Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 3. Issue 3. November 2022 http://pusdikra-publishing. com/index. php/josr/home-free Penanaman Nilai Karakter Peserta Didik Melalui Program Pengembangan Diri Rifdah Hasan Parinduri1. Riskang Aj Pahruzi2. Sutrisno3 1 UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta 2 UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta 3 UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta Corresponding Author: ruziaj17@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 17 November 2022 Revised 20 November 2022 Accepted 24 November 2022 ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of selfdevelopment programs for students implemented at Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan, as well as leadership policies in instilling character values. In addition, it also aims to find out what supports and hinders the cultivation of character values through selfdevelopment programs at Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan. This research is included in the category of qualitative research using a phenomenological perspective. The findings of this study show how Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan integrates the development of character values into learning by focusing on three different areas: teaching, modeling, and assessment. Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan implements the policy of the madrasah head to teach character values through working meetings with the teacher council in the context of instilling character values in In addition, this study examines the facilitating and inhibiting elements that influence how students at Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan build character. Keywords Self Development Program. Character Values. Learners How to cite Rifdah Hasan Parinduri 1. Riskang Aj Pahruzi2. Sutrisno3 . Penanaman Nilai Karakter Peserta Didik Melalui Program Pengembangan Diri. Journal Continuous Education, 3. 51178/ce. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan sebenarnya adalah proses untuk mengubah tingkah laku, yang dalam arti proses pendidikan harus mampu mengubah sikap seseorang dan membangun karakter seperti yang diharapkan. Upaya implementasi pendidikan karakter juga telah diupayakan oleh pemerintah melalui program Kementerian Pendidikan Nasional yang berencana menerapkan pendidikan karakter pada semua jenjang pendidikan. Melalui program ini diharapkan Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 pendidikan mampu menghasilkan manusia yang bermartabat dan berbudi luhur (Aunila, 2. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Muhayan. Kepala Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa, diketahui bahwa masih terdapat beberapa permasalahan dalam pengembangan nilai karakter dan belum dijiwai dengan karakter yang baik oleh setiap siswa di sekolahnya. Hal ini didukung oleh pengaruh internal dan eksternal. Faktor internal terkait dengan kesadaran diri pada siswa sedangkan faktor eksternal karena pengaruh lingkungan yang kurang baik dan mendukung. Hal ini berdampak negatif bagi perkembangan karakter siswa. Selain kedua masalah tersebut, tidak adanya perhatian dan pemahaman orang tua berkontribusi pada ketidakmampuan siswa untuk bertanggung jawab atas diri mereka sendiri (Muhayyan, 2. Doni Koesoema berpendapat bahwa visi pendidikan, pandangan filosofis, dan pengalaman pribadi orang tua terhadap pendidikan anaknya menentukan keberhasilan atau kegagalan mereka sebagai pendidik nilai dan karakter bagi anaknya. (Koesoma, 2. Selain itu, menurut Mustafa, karakter anak dapat dibentuk dengan cara membimbing, mendidik, dan mengarahkan mereka agar memahami prinsip-prinsip yang beragam. Perilaku dan watak yang dilarang dan diperintahkan. (Musthofa, 2. Pendidikan karakter merupakan komponen dari upaya untuk mengajarkan, menanamkan, dan memperkuat cita-cita moral agar peserta didik berperilaku baik. Untuk melakukan ini, sangat penting untuk menanamkan cita-cita karakter kepada anak-anak. Selain itu, prakarsa ini berupaya untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan serta proses hasil pendidikan secara seimbang dan utuh dengan standar kompetensi lulusan. Dalam mengajar mata pelajaran, pendidik harus menunjukkan rasa tanggung jawab yang kuat, jujur, toleran, disiplin, religius, kreatif, cerdas, kerja keras, mandiri, cinta tanah air, cinta tanah air, menghargai peserta didik, ramah tamah, komunikatif, cinta damai, dan cinta damai. minat membaca, dan kepedulian sosial (Darmiatun. Dimana, prinsip-prinsip tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan guru harus menjadi teladan bagi siswa. Berkaitan dengan pendidikan karakter. Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa mengasah kecerdasan adalah hal yang sangat positif, karena memungkinkan berkembangnya watak yang baik dan kokoh, sehingga memungkinkan terwujudnya kepribadian dan karakter seseorang. Jika ini diakui, maka individu akan selalu mampu mengatasi kecenderungan dan karakteristik bawaannya. Selain membangun prinsip moral, pendidikan tidak terlepas dari kegiatan pengembangan diri. Ini mencakup kegiatan terjadwal dan tidak terjadwal. Siswa melakukan kegiatan terprogram sesuai dengan Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 kebutuhan dan keadaan masing-masing. Sedangkan kegiatan tidak terprogram adalah kegiatan yang dilakukan secara tidak langsung oleh tenaga kependidikan dan kependidikan di sekolah madrasah yang didatangi. (Agama. Sangat penting bagi sekolah dan madrasah untuk terlibat dalam kegiatan pengembangan siswa dalam upaya meningkatkan prestasi akademik siswa. Pelaksanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan prestasi dan keberhasilan pendidikan sekaligus membina karakter peserta didik. Kegiatan pengembangan diri dapat berupa kegiatan layanan konseling yang berkaitan dengan masalah pribadi, kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan arah karir ke depan. Kegiatan pengembangan diri sangat penting untuk keberhasilan pendidikan dan pembentukan karakter dan kepribadian yang baik pada diri siswa. Dalam kaitan ini, kebijakan pimpinan madrasah sangat menentukan. Ada tiga tahapan kebijakan pendidikan, meliputi perumusan, implementasi, dan evaluasi. Sebagai petugas profesional di dalam lembaga pendidikan, pemimpin madrasah harus merumuskan. Setelah dirumuskan, langkah kebijakan pendidikan selanjutnya adalah implementasi yang dilanjutkan dengan evaluasi. (Syafaruddin, 2. Pelaksanaan program pengembangan diri ini tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan madrasah dan kebijakan pendidikan pada umumnya. mana peraturan pendidikan dikategorikan menjadi empat kategori: pertama, kebijakan yang berkaitan dengan fungsi esensial, seperti perekrutan, kurikulum, dan penerimaan siswa. Kedua, kebijakan yang berkaitan dengan institusi individu dan seluruh sistem pendidikan. Ketiga, kebijakan tentang rekrutmen tenaga pendidik dan kependidikan, serta promosi, pergantian pegawai, dan pengawasan. Keempat, kebijakan terkait alokasi Kebijakan pendidikan dapat dikategorikan ke dalam empat kategori: . Kebijakan yang berkaitan dengan fungsi dasar, seperti kurikulum, rekrutmen, dan penerimaan siswa. Kebijakan yang berkaitan dengan institusi tertentu dan seluruh sistem pendidikan. Kebijakan yang berkaitan dengan perekrutan dan penarikan karyawan, promosi, pengawasan, dan jumlah pergantian staf. Kebijakan yang berkaitan dengan alokasi sumber daya nonmanusia, termasuk gedung, peralatan sekolah, dan sumber daya keuangan. (Sagala, 2. Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan kepala madrasah dan juga kebijakan pendidikan sangat mempengaruhi kegiatan sekolah, baik dari segi sarana prasarana, kegiatan pembelajaran, tenaga pendidik dan kependidikan serta peserta didik. Terutama kegiatan Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 pengembangan diri siswa itu sendiri yang membutuhkan strategi dan kebijakan dari kepala madrasah. Keberhasilan program pengembangan diri tidak terlepas dari faktor pendukung yang melatarbelakanginya. Diantara mereka: Antusiasme dan semangat siswa Antusiasme dan semangat siswa ini sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan peningkatan diri. Dukungan orang tua Sebagai madrasah pertama, orang tua berperan penting dalam membentuk karakter anak Kolaborasi dan kekompakan semua pihak Kerja sama dan kerjasama dari semua pihak yaitu pendidik, kepala sekolah dan peserta didik juga akan berdampak pada keberhasilan program pengembangan diri. Staf pengajar teladan Pendidik harus memberikan refleksi yang baik bagi peserta didik. Dengan bersikap sopan, berpakaian yang baik maka akan menjadi teladan bagi siswa. Komunikasi yang baik Komunikasi yang baik antara siswa dan pendidik juga berpengaruh penting terhadap perkembangan siswa. Jika guru dapat menjalin komunikasi yang baik, hal ini akan memudahkan guru untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada perkembangan siswa. Dan diharapkan melalui komunikasi ini para guru dapat bersama-sama mencari solusi dari permasalahan tersebut. Alokasi waktu yang memadai Dalam melaksanakan program kegiatan pengembangan diri perlu adanya alokasi dan penentuan waktu yang pasti, untuk memudahkan siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan. Sarana dan prasarana yang memadai Infrastruktur itu sendiri merupakan faktor tambahan lain yang sama Padahal pelaksanaan kegiatan pengembangan diri akan sangat diuntungkan dengan adanya infrastruktur. dengan ruang kelas perumahan, area praktik untuk laboratorium, musala, bahan ajar, dan fasilitas infrastruktur lainnya. Diharapkan program pengembangan diri dapat berhasil dilaksanakan dan dapat lebih mudah membantu siswa mengembangkan karakternya dengan dukungan infrastruktur yang Namun, dalam upaya menerapkan pengembangan karakter, tidak Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 terlepas dari adanya hambatan, diantaranya yaitu: . peran pendidik yang masih kurang dalam keterlibatan kegiatan ekstrakurikuler. Pendidik yang masih kurang memahami metode pengintegrasian cit-cita pendidikan karakter kedalam setiap proses kegiatan pembelajaran serta pengembangan diri. Hal ini disebabkan karena mereka belum disosialisasikan atau dilatih dengan baik untuk menerapkan pendidikan karakter bagi diri mereka sendiri. Pendidikan karakter harus dikembangkan secara sengaja, dimulai dari nilai-nilai yang Sebaiknya tim profesional daerah, seperti tim pengembang kurikulum provinsi dan kabupaten/kota, melaksanakannya secara bertahap (TPK) (Diknas, 2. Adanya perbedaan latar belakang keluarga. Perbedaan latar belakang keluarga merupakan akar hambatan bagi pengembangan diri siswa. Cara siswa berkembang sebagai individu akan sangat dipengaruhi oleh perbedaan ide moral dan etika keluarga. Beberapa murid dapat menantang untuk dibimbing. Perkembangan diri siswa lain juga dapat dipengaruhi oleh sulitnya anak menerima bimbingan. Sikap siswa terhadap pengertian dan penerimaan harus terus-menerus dan berkesinambungan dilatih dan dipupuk. Karena pergaulan sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak didik, maka dituntut orang tua dan masyarakat untuk dapat membina lingkungan yang mendorong anak tumbuh sebagai individu yang bertanggung jawab. Himpunan mahasiswa harus bisa memberikan pengaruh positif bukan sebaliknya. Jarak antara sekolah atau rumah guru sangat jauh. Karena jauhnya jarak dari inti kegiatan pengembangan diri, beberapa siswa kadang-kadang kurang tertarik pada kegiatan ini. Lebih baik lokasi yang dekat dan mudah dijangkau. kurangnya waktu untuk pertumbuhan pribadi. Tantangan dalam mempraktikkan cita-cita karakter tidak diragukan lagi adalah kurangnya waktu untuk kegiatan pengembangan diri. Oleh karena itu, proses pembelaran dalam rangka pengembangan diri baik di dalam maupun di luar kelas membutuhkan waktu yang lebih lama, agar guru dan siswa dapat lebih mudah menyerap nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada latihan pengembangan diri dan sumber belajar. Pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mempertimbangkan potensi unik setiap siswa, termasuk kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya serta bagaimana totalitas sosiokulturalnya berfungsi dalam konteks interaksi dengan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat luas. (Diknas, 2. Menurut penelitian Rosalin Helga Hamazona, kepala sekolah dan tenaga pengajar membuat program sekolah yang berbentuk pembiasaan dan budaya sekolah terkait dengan nilai-nilai religius, kejujuran, ketekunan, kedisiplinan, dan kepedulian/tanggung jawab selama tahap perencanaan. Berbeda dengan Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 penjelasan Siti Zubaidah dalam kajian penelitian bahwa tahap perencanaan bisa dilakukan dengan membuat silabus dan RPP, silabus dan RPP menyediakan satu kolom untuk pengembangan kualitas karakter. Menerapkan nilai-nilai karakter ke dalam semua materi pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Pendekatannya adalah menginstruksikan melalui pemodelan dan refleksi. (Zubaidah, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas kebijakan kepala Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa tentang pemanfaatan pendidikan karakter, serta aspek pendorong dan penghambatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk . mengetahui implementasi pendidikan karakter pengembangan diri di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa. Mengetahui kebijakan pimpinan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa . Mengetahui unsur-unsur yang mendorong dan menghambat penerapan pendidikan karakter Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa melalui pengembangan diri. Untuk membentuk karakter siswa Islam, penelitian ini diantisipasi untuk memperbaiki lingkungan pendidikan, merumuskan kebijakan, dan berinovasi dalam proses pembelajaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di salah satu madrasah yang ada di kota Medan yaitu Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan. Untuk memproleh data yang diinginkan dan deskriptif, maka penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif. Adapun instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah dengan melakukan observasi, wawancara, dan pemanfaatn dokumen untuk memperoleh data yang berkenaan dengan penanaman nilai karakter peserta didik melalui program pengembangan diri. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data yang diharapkan peneliti memperoleh data dari dua sumber yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer didapatkan dari informan penelitian secara langsung dan merupakan data pokok penelitian, sedangkan sumber data sekunder merupakan data pendukung yang didapatkan dari buku-buku, catatan peneliti dan sumber data lainnya yang mendukung. Data yang didapatkan kemudian dilakukan pengelolaan dengan reduksi data. Hal ini bertujuan agar data yang diperoleh selama penelitian dapat diambil sebuah kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 Penanaman Nilai Karakter Peserta Didik Melalui Program Pengembangan Diri di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan Staf pengajar dan staf di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa bekerja tanpa lelah untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan intelektual dan moral siswanya. Terutama dalam bidang mencintai Allah SWT dengan semacam iman dan taqwa serta bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan perbuatan orang-orang di sekitarnya. Metode, teknik, dan pendekatan pembelajaran serta penerapannya adalah : . Memberikan nasehat. Saling mengingatkan dan menasehati sangat dianjurkan dalam Islam. Guru di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa, dibuktikan dengan observasi partisipan dan data wawancara, menggunakan nasihat sebagai metode pelaksanaan pendidikan karakter bagi siswanya. Merupakan praktik umum untuk menawarkan bimbingan kepada siswa di awal karir akademis mereka. Sangat penting bagi guru untuk memberikan contoh yang baik bagi siswanya. Tanpa menyebut nama, pimpinan dapat memberikan teguran kepada tenaga pendidik yang dianggap melakukan kesalahan dalam proses pembelajaran. (Arfiariska P, 2. Pimpinan menekankan pentingnya menjadi teladan bagi para pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajarnya baik di dalam maupun di luar kelas. Praktik yang umum dilakukan antara lain membiasakan siswa untuk berdoa bersama sebelum kelas dimulai, membersihkan area di sekitar kelas, dan menyambut guru setiap kali mereka bertemu, baik di dalam maupun di luar madrasah (M, 2. Setiap kali pelajaran selesai, ketua kelas akan sering memimpin semua orang dalam doa. Mengajari anak untuk selalu mengatakan "permisi" saat berjalan di depan orang yang lebih tua dan orang lain yang membutuhkan merupakan langkah penting agar mereka cepat tanggap saat dipanggil atau diminta bantuan oleh guru dan orang tua di lingkungan tua, dengan sedikit firasat dalam gaya berjalan mereka. Selain itu, kebiasaan siswa dapat dilihat sebagai cara untuk mempraktekkan pendidikan karakter yang telah mereka terima di kelas. Kegiatan ekstrakulikuler. Ekstrakurikuler Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa yang paling populer Mengikuti Pramuka adalah salah satunya. Program kepramukaan Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa dibagi menjadi dua kategori yaitu pramuka tingkat penggalang dan pramuka tingkat waspada. Sebagai bagian dari perannya sebagai pendidik karakter, pembina pramuka memberikan arahan, keteladanan, permainan, dan pembiasaan diri kepada siswa melalui pemberian tugas dan saran dalam kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan. (D, 2. Untuk menunjukkan kecintaannya kepada Allah SWT, anak-anak didorong untuk Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 mengembangkan empat sifat melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka: religius, jujur, mandiri, dan tanggung jawab. Pemimpin dan pendidik di sekolah memainkan peran penting dalam menyampaikan jenis pendidikan karakter yang akan membantu siswa berhasil di dunia nyata. Termasuk, namun tidak terbatas pada, aktivitas yang dilakukan di luar lingkungan sekolah formal yang berkontribusi terhadap perkembangan siswa sebagai pembelajar. Karakter moral siswa akan meningkat sebagai Pandangan positif yang dikembangkannya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Kebijakan Kepala Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa Medan dalam Penanaman Nilai Karakter Peserta didik Melalui Program Pengembangan Diri Kebijakan adalah keputusan yang diambil oleh kepala Madrasah dengan kehati-hatian, musyawarah, dan penuh pertimbangan bawahannya dalam rangka pengembangan menuju masa depan yang lebih maju dan Kebijakan yang mengatur partisipasi semua pihak di sekolah ditetapkan oleh Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa. Kebijakan yang ditetapkan berjalan baik dengan kesepakatan bersama. Anda bisa mencermati keadaan masyarakat sekarang dan memahami bahwa kebijakan yang kuat adalah pilar utama pendidikan karakter. Orang tua memiliki harapan yang tinggi terhadap peran pendidikan karakter di ruang kelas dan madrasah. Sentimen serupa ada di antara para pendidik yang dengan tulus percaya bahwa perilaku anak-anak akan membaik. Kebijakan berikut perlu diberlakukan: . Ketika tahun ajaran baru dimulai, hal ini dilakukan untuk menilai kebutuhan anak-anak. daftar sumber daya yang telah dimodifikasi untuk mencapai potensi penuhnya dan siap untuk dikembangkan. Membuat rencana tindakan yang akan dilakukan. Memutuskan siapa yang bertugas melaksanakan pendidikan karakter. Misalnya, wakil kepala madrasah diberi kuasa atas kurikulum dan tenaga pengajar oleh kepala madrasah. Setiap kegiatan pengembangan diri menerima mekanisme pembinaan yang disesuaikan. Siswa yang memiliki karakter yang baik adalah tujuan yang diharapkan. Kurikulum 2013 yang diacu dalam kebijakan tentang pendidikan karakter ini, dan penerapannya sejalan dengan perkembangan moral diri siswa. Sebelum rapat kerja . , kepala Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa dan para pendidik lainnya mengonstruksi apa saja yang dibutuhkan peserta didik untuk mengembangkan karakter unggul. Dari rumusan tersebut, rapat kerja . kemudian menghasilkan kebijakan. Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 Kebijakan mutu yang dicanangkan oleh kepala madrasah lebih bersifat operasional atau menitikberatkan pada unsur-unsur yang dapat menjamin kelangsungan pelaksanaan pendidikan karakter. Pemeriksaan sosial digunakan untuk melacak keefektifan pendidikan karakter, terutama bagaimana tanggapan staf pengajar. Akibatnya, inisiatif dan program pendidikan karakter disesuaikan dengan kekuatan dan kualitas yang sudah dimiliki lembaga (Winata K, 2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penanaman Nilai Karakter Peserta Didik Dalam pelaksanaan suatu program atau kegiatan pasti akan menghadapi berbagai permasalahan. Terdapat beberapa permasalahan dalam penanaman nilai karakter peserta didik melalui program pengembangan diri, sekolah dan orang tua. Meskipun demikian, untuk meminimalkan dan menghilangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan karakter , komponen sekolah ( kepala sekolah/madrasah, staf pengajar , dan tenaga kependidikan ) Tentu saja, dukungan orang tua sama pentingnya untuk menanamkan prinsipprinsip moral. Dukungan keluarga dapat berupa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak mereka, mengawasi mereka ketika mereka di rumah, menciptakan lingkungan yang ramah bagi mereka untuk terlibat, dan menanamkan kebaikan dalam diri mereka. Selain itu, dapat dilakukan dengan memuji atau menyemangati anak-anak muda yang berperilaku baik dan memberikan peringatan kepada mereka yang memiliki kebiasaan negatif. Perlu adanya koordinasi yang baik antara keluarga, masyarakat dan sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter juga adanya dukungan dari berbagai pihak dalam semua kegiatan pengembangan diri, kesadaran dari siswa, motivasi dari pengawas ekstrakurikuler, ketersediaan sarana dan prasarana bidang ekstrakurikuler yang memadai, tenaga pendidik bekerja sesuai dengan kompetensinya, dan bagaimana kepala sekolah/madrasah berperilaku adalah beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan (Suriadi H, 2. Sementara itu, ketiadaan pengawasan orang tua dan pendidikan terhadap anak menjadi penghambat pengembangan diri anak didik. Perjuangan siswa dengan adaptasi mungkin juga memiliki efek menahan kemampuan mereka untuk tumbuh sebagai individu. Kendala lain adalah setting yang tidak ramah. Karena banyak pendidik kekurangan sumber daya untuk sepenuhnya merancang program pengembangan diri, evaluasi sering dibuat hanya berdasarkan firasat. Program pengembangan diri telah dilaksanakan oleh madrasah, namun belum semuanya membuat program atau pedoman pelaksanaan yang sesuai dengan persyaratan yang telah digariskan dalam standar pengelolaan. Journal Continuous Education Volume 3. Issue 3. November 2022 Page 19-29 KESIMPULAN Berdasarkan temuan studi lapangan terkait penanaman nilai karakter peserta didik melalui program pengembangan diri di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa, dapat disimpulkan sebagai berikut: penanaman nilai karakter di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa diintegrasikan ke dalam pembelajaran dengan menitikberatkan pada tiga aspek: pengajaran, keteladanan, dan evaluasi. Diintegrasikan juga dalam kegiatan pengembangan diri, seperti memberikan nasihat yang baik, memberikan contoh yang baik, dan memberikan kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mendukung penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Kebijakan kepala madrasah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di Madrasah Diawali dengan Rapat Kerja (Rake. dengan tim pengajar. Tsanawiyah Muallimin Univa menitikberatkan pada menanamkan prinsip-prinsip moral kepada siswa. Pelaksanaan sistem manajemen sekolah berdasarkan visi dan tujuan lembaga. Pola ini dipadankan dengan kurikulum yang sesuai untuk menghasilkan pendidikan berkualitas tinggi yang dapat disetujui oleh seluruh staf pengajar dan masyarakat. Penanaman nilai karakter peserta didik melalui program pengembangan diri di Madrasah Tsanawiyah Muallamin Univa didukung oleh hal-hal sebagai berikut: . Untuk melaksanakan pendidikan karakter, sekolah, keluarga, dan masyarakat bekerja sama dengan baik. keikutsertaan seluruh personel madrasah, termasuk pimpinan, dosen, dan tenaga administrasi, dalam semua kegiatan pengembangan diri. Siswa menyadari hal ini. Pengawas kegiatan ekstrakurikuler memberikan dorongan. Bidang ekstrakurikuler memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Menciptakan lingkungan dan budaya kerja yang kondusif. Namun pelaksanaan pendidikan karakter melalui pengembangan diri di Madrasah Tsanawiyah Muallimin Univa terkendala halhal sebagai berikut: . kurangnya kerjasama antara pengajar, orang tua, dan . Penyusunan program pengembangan diri yang kurang . Kurangnya pengetahuan di antara beberapa siswa. DAFTAR PUSTAKA