PENGUATAN KARAKTER BELA NEGARA GENERASI MUDA MELALUI WORKSHOP FILM PENDEK Firdaus Noor1. Nuril Ashivah Misbah2. Fajar Edyana3 1,2,3 Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta firdausnoor@upnvj. id, 2nurilashivahmisbah@upnvj. id, 3fajar. edyana@upnvj. ABSTRAK Bagaimana tepatnya nasionalisme dapat memiliki pengaruh kuat dalam film serta mencerminkan atau mengungkap suatu "esensi" kebangsaan dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkolaborasi dalam produksi film pendek yang mengangkat nilai-nilai bela negara adalah tujuan yang ingin dicapai dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Melalui metode pendampingan dan mentoring berupa praktik kolaboratif, mitra sebagai generasi muda dari latar belakang seni teater diberikan pengetahuan dan keterampilan melalui tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, implementasi, dan refleksi guna menerjemahkan identitas kebangsaan dalam bentuk film pendek. Hasil yang didapat adalah workshop produksi film pendek dinilai berhasil sebagai penggerak kreativitas kepiawaian aktor dalam seni akting ke medium film serta menjadi momen evaluatif untuk menumbuhkan kesadaran terhadap penguatan karakter Bela Negara melalui medium film pendek. Kata Kunci: Karakter. Nasionalisme. Teater. Film Pendek ABSTRACT Exactly how nationalism can have a strong influence in films and reflect or reveal a national "essence" in increasing knowledge, skills, and opportunities for the younger generation to collaborate in the production of short films that highlight the values of defending the country are the goals to be achieved in this community service program (PKM). Through the mentoring method in the form of collaborative practice, partners as young people from a theater arts background are given knowledge and skills through three stages, namely the planning, implementation, and reflection stages, to translate national identity in short films. The results were that the short film production workshop was considered successful in driving the creativity of actors' sk Karakter. Nasionalisme. Teater. Film Pendek ills in the art of acting into the medium of film and being an evaluative moment to raise awareness of strengthening the character of National Defense through the medium of short films. Keywords: Character. Nationalism. Theatre. Short Film Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek PENDAHULUAN Isu tentang penguatan karakter makin hangat diperbincangkan, apalagi ketika disandingkan dengan program pemerintah yang memperbincangkan gerakan revolusi Di antara aspek yang akan dibangun adalah tumbuhnya kesadaran nilai Nasionalisme. Bagaimana tepatnya Nasionalisme dapat memiliki pengaruh kuat dalam film serta mencerminkan atau mengungkap suatu AoesensiAo kebangsaan adalah unsur-unsur yang akan diberikan dalam kegiatan PKM ini. Selain itu, dampak modernisasi dan globalisasi telah menjadi salah satu faktor penurunan minat generasi muda terhadap seni, budaya, dan pertahanan nilai-nilai lokal. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan modernisasi telah menciptakan tantangan baru dalam melestarikan semangat kebangsaan di dunia pendidikan. Oleh karena itu, dari hasil riset yang telah dilakukan, media merupakan instrumen globalisasi yang nyata untuk membangun karakter khususnya generasi muda (Noor et al. , 2. Generasi muda memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mengikuti budaya barat yang belum tentu sejalan dengan Budaya Timur, apalagi dengan budaya Indonesia. Fenomena ini menjadi sorotan penting, mengingat karakter bela negara memiliki peran vital dalam pembentukan identitas dan dan pelestarian warisan budaya bangsa. Bela Negara melibatkan pemikiran, perilaku, dan tindakan setiap warga negara untuk membela bangsa dan negara (Asley, 1. Pandang lain menekankan bahwa bela negara adalah sikap warga negara yang bertujuan mempertahankan negara saat menghadapi ancaman (Erlington, 1. Ini berarti bahwa Bela Negara mencerminkan nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air yang penting bagi setiap warga negara guna memperkuat negara mereka (Mc Kinsey, 1. Dalam konteks penguatan karakter bangsa, generasi muda memegang peranan penting sebagai penerus cita-cita dan nilai-nilai bangsa. Tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia dalam membangun karakter Bela negara saat ini semakin kompleks. Maka perlu adanya upaya yang sistematis dan metodologis untuk memperkuat karakter bela negara bagi generasi muda. Workshop produksi film pendek dianggap sebagai metode yang efektif untuk membangun karakter Bela negara. Kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang fokus pada penguatan karakter bela negara generasi muda di sekolah akting PROSA. Kalibata Jakarta Selatan melalui workshop produksi film pendek. PROSA atau Project Selasa didirikan pada 9 Januari 2019 oleh Indra Pacique, seorang aktor dan presenter Indonesia. PROSA yang berarti Proyek Selasa merupakan sebuah komunitas aktor nirlaba yang menyelenggarakan kelas-kelas akting dengan misi memberikan pemberdayaan, inspirasi, dan pendidikan kepada siswa melalui sekolah nirlaba dengan tujuan menyediakan pendidikan berkualitas internasional secara gratis untuk semua, di mana pun berada. Prosa sebagai sebuah komunitas generasi muda adalah pilar kekuatan masa depan suatu bangsa, dan apabila semangat bela negara menurun, hal tersebut dapat menimbulkan hambatan pada keharmonisan bangsa. Sifat tekstual dari film memungkinkan status kebangsaan tercermin. Perbincangan film dalam pengertian media maupun budaya mendukung generasi muda agar aktif berkreasi. Film dapat dijadikan sarana komunikasi massa atau ajang pertarungan ideologis dalam membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya nilai nasionalisme. Dengan memahami karakter bela negara ditunjang dengan pendekatan intertektualitas dalam menggabungkan seni akting dan film, diharapkan akan menjadi pendekatan dalam menerjemahkan realitas menjadi proses budaya yang ideologis. Bagaimana kiranya konsep nasionalisme direpresentasikan? dan bagaimana identitas bela negara dapat memperjelas pemahaman dan apresiasi terhadap film itu sendiri? Masalahmasalah ini akan dijawab melalui program kegiatan pengabdian masyarakat. Teater identik dengan acting. Acting . berasal dari kata to act yang berarti beraksi (El Saptatria, 2. Acting dalam konteks ini adalah perpaduan antara atraksi fisikal . , intelektual . nalisis karakter dan naska. , dan spiritual . ransformasi Ini berarti seni teater adalah mengembangkan kemampuan berekspresi, menganalisis naskah, dan mentransformasi diri ke dalam karakter yang dimainkan. Pengalihwahanaan teater dalam bentuk film pendek membantu mengaplikasi kepekaan rasa dengan cara mengangkat lebih eksplisit aneka ragam emosi dan kualitas rasawi di balik aneka perbedaan manusia, benda-benda, dan peristiwa. Bahkan, dapat membawa pada nilai-nilai sublink, sebab film yang bermutu biasanya berhasil merumuskan perasaan atau situasi-situasi sebenarnya yang tak terumuskan dan tak tertuliskan. Dengan itu kepekaan terhadap Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek karakter bela negara pertajam, spektrum nasionalisme diperkaya dan diperdalam. Dengan itu pula solidaritas atau belarasa antar manusia dipupuk dan disuburkan. Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan tim pengabdian (Noor et al. , 2. (Noor, 2. , serta berdasarkan analisis situasi dan kondisi terkini mitra didapati kurangnya kesadaran tentang nilai-nilai nasionalisme sebagai penggerak kreativitas dalam menerjemahkan identitas kebangsaan ke dalam bentuk film menjadi persoalan prioritas yang disepakati untuk diselesaikan selama kegiatan PKM dilaksanakan. Kolaborasi dengan mitra dilakukan untuk memastikan bahwa persoalan yang diprioritaskan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan demikian, persoalan prioritas yang dipilih bersifat spesifik, konkret dan relevan dengan kebutuhan generasi muda di PROSA. Bentuk peran pendidikan tinggi melalui kegiatan PKM ini dalam mendinamisasi masyarakat adalah turut terlibat aktif dalam memperkuat nilai-nilai bela negara pada generasi muda. PKM ini diharapkan dapat menjadi jawaban atas permasalahan mitra dalam menumbuhkan kesadaran nasionalisme dalam memperkuat karakter Bela Negara generasi muda melalui medium film pendek sehingga capaian PKM ini turut berkontribusi membangun manusia Indonesia yang utuh dan memiliki peran vital dalam pembentukan identitas dan pelestarian warisan budaya METODE Prosedur kegiatan PKM bertajuk Penguatan Karakter Bela Negara melalui workshop film pendek ini dipusatkan di sekolah akting Prosa. Kalibata Jakarta Selatan. Dua puluh siswa Prosa terlibat sebagai peserta, serta tiga mentor dari kalangan akademisi dan tiga mahasiswa bertindak sebagai fasilitator yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan logistik pelaksanaan PKM. Kegiatan PKM dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi dan tahap refleksi. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Tahap perencanaan meliputi observasi, penulisan skenario, dan pengenalan media aktor dalam hal ini lewat cara mengamati secara langsung proses akting di PROSA, setidaknya tiga kali. sesi diskusi bersama yang intensif terkait persoalan mitra dalam menguatkan karakter bela negara termasuk perbincangan berbagai aspek acting for camera dan metode mewujudkannya dalam film pendek. Tahap implementasi kegiatan PKM ini dilakukan melalui workshop pemberian materi tiga proses kreatif yang berkesinambungan, yaitu: Reading. Rehearsal, dan Action. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan diminta mempraktikan produksi film Kegiatan PKM dilakukan di studi Prosa Acting School. Kalibata Jakarta Selatan Tahap refleksi dilakukan setelah film pendek dibuat dan dilakukan tindak lanjut berupa pemutaran film dan diskusi bersama. Data berupa wawancara peserta didapat untuk melakukan proses evaluasi atas keberhasilan kegiatan PKM. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriftif kualitatif dengan cara menelaah, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi dan situasi yang terjadi selama kegiatan PKM. Teknik ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap yang relevan dengan isu yang ingin dicari pemecahan Dengan adanya tahap refleksi dari proses evaluasi selepas dijalankannya rangkaian kegiatan PKM, diharapkan tim dapat mengetahui respon dari mitra dan peserta, yang selanjutnya dapat merefleksikan perbaikan yang berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Pada tahap awal kegiatan PKM ini, tim dosen melakukan pengamatan lapangan dan diskusi dengan Indra Pacique selaku pendiri Prosa guna mengumpulkan informasi awal yang berkaitan dengan persoalan mitra dalam hal menerjemahkan karakter beridentitas bela negara dari seni akting ke medium film. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek Data lapangan dari tahap perencanaan mengindikasikan kurangnya kesadaran tentang nilai-nilai nasionalisme sebagai penggerak kreativitas dalam menerjemahkan identitas kebangsaan ke dalam bentuk film. Hasil observasi inilah yang melandasi tim PKM untuk memberikan materi workshop film pendek dengan peran karakter berbasis Selanjutnya tim PKM melakukan pendataan dan pengelompokkan peserta workshop, sebanyak sepuluh peserta berasal dari siswa Batch 21 Prosa Acting School dan lima peserta berasal dari alumni Prosa yang dibagi menjadi 3 kelompok produksi film Gambar 1. Hasil observasi berupa pendataan dan pengelompokan peserta kegiatan PKM dari Prosa Acting School (Foto oleh: Lend. Workshop dimulai dengan membekali peserta melalui proses penulisan skenario sebagai tahap awal dalam pembuatan film pendek dengan orkestrasi karakter bela negara yang disarikan dari hasil riset penulis. Selain itu, tim PKM juga memberikan konstruksi dramatik untuk penguatan karakter Bela negara yang dibangun lewat adegan dengan pendekatan dialog, dimana keterikatan peran karakter pada jalan cerita merupakan tujuan Tahap penulisan skenario ini merupakan tahap awal dalam upaya merangsang tumbuhnya motivasi peserta untuk menguatkan karakter bela negara. Bentuk penulisan skenario ditetapkan dengan menggunakan kategori Garis Lurus yang menitikberatkan substansi, yakni untuk menunjukkan bagaimana sebuah karakter bisa dibentuk oleh skenario tersebut (Ajidarma, 2000: . Penekanan terhadap suatu plot yang merupakan garis lurus dan tunggal nada, di mana penonton hanya mendapatkan pikiran-pikiran berdasarkan percakapan tokoh-tokohnya, dari awal sampai akhir, mengandalkan dialog yang menjadi topik pembicaraan yaitu semangat nasionalisme, dan terakhir menetapkan setting lokasi hanya pada sebuah interior ruang di studio Prosa. Pertanyaan-pertanyaan Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 muncul terkait alur cerita yang mengundang diskusi antara mentor dan peserta, memantik gagasan tentang alur cerita menjadi percakapan lima orang mahasiswa yang beradu pikiranpikiran, jalan cerita dibuat naik-turun bersama dengan pertentangan dan persamaan dalam pikiran-pikiran itu, berikut dengan emosi yang mengiringinya. Dengan penjelasan materi yang disampaikan tentang penulisan skenario, cara bertutur dalam skenario memantik pada kriteria karakter yang menjelma menjadi penggerak cerita yang menyebabkan terciptanya tensi dramatik penguatan karakter bela negara dalam setiap tahapan peristiwa. Hasilnya, tokoh cerita ditetapkan menjadi lima karakter, yaitu: Miki: Ketua panitia yang bijaksana. Pengamat. Demokratis. Berusaha untuk mengambil keputusan secara musyawarah meskipun memiliki ide yang baik. Gendis: Pecinta K-Pop, anak gaul yang penuh ide dan semangat, tegas dan cinta Iwel: Anak pecinta alam yang tampilannya terlihat cuek. Keras kepala, kritis dan sangat mencintai budaya Indonesia. Terkadang suka menimbulkan kontra dengan Candrina: Si paling hobi dandan terkadang nyinyir, labil dan suka mencari Tenggo: Baik, menyukai Gendis, temperamental tapi humoris, penengah. Dari hasil penulisan skenario, tiga kelompok yang masing-masing berisi lima orang peserta dari Prosa akan memerankan karakter tersebut. Film pendek berdurasi 5 menit ini sepenuhnya adalah adegan omong-omong karena justru disini yang memberikan letak sumbangan adalah kekuatan dialognya yang menembus sekumpulan sifat yang dimiliki pemeran dalam menumbuhkan kesadaran nilai-nilai nasionalisme. Nasionalisme sebagai penguatan karakter bela negara dicerminkan dalam film ini melalui pengadeganan sikap untuk saling menghormati, menghargai, dan mencintai budaya Indonesia. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek Gambar 2. Mentor menyajikan materi penulisan skenario dalam workshop film pendek (Foto oleh: Lend. Implementasi Tahap implementasi dimulai dengan pemberian materi tentang bagaimana menghubungkan akting dengan kamera. Termasuk berbagi pengetahuan tentang set lokasi shooting yang merupakan pentas beraksi yang dibatasi oleh ruang atau tempat di mana aksi si aktor terhadap ruang tersebut adalah aspek artistik dari pertunjukkan yang akan Pengenalan beberapa aturan umum yang berlaku yang berkenaan dengan pergerakan (Blokin. Penekanan bahwa seorang aktor yang berakting di depan kamera, harus tetap dalam keadaan sadar dengan teknik-teknik yang dimainkannya, serta lebih menonjolkan gestur . dan suara . Upaya ini dilakukan guna menumbukan kesadaran tentang media aktor yang dibatasi oleh batas mekanis dalam pengambilan scene dan shot secara tidak berurutan . umping set-scene-sho. Ini berarti aktor harus ingat apa yang harus dilakukannya agar aksinya cocok dan dapat disambung . atch-cu. Selain itu, materi pengenalan tentang unsur visual yang harus diterjemahkan aktor ke dalam film. Ini berarti, aktor film harus menghindari gerakan yang tidak terduga, yang akan merusak komposisi gambar atau keluar frame . ut fram. Hal ini menyangkut Pose/Sikap Tubuh. Gesture/Gerakan Tubuh. Blocking Movement. Expression/Ekspresi. Eyes Contact. Frame Awareness/Kesadaran Frame. Selain itu penulis juga memberikan contoh kasus dua film pendek yang pernah dibuat. Pertama, penulis memutar film pendek The Absence . Kedua. Penulis memutar film pendek Kawrat . Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 3. Mentor menyajikan materi Acting for Camera dalam workshop film pendek (Foto oleh: Lend. Selanjutnya Kegiatan PKM pada tahap implementasi dilanjutkan dengan pendekatan praktik dan kolaboratif melalui tiga proses kreatif yang berkesinambungan, yaitu Reading. Rehearsal dan Action. Reading adalah praktik membaca skenario bersama-sama sesuai porsi perannya masing-masing yang dibimbing oleh mentor. Tahapan Reading adalah untuk mengetahui durasi dialog dan gambaran pemeranan sesuai dengan dengan apa yang harus dilakukan dalam film nanti. Reading dimaksudkan untuk memperkecil hambatan yang mungkin muncul selama shooting berlangsung. Gambar 4. Praktik Reading atau membaca skenario AuBTSAy sesuai karakter yang diperankan (Foto oleh: Lend. Setelah melakukan reading, para peserta dari masing-masing kelompok melakukan Rehearsal atau latihan di bawah bimbingan mentor. Dalam latihan, tata gerak . , mimik dan bahasa tubuh diarahkan sesuai keinginan sutradara, termasuk membangun kepercayaan diri dan mood pemain. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek Gambar 5. Rehearsal atau latihan sebelum shooting film pendek AuBTSAy (Foto oleh: Lend. Setelah selesai latihan, pemain melakukan shooting. Semua unsur pemeranan dan segala hal tentang akting dianggap sudah dikuasai oleh peserta sebagai tanggung jawab profesi sebagai seorang aktor yang berintegritas dalam memerankan karakternya di depan Praktik produksi atau shooting film pendek dilakukan sesuai urutan masing-masing Gambar 6. Shooting atau produksi film pendek AuBTSAy (Foto oleh: Lend. Di akhir workshop, hasil dari film pendek dari kelompok tiga yang telah diproduksi diputar dan disaksikan bersama. Tim PKM membuka sesi diskusi yang melibatkan mitra dan peserta workshop untuk mengevaluasi keberhasilan karya film pendek dalam penguatan karakter Bela negara. Selain itu. Tim PKM mengumpulkan umpan balik berupa data wawancara dari peserta workshop dalam upaya merefleksikan keberlanjutan kegiatan PKM. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Refleksi Seusai kegiatan PKM, tim pengabdian mengundang perwakilan peserta dari setiap kelompok untuk diwawancarai. Andra. Peserta wekshop dari Prosa, menceritakan pengalamannya tentang penguatan karakter bela negara melalui workshop film pendek. Menurut saya keberhasilan workshop ini kalau boleh diberi nilai 80 dari 100. Saya jadi memahami pemahaman karakter bela negara. Hal tersebut dikarenakan pada workshop diberikan pembahasan terkait nasionalisme, cinta tanah air, dan juga pentingnya mengedepankan kebudayaan yang ada di Indonesia. Cerita yang dibangun sebenarnya cukup sederhana, yaitu diskusi beberapa anak muda yang ingin menggunakan budaya K-pop untuk pementasan tetapi tetap mengedepankan rasa nasionalisme melalui cara memadukannya dengan lagu daerah. (Andra, 2. Selain itu. Andra merasa antusias dengan program PKM ini sehingga kolaborasi akting dengan kamera bisa terbangun. Karakter saya tuh namanya Gendis, seorang penyuka K-pop dengan kepribadian yang percaya diri. Saya berusaha memerankannya dengan sudut pandang orang yang periang dan begitu excited dengan K-pop. Saya bisa mengambil sudut pandang tersebut dikarenakan kebetulan saya mempunyai jasa war tiket konser Kpop sehingga saya bisa memahami karakter orang-orang yang menyukai K-pop dan mengetahui beberapa artisnya. Pada sesi wawancara dengan perwakilan kelompok lain, yaitu Ghifari dan Raja, menyatakan sangat menikmati proses kegiatan PKM karena mentor menyampaikan materi Bela Negara dan Akting dengan kamera secara interaktif, yaitu mengajak peserta untuk kolaboratif dan mempraktikkan langsung pengetahuan yang baru didapatkan. Saya sangat berhasil memahami. Selain dari materi workshop, saya juga memahaminya melalui produksi film pendek. Pemahaman yang saya terima yaitu salah satu cara menunjukkan karakter bela negara itu bisa dengan menampilkan kebudayaan daerah-daerah yang ada di Indonesia (Raja, personal communication. Menurut saya berhasil sekali. Secara materi workshop yang diberikan banyak memberikan pemahaman terhadap karakter bela negara, materi terkait cara pembuatan filmnya pun sangat menarik, dan script yang ada pun begitu menggambarkan rasa nasionalisme (Ghifari, personal communication, 2. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek Untuk memperkuat data yang diperoleh dari observasi dan wawancara dengan peserta PKM, tim pengabdian juga melakukan wawancara kepada direktur dan pendiri Prosa Acting School yang turut membantu penyelenggaraan kegiatan PKM ini. Indra Pacique menyampaikan rasa senangnya atas terselenggaranya kegiatan ini, menurutnya kepiawaian aktor yang tergabung dalam Prosa Acting School tidak akan bisa teruji jika tidak ada tim PKM UPNVJ yang memfaslitasi produksi ini. Lebih jauh lagi. Indra menginginkan agar diadakan lagi kegiatan serupa di masa mendatang. Semoga kerjasama ini tidak hanya terselenggara satu kali tetapi bisa terus berkelanjutan (I. Pacique, personal communication, 2. Berdasarkan data wawancara, hasilnya mengindikasikan bahwa tim pelaksana pengabdian telah berhasil memberikan penguatan karakter bela negara melalui workshor film pendek di Prosa Acting School. Dengan menyasar identitas nilai-nilai nasionalisme budaya berbasis cinta tanah air yang disematkan pada setiap tahapan kegiatan PKM, tim PKM UPN Veteran Jakarta telah membantu mitra Prosa Acting School, untuk dapat andil dalam penguatan karakter dalam seni akting ke medium film sebagai fokus dimensinya. Dari sejumlah peserta yang mengikuti proses kegiatan PKM dari awal hingga akhir, sebagian besar menunjukkan semangat kejuangan untuk berani memerankan karakter, menjadi agen perubahan dalam memperkuat semangat nasionalisme, dan peduli pada proses kolaboratif untuk mengatasi masalah akting, bukan dihindari sebagai tantangan yang harus dihadapi dari berbagai sudut pandang kamera dalam upaya membangun dan memperkuat kesadaran identitas nasional. Dengan demikian, kegiatan PKM ini dianggap sebagai ekspresi dari kesadaran akan negara yang menyatakan bahwa nasionalisme adalah konsep kebangsaan yang mencakup pemahaman akan cinta tanah air dan upaya untuk menjaga kehormatan bangsa. Penguatan karakter Bela Negara pada Peserta PKM di Prosa Acting School menjadi sebuah ikhtiar untuk memecahkan isu substansial dalam menanamkan nilai-nilai karakter bangsa pada generasi muda serta mengembangkan nilai-nilai luhur sebagai inti dari identitas bangsa. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Program pengabdian ini mampu mencerminkan kumpulan sifat individu yang menunjukkan kebaikan dan kedewasaan moral untuk menjaga kehormatan bangsa yang direpresentasikan melalui film pendek berjudul BTS (Bicara tanpa Selisi. KESIMPULAN Penguatan karakter Bela negara bagi generasi muda melalui workshop film pendek yang diselenggarakan di Prosa Acting School. Kalibata. Jakarta Selatan dinilai berhasil sebagai penggerak kreativitas kepiawaian aktor dalam seni akting ke medium film serta menjadi momen solutif pemecahan isu substansial dalam menguatkan semangat nasionalisme pada generasi muda. Pendekatan praktik dan kolaboratif dipilih sebagai metode dalam pelaksanaan kegiatan PKM. Diawali dari tahap perencanaan, implementasi, dan diakhiri dengan tahap refleksi. Dengan demikian, manfaat yang ingin dicapai dalam program PKM ini dapat diwujudkan sebagai dalam merepresentasikan "esensi" kebangsaan guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkolaborasi dalam produksi film pendek berjudul BTS yang mengangkat nilai-nilai bela Dalam konteks penguatan, maka cara bertutur melalui film pendek tidak lagi sekadar komunikatif, tidak sekadar bisa dimengerti, melainkan telah menjadi skenario ekspresif, dari keseluruhan arsitektur akting dan kamera menyatu dalam medium audio visual yang mengandung muatan-muatan literer, sehingga mampu memberikan pengalaman literer pada karakternya. Ini berarti, pengalaman literer menularkan sebuah pengalaman emosional dan intelektual yang dialami ketika membaca sebuah karya. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Firdaus Noor, dkk Penguatan Karakter Bela Negara Generasi Muda Melalui Workshop Film Pendek DAFTAR PUSTAKA