Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital DOI: https://doi. org/10. 32509/dinamika. Gabriel Henda Capistrano*. Windri Saifudin Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur Jl. Rungkut Madya No. Gn. Anyar. Kec. Gn. Anyar. Kota Surabaya. Jawa Timur 60294 *Email Korespondensi: elcapistrano08@gmail. Abstract AeThis study aims to understand the experiences of journalists at Radio Mercury 96 FM Surabaya in maintaining news accuracy in the digital era. This study employed a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving reporters, editorial staff, and the editor-in-chief. Data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that journalists at Radio Mercury 96 FM Surabaya face changes in newsroom workflows, news production processes, and editorial challenges in maintaining news accuracy in the digital era. Media convergence and limited human resources have led to simplified editorial workflows and changes in news verification practices. The novelty of this study lies in its finding that responsibility for maintaining accuracy has shifted from a collective editorial mechanism to the individual responsibility of journalists. This study contributes to the development of digital journalism and gatekeeping studies, particularly regarding how radio journalists maintain news accuracy in the digital era. Keywords: Radio Journalism. Digital Journalism. News Accuracy Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi berita di era digital daat ini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap reporter, tim redaksi, dan pimpinan redaksi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dihadapkan pada perubahan sistem kerja redaksional, proses produksi berita, serta tantangan redaksional radio dalam menjaga akurasi berita di era digital. Konvergensi media dan keterbatasan sumber daya manusia mendorong penyederhanaan alur kerja redaksi serta pergeseran mekanisme verifikasi berita. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan mengenai pergeseran tanggung jawab menjaga akurasi berita dari mekanisme redaksional yang bersifat kolektif menjadi tanggung jawab individual jurnalis. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian jurnalisme digital dan gatekeeping, khususnya pada praktik jurnalistik media radio dalam menjaga akurasi berita di era digital. Kata Kunci: Jurnalisme Radio. Jurnalisme Digital. Akurasi Berita Pendahuluan Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan signifikan dalam praktik jurnalistik, terkhusus pada media radio sebagai media konvensional berbasis siaran audio. era digital, jurnalisme tidak lagi dimaknai sebagai aktivitas Aumelaporkan peristiwa yang telah Submitted: January 2026. Accepted: April 2026. Published: June 2026 Licensed Under A Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 terjadiAy, melainkan bergeser menjadi Aumelaporkan peristiwa yang sedang terjadiAy secara real Pergeseran ini terjadi seiring dengan intervensi internet dan media online yang memungkinkan distribusi informasi berlangsung cepat, luas, dan tanpa batas ruang serta waktu (Haryanto dalam Waluyo, 2018. Konsekuensinya, media dituntut untuk mengutamakan kecepatan penyampaian informasi agar dapat memenuhi kebutuhan khalayak akan informasi yang cepat. Media digital, khususnya media online dan media sosial, menawarkan keunggulan immediacy atau kesegaran informasi, di mana berita dapat dipublikasikan dalam hitungan menit bahkan detik (Ward dalam Nurfadila, 2. Berbeda dengan media konvensional seperti radio dan televisi yang memiliki keterbatasan jadwal siaran dan sering kali harus menginterupsi program melalui skema breaking news. Transformasi ini turut melahirkan bentuk baru jurnalisme yang tidak lagi terikat pada format tradisional, melainkan hadir dalam beragam bentuk konten teks, gambar, video, dan audiovisual yang tersebar melalui berbagai platform Perubahan lanskap media tersebut berjalan beriringan dengan pergeseran preferensi masyarakat dalam mencari informasi. Masyarakat tidak lagi menjadikan media konvensional sebagai rujukan utama, melainkan beralih ke media digital yang dinilai lebih cepat dan mudah diakses melalui perangkat digital. Fenomena ini dikenal sebagai disrupsi digital yaitu perubahan aktivitas masyarakat dari sistem konvensional ke digital (Marhamah & Fauzi, 2. Rusadi, 2. Pergeseran tersebut diperkuat oleh data penetrasi internet di Indonesia yang terus Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2024, total pengguna internet di Indonesia mencapai 221. 479 jiwa dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5%. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahuntahun sebelumnya, yakni 64,8% pada 2018, 73,7% pada 2020, 77,01% pada 2022, dan 78,19% Peningkatan penetrasi internet juga berdampak pada melonjaknya jumlah pengguna media sosial. Data databooks mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat 191 juta pengguna media sosial di Indonesia atau setara dengan 73,7% dari populasi. Platform yang paling banyak digunakan antara lain YouTube dengan jumlah total 139 juta pengguna. Instagram 122 juta pengguna. Facebook 118 juta pengguna. WhatsApp 116 juta pengguna, dan TikTok 89 juta Sebanyak 73% pengguna media sosial di Indonesia menggunakan platform tersebut untuk mengakses berita dan informasi. Temuan ini selaras dengan data We Are Social tahun 2023 yang menunjukkan bahwa 83,1% masyarakat Indonesia usia 16Ae64 tahun menggunakan internet dengan tujuan utama mencari informasi. Di tengah pesatnya pertumbuhan media digital, media konvensional justru mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik, persentase pendengar radio di Indonesia pada tahun 2018 hanya sebesar 13,3%, jauh menurun dibandingkan tahun 2003 yang mencapai 50,29% (Kusnandar dalam Pangestu et al. , 2. Dari sisi ekonomi media, data Nielsen menunjukkan bahwa pada semester pertama tahun 2022, pangsa pasar iklan radio hanya tersisa 0,3% dan mengalami penurunan sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun Selain itu, ledakan jumlah media siber turut memperketat persaingan. Dari sekitar 000 media di Indonesia pada tahun 2017, sebanyak 43. 000 di antaranya merupakan media siber (Dewan Pers, 2. Kondisi tersebut menciptakan tantangan besar bagi praktik jurnalistik, khususnya dalam menjaga kualitas berita di tengah tuntutan kecepatan. Media digital dan media sosial memberi kesempatan bagi siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi secara cepat melalui mekanisme user generated content (Nasrullah dalam Setiadi, 2. Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh arus informasi yang melimpah, yang oleh Sumartono . disebut Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 sebagai media saturated era. Dalam situasi ini, jurnalis profesional dihadapkan pada tantangan untuk tetap menjaga akurasi, verifikasi, dan etika jurnalistik di tengah tekanan kecepatan Persoalan akurasi menjadi isu krusial. Junaedi . alam Saifudin, 2. menegaskan bahwa ketika kecepatan menjadi aspek utama maka sering kali akurasi berita dapat terabaikan. Fenomena ini tercermin dari beberapa kasus pelanggaran etik jurnalistik oleh sejumlah media di Indonesia seperti iNews. Tv One. METRO TV. Liputan 6, dan TVRI yang pernah menyebarkan informasi tidak akurat terkait peristiwa bom di Jakarta pada 2016 sehingga dikenai sanksi oleh KPI. Situasi tersebut juga memperlihatkan dilema jurnalisme di era digital yang dituntut untuk cepat sekaligus akurat (Triwulan dkk. , 2. Dalam konteks jurnalistik radio, dilema tersebut semakin kompleks. Radio yang sebelumnya dikenal sebagai media konvensional yang cepat dalam menyebarkan berita, kini harus bersaing langsung dengan media online dan media sosial. Untuk dapat bertahan, radio melakukan konvergensi media, yakni menyebarluaskan konten jurnalistik melalui berbagai platform digital seperti portal berita dan media sosial (Dwyer dalam Mardhiyyah, 2. Namun, praktik konvergensi ini juga memunculkan kecenderungan penggunaan sumber berita dari internet dan media online lain, yang berpotensi melemahkan disiplin verifikasi jika tidak dilakukan secara cermat. Padahal. Kovach . menjelaskan bahwa verifikasi merupakan intisari dari praktik jurnalistik sebagai salah satu dari sembilan elemen utama jurnalisme. Tantangan tidak hanya bersumber dari faktor eksternal, tetapi juga dari aspek internal jurnalis radio. Di era digital, jurnalis dituntut untuk menguasai teknologi digital dan beradaptasi dengan pola kerja multiplatform (Deuze dalam Nusantara, 2. Data TIFA Foundation dan Populix tahun 2023 menunjukkan bahwa komposisi jurnalis di Indonesia didominasi oleh generasi milenial . %), diikuti generasi X dan boomer . %), serta generasi Z . %). Meskipun jumlahnya berkurang, jurnalis generasi X masih banyak menempati posisi strategis di redaksi (Rahayu dalam Almuhtada, 2. , namun di sisi lain mereka menghadapi tantangan adaptasi digital bahkan risiko pemutusan hubungan kerja akibat transformasi media (Haryanto dalam Almuhtada, 2. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, kajian mengenai jurnalisme di era digital umumnya berfokus pada transformasi media, tantangan etika jurnalisme digital, dilema antara kecepatan dan akurasi berita, serta praktik verifikasi dalam media online dan media sosial. Penelitian Marhamah dan Fauzi . menyoroti perubahan praktik jurnalisme akibat konvergensi media dan tuntutan kecepatan informasi. Triwulan dkk . mengkaji persoalan etika jurnalisme digital pada media sosial yang memunculkan masalah hoaks, self plagiarism, dan lemahnya verifikasi berita. Sementara itu, penelitian Rani Dwi Lestari . membahas penerapan etika jurnalistik dalam praktik produksi berita di media sosial Instagram pada media daring berbasis teks dan visual. Penelitian Dinda Aprilia . lebih berfokus pada pengukuran tingkat akurasi pemberitaan pada media online tertentu. Sebagian besar penelitian terdahulu mengenai jurnalisme di era digital umumnya berfokus pada transformasi media, etika jurnalisme digital, praktik verifikasi informasi, serta akurasi pemberitaan pada media online dan media sosial. Di sisi lain, penelitian yang secara khusus membahas pengalaman jurnalis radio dalam menjaga akurasi berita masih relatif Selain itu, belum banyak penelitian yang secara spesifik mengkaji bagaimana jurnalis radio menghadapi perubahan sistem kerja redaksional, tekanan kecepatan informasi, serta keterbatasan sumber daya manusia yang berpotensi mengikis akurasi pemberitaan. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menelaah pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi berita di era digital. Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Radio Mercury 96 FM Surabaya merupakan salah satu radio berita yang berupaya mempertahankan eksistensinya melalui konvergensi media dengan memanfaatkan berbagai platform digital. Radio ini tidak hanya menyajikan berita melalui siaran on-air, tetapi juga melalui portal berita online serta media sosial seperti Instagram. TikTok. YouTube, dan Facebook. Berbeda dengan beberapa radio berita lain di Surabaya yang mengandalkan citizen journalism. Radio Mercury cenderung merujuk pada sumber berita dari portal media online lain, sebagaimana terlihat dari pencantuman sumber pada setiap konten yang dipublikasikan. Praktik ini menempatkan Radio Mercury pada posisi yang rentan terhadap persoalan akurasi jika tidak disertai dengan proses verifikasi yang memadai. Era digital membawa tantangan serius bagi Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi berita. Ketergantungan pada sumber internet dan tekanan untuk segera mempublikasikan informasi berpotensi mengikis prinsip-prinsip dasar jurnalisme apabila tidak diimbangi dengan disiplin verifikasi yang ketat. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berangkat dari pertanyaan utama mengenai bagaimana pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi berita di era digital. Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi berita di tengah tuntutan kecepatan, konvergensi media, serta dinamika praktik jurnalistik radio di era digital. Kerangka Teori Jurnalistik Radio di Era Digital Jurnalistik merupakan praktik pengelolaan berita yang mencakup tahapan pencarian, pengolahan, hingga penyebarluasan informasi kepada publik dengan berlandaskan prinsip honesty, accuracy, dan fairness (Jonathans dkk. , 2. Dalam praktiknya, produksi berita dilakukan melalui proses perencanaan, peliputan, dan penyuntingan untuk menjamin kualitas serta akurasi informasi yang disajikan kepada publik (Yulianda dkk. , 2. Prinsip dan tahapan ini juga berlaku dalam jurnalisme radio, meskipun penyampaian informasinya bersifat auditif dan menuntut kecepatan serta kejelasan pesan (Yafirman, 2010. Astuti, 2. Akurasi merupakan salah satu prinsip utama jurnalisme radio karena karakteristik utama radio berupa kecepatan, aktualitas, dan menyangkut kepentingan publik (Masduki dalam Saifudin, 2. Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan signifikan dalam praktik jurnalistik radio. Peralihan konsumsi khalayak ke media digital dan media sosial menuntut radio melakukan konvergensi media agar dapat tetap relevan di era digital(Al-Ansori & Saifudin, 2025. Fadila dkk. , 2. Konvergensi memungkinkan distribusi konten radio secara multiplatform, di sisi lain menuntut jurnalis untuk bekerja multitasking dalam proses pengumpulan, produksi, dan penyajian berita (Grant dalam Dzulfikri, 2. Dalam praktiknya, konvergensi dan percepatan arus informasi menghadirkan tantangan bagi praktik jurnalistik radio, terutama terkait beban kerja jurnalis, keterbatasan sumber daya, serta tuntutan kecepatan yang berpotensi mengabaikan prinsip verifikasi (Setiawan & Darmastuti, 2021. Dzulfikri, 2. Jurnalis di era digital dituntut menguasai keterampilan multimedia dan teknologi digital tanpa mengesampingkan integritas profesional dan etika jurnalistik (Almuhtada, 2. Tantangan utama jurnalisme radio di era digital adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi menjadi khususnya dalam memastikan validitas dan kredibilitas informasi dari sumber digital (Fadila dkk. , 2. Akurasi Sebagai Prinsip Utama Jurnalisme Akurasi merupakan prinsip dasar dalam praktik jurnalisme karena berkaitan langsung dengan kewajiban pers dalam menyampaikan kebenaran kepada publik. Kovach dan Rosenstiel Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 menegaskan bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah tunduk pada kebenaran, sementara Nasution . menyatakan bahwa hakikat praktik jurnalistik terletak pada proses mencari, menemukan, dan menyampaikan kebenaran. Kebenaran dalam mencakup fakta yang telah melalui proses verifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan secara etik. Setiap informasi yang dipublikasikan harus memenuhi standar keakuratan agar tidak menyesatkan khalayak dan tetap menjaga kepercayaan publik terhadap media (Nasution, 2015. Dewan Pers, 2. Akurasi dalam jurnalistik diukur dari ketepatan fakta, relevansi sumber, serta ketelitian dalam penyajian informasi. Saifudin . menjelaskan bahwa akurasi dapat diukur melalui kesesuaian informasi dengan fakta lapangan, kredibilitas sumber berita, dan cara penyajian berita kepada publik. Lambeth . alam Nasution, 2. menekankan bahwa akurasi mensyaratkan praktik cek dan ricek, penggunaan multi-sumber, serta kehati-hatian jurnalis dalam mengantisipasi potensi kesalahan. Praktik penggunaan sumber primer dan sekunder yang kredibel menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas berita, sebagaimana ditunjukkan dalam studi Ambard dkk. dan Febrian . yang menekankan peran seleksi sumber dalam menentukan kualitas jurnalisme, khususnya di media digital. Pada dasarnya, akurasi tidak dapat dipisahkan dari disiplin verifikasi dan fungsi gatekeeping dalam produksi berita. Kovach dan Rosenstiel . menegaskan bahwa disiplin verifikasi merupakan esensi jurnalisme yang membedakannya dari bentuk komunikasi lain. Disiplin verifikasi membedakan jurnalisme dari bentuk komunikasi lain seperti opini atau propaganda karena menekankan transparansi, orisinalitas, dan kehati-hatian dalam peliputan. Dalam organisasi media, redaksi berperan sebagai gatekeeper yang bertanggung jawab memastikan informasi telah diverifikasi sebelum dipublikasikan sehingga akurasi dapat terjamin melalui proses gatekeeping (Ati & Dharmawan, 2022. Saifudin, 2. Metodologi Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus untuk memahami secara mendalam praktik jurnalistik radio di era digital, khususnya pengalaman jurnalis Radio Mercury 96 FM Surabaya dalam menjaga akurasi Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti menggali data deskriptif berupa kata-kata serta makna yang dibangun oleh subjek penelitian (Fitrah & Lutfiyah, 2. Pendekatan ini selaras dengan pandangan Creswell . yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dibagikan individu atau kelompok terhadap suatu fenomena sosial. Jenis penelitian studi kasus digunakan karena penelitian berfokus pada satu unit kasus spesifik, yaitu Radio Mercury 96 FM, sebagai sarana untuk memahami fenomena yang lebih luas terkait pengalaman jurnalis dalam menjaga akurasi berita di era digital (Woodside dalam Nasrullah, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Wawancara digunakan untuk menggali pengalaman, pandangan, serta strategi jurnalis dalam menjaga akurasi berita di tengah tuntutan kecepatan informasi di era digital, sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses kerja jurnalistik di Radio Mercury Surabaya. Dokumentasi berfungsi sebagai data pendukung berupa naskah berita dan arsip yang relevan. Penelitian ini dilakukan di lembaga penyiaran radio yang berlokasi di Kota Surabaya yaitu Radio Mercury 96 FM. Penelitian dilakukan pada bulan November hingga Desember 2025 yang meliputi pengambilan data, analisis data, dan penyajian data. Kriteria informan dalam penelitian ini yaitu jurnalis yang aktif bekerja di Radio Mercury Surabaya, kemudian terlibat langsung dalam proses produksi berita mulai dari pengumpulan informasi hingga penyebaran berita, memiliki pengalaman minimal 10 tahun sebagai jurnalis, dan bersedia memberikan informasi terkait pengalaman dalam menjaga akurasi berita di era digital. Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Informan penelitian berjumlah 5 orang jurnalis, terdiri dari reporter yang bertugas mengumpulkan dan menulis berita, tim redaksi yang berperan dalam proses penyuntingan serta verifikasi berita, serta pimpinan redaksi yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan editorial dan penerapan standar akurasi pemberitaan. Penentuan informan ini didasarkan pada pandangan bahwa informan merupakan pihak yang paling memahami praktik dan pengalaman yang menjadi fokus penelitian (Dartiningsih, 2. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman dalam Nasrullah, 2. Dalam penelitian ini, penulis menguji keabsahaan data dengan menggunakan uji kredibilitas . aliditas interna. dengan teknik triangulasi. Triangulasi dalam uji kredibilitas merujuk pada pengecekan data dari berbagai sumber, teknik pengumpulan data, ataupun waktu (Sugiyono 2013:. Penulis menggunakan triangulasi teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk menguji kredibilitas . aliditas interna. Dalam praktiknya, penulis akan mengecek kesamaan data yang diperoleh dari teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dan Pembahasan Sistem Kerja Redaksional Pemberitaan Radio Mercury Surabaya Sistem kerja redaksional merupakan fondasi utama dalam praktik jurnalistik karena menentukan bagaimana proses produksi, penyaringan, dan pendistribusian berita dilakukan. Sistem kerja redaksional pemberitaan pada Radio Mercury Surabaya mengalami perubahan signifikan seiring dengan terjadinya konvergensi media dan penyusutan jumlah sumber daya Sebelum berkonvergensi. Radio Mercury sepenuhnya mengandalkan siaran radio sebagai bentuk utama produk jurnalistiknya. Naskah beritanya disesuaikan dengan karakteristik radio yaitu ringkas, berbasis lokalitas, dan menggunakan bahasa tutur. Namun, perkembangan teknologi digital mendorong Radio Mercury untuk memperluas distribusi berita ke platform digital seperti website dan media sosial. Hal ini selaras dengan Dzulfikri . bahwa konvergensi media muncul sebagai wujud tuntutan bagi jurnalisme konvensional di era digital. Perluasan format ini pada akhirnya berdampak pada penyesuaian sistem redaksional pemberitaan Radio Mercury Surabaya. Pada masa sebelum konvergensi. Radio Mercury Surabaya menerapkan sistem kerja redaksional yang bersifat ketat dan berlapis. Jumlah sumber daya manusia yang relatif besar memungkinkan adanya pembagian peran yang jelas antara reporter, penyiar, dan editor. Setiap berita yang akan disiarkan harus melalui tahapan rapat redaksi, peliputan, pengolahan data, hingga evaluasi sebelum dinyatakan layak siar. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rudy Susanto selaku pimpinan redaksi: AuDulu ketika era keemasan kita, ketika radio masih sedang jaya-jayanya. Mercury itu penggawanya 24 orang mas, kami siaran 24 jam. Otomatis itu butuh filter yang lebih ketat ya. Jadi rapat redaksi itu dilakukan setiap hari. Hari ini kita mau membahas apa nih? Teman-teman reporter dulu apa? Karena kan ada dua ya, ada reporter, ada on-air. Jadi ini dua hal yang kadang-kadang bisa sinergi. Kemudian dibahas, misalnya aku hari ini mau ke PDAM, kenapa PDAM? Karena ini ada keluhan ini bocor-bocor kayak gini. Oh ya, nanti kita cari angle ininya ya, gitu. Itu kita diskusikan dalam rapat redaksi. Nah, teman-teman akhirnya turun ke lapangan, menghubungi pihak-pihak yang bisa dihubungi, setelah mereka dapat semua datanya itu, mereka balik lagi ke siniAy. (Wawancara Rudy Susanto. Pimpinan Redaksi Radio Mercury pada 3 Desember 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa rapat redaksi berfungsi sebagai ruang diskusi redaksional untuk menentukan agenda pemberitaan, sudut pandang . berita, serta pembagian tugas peliputan. Mekanisme ini sesuai dengan praktik jurnalistik yang ideal. Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 sebagaimana menurut Yulianda dkk . , produksi berita harus melewati beberapa tahapan dikarenakan setiap berita harus berisi informasi yang aktual, faktual dan menyangkut kepentingan publik. Salah satu tahapan awalnya adalah ide peliputan yang merujuk pada perencanaan produksi berita dengan membahas ide peliputan yang umumnya dilakukan pada rapat redaksi. Perubahan signifikan terjadi ketika Radio Mercury mengalami penyusutan jumlah sumber daya manusia. Kondisi ini berdampak langsung pada penerapan standar operasional prosedur (SOP) redaksional. SOP yang sebelumnya berfungsi sebagai pedoman teknis dan etis dalam produksi berita menjadi semakin longgar dalam penerapannya. Hal ini diakui secara langsung oleh pimpinan redaksi Radio Mercury Surabaya: AuJadi ya kalau dibilang SOP ada? ada SOP-nya. Cuma kalau misalnya ditanya, sekarang masih diterapkan nggak Pak? Ya, karena ini harus jujur ya, saya bilang sih nggak terlalu ketat lah ya. Tidak seketat dulu. Ya artinya artinya Apa namanya, prinsip saya, temanteman ini sudah lama di lapangan, mereka sudah tahu mana yang boleh, mana yang enggakAy. (Wawancara Rudy Susanto. Pimpinan Redaksi Radio Mercury pada 3 Desember 2. Pelonggaran SOP ini berdampak pada penyempitan fungsi redaksi sebagai gatekeeper. Berdasarkan observasi peneliti, tim redaksi yang kini hanya berjumlah dua orang lebih berfokus pada aspek teknis kebahasaan dan penyajian berita, sementara penilaian kelayakan isi berita . ews judgemen. berada di tangan reporter. Jika pada model gatekeeping tradisional proses verifikasi dilakukan secara berlapis oleh organisasi media, pada Radio Mercury fungsi tersebut cenderung berpindah ke level individual akibat keterbatasan sumber daya manusia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kompetensi jurnalis menjadi faktor utama dalam menjaga akurasi berita. Di sisi lain, menurut Ningrum et al . proses jurnalisme yang benar harus melalui standar yang ketat meliputi proses verifikasi fakta yang komperhensif, menggunakan sumber yang bisa dipercaya kebenarannya, dan patuh terhadap tanggung jawab etik jurnalisme. Kondisi ini diperkuat oleh pernyataan reporter lapangan: AuReporter sendiri. Karena reporter diberi hak untuk melakukan pencarian berita dan mengunggah berita. Namun tetap harus berdasarkan nilai-nilai yang sudah kita Seperti SOP-SOP yang sudah kita tentukan dan harus bertanggung jawab terhadap pemberitaan yang dibuatAy. awancara dengan Ari Setiabudi, reporter/jurnalis lapangan radio Mercury pada 3 Desember 2. Situasi tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran peran gatekeeping dari tingkat redaksional yang berlapis ke tingkat individual. Padahal, berita yang dibuat oleh reporter harus melalui tahapan redaksional, yakni pemeriksaan, penyaringan, dan penyuntingan oleh redaktur, termasuk penekanan pada bagian-bagian tertentu yang dianggap relevan dan pantas untuk dipublikasikan (Eriyanto dalam Sitorus dkk, 2. Sehingga fungsi redaksi sebagai gatekeeper tidak hanya terbatas pada koreksi teknis kebahasaan dan penyajian namun penentu layak atau tidaknya sebuah berita dapat dipublikasi. Kondisi ini menjadikan reporter tidak hanya berperan sebagai pencari dan penulis berita, tetapi juga sebagai aktor utama dalam menentukan kelayakan dan keakuratan informasi. Dengan demikian, tanggung jawab etis dan profesional dalam menjaga akurasi berita semakin bertumpu pada pengalaman, integritas, dan penilaian personal jurnalis di lapangan. Merujuk pada Shoemaker & Vos . alam ati dan dharmawan, 2. proses gatekeeping ini digolongkan sebagai level dasar atau level individual. Level ini menekankan pada pengalaman, pengetahuan, nilai, dan kompetensi personal jurnalis dalam menyaring informasi yang berpengaruh pada kualitas berita. Kondisi ini menegaskan bahwa dalam Radio Mercury Surabaya, sistem kerja redaksional di era digital membentuk pengalaman jurnalis yang lebih mandiri, namun menciptakan potensi risiko terhadap keakuratan berita akibat melemahnya gatekeeping Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 redaksional terhadap akurasi pemberitaan. Hal ini selaras dengan Suwandi . yang menjelaskan bahwa perubahan pola kerja redaksi dapat mempengaruhi kualitas berita, terutama dalam konteks verifikasi dan keberimbangan informasi. Proses Produksi Berita di Radio Mercury Surabaya Proses produksi berita merupakan rangkaian kerja jurnalistik yang berpengaruh langsung terhadap kualitas dan keakuratan informasi yang disampaikan kepada publik. Dalam Radio Mercury Surabaya, proses produksi berita mengalami perubahan signifikan seiring dengan konvergensi media dan keterbatasan sumber daya manusia. Sebagai media radio, produksi berita memiliki karakteristik khusus karena bersifat auditif, berdurasi singkat, dan penyampaian informasi yang ringkas serta mudah dipahami. Di era digital, perluasan format distribusi berita ke platform digital membuat proses produksi Radio Mercury tidak lagi hanya berorientasi pada siaran radio, tetapi juga pada kebutuhan konten digital, yang pada akhirnya memengaruhi pola kerja jurnalistik secara keseluruhan. Pada tahap awal, proses produksi berita di Radio Mercury diawali dengan pencarian Sebelum konvergensi, pengumpulan informasi didominasi oleh reportase langsung dan wawancara dengan narasumber. Jurnalis dituntut aktif mendatangi lokasi peristiwa dan menghubungi sumber secara langsung untuk memperoleh data primer. Pengalaman ini dijelaskan oleh Nila Ariola selaku tim redaksi yang dimana dahulu sebelum berkonvergi, proses produksi berita harus melewati tahapan yang kompleks: AuPerbedaannya kalau dulu pertama gabung di sini itu terasa terasa banget ya, jurnalisnya itu memang bekerjanya itu jurnalis banget. Soalnya kita itu kejar-kejaran sama berita, jangan sampai ketinggalan. Aku juga kan hubungi narasumber, harus hunting narasumber. Biarpun aku jurnalis di dalam . im redaks. , aku tetap hunting narasumber itu. " . awancara dengan Nila Ariola, tim redaksi radio Mercury pada 20 November 2. Proses ini juga dijelaskan oleh Yoshi Yuli selaku tim redaksi yang menggambarkan keterbatasan teknis di masa lalu, mulai dari penggunaan alat perekam kaset hingga proses transkripsi manual. Praktik tersebut menempatkan jurnalis pada hubungan langsung dengan sumber informasi, sebagaimana sumber primer yang berasal dari lokasi kejadian atau pihak yang terlibat langsung (Widjaja dalam Febrian, 2. Dengan praktik ini, akurasi berita lebih terjaga karena informasi diperoleh melalui pengujian fakta secara langsung di lapangan. Praktik ini juga selaras dengan salah satu konsep inti disiplin verifikasi yaitu orisinalitas. Menurut Kovach . orisinalitas atau reportase langsung di lapangan merupakan bentuk penghargaan terhadap nilai sebuah laporan berita. Dalam hal ini kovach dan rosenstiel mengungkapkan bahwa orisinalitas merupakan nilai yang tertanam kuat dalam jurnalisme. Pada praktiknya, wartawan yang menghubungi sumber berita secara langsung untuk memverifikasi suatu peristiwa jauh lebih baik dibandingkan mempublikasi laporan berita dari media lain. Namun, setelah Radio Mercury melakukan konvergensi, terjadi pergeseran signifikan dalam tahap pengumpulan informasi. Berdasarkan hasil observasi peneliti dan keterangan informan, produksi berita khususnya untuk program Mercury News . iaran radi. dan konten media sosial lebih banyak bersumber dari portal berita daring. Yoshi Yuli menyebutkan bahwa sekitar 90% bahan berita untuk Mercury News diperoleh dari media online: AuPastinya internet lah. Kalau yang untuk yang Mercury News ya, jadi disini karena aku jurnalis yang di dalam. persentasenya banyak, banyak banget, mungkin 90% ya kita mengambilnya dari portal berita lain. Ay . awancara dengan Yoshi Yuli, tim redaksi radio Mercury pada 25 November 2. Hal ini memperlihatkan paradoks dalam praktik jurnalisme radio di era digital. Konvergensi media yang pada awalnya ditujukan untuk memperluas distribusi informasi, di sisi Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 lain menciptakan besarnya ketergantungan terhadap sumber berita dari media lain. Akibatnya, produk jurnalistik didominasi oleh pengolahan ulang informasi yang telah tersedia di ruang digital yang sangat rentan akurasinya jika tanpa verifikasi mendalam. Dalam jangka panjang, praktik produksi berita yang didominasi oleh pemberitaan dari media lain, dapat melemahkan fungsi media sebagai penghasil informasi orisinal dan mendorong praktik reproduksi informasi antarmedia yang semakin seragam. Dalam praktik produksi berita, jurnalis memantau media daring yang dianggap kredibel dan memiliki reputasi nasional. Informasi tersebut kemudian dipilih berdasarkan nilai berita, terutama kedekatan . agar tetap relevan dengan masyarakat lokal kota Surabaya. Sedangkan, di sisi lain menurut Robert Picard . alam Ambard, 2. terdapat tujuh kriteria proses jurnalisme yang berkualitas yaitu melakukan wawancara, mengumpulkan informasi lewat telepon serta merancang wawancara, mendatangi peristiwa atau kejadian, menghadiri pertemuan antar rekan sesama wartawan, merancang dan menata materi, dan mendatangi setiap lokasi dimana wartaman dapat memperoleh informasi untuk liputan. Kondisi ini berbeda dengan praktik jurnalisme Radio Mercury Surabaya di era digital yang sumber informasinya didominasi dari portal berita lain. Dalam produksi berita yang bersumber dari portal berita lain, isu nasional terkadang dikerucutkan menjadi local news agar sesuai dengan karakter radio. Di sisi lain, untuk berita siaran program news on the spot dan konten website, liputan langsung masih menjadi sumber utama, meskipun tetap dikombinasikan dengan sumber sekunder. Ari Setiabudi menjelaskan bahwa sekitar 40% berita yang ia produksi bersumber dari portal berita nasional seperti Antara. Kompas, dan Detik. Setelah informasi diperoleh, tahap selanjutnya adalah verifikasi berita. Verifikasi merupakan kewajiban jurnalistik untuk menjamin keakuratan informasi sebelum disampaikan kepada publik. Nasution . menegaskan bahwa informasi harus terlebih dahulu ditapis dengan kadar keakuratan sebagai bentuk tanggung jawab jurnalisme. Di sisi lain, verifikasi merupakan tanggung jawab seorang jurnalis yang tertera dalam kode etik jurnalistik. Pada pasal 1 KEJ, jurnalis harus bersikap independen serta menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan bebas dari itikad buruk. Untuk mencapai keakuratan berita, pasal 3 KEJ menekankan bahwa wartawan Indonesia dituntut untuk selalu menguji kebenaran informasi (Dewan Pers, 2. Dalam praktiknya, verifikasi berita yang bersumber dari portal berita lain di Radio Mercury dilakukan dengan membandingkan beberapa media daring. Yanti Lestari AuKalau kita konfirmasi, kalau semua media besar memberitakan, berarti itu memang kejadian benar. Standarnya itu aja. Konfirmasinya kita tuh lihatnya, oh gak satu website saja yang memberitakan. Ay . awancara dengan Yanti Lestari, penyiar berita Radio Mercury pada 20 November 2. Praktik ini menunjukkan bahwa verifikasi tetap dilakukan dengan membandingkan sumber berita online, namun belum sepenuhnya melalui konfirmasi langsung kepada Padahal, menurut McQuail . alam Saifudin, 2. , jurnalis dituntut memiliki ketelitian dengan menggali keterangan dari pihak yang kompeten dan tidak terburu-buru dalam menyampaikan informasi. Artinya, jurnalis tidak boleh hanya bergantung pada satu sumber informasi tetapi harus menggali keterangan tambahan dari berbagai pihak yang terlibat atau mengetahui peristiwa tersebut agar pemberitaan menjadi lebih akurat. Ketergantungan pada sumber sekunder berpotensi mereproduksi kesalahan jika terjadi kekeliruan pada sumber awal. Selain dengan membandingkan pemberitaan dari setiap portal berita, kelayakan sumber juga dinilai dari kelengkapan unsur berita. Nila Ariola menekankan pentingnya identitas narasumber dan kelengkapan 5W 1H sebagai standar utama berita: AuIdentitas orangnya itu nomor satu, terus yang kedua dia itu ngomong apa, itu harus Soalnya kan kita ini menyampaikan berita, menyampaikan orang itu ngomong apa Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Kalau menurut aku itu Berarti kriteria utamanya itu standarnya jelas ya, berita itu memuat 5W1H. Ay . awancara dengan Nila Ariola, tim redaksi radio Mercury pada 20 November 2. Praktik ini sesuai dengan konsep kredibilitas sumber yang menekankan aspek believability, accuracy, dan completeness (Flanagin & Metzger dalam Lestari, 2. Namun,. Di sisi lain. Ari Setiabudi selaku reporter lapangan melihat kredibilitas media mainstream sebagai jaminan awal keakuratan berita, meskipun tetap melakukan pengecekan silang dengan beberapa media lain sebelum mengolahnya menjadi berita lokal. Verifikasi langsung kepada narasumber tetap dilakukan dalam kondisi tertentu, terutama ketika isu nasional ditarik ke konteks lokal atau ketika jurnalis memiliki akses langsung ke pihak terkait. Praktik ini dilakukan untuk memperkuat akurasi dan relevansi informasi yang disampaikan kepada publik Tahap berikutnya adalah penulisan naskah berita. Jurnalis menyusun informasi dalam bahasa tutur yang ringkas, lugas, dan sesuai dengan durasi siaran radio. Dalam penulisan naskah, penyebutan sumber informasi dilakukan secara eksplisit sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab etik. Nila Ariola menegaskan bahwa pencantuman sumber media menjadi bagian penting untuk memudahkan pelacakan apabila terjadi kesalahan informasi. Praktik ini juga berfungsi sebagai upaya mitigasi risiko kesalahan jurnalistik di tengah keterbatasan proses Setelah naskah selesai ditulis, reporter mengirimkan berita kepada tim redaksi. Namun, berdasarkan hasil observasi peneliti, fungsi tim redaksi dalam proses ini terbatas pada koreksi kebahasaan dan teknis penulisan. Tim redaksi tidak melakukan verifikasi ulang terhadap substansi berita, sehingga fungsi gatekeeping redaksional mengalami penyempitan. Kondisi ini menempatkan tanggung jawab utama akurasi berita pada jurnalis pembuat berita serta memperlihatkan bagaimana proses produksi berita di Radio Mercury Surabaya di era digital semakin bergantung pada keputusan individual jurnalis. Tantangan Redaksional Pemberitaan Radio Mercury Surabaya di Era Digital Era digital menghadirkan perubahan signifikan dalam praktik jurnalistik, termasuk di media radio. Perkembangan teknologi informasi mempercepat penyebaran berita dan memperluas akses terhadap sumber informasi. Namun, kondisi ini juga menimbulkan tantangan baru bagi redaksional Radio Mercury Surabaya dalam menjaga akurasi dan kredibilitas Tuntutan publik terhadap informasi yang cepat, tepat, dan terpercaya menempatkan jurnalis Radio Mercury pada posisi yang harus menyeimbangkan kecepatan produksi dengan kualitas akurasi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi jurnalis adalah proses verifikasi informasi. Ari Setiabudi, reporter Radio Mercury, menjelaskan bahwa menjaga keakuratan berita merupakan hal yang paling menantang di era digital: AuMenurut saya yang paling menantang itu verifikasi menjamin semuanya benar dan akurat Itu yang paling menantang. Jadi pemberitaan ini sebelum kita luncurkan kita melakukan cross-checking Ini benar enggak, tulisan ini benar enggak, tulisan asing ini benar enggak. Ay . awancara dengan Ari Setiabudi, reporter/jurnalis lapangan radio Mercury pada 3 Desember 2. Pernyataan ini menegaskan bahwa verifikasi menjadi filter utama dalam menjamin akurasi berita. Di era digital, meskipun informasi lebih mudah diakses, tantangan paling berat adalah menjamin informasi yang disebarkan kepada khalayak benar dan akurat. Ari Setiabudi menambahkan bahwa jurnalis dituntut untuk memproduksi pemberitaan sesuai dengan SOP dan kode etik jurnalistik, karena publik kerap terpapar berita yang belum terverifikasi melalui media Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 AuYa tuntutan kita semakin berat karena media ini saat ini di era digital ini dituntut untuk bisa menyajikan pemberitaan yang benar-benar sesuai dengan SOP pemberitaan yang ada, sesuai dengan kode etik jurnalistik, karena kalau kita melihat sekarang ini media sosial masyarakat lebih mudah untuk termakan oleh media sosial sehingga mereka tidak melihat kebenaran dari sebuah berita. Kayak kasus kemarin di Sumatera Barat itu kan banyak sekali pemberitaan muncul di media sosial Seliwuran bagaimana masyarakatnya menderita dan sebagainya. Nah ini kan menjadi tantangan kita. Kita dituntut untuk Benar-benar menyajikan pemberitaan yang Sesuai dengan kode etik jurnalis dan dapat terjamin Karena ini menjadi penting. Kalau tidak, ini akan menjadi bumerang bagi kita jurnalis sendiri. Ay . awancara dengan Ari Setiabudi, reporter/jurnalis lapangan radio Mercury pada 3 Desember 2. Tuntutan menjaga akurasi ini semakin kompleks karena perubahan pola kerja di Proses verifikasi yang sebelumnya bersifat berlapis kini bergeser menjadi tanggung jawab individual jurnalis. Maflucha dan Wijayanti . menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi jurnalis yaitu mengatasi kesalahan umum pada jurnalisme digital berkaitan dengan kualitas berita, akurasi berita, kecepatan, dan kecenderungan untuk praktik copy paste berita tanpa disiplin verifikasi. Berkurangnya jumlah jurnalis di Radio Mercury Surabaya menjadi hanya enam orang, menyulitkan penerapan gatekeeping ideal yang seharusnya terjadi pada level redaksi. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan kemampuan beberapa jurnalis senior dalam mengoperasikan perangkat digital untuk produksi konten media sosial, yang merupakan salah satu penyokong ekonomi radio melalui iklan digital. Rudy Susanto, pimpinan redaksi, menyebutkan: AuKita bicara jujurnya disini ya. Gaji kita dipotong 50%, gaji teman-teman itu, termasuk Jadi kalau misalnya sejujurnya ya, ya saya agak merem lah ya. Ya tapi, kan kita bisa siasati dengan teman-teman magang. Tapi anak-anak magang kan gak selalu bisa bikin berita yang lokal. Ya mau gak mau ya nasional, karena kan ngelihat dari trend berita yang lagi algoritmanya bagus apa, yaudah kita bikin aja kayak gini supaya engagementnya naik. Sekarang susah emang, bekerja bersemangat di tengah situasi kayak begini. Makanya karena saya sudah tua ya, saya gak bisa apa-apa jadi bertahan Ay (Wawancara Rudy Susanto. Pimpinan Redaksi Radio Mercury pada 3 Desember Pernyataan ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi media dan keterbatasan SDM turut memengaruhi praktik jurnalistik. Di tengah ekonomi radio yang terpuruk, jurnalis senior seperti pimpinan redaksi radio Mercury Surabaya tidak memiliki pilihan selain bertahan di industri Hal ini memperlihatkan bahwa upaya jurnalis menjaga akurasi berita dihadapkan pada situasi organisasi yang terus menghadapi tekanan ekonomi. Berkurangnya pendapatan media berdampak pada penyusutan jumlah personel redaksi dan perubahan pembagian kerja di ruang Dari tantangan ini, proses verifikasi yang ideal sering kali harus disesuaikan dengan keterbatasan waktu dan sumber daya yang tersedia. Produksi konten untuk media sosial sepenuhnya dilakukan oleh tenaga magang, sementara beberapa jurnalis senior bertugas memproduksi berita siaran dan website. Kondisi ini sejalan dengan yang diungkapkan Dzulfikri . bahwa tantangan yang dihadapi jurnalis di era digital yaitu kemampuan multitasking dan juga infrastruktur di media. Meilitasari . alam Dzulfikri, 2. menyebut beberapa jurnalis pada kenyataannya hanya berfokus pada satu jenis media saja dan belum mempunyai skill multitasking untuk mengelola berbagai platform media. Yoshi Yuli, tim redaksi, menegaskan bahwa keterbatasan skill digital menjadi tantangan AuIya banget, apalagi aku bukan gen z. Itu tantangannya tuh disitu . roduksi konten Itu tantangan banget buat kita yang bukan gen z, emang harus belajar. Itu tantangan banget ya, apalagi bikin video, habis itu beritanya juga harus cepat naik itu Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Ay . awancara dengan Yoshi Yuli, tim redaksi Radio Mercury pada 25 November 2. Selain keterbatasan SDM dan ekonomi, tantangan lain muncul dalam penentuan topik konten digital. Yanti Lestari, penyiar berita sekaligus pengelola konten media sosial saat tim magang kosong, menjelaskan bagaimana proses pemilihan berita viral dan trending dilakukan untuk mempertahankan engagement: AuKalau aku ngambilnya akhirnya apa yang lagi banyak dibicarakan dan apa yang viral. Aku akan nyari jadi aku searching di media sosial, apa yang banyak diberitakan dan kalaupun itu di media-media yang kaya natural apa, aku konfirmasi lagi apakah media besar juga boleh mengeluarkan itu dan apa situasi seperti gaza itu lagi juga banyak itu, aku pasti nanya. Untuk jaga itu . karena kan aku gak bisa sehari empat konten ya. Ay . awancara dengan Yanti Lestari, penyiar berita Radio Mercury pada 20 November 2. Hal ini menunjukkan bahwa selain tantangan verifikasi, di era digital, jurnalis juga dihadapkan pada tuntutan kecepatan, relevansi, dan engagement berita. Tekanan untuk meningkatkan engagement media sosial berpotensi memengaruhi fokus pada akurasi, sehingga jurnalis perlu menyeimbangkan antara informasi yang menarik dengan informasi yang benar. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengalaman jurnalis Radio Mercury Surabaya dihadapkan dengan perubahan sistem kerja redaksional, proses produksi berita, dan tantangan struktural media radio dalam menjaga akurasi berita di era Konvergensi media serta penyusutan jumlah sumber daya manusia menciptakan penyesuaian sistem kerja redaksi dari mekanisme berlapis menuju pola kerja yang lebih Akibatnya, fungsi gatekeeping redaksional mengalami penyempitan. Jurnalis tidak hanya berperan sebagai pencari dan penulis berita, tetapi juga sebagai penentu utama kelayakan dan keakuratan informasi. Praktik produksi berita yang semakin bergantung pada sumber sekunder dari portal berita daring, dengan verifikasi yang dominan melalui pembandingan antar media menunjukkan bahwa praktik verifikasi komprehensif belum sepenuhnya diterapkan. Dampaknya, kualitas keakuratan produk jurnalistik dapat terancam akibat menyempitnya fungsi gatekeeping redaksional dan terbatasnya disiplin verifikasi. Di tengah kondisi tersebut, upaya menjaga akurasi berita sangat bergantung pada pengalaman, kompetensi, dan penilaian individu jurnalis. Tantangan ekonomi media, keterbatasan sumber daya manusia, serta tuntutan kecepatan dan engagement di platform digital turut meningkatkan potensi kesalahan pemberitaan. Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi manajemen redaksi media radio, khususnya Radio Mercury Surabaya, dalam memperkuat sistem kerja jurnalistik di era digital. Radio Mercury Surabaya disarankan untuk memperkuat kembali fungsi gatekeeping redaksional melalui mekanisme verifikasi yang lebih terstruktur dan penyusunan SOP jurnalistik tertulis serta diperketat penerapannya. Selain itu, peningkatan kapasitas jurnalis melalui pelatihan literasi digital dan teknik verifikasi informasi perlu dilakukan agar proses pengujian fakta tidak hanya bergantung pada kredibilitas sumber sekunder. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian gatekeeping dan praktik jurnalisme radio lokal di era digital. Temuan penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pengembangan studi mengenai akurasi berita, gatekeeping digital, verifikasi informasi, serta dampak konvergensi media terhadap cara kerja jurnalistik di era digital. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan kajian ini dengan membandingkan pengalaman jurnalis pada berbagai jenis media berita atau mengkaji efektivitas mekanisme verifikasi berita di era jurnalisme digital. Pengalaman Jurnalis Radio Mercury Surabaya dalam Menjaga Akurasi Berita di Era Digital Gabriel Henda Capistrano. Windri Saifudin Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 85-98 Daftar Pustaka