Journal Genta Mulia Volume 15. Number 2, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm IMPLEMENTASI PENGGUNAAN BAHASA JAWA KRAMA INGGIL DALAM MENANAMKAN NILAI KESOPANAN DI SD NEGERI PURWOYOSO 04 SEMARANG Devita Ummul Musyarofah*1 . Yuni Nur Cahyani2. Rezza Sari Febriani3. Juninta Natasya Rahmawati4 . Intan Nur Aini5 12345Universitas Negeri Semarang. Jawa Tengah * Corresponding Author: devitaummul877@students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam menanamkan nilai kesopanan di SD Negeri Purwoyoso 04 Semarang. Latar belakang penelitian ini didasari oleh fenomena menurunnya penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil di kalangan siswa, yang berdampak pada rendahnya kesadaran terhadap unggahungguh atau tata krama dalam berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif, pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bahasa Jawa Krama Inggil dapat mempengaruhi karakter siswa terutama dalam hal kesantunan. Namun, ada sejumlah hambatan dalam realisasinya, yang berasal dari minat dan gaya belajar anak itu sendiri serta faktor eksternal seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat. Untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya pemanfaatan Bahasa Jawa Krama Inggil sebagai upaya melestarikan budaya dan menanamkan cita-cita luhur dalam pendidikan dasar, maka guru, orang tua, dan masyarakat luas harus saling bahu membahu. Kata Kunci: bahasa jawa krama inggil, kesopanan, siswa Abstract This study aims to determine the implementation of the use of Javanese Krama Inggil in instilling politeness values in Purwoyoso 04 Elementary School. Semarang. The background of this study is based on the phenomenon of the decreasing use of Javanese Krama Inggil among students, which has an impact on low awareness of manners or etiquette in communication. This study uses a descriptive qualitative methodology, data collection through questionnaires, interviews, documentation, and observation. The results of the study indicate that the application of Javanese Krama Inggil can influence students' character, especially in terms of politeness. However, there are a number of obstacles in its realization, which come from the interests and learning styles of the children themselves as well as external factors such as family, school, and society. To re-increase awareness of the importance of using Javanese Krama Inggil as an effort to preserve culture and instill noble ideals in basic education, teachers, parents, and the wider community must work together. Keywords: Javanese krama language, politeness, students. PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha yang sistematis dan terarah untuk menyediakan iklim dan proses belajar yang memungkinkan peserta didik secara aktif membentuk dirinya untuk memperoleh kekuatan rohani keagamaan, pengendalian diri, karakter, kecerdasan, moral yang baik, serta kemampuan yang dibutuhkan dirinya dan Masyarakat (Rahman et al. , 2. Proses pendidikan dapat berlangsung di berbagai tempat, seperti di sekolah, lingkungan masyarakat, maupun dalam keluarga dan yang terpenting adalah bagaimana pendidikan tersebut diberikan atau diperoleh secara tepat dan benar agar manusia terhindar dari pengaruh negatif dalam kehidupan. Pendidikan memegang peranan krusial dalam Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . memajukan suatu bangsa. Dengan pendidikan, dapat dibentuk sumber daya manusia yang unggul dan berkontribusi terhadap pembangunan negara. Pendidikan Bahasa Jawa merupakan bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat Jawa dalam kehidupan seharihari. Tujuan utama dari pembelajaran bahasa ini adalah untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik, khususnya dalam aspek kesopanan. Dengan demikian, tradisi masyarakat Jawa dapat tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, pengajaran budaya dalam Bahasa Jawa, terutama terkait etika berkomunikasi yang santun, menjadi hal yang sangat penting untuk diberikan kepada peserta didik. (Choirun Nisa et. Menurut (Khubni Maghfirotun et. al, 2. Guru memiliki peranan yang signifikan dalam mengenalkan bahasa krama alus kepada peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa krama yang sesuai perlu diberikan di lingkungan sekolah melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembelajaran bahasa krama tidak hanya difokuskan pada penguasaan kosakata, tetapi juga pada pemahaman nilai-nilai sopan santun, tata krama, serta etika berkomunikasi yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, peserta didik dapat lebih mudah memahami makna dan fungsi penggunaan bahasa krama dalam kehidupan sosial, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa dan budaya daerahnya. Menurut (Bhakti, 2. Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang menjunjung tinggi filosofi tumata, yakni prinsip menempatkan lawan bicara secara tepat berdasarkan kedudukan Bahasa ini syarat dengan nilai-nilai budaya luhur masyarakat Jawa, sehingga memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan orang Jawa. Akibatnya, banyak orang menjadi enggan untuk mempelajari bahasa Jawa dan bahkan menganggapnya sebagai bahasa yang terlalu kompleks, kurang praktis, serta tidak relevan dengan perkembangan Dalam penelitiannya (Masithoh, 2. menyatakan bahwa Bahasa Jawa terdiri atas tiga tingkatan, yaitu ngoko, krama madya, dan krama inggil. Ketiga tingkatan ini tercermin melalui perbedaan penggunaan kata benda, kata kerja, dan kata sifat yang mencerminkan nilai-nilai kesopanan serta penghormatan terhadap orang yang lebih tua, yang dikenal dengan sebutan unggah-ungguh dalam budaya Jawa. Bahasa Jawa krama inggil digunakan dalam situasi komunikasi dengan orang yang tidak akrab atau memiliki kedudukan sosial lebih tinggi. Oleh karena itu, bahasa krama inggil memiliki nuansa kesantunan yang tinggi. Kesalahan dalam pemilihan kosakata saat menggunakan krama inggil dapat menimbulkan kesan tidak sopan atau kurang menghormati lawan bicara. Dalam dunia pendidikan, khususnya di jenjang Sekolah Dasar, penggunaan bahasa Jawa masih tetap ada dan digunakan oleh peserta didik. Namun demikian, sebagian besar peserta didik cenderung menggunakan bahasa ngoko. Bahkan tidak jarang bahasa ngoko digunakan oleh peserta didik saat berbicara kepada guru. Padahal bahasa ngoko merupakan ragam tutur paling rendah dalam bahasa Jawa yang seharusnya hanya digunakan saat berkomunikasi dengan teman sebaya atau orang yang setara secara sosial. Kondisi ini cukup memprihatinkan karena banyak peserta didik saat ini hanya memahami dan terbiasa memakai bahasa ngoko. Meskipun, dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan-tingkatan tutur yang penting untuk dipahami dan dikuasai guna menjaga kesantunan dalam berbahasa. Penggunaan bahasa ngoko oleh peserta didik kepada guru menunjukkan perlunya penanaman kembali pemahaman tentang adab bertutur yang sesuai dalam konteks budaya Jawa. Dalam budaya Jawa, penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan norma kesopanan, seperti berbicara dengan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati terutama guru dianggap tidak pantas. Seharusnya, dalam situasi seperti itu digunakanlah bahasa Jawa krama inggil sebagai bentuk penghormatan. Namun, karena banyak peserta didik belum menguasai krama inggil, mereka cenderung beralih menggunakan bahasa P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 159 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . Indonesia agar tetap terdengar sopan. Dalam kondisi seperti ini, guru sebaiknya tidak membiarkan kebiasaan tersebut berlanjut, melainkan memberikan teguran sekaligus membimbing peserta didik untuk menggunakan bahasa Jawa krama inggil secara tepat. Dengan demikian, peserta didik akan terbiasa dan kemampuan mereka dalam bertutur dengan bahasa tersebut akan meningkat. Penurunan penggunaan bahasa Jawa krama inggil saat ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada guru, karena hal tersebut juga merupakan tanggung jawab bersama, termasuk orang tua. Karena itu, membiasakan anak menggunakan bahasa Jawa krama inggil perlu dilakukan sejak dini. Keluarga memiliki peran krusial dalam memperkenalkan dan menanamkan penggunaan bahasa ini kepada anak-anak. Apabila hal ini terus diabaikan, tidak menutup kemungkinan bahasa Jawa akan menghadapi kepunahan dalam beberapa dekade mendatang. (Nida, 2. Di era modern seperti sekarang, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan perangkat digital daripada dengan orang tua mereka. Sebagian besar konten maupun permainan yang mereka akses disajikan dalam bahasa Indonesia. Hal ini Secara tidak langsung, kondisi ini menyebabkan anak-anak menjadi lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa. Bahkan, tak jarang ditemukan balita yang senantiasa berbicara dalam bahasa Indonesia, meskipun anggota keluarganya di rumah sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Jawa. (Janeko et al. , 2. Saat peneliti melakukan observasi dan wawancara dalam pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar, masih banyak peserta didik yang berbicara kepada guru menggunakan bahasa Jawa ngoko, atau bahkan lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan mereka. Penggunaan bahasa Jawa dalam lingkungan pendidikan memiliki peran yang signifikan, terutama dalam mendukung pengembangan potensi peserta didik di bidang Banyak orang tua menyuarakan kekhawatiran terhadap menurunnya sikap sopan santun di kalangan pelajar saat ini. Hal ini tidak lepas dari kecenderungan peserta didik yang lebih gemar mengakses media sosial, meskipun tidak semua kontennya mencerminkan nilainilai karakter yang sesuai dengan budaya Jawa. Bahkan, sebagian besar tayangan justru dapat berdampak negatif terhadap pembentukan karakter, terutama dalam hal kesopanan. Banyak peserta didik juga belum terampil dalam menggunakan Bahasa Jawa krama inggil, sehingga mendorong para orang tua untuk mendesak pihak sekolah agar mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Jawa ke dalam kebiasaan-kebiasaan sehari-hari di sekolah. (Nihmah et , 2. Pemberdayaan pembelajaran Bahasa Jawa perlu dimaksimalkan sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya bangsa yang sangat berharga. Pembelajaran Bahasa Jawa sejatinya dapat menjadi sarana dalam membentuk karakter dan budi pekerti, terutama melalui penerapan nilai unggah-ungguh dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bahasa Jawa juga memiliki peran penting dalam membangun karakter dan moral bangsa. Sejalan dengan hal tersebut, pendidikan karakter yang efektif harus mencakup beberapa aspek, antara lain perencanaan yang matang, kualitas proses pembelajaran yang baik, dukungan lingkungan belajar yang kondusif, serta keterlibatan masyarakat. Model pendidikan karakter ini dapat diwujudkan melalui berbagai cara, seperti kegiatan pembelajaran di kelas, penguatan budaya sekolah, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, serta dukungan dan partisipasi dari masyarakat (Firmansah et al. , 2. Menurut (Natanti et al. , 2. Sopan santun merupakan aturan hidup yang terbentuk dari interaksi sosial dalam suatu kelompok masyarakat dan dipandang sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari di lingkungan tersebut. Sopan santun menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial setiap individu, karena melalui perilaku inilah seseorang dapat diterima, dihargai, dan disenangi dalam lingkungan Dalam penelitian (Nur Huda, 2. menjelaskan karakter seseorang sangat berkaitan dengan bagaimana ia berinteraksi secara sosial, terutama dalam hubungan antar manusia. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 160 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . Selain tercermin melalui bahasa tubuh, karakter juga tampak jelas dalam cara seseorang berkomunikasi secara lisan. Bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu cerminan karakter tersebut. Namun, masih banyak anak-anak yang kesulitan membedakan cara berbicara kepada orang yang lebih tua dengan berbicara kepada teman Di masyarakat Jawa, semakin sedikit anak-anak yang dapat menggunakan bahasa Jawa krama dengan baik ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Fenomena ini mencerminkan semakin besarnya jarak antara generasi muda dengan nilai-nilai luhur serta kearifan lokal budaya Jawa. Padahal, bahasa Jawa mengandung nilai-nilai etika dan tata krama, yang dikenal dengan sebutan unggah-ungguh. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat penting bagi generasi muda untuk mampu mengenali, membedakan, dan menerapkan bentuk bahasa yang sesuai, tergantung pada lawan bicaranya. Kemampuan ini melatih anak untuk berpikir sebelum berbicara dan bertindak dengan Berdasarkan hasil observasi, mayoritas peserta didik sudah memahami tingkatan tutur bahasa Jawa, namun mereka masih menghadapi kesulitan saat mengaplikasikannya. Kondisi ini mendorong peneliti untuk melaksanakan penelitian yang berjudul "Implementasi Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Menanamkan Nilai Kesopanan di SD Negeri Purwoyoso 04 Semarang dengan rumusan masalah yaitu . Bagaimana Implementasi Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Menanamkan Nilai Kesopanan pada Siswa . Apa saja Kendala Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Menanamkan Nilai Kesopanan pada Siswa . Bagaimana Pengaruh Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Membentuk Sikap Sopan Santun pada Siswa. Maka penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui nilai karakter sopan santun dalam pembiasaan berbahasa jawa krama inggil di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan data deskriptif, yang diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan. Selanjutnya, data tersebut dikumpulkan, diolah, dan dianalisis secara mendalam. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Purwoyoso 04 Kota Semarang. Dimana dalam penelitian ini untuk mengetahui unsur-unsur bahasa krama dalam pembelajaran Bahasa Jawa krama inggil dalam menanamkan nilai kesopanan di lingkungan sekolah. Subjek penelitian yakni guru wali kelas 3 dan peserta didik. Jumlah informan pada penelitian ini 1 guru wali kelas 3 dan 24 peserta didik. Sumber data dari penelitian ini yakni guru wali kelas 3 dan peserta didik di SD Negeri Purwoyoso 4. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi: teknik observasi, wawancara, angket, dan HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Menanamkan Nilai Kesopanan pada Siswa Bahasa jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari oleh masyarakat jawa. Bahasa jawa juga digunakan dalam pembentukan karakter dan moral masyarakat jawa, terutama terhadap peserta didik yang masih dalam usia dini. Salah satu karakter yang dibentuk dalam penggunaan bahasa jawa krama adalah karakter kesopanan, dimana dalam bahasa jawa krama ini dikategorikan sebagai bahasa yang amat sangat santun untuk diucapkan. Perilaku sopan santun merupakan unsur penting dalam kehidupan bersosialisasi sehari-hari setiap orang, karena dengan menunjukkan sikap sopan santun seseorang bisa dihargai dan disenangi dengan keberadaannya sebagai makhluk sosial (Natanti et al. , 2. Peserta didik di tingkat sekolah dasar perlu P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 161 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . mempelajari Bahasa Jawa Krama sebagai bekal berkomunikasi dengan orang yang lebih tua maupun dengan masyarakat di lingkungan sekitar Pengimplementasian Bahasa krama pada peserta didik kelas 3 di SD Negeri Purwoyoso 04 Kota Semarang yakni dengan menyisipkan unsur-unsur bahasa krama dalam pembelajaran Bahasa Jawa yang dilaksanakan setiap hari Kamis. Pada KBM. Guru memperkenalkan bentuk-bentuk dasar krama inggil, seperti kosa kata sederhana yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya kata makan . , minum. , mandi . , dan sejenisnya. Guru Bahasa Jawa berupaya membiasakan peserta didik menggunakan Bahasa Krama melalui metode pembiasaan atau keteladanan, yaitu dengan menerapkan langsung serta memberikan contoh kepada peserta didik, baik di dalam pembelajaran maupun dalam interaksi sehari-hari. Selain itu, guru menyampaikan bahwa bentuk bahasa krama yang diajarkan masih terbatas pada kosakata dasar yang umum dan mudah dipahami, belum sampai pada penggunaan kalimat utuh atau bentuk krama inggil yang lebih tinggi tingkatannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar peserta didik terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari di rumah, sehingga kurang akrab dengan bentuk Bahasa Jawa yang lebih Untuk mengatasi hal tersebut, guru mengenalkan kosakata secara bertahap melalui contoh kalimat sederhana seperti mripat . dan soco . , yang kemudian dikembangkan menjadi kalimat seperti Ausimbah loro mripateAy atau Ausimbah gerah soconeAydalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Meskipun Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan, namun Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena menjadi bagian penting dari jati diri dan budaya masyarakat Jawa ucap guru kelas. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru menggunakan perpaduan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa agar materi lebih mudah dipahami oleh siswa. Misalnya, saat menjelaskan kosakata turu, akan disampaikan pula bahwa bentuk krama-nya adalah sare. Pendekatan ini dilakukan untuk membantu siswa memahami tingkatan dalam Bahasa Jawa dengan cara yang mudah dipahami dan tidak membingungkan, serta membiasakan mereka untuk berbahasa sopan kepada orang yang lebih tua dalam kehidupan sehari-hari. Kendala Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Menanamkan Nilai Kesopanan pada Siswa Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Dalam konteks budaya Jawa, penggunaan bahasa Krama Inggil merupakan salah satu bentuk penghormatan yang sarat dengan nilai kesopanan, tata krama, dan etika sosial. Bahasa ini diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari pembentukan karakter dan identitas Namun, di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, penggunaan bahasa Jawa Krama Inggil mulai mengalami kemunduran, terutama di kalangan generasi muda. Generasi muda kurang produktif dalam menggunakan Bahasa Jawa terutama ragam krama inggil. Kesalahan penggunaan ragam krama alus oleh generasi muda disebabkan oleh kurangnya penguasaan terhadap tingkat tutur bahasa Jawa (Satiti, 2. Akibatnya, penggunaannya menjadi jarang di kalangan pemuda. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan, khususnya dalam upaya menanamkan nilai-nilai kesopanan kepada siswa melalui bahasa. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal diharapkan mampu menjadi wadah pelestarian bahasa daerah, namun dalam praktiknya, terdapat berbagai kendala yang menghambat proses tersebut. Kendala yang ada disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 162 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . Faktor internal adalah faktor dari diri sendiri. Kendala yang merupakan faktor internal yaitu . Daya ingat. Bahasa Jawa, terutama pada tingkatan Krama Inggil, memiliki struktur dan kosakata yang rumit serta berbeda jauh dari bahasa sehari-hari yang digunakan anak-anak. Biasanya siswa menggunakan bahasa Jawa Ngoko atau campuran dengan bahasa Indonesia. Kemampuan menghafal siswa cenderung sulit menyimpan dan mengingat padanan kata dalam Krama Inggil. Misalnya, mereka lebih mudah mengingat kata AumanganAy (Ngok. daripada AudaharAy (Krama Inggi. , karena yang pertama lebih sering digunakan dalam lingkungan keluarga atau bermain. Kebiasaan belajar atau rutinitas. Kebiasaan belajar atau rutinitas menjadi faktor internal karena jika siswa tidak terbiasa mempelajari dan menggunakan bahasa Jawa terutama Krama Inggil dalam kegiatan sehari-hari, maka kemampuan siswa akan sulit berkembang. Tanpa latihan rutin atau pembiasaan, bahasa tersebut tidak akan tertanam kuat sehingga penerapannya di sekolah menjadi rendah. Minat. Minat berpengaruh karena apabila siswa tidak tertarik atau merasa bahasa Jawa kurang menarik, siswa cenderung malas belajar dan enggan menggunakannya. Kurangnya ketertarikan membuat proses pembelajaran tidak maksimal, sehingga penerapan bahasa Jawa di sekolah menjadi Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri manusia. Kendala yang merupakan faktor eksternal yaitu . Faktor keluarga. Keluarga menjadi faktor eksternal karena lingkungan rumah sangat berpengaruh terhadap kebiasaan berbahasa anak. Jika orang tua jarang menggunakan bahasa Jawa terutama Krama Inggil dalam komunikasi sehari-hari, maka anak tidak terbiasa mendengar dan anak tidak terbiasa berbahasa sopan sesuai norma Jawa, sehingga nilai kesopanan sulit ditanamkan melalui bahasa tersebut di . Faktor sekolah. Sekolah menjadi faktor eksternal karena berperan sebagai tempat formal dalam pembelajaran bahasa. Jika sekolah tidak memberikan porsi yang cukup, tidak menerapkan pembiasaan atau kurang mendukung penggunaan bahasa Jawa dalam kegiatan sehari-hari, maka siswa tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk belajar dan mempraktikkannya, sehingga penerapan bahasa Jawa dan penanaman nilai kesopanan menjadi rendah. Faktor masyarakat. Masyarakat menjadi faktor eksternal karena lingkungan sekitar mempengaruhi pola bahasa anak. Jika masyarakat lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa campuran dalam interaksi sehari-hari, maka anak akan jarang terpapar bahasa Jawa, terutama Krama Inggil. Akibatnya, siswa tidak terbiasa dan kurang termotivasi untuk menerapkannya di sekolah. Pengaruh Penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam Membentuk Sikap Sopan Santun pada Siswa Gambar 1. Hasil Angket Siswa P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 163 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . Bahasa jawa memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi yang mencerminkan sikap sopan santun saat berkomunikasi. Salah satu bentuk bahasa jawa yang menekankan nilai sopan santun adalah krama inggil. Penggunaan bahasa jawa krama inggil memiliki pengaruh besar dalam membentuk sikap sopan dan santun pada siswa SD Negeri Purwoyoso 04. Pembentukan sikap sopan santun melalui bahasa di SD Negeri purwoyoso 04 dilakukan melalui pembiasaan penggunaan bahasa jawa krama inggil dalam kegiatan pembelajaran bahasa jawa. Dalam proses kegiatan pembelajaran, guru memberikan contoh penggunaan bahasa jawa krama inggil secara sopan santun, seperti menyapa dan memberi dalam, bertanya serta menjawab pertanyaan. Dengan pembiasaan tersebut, siswa didorong untuk terbiasa menggunakan bahasa jawa krama inggil dalam berkomunikasi baik didalam dan maupun diluar kelas. Melalui pembiasaan tersebut, siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga membentuk karakter agar menjadi individu yang sopan santun serta menghargai orang Menurut Mahla dalam (Kirom et al. , 2. Penerapan bahasa Jawa Krama yang baik dilakukan melalui pembiasaan, keteladan serta pemberian contoh yang baik, serta dapat disisipkan dalam interaksi sehari-hari, seperti saat memanggil atau menasihati, agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik Penggunaan bahasa jawa krama inggil di SD Negeri purwoyoso 04 dalam pembelajaran bahasa jawa memberikan dampak positif dalam membentuk sikap sopan santun pada siswa. Hal ini tercermin dalam berbagai kebiasaan positif siswa, seperti menyapa guru dengan mengucap Ausugeng enjing pak/buAy saat bertemu guru, menggunakan bahasa krama inggil dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru dan temannya, serta mengucapkan Aunyuwun sewuAy saat lewat didepan guru atau orang yang lebih tua. Selain itu siswa juga terbiasa mengucapkan kata Aumatur nuwunAy menerima diberi bantuan guru dan teman. Dengan pembiasaan tersebut penggunaan bahasa jawa krama inggil bukan hanya menjadi keterampilan berbahasa siswa, melainkan menjadi media dalam pembentukan sikap sopan santun dalam kehidupan sehari hari. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang implementasi penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil dalam mengajarkan nilai-nilai kesantunan kepada siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa ini mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter siswa, terutama dalam pembentukan sikap kesantunan. Bahasa Jawa Krama Inggil tidak sekadar menjadi media komunikasi, melainkan juga berperan penting dalam menjaga kelestarian nilai-nilai budaya serta norma etika masyarakat Jawa. Di SD Negeri Purwoyoso 04, terdapat upaya internalisasi nilai-nilai kesantunan yang dilakukan melalui praktik penggunaan bahasa Jawa Krama Inggil dalam proses pembelajaran, meskipun masih berupa pengenalan kata-kata Kendala dalam proses ini berasal dari sumber internal seperti daya ingat, disposisi belajar, dan minat siswa, serta sumber eksternal seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan Namun, latihan yang berulang-ulang dan pendekatan yang benar oleh guru dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku santun siswa, seperti dalam penggunaan salam, permintaan maaf, dan ucapan terima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Saran Dengan adanya temuan tersebut, maka disarankan untuk menciptakan dan meningkatkan pembelajaran bahasa Jawa Krama Inggil tidak hanya pada kosakata dasar saja tetapi juga meliputi pembentukan kalimat dan penerapannya dalam konteks yang lebih luas. Pihak sekolah hendaknya meningkatkan peran aktif guru dalam memberikan contoh dan P-ISSN: 2301-6671. E-ISSN :2580=6416 | 164 Devita Ummul Musyarofah1,Implementasi penggunaan Bahasa JawaA Jurnal Genta Mulia . menciptakan situasi belajar yang menyenangkan sehingga siswa lebih bersemangat dalam mempelajari bahasa Jawa Krama Inggil. Selain itu, diperlukan dukungan dari lingkungan keluarga dan masyarakat agar tercipta kebiasaan berbahasa yang berkelanjutan. Hubungan kerja sama yang terintegrasi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar diharapkan mampu memperkuat penerapan nilai-nilai kesantunan dalam bentuk bahasa Jawa Krama Inggil sehingga tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga melahirkan generasi muda yang beretika dan berkarakter. DAFTAR PUSTAKA