Journal of Human and Corporate Behavior Vol. No. 1 (Agustus 2. : 46-60 Pengaruh Sensory Brand Experience Terhadap Brand Loyalty: Peran Brand Attitude sebagai Mediator (Studi Kasus Konsumen di Hotel Ibis Samarind. Muhammad Zulfitri Hibatul Wafi1*. Marsha Anindita2 1,2Fakultas Ekonomi Bisnis dan Politik. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty: Peran Brand Attitude sebagai mediator (Studi kasus konsumen di hotel Ibis Samarind. Di era globalisasi dan meningkatnya jumlah wisatawan, penting bagi hotel untuk menciptakan pengalaman yang berkesan bagi tamu. Metode Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan Teknik survei, melibatkan 201 responden yang menginap di Hotel Ibis. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diolah menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sensory Brand Experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Attitude dan Brand Loyalty. Uji hipotesis pertama membuktikan bahwa pengalaman sensorik meningkatkan sikap konsumen terhadap merek, sementara uji kedua menunjukkan sikap merek yang psoitif berkontribusi pada loyalitas konsumen. Penelitian ini juga menemukan bahwa Sensory Brand Experience tidak hanya berdampak langsung pada Brand Loyalty, tetapi juga melalui mediasi Brand Attitude. Implikasi manajerial dari temuan ini menyarankan manajemen Hotel Ibis untuk fokus pada pengembangan pengalaman merek sensorik yang menyeluruh, meningkatkan pelayanan, dan menerapkan program loyalitas yang menarik bagi konsumen. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan penting bagi strategi pemasaran di industry perhotelan, serta kontribusi bagi pengembangan teori terkait pengalaman merek dan loyalitas pelanggan. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi loyalitas konsumen di berbagai konteks hotel. Kata kunci: sensory brand experience. brand attitude. brand loyalty *Corresponding authorAos e-mail: zulfitri2712@gmail. E-ISSN: x-x Link jurnal: https://paper-rta. id/index. php/JHCB Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 PENDAHULUAN Di era globalisasi yang modern dan teknologi informasi yang berkembang pesat serta perkembangan industri perhotelan di sektor pariwisata, saat ini menyebar dengan cepat seiring meningkatnya jumlah wisatawan (Mustofa & Nuvriasari, 2. Peningkatan wisatawan akan menjadi peluang yang baik bagi perkembangan industri hotel, karena mengikuti standar pelayanan yang baik dan menarik bagi pengunjung atau konsumen yang ingin menginap di hotel tersebut, dan menjadi suatu destinasi atau objek wisata yang menawarkan pengalaman yang berkesan (Foroudi, 2. Hotel Ibis merupakan salah satu dari enam merek hotel ekonomis yang dikelola langsung oleh manajemen Accor Group. Perusahaan Accor Group ialah perusahaan besar berasal dari Prancis dan didirikan pada tahun 1967 dan mengoperasikan lebih dari 5. hotel yang tersebar di 110 negara dengan 40 merek hotel yang berbeda. Hotel Ibis ialah salah satu hotel yang mempunyai kualitas pelayanan dan menetapkan standar baru pada industri perhotelan terkait layanan, interior, keunikan dan kenyamanan. Hotel Ibis merupakan hotel baru yang berlokasi di kota Samarinda. Kalimantan Timur, dan resmi dibuka pada bulan Februari 202 dan termasuk kategori hotel bintang tiga dengan konsep desain klasik, unik, dan standar internasional. Menurut Mustofa & Nuvriasari . Brand Loyalty merupakan suatu bentuk komitmen konsumen untuk melakukan pembelian berulang terhadap suatu merek dan Brand Loyalty ialah merupakan aset berharga bagi hotel, karena dengan memiliki konsumen yang loyal terhadap merek mereka, maka meningkatkan keuntungan bagi Di penelitian ini, loyalitas konsumen dapat terlihat dari seberapa tinggi tingkat pengunjung ke Hotel Ibis dan umpan balik dari konsumen melalui survei digital yaitu website TripAdvisor. Situs TripAdvisor adalah website atau aplikasi ulasan terpercaya dan terbesar di dunia, yang dimana TripAdvisor ini berisi ranking perhotelan berdasarkan dari ulasan pengunjung dan juga untuk melihat rekomendasi wisata. Ulasan atau umpan balik dari para pengunjung di era modern ini berbasi teknologi, melalui teknologi seperti aplikasi di gadget maupun website di internet yang bernama TripAdvisor. Secara khusus, platform seperti TripAdvisor ini dapat memungkinkan peningkatan jumlah wisatawan dan bisnis dari penggunaan perangkat lunak mereka (Liu et al. , 2. Zulfitri & Anindita Gambar 1. Grafik batang ulasan konsumen Tripadvisor Pada Gambar 1 Grafik Batang Ulasan Konsumen TripAdvisor, ditunjukkan Hotel Mercure menempati posisi pertama dengan total ulasan 1. 731, di posisi kedua Hotel Aston mendapatkan ulasan dengan 1. 193 dan diikuti di posisi ketiga ada Hotel Ibis menempati posisi urutan ke-3 dari 29 hotel berbintang yang berada di Kota Samarinda. Ulasan tersebut diperoleh dari para pengunjung atau konsumen yang berkunjung dan menginap di Hotel Ibis. Hotel Ibis mendapatkan jumlah ulasan sebanyak 1. 018 ulasan dan tingkat nilai yang sangat baik yaitu 4,9 dari 5,0. Dari ulasan tersebut. Hotel Ibis mampu mempertahankan Brand Loyalty mereka dengan selalu meningkatkan pelayanannya kepada konsumen untuk bisa meningkatkan keuntungan mereka. Tidak hanya dari segi harga. Hotel Ibis juga perlu meningkatkan pengalaman merek pada konsumen agar lebih berkesan dan bisa memberi evaluasi melalui Brand Attitude. Gambar 2. Grafik batang laporan tingkat penjualan kamar hotel bintang 3 Selanjutnya, pada Gambar 2 menunjukkan grafik batang tingkat penjualan kamar dari lima hotel di Kota Samarinda. Midtown. Ibis. Foxlite. Zoom dan Horison. Dari data yang ditampilkan. Hotel Midtown dan Hotel Ibis menunjukkan tingkat penjualan kamar yang sangat tinggi, masing-masing sebesar 54. 965 dan 54. Dari gambar tersebut, bahwa kedua hotel tersebut mampu menjual hampir seluruh kamar yang tersedia, mencerminkan permintaan yang kuat dan popularitas di kalangan konsumen. Kemudian, loyalitas konsumen atau Brand Loyalty ialah suatu produk atau identitas dari perusahaan yang tercermin di pasar (Yee, 2. Tingkat kesetiaan konsumen terhadap merek tertentu, sehingga sulit untuk tertarik dan beralih ke merek lainnya. Meskipun produk atau pelayanan yang ditawarkan dari merek tersebut mengalami perubahan harga, tapi tidak merubah desain yang unik, maka konsumen tetap memilih merek tersebut (Muliyah et al. , 2. Di sisi lain, konsumen memutuskan untuk loyal pada suatu merek, akan memiliki evaluasi positif terhadap merek (Yudha et al. , 2. Brand Attitude ialah sesuatu nilai yang secara keseluruhan dilakukan dari respon atau evaluasi konsumen terhadap merek tersebut (Chandra & Keni, 2. Reaksi konsumen terhadap usatu merek atau objek adalah rasa ketertarikan, suka atau tidak suka terhadap suatu merek dari perilaku konsumen, sangat penting bagi suatu perusahaan dengan Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 strategi Brand Attitude konsumen yang kuat, akan menghasilkan jumlah besar dan luas serta didasarkan pada pengalaman dan respon emosional (Gao & Shen, 2. Brand Attitude berkaitan dengan penilaian evaluatif umum terhadap suatu merek karena dari konsumen mampu membentuk penilaian terhadap merek berdasarkan Sensory Brand Experience mereka dengan petunjuk merek yang berbeda, sehingga ada korelasi positif yang signifikan (Khan & Rahman, 2. Sensory Brand Experience memiliki beberapa aspek, yaitu indrawi pengelihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan perasa (Brakus et al. , 2. Sensory Brand Experience dapat menimbulkan pengalaman yang positif, apabila hubungan merek dan konsumen dibangun oleh rasa kepercayaan dan keterlibatan emosional mereka (Fitriah et al. , 2. Para ahli juga mengemukakan bahwa Sensory Brand Experience memiliki pengaruh yang signifikan terhadap suatu merek tersebut oleh konsumen (Zha et al. , 2. Dalam konteks ini, di temuan penelitian sebelumnya masih terdapat kekurangan dalam pemahaman tentang bagaimana Brand Attitude berfungsi sebagai mediator dalam konteks industri perhotelan, maka yang menjadikan penelitian ini penting untuk mengeksplorasi dinamika hubungan variabel Sensory Brand Experience terhadap Brand Attitude. Brand Attitude terhadap Brand Loyalty. Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty. Maka, perumusan hipotesis dalam penelitian ini mencakup: Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty Inderawi memungkinkan pengalaman pribadi dalam konteks sosial dan budaya, karena Sensory Brand Experience secara positif dapat mempengaruhi sikap terhadap merek (Hwang et al. , 2. Ketika konsumen memiliki pengalaman yang berkesan dengan merek tersebut, hal itu akan mempengaruhi sikap merek (Rakhmawati & Tuti, 2. H1: Sensory Brand Experience memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Attitude di Hotel Ibis Pengaruh Brand Attitude terhadap Brand Loyalty Mendefinisikan Brand Attitude sebagai evaluasi kesluruhan individu terhadap suatu merek, terutama pada persepsi konsumen terhadap suatu merek dapat dikatakan sebagai prediktor yang dapat diandalkan (Gao & Shen, 2. H2: Brand Attitude memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty di Hotel Ibis Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty Sensory Brand Experience mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty (Rini et al. , 2. Pengalaman merek bersifat emosional, sensorik dan pengetahuan serta menjadi tantangan agar keterlibatan konsumen dapat membentuk perilaku agar pengalaman merek pada loyalitas merek baik dan mendorong peningkatan loyalitas merek. H3: Sensory Brand Experience memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty di Hotel Ibis Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty melalui Brand Attitude Zulfitri & Anindita Brand Attitude merupakan cerminan dari perasaan yang dialami oleh pembeli terhadap produk dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan, dan juga merupakan faktor penting bagi perusahaan yang akan memberikan pendorong atau pengaruh yang kuat (Afandi & Marsasi, 2. H4: Sensory Brand Experience memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty melalui Brand Attitude di Hotel Ibis Gambar 3. Kerangka berpikir METODE PENELITIAN Metode teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu dilakukan melalui kuesioner, dengan tujuan mengukur persepsi responden menggunakan Skala Likert. Teknik skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi masingmasing responden terkait topik yang diteliti (Sugiyono, 2. Pada skala pengukuran penelitian, yaitu memberikan pertanyaan atau pernyataan dan meminta pendapat juga persetujuan selaku dari responden atas pertanyaan atau pernyataan yang diberikan oleh peneliti (Simamora, 2. Tabel 1. Skala likert Kategori Kode Skala Sangat Setuju Setuju Agak Setuju Agak Tidak Setuju ATS Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju STS Proses penyebaran kuesioner menggunakan platform dari yaitu Google Forms. Kuesioner disusun dengan skala 1-6 untuk melihat persepsi masing-masing responden. Pada skala ini, angka biasanya bisa mewakili Tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan, angka 1 bisa berarti Ausangat tidak setujuAy, 2 Autidak setujuAy, 3 Auagak tidak setujuAy, 4 Auagak setujuAy, 5 AusetujuAy dan 6 berarti Ausangat setujuAy. Format ini menjadi memungkinkan, peneliti untuk mengumpulkan data yang terstruktur dan mudah dianalisis. Tabel 2. Indikator pernyataan Variabel Definisi Kode Origin Adaptasi Sumber Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 Sensory Brand Experience Sensory Brand Experience memengaruhi indera melalui rangsangan seperti pengelihatan, (Wiedmann et al. SBE1 Hotel Ibis memberikan kesan yang kuat pada indera pengelihatan saya. SBE2 Hotel Ibis memberikan kesan yang kuat pada indera penciuman saya. SBE3 Brand Attitude Brand Loyalty Sikap Merek ialah konsumen pada suatu (Assael. Loyalitas Merek ialah sebuah konsep yang mendasar dalam pemasaran strategis untuk diukur sebagai This Brand Makes a strong impression on my visual sense or other senses. Hotel Ibis memberikan kesan yang kuat pada indera perasa saya. SBE4 Hotel Ibis memberikan kesan yang kuat pada indera pendengaran saya. SBE5 Hotel Ibis memberikan kesan yang kuat pada indera peraba saya. (Brakus et al. SBE6 I find this brand interesting in a sensory way. Saya merasa merek ini menarik secara inderawi. SBE7 This brand appeals to my senses. Merek ini menarik bagi indera saya. BA1 I was attracted to the features this brand offers. Menurut saya, saya tertarik dengan fitur yang ditawarkan Hotel Ibis. BA2 I like the brand. Saya menyukai Hotel Ibis. BA3 The brand is Menurut saya. Hotel Ibis BA4 The brand is Hotel Ibis disukai banyak BA5 This brand is a good hotel brand. Menurut saya. Hotel Ibis merupakan merek hotel yang bagus. (Kardina, et al. I consider myself to be loyal to X brand. Saya merupakan konsumen yang loyal dengan Hotel Ibis. (Villarejo -Ramos SanchezFranco,20 BL1 (F. Senoaji, et al. (Cho. Zulfitri & Anindita perasaan keterikatan. (Wernerfelt, 1. BL2 I will buy X again. Di masa depan, saya akan menginap lagi di Hotel Ibis. BL3 X would be my first Ketika mencari penginapan. Hotel Ibis akan selalu menjadi pilihan pertama saya. BL4 I will suggest X to other consumers. Saya akan merekomendasikan Hotel Ibis ke rekan/keluarga BL5 Compared to other hotels that have similar features. I am willing to pay a higher price for this Dibandingkan hotel lain yang memiliki bersedia membayar harga yang lebih tinggi untuk Hotel Ibis. (Foroudi. Partisipan dan Pengumpulan Data Sampel adalah bagian yang mewakilkan ciri-ciri dan karakteristik keseluruhan populasi yang diambil dan menggunakan rumus slovin (Majdina et al. , 2. Sampel juga menjadi wakil populasi yang akan diteliti guna menggeneralisasikan hasil penelitian dan sampel ini diberikan kepada konsumen yang pernah mengunjungi Hotel Ibis tersebut. Pada penelitian ini, 222 sampel yang peneliti dapatkan setelah penyebaran kuesioner melalui Google Forms. Setelah dilakukannya Screening Datam hanya 201 responden yang menjawab pernah mengunjungi dan menginap di Hotel Ibis. Berdasarkan dari sampel 201 responden, diketahui jumlah responden laki-laki sebesar 40% atau 80 orang, sedangkan responden perempuan sebesar 60% atau 121 orang. Teknik Analisis Data Peneliti menggunakan model Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (PLSSEM) untuk teknik analisis data pada penelitian ini, dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS v. Tujuan analisis data yaitu untuk menghitung data yang didapatkan dari penelitian atau kuesioner yang telah diisi oleh responden (Saragih, 2. Structural Equation Modeling Ae Partial Least Squares (PLS-SEM) adalah suatu metode analisis statistic untuk mengevaluasi model yang terdiri hubungan liniear antara variabel yang tidak dapat dilihat secara langsung. Ada 2 evaluasi dari model ini yaitu pengukuran Outer Model dan pengukuran Inner Model. Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 HASIL Model Pengukuran atau Outer Model Dalam penelitian ini ada beberapa aspek penilaian model pengukuran (Outer Mode. , meliputi Loading Factor. CronbachAos Alpha. Composite Realibility dan AVE (Cheung et al. Tabel 3. Reliability dan convergent validity Variabel Sensory Brand Experience Kode Loading Factor SBE1 0,793 SBE2 0,777 SBE3 0,830 SBE4 0,756 SBE5 0,802 SBE6 0,839 SBE7 0,855 BA1 0,872 BA2 0,883 BA3 0,857 BA4 0,804 BA5 0,845 BL1 0,822 BL2 0,907 BL3 0,878 BL4 0,893 BL5 0,531 Brand Attitude Brand Loyalty Cronbach's Alpha AVE 0,911 0,918 0,653 0,906 0,912 0,727 0,867 0,890 0,670 Pada Tabel 3. menunjukkan hasil Loading Factor, semua indicator variabel Sensory Brand Experience. Brand Attitude dan Brand Loyalty memiliki nilai diatas 0,50. Semua nilai muatan factor terstandarisasi harus setidaknya 0,50 atau lebih (Hair et al, 2. Pada Tabel 3. nilai reliabilitas dan validitas dari ketiga variabel, menunjukkan hasil yang baik yaitu Sensory Brand Experience memiliki AVE sebesar 0,653. CronbachAos Alpha sebesar 0,911 dan CR sebesar 0,918. Brand Attitude memiliki AVE sebesar 0,727. CronbachAos Alpha 0,906 dan CR sebesar 0,912. Brand Loyalty memiliki AVE 0,670. CronbachAos Alpha sebesar 0,867 dan CR sebesar 0,890. Berdasarkan model pengukuran, bahwa CR setara dengan CA, bahwa nilai kedua komponen sebesar 0,7 atau lebih tinggi, maka menunjukkan keandalan yang baik (Hair et , 2. Kemudian, dengan adanya model yang dianggap memiliki kualitas yang baik, jika lebih tinggi dari nilai AVE pada setiap bentuk konstruk yang hasilnya melebihi 0,5 (Cheung et al. , 2. Tabel 4. Discriminant validity SBE SBE 0,855 0,688 0,710 0,681 0,883 0,673 0,649 0,893 Zulfitri & Anindita Selanjutnya, validitas konstruk tidak hanya mencakup validitas konvergen, tetapi juga melibatkan pengukuran model validitas diskriminan, karena syarat pertama juga harus membangun validitas konvergen, konstruk diwakili dengan baik, dengan begitu kriteria validitas dianggap terpenuhi jika suatu indikator nilai silangnya melampaui angka 0,50 (Cheung et al. , 2. Model Struktural (Inner Mode. Langkah selanjutnya, setelah menyelesaikan evaluasi model pengukuran atau uji outer model, yaitu masuk tahapan melakukan penilaian model struktural atau pengujian inner model. Analisis model struktural melibatkan evaluasi hubungan antar variabel lain melalui berbagai tahapan, yaitu Koefisien Determinasi. Effect Size. Q-square. Uji hipotesis (Path Coefficien. dan Spesific Indirect Effect. Model ini berfokus pada bagaimana variabelvariabel tersebut saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Gambar 4. Hasil r-square Berdasarkan Gambar 4. diatas, hasil nilai Koefisien Determinasi variabel Brand Attitude sebesar 0,532 dan Brand Loyalty sebesar 0,596, yang termasuk dalam kategori nilai yang tinggi (Hair, 2. Dalam hasil ini, menunjukkan kombinasi dari variabel Sensory Brand Experience dan Brand Attitude menjelaskan pengaruh variasi pada variabel Brand Loyalty. Hasil temuan ini menegaskan pentingnya kedua variabel tersebut dalam menentukan kinerja bisnis. Tabel 5. Hasil effect size Brand Loyalty (Y) Brand Attitude (M) 0,270 1,139 Brand Loyalty (Y) Sensory Brand Experience (X) Brand Attitude (M) 0,139 Berdasarkan pada Tabel 5. diatas, menunjukkan hubungan antar variabel yaitu variabel Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty dengan nilai . sebesar 0,270, hubungan variabel Sensory Brand Experience terhadap Brand Attitude dengan nilai . 1,139, kemudian hubungan variabel Brand Attitude terhadap Brand Loyalty memiliki nilai . 0,139. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Sensory Brand Experience memberikan pengaruh yang kuat dan signifikan terhadap variabel Brand Loyalty dan juga Brand Attitude memberikan pengaruh signifikan terhadap Brand Loyalty nilai yang memiliki pengaruh sedang (Hair et al. , 2. Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 Selanjutnya, mengevaluasi besarnya nilai R2 sebagai kriteria akurasi prediksi, peneliti juga harus memeriksa nilai Q2 (Hair et al. , 2. Tabel 6. Hasil q-square Variabel Q2 Predict Brand Loyalty 0,529 Brand Attitude 0,537 Berdasarkan Tabel 6. Variabel Brand Loyalty dan Brand Attitude, menunjukkan nilai Q2 untuk variabel endogen > 0. Nilai Q2 untuk Brand Loyalty ialah 0,529, sedangkan untuk Brand Attitude ialah 0,537. Hasil ini, memiliki relevansi prediktif, dengan begitu variabel endogen bisa diprediksi secara efektif oleh variabel eksogen. Tabel 7. Hasil path coefficients Hipotesis Path Coefficient P-Values H1. SBE>BA 15,154 0,000 H2. BA>BL 4,284 0,000 H3. SBE>BL 6,368 0,000 Pada uji hipotesis, dilakukan langkah pengujian hipotesis direfleksikan melalui nilai koefisien melalui nilai Koefisien Jalur (Path Coefficien. untuk menunjukkan Tingkat Pengujian mediasi juga dilihat melalui nilai efek tidak langsung menggunakan SmartPLS dengan menerapkan metode Bootstrapping, . wo-taile. , nilai dari t-statistik harus > 1,96 . ingkat signifikansi 5%) dan P-Values harus < 0,05 . ingkat signifikansi 5%) (Hair et al. , 2. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 7. diketahui bahwa Sensory Brand Experience memberikan pengaruh signifikan terhadap Brand Attitude dengan P-Values menunjukkan nilai 0,000 yang berarti < 0,05. Path Coefficient sebesar 15,154 > 1,96. Sehingga hasil ini, sesuai denga H1 yang menyatakan Sensory Brand Experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Attitude. Temuan penelitian terdahulu, yang dilakukan Zha et al. , . menunjukkan, pengalaman merek sensorik memiliki banyak komponen yang berbeda, seperti komponen sensorik pengelihatan, peraba, perasa, pendengaran dan penciuman merupakan rangkaian interaksi dan jika mereka bekerja secara harmonis satu sama lain, seluruh pengalaman merek sensorik akan menjadi sangat baik, pengalaman merek juga dapat menciptakan ikatan emosional dari waktu ke waktu dari rangsangan yang mencakup sensasi, perasaan dan respons perilaku spesifik yang dipicu dari pengalaman yang berhubungan langsung dengan merek (Sudirman et al. , 2. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 7. , diketahui bahwa Brand Attitude memberikan pengaruh signifikan terhadap Brand Loyalty dengan P-Values menunjukkan nilai 0,000 < 0,05. Path Coefficient 4,284 > 1,96. Sehingga hasil penelitian ini, sesuai dengan H2 yang Brand Attitude berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty. Temuan penelitian ini sejalan dengan Oh & Park . menjelaskan, hubungan antara sikap merek dan loyalitas merek memiliki hubungan pengaruh yang positif Zulfitri & Anindita meningkatkan sikap terhadap merek juga meningkatkan kepuasan konsumen dan loyalitas merek. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 7. , diketahui bahwa Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty dengan P-Values menunjukkan nilai 0,000 < 0,05. Path Coefficient sebesar 6,368 > 1,96. Sehingga hasil penelitian ini, sesuai dengan H3 yang menyatakan Sensory Brand Experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi penelitian oleh Gao and Shen . yaitu, pengalaman merek sensorik sangat penting dalam menciptakan loyalitas merek, konsumen dengan pengalaman merek yang unik dan mengesankan lebih bersedia untuk mengulangi pembelian dengan menghasilkan loyalitas merek. Tabel 8. Hasil spesific indirect effect Hipotesis H4. SBE>BA>BL Path Coefficient P-Values 3,968 0,000 Kemudian, berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 8. , diketahui bahwa Sensory Brand Experience memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Brand Loyalty melalui Brand Attitude dengan P-Values menunjukkan nilai 0,000 < 0,05 dan T-statistik sebesar 3,968 > 1,96. Sehingga hasil penelitian ini, sesuai H4 yang menyatakan Sensory Brand Experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Loyalty melalui Brand Attitude. Temuan penelitian ini sama halnya yang dilakukan studi penelitian oleh Gao & Shen, . menekankan, pengalaman merek sensorik juga dapat mempengaruhi melalui sikap terhadap merek, karena didefinisikan sebagai evaluasi ringkasan dari sebuah PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sensory Brand Experience berpengaruh positif secara langsung dan secara tidak langsung berdampak pada Brand Loyalty. Hasil nilai pengujian pada penelitian ini sangat baik, sehingga tidak mungkin untuk mengabaikan peran penting dari Sensory Brand Experience dan Brand Attitude dalam meningkatkan Brand Loyalty konsumen kepada Hotel Ibis. Kemudian, penelitian ini digambarkan bahwa Sensory Brand Experience memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Brand Attitude dan Brand Loyalty di Hotel Ibis Samarinda. Pengalaman merek sensorik yang menyenangkan, seperti elemen visual dan aroma yang menarik, dapat meningkatkan sikap konsumen terhadap merek. Pada penelitian ini juga telah terbukti dari seluruh responden dalam kategori pendapatan per bulan, yaitu mayoritas pendapatan per bulan lebih dari 5. 000, memiliki tingkat partisipasi paling tinggi yaitu 36,3% sebagai konsumen Hotel Ibis Samarinda. Dengan pengalaman yang baik, konsumen merasa lebih terhubung dengan merek, yang berkontribusi pada loyalitas mereka. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (Gao & Shen, 2. yang menegaskan bahwa interaksi sensorik yang harmonis dapat menciptakan pengalaman merek yang sangat baik, sehingga meningkatkan keterlibatan konsumen. Selanjutnya, penelitian ini juga menemukan bahwa Brand Attitude berperan sebagai mediator antara Sensory Brand Experience dan Brand Loyalty. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 merek yang positif tidak hanya berdampak langsung pada loyalitas merek, tetapi juga melalui pengaruh sikap konsumen terhadap merek tersebut. Dengan meningkatnya Brand Attitude, konsumen cenderung lebih loyal, dan pentingnya manajemen hotel dalam menciptakan pengalaman merek yang positif. Temuan ini memberikan wawan berharga bagi strategi pemasaran di industry perhotelan, di mana pengelolaan pengalaman senorik dapat menjadi kunci untuk meningkatkan loyalitas konsumen. Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Attitude di Hotel Ibis Samarinda Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa kemampuan pengalaman merek sensorik (Sensory Brand Experienc. memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Sikap Merek (Brand Attitud. pada Hotel Ibis di kota Samarinda. Dengan hal ini, menandakan bahwa meningkatkan pengalaman merek sensorik di hotel, melibatkan penciptaan suasana yang merangsang semua indera konsumen. Kemudian, meningkatkan kenyamanan konsumen yang dapat memberikan pengalaman visual yang menyenangkan, elemen sikap merek ini membangun atmosfer yang membuat merasa lebih terhubung dengan merek. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zha et al. menunjukkan, pengalaman merek sensorik memiliki banyak komponen yang berbeda, seperti komponen sensorik pengelihatan, peraba, perasa, pendengaran dan penciuman merupakan rangkaian interaksi dan jika mereka bekerja secara harmonis satu sama lain, seluruh pengalaman merek sensorik akan menjadi sangat baik. Pengalaman Merek juga dapat menciptakan ikatan emosional dari waktu ke waktu dari rangsangan yang mencakup sensasi, persan, dan respons perilaku spesifik yang dipicu dari pengalaman yang berhubungan langsung dengan merek (Hudyah, & Anindita, 2. Terdapat korelasi antara variabel Sensory Brand Experience dan Brand Attitude memiliki makna dalam dunia pemasaran, dan mengacu pada keseluruhan yang dimiliki konsumen pada suatu merek yang mempengaruhi konsumen untuk terlibat (Aghitsni & Busyra, 2. Di sisi lain, menurut Chandra & Keni . , kesan yang muncul dari sikap terhadap merek yaitu dampak dari pengalaman merek, pada saat seseorang menggunakan atau berinteraksi dengan merek Pengaruh Brand Attitude terhadap Brand Loyalty di Hotel Ibis Samarinda Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa kemampuan Sikap Merek (Brand Attitud. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Merek (Brand Loyalt. Dari hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang baik dan efektif dapat memperkuat loyalitas merek, seperti hubungan sikap pada merek konsumen yang lebih erat sehingga meningkatkan loyalitas konsumen pada merek tersebut. Pada penelitian terdahulu, temuan studi penelitian oleh Oh & Park . yaitu, hubungan antara sikap merek dan loyalitas merek juga memiliki hubungan pengaruh yang positif, meningkatkan sikap terhadap merek juga meningkatkan kepuasan konsumen dan loyalitas merek. Secara, sikap terhadap merek itu tinggi, maka hasilnya untuk mendapatkan konsumen dengan sikap loyalitas merek yang tinggi. Di sisi lain, menurut Fetais et al. literatur yang ada mengklasifikasikan hubungan loyalitas merek muncul dari dimensi sikap terhadap merek mencerminkan keterikatan kognitif, emosional dan perilaku konsumen. Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty di Hotel Ibis Samarinda Zulfitri & Anindita Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa pengalaman merek sensorik (Sensory Brand Experienc. berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas merek (Brand Loyalt. Pengalaman merek sensorik dapat secara signifikan meningkatkan loyalitas merek dengan menciptakan hubungan yang kuat antara konsumen dan merek. Ketika tamu merasakan kenyamanan dan kepuasan melalui indera mereka dengan positif, maka meningkatkan konsumen untuk kembali. Pada temuan hasil penelitian ini sejalan dengan studi penelitian oleh Gao & Shen . ialah, pengalaman merek sensorik sangat penting dalam menciptakan loyalitas merek, konsumen dengan pengalaman merek yang unik dan mengesankan lebih bersedia untuk mengulangi pembelian atau menginap kembali untuk menghasilkan loyalitas Karena, terdapat korelasi positif yang signifikan antara pengalaman merek sensorik dan mempengaruhi loyalitas merek. Pengaruh Sensory Brand Experience terhadap Brand Loyalty melalui Brand Attitude di Hotel Ibis Samarinda Hasil penelitian ini, juga menunjukkan bahwa Brand Attitude memiliki peran sebagai variabel mediasi antara Sensory Brand Experience dan Brand Loyalty. Selain itu, pengalaman merek sensorik yang baik dapat meningkatkan loyalitas merek, dengan gilirannya berpengaruh positif pada loyalitas konsumen. Peran mediasi yang kuat dalam pengaruh pengalamaan merek sensorik terhadap loyalitas merek. Kemudian, hasil penelitian ini sejalan dengan studi penelitian temuan Gao et al. menekankan, pengalaman merek sensorik dapat mempengaruhi loyalitas merek, tidak pula secara langsung saja tetapi juga secara tidak langsung. Sikap merek didefinisikan sebagai evaluasi ringkasan dari sebuah merek yang mungkin memberi energi pada perilaku konsumen, untuk memberi ulasan yang baik tentang merek yang mengarah pada loyalitas merek (Mitchell & Olson, 1. Strategi pemasaran jaman modern, menganggap sikap merek sebagai anteseden perilaku konsumen dan menjadi konstruk utama dalam psikologi konsumen (Hwang et al. , 2. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa kesimpulan utama terdapat dari keseluruhan pembahasan dan pengujian hipotesis. Penelitian ini menunjukkan bahwa Sensory Brand Experience berpengaruh positif dan signifikan terhadap Brand Attitude dan Brand Loyalty di Hotel Ibis Samarinda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengalaman merek sensorik yang menyenangkan, seperti elemen visual dan aroma yang menarik, dapat meningkatkan sikap konsumen terhadap merek. Uji hipotesis pertama membuktikan bahwa pengalaman merek sensorik secara langsung mempengaruhi sikap merek. Selain itu, hipotesis kedua mengungkapkan bahwa sikap merek juga berpengaruh signifikan terhadap loyalitas merek. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa Sensory Brand Experience tidak hanya berdampak langsung pada Brand Loyalty, tetapi juga melalui mediasi Brand Attitude. Uji hipotesis ketiga dan keempat menunjukkan bahwa pengalaman merek sensorik memperkuat loyalitas merek baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini mengindikasikan pentingnya manajemen hotel dalam menciptakan pengalaman merek sensorik yang positif untuk Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 meningkatkan loyalitas konsumen. Dengan nilai koefisien jalur yang signifikan dan QSquared yang menunjukkan relevansi prediktif, penelitian ini memberikan wawasan bahwa integrasi antara Sensory Brand Experience dan Brand Attitude konsumen adalah kunci dalam strategi pemasaran di industry perhotelan. Implikasi Manajerial Untuk meningkatkan pengalaman merek sensorik ini, manajemen Hotel Ibis perlu fokus pada elemen yang merangsang semua indera, seperti aroma yang menyegarkan dengan pemilihan aroma khusus seperti aroma lavender atau citrus, untuk menciptakan suasana yang menenangkan di kamar maupun di lobi hotel, pemilihan musik jazz di area publik dan desain yang interior yang tema estetik dan menarik secara visual. Sebagai contoh implikasi, pihak hotel menawarkan paket kustom kepada konsumen yang mencakup preferensi pribadi, seperti pilihan bantal, pengaturan suhu kamar atau pilihan makanan atau minuman. Program poin loyalty untuk konsumen yaitu, menawarkan poin untuk setiap penginapan yang dapat ditukarkan dengan pengalaman unik, seperti sesi spa, makan malam romantic di restoran Hotel Ibis atau Kelas Memasak Bersama Chef Hotel Ibis, ini memberikan insentif bagi tamu untuk Kembali dan menikmati pengalaman yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA