Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 Karakteristik Iregularitas Infleksi Nominal Bahasa Arab. Studi Kasus pada Jamak Taksir Zaqiatul Mardiah1. Afridesy Puji Pancarani1 Prodi Bahasa dan Kebudayaan Arab. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Al Azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja. Kompleks Masjid Agung Al Azhar. Jakarta Selatan 12110 Penulis untuk korespondensi/E-mail: zaqiah@uai. Abstrak Ae Pada hakikatnya, di dalam ketidakteraturan ada pola yang teratur. Kajian ini hendak mencermati dan menemukan keteraturan pola dalam ketidakteraturan proses morfologis infleksi nominal bahasa Arab, jamak taksir. Bentuk-bentuk yang dinamis dan beragam pada perubahan bentuk singular menjadi plural dalam jamak taksir memiliki kecenderungan yang dapat dipetakan menjadi pola Untuk memotret fenomena tersebut, kajian awal ini mengambil data dari kamus Arab-Inggris Hans Wher dari entri alif hingga khaAo, yang dibatasi pada ism tunggal yang berpola faAolun, fiAolun, fiAolatun, fiAoa:lun, fuAolatun, faAoalun, dan faAolatun. Dengan metode deskriptif kualitatif, masing-masing bentuk singular akan dicermati aspek fonologis dan semantisnya. yang menjadi bentuk plural dengan karakteristik fonologis dan semantik yang juga menjadi fokus perhatian. Kajian ini membenarkan tesis dari Pingker tentang pola-pola tidak teratur yang sebenarnya memuat keteraturan. Dalam riset ini, sebagian besar bentuk plural dari jamak taksir dapat diramalkan dengan melihat consonant order dari bentuk tunggalnya. Abstract Ae Actually, there is a regular pattern in irregularities. This study was to examine and find the regularity patterns in the irregularities of the nominal inflection of morphological process of Arabic, jamak taksir. Dynamic and varied forms of morphological process from singular to plural in the jamak taksir have a tendency that can be mapped into certain regular patterns. To capture the phenomenon, this initial study took data from Hans Wher's Arabic-English dictionary from the Alif to Kha ' entry, which was confined to the singular ISM patterned fa'lun, fi'lun, fi'latun, fi'a:lun, fu'latun, fa'alun, and fa'latun. With qualitative descriptive methods, each singular form will be examined by the phonological aspect and its semantics. which became a plural with the phonological and semantic characteristics that also became the focus of attention. This study justifies the thesis of the Pingker on irregular patterns that actually load regularity. In this research, most of the plural form of the jamak taksir can be predicted by looking at the order consonant from the singular. Keywords - Arabic broken plural, irregularity, inflection, phonological aspect. PENDAHULUAN nfleksi nominal dalam banyak bahasa flektif dapat bersifat regular, dan dapat pula iregular. Beberapa bukti linguistis menunjukkan bahwa infleksi regular dan iregular banyak dipengaruhi oleh karakteristik morfofonologis dari bahasa itu . Dalam bahasa Inggris, sufiks Aes atau Aees pada books dan boxes, merupakan kaidah reguler. Sufiks Aeu:na pada muslimu:na juga masuk dalam kategori jamak muzakkar salim . lural regular maskulin insan. dalam bahasa Arab. Penambahan sufiks Aes atau Aees untuk menandai bentuk plural dalam bahasa Inggris tersebut, tentu saja mengikuti aturan yang sifatnya mudah diramalkan, yaitu Aes akan diimbuhkan pada nomina yang berakhiran konsonan selain frikatif, sedangkan Aees akan diimbuhkan pada nomina yang Ada morfofonologis pada perubahan bentuk kata itu. Demikian pula dengan pembentukan plural maskulin insani dalam bahasa Arab. Sufiks Aeu:na hanya akan diimbuhkan pada nomina tunggal maskulin insani saja, dan dengan syarat nomina itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat. Ketika nomina tersebut berfungsi sebagai objek, maka sufiksnya pun akan berubah, yakni Aei:na. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 Jika pada infleksi regular, kesetiaan pada stem sebaliknya pada infleksi yang iregular, stemnya mengalami perubahan . rajul-rija:. Pada contoh book menjadi books, bentuk plural books masih mempertahankan bentuk singularnya, yaitu book. Begitu pula bentuk singular muslim, tetap setia muncul pada bentuk pluralnya. Sebaliknya, untuk perubahan yang iregular, bentuk singularnya akan mengalami perubahan, baik sebagian atau seluruhnya pada bentuk plural seperti contoh mouse-mice. rajul-rija:l. Umumnya, para penutur jati dari masing-masing bahasa akan menyimpan data kebahasaan bentukbentuk iregular tersebut dalam mental leksikon mereka, khususnya yang berkait erat dengan bunyi . , makna . , dan pelafalan . Mereka akan membuat semacam generalisasi, yakni membuat analogi dengan bentuk-bentuk iregular semisal, ketika memprediksi bentuk iregular tersebut . Bentuk iregular ini memang lebih sulit diperoleh dibandingkan bentuk reguler. Mereka akan lebih mudah mengingat bentuk-bentuk ireguler yang produktif penggunaannya, atau frekuensi pemakaiannya lebih sering . Sementara itu, infleksi regular biasanya dengan mudah dilakukan penutur dengan mengikuti aturan gramatika dalam bahasa. Namun, dalam konsep para penganut connectionist, keberadaan AuruleAy dalam infleksi regular ditolak dengan tegas. Menurut mereka, masalah regular dan iregular lebih mengarah kepada kesetiaan dan ketaksetiaan kepada base atau stem. Bentuk yang regular adalah bentuk yang setia pada base, sedangkan bentuk iregular adalah bentuk yang tidak setia dengan base . Istilah setia . ini berasal dari teori optimalitas yang mengacu pada seperangkat konstraint, yang secara fonologis mensyaratkan output yang identik dengan input. Akan tetapi, dalam tulisan ilmiah ini, bukan perkara perdebatan itu yang akan dicermati, melainkan pendapat para connectionist tentang faktor faithfullness output . terhadap input . Sejauh mana pola plural mampu setia dengan pola singular sebagai stemnya, dan kalaupun banyak bentuk plural yang tidak setia dengan stemnya karena termasuk dalam broken plural, sejauh mana AupengkhianatannyaAu terhadap stem. Dengan kata lain, bagaimana pola fonologis yang muncul dalam bentuk yang iregular tersebut, sehingga bentuk itu dapat dikenali sesuai Bagian yang memang berpotensi membingungkan penutur jati bahasa dan pemelajar bahasa adalah infleksi iregular. Hal itu disebabkan potensi ketaksetiaan bentuk iregular terhadap stem-nya, khususnya pada perubahan vokal. Bukan saja bagi pemelajar bahasa, tetapi juga bagi penutur jati bahasa itu. Umumnya prediksi bentuk-bentuk iregular dilakukan dengan analogi terhadap bentuk yang relatif sama secara fonologis dan semantis, yang sudah diketahui dan disimpan dalam memori penutur atau pemelajar. Dalam contoh infleksi verbal iregular dari bahasa Inggris di bawah ini, terdapat kemiripan fonologis. sing Ae sang drink Ae drank ring Ae rang find - found wind - wound bind Ae bound Ketika dilakukan eksperimen terhadap penutur bahasa Inggris, dengan sebuah verba yang sebenarnya tidak ada dalam bahasa Inggris, semisal spling . ecara fonologis sama dengan contoh di ata. , mereka langsung menyebutkan splang sebagai bentuk past tense . Ini menunjukkan bahwa data bahasa yang memiliki kemiripan fonologis yang tersimpan dalam memori penutur mengambil peran dalam memprediksi bentuk iregular itu. Ini yang disebut oleh Even-Shimkin & Elena dengan sistem IVA (Internal Vowel Alternatio. dalam bahasa Inggris . Dengan kata lain, sebuah sistem sangat erat kaitannya dengan sebuah aturan, sekalipun bentuk itu masuk dalam kategori takberaturan. Hal ini juga ditegaskan oleh Liliana . yang menyebutkan adanya pola perubahan bunyi pada iregularitas verba yang takberaturan melihat pada karakteristik ablaut dalam bahasa Inggris. Bagaimana dengan infleksi iregular dalam bahasa Arab, khususnya pada nomina? Fenomena tersebut menarik untuk dicermati lebih dalam, bukan hanya karena faktor kemiripan fonologis semata, tetapi juga karena ketakberaturan . itu sebenarnya menyimpan keteraturan di dalamnya. Itu berarti, di dalam iregularitas itu ada pola-pola yang dapat dipetakan. Inilah yang hendak dikaji dalam riset kali ini, yakni mencoba memetakan karakteristik fonologis dan semantis dari ketakberaturan infleksi nominal bahasa Arab. Ada hal yang perlu digarisbawahi dalam infleksi nominal bahasa Arab ini, yaitu broken plural atau yang sering disebut dengan jamak taksir . amak Jamak jenis ini menjadi sering dibahas karena pola-polanya takberaturan dan sangat beragam. Selain itu, infleksi nominal yang iregular sudah pasti mengacu pada pembahasan tentang pembentukan jamak takberaturan, karena Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 infleksi nominal lainnya dalam bahasa Arab bersifat Berikut adalah contoh jamak taksir. Singular /bahs/ Ie /buhu:s/ Aoriset-risetAo /dars/ Ie /duru:s/Aopelajaran-pelajaranAo /qolam/ Ie /aqla:m/ Aopulpen-pulpenAo /yawm/ Ie /ayya:m/ Aohari-hari Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari karakteristik fonologis dan semantis pembentukan jamak taksir atau jamak takberaturan. Dari kajian ini dapat ditemukan pola dalam ketakberaturan pembentukan jamak taksir. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi penting dilakukan untuk pola-pola pembentukan jamak taksir, yang akan difokuskan pada aspek fonologis dan semantis. Ada dua hal yang harus dicermati dalam konteks ini, yaitu pola pada bentuk singular dan pola pada bentuk plural. Artinya, yang menjadi fokus perhatian, adalah polapola fonologis pada bentuk singular, yang akan menjadi pola apa pada bentuk plural. Demikian pula dengan aspek semantisnya. Unsur semantis apa yang ada pada bentuk singular sehingga menghasilkan pola tertentu pada bentuk plural. C1-nya diisi oleh konsonan /k/. C2-nya diisi oleh konsonan /t/, dan C3-nya diisi oleh konsonan /b/. Pola pada bentuk singular kata /kita:b/ adalah /fiAoa:l/ atau /C1iC2a:C3/, yang berubah menjadi pola /C1uC2uC3/ pada bentuk plural, yaitu /kutub/ Korpus data penelitian ini adalah semua ism yang ada dalam entri alif hingga khaAo dalam kamus ArabInggris yang disusun oleh Hans Wehr . , khususnya ism dengan jamak taksir. Kamus itu menjadi pilihan sumber data dalam penelitian ini, karena merupakan kamus yang biasa digunakan untuk kepentingan perkuliahan di Prodi Sastra Arab FIB UAI. Jumlah data berupa ism dari entri alif hingga khaAo adalah 728 ism. Ism yang dimaksud adalah yang memiliki jamak taksir dan bukan yang mendapat prefiks /AIA/. Riset ini sengaja tidak memasukkan ism berprefiks /AIA/ karena bentuk yang demikian memiliki karakteristik tersendiri, yang berbeda dan unik dari ism tanpa prefiks itu. Dari korpus data yang berjumlah 728, hanya 206 kata singular dan jamak taksirnya yang akan dijadikan sampel, yaitu yang berpola faAolun, fiAolun, fiAolatun, fiAoa:lun, fuAolatun, faAoalun, dan faAolatun. Berikut rinciannya. Tabel 1 Sampel data. METODE Kajian ini bersifat sederhana, tetapi memerlukan kecermatan yang tinggi untuk dapat menemukan ciri-ciri atau indikator bersama dari semua nomina yang ada dalam sumber data. Kecermatan itu diperlukan untuk menemukan pola fonologis yang ajeg dari sejumlah perubahan itu. Oleh karena itu, metode yang tepat untuk kepentingan kajian ini adalah memanfaatkan rancangan kualitatif dengan metode penelitian observatif deskriptif. Observasi yang tajam dan cermat terhadap data akan menghasilkan gambaran tentang korespondensi bentuk singular-plural yang--sebenarnya--dapat diramalkan seperti bentuk regular. Artinya, ketika misalnya disebutkan bentuk singularnya berpola faAolun atau CaCC, maka bentuk pluralnya sudah dapat diramalkan berpola CuCu:C, jika ia termasuk dalam klaster makna nomina kongkrit. Demikian seterusnya, pada pola singular lainnya. Di dalam morfologi Arab, yang harus menjadi fokus perhatian adalah akar kata yang berupa triliteral konsonan yang diberi simbol C. Sebagian besar kata dalam bahasa Arab berasal dari akar triliteral konsonan itu, sehingga disebut C1C2C3. Sebagai contoh, kata /kita:b/, berasal dari akar /k t b/. Artinya No. Pola pada bentuk Jumlah kata a eEA a eEA a eEA a eEA aEA Secara keseluruhan, ada 25 pola pada bentuk singular yang diperoleh dari 5 entri yang disebutkan di atas. 7 pola yang menjadi sampel dalam kajian ini adalah jumlah teratas yang kemunculannya ada pada setiap entri. Pada kajian ini, data berupa kata dengan pola yang telah disebutkan di atas akan dianalisis dengan beberapa tahapan, yaitu Mencermati setiap pola fonologis bentuk tunggal yang berubah menjadi pola fonologis tertentu pada bentuk pluralnya, kemudian melihat maknanya. Membuat klasifikasi kluster makna dari setiap pola yang sudah dicermati pada poin 1. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 Klaster makna yang dimaksud akan diklasifikasi berdasarkan kelas kata atau kategori gramatikal, karena istilah ism yang menjadi sampel, jika merujuk pada kategori gramatikal primer dapat berupa nomina, adjektiva, numeralia, pronomina, dan adverbia. Menganalisis setiap pola pada bentuk singular dan menjadi pola tertentu pada bentuk plural, dengan memperhatikan klaster makna. Jika kecenderungan bentuk plural mengarah pada pola tertentu secara dominan, dapat dijelaskan bahwa pola itu yang biasanya berlaku. Jika terdapat perbedaan pola dari sejumlah pola yang dominan, maka langkah yang dilakukan adalah melihat kecenderungan makna dari pola Demikian seterusnya. Contoh kata A eaI Ia a aOIA Aae Ia aaOA Aa e Ia aa OA Drill Plosif Frikatif No. Plosif Tabel 2 menjelaskan urutan konsonan yang menyusun kata yang terdiri dari C1C2C3. Hasil pengamatan pada korpus data yang ada ditemukan mengarah pada susunan yang demikian. Pada nomor 1, kata yang terdiri dari bunyi frikatif atau bunyi geseran yang tak bersuara, diikuti oleh bunyi plosif takbersuara merupakan kata yang paling banyak dijumpai pada perubahan pola faAolun menjadi pola fuAou:lun. Artinya, apabila menemukan kata dengan urutan konsonan seperti pada tabel, dapat diramalkan bahwa bentuk pluralnya akan berpola fuAou:lun. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola FaAolun pada Singular Seperti tertulis pada Tabel 1, ada 78 ism yang berpola faAolun dalam sampel data, yang diambil dari entri alif hingga khaAo dalam kamus Arab-Inggris Hans Wehr . Pola faAolun ini memiliki delapan pola pada bentuk pluralnya, yaitu aEA aOEA a aEA Aa eAaEA aEA aEIA a aEA A a eAaEA /faAoa:l/ : 4 kata /fuAou:l/ : 35 kata /fiAoa:l/ : 3 kata /afAoa:l/ : 32 kata /faAoul/ : 1 kata /fiAola:n/ : 1 kata /faAoa:l/ : 1 kata /afAoul/ : 1 kata Dari delapan pola tersebut, pola A aOEA/fuAou:l/ . dan A a eAaEA/afAoa:l/ . menempati angka tertinggi pada bentuk plural. Selebihnya, masingmasing pola hanya ditemukan kurang dari lima kata. Jika dicermati aspek fonologisnya, didapati kecenderungan bahwa pola faAolun pada bentuk singular akan berubah menjadi fuAou:lun pada bentuk plural apabila memenuhi consonant order sebagai Tabel 2. Consonant order pola faAolun Contoh kata Plosif Frikatif AaIIa a aOIA voiceless voiceless Lateral A a eE Ia aEaOA Drill A eaA Ia a aOA Plosif Afrikat Aa Ia aaOA Frikatif AaNe Ia a aNOA No. Adapun untuk pola faAolun yang berubah menjadi pola afAoa:lun pada pluralnya, diperoleh temuan yang memperlihatkan konsistensi secara menyeluruh pada data dari entri alif hingga khaAo ini. Apabila C2 pada bentuk singular diisi oleh konsonan /waw/ atau /ya/, semua kata dalam data menunjukkan bentuk pluralnya berpola afAoa:lun, kecuali 1 kata, yaitu A a eOA /tsawb/ yang berubah menjadi /tsiya:b/. Dengan kata lain, satu kata itu tidak mengikuti pola afAoa:lun, tetapi menjadi fiAoa:lun. Akan tetapi, untuk C2 yang diisi oleh konsonan /ya/, ditemukan 1 bentuk plural memiliki pola lain yaitu fuAou:lun. Fenomena ini sejalan dengan apa yang telah dijelaskan oleh Pinker pada subbab sebelumnya tentang keteraturan di dalam ketakberaturan, walaupun tetap saja, selalu ada pengecualian. Enam pola lainnya pada bentuk plural, tidak memperlihatkan jumlah kata yang memadai untuk digeneralisir. Jika dilihat dari aspek semantis, secara umum belum ditemukan kecenderungan yang mengarah pada satu klaster makna yang identik. Semua kata yang berpola faAolun pada bentuk singular, baik yang berubah menjadi pola fuAou:lun maupun yang berubah menjadi afAoa:lun pada bentuk plural, menunjukkan makna yang beragam. Ada yang menunjukkan bilangan, nomina abstrak, anggota badan, perlengkapan, nomina verbal dan kualitas, serta benda angkasa. Pola FiAolun pada Singular Kami menemukan 45 kata singular yang berpola fiAolun dari korpus data alif hingga khaAo. Ada beberapa pola pada bentuk pluralnya, yaitu /afAoa:lun/ : 33 kata Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 /fuAou:lun/ : 6 kata /fuAola:n/ : 1 kata /afAoa:lun dan fuAou:lun/ : 5 kata Consonant order pada bentuk plural dengan pola /afAoa:lun/ memperlihatkan keragaman pola fonologisnya, sehingga tidak dapat ditarik Sebagian besar data justru menjelaskan bahwa pola fiAolun pada bentuk singular akan dapat dengan mudah diprediksi berubah menjadi pola afAoa:lun pada bentuk pluralnya. Perhatikan contoh berikut! Singular A a eA/tirbun/ A eA/jizAoun/ A eIA/jizmun/ A eIA/jinsun/ AOeEA/ji:lun/ Aae aA/atra:b/ Ae aA/ajza:Ao/ Ae IA/ajza:m/ Ae IA/ajna:s/ Ae OEA/ajya:l/ Yang menjadi perhatian justru pada bentuk plural dengan pola fuAou:lun. Enam kata yang memperlihatkan bentuk plural dengan pola itu, menunjukkan bahwa C2-nya diisi oleh konsonan Berikut adalah contohnya. /khasm/ Ie /khatb/ Ie /haql/ Ie /khusu:m/ /khutu:b/ /huqu:l/ Ini dapat menjadi asumsi bahwa konsonan velar yang mengisi C2 pada bentuk singular akan menjadi indikator untuk mengubah bentuk pluralnya mengikuti pola fuAou:lun. Pola FiAolatun pada Singular Ada 28 kata yang berpola fiAolatun pada bentuk singular dalam korpus data. 27 kata memperlihatkan pola fiAoa:l pada bentuk pluralnya, sedangkan satu kata lain, berpola faAoa:la Fenomena ini menunjukkan bahwa pola fiAolatun dapat diprediksi polanya pada bentuk plural, walaupun memang belum dapat dijadikan kesimpulan akhir, karena jumlah data yang belum menyeluruh, meliputi semua entri dalam kamus. Akan tetapi, ini dapat dijadikan bahan untuk kajian selanjutnya. Singular A ae aINA/khidmah/ Aa eaA/khirbah/ Aa ea/khirfah/ Aa eECaA/khilqah/ Plural Aa IA/khidam/ Aa A/khirab/ A a AA/khiraf/ Aa ECA/khilaq/ Pola FuAolatun pada singular Bentuk singular yang berpola fuAolatun ditemukan sebanyak 32 kata. Data memperlihatkan bahwa semua kata yang berpola itu, berubah menjadi fuAoalun pada bentuk pluralnya. Ini dapat dijadikan asumsi awal, bahwa ism singular yang berpola fuAolatun, akan mudah diprediksi bentuk pluralnya, yaitu berpola fuAoa:lun. Singular A a eN aIA/tuhmah/ A a eaA/turbah/ Aae a/tuhfah/ AA a A a eA/jurAoah/ A a eA aA/jufrah/ A a eI aA/junhah/ A a eIEaA/jumlah/ Plural A a aNIA/tuham/ A a aA/turab/ A a a/tuhaf/ A a aA/juraAo/ A a/jufar/ A aOaA/junah/ A a aIEA/jumal/ Pola FiAoa:lun pada Singular Pola fiAoa:lun pada bentuk singular memperlihatkan keragaman pola pada bentuk pluralnya. Dari 23 kata yang masuk dalam kategori ini, ditemukan 8 pola pada bentuk pluralnya, yaitu /faAoa:Aoil/ /afAoa:l/ /fuAoul/ /fuAola:n/ /afAoilah/ /fuAoAoa:l/ /faAoi:l/ /afAoilah/ Jika dilihat consonant ordernya, belum dapat dirumuskan untuk mengarah pada sebuah pola yang Begitu pula jika dicermati dari keunikan pada C2nya yang berupa konsonan tertentu. Artinya, aspek fonologis pada bentuk singular dengan pola ini, masih bersifat iregular. Akan tetapi, sangat dimungkinkan jika jumlah data ditambah hingga entri akhir /ya/, kecenderungan pola tersebut akan KESIMPULAN Jamak taksir dalam bahasa Arab tergolong dalam kategori perubahan inflektif yang iregular, karena tidak memiliki kaidah atau aturan yang berlaku umum untuk semua kata yang semisal. Namun, ketiadaan kaidah bukan berarti tidak memiliki aturan sama sekali, karena pada hakikatnya dalam setiap ketidakberaturan, ada semacam pola yang teratur, yang kehadirannya memang kurang begitu Pola-pola ketakberaturan itu memang lebih detail, lebih Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. September 2019 spesifik, dan lebih membutuhkan kecermatan untuk Namun, kenyataan itu menjadi bukti bahwa apa yang dipaparkan oleh HuangPinker . itu benar. Dari 5 pola pada bentuk singular yang menjadi fokus perhatian dalam kajian ini, dapat dijelaskan bahwa aspek fonologis memiliki peran besar untuk menentukan pola pada bentuk singular. Secara umum, lima pola pada bentuk singular akan menjadi pola tertentu pada bentuk pluralnya, seperti berikut FaAolun cenderung berubah menjadi pola afAoa:lun dan fuAou:lun dengan syarat consonant order yang spesial FiAolun cenderung berubah menjadi pola afAoa:lun, dan berubah menjadi fuAou:lun jika C2 diisi oleh konsonan velarisasi FiAolatun cenderung berubah menjadi pola fiAoa:lun FuAolatun cenderung berubah menjadi pola fuAoa:lun FiAoa:lun kecenderungan polanya. Adapun dari aspek makna, data yang ada dalam kajian ini masih belum memberikan konstribusi yang signifikan untuk turut merumuskan pola pada bentuk plural. Kajian ini akan menjadi komprehensif, apabila korpus data meliputi semua entri dalam kamus, sehingga jumlah data menjadi lebih besar. Dengan demikian, rumusan pola akan lebih representatif. Selain itu, kajian ini dapat dikembangkan dengan membuat eksperimen pada responden, baik pada penutur jati, maupun pada peminat bahasa Arab. REFERENSI