Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 The Role of Teacher Professionalism on the Development of ChildrenAos Critical Thinking Asnal Mala 1. Deviana Putri Ari Sandy2 Fakultas Agama Islam Prodi PGMI. Universitas Sunan Giri Surabay. asnalmala@unsuri. Fakultas Agama Islam Prodi PGMI. Universitas Islam Jember devianaputri150@gmail. Submitted: 26-12-2. Reviewed: 28-12-2023 | Accepted: 01-01-2024 ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian penting dalam pertumbuhan intelektual anak. Artikel ini membahas peran guru profesional dalam mendorong pengembangan keterampilan tersebut. Berpikir kritis melibatkan kemampuan anak untuk mengevaluasi, menganalisis dan merumuskan berpikir kritis berdasarkan informasi yang diperoleh. Guru profesional mampu menciptakan lingkungan belajar yang merangsang pengembangan keterampilan tersebut dengan menggunakan strategi pengajaran yang berbeda. Artikel ini menggunakan penelitian kualitatif dan penelitian Pembahasan dalam artikel ini menyoroti bagaimana guru dapat menumbuhkan pemikiran kritis anak melalui interaksi kelas, pertanyaan mendalam, dan materi pembelajaran yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru profesional sangat penting dalam pengembangan berpikir kritis anak. Lingkungan menjadi salah satu pendukung guru untuk mendorong berkembangnya berpikir kritis anak, agar menjadi lebih analitis, kritis dan mempunyai kepribadian yang mampu berpikir mandiri. Keywords: Berpikir Kritis. Guru Profesional. Stimulasi perkembangan ABSTRACT Critical thinking skills are an important part of children's intellectual growth. This article discusses the role of professional teachers in promoting the development of these skills. Critical thinking involves a child's ability to evaluate, analyze and formulate critical thinking based on information obtained. Professional teachers are able to create a learning environment that stimulates the development of these skills by using different teaching strategies. This article uses qualitative research and desk research. The discussion in this article highlights how teachers can foster children's critical thinking through classroom interaction, in-depth questioning and relevant learning The results show that the role of professional teachers is very important in the development of children's critical thinking. The environment is one of the supporters of teachers to encourage the development of children's critical thinking, so that they become more analytical, critical and have a personality that is able to think independently. Keywords: Critical Thinking. Professional Teacher. Developmental Stimulation. PENDAHULUAN Berpikir kritis anak dianggap sebagai aspek yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun seringkali terabaikan (Simanjuntak & Sudibjo, 2. Guru memiliki kemampuan untuk mengembangkan keterampilan pedagogik, menstimulasi kecakapan hidup, meningkatkan standar moral serta menciptakan dan meningkatkan orientasi profesional yang sesuai dengan konteks globalisasi saat ini(Septikasari & Frasandy, 2. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Berpikir kritis melibatkan kapasitas anak dalam menghadapi informasi, melakukan analisis yang cermat, dan membuat keputusan yang didasarkan pada pemikiran yang Keterampilan yang krusial untuk sukses akademis dan kehidupan anak mencakup peran penting guru dalam memajukan kapasitas anak dalam menyelesaikan masalah. Guru berperan sebagai fasilitator, penyedia informasi, mengorganisir, mediator, inisiator, penilai, dan motivator (Romanti & Rohita, 2. Peranan guru mempengaruhi signifikan perkembangan kemampuan berpikir kritis anak. Guru yang profesional tak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga memegang peranan esensial dalam membentuk pola pikir anak-anak (Siti Nurzannah, 2. Di dalam kelas, guru memberikan rangsangan kepada anak-anak untuk bertanya, menganalisis, serta mendalami pemahaman mengenai berbagai topik (Lattu, 2. Peran guru sangat penting bagi kemajuan pendidikan. Sebagai profesional, guru mempunyai tanggung jawab strategis dalam melaksanakan visi pembelajaran yang memenuhi standar profesional. Menurut pasal 10 ayat . Undang-Undang tentang Guru dan Guru Nomor 14 Tahun 2005, seorang guru harus mempunyai kualifikasi pedagogik, personal, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut bersifat komprehensif dan spesifik bagi guru profesional (Siddiq. Umar. Tujuannya adalah untuk menjamin mutu pelayanan pendidikan sesuai dengan perkembangan saat ini. Sebagai pendidik, guru menghadapi inovasi untuk meningkatkan pembelajaran. Namun ada juga guru yang masih menggunakan metode pengajaran satu arah yang tidak sesuai dengan potensi siswa(I Ketut Manik Asta Jaya, 2. Pembelajaran satu arah seringkali gagal memaksimalkan potensi siswa dan cenderung menimbulkan kebosanan karena siswa hanya menerima materi yang disampaikan oleh guru(Tahajudin. Rokmanah, & Putri, 2. Keadaan ini juga terjadi pada mata pelajaran menekankan pada hafalan, padahal mata pelajaran tersebut seharusnya mengembangkan kemampuan berpikir siswa, mulai dari merespon fakta hingga membuat konsep dan generalisasi. Penelitian yang dilakukan Nuryat menjelaskan bahwa kurangnya berpikir kritis pada siswa disebabkan oleh pendekatan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pengajaran di sekolah masih sangat dipengaruhi oleh peran dominan guru, mengakibatkan kurangnya pengembangan kemampuan berpikir kritis pada siswa (Siti Nurzannah, 2. Ada juga hasil penelitian lain yang menyoroti dominasi guru dalam proses pembelajaran IPA, lebih mengarah pada hafalan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 daripada pengembangan kemampuan berpikir, yang membuat siswa kurang mampu mengemukakan pendapat, kurang analitis, dan cenderung bergantung pada orang lain daripada memilih sendiri (Windhasari, 2. Kelemahan dalam kemampuan berpikir kritis ini dapat berdampak buruk pada pendidikan lanjutan. Oleh karena itu, penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Mengajar tidak lagi hanya mengenai mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk lingkungan pembelajaran yang mendorong peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal (Oktaviani. , & Wulandari. , 2. Untuk mencapai hal ini, diperlukan strategi yang sesuai yang menuntut guru untuk mengelola program pembelajaran secara kreatif dengan beragam variasi pendekatan belajar-mengajar (Starko. , 2. Guru kreatif dianggap sebagai individu yang ahli dalam bidangnya, memiliki otonomi dalam kelas, dan dapat merancang tujuan, membangun keterampilan dasar, mendorong pencapaian pengetahuan spesifik, serta menginspirasi eksplorasi dan rasa ingin tahu(Hebert. , 2. Seorang guru kreatif mendorong peserta didik untuk memiliki motivasi dan kepercayaan diri, fokus pada penguasaan ilmu dan kompetisi, dan menumbuhkan pandangan Mereka memberikan keseimbangan, kesempatan pilihan, serta kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan pengelolaan diri . emampuan metakogniti. Selain itu, mereka menggunakan beragam teknik dan strategi dalam proses pembelajaran untuk merangsang kreativitas, membangun lingkungan yang mendukung kreativitas, dan mendorong imajinasi serta fantasi(Lin. -S. , 2. Guru yang kreatif menjadi sumber inspirasi kreatif bagi siswa (Fisher. , 2. Guru mengembangkan pengetahuan yang terdapat dalam kurikulum dengan cara yang kreatif agar siswa lebih antusias menerima informasi tersebut (Pentury. , 2. Pembelajaran kreatif adalah proses di mana guru memotivasi serta menumbuhkan kreativitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan berbagai metode dan strategi, seperti kerja kelompok, pemecahan masalah, dan lainnya(Ucus. , 2. Peran guru diidentifikasi sebagai penggerak dalam membangun dan memperkuat kolaborasi di dalam kelompok untuk menyelesaikan tantangan tertentu. Guru juga bertujuan untuk meningkatkan toleransi terhadap perbedaan pendapat di antara rekan-rekannya dan mendorong pemikiran kritis serta kreatif dalam menyelesaikan masalah yang kompleks JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 (Septikasari & Frasandy, 2. Ide ini diperkuat oleh Yuliati, yang mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kritis dapat diajarkan dan memerlukan latihan teratur. Pelatihan dalam berpikir kritis penting bagi siswa karena memungkinkan mereka untuk menganalisis dan (Yuliati. Memperbolehkan siswa untuk menggunakan pemikiran tingkat tinggi di setiap tingkatan kelas dapat membantu mereka membedakan antara kebenaran dan kebohongan, fakta dan opini, serta pengetahuan dan keyakinan(Chriswanti & Sudibyo, 2. Guru mempunyai tanggung jawab penting dalam mengembangkan berpikir kritis. Peran guru dalam proses pembelajaran sangat mempengaruhi perkembangan siswa, khususnya perkembangan karakter siswa. Guru yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan di kelas akan menarik minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran secara mendalam. Penting untuk menjaga suasana belajar yang positif, nyaman dan menghindari perilaku yang dapat melukai perasaan siswa. Sebagai pendidik profesional, guru mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan pengalaman belajar yang melibatkan pemikiran kritis siswa. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat mengerahkan seluruh potensi siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan berpikir kritis. Model pembelajaran yang berbeda-beda dapat diterapkan untuk mengembangkan berpikir kritis siswa, termasuk model inkuiri terbimbing. Model pembelajaran ini dikenal memperkaya pemikiran kritis Survei berfokus pada interaksi antara guru dan siswa dalam bentuk dialog tanya jawab. Peran siswa lebih ditekankan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitator. Penerapan inkuiri tidak hanya mengembangkan aspek intelektual saja, namun juga memperhatikan emosional dan keterampilan. Penelitian merupakan suatu proses yang dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Pendekatan inkuiri muncul sebagai solusi untuk mengatasi kebosanan dalam pembelajaran di kelas, karena pendekatan ini lebih berfokus pada siswa dibandingkan guru (Trianto, 2. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan semangat belajar siswa, tetapi juga melatih mereka berpikir kritis dan analitis. Untuk meningkatkan minat belajar siswa, penting bagi guru untuk memaparkan perkembangan dunia yang pesat, termasuk tantangan global yang kita hadapi saat ini. Mengantisipasi perubahan global memerlukan respons yang kritis peserta didik JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 sebagai warga global. Oleh karena itu, pembelajaran yang menekankan keterampilan berpikir kritis di kelas merupakan cara untuk menghadapi tantangan ini. Salah satu tantangan bagi guru adalah kurangnya fasilitas di sekolah yang mengakibatkan kurangnya minat siswa dalam belajar. Laboratorium yang seharusnya menjadi tempat belajar yang menginspirasi bisa menjadi media yang menarik minat siswa. Dalam menghadapi keterbatasan ini, guru perlu cerdas dalam memilih model pembelajaran yang dapat menarik minat siswa untuk belajar, dan pada akhirnya mendorong mereka untuk berpikir secara reflektif. Proses pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa untuk memastikan pemahaman yang lebih baik terhadap materi. Dari sini terlihat jelas bahwa guru memiliki peran penting dalam mengarahkan siswa selama proses Ini termasuk dalam menarik minat mereka untuk belajar dan mengasah pola berpikir terhadap setiap materi yang diajarkan. Pilihan model pembelajaran yang diadopsi oleh guru sangat menentukan hasil belajar Fokus pada proses belajar mengajar ini bertujuan untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa. Keterampilan ini sangat vital karena membantu anak-anak dalam menyikapi fenomena dan permasalahan sosial. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, terutama untuk menghadapi tantangan zaman yang beragam. Keterampilan ini mencakup kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Artikel ini mengulas peran guru profesional dalam merangsang perkembangan kemampuan berpikir kritis anak. Strategi pengajaran yang efektif yang dapat digunakan guru untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan ini juga dibahas dalam artikel ini. Terlebih, artikel ini menyoroti pentingnya peran profesionalisme guru dalam menstimulasi perkembangan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini mempunyai kebaruan dari dari penelitian sebelumnya yaitu . Pendekatan Interdisipliner yang Komprehensif. Penelitian ini dapat menonjol karena pendekatannya yang memadukan berbagai disiplin ilmu, seperti psikologi perkembangan, pendidikan, manajemen pendidikan, dan sosiologi pendidikan. Dengan menggabungkan berbagai perspektif ini, penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang hubungan antara profesionalisme guru dan perkembangan keterampilan berpikir kritis anak-anak. Fokus pada Implementasi dan Aplikasi Praktis. Keunikan lainnya adalah penekanan pada aspek implementasi dan aplikasi JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 praktis dari temuan penelitian. Penelitian ini tidak hanya mendokumentasikan hubungan antara profesionalisme guru dan perkembangan keterampilan berpikir kritis, tetapi juga berusaha menawarkan solusi konkret yang dapat diimplementasikan di lingkungan pendidikan sehari-hari. Eksplorasi Terhadap Faktor-Faktor Penghambat dan Pendukung. Faktor-faktor yang mendorong atau menghambat pengembangan profesionalisme guru dalam konteks pengembangan keterampilan berpikir kritis pada anak. Dengan mengidentifikasi faktor-faktor kunci ini, penelitian ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga bagi pengambil keputusan di tingkat sekolah maupun kebijakan pendidikan. Analisis Terhadap Variasi Kontekstual. Penelitian ini dapat menonjol karena kemampuannya untuk menganalisis peran profesionalisme guru dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis anak-anak dalam konteks yang berbeda-beda. Misalnya, melihat perbedaan hasil antara sekolah perkotaan dan pedesaan, atau antara sistem pendidikan yang berbeda di berbagai negara. Kolaborasi Aktif dengan Pihak-Pihak Terkait. Keunikan lainnya dapat ditemukan dalam kolaborasi yang aktif dengan pihak-pihak terkait, seperti guru-guru, administrator sekolah, dan para ahli pendidikan. Melalui keterlibatan langsung mereka, penelitian ini dapat memberikan perspektif yang lebih kuat dan aplikatif terkait dengan solusi yang ditemukan. Dengan fokus pada aspek-aspek baru dan pendekatan yang lebih komprehensif, penelitian ini dapat menjadi sumbangan yang signifikan keterampilan berpikir kritis pada anak-anak, serta memberikan kontribusi penting bagi perkembangan pendidikan di masa depan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tinjauan pustaka (Library Researc. yang mengacu pada konsep dan teori berdasarkan literatur yang ada, khususnya artikel di berbagai jurnal ilmiah (Sugiyo, 2. Penelitian ini mengacu pada tinjauan pustaka terkait peran guru dalam meningkatkan berpikir kritis siswa melalui metode pembelajaran berbasis Dalam hal ini peneliti memperhatikan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penelitian sastra. Dalam memilih artikel jurnal untuk ditinjau terkait peran profesionalisme guru dalam perkembangan keterampilan berpikir kritis anak-anak, beberapa kriteria inklusi dan eksklusi JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 penting yang saya gunakan adalah sebagai berikut: Kriteria Inklusi yaitu . Relevansi dengan Topik, secara langsung atau signifikan membahas hubungan antara profesionalisme guru dan keterampilan berpikir kritis pada anak-anak. Metodologi yang Tepat. Hanya artikel dengan metodologi penelitian yang kuat, seperti penelitian empiris, studi kasus, atau analisis mendalam yang diterima. Keabsahan Data, mengandalkan data yang valid dan diperoleh melalui metode yang dapat dipercaya, memastikan relevansi dan keandalan temuan. Publikasi di Jurnal Terpercaya. Hanya artikel yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal terakreditasi dan bereputasi di bidang pendidikan atau psikologi yang diperhitungkan. Sedangkan Kriteria Eksklusi yaitu a. Tidak Relevan dengan Fokus Penelitian. Artikel yang tidak langsung terkait dengan hubungan antara profesionalisme guru dan perkembangan keterampilan berpikir kritis pada anak-anak. Kualitas Metodologi yang Kurang. Artikel dengan metodologi yang lemah atau tidak cukup mendukung klaim atau temuan yang c Sumber yang Tidak Terpercaya, artikel dari jurnal yang kurang terkenal atau kurang memiliki proses peer-review yang ketat. Tahun Publikasi yang Tidak Sesuai. Artikel yang terlalu lama atau terlalu baru untuk relevansi dengan perkembangan terkini dalam bidang profesionalisme guru dan keterampilan berpikir kritis. Memastikan Relevansi dan Kualitas. Beberapa langkah tersebut melibatkan metode pengumpulan data, menggunakan analisis korelasi antara tingkat profesionalisme guru dan keterampilan berpikir kritis yaitu melakukan analisis statistik untuk menentukan apakah ada korelasi yang signifikan antara tingkat profesionalisme guru dan tingkat keterampilan berpikir kritis pada siswa. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung yaitu menganalisis pengaruh langsung . eperti metode pengajara. dan tidak langsung . isalnya, lingkungan kela. dari profesionalisme guru terhadap perkembangan keterampilan berpikir kritis. Mediasi dan Moderasi yaitu, memeriksa apakah ada faktor-faktor yang bertindak sebagai mediasi . emediasi hubungan antara profesionalisme guru dan keterampilan berpikir kriti. atau moderasi . emoderasi hubungan Pemodelan Jalur atau Path Analysis yaitu membangun model statistik yang menggambarkan hubungan antara variabel-variabel yang terlibat, seperti bagaimana profesionalisme guru mempengaruhi keterampilan berpikir kritis melalui berbagai faktor mediator, dan sintesis bahan pustaka. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Dalam menganalisis penelitian ini tentang peran profesionalisme guru dalam perkembangan keterampilan berpikir kritis anak-anak, biasanya digunakan kerangka kerja teoritis atau model konseptual yang membantu dalam memahami dan menganalisis data. Kerangka kerja atau model konseptual ini membantu dalam merancang dan menganalisis data, serta memahami hubungan antara profesionalisme guru dan perkembangan keterampilan berpikir kritis anak-anak dengan lebih komprehensif. Penelitian menekankan pentingnya peran guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, terutama dalam menyikapi berbagai kondisi lingkungan dan sosial. Guru juga memiliki peran penting dalam membimbing siswa mengenali potensi diri, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan keterampilan sosial, sehingga perannya sangat krusial dalam membimbing pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Peran Profesionalisme Guru Peran esensial guru yang profesional tak terbantahkan dalam membangun landasan bagi masa depan individu-individu. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar semata, tetapi juga sebagai pembimbing, pendorong semangat, serta fondasi pengetahuan bagi generasi berikutnya (Dewi. Jannah. Cantika. Aurora, & Amirah, 2. Profesionalisme guru tidak hanya tergantung pada pemahaman mendalam akan materi yang diajarkan, tetapi juga pada kemampuan untuk mengilhami, memotivasi, dan menciptakan lingkungan belajar yang menopang dan aman. Guru merencanakan pembelajaran secara hati-hati, mengadaptasi kurikulum yang menantang sesuai dengan kebutuhan siswa (Wahid. Muali, & Mutmainnah. Guru bukan sekedar mentransfer pengetahuan, profesionalisme guru tercermin dalam kesediaan untuk terus belajar, mengembangkan pengetahuan, dan mengikuti perkembangan terkini dalam bidang pendidikan, teknologi, dan psikologi anak. Seorang guru profesional memahami bahwa tiap siswa memiliki keunikan serta kebutuhan yang beragam, berupaya memahami siswa secara individual, serta menyesuaikan cara mengajar guna memastikan setiap siswa merasa diperhatikan, dimengerti, dan didukung. Keterlibatan guru tidak hanya terbatas pada lingkungan kelas. Guru yang profesional berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 mendukung pertumbuhan secara menyeluruh bagi anak-anak (Wijaya, 2. Guru menjadi panutan yang menginspirasi tidak hanya dalam hal pengetahuan, melainkan juga dalam halnilai seperti integritas, kerja keras, dan empati. Peran profesionalisme guru menjadi pondasi penting bagi masyarakat yang terbuka, inklusif, dan berbudaya, membimbing arah serta karakter anak-anak, membuka potensi yang belum terungkap. Peran ini bukan sekadar mengubah masa depan, tetapi juga membentuk sebuah dunia yang lebih baik (Siti Nurzannah, 2. Pembelajaran memiliki peran yang krusial dalam menjamin keberhasilan peran guru, sebab itu memastikan suasana belajar yang cocok bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran(Jannati. Ramadhan, & Rohimawan, 2. Tiga elemen kunci dalam pembelajaran adalah guru, siswa, dan materi ajar. Pembelajaran berfungsi sebagai sebuah sistem di mana ketiga elemen ini saling berinteraksi, saling terkait, dan bergantung satu sama Tanpa interaksi di antara mereka, proses pembelajaran tidak akan berjalan. Kolaborasi yang efektif antara elemen-elemen ini penting agar proses pembelajaran berjalan efisien dan efektif (Pane. Aprida dan Muhammad Darwis Dasopang. , 2. Peran guru sangat penting dalam membimbing, mendorong siswa, dan mendorong Kajian Pullias dan Young serta Yelon dan Weinstein yang dikutip oleh Imran Fauzi mengidentifikasi setidaknya ada 19 peran guru, sedangkan Imran Fauzi memaparkan 9 peran utama dalam proses pembelajaran: pendidik, guru, mentor, pelatih, penasehat, pencipta. pengemudi, pelaku, emansipator dan pengulas(Fauzi. Imron. , 2. Peran seorang guru mencakup berbagai aspek seperti sebagai korektor, motivator, organisator, penghasut, inisiator, pengawas, pembimbing, demonstran, ketua kelas, mediator, pengawas dan evaluator (Wandi. Zherly Nadia dan Nurhafizah. , 2. Guru juga berperan penting sebagai mesin komunitas pengajar, dimana mereka saling menyemangati untuk terus belajar guna meningkatkan kualitas pengajarannya (Sibagariang. Dahlia. Hotmaulina Sihotang, dan Erni Murniarti. , 2. Penjelasan peran-peran tersebut tidak disajikan secara menyeluruh di sini, fokus utama kami ada pada dua peran: sebagai motivator dan sebagai fasilitator. Sebagai motivator, guru adalah individu yang merencanakan, membimbing, dan mengevaluasi proses pembelajaran sebagai elemen penentu kesuksesan pendidikan. Hal ini menandakan bahwa guru memiliki peran yang penting dalam mencapai keberhasilan pembelajaran Pendidikan yang memenuhi JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 standar etika adalah pendidikan yang memprioritaskan tanggung jawabnya dalam pelaksanaannya (Wandi. Zherly Nadia dan Nurhafizah. , 2. Dalam masyarakat kita, peran guru memiliki tingkat penting yang strategis dalam membentuk moralitas generasi muda melalui penanaman dan pembiasaan nilai-nilai atau akhlak mulia pada peserta didik. Guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar yang mentransfer pengetahuan, karena tujuan pendidikan bukan hanya terbatas pada pengetahuan semata, tetapi juga dalam membentuk nilai-nilai dalam diri peserta didik (Wandi. Zherly Nadia dan Nurhafizah. , 2. Oleh karena itu, diharapkan agar individu tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, tetapi juga memiliki moralitas yang baik dan luhur. Hanya dengan penggabungan kedua aspek ini, yaitu pengetahuan dan akhlak, seseorang dapat dianggap sebagai insan kamil . ndividu yang Peran guru sebagai penggerak ini mengacu pada perannya sebagai pendidik dan Untuk mendorong semangat dan antusiasme belajar siswa, diperlukan tingkat motivasi yang tinggi. Motivasi ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi internal yang berasal dari dalam diri siswa dan motivasi eksternal yang berasal dari luar diri siswa. Fokus utama guru adalah membangkitkan motivasi eksternal ini (Siddiq. Umar. Guru dapat memberikan motivasi dengan memberikan dorongan kepada siswa melalui nasihat, kata-kata penuh semangat, pujian, dan sejenisnya. Mereka juga dapat memberikan tugas-tugas khusus yang mendorong siswa untuk belajar lebih dalam tentang materi yang sedang Setiap guru memiliki potensi dan metode dorongan yang dapat dikembangkan untuk membantu siswa mencapai tujuan tertentu. Peran supervisi dalam membantu para guru adalah memberikan dorongan atau stimulus agar mereka dapat terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan mengajar. Ini dapat dicapai melalui latihan, pengulangan, memperluas wawasan, dan, yang tak kalah penting, dukungan dari berbagai pihak terkait. Motivasi untuk terus berkembang dan memperbarui diri adalah inti dari fungsi supervisi pendidikan (Siddiq. Umar. Menstimulasi Kreativitas dan Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Anak. Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan fleksibilitas, keanggunan, dan keorisinilan dalam berpikir serta kemampuan untuk mengembangkan ide. Kreativitas adalah proses mental yang menghasilkan gagasan, proses, metode, atau produk baru yang efektif dan memiliki unsur imajinasi, estetika, fleksibilitas, integrasi, suksesi, diskontinuitas, dan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 diferensiasi yang berguna dalam berbagai bidang untuk memecahkan masalah (A. Kau. Murhima. , 2. Kreativitas mengacu pada kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, dengan menekankan aspek keaslian dan inovasi (Holis. Ade. , 2. Kreativitas pada anak usia dini dapat dikembangkan secara optimal apabila dirangsang dengan baik. Dalam hal ini guru atau orang tua berperan penting sebagai pembimbing atau pengawas yang mendorong berkembangnya kreativitas anak. Proses kreatif terjadi ketika suatu masalah muncul, yang mendorong lima perilaku kreatif yang dikemukakan oleh Parnes: . Kefasihan, yaitu kemampuan menghasilkan ide-ide serupa untuk memecahkan masalah. Fleksibilitas, yaitu kemampuan menghasilkan ide-ide yang berbeda untuk memecahkan masalah di luar cara berpikir konvensional. Orisinalitas, yaitu kemampuan memberikan jawaban yang unik atau luar biasa. Penyempurnaan . , yaitu kemampuan menjelaskan gagasan secara rinci sehingga gagasan tersebut menjadi kenyataan. Sensitivitas, yaitu kepekaan untuk mencegah dan menyikapi permasalahan dengan memberikan reaksi terhadap keadaan. Siswa harus mengembangkan berpikir kritis terbiasa menghadapi berbagai permasalahan di sekitarnya (Husnidar. Ikhsan. , & Rizal. , 2. Peran guru dalam mendorong pemikiran kritis anak adalah dengan menciptakan landasan yang kokoh bagi perkembangan intelektual anak. Guru membimbing anak-anak untuk memperoleh lebih dari sekadar pengetahuan, namun juga keterampilan yang memungkinkan mereka menganalisis, menyempurnakan, dan memahami dunia lebih dalam. Guru membimbing anak tidak hanya untuk menerima informasi, tetapi juga mengevaluasi dan menganalisisnya secara kritis. Mereka mengajarkan cara memilah informasi, mengevaluasi validitasnya dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda. Melalui diskusi kelompok dan kolaborasi, guru menciptakan lingkungan di mana anak-anak berbagi pemikiran mereka, merangsang pemikiran kritis mereka dan membuka ruang untuk mempertimbangkan perspektif yang berbeda. Guru yang mencontohkan berpikir kritis menginspirasi anak-anak. Keterampilan kritis yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang memberikan dasar untuk pemecahan masalah yang lebih efektif. Keterampilan berpikir merupakan hal mendasar bagi siswa dan memiliki dua fokus utama: keterampilan berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif. Guru dapat menggunakan kedua model pembelajaran tersebut dalam proses pembelajaran. Prinsip model pembelajaran berpikir kritis dan kreatif JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 adalah kesamaan dengan model inkuiri karena keduanya mendukung siswa untuk berlatih berpikir dan menyelesaikan masalah pribadi maupun sosial. Johnson . menawarkan etimologi Auberpikir kritisAy. erpikir kriti. menjelaskan, kata "kritik dan quot. dan "kritis" berasal dari "krinein andquot. " yang artinya Aumenghargai suatu nilai dan quot. Ay. Kritik adalah suatu kegiatan dimana seseorang menilai, mengevaluasi dan menilai nilai sesuatu. Berpikir kritis memerlukan beberapa hal: pertama, keterampilan kognitif. kedua, pengetahuan dan informasi. dan ketiga, dimensi afektif, yang semuanya ditekankan secara berbeda. Ennis . melihat berpikir kritis sebagai refleksi yang mencapai tujuan melalui keyakinan dan perilaku rasional. Dia mengidentifikasi lima elemen penting dari pemikiran kritis: "praktis, reflektif, rasional, dapat diandalkan, dan dapat Oleh karena itu, berpikir kritis merupakan refleksi rasional yang terfokus pada penentuan keyakinan atau tindakan. Pada saat yang sama. Lipman . menjelaskan berpikir kritis sebagai evaluasi tujuan, penilaian nilai, dan evaluasi pemikiran dan nilai. Berpikir kritis juga melibatkan pertimbangan pendapat yang diketahui. Berpikir kritis memicu lahirnya ide-ide baru, dan mempelajari berpikir kritis berkaitan dengan berpikir kreatif. Mempraktikkan berpikir kritis menghasilkan pembelajaran berpikir kreatif, karena langkah pertama dalam berpikir kritis adalah berpikir kreatif. Fase ini diperlukan sebagai prasyarat transisi menuju berpikir kritis, dimana siswa menghasilkan ide atau pemikiran baru, disebut juga dengan fase berpikir kreatif. Pada tahap kedua, siswa berpartisipasi dalam kriteria evaluasi atau akuntabilitas. Tahap ini dianggap sebagai fase berpikir kritis (Armstrong, 1. Aziz . menguraikan langkah-langkah yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan berpikir kritis siswa. Berikut lima langkah tersebut. Mulailah dengan berfokus pada mendorong siswa untuk memikirkan solusi terbaik terhadap suatu masalah, seperti menjaga kebersihan kelas. Menanyakan kepada siswa mengapa tidak ada upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah menerima jawaban siswa, guru melibatkan siswa lain untuk membantu pemikir solusi. Setelah itu guru mendorong siswa untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan masalah yang mungkin timbul pada saat menjawab pertanyaan sebelumnya. Siswa diminta menentukan langkah pertama dalam menyelesaikan tugas. Dalam situasi ini, siswa bereaksi dan mempertahankan pilihannya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Lima Langkah Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 menunjukkan upaya untuk memperluas, menerapkan, dan mempraktekkan berpikir kritis di kelas, khususnya dalam pengajaran dan pembelajaran. Penjelasan ini juga menunjukkan bahwa pendekatan inkuiri dan berpikir kritis dapat berkembang ketika guru menghargai keragaman pemikiran, termasuk sudut pandang yang berbeda dengan yang disampaikan guru, dan mendorong siswa untuk berpikir mandiri. Kesadaran para pendidik di sekolah saat ini masih terbatas dalam pengajaran terhadap kondisi dunia yang berkembang pesat, meskipun situasi tersebut memerlukan respon yang kritis. Oleh karena itu, pembelajaran dengan menerapkan berpikir kritis di kelas merupakan cara yang tepat untuk menjawab permasalahan tersebut. Wilen . menyatakan bahwa terdapat beberapa teori dan model pengajaran berpikir kritis yang mencakup pendekatan, strategi, perencanaan dan sikap siswa dalam berpikir kritis, seperti pendekatan metakognitif dalam pengajaran berpikir kritis pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial. Pendekatan ini dapat menjadi alternatif dalam mengajarkan berpikir kritis dan juga merupakan strategi untuk membantu siswa memperolehnya melalui bimbingan guru dan contoh dari guru dan siswa Berpikir kritis penting dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu: membedakan fakta dan nilai dalam suatu pendapat, menilai keandalan sumber, menentukan keakuratan faktual suatu pernyataan, membedakan yang penting dan tidak penting, mengidentifikasi penyimpangan , untuk mengidentifikasi asumsi yang tidak dinyatakan, mengidentifikasi pernyataan dan argumen yang tidak jelas, mengenali kesalahan dan inkonsistensi, membedakan antara pendapat yang valid dan tidak berdasar, serta mengevaluasi kekuatan argumen. Setiap orang mempunyai kemampuan berpikir. Berpikir merupakan sesuatu yang terjadi secara alami dalam semua bidang kehidupan, dari tingkat yang sederhana yang hanya memerlukan ingatan hingga tingkat yang lebih kompleks yang memerlukan refleksi. Berpikir kritis adalah proses terarah dan terfokus yang digunakan dalam aktivitas mental seperti pemecahan masalah, pengambilan keputusan, evaluasi, menganalisis asumsi dan melakukan Berpikir kritis adalah kemampuan merumuskan pendapat secara sistematis. Hal ini mencakup kemampuan untuk mengevaluasi pendapat yang berbeda, baik pendapat sendiri maupun pendapat orang lain (Hebert. , 2. Berpikir kritis adalah suatu proses aktif di mana seseorang dengan cermat mempertimbangkan konsep-konsep yang berbeda, mencari informasi yang relevan dan berpikir secara mandiri daripada hanya menerima informasi dari sumber eksternal John JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Dewey. Alec (Fisher. , 2. Tujuan berpikir kritis. adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam (Johnson. Elaine B. , 2. Tujuan berpikir kritis adalah untuk memastikan bahwa pemikiran kita benar dan valid mungkin (Faiz. Fahrudin. , 2. Keterampilan berpikir kritis memungkinkan siswa memecahkan masalah. tidak bisa belajar dengan baik jika tidak bisa berpikir kritis. Berpikir kritis sangat penting untuk kesuksesan dalam karir dan pendidikan tinggi. Pembahasan Keterampilan Berpikir Kritis Berpikir kritis adalah suatu proses mental yang melibatkan langkah-langkah uji, pertanyaan, hubungan, dan evaluasi terhadap suatu permasalahan (Pusparatri. , 2. Secara keseluruhan, berpikir kritis adalah kapasitas untuk menimbang informasi dari berbagai sumber, mengolahnya secara logis dan kreatif, menganalisisnya, serta mencapai suatu Berpikir kritis dalam matematika melibatkan analisis berbasis bukti untuk membuat keputusan dan menentukan kebenaran (Moon. , 2. Definisi berpikir kritis matematis menurut Glazer adalah kemampuan untuk menggunakan pengetahuan matematika, logika, dan strategi kognitif untuk mendemonstrasikan atau mengevaluasi situasi matematika secara Ciri-ciri individu yang berpikir kritis antara lain: . kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur suatu kasus atau masalah yang sedang dipertimbangkan, terutama alasan dan kesimpulan, . kemampuan mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi, . kemampuan menjelaskan dan menafsirkan pernyataan. dan ide, . kemampuan mengevaluasi berbagai jenis argumen, . kemampuan menyajikan argumen, . melakukan analisis dan evaluasi dalam proses pengambilan keputusan (Fisher. , 2. Keterampilan . permasalahan dalam model pembelajaran dan memberi makna pada setiap simbol tertentu, . kemampuan menelaah kajian model pembelajaran dan menciptakan pemahaman, . kemampuan mengenali kebermaknaan, yakni memahami makna. menafsirkan konsep, pernyataan tertentu dan mendeskripsikan bagian dari konsep tersebut, . kemampuan menjelaskan dan menyelidiki dasar konsep yang digunakan, . kemampuan merekonstruksi argumentasi untuk menyajikan suatu masalah atau pernyataan dalam bentuk lain yang mempunyai makna yang sama dan mengembangkan strategi alternatif untuk memecahkan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 masalah, . kemampuan membuat generalisasi dan mempertimbangkan hasil generalisasi, mengembangkan aturan umum dari informasi yang tersedia dan memastikan kebenaran hasil generalisasi (Maulana. , 2. Peran Guru Dalam Menstimulus Perkembangan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Keterampilan berpikir kritis menjadi pintu gerbang utama bagi seseorang dalam memahami dunia di sekitarnya secara menyeluruh dan dengan pendekatan yang mendalam dan analitis. Di tengah laju perubahan yang cepat, peran guru dalam membantu anak memperoleh dan memperkuat kemampuan. Guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga memberikan stimulus pertumbuhan berpikir anak. Di antara berbagai peran penting salah satu yang penting adalah dalam menstimulasi perkembangan kemampuan berpikir kritis Guru memainkan peran krusial ini dalam membangun landasan berpikir kritis sebagai Menciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan. Guru yang peduli akan kemampuan berpikir kritis membangun lingkungan kelas yang menyenangkan untuk mendorong tanya, diskusi, dan eksperimen. Memfasilitasi ruang di mana anak merasa nyaman untuk mengemukakan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan mengajukan argumen yang berbasis logika. Membimbing Proses Berpikir Analitis Melalui berbagai subjek dan topik, guru memandu siswa dalam memahami bagaimana memecah masalah, menganalisis informasi, dan mengevaluasi argumen, tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga mengajarkan bagaimana memprosesnya secara Mendorong Pertanyaan dan Kritisisme yang Sehat Guru membimbing anak untuk tidak menerima informasi begitu saja. Merangsang rasa ingin tahu, memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan yang menggali lebih dalam, serta memberikan alasan untuk pendapat dan keputusan. Memberikan Pemahaman Konteks Membantu siswa memahami konteks situasi adalah aspek penting dalam pengembangan berpikir kritis. Guru memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana informasi terkait dengan konteks yang lebih luas, membantu siswa memahami implikasi dan dampaknya. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Menyediakan Dukungan dan Sarana Guru tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga pemimpin yang memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya. Mengarahkan siswa untuk menggunakan buku, teknologi, dan sumber daya lainnya untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Menciptakan Pengalaman Belajar yang Diversifikasi Pengalaman yang beragam, guru membantu siswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Melalui studi kasus, perdebatan, atau proyek kolaboratif, mereka memperluas cakrawala berpikir anak. Menjadi Teladan Berpikir Kritis Guru yang mendedikasikan diri pada perkembangan berpikir kritis juga menunjukkan sikap yang kritis dalam pendekatan pembelajaran, menunjukkan bagaimana berpikir kritis digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Guru, pilar utama dalam dunia pendidikan, memiliki peran yang luar biasa dalam membimbing perkembangan kemampuan berpikir kritis anak-anak. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi pemandu yang mengarahkan anak-anak ke jalan pemikiran yang kritis, analitis, dan kreatif. Peran Guru Menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri Model pembelajaran adalah konsep yang menggambarkan secara konseptual cara terstruktur mengatur pengalaman belajar agar tujuan pembelajaran tercapai (Asyafah, 2. Memahami dan menerapkan model pembelajaran yang sesuai menjadi inti penting dalam menjalankan proses belajar-mengajar demi mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Penguasaan dan implementasi model pembelajaran yang tepat memegang peran krusial dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang berhasil memerlukan guru yang memiliki sikap yang tepat, kreativitas, kepribadian yang kuat, serta mampu menyesuaikan diri dengan tingkat pengalaman siswa(Septikasari & Frasandy, 2. Secara lebih luas, model pembelajaran yang berhasil melibatkan partisipasi aktif baik dari guru maupun siswa. Salah satu contoh model pembelajaran yang dipakai untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam pembelajaran kelas yang umumnya terpusat pada metode ceramah adalah model pembelajaran Model ini mendorong pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam proses eksplorasi, memungkinkan mereka lebih terlibat dan langsung terlibat dalam proses belajar. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Bagi guru, penerapan model pembelajaran merupakan langkah penting dalam melaksanakan pembelajaran di kelas (I Gusti Ayu Putri Sriwati, 2. Model pembelajaran mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Lebih dari sekedar strategi, metode atau prosedur pembelajaran, pemahaman dan penerapan model pembelajaran yang tepat sangat penting dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran yang efektif memerlukan pendekatan guru yang tepat, kreatif, personal dan mampu beradaptasi dengan tingkat pengalaman siswa. Partisipasi guru dan siswa merupakan kunci keberhasilan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi kebosanan siswa di kelas yang biasanya didominasi metode ceramah adalah model pembelajaran riset. Pembelajaran eksploratif merupakan metode pembelajaran yang meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis ketika mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan (Trianto, 2. Proses berpikir ini sering terjadi melalui dialog antara guru dan siswa. Dalam pembelajaran eksploratif, tugas siswa adalah meneliti suatu permasalahan atau menemukan jawaban atas pertanyaan dengan mengikuti prosedur yang terstruktur dan jelas. Dalam penelitian ini pembelajaran inkuiri mengacu pada serangkaian kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan sendiri jawaban atas permasalahan yang muncul, yang pada akhirnya membangun pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang dipelajari. Tujuan utama pendidikan inkuiri adalah membantu siswa mengembangkan disiplin intelektual dan kemampuan berpikir melalui pertanyaan, rasa ingin tahu, dan pencarian jawaban. Metode pengajaran ini berorientasi pada siswa, dimana siswa sangat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peran guru dalam model ini adalah sebagai pengajar yang tidak hanya memberikan informasi atau ceramah kepada siswa, namun lebih fokus dalam berpikir dan mengembangkan pemikiran kritis siswa. Guru tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan siswa, namun memberikan instruksi agar siswa sendiri yang memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut (Trianto, 2. Pendekatan inkuiri tidak hanya mengembangkan keterampilan intelektual, tetapi juga memungkinkan siswa mengembangkan potensi dan keterampilan emosionalnya. Penelitian merupakan suatu proses yang dimulai dengan merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis data, serta mencapai suatu JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Model pembelajaran inkuiri efektif dalam beberapa situasi: Pertama, ketika guru mengharapkan siswa menemukan jawaban atas masalah yang harus mereka pecahkan. Dalam survei, tujuan utamanya bukan hanya menguasai materi, tetapi menekankan Kedua, ketika materi yang akan diajarkan tidak hanya sekedar fakta atau konsep yang ada saja, namun juga memerlukan proses pembuktian. Ketiga, ketika proses pembelajaran diawali dengan rasa ingin tahu siswa, ketika memusatkan perhatian pada aspekaspek tertentu dalam belajar siswa: . Ketika guru bertemu dengan siswa yang pada umumnya mempunyai keinginan dan kemampuan berpikir yang seimbang. Jika jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran tidak terlalu banyak, guru dapat menanganinya dengan baik. Jika guru mempunyai waktu yang cukup untuk menerapkan pendekatan berorientasi Pembelajaran inkuiri mempunyai beberapa ciri yang dapat diterapkan guru dalam proses belajar mengajar. Ciri-ciri pembelajaran eksploratif adalah: . Mendorong siswa untuk aktif mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, dalam hal ini siswa menjadi fokus utama pembelajaran. Mentransfer tindakan siswa untuk mencari jawaban permasalahan diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri, sedangkan guru berperan sebagai pemrakarsa dan pemberi semangat belajar. mengembangkan kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis untuk memperkaya potensi intelektual siswa sebagai bagian dari proses mentalnya (Marheani. , 2. Pembelajaran berbasis inkuiri juga mencakup prinsip-prinsip yang menekankan pada perkembangan intelektual anak. Ada beberapa prinsip penting bagi guru dalam pembelajaran eksploratif: . Bertujuan untuk pengembangan kemampuan berpikir sebagai tujuan utama. Keberhasilan belajar tidak hanya ditandai dengan penguasaan materi, tetapi juga keaktifan siswa dalam mencari dan menemukan. Interaksi sebagai landasan belajar. Guru berpartisipasi dalam pengorganisasian komunikasi dan lingkungan pembelajaran, tidak hanya sebagai sumber informasi. Peran guru sebagai pembangkit pertanyaan. Pertanyaan guru mendorong siswa untuk berpikir. Belajar berpikir. Proses ini mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Prinsip transparansi. Belajar dengan menjelajahi pilihan. Pendekatan ini mendukung penelitian kreatif dalam peran guru dalam mendorong pemikiran kritis anak, menciptakan ruang penelitian mendalam dan berpikir kreatif dalam pembelajaran. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 KESIMPULAN Tugas guru tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, tetapi mengarahkan siswa untuk memahami secara kritis, mengevaluasi dan menganalisis informasi. Peran penting guru adalah membantu siswa bersiap menghadapi tantangan masa depan yang kompleks. Dalam pembelajaran, siswa belajar tentang alam dan lingkungan sosial untuk memahami realitas dan berbagai permasalahan dan fenomena sosial. Dengan bantuan pembelajaran eksploratif, siswa dapat dibentuk menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Guru menggunakan pendekatan IPS bertujuan untuk menghasilkan fakta, konsep, generalisasi, dan teori. Model pembelajaran inkuiri menekankan pentingnya berpikir kritis dan analitis, mendorong siswa untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya. Dialog tanya jawab antara guru dan siswa memperkuat proses berpikir itu sendiri. Dengan pendekatan ini, siswa dalam kelompok pembelajaran eksploratif dapat mengeksplorasi pertanyaan atau menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Ide-ide baru dihasilkan melalui berpikir kritis. Tahap awal berpikir kritis dimulai ketika siswa mengkomunikasikan gagasan atau gagasan baru. Hal ini mencakup penilaian berdasarkan kriteria akuntabilitas. Tahap kedua disebut berpikir kritis, menekankan pentingnya evaluasi dan penilaian berdasarkan kriteria yang jelas. Keberhasilan pembelajaran inkuiri dan berpikir kritis dicapai ketika guru menghargai pemikiran divergen dan mendorong siswa untuk berpikir mandiri. Peran guru dalam merangsang kemampuan berpikir kritis anak merupakan suatu proses yang mendasari pertumbuhan intelektual yang memungkinkan anak kemampuan menganalisis dan menyaring serta berkembang menjadi pribadi yang lebih cerdas dan berpikiran terbuka. Usulan penelitian tambahan mencakup identifikasi strategi khusus yang dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan untuk meningkatkan efek positif guru terhadap pengembangan berpikir kritis siswa, yang memerlukan kerja sama guru, administrator sekolah, dan pakar pendidikan dalam pengembangan kemampuan khusus. program yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan profesional guru dalam pembelajaran berpikir kritis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan solusi praktis yang dapat diterapkan di tingkat sekolah atau bahkan pada kebijakan Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 2 . , 2023. Page 111-132 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 pendidikan dalam mengembangkan pemikiran kritis pada anak yang bersiap menghadapi tuntutan masa depan yang kompleks dan dinamis. DAFTAR PUSTAKA