JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 TAHAPAN PELATIHAN MEMBATIK BAGI WARGA BINAAN PADA LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LAPAS) PEREMPUAN KELAS IIB BENGKULU Winda Juniati1. Citra Dwi Palenti2. Lenni Mantili Hutauruk3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Nonformal. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Indonesia windajunia55@gmail. com, 2citradwipalenti@unib. id, 3lennimantili@unib. Received: Desember, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract This study aims to describe the batik training process for inmates at the Class IIB Women's Correctional Institution (LAPAS) in Bengkulu. This study uses a qualitative descriptive method. Data collection was conducted through observation, interviews, and documentation and validated using triangulation techniques of sources, time, and techniques. The results of the study indicate that the batik training stages were carried out through systematic stages beginning with an initial assessment to map the interests, talents, and basic abilities of inmates. The assessment results became the basis for determining the development program through the TPP session so that the training provided was on target. The training stage focused on providing batik skills in stages, starting from an introduction to materials and tools, pattern making, canting techniques, coloring, and so on. The evaluation process . included assessment of knowledge aspects through oral tests, attitudes through observations of discipline and responsibility, and skills through assessment of the quality of batik works. This training had a significant impact in the form of improving technical batik skills, forming positive attitudes such as independence and perseverance, and increasing the inmates' self-confidence. Keywords: Batik Training. Women Inmate. Bengkulu Prison Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelatihan membatik bagi warga binaan pada Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Perempuan Kelas IIB Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta divalidasi menggunakan teknik triangulasi sumber, waktu dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pelatihan membatik dilaksanakan melalui tahapan sistematis yang diawali dengan asesmen awal untuk memetakan minat, bakat, dan kemampuan dasar warga Hasil asesmen menjadi dasar dalam penentuan program pembinaan melalui sidang TPP agar pelatihan yang diberikan tepat sasaran. Tahap pelatihan difokuskan pada pembekalan keterampilan membatik secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan dan alat, pembuatan pola, teknik mencanting, pewarnaan, hingga. Proses evaluasi . mencakup penilaian aspek pengetahuan melalui tes lisan, sikap melalui observasi kedisiplinan dan tanggung jawab, serta keterampilan melalui penilaian kualitas hasil karya batik. Pelatihan ini memberikan dampak signifikan berupa peningkatan keterampilan teknis membatik, pembentukan sikap positif seperti kemandirian dan ketekunan, serta peningkatan kepercayaan diri warga binaan. Kata Kunci: Pelatihan Membatik. Narapidana Wanita. Lapas Perempuan How to Cite: Juniati. Palenti. & Hutauruk. Tahapan Pelatihan Membatik Bagi Warga Binaan Pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. Perempuan Kelas IIB Bengkulu. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 72-77. Volume 9. No. Januari 2026 pp 72-77 PENDAHULUAN Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni tinggi serta proses produksi yang kompleks. Pembuatan batik tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai tahapan kerja yang harus dilakukan secara sistematis dan berurutan. Setiap tahap dalam proses membatik memiliki fungsi penting yang saling berkaitan, sehingga keberhasilan satu tahap akan memengaruhi kualitas hasil akhir. Lisbijanto . menjelaskan bahwa pembuatan batik merupakan proses bertingkat yang menggunakan malam sebagai bahan penahan warna, sehingga kain yang telah melalui tahapan tersebut akan membentuk motif-motif khas sesuai karakter pembuatnya. Hal yang senada disampaikan oleh Susanto . , yang menegaskan bahwa tahapan membatik tidak dapat dilakukan secara acak, melainkan menuntut alur kerja yang runtut, mulai dari perencanaan motif hingga penyelesaian warna akhir. Sementara itu, dalam perspektif pendidikan keterampilan. Herawati . menyatakan bahwa pembelajaran membatik perlu dirancang berdasarkan tahapan kerja yang autentik agar peserta didik mengalami proses belajar yang bermakna dan kontekstual. Melalui tahapan tersebut, proses pelatihan membatik tidak hanya mengajarkan aspek teknis, tetapi juga mengembangkan disiplin, kreativitas, ketelitian, serta kemampuan pemecahan masalah. Dengan demikian, pemahaman terhadap setiap tahap membatik merupakan aspek fundamental dalam proses pelatihan, terutama dalam konteks pendidikan nonformal seperti di lembaga pemberdayaan atau lembaga pemasyarakatan. Tahapan kerja yang terstruktur membantu peserta pelatihan menguasai keterampilan secara bertahap, memastikan hasil batik yang berkualitas, serta memperkuat kompetensi mereka untuk berdaya secara ekonomi. Salah satu lembaga pemasyarakatan yang menyelenggarakan program pemberdayaan perempuan bagi warga binaannya dalam bentuk pelatihan membatik adalah lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIB Bengkulu. Menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 2022 pasal 1 ayat . tentang pemasyarakatan menyatakan bahwa lembaga pemasyarakatan yang selanjutnya disebut lapas adalah lembaga atau tempat yang menjalankan fungsi pembinaan terhadap narapidana. Narapidana dalam lembaga pemasyarakatan ini selanjutnya mendapat program-program pembinaan dari pihak lembaga pemasyarakatan. Kamil . menyatakan bahwa pelatihan merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, ataupun perubahan sikap seseorang. Kegiatan membatik dipilih sebagai salah satu bentuk pelatihan karena memiliki nilai budaya, ekonomi, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pemberdayaan. Kamil . menjelaskan bahwa, pelaksanaan pelatihan memerlukan prosedur atau langkahlangkah agar pelatihan berjalan dengan baik. Langkah-langkah pelatihan sebagai acuan dalam melaksanakan pelatihan adalah sebagai berikut: Tahapan assesmen Penilaian kebutuhan Penilaian kebutuhan pelatihan Pengembangan tujuan pelatihan. Pengembangan kriteria evaluasi. Juniati. Palenti & Hutauruk. Tahapan Pelatihan Membatik Bagi Warga Binaan Pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. Perempuan Kelas IIB Bengkulu Tahapan pelatihan Merancang dan menyeleksi prosedur pelatihan. Pelatihan. Tahapan evaluasi Mengukur hasil pelatihan. Membandingkan hasil dan kriteria. Dari prosedur pelatihan tersebut dapat diartikan bahwa pelatihan membutuhkan tahapan yang terdiri dari tiga tahap utama: assesmen untuk menilai kebutuhan dan menetapkan tujuan, pelatihan untuk merancang dan melaksanakan metode, serta evaluasi untuk mengukur dan membandingkan hasil dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kajian mengenai tahapan pelatihan membatik bagi warga binaan menjadi penting untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung secara efektif, relevan, serta mampu memberikan dampak positif baik dari aspek keterampilan maupun aspek psikososial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai bagaimana pelatihan membatik dirancang, diterapkan, serta diadaptasi sesuai kebutuhan pembinaan di Lapas Perempuan Kelas IIB Bengkulu. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sugiyono . metode kualitatif ini didasarkan pada filsafat postpotivisme dan digunakan untuk mempelajari kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti berfungsi sebagai instrumen kunci. Penelitian ini melalui beberapa tahapan diantaranya yaitu merumuskan pertanyaan untuk penelitian, melakukan wawancara, mengumpulkan data dari hasil penelitian, melakukan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan untuk menemukan fakta di lapangan, serta memberikan makna atau kesimpulan. Melalui teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian ini terdapat 4 . informan diantaranya 1 . orang kepala LPK lapas, 1 . orang instruktur pelatihan membatik, serta 2 . orang warga binaan lapas. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap Assesmen Assesmen awal Asesmen awal merupakan tahapan penting yang dilakukan sebelum warga binaan mengikuti program pelatihan membatik. Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi latar belakang, minat, bakat, serta kemampuan dasar warga binaan dalam bidang keterampilan, khususnya yang berkaitan dengan seni membatik. Selain itu, assesmen awal juga mencakup penilaian terhadap kondisi fisik dan mental untuk memastikan kesiapan peserta dalam mengikuti pelatihan secara optimal. Menurut Nugroho . , assesmen dalam pendidikan nonformal berfungsi sebagai alat pemetaan kemampuan awal peserta untuk menyesuaikan program pembelajaran dengan kapasitas dan karakteristik peserta didik. Hal ini sejalan dengan pendapat Mulyasa . yang menyatakan bahwa assesmen awal diperlukan agar proses pelatihan berjalan efektif serta meminimalkan ketidaksesuaian antara kemampuan peserta dan tuntutan keterampilan yang dipelajari. Dengan demikian, asesmen awal dalam pelatihan membatik di Volume 9. No. Januari 2026 pp 72-77 lembaga pemasyarakatan tidak hanya berperan sebagai proses seleksi administratif, melainkan sebagai tahapan strategis untuk mengidentifikasi potensi, kesiapan, dan kebutuhan pembinaan setiap warga binaan, sehingga pelatihan yang diberikan bersifat relevan, adaptif, dan berorientasi hasil. Penentuan assesmen Tahap penentuan assesmen dilakukan melalui mekanisme Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP) sebagai tindak lanjut dari hasil asesmen awal. Sidang TPP berperan untuk menetapkan program pembinaan yang tepat bagi warga binaan berdasarkan kondisi psikologis, minat, bakat, serta potensi yang teridentifikasi selama assesmen. Hasil sidang ini menjadi dasar keputusan resmi penempatan warga binaan pada program pembinaan kemandirian termasuk pelatihan membatik. Penetapan ini sejalan dengan ketentuan Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-38. OT. 02 Tahun 2020, yang menyatakan bahwa: AuTPP bertugas melaksanakan pengamatan, penilaian, dan pemberian rekomendasi terkait pembinaan warga binaan untuk mendukung penetapan pola pembinaan dan penempatan pada program pembinaan yang sesuaiAy (Ditjen PAS, 2. Dengan demikian, pelaksanaan pelatihan membatik di Lapas Perempuan Bengkulu bukan sekadar berdasarkan pilihan individu, tetapi telah melalui proses seleksi berbasis asesmen yang bersifat objektif, terstruktur, dan akuntabel guna memastikan kecocokan peserta dengan program pelatihan. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Kamil . yang menegaskan bahwa pelatihan akan efektif apabila penetapan peserta didasarkan pada hasil asesmen kebutuhan dan karakteristik individu, karena kesesuaian peserta dengan program merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan Tahap Pelatihan Membatik Tahap pelatihan difokuskan pada pembekalan keterampilan membatik secara bertahap, dimulai dari pengenalan bahan dan alat yang meliputi kain mori, malam, canting, pewarna, dan kompor pemanas, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan pola sebagai dasar visual motif batik. Setelah itu peserta pelathan diarahkan untuk mempelajari teknik mencanting, yaitu proses menorehkan malam panas ke permukaan kain sesuai pola secara teliti dan konsisten. Tahapan berikutnya adalah proses pewarnaan yang menuntut ketepatan dalam pemilihan jenis warna, teknik celup maupun colet, serta penguncian warna. Proses pelatihan ditutup dengan tahap pelorodan, yaitu pelepasan lapisan malam dengan air mendidih hingga menghasilkan motif batik secara sempurna. Pelaksanaan tahapan secara sistematis ini bertujuan agar keterampilan membatik peserta berkembang secara bertahap mulai dari pemahaman konsep hingga penguasaan praktik. Pernyataan tersebut sejalan dengan Lisbijanto . 3: . yang menjelaskan bahwa Auproses membatik terdiri atas serangkaian tahapan mulai dari perancangan motif, mencanting dengan malam, pewarnaan, hingga pelorodan untuk menghasilkan karya batik yang utuh dan berkualitas. Ay Selain itu. Dewi . menegaskan bahwa pembelajaran membatik yang efektif harus dilakukan melalui Autahapan bertingkat dari pengenalan alat hingga produksi karya secara mandiri agar peserta benar-benar menguasai keterampilan teknis dan estetika batik. Ay Tahap Evaluasi Pelatihan Evaluasi pelatihan membatik mencakup tiga aspek kompetensi diantaranya aspek kognitif . , afektif . , dan psikomotor . untuk melihat peningkatan kompetensi secara menyeluruh (Uno, 2. Juniati. Palenti & Hutauruk. Tahapan Pelatihan Membatik Bagi Warga Binaan Pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. Perempuan Kelas IIB Bengkulu Penilaian Pengetahuan Penilaian pengetahuan dilakukan dengan tes secara lisan dengan mengajukan pertanyaan terhadap narapidana untuk mengukur seberapa baik narapidana memahami informasi yang telah disampaikan. Dari jawaban warga binaan, instruktur membatik dapat mengetahui siapa yang sudah paham dan siapa yang masih perlu mendapat bimbingan. Hal ini sejalan dengan Sudjana . , menyatakan bahwa penilaian pengetahuan dilakukan Demi mengukur sejauh mana peserta memahami informasi yang telah diberikan, baik melalui tes tertulis, lisan, maupun bentuk tanya jawab. Penilaian sikap Penilaian sikap berkenaan dengan pengendalian diri, pertanggung jawaban, dan kerja sama, ketekunan serta antusiasme dalam mengikuti pelatihan membatik. Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa warga binaan yang memiliki motivasi dan ketekunan tinggi umumnya menghasilkan karya dengan kualitas lebih baik. Hal ini sejalan dengan Hamalik . ranah afektif . mencakup aspek minat, sikap, dan nilai yang tampak dalam perilaku peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Penilaian keterampilan Penilaian keterampilan dapat dilihat melalui teknik unjuk kerja berupa produk batik yang dihasilkan oleh narapidana, dengan memperhatikan kerapian serta kreativitas masing-masing Hal ini sejalan dengan Sudijono . penilaian unjuk kerja merupakan bentuk evaluasi yang menekankan pada penilaian proses dan hasil kerja peserta didik dalam situasi Dengan demikian, evaluasi menjadi instrumen penting untuk menentukan efektifitas pelatihan, mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, serta merumuskan langkah tindak lanjut untuk peningkatan program. KESIMPULAN Pelatihan membatik dilaksanakan melalui tahapan yang sistematis dan terarah, dimulai dari proses asesmen awal untuk mengidentifikasi latar belakang, minat, bakat, serta kesiapan fisik dan mental warga binaan. Hasil asesmen menjadi dasar dalam penentuan program pembinaan melalui sidang TPP agar pelatihan yang diberikan tepat sasaran. Tahap pelatihan difokuskan pada pembekalan keterampilan membatik secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan dan alat, pembuatan pola, teknik mencanting, pewarnaan, hingga pelorodan. Penilaian . pelatihan membatik mencakup tiga ranah kompetensi yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan, yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Proses evaluasi dilakukan tidak hanya untuk menilai hasil akhir, tetapi juga untuk memantau proses belajar, perkembangan kmampuan, dan perubahan perilaku warga binaan selama pelatihan Pelaksanaan evaluasi yang menyeluruh ini menjadi tolok ukur keberhasilan program pelatihan dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapan warga binaan untuk mandiri setelah menyelesaikan masa pembinaan Volume 9. No. Januari 2026 pp 72-77 DAFTAR PUSTAKA