Vol. No. Maret 2021 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 https://jurnal. id/index. php/UrwatulWutsqo KONSISTENSI IDEOLOGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI TENGAH PERUBAHAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA Muhammad Zamroji Sekolah Tinggi Agama Islam At-Tahdzib Jombang Email: muhammadzamroji89@gmail. Abstrak: Islamic education ideology is a systemic concept based on the Koran, alHadith, and ijtihad which aims for the happiness of human life in this world and the hereafter. The curriculum includes material from religious studies . qidah, syariAoah, and moral. as well as general subjects such as mathematics. The methods used are classical and modern methods. Meanwhile, conservative educational ideology places more emphasis on conventional teachings which assume that everything humans do is God's will. The curriculum places more emphasis on moral aspects and the methods used also tend to be conventional, such as lectures. This is different from the ideology of liberal education which prioritizes individual freedom to develop educational concepts. The curriculum places more emphasis on practical matters and the teaching methods are free to suit individual wishes Keywords: Islamic Religious Education Ideology. Changes In The Educational Curriculum Pendahuluan Pendidikan merupakan hal yang sangat urgen bagi seluruh umat manusia. Dewasa ini kita dapat melihat bahwa di negara Ae negara belahan dunia seperti Amerika. Inggris. Jepang. Cina dan lain-lain telah membanjir berbagai macam ideologi pendidikan, seperti ideologi pendidikan liberal, konservatif, pluralis, post modernis, feminis, dan lain sebagainya. IdeologiAeideologi pendidikan tersebut pada umumnya berasal dari dan berlandaskan semangat pemikiran orang-orang 1 Bahkan tak jarang pula antara satu ideologi dengan ideologi lain saling 2 Hal ini mencerminkan bahwa betapa padatnya arus lalu lintas ideologi 1 Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2. , 4. 2 Karti Seoharto. Au Perdebatan IdeologiAy. Cakrawala Pendidikan, 2, (Juni, 2. , 134. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. https://jurnal. id/index. php/UrwatulWutsqo Copyright A 2021. LP3M STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA di arena pendidikan kita. Masing-masing ideologi pendidikan tersebut tentunya memiliki kebaikan dan kelemahan, tergantung dari sudut mana kita memandang. Pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan kemampuan Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pengetahuan yang nantinya menjadi bekal dalam kehidupan di tengah Isu tentang pendidikan senantiasa menarik dan aktual. Pendidikan tidak pernah lekang oleh zaman, mulai dari zaman Adam, sampai zaman kita sekarang bahkan juga pada zaman-zaman berikutnya. Dalam dunia pendidikan sering terjadi Perubahan kurikulum, seperti realitas yang terjadi pada Negara kita Indonesia. Menurut interpretasi para Elite Pendidikan Indonesia, komponen kurikulum pendidikan nasional baik isi kurikulum maupun pengelolaannya masih menimbulkan dualisme yang Artinya, di dalam rumusan pasal-pasal dan ayat- ayat dalam komponen isi dan pengelolaan kurikulum sistem pendidikan nasional terkandung ciri-ciri ideologi pendidikan konservatif dan liberal, sehingga ideologi pendidikan di Indonesia disebut dengan ideologi konservatisme sosial dan liberalisme Di Indonesia sering kali terjadi pergantian kurikulum, yaitu kurikulum 1952, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum 2006. Kurikulum KTSP. Kurikulum K-13. 3 Hal ini mencontohkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia masih kebingungan dalam mendapatkan fomat yang sesuai untuk mengembangkan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Dalam menentukan format pendidikan tentunya tidak terlepas dari ideologi yang berkembang di tengah masyarakat dan negara. Dengan adanya ideologi pendidikan memiliki daya pengikat dan penggerak untuk aksi. Karena realitas kehidupan itu bersifat dinamis maka ideologi dalam dunia pendidikan pun juga Ideologi ini turut mewarnai pendidikan sehingga pendidikan yang dilakukan memiliki karakteristik tertentu yang identik dengan ideologi tertentu Setidaknya ada tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu ideologi pendidikan Islam, konservatif. Sebagai umat Islam, kita telah mengenal tentang nilai-nilai pendidikan Islam. Islam sebagai agama di seluruh dunia yang syarat dengan nilai-nilai universal dan transidental yang diyakini oleh pemeluknya sebagai paradigma ideologi dalam rangka membangun peradaban alternartif. Ideologi pendidikan Islam yang memiliki nilai-nilai universal transedental, dan memenuhi hajat hidup manusia, 3 Abdullah Idi. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2. , 43. 4 Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2. , 6. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA seyogyanya harus bisa menawarkan format ideologi pendidikan Islam yang secara paradigmatik didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama Islam yang luhur sesuai dengan al-QurAoan dan al-Hadits. Hal ini sekurang-kurangnya dapat digunakan sebagai ideologi alternatif dikalangan para praktisi pendidikan muslim guna menengahi ideologi-ideologi kontemporer barat yang telah membanjir dan menggeser setting pemikiran para praktisi pendidikan di era globalisasi ini. Sehingga mereka tidak lagi mengadopsi format ideologi-ideologi barat seperti ideologi pendidikan liberal dan konservatif untuk dijadikan acuan dalam implementasi penyelenggaraan pendidikan. Jika dibiarkan begitu saja, maka nilainilai dasar pendidikan Islam dalam jangka panjang akan terdistorsi atau bahkan akan terjadi krisis ideologi pendidikan Islam. Pembahasan. Deskripsi Ideologi Pendidikan Konservatif Pius A. Partanto dan Dahlan al-Barry mendefinisikan bahwa konservatif adalah tertutup, kolot, mempertahankan tradisi atau kebiasaan Faham Ideologi konservatif memandang bahwa tidak adanya kesederajatan masyarakat merupakan sesuatu yang alami, sesuatu hal yang sangat mustahil untuk kita hindari. Perubahan dalam faham ini merupakan sesuatu hal yang tidak perlu diperjuangkan karena perubahan akan menciptakan sebuah kesengsaraan baru bagi manusia. Tokoh aliran konservatif yang terkenal adalah George Washington. Abraham Lincoln. Emile Durkheim. Arthur Bestor dan Hyman Rickover. Menurutnya, orang-orang yang miskin, buta huruf dan menderita merupakan kodrat Ilahi dan kesalahan mereka sendiri karena tidak bisa merubah dirinya Orang miskin harus bersabar dan belajar menunggu nasib sampai giliran mereka datang, karena pada akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagian. Sehingga dalam penganut konservatif selalu menjunjung tinggi harmoni serta menghindari konflik. Dalam perkembangannya. Ideologi pendidikan konservatif yang dikenal sebagai ideologi pendidikan mempunyai tiga tradisi pokok, yaitu fundamentalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan dan konservatisme 5 Pius A. Partanto dan Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2. , 362. 6 William F. OAoneil. Ideologi-Ideologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. , 530. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Fundamentalisme Pendidikan Definisi Fundamentalisme adalah posisi etis yang menganggap bahwa kehidupan yang baik terwujud dalam ketaatan terhadap tolak ukur keyakinan dan perilaku yang bersifat intuitif atau yang diwahyukan. Fundamentalisme pendidikan pada dasarnya anti pada intelektualisme, atau bisa dikatakan sebuah gerakan yang tidak mementingkan dasardasar filosofis atau menggunakan filsafat dan cenderung menerima diri tanpa melakukan aksi kritik pada sistem yang sudah mapan. Gerakan ini kalau di agama seperti gerakan puritan yang melakukan pembenaran terhadap teks-teks yang di wahyukan pada Tuhannya. Sedangkan manusia hanya menjadi saksi bisu, padahal bisa saja orang yang mengartikan al-QurAoan itu adalah orang yang mempunyai kepentingan untuk dirinya sendiri, seperti kampanye dalam politik praktis. Tujuan Pendidikan Pendidikan bagi penganut fundamentalis bertujuan untuk membangkitkan kembali dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang lebih baik dibanding sekarang. Sedangkan tujuan institusional pendidikannya antara lain untuk membangun kembali masyarakat dengan cara mendorong agar kembali dan konsisten ke tujuan-tujuan yang semula . erilaku tradisiona. , yakni memberikan informasi dan keterampilan-keterampilan keberhasilan dalam tatanan sosial. Konsep Tentang Manusia Para penganut fundamentalis memandang pendidikan sebagai proses regenerasi moral sehingga manusia dianggap sebagai agen moral. Seluruh umat manusia harus taat terhadap aturan moral yang berlaku. Menurutnya masyarakat yang sempurna adalah masyarakat yang Jika Manusia tidak dibimbing dan diberi pengajaran yang baik, maka akan condong ke arah kekeliruan dan kejahatan. Sehingga peran pendidik sangatlah penting untuk mengarahkan peserta didik menjadi manusia yag bermoral. Dilihat dari sudut pandang dasar keyakinan fundamentalis bahwa sejatinya realitas kosmis merupakan suatu tatanan statis dan baku yang datang dari sang pencipta. Manusia dengan segenap makhluk lain ciptaan Tuhan di bumi, tidak memiliki daya upaya untuk mengubah 7 OAoneil, ideologi-ideologi pendidikan, 249. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA tatanan semesta kosmis itu. Termasuk dalam konteks ini adalah nasib dan kebebasan hidup manusia. Seluruh nasib manusia merupakan suatu suratan takdir yang tidak bisa diganggu gugat. Menurut penulis, konsep manusia menurut fundamentalisme pendidikan adalah makhluk yang hanya bisa berikhtiar . untuk menjalankan apa yang sudah digariskan atau ditakdirkan oleh sang maha pencipta, karena pada dasarnya Tuhan memiliki otoritas atas kehidupan manusia. Kurikulum pendidikan Penganut Fundamentalisme mempercayai sistem keyakinan yang bersifat mutlak . dan tertutup. Mereka tidak mensyaratkan dalam pendidikan apa yang disebut dengan pengalaman. Mereka lebih cenderung untuk mendasarkan keyakinan mereka tanpa kritik terhadap kebenaran wahyu. Hakikat kurikulum dalam pandangan fundamentalis adalah: Sekolah harus menekankan karakter yang layak, melatih siswa untuk menjadi pribadi yang baik diukur dengan tolak ukur perilaku moral Sekolah harus memusatkan perhatian pada pembaharuan pola-pola budaya lama dan membantu siswa untuk menemukan kembali nilainilai yang terkandung dalam tradisi-tradisi budaya mendasar. Penekanan materi harus diberikan pada regenerasi moral, sehingga dapat membangun keyakinan dan perilaku manusia sesuai dengan jalur dan pendekatan tradisional. Indoktrinasi moral harus melebihi pengetahuan akademik dan sekaligus harus meminimalkan intelektual . ang berkaitan dengan teoritik dan ideasiona. Sekolah harus menekankan pada latihan moral dan jenis keterampilan-keterampilan akademik serta praktik yang diperlukan untuk membekali dan membantu siswa menjadi anggota yang aktif dalam tatanan sosial yang diregenerasikan secara tepat, keterampilan belajar yang mendasar, pelatihan pembentukan karakter, pendidikan fisik . dan lain sebagainya. Jadi, pada intinya konsep kurikulum dalam fundamentalis lebih mengakar pada materi tentang moralitas. Sehingga anak dikonstruk sesuai dengan keinginan lembaga sehingga guru harus menjadikan dirinya sebagai model utama . untuk peserta didiknya, sehingga 8 MuAoarif, liberalisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2. , 71. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA perilakunya dapat dicontoh oleh peserta didik sebagai aplikasi dari teori Metode pendidikan Untuk metode pendidikan, penganut fundamentalis selalu menampilkan kepatuhan dan ketaatan terhadap guru dan Sabda Tuhan. Seperti yang dipaparkan oleh penulis diatas bahwa guru harus menjadi model utama di sekolah, sehingga murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh guru baik perilaku maupun tutur kata. Kalau di Indonesia bisa dicontohkan seperti metode-metode yang di gunakan di pondok pesantren salafiah. Dalam tradisi salafiah kurang dikenal kritik terhadap fatwa kyai, yang terjadi adalah AusamiAona wa athoAonaAu atau pembenaran tanpa kritik. OAoneil dalam bukunya mengemukakan metode pengajaran yang digunakan oleh penganut fundamentalis yaitu:9 Metode pengajaran harus mengacu pada tata cara pengajaran dalam kelas yang tradisional, seperti metode ceramah, hafalan, belajar dengan diawasi dan dituntun, serta diskusi kelompok yang terstruktur secara ketat. Setiap pelajaran selesai diberikan, maka seorang guru harus melakukan ulangan / tes baik secara lisan ataupun tulisan. Guru harus selalu mengarahkan siswa dalam proses perkembangan intelektualnya dikelas. Guru selalu memberikan pengarahan kepada muridnya di kelas untuk selalu bersaing sehat antar personal untuk mendapatkan nilai yang terbaik dan peringkat nilai tertinggi demi untuk menuju manusia yang sempurna. Lebih menekankan pada metode praktik. Metode bimbingan dan penyuluhan pribadi serta terapi kejiwaan bagi siswa yang membutuhkan dan yang mengalami masalah-masalah dalam kehidupannya. Selain metode pembelajaran di atas. Nurani Soyomukti pakar teori pendidikan mengemukakan bahwa metode-metode yang digunakan dalam model pembelajaran tradisional adalah:10 Metode motivasi yang didasari hukuman, ganjaran atau hadiah, dan 9 Rahman. Politik Ideolog Pendidikan, 79. 10 Nurani Soyomukti. Teori-Teori Pendidikan Tradisional, (Ne. Liberal. Marxis AeSosialis, dan Post Modern, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 160. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Belajar dengan menghafal dan menyimpan informasi tanpa bantuan Modus dominan pengajaran adalah guru bicara. Mengelompokkan peserta didik dalam proses pembelajaran berdasarkan umur dan kemampuan intelektual. Metode kedisiplinan. Dengan demikian, semua metode yang digunakan dalam fundamentalisme pendidikan adalah metode konvensional, yang masih menggunakan guru sebagai panutan utama atau biasa disebut dengan metode sentralisasi. Jadi pendidik lebih aktif dari pada peserta didiknya. Intelektualisme Pendidikan Definisi Secara umum intelektualisme pendidikan adalah ideologi pendidikan yang didasarkan pada pertimbangan, pemikiran atau penalaran secara filosofis bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang sifatnya mutlak dan kekal. Faham intelektualisme pendidikan dilandasi oleh tiga pemikiran11 yaitu : Dunia ini penuh dengan makna di dalamnya. Adanya kebenaran yang fundamental, hukum-hukum kodrat/alam, hukum ketuhanan, yang bersifat mutlak dan tak berubah yang selalu berlaku bagi seluruh umat Manusia tidak dilahirkan dengan bekal pengetahuan yang gamblang . mengenai kebenaran, maka harus ada kesadaran yang bisa diperoleh melalui pengalaman di dunia. Dengan adanya pewahyuan yang religious atau intuisi mistis, maka kebenaran itu bisa dicapai dan diperoleh melalui penalaran. Tujuan Pendidikan Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh intelektualisme pendidikan adalah bahwa menganalisa, meneruskan dan melestarikan kebenaran, mengajarkan pada peserta didik bagaimana cara menalar, meneruskan dan menyalurkan kebijaksanaan-kebijaksanaan dari masa silam yang bertahan mutlak dilakukan. Dengan demikian tujuan intelektualisme pendidikan lebih mengarah pada esensi pembelajaran yang bermakna atau bersifat generatif, sehingga peserta didik dapat mengambil intisari atau hikamah dari apa yang dipelajarinya. Konsep Tentang Manusia 11 OAoneil, ideologi-ideologi pendidikan , 260. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Penganut intelektualisme pendidikan beranggapan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa berfikir. 12 Karena dia dibekali akal oleh Tuhan, sehingga manusia bisa mencari kebenaran melalui akalnya. Semua manusia bersifat rasional yang secara alamiah menginginkan dan mencari kebenaran lewat penerapan nalar, dan menemukan jawaban-jawaban yang paling rasional yang secara inheren dapat meyakinkan, melampaui segala keraguan yang beralasan . easonable doubt. Dalam konsepnya, manusia adalah makhluk yang cerdas yang dapat memahami segala sesuatu dengan nalarnya. Ketika manusia menemukan keselarasan dan kecocokan antara nalar subjektif . dengan nalar objektif . maka dia telah menemukan sebuah kebenaran. Kaum intelektualisme pendidikan memandang pengetahuan merupakan tujuan dalam diri manusia. Mereka lebih menekankan pada penalaran dan kebijaksanaan spekulatif serta menganggap bahwa semua keputusan harus di buat berdasarkan renungan intelektual. Kurikulum Pendidikan Dalam konsepnya penganut intelektualisme pendidikan. Kurikulum pendidikan di sekolah harus menekankan pada hal-hal yang bersifat teoritis dan ideasional serta penafsiran yang luas. Adapun materi-materi yang harus dipelajari adalah tafsir, sejarah yang luas cakupannya, ilmu kesusastraan, ilmu-ilmu kemanusiaan . , ilmu tentang teologi, filsafat, dan ilmu-ilmu tentang cara-cara belajar. Jadi, kurikulum pendidikan kaum intelektualisme pendidikan lebih mengarah pada penalaran dan teori. Metode Pendidikan Metode yang digunakan dalam tradisi intelektualisme pendidikan tidak jauh berbeda dengan fundamentalisme pendidikan Dengan cara yang klasik seperti ceramah, hafalan dan diskusi Setiap selesai pembelajaran guru memberikan ulangan atau latihan secara lisan untuk membiasakan akal pikirannya berpikir. Guru mengajarkan bagaimana cara berfikir yang rasional untuk tingkatan yang lebih tinggi. Guru lebih menekankan pada aspek kognitif melebihi yang afektif. 12 OAoneil, ideologi-ideologi pendidikan , 273. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Guru selalu memotivasi siswa dan setiap pembelajaran untuk selalu taat kepada prinsip-prinsip dan praktek-praktek pendidikan yang lama, terutama tradisi intelektual barat. Guru selalu memberikan bimbingan dan penyuluhan secara personal terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar dan terapi jiwa untuk siswa yang mengalami gangguan kejiwaan. Jadi secara umum intelektualisme pendidikan meyakini bahwa ada kebenaran tertentu yang bersifat mutlak serta kekal yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Sedangkan dalam hal pendidikan lebih mengarah pada sistem ideologi yang tertutup, artinya tidak serta merta menerima hal-hal baru dalam pendidikan, semuanya harus berdasarkan renungan intelektual yang matang. Konservatisme Pendidikan Definisi Ideologi Pendidikan Konservatif yaitu sistem pendidikan yang bersifat ortodok . yang diterapkan di lembaga-lembaga sekolah. John Dewey menyatakan bahwa pendidikan konservatif merupakan suatu pembentukan pada diri anak dari luar. Mereka beranggapan bahwasanya kemampuan atau perkembangan diri anak tergantung gemblengan dari luar bukan dari dalam diri anak. Paham Konservatif mengemukakan pendidikan adalah sebagai suatu pembentukan terhadap pribadi anak tanpa memperhatikan kekuatan-kekuatan atau potensi-potensi yang ada dalam diri anak. Pendidikan akan menentukan segalanya. Dalam artian pendidikan merupakan suatu proses pembentukan jiwa dari luar, dan mata pelajaran telah ditentukan menurut kemauan pendidik, sehingga anak tinggal menerima saja. Tujuan Pendidikan Tujuan utama penganut konservatisme adalah untuk melestarikan dan menyalurkan pola-pola perilaku sosial konvensional. Bagi penganut konservatif, tujuan atau sasaran pendidikan adalah sebagai sarana pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi berciri "orientasi ke masa kini". Kepedulian utama penganut konservatif adalah terhadap peran sekolah dalam melestarikan dan menyalurkan lembaga-lemabaga serta 13 OAoneil, ideologi-ideologi pendidikan , 289. 14 Soyomukti. Teori-Teori Pendidikan, 158. 15 OAoneil, ideologi-ideologi pendidikan , 336. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA proses sosial yang mapan. Mereka ingin menumbuh kembangkan jenis informasi serta keterampilan yang diperlukan agar menjamin keberhasilan individu dalam hidupnya. Konservatisme pendidikan berbeda dengan fundamentalisme dan intelektualisme, karena cenderung mendudukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh Konservatisme menaruh hormat terhadap hukum dan tatanan sebagai landasan perubahan sosial yang konstruktif. Berikut pernyataan Paulo freire tentang ideologi konservatif: AuPenganut konservatif tidak menyangkal bahwa teknologi menyuguhkan beragam persoalan, mereka hanya mengatakan sesuatu yang dapat menciptakan problema-problema yang lebih parahAy. Jadi Paradigma konservatif, memang melihat adanya ketidaksejajaran dalam masyarakat, namun hal itu dianggap wajar dan merupakan hukum alamiah, serta tidak bisa dihindari karena sudah digariskan oleh Tuhan. Konsep Tentang Manusia Penganut konservatif menegaskan bahwa manusia adalah warga Negara, sehingga dia harus taat dan patuh terhadap hukum tata Negara yang berlaku. Manusia harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dimana ia hidup. Manusia harus bernalar dan menyandarkan dirinya pada tuntunan di masa silam. Para penganut konservatisme, memandang pendidikan sebagai sebuah pembelajaran . nilai-nilai sistem yang sudah mapan. Sehingga manusia sebagai obyek pendidikan harus dibimbing secara ketat serta harus diarahkan sebelum ia menjadi orang yang berpendidikan . ersosialisasikan secara efektif sebagai warga Negara yang bertanggung jawa. Dengan Lebih menekankan pada kesamaan-kesamaan yang ada pada individu bukan perbedaan-perbedaannya, sehingga guru dapat dengan mudah mendidik mereka dan mengkondisikan mereka di kelas. Namun guru harus menekankan bahwa keberhasilan ditentukan oleh prestasi mereka, sehingga mereka harus berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. 16 Paulo Freire. Menggugat pendidikan fundamentalis, konservatif, liberal, dan anarkis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2. , 154. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Kurikulum Pendidikan Penganut konservatif cenderung memusatkan perhatiannya kepada disiplin ilmu yang lebih praktis dan lebih baru seperti sejarah, biologi, fisika, yang dianggap sebagai bidang-bidang yang secara langsung relevan dengan berbagai problema masyarakat kontemporer yang paling mendesak dan harus segera diselesaikan. Materi pembelajaran lebih dipusatkan untuk mengajarkan peserta didik menjadi warga Negara yang baik, mengajarkan juga budaya yang konvensional, pembentukan watak dan karakter, ilmu alam, ilmu kesehatan, sejarah, dan keterampilan dasar. Metode Pendidikan Metode-metode yang digunakan penganut konservatisme pendidikan juga tidak jauh beda dengan dua varian ideologi konservatif Guru bebas memilih metode yang di gunakan untuk mengefektifkan pembelajaran di kelas. Namun, ia harus cenderung menggunakan tata cara yang konvensional seperti peragaan, studi lapangan, penulisan di laboratorium, dan lain-lain. Selain itu Metode pendisiplinan jasmani dan mental seperti metode baris berbaris, berhitung di luar kepala, menghafal, dan lain sebagainya juga tetap digunakan untuk pembentukan karakter siswa. Khusus bagi para siswa yang menggali problem-problem dalam kehidupan dan belajarnya, maka digunakan metode bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan. Dari diskripsi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa konservatisme pendidikan cenderung mendukung ketaatan terhadap lembaga pendidikan dan budaya-budaya lama, serta lebih menekankan sikap hormat terhadap hukum dan tatanan sosial masyarakat. Konservatisme pendidikan juga beranggapan bahwa tujuan utama sekolah adalah untuk melestarikan budaya dan tradisi-tradisi lama yang sudah mapan. Ada dua ungkapan dasar yang selalu dipegang teguh oleh konservatisme pendidikan yaitu, pertama, peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral. Kedua, perlunya melestarikan praktek-praktek tradisi lama yang sudah ada sebagai cara untuk mempertahankan hidup. Konsistensi Ideologi Pendidikan Agama Islam di Tengah Perubahan Kurikulum Pendidikan di Indonesia Keberadaan ideologi pendidikan yang beraneka macam dengan penganut dan pengikut masing-masing, sebenarnya hadir sesuai dengan konteks kebutuhan masyarakat sebagai pengikutnya. Kehadiran berbagai Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA macam ideologi pendidikan bagi masing-masing masyarakat memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Menurut Siti Kusujiarti 17, ideologi dapat mempengaruhi kehidupan nyata individu masyarakat dengan mengatur dan memberikan batasan-batasan terhadap aktivitas keseharian masing-masing individu. Ideologi menyediakan suatu cara hidup dan cara pandang untuk menghadapi dunia nyata. Mayoritas masyarakat memandang ideologi bukan hanya sekedaar ide dan cara pandang, tetapi juga sebagai alat untuk menciptakan kondisi pendidikan yang dapat membantu menuju keberhasilan di sekolah, serta dapat merubah perilaku Sehingga dapat mengangkat proses pendidikan menuju terwujudnya pendidikan yang bermutu. Konsep dasar manusia berdasarkan pendidikan Islam yang sangat rinci dalam memandang hakikat manusia. Karena manusia adalah makhluk yang paling istimewa dan mempunyai banyak kelebihan daripada makhluk Sedangkan dalam ideologi pendidikan konservatif cenderung memahami peran dan posisi manusia sebagai subyek nasib . akdir tuha. , maka dia hanya sekedar meyakini ketentuan nasib itu, tanpa berbuat seperti yang di kehendakinya. Malah keyakinan pada kekuatan di luar dirinya lebih dominan, sehingga mengakibatkan sikapnya yang cenderung 18 Dalam mengkonstruksi konsep hakikat manusia, konservatif menempatkan posisi manusia sebagai obyek dogma-dogma, bahkan dalam implementasinya manusia yang sering dijadikan obyek dogma dapat melahirkan kesadaran magis yang cenderung menempatkan manusia sebagai makhluk tak berdaya . dalam pendidikan Islam hal ini dapat di sebut dengan faham jabariyah yang mana posisi manusia hanya sebagai obyek dari kehendak Tuhan. Manusia tidak bisa melakukan sesuatu tanpa adanya kehendak Tuhan, semua hal yang terjadi dalam diri dan perbuatan manusia adalah iradah-NYA. Begitulah versi gologan jabariyah dalam memandang konsep manusia. Jadi secara teologis dapat dikatakan bahwa konsep manusia dalam pandangan konservatif pada dasarnya merujuk pada teologi jabariyah atau Semua perbuatan manusia tuhanlah yang menentukan. 17 Siti Kusujiarti, 2017. Antara Ideologi dan Transkrip Tersembunyi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1. , 18 Fatalistic adalah sikap percaya kepada tuhan . ihat kamus ilmiah popular pius a. partanto dan dahlan al-barr. , 173. 19 Abdul Rozak dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam untuk UIN. STAIN. Dan PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2. , 160. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Misalnya dalam memandang kondisi orang atau kelompok masyarakat yang mungkin bodoh, tertindas, miskin, semuanya karena nasib dari Tuhan. Dalam Islam konsep tersebut sesuai dengan pandangan aliran qadariyah dalam memandang perbuatan manusia. Segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik ataupun berbuat buruk. Karena itu ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikannya dan hukuman atas kejahatannya. Dalam pendidikan Islam, sesuai dengan konsepnya al-Ghazali dikenal dua tujuan pendidikan, yaitu: tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek yang sudah dipaparkan oleh penulis pada pembahasan Jadi secara umum, konsep tujuan pendidikan Islam sudah seimbang antara tujuan utama yaitu tujuan jangka panjang dengan tujuan yang umum yaitu tujuan jangka pendek. Antara tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai ciptaan Allah yaitu khalifatullah fil ard yang selalu bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah, menjadikan manusia pribadi yang utuh . nsan al-kami. sehingga manusia dapat merealisasikan diri . elf realizatio. potensi-potensi dianugerahkan Allah kepadanya . elf actualizatio. Dalam firman Allah a acEE ENaO AA a AA a AacEE a aEEa EaOIa eECaOa aI aOEa aEIN a eE a a EINA aAC NA a AaOI aIaOAU Aa e aa NA a A a EINA a aCa eI aO e aNEa EaEA a AEa eONa aaE a eaO aE aE a eEA )30( aE Oa eEa aIOIA Artinya: AuMaka hadapkanla wajahmu dengan lurus kepada Allah, tetaplah dalam fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Ay21 Self realization ini dapat diukur pencapaiannya dengan tiga realitas. Dalam hal ini penulis meminjam istilah kuntowijaya, tiga realitas tersebut adalah: realitas subyektif, simbolik, dan obyektif. 22 Realitas subyektif adalah nilai-nilai normatif dari al-QurAoan dan al-Hadits yang secara subyektif diyakini oleh seorang muslim dapat membentuk kepribadian. Adapun realitas simbolik adalah aktualisasi dari realitas subyektif, karena manusia memiliki kecenderungan berpikir maka manusia bisa menciptakan sesuatu secara kreatif, seperti simbol busana muslim untuk menutupi aurat. Abdul Rozak dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam, 161. Al-QurAoan, 30:30. 22 Kuntowijoyo. Iman dan Realitas dalam Menelan Cakrawala, (Yogyakarta: Salahuddin, 1. , 22. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA Sedangkan realitas obyektif adalah situasi dan kondisi dalam hidup seharihari yang secara konkrit dihadapi oleh setiap orang. Kurikulum pendidikan Islam sebagaimana konsep yang telah ditawarkan oleh para pemikir Islam . l-Ghazali. Ibnu Kholdun. Ibnu Shina, dan Ikhwan Al-Saf. , pada dasarnya terklasifikasi menjadi 4 macam yaitu ilmu teoritis, dan ilmu praktis, illmu yang fardhu Aoain . lmu relig. dan ilmu fardhu kifayah . lmu umu. Adapun penyampaian kurikulum, harus sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Semua ilmu baik bersifat teoritis, ataupun bersifat praktis harus dipelajari sebagai bekal manusia untuk mengarungi kehidupannya. Sedangkan konsep kurikulum ideologi pedidikan konservatif lebih menekankan pada pewarisan moral dan kedisiplinan. Sehingga pada tataran aplikasinya lebih diutamakan untuk pelatihan moral dan keterampilan-keterampilan non akademik. Dalam kurikulumnya juga menekankan pada ketaatan terhadap peraturan sebuah Negara. Sehingga manusia dapat menjadi warga Negara yang baik yang mencapai keutuhan diri dalam status sebagai anggotanya. Selain itu kurikulum konservatif juga menekankan pada penguasaan nilai-nilai budaya konvensional, sehingga dapat membentuk watak peserta didik. Dalam hal ini, mata pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa ditentukan terlebi dahulu oleh seorang guru. Jadi peserta didik tinggall mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru di kelas. Lain halnya dengan konsep kurikulum pendidikan liberal yang menekankan pada aspek kebebasan individu untuk memilih apa yang akan Yang penting tidak keluar dari tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam kurikulumnya juga diorientasikan, agar individu bisa memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan. Dalam membahas metode pendidikan Islam, banyak sekali metodemetode yang dicetuskan oleh pakar pendidikan baik metode konvensional maupun metode yang sudah modern. Penulis memandang bahwa konsep metode pendidikan Islam yang sudah dipaparkan oleh penulis pada pembahasan sebelumnya sudah mewakili terhadap metode-metode yang digunakan oleh kaum konservatif dan kaum liberal. Kaum konservatif memandang bahwa metode pengajaran harus cenderung ke arah yang tradisional seperti ceramah, hafalan, diskusi, dan Tanya jawab. Mereka juga memandang bahwa guru adalah panutan. Ahmadi. Ideologi Pendidikan, 102-103. Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA sehingga guru lah yang harus menentukan metodenya. Ketika ada siswa yang mengalami kesulitan belajar ataupun menghadapi masalah-masalah dalam kehidupannya maka guru memberikan bimbingan dan penyuluhan, serta memberikan terapi kejiwaan bagi siswa yang membutuhkan. Lain halnya dengan metode yang digunakan oleh kaum liberal. Mereka menghindari adanya metode hafalan dan kedisiplinan. Mereka menyerahkan hal itu kepada individu, jadi bukan tugas seorang guru untuk menyuruh peserta didik hafalan. Guru hanyalah fasilitator dan motivator,. Sehingga peserta didik bebas menentukan metode apa yang akan digunakan dalam proses pembelajaranya. Namun, ketika ada siswa yang mengalami kesulitan belajar ataupun mengalami masalahAemasalah dalam kehidupannya, pendidik akan megarahkan dan memberikan penyuluhan kepada siswa tersebut, serta melakukan terapi kejiwaan bagi yang Jadi, dapat disimpulkan bahwa titik temu metode pengajaran yang digunakan adalah dalam penggunaan metode bimbingan dan penyuluhan dalam masing-masing ideologi pendidikan Islam, konservatif, dan liberal. Dalam istilahnya sekarang berubah menjadi bimbingan dan konseling Kesimpulan Ideologi pendidikan Islam memiliki konsep yang universal dalam hal Ditengah membanjirnya ideologi-ideologi pendidikan barat seperti ideologi konservatif dan liberal, ternyata ideologi pendidikan Islam mampu memberikan konsep yang dapat mencakup dari keduanya. Buktinya dapat ditemukan titik temu dari ketiga konsep tersebut. Sehingga dapat terbukti bahwa ideologi pendidikan Islam bukanlah ideologi pendidikan yang kolot dan Ideologi pendidikan konservatif adalah faham ideologi yang terkenal Tujuan pendidikan lebih mengarah kepada mempertaankan nilai-nilai normatif seperti moralitas yang bersumber dari ajaran agama sebagai pengakuan terhadap nilai-nilai transedental. Sedangkan konsep manusia menurutnya adalah manusia adalah agen moral, manusia bisa berfikir rasional, dan seluruh perbuatan manusia adalah kehendak dari Tuhan. Sedangkan kurikulumnya lebih menekankan pada pelajaran yang bersifat praktis. Adapun metode yang digunakan lebi mengacu pada metode konvensional seperti hafalan, ceramah, dan Urwatul Wutqo. Jurnal Kependidikan dan Keislaman. Vol. No. Maret 2020 P-ISSN : 2252-6099. E-ISSN : 2721-2483 Muhammad Zamroji Konsistensi Ideologi Pendidikan AgamaA DAFTAR PUSTAKA