dan penerangan Rp10. Air dan kebutuhan kebersihan Rp5. Konsumsi . eh/kop. Rp10. Perawatan ATBM ringan Rp5. Total BOP Tradisional Rp30. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Total Perhitungan HPP oleh Heybajo Berikut merupakan total perhitungan HPP oleh Tenun Heybajo yang mencakup biaya bahan baku, tenaga kerja langsung (TKL). BOP. Tabel 4. 4 Total Perhitungan HPP Oleh Heybajo Jenis Biaya Total Biaya bahan baku Rp200. Biaya tenaga kerja langsung (TKL) Rp700. Biaya Overhead Produksi (BOP) Rp30. Total HPP Rp 930. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Perhitungan Harga Pokok Penjualan Menggunakan Metode Biaya Penuh Proses perhitungan harga pokok penjualan yang mencakup semua biaya produksi dikenal sebagai biaya penuh. Ini termasuk biaya overhead produksi variabel dan tetap, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya bahan baku. Harga pokok penjualan (COGS) untuk kain tenun Songke Manggarai ukuran 240 cm y 100 cm yang dibuat oleh Heybajo menggunakan pendekatan biaya penuh ditunjukkan di bawah ini. Biaya Bahan Baku Langsung Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. Berikut merupakan perhitungan tarif bahan baku produksi melalui tekhnik full costing dijabarkan didalam table di b awah ini: Tabel 4. 5 Perhitungan Biaya Bahan Baku melalui tekhnik Full Costing Bahan Baku Jumlah Harga Total Pemakaian Benang katun warna dasar 1,0kg Rp110. 000/kg Rp110. Bennag katun warna motif 0,25kg Rp140. 000/kg Rp35. erah, kuning, outi. Pewarna alami . ulit kayu 1 paket Rp30. 0000/paket Rp30. dan daun taru. Perekat benang dan minyak 1 paket Rp25. 000/paket Rp25. kayu cendana Total Biaya Bahan Baku Rp200. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Jadi, total perhitungan biaya bahan baku dengan tekhnik full costing sama melalui total tarif bahan baku yang dilaksanakan atas Tenun Heybajo. Biaya Tenaga Kerja Langsung (TKL) Perhitungan TKL pada tekhnik full costing dilakukan dengan membagi biaya tenaga kerja sesuai tahapan produksi. Setiap kegiatan seperti persiapan bahan, pemasangan lungsi, penyusunan motif, proses menenun inti, hingga finishing dihitung berdasarkan jumlah hari kerja dan tarif yang sesuai tingkat kesulitan Dengan pemisahan ini, setiap beban kerja dapat tercermin secara proporsional dan lebih akurat dalam perhitungan biaya. Metode ini memberikan gambaran biaya tenaga kerja yang lebih detail, membantu usaha memahami bagian mana yang paling banyak menyerap waktu dan tenaga, serta meningkatkan kualitas analisis biaya produksi. Berikut perhitungannya tarif TKL dengan memakai tekhnik full costing: Table 4. 6 Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Dengan Metode Full Costing Jenis Pekerjaan Jumlah Tarif/Upah Total Persiapan bahan . emilahan 2 hari Rp50. 000/hari Rp100. penggulungan benan. Pemasangan lungsi pada 2 hari Rp50. 000/hari Rp100. ATBM Penyusunan motif 3 hari Rp60. 000/hari Rp180. Proses menenun inti 5 hari Rp60. 000/hari Rp300. Finishing dan perapian kain 1 hari Rp50. 000/hari Rp50. Total Biaya Tenaga Kerja Langsung (TKL) Rp730. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Biaya Overhead Produksi (BOP) BOP dalam tekhnik full costing adalah perhitungan tarif overhead pabrik yang dilakukan secara lebih lengkap dan sistematis dengan memisahkan tarif overhead jadi dua kategori, yakni tarif tetap serta tarif variable. BOP tetap meliputi penyusutan Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. ATBM, listrik dasar, air, dan perawatan alat, sedangkan BOP variabel mencakup biaya yang berubah sesuai aktivitas produksi seperti transport dan konsumsi Pendekatan ini memberikan gambaran lebih akurat mengenai total biaya produksi karena seluruh unsur pendukung dihitung serta dialokasikan ke produk. Akibatnya, perhitungan biaya penuh menghasilkan nilai Harga Pokok Penjualan (COGS) yang lebih menyeluruh, yang kemudian dapat digunakan untuk menentukan harga jual yang lebih tepat. Penyusutan pada alat tenun non-mesin (ATBM) milik para penenun merupakan komponen signifikan dari biaya overhead pabrik yang harus dipertimbangkan dalam proses produksi kain tenun. ATBM merupakan aset tetap dengan umur pemakaian yang cukup panjang, sehingga nilai manfaatnya tidak habis dalam satu periode produksi. Oleh karena itu, biaya penyusutan dihitung untuk menggambarkan bagian nilai aset yang AuterpakaiAy dalam setiap periode produksi, sehingga biaya produksi dapat mencerminkan penggunaan aset secara lebih akurat. Pada penelitian ini, perhitungan penyusutan dilaksanakan memakai tekhnik garis lurus . traight-line metho. , di mana nilai ATBM dibagi secara merata selama umur Berikut merupakan perhitungan penyusutan ATBM: Harga ATBM Rp2. Umur ekonomis 5 tahun . Pemakaian per bulan 5 kain 000 = 41. 666 OO 42. 000/bulan Penyusutan = Penyusutan per kain 000 = 8. 400 OO 8. 500/bulan Nilai penyusutan inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam komponen BOP tetap, karena biaya ini tetap dikeluarkan meskipun jumlah produksi berubah, dan menjadi bagian penting dalam menaksir jumlah tarif produksi secara lebih akurat. Tabel 4. 7 Perhitungan Biaya Overhead Produksi Dengan Metode Full Costing Jenis BOP Tetap Jumlah (R. Penyusutan ATBM per kain Rp8. Listrik dan penerangan dasar ruang produksi Rp15. Air dan kebutuhan dasar kebersihan Rp7. Peralatan kecil . ekoci, gunting, jaru. Rp10. Perawatan ATBM . elumas, perbaikan Rp10. Total BOP Tradisional Rp50. Jenis BOP Varibel Jumlah (R. Transport pembelian bahan baku Rp5. Konsumsi penenun . eh/kopi/sna. Rp5. Total BOP Variabel Rp5. Total BOP Full Costing Rp60. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Total Perhitungan HPP memakai tekhnik Full Costing Berikut merupakan rincian total perhitungan HPP melalui memakai tekhnik full costing yakni: Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. Table 4. 8 Total Perhitungan HPP memakai tekhnik Full Costing Jenis Biaya Total Biaya bahan baku Rp200. Biaya tenaga kerja langsung (TKL) Rp730. Biaya Overhead Produksi (BOP) Rp60. Total HPP Rp 990. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Jadi, total biaya HPP untuk 1 kain tenun songke manggarai dengan ukuran 240 x 100 dengan menggunakan metode full costing adalah Rp990. 2 Perbandingan HPP Tenun Heybajo vs Full Costing Tabel 4. 9 Perbandingan HPP Oleh Tenun Heybajo dan Metode Full Costing Metode Total Metode Tradiosional Rp930. Metode Full Costing Rp990. Selisih Rp 60. Sumber: Usaha Tenun Heybajo. Labuan Bajo tahun 2025 Meskipun perhitungannya HPP memakai tekhnik tradisional serta tekhnik full costing menunjukkan adanya selisih, perbedaannya relatif kecil sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap keseluruhan nilai tarif pembuatan. Perihalnya memastikan maka tekhnik tradisional yang selama ini digunakan UMKM seperti Tenun Heybajo pada dasarnya sudah mencakup elemen tarif pokk yakni bahan baku serta TKL, sehingga hasil akhirnya tidak jauh berbeda dengan metode full costing yang menghitungnya biaya secara lebih detail, termasuk overhead tetap serta Total selisih yang hanya berada pada kisaran puluhan ribu rupiah membuat kedua metode tetap berada dalam rentang biaya riil di lapangan. Namun, karena pemilik usaha menginginkan tingkat keuntungan yang lebih besar, yaitu sebesar 30%, maka nilai HPP yang telah dihitung dengan kedua metode tersebut sangat penting untuk menjadi dasar penetapan harga jual. Dengan penerapan metode cost plus pricing sebesar 30%, pemilik dapat memastikan bahwa harga jual yang ditetapkan tidak hanya menutupi seluruh biaya produksi, tetapi juga memberikan profit yang memadai sesuai target usaha, sekaligus tetap berada dalam rentang harga yang wajar di pasar tenun Labuan Bajo. Penetapan Harga Jual Menggunakan Metode Cost Plus Pricing Untuk penentuan tarif jual, setelah dilakukan wawancara, pemilik Tenun Heybajo menginginkan margin keuntungan sebesar 30%. oleh karena itu, dilakukan perhitungan melalui tekhnik cost plus pricing yaitu: Harga Jual = Harga Pokok Produksi 30% 000 . 000 x 30%) 000 297. Rp1. Jadi, harga jual pada satu kain tenun songke manggarai melalui memakai tekhnik cost plus pricing sesuai profit yang diinginkan pemiliki usaha Tenun Heybajo adalah Rp1. Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. PEMBAHASAN Berlandaskan temuan penaksiran biaya produksi yang sudah dilaksanakan bisa diketahui bahwa proses pembuatan satu lembar kain tenun Songke ukuran 240 y 100 cm pada UMKM Tenun Heybajo membutuhkan tiga komponen utama, yaitu tarif bahan baku langsung, tarif TKL serta tarif overhead pabrik. Ketiga biaya ini merupakan unsur penting yang menentukan besarnya HPP. Dari perhitungan yang diperoleh, total biaya bahan baku sebesar Rp200. 000 mencerminkan penggunaan material berkualitas seperti benang katun warna dasar, benang motif, pewarna alami kulit kayu dan daun tarum, serta perekat benang dan minyak kayu cendana. Selanjutnya, biaya tenaga kerja langsung menjadi komponen terbesar dengan nilai Rp700. 000 pada metode tradisional dan Rp730. 000 pada metode full costing. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan penenun dan lamanya waktu pengerjaan sangat memengaruhi total biaya produksi mengingat proses menenun dilakukan secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi. Biaya overhead pabrik yang dihitung melalui dua pendekatan, yaitu tradisional dan full costing, juga memberikan pengaruh terhadap total biaya produksi. Pada metode tradisional. BOP sebesar Rp30. 000 hanya mencakup biaya pendukung dasar seperti listrik ringan, konsumsi penenun, dan perawatan sederhana alat tenun. Sementara itu pada metode full costing. BOP dihitung lebih rinci yakni sebesar Rp60. 000 karena menambahkan unsur penyusutan ATBM serta peralatan kecil yang digunakan selama proses produksi. Perbedaan komponen inilah yang menyebabkan hasil HPP antara metode tradisional dan full costing memiliki selisih Rp60. Selisih ini relatif kecil dan sejalan dengan kondisi usaha tenun kecil, sehingga perhitungan tradisional tetap dianggap cukup menggambarkan biaya riil di lapangan meskipun kurang rinci dalam pencatatan biaya tidak langsung. Namun demikian, ketika pemilik UMKM Tenun Heybajo menginginkan tingkat keuntungan yang lebih besar, yaitu sebesar 30%, maka metode full costing menjadi lebih relevan untuk digunakan sebagai dasar penentuan tarif jual. Perihalnya diakibatkan tekhnik full costing memberikan gambaran biaya yang lebih lengkap sehingga tidak terjadi kekurangan perhitungan biaya yang berpotensi membuat harga jual terlalu rendah. Dengan penambahan margin 30% melalui metode cost plus pricing, diperoleh harga jual sebesar Rp1. 000 untuk metode tradisional dan Rp1. 000 untuk metode full costing. Kedua harga ini masih berada dalam rentang harga pasar Labuan Bajo yaitu Rp600. 000AeRp1. 000, sehingga dapat dikatakan realistis untuk diterapkan pada usaha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan margin penjualan dapat memberikan keuntungan yang lebih optimal bagi pemilik usaha tanpa keluar dari batas kewajaran harga yang berlaku di pasaran. Dengan demikian, pembahasan hasil penelitiannya memastikan maka baik tekhnik tradisional maupun metode full costing sama-sama memberi ilustrasi tarif produksi yang dapat digunakan dalam proses penetapan harga. Namun, ketika pemilik usaha memiliki target keuntungan tertentu, khususnya margin 30%, maka penerapan tekhnik full costing serta cost plus pricing lebih dianjurkan sebab yang ditentukan bisa menutupi semua tarif produksi sekaligus memberi profit sesuai Copyright A 2025 pada penulis Ignacia Betrya Andistan, et al. Analisis Biaya Produksi Terhadap. Hal: 523-535 DOI: https://10. 40/jpb. KESIMPULAN Berlandaskan penelitian yang dilaksanakan tentang perhitungan HPP dan penetapan harga jual pada UMKM Tenun Heybajo, dapat disimpulkan bahwa proses produksi kain tenun Songke merupakan rangkaian kegiatan yang cukup panjang dan membutuhkan ketelitian tinggi. Tiap tahapan, diawali di pemilahan bahan baku, prosesnya pewarnaan benang, penyusunan lungsi, pembuatan motif, hingga proses menenun dan finishing, dikerjakan secara manual sehingga sangat bergantung pada keterampilan serta waktu pengerjaan penenun. Perhitungan HPP menunjukkan bahwa metode tradisional yang selama ini digunakan UMKM menghasilkan nilai sebesar Rp930. 000, namun perhitungannya menggunakan tekhnik full costing menghasilkan HPP besarnya Rp990. Selisih ini tidak terlalu besar karena metode tradisional telah mencakup komponen biaya utama, meskipun belum sepenuhnya memperhitungkan biaya overhead secara rinci seperti penyusutan alat tenun dan biaya pendukung lainnya. Temuan ini memastikan maka tarif TKL menjadi kompenen terbesar didalam proses pembuatan, mengingat proses menenun dilakukan sepenuhnya secara manual dan memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi. Ketika harga jual dihitung memakai tekhnik cost plus pricing dengan margin keuntungan 30%, diperoleh harga jual sebesar Rp1. 000 untuk metode tradisional dan Rp1. 000 untuk tekhnik full costing. Temuan penelitiannya secara keseluruhan menunjukkan bahwa metode full costing memberikan gambaran biaya produksinya yang lebih akurat dibanding metode tradisional, terutama ketika pemilik usaha memiliki target keuntungan tertentu yang ingin dicapai. DAFTAR PUSTAKA