Ficky Dewi Ixfina At-TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol. 1 No. Maret 2024 Hal : 25-38 Harmoni Kebhinekaan: Peran Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan Islam Ficky Dewi Ixfina Institut Al Fithrah. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Surabaya. Indonesia e-mail: vixfina@gmail. ABSTRACT This research discusses the role of religious moderation in promoting harmony in diversity within Islamic Educational Institutions, focusing on MI Al Fithrah Surabaya. Amidst Indonesia's rich cultural and religious diversity, harmony in diversity is crucial for maintaining social stability and national progress. However, challenges such as intolerance, inter-religious conflicts, and radicalism underscore the need for a holistic approach in managing diversity. The study employed a qualitative descriptive research method, collecting data through in-depth interviews, participant observation, and documentary studies. Data analysis involved data reduction, data display, and conclusion The study found that Islamic educational institutions, particularly at the elementary level, play a significant role in shaping the character and moderate values of the younger generation. MI Al Fithrah Surabaya demonstrates dedication in implementing religious moderation values through experiential learning, collaborative dialogue, and practical approaches in every lesson. However, challenges such as the diversity of students from various regions highlight the need for adequate approaches to promote harmony in diversity within schools. Furthermore, the research provides a profound understanding of religious moderation practices in Islamic educational institutions and lays the groundwork for the development of more effective policies and intervention programs to maintain harmony in diversity in Indonesia. Keywords: diversity, religious moderation ABSTRAK Penelitian ini membahas peran moderasi beragama dalam mempromosikan harmoni kebinekaan di Lembaga Pendidikan Islam, dengan fokus pada MI Al Fithrah Surabaya. tengah kekayaan keberagaman budaya dan agama Indonesia, harmoni kebinekaan menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sosial dan kemajuan bangsa. Namun, tantangan seperti intoleransi, konflik antaragama, dan radikalisme menyoroti perlunya pendekatan holistik dalam mengelola keberagaman. Pada penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif deskriftif dengan pengumpulan data berupa, wawancara mendalam, observasi partisipan, studi dokumtasi. Analisis tada berupa, reduksi data, sajian data dan penarikan Studi ini menemukan bahwa lembaga pendidikan Islam, khususnya di tingkat dasar, memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai moderat pada generasi muda. MI Al Fithrah Surabaya menunjukkan dedikasi dalam menerapkan nilainilai moderasi beragama melalui pembelajaran berbasis pengalaman, dialog kolaboratif, dan pendekatan praktis dalam setiap pelajaran. Namun, tantangan seperti keberagaman siswa yang berasal dari berbagai daerah menyoroti perlunya pendekatan yang memadai dalam mempromosikan harmoni kebinekaan di sekolah. Hasil penelitian ini juga memberikan pemahaman yang mendalam tentang praktik moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam dan menyediakan landasan bagi pengembangan kebijakan dan program intervensi yang lebih efektif dalam menjaga harmoni kebinekaan di Indonesia. Kata Kunci: kebinekaan, moderasi beragama Hal 25 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina PENDAHULUAN Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan agama, mengalami sebuah kesatuan yang menakjubkan dalam keberagaman. Keragaman ini menciptakan keselarasan dalam praktik keagamaan yang moderat dan sikap toleransi dalam masyarakat yang majemuk. Dalam situasi ini, keselarasan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan gaya hidup sehari-hari yang menunjukkan bagaimana berbagai nuansa keberagaman bersatu membentuk sebuah harmoni yang indah. Indonesia, sebagai sebuah negara yang kaya akan keberagaman budaya dan agama, mampu menciptakan sebuah keselarasan yang menakjubkan di tengah perbedaan-perbedaan tersebut. Keragaman ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga membentuk sebuah harmoni yang indah di antara masyarakatnya. Hal ini tercermin dalam praktik keagamaan yang moderat dan sikap toleransi yang dijunjung tinggi, sehingga menciptakan suatu atmosfer yang memungkinkan berbagai nuansa keberagaman untuk bersatu dalam sebuah kesatuan yang kokoh dan damai. Pada konteks ini, harmoni kebinekaan menjadi sebuah tujuan yang sangat diinginkan untuk memastikan stabilitas dan kemajuan social (Dewi Ixfina et al. , 2. Namun, dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia juga telah menjadi saksi dari tantangantantangan yang muncul dalam menjaga harmoni kebinekaan. Isu-isu seperti intoleransi, konflik antaragama, dan radikalisme telah mengancam kerukunan sosial yang telah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Hal ini menyoroti perlunya sebuah pendekatan yang holistik dan inklusif dalam menangani isu-isu keberagaman di Indonesia (Muntaha & Wekke, 2. Konflik antaragama juga menjadi dampak dari ketegangan dan persaingan politik, dan bisa berdampak buruk pada stabilitas sosial serta hubungan antarwarga. Di samping itu, radikalisme agama juga menjadi perhatian utama, karena potensinya merusak harmoni kebinekaan dan mengancam stabilitas nasional dengan adopsi ideologi ekstrem dan tindakan radikal untuk mencapai tujuan mereka. Dengan data-data empiris dari berbagai sumber, tantangan-tantangan ini menjadi lebih jelas, memberikan dasar yang kuat untuk merancang kebijakan dan program intervensi yang tepat guna guna menjaga harmoni kebinekaan di Indonesia. Di Indonesia, terdapat beberapa kasus nyata yang mencerminkan tantangan dalam menjaga harmoni kebinekaan, antara lain, penolakan pembangunan tempat ibadah oleh kelompok agama minoritas, serangan terhadap rumah ibadah, atau tindakan diskriminatif terhadap individu berdasarkan keyakinan agama. Kemudian Konflik Antaragama di Maluku dan Poso merupakan contoh nyata dari ketegangan antaragama di Indonesia. Konflik ini terjadi antara kelompok Kristen dan Muslim dan mengakibatkan ribuan korban jiwa serta kerusakan yang luas pada properti dan infrastruktur (Susanti. Belum lagi konflik radikalisme agama seperti adanya kelompok-kelompok radikal yang menganut paham-paham ekstrem di Indonesia menjadi masalah serius. Contoh kasusnya adalah serangan teroris oleh kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan organisasi terorisme global, seperti serangan bom di Bali pada tahun 2002 dan serangan di Jakarta pada tahun 2016. Kasus-kasus ini Hal 26 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki keberagaman budaya dan agama yang kaya, tantangan-tantangan dalam menjaga harmoni kebinekaan tetap hadir dan memerlukan upaya serius dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi segala problematika tersebut, paling tidak ada Upaya pencegahan sejak dini melalui Lembaga Pendidikan yang mulai dibangun dan dipondasi sejak awal. Pada konteks pendidikan Islam, lembaga-lembaga pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai masyarakat Muslim Indonesia. Pendidikan Islam tidak hanya tentang pengetahuan agama, tetapi juga tentang penanaman nilai-nilai moral, etika, dan sikap toleransi yang moderat. Dalam konteks pendidikan Islam, yang merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia, peran moderasi beragama menjadi semakin penting. Pendidikan Islam tidak hanya tentang memahami ajaran-ajaran agama secara teoritis, tetapi juga tentang mendorong penghayatan yang moderat dan inklusif. Moderasi beragama dalam pendidikan Islam dapat menjadi pondasi yang kokoh untuk membentuk sikap toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kemampuan berdialog antaragama (Primayana & Yulia Angga, 2. Maka dari itu penanaman nilai-nilai moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam sejak dini memegang peran krusial dalam membentuk karakter dan sikap sosial generasi muda Muslim Indonesia. Lembaga pendidikan Islam menjadi tempat yang ideal untuk mengajarkan prinsip-prinsip moderasi beragama karena Lembaga islam merupakan lingkungan yang kaya akan nilai-nilai agama dan budaya. Melalui pendidikan yang terarah, siswa dapat memahami bahwa Islam mengajarkan ajaran yang seimbang, menghargai perbedaan, dan mendorong kerjasama antarumat beragama. Dengan memperkuat pemahaman ini sejak usia dini, siswa akan tumbuh menjadi individu yang memiliki kesadaran akan pentingnya menghargai pluralitas dan menjaga harmoni antarberbagai kelompok agama di masyarakat. Selain itu, penanaman nilai-nilai moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam sejak dini juga merupakan strategi preventif yang efektif dalam menanggulangi potensi radikalisme dan intoleransi di masa depan. Dengan memberikan pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai moderasi dan toleransi, lembaga pendidikan Islam dapat membentengi siswa dari pengaruh ekstremisme dan radikalisme yang sering kali merayap masuk melalui ruang pendidikan informal atau online. Hal ini membantu menciptakan generasi Muslim yang kuat, yang tidak hanya mengamalkan ajaran agama dengan penuh rasa tanggung jawab, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan positif dalam membangun masyarakat yang plural dan berdamai. Pada penelitian (Habibie, 2. Penguatan moderasi beragama menjadi sangat penting untuk ditanamkan pada peserta didik sebagai bagian dari upaya mewujudkan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), yang tercermin dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana diamanatkan oleh Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018. Salah satu aspek yang ditekankan dalam PPK adalah pembentukan karakter religius dan nasionalisme. Dengan demikian, penguatan moderasi beragama tidak hanya mencakup aspek keberagaman agama, tetapi juga melibatkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai agama yang moderat serta rasa nasionalisme yang kuat. Ini merupakan Hal 27 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina langkah strategis dalam membangun generasi penerus yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kesadaran akan pentingnya persatuan dan kebangsaan dalam memajukan bangsa dan negara. Maka pada penelitian ini menyatakan bahwa (Susanti, 2. Moderasi beragama harus diterapkan melalui penanaman nilai-nilai yang baik dalam implementasi pendidikan dan kegiatan Diharapkan bahwa penanaman nilai-nilai positif ini akan membimbing individu untuk memiliki pemikiran yang baik dan benar, serta menjadikan mereka memiliki arah tujuan yang sesuai dengan ajaran agama yang moderat. Konsep tersebut selalu didukung oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, dengan konsep bahwa Pancasila merupakan ideologi negara yang mampu menyatukan berbagai ideologi, pandangan, dan orientasi di Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman yang moderat menjadi modal dasar untuk mewujudkan Indonesia yang moderat, dengan menjaga Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Salah satu Lembaga Pendidikan Islam yang menerapkan penanaman nilai nilai keragaman dan moderasi beraga yakni pada MI Al-Fithrah Surabaya yang beradapada lingkungan pondok pesantren Al Fithah notabennyasiswa siswinya berasal dari berbagai daerah, mau ttidak mau suasana di sana membawa keberagaman yang muncul, selain itu Surabaya sendiri sudah membawa kultur keragaman yang bermacam macam yang mau tidak mau setiap Lembaga Pendidikan islam harus mampu mengadopsi nilai nilai beragam untuk mengantisipasi konflik yang terjadi. Pada MI Al Fithrah Surabaya keberagaman tidak hanya tercermin dalam latar belakang siswasiswinya, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Setiap harinya, siswa-siswi dari berbagai latar belakang budaya dan etnis bekerja sama dalam pembelajaran dan kegiatan Semua saling belajar dan berinteraksi, memperkaya pengalaman satu sama lain dengan kekayaan budaya, tradisi, dan bahasa yang dimiliki. Kehadiran keberagaman ini menciptakan lingkungan yang dinamis dan toleran di mana setiap individu dihargai dan dihormati atas perbedaan yang dibawa. Dalam suasana seperti ini. MI Al-Fithrah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pendidikan formal, tetapi juga menjadi tempat di mana siswa-siswi belajar untuk menghargai dan merayakan keanekaragaman sebagai aset yang memperkaya kehidupan yang akan datang. Dari pemapaparan diatas,menunjukan berapa penting untuk meneliti bagaimana lembagalembaga pendidikan Islam dapat efektif dalam penanaman nilai-nilai moderasi beragama kepada siswasiswanya. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran lembaga pendidikan Islam dalam penanaman nilai-nilai moderasi beragama, dengan pendekatan yang komprehensif dan analisis yang mendalam,penelitian ini akan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas lembaga pendidikan Islam pada dalam mempromosikan moderasi beragama, serta dampak dan tantangan terhadap pembentukan sikap toleransi dan harmoni kebinekaan dalam masyarakat. Melalui penelitian ini, diharapkan akan muncul gagasan-gagasan konstruktif untuk meningkatkan peran lembaga pendidikan Islam dalam memperkuat harmoni kebinekaan di Indonesia. Hal 28 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina METODE Metode pada penelitian ini adalah metode kulaitatif deskriptif (Sugiyono, 2. Penggunaan metode kualitatif deskriftif akan memungkinkan peneliti untuk menggali pemahaman mendalam tentang konsep moderasi beragama dan penerapannya dalam konteks pendidikan agama Islam di MI Al Fithrah Surabaya. Metode ini akan mengumpulkan data yang kaya dan terperinci tentang persepsi, strategi, tantangan dan praktik moderasi beragama dari berbagai pihak terkait, seperti guru, siswa, orang tua, dan staf sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di MI Al Fithrah Surabaya yang berada di jalan kedinding lor No 30 Surabaya. Penelitian ini dimulai sejak bulan November 2023 sampai April 2024. Subjek pada penelitian ini adalah, guru, kepala sekolah, waka kurikulum. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dimulai dengan melakukan wawancara tmendalam dengan berbagai pihak terkait di MI Al Fithrah Surabaya, termasuk guru-guru, kepala sekolah, waka kurikulum, staf administrasi, siswa, dan orang tua siswa. Wawancara akan difokuskan pada pemahaman tentang konsep kebhinekaan, moderasi beragama, pengalaman dalam menerapkannya dalam konteks pendidikan Islam, serta pandangan tentang dampak dan tantangan terhadap pembentukan karakter siswa dan suasana sekolah secara keseluruhan. Selanjutnya pengumpulan data akan dilakukan melalui observasi partisipatif, di mana peneliti akan secara aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari di MI Al Fithrah. Observasi akan dilakukan untuk mengamati langsung praktik penerapan moderasi beragama, interaksi antara siswa dan guru, serta dinamika kehidupan sekolah yang mempengaruhi pelaksanaan nilai-nilai moderasi beragama. Studi dokumentasi akan dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai dokumen terkait, seperti kurikulum di MI, buku teks, materi pembelajaran, kebijakan sekolah, dan catatan-catatan lain yang relevan. Data dari studi dokumentasi akan memberikan pemahaman tambahan tentang bagaimana konsep moderasi beragama diimplementasikan di MI Al Fithrah Surabaya. Dengan menggabungkan ketiga metode pengumpulan data ini, penelitian akan dapat menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang praktik moderasi beragama di Lembaga pendidikan Islam tersebut (Moleong. Analis data pada penelitian ini menggunakan teori (A. Michael Huberman dan B. Miles mathew, 1. dimulai dari pertama adalah reduksi data, di mana data yang terkumpul dari berbagai sumber dikonversi menjadi bentuk yang lebih terorganisir dan terfokus. Ini dapat dilakukan dengan meringkas wawancara, mentranskripsi catatan lapangan, atau mengelompokkan tema-tema utama dari Tahap berikutnya adalah menampilkan data dalam bentuk yang mudah dimengerti dan Ini bisa berupa tabel, grafik, atau diagram yang membantu peneliti melihat pola-pola atau hubungan antara berbagai elemen data. Setelah data direduksi, tahap berikutnya adalah menampilkan data dalam bentuk yang mudah dimengerti dan diakses. Ini bisa berupa tabel, grafik, atau diagram yang membantu peneliti melihat pola-pola atau hubungan antara berbagai elemen data. Hal 29 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Harmoni Kebinekaan di MI Al Fithrah Surabaya Era globalisasi yang semakin terhubung, pentingnya harmoni kebinekaan menjadi landasan yang tak terbantahkan dalam memperkuat identitas nasional dan menjaga stabilitas Kebinekaan menjadi sebuah kekayaan yang melampaui perbedaan budaya, agama, dan etnisitas, menjadi pondasi yang kuat bagi keberlanjutan sebuah bangsa. Ketika masyarakat mampu menghargai dan merangkul perbedaan sebagai aset daripada konflik, mereka membentuk ikatan yang kuat, menciptakan lingkungan yang inklusif, serta memperkaya perspektif dan pengalaman kolektif yang memperkokoh identitas nasional. Dengan demikian, harmoni kebinekaan bukan hanya sebuah aspirasi, tetapi sebuah keniscayaan untuk menciptakan masyarakat yang berkelanjutan dan sejahtera (Sutrisno, 2. Pentingnya harmoni kebinekaan dalam membangun masyarakat yang bersatu dan damai, terutama mulai dari lingkungan sekolah dasar, tidak dapat diabaikan. Sekolah dasar merupakan fondasi yang krusial dalam membentuk karakter dan pandangan hidup anak-anak. Melalui pendidikan yang mempromosikan nilai-nilai keadilan, toleransi, dan saling menghormati antarbudaya, guru dapat membentuk generasi yang penuh kasih sayang dan paham akan pentingnya keragaman dalam memperkuat persatuan. Memperkenalkan konsep kebinekaan sejak dini di sekolah dasar tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang majemuk tetapi juga membekali anak-anak dengan keterampilan sosial yang esensial untuk bertahan dan berkontribusi dalam masyarakat yang semakin kompleks dan beragam. Dengan demikian, investasi dalam memupuk harmoni kebinekaan sejak dini di sekolah dasar adalah langkah strategis untuk membentuk masyarakat yang bersatu, damai, dan berkelanjutan di masa depan (Ixfina et al. , 2. Berikut pemaparan yang disampaikan oleh guru di MI Al Fithrah Surabaya, pada setiap pelajaran, guru biasanya menggunakan contoh kasus nyata yang menunjukkan pentingnya toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan kerjasama lintasbudaya. Misalnya, dalam pelajaran IPS, guru dapat mengajarkan tentang konflik antarbudaya yang terjadi di masa lalu dan bagaimana konflik tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan kerjasama. Hal yang sama juga disampaikan oleh guru IPA di MI Al Fithrah bahwa guru biasanya memberikan tugas proyek kolaboratif yang melibatkan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok lintasbudaya. Misalnya, dalam pelajaran IPA, siswa dapat bekerja sama untuk mempelajari berbagai jenis tanaman yang tumbuh di daerah-daerah berbeda di Indonesia dan mempresentasikan hasil penelitian setiap siswa. Hal 30 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina Kegiatan tersebut dapat ditarik benang merah menjadi dengan mengintegrasikan konsep harmoni kebinekaan ke dalam setiap pelajaran dan mengadopsi pendekatan praktis seperti di atas. MI Al Fithrah dapat memastikan bahwa nilai-nilai kebinekaan menjadi bagian integral dari pengalaman pendidikan siswa di setiap tahap pembelajaran. Hasil diatas juga dikuatkan oleh (Surya et al. , 2. yakni menyoroti pentingnya melibatkan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, dalam upaya mempromosikan pendidikan yang menekankan Ini sejalan dengan pendapat (Ikfina, 2. bahwa pembentukan masyarakat yang bersatu dan damai dimulai dari lingkungan pendidikan, termasuk sekolah dasar. Oleh karena itu. Lembaga Pendidikan Islam di jenjang ini harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan konsep rahmatan lil alalamin, yang mengemban misi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Islam yang diajarkan oleh Rasulullah adalah Islam yang mampu membawa kedamaian bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Konsep Islam yang demikian disebut sebagai Islam wasathiyah atau Islam Moderat. Sejauh ini menurut pengamatan penulis bahwa usia jenjang anak sekolah dasar perlu penanaman sejak dini, karena usia usia antara 7 sampai 12 tahun mudah untuk di doktrin pemahamanmnya dengan pendekatan budaya lokal disekolah, hal tersebut juga sebagai upaya pembentukan karakter supaya siap melangkan untuk naik pada sekolah tingkat menengah Selain itu banyak ektrakulikuler di MI yang disana bisa disisipi nilai nilai keberagaman seperti halnya ektrakulikuler Pramuka, belum lagi TPQ yang diselenggarakan oleh lingkungan masyarakat, dengan bantuan dari orang tua serta warga masyarakat para siswa usia sekolah dasar akan diarahkan kepada islam yang wasathiyah. Berdasarkan penuturan dari waka kesiswaan bahwa sebelum memulai proses pembelajaran, adanya proses implementasi nilai-nilai moderasi beragama diterapkan dengan dimulainya apel pagi, membacakan surat pendek . uz amm. , membaca asmaul husna, dan melaksanakan sholat dhuha secara berjamaah. Dengan memberikan contoh tersebut, siswa akan cenderung meniru apa yang dilihat. Pembentukan sikap pembiasaan merupakan aspek penting dalam pengembangan keterampilan, karena hal ini dapat membantu dalam membentuk kebiasaan yang positif dan menghasilkan perubahan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Peran moderasi beragama dalam membentuk sikap toleransi di MI Al Fithrah Surabaya Meningkatnya polarisasi dan ekstremisme di berbagai belahan dunia, konsep moderasi beragama menjadi semakin penting dalam menjaga kedamaian, stabilitas sosial, dan Dalam konteks Islam, moderasi beragama menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara holistik, menghormati perbedaan pendapat, dan menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan. Implementasi moderasi beragama dalam pendidikan Islam menjadi krusial Hal 31 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina karena pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk pemahaman dan perilaku Melalui pendidikan Islam yang berbasis moderasi, para siswa dapat diajarkan untuk menghargai keragaman dalam keyakinan dan praktek keagamaann memahami konteks sosial dan historis dalam interpretasi agama, serta mengembangkan keterampilan dialog dan kerjasama lintasbudaya (Diana et al. , 2. Menerapkan nilai-nilai yang moderat di sekolah sejak usia dini berperan penting dalam memperkuat pemahaman moderasi beragama di Tingkat MI. Kehadiran moderasi dalam praktik keagamaan sejak dini merupakan langkah yang penting untuk membekali generasi mendatang dengan pemahaman yang kuat akan nilai-nilai tersebut. Dalam lingkungan pendidikan, implementasi moderasi beragama dapat dicapai melalui berbagai kegiatan yang dijalankan oleh madrasah. Berikut hasil dari wawancara yang disampaikan oleh kepala madrasah Pertama bahwa di MI Al Fithrah Surabaya dimulai dari menerapkan budaya local, atau kebudayaan keseharian seperti siswa dilatih untuk selalu berperilaku jujur, saling menghormati, sopan terhadap teman, guru dan lain sebagainya. Dari hal keseharian yang sederhana mulailah dipupuk pemahaman dan harapan yang digunakan oleh MI sebagai pedoman pertama membangun nilai nilai beragama. Yakni menjadi salah satu nilai wasathiyah . sebagai pondasi nilai, tatakrama civitas akademika di MI Al Fithrah Surabaya. Kedua membangun sikap saling pengertian antar siswa, antar masyarakat yang memiliki keyakinan agama yang berbeda sejak usia dini. Lembaga Pendidikan islam diharapkan menjadi aktor penting dalam membimbing dialog agama atau dialog antar umat beragama, yang tentu saja dipandu oleh guru. Jenis dialog antaragama ini dianggap sebagai cara efektif bagi siswa untuk terbiasa dalam berkomunikasi dengan orang lain yang memiliki keyakinan agama yang berbeda. Dengan demikian, melalui dialog antaragama ini, diharapkan siswa dapat memahami dan menghargai keberagaman agama serta memperkuat kerjasama dan toleransi antar umat beragama. Ketiga Penerapan kurikulum dan buku teks di MI alfithrah menyertakan nilai-nilai pluralisme (Bhinneka Tunggal Ik. dan toleransi beragama. Buku-buku agama yang digunakan di MI dirancang untuk mendorong wacana dan pemikiran yang terbuka dan moderat bagi siswa, sehingga membantu memahami keberagaman dengan lebih baik. Meskipun demikian, program pendampingan keagamaan yang dilakukan di MI tidak selalu mencapai hasil yang optimal. pendampingan keagamaan di MI, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap faktor-faktor yang menghambatnya dan mengidentifikasi strategi yang dapat meningkatkan kualitas dan dampak program tersebut. Hal 32 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina (Rosana, 2. pada penelitianya menuliskan bahwa toleransi tidak hanya sekadar diajarkan, didiskusikan, atau disampaikan, tetapi juga harus diwujudkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang harus menyadari bahwa keberagaman adalah sebuah kenyataan yang tak terhindarkan, dan hal ini adalah kehendak dari Allah SWT. Dengan menyadari fakta bahwa keberagaman adalah bagian dari kuasa Allah SWT yang tidak bisa ditolak, maka masyarakat dapat mewujudkan sebuah keberagaman yang moderat. Bisa dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Tantangan dalam Menjaga Harmoni Kebinekaan Melalui Nilai Nilai Moderasi Beragama di MI Al Fithrah Surabaya Secara budaya, moderasi beragama diakui sebagai esensi dan teladan keagamaan yang telah berkembang secara berkelanjutan di Nusantara selama berabad-abad. Masyarakat di wilayah kepulauan Nusantara, yang kaya akan keberagaman namun sangat menghargai nilainilai keagamaan, menjadi contoh yang baik dalam mempromosikan sikap toleransi dan Prinsip-prinsip serta praktik keagamaan yang berlaku di Nusantara berakar pada prinsip tasammuh, yang menolak baik ekstremisme radikal fundamentalisme maupun liberal Dengan demikian, paragraf tersebut menegaskan bahwa moderasi dalam beragama tidak hanya menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya dan tradisi Nusantara, tetapi juga memberikan inspirasi bagi pembangunan sikap toleransi dan inklusifisme dalam masyarakat yang beragam. Pemikiran Islam yang terbentuk dalam konteks kultural pesantren, misalnya, cenderung bersifat adaptif, toleran, dan inklusif. Namun, saat ini, pandangan tersebut menghadapi tantangan dan ancaman dari munculnya berbagai ideologi dan pemahaman keagamaan baru. Pemahaman baru ini sering kali cenderung menuju sikap intoleran, ekstrim, dan radikal. Berikut tantangan yang dihadapi oleh pihak sekolah seperti yang disampaikan oleh waka kurikulum bahwa Salah satu tantangan yang dihadapi oleh MI Al Fithrah adalah keberagaman siswa yang berasal dari berbagai daerah. Sebagai sekolah yang terintegrasi dengan pondok pesantren. MI Al Fithrah mungkin memiliki siswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman ini dapat menciptakan tantangan dalam menciptakan harmoni kebinekaan, karena perbedaan latar belakang budaya, bahasa, dan tradisi dapat menjadi sumber konflik atau ketegangan di antara siswa. Selain itu, tantangan ini juga membutuhkan pendekatan pendidikan yang memadai terhadap perbedaan, agar semua siswa merasa dihargai dan diterima dalam lingkungan belajar. Hal tersebut juga dikuatkan dari pernyatana dari guru di MI Al Fithrah bahwa Sebuah contoh nyata tentang situasi ini adalah ketika di MI yang telah memberikan pemahaman tentang Hal 33 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina nilai nilai moderasi agama kepada siswanya, seperti pemahaman tentang toleransi, komitmen kebangsaan, anti kekerasan namun masih terjadi konflik antar teman sekelas yang berasal dari berbagai daerah. Misalnya, terjadi perbedaan pendapat atau persepsi antara siswa yang berasal dari daerah. Meskipun siswa telah diberi pemahaman tentang pentingnya moderasi dan toleransi konflik mungkin tetap timbul karena perbedaan latar belakang budaya atau tradisi antara siswa. Misalnya, siswa dari daerah tertentu mungkin memiliki tradisi atau interpretasi budaya yang berbeda-beda, yang dapat menimbulkan perbedaan pendapat atau ketegangan di antara belah pihak. Dari hasil wawancara yang disampaikan oleh pihak sekolah maka dalam situasi ini, pihak sekolah harus mengambil langkah-langkah konkret untuk menangani konflik antar siswa dan mempromosikan dialog yang konstruktif. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan seperti diskusi kelompok, pelatihan keterampilan sosial, atau proyek kolaboratif yang memungkinkan siswa untuk saling memahami dan menghargai perbedaan mengingat siswa siswi yang berada di MI bukan hanya berasal dari Surabaya namun juga dari berbagai daerah diluar jawa. Dengan demikian, sekolah dapat membantu siswa menerapkan nilai-nilai moderasi agama dalam kehidupan sehari-hari dan mengatasi konflik antar teman dengan cara yang positif. Hal tersebut juga dikuatkan dari penelitian (Suhardi et al. , 2. Temuan penelitian menyoroti urgensi pentingnya moderasi beragama di Indonesia, terutama dalam era disrupsi Hal ini disebabkan oleh keberagaman dan keragaman agama yang diyakini sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Kehadiran keberagaman dan keragaman ini menandakan adanya perbedaan antar individu dan kelompok, yang memiliki potensi untuk menimbulkan konflik dan ketegangan di masyarakat. Contohnya, konflik antaragama, perselisihan antara nilai-nilai agama dengan prinsip Pancasila, dan ketidaksepakatan antara prinsip-prinsip agama dengan Dampak dari ketidaksepakatan ini dapat mengganggu keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Oleh karena itu, penekanan pada moderasi beragama menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas dan harmoni dalam masyarakat yang heterogen seperti Indonesia. Strategi Penguatan Pendidikan Islam untuk Mewujudkan Harmoni Kebinekaan Melalui Nilai Nilai Moderasi Agama MI Al Fithrah Surabaya sebagai lembaga pendidikan Islam tingkat dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan keimanan siswa sejak usia dini. Sebagai bagian dari sistem pendidikan Islam di Indonesia. MI Al Fithrah memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengajarkan aspek-aspek agama, tetapi juga mempromosikan sikap. Hal 34 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, akomodatif terhadap budaya lokal dalam menjalankan ajaran agama. Pada konteks yang semakin kompleks dan beragam ini, moderasi beragama menjadi semakin penting, terutama di tengah perubahan sosial, teknologi, dan budaya yang pesat, termasuk fenomena disrupsi digital. Masyarakat Indonesia yang multikultural dan multireligius menuntut adanya pendekatan pendidikan yang mencerminkan nilai-nilai moderasi beragama, yang mampu memupuk kerukunan antar umat beragama dan menangkal potensi konflik agama. Untuk menjawab tuntutan zaman yang semakin dinamis. MI Al Fithrah telah memperhatikan urgensi nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum pendidikannya. Integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum menjadi langkah yang strategis untuk memastikan bahwa pendidikan di MI tidak hanya mengajarkan ajaran agama, tetapi juga membentuk sikap yang mendukung kerukunan antar umat beragama. Dalam konteks inilah. MI Al Fithrah Surabaya memandang pentingnya membentuk kurikulum yang mampu memadukan ajaran agama dengan nilai-nilai moderasi, sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga toleran dan inklusif dalam bertindak dan berinteraksi dengan sesama. Berikut hasil wawancara yang disampaikan oleh Waka Kurikulum MI Al Fithrah Surabaya bahwa Pertama Kurikulum dirancang dengan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya pada mata pelajaran agama. Setiap pelajaran dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat pemahaman siswa tentang toleransi, dan kerjasama antar siswa. Kedua adanya praktik praktik moderasi yang mencakup praktik moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui proyekproyek sosial atau kegiatan ekstrakurikuler yang mempromosikan kerjasama antar dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial di masyarakat. Ketiga Memilih materi pembelajaran yang relevan dan kontekstual untuk mengilustrasikan konsep moderasi beragama dalam kehidupan nyata. Ini bisa berupa cerita-cerita, studi kasus, atau film pendek yang menyoroti nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Keempat Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung upaya sekolah dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada siswa. Ini dapat dilakukan melalui pertemuan orang tua-guru, kegiatan komunitas, atau proyek kolaboratif antara sekolah dan masyarakat. Dengan merancang kurikulum yang mencakup aspek-aspek ini. MI Al Fithrah Surabaya dapat memberikan landasan yang kuat bagi siswa untuk memahami, menginternalisasi, dan mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu juga memainkan peran yang signifikan dalam menciptakan masyarakat yang lebih toleran, dan Kurikulum yang menekankan nilai-nilai moderasi beragama menjadi pondasi yang Hal 35 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina kokoh bagi pembentukan karakter dan sikap siswa, serta untuk membangun masa depan yang lebih harmonis bagi masyarakat yang multikultural. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat bahwa penanaman moderasi beragama menjadi salah satu tujuan dan program prioritas dari Kemenag RI (Apriani & Aryani, 2. , untuk program jangka menengah Nasional. Maka dari itu untuk mewujudkan program tersebut, persiapan pendidikan yang berbasis moderasi secara komprehensif diperlukan. Salah satu langkahnya adalah dengan menyusun kurikulum yang mencakup keberagaman . dalam konteks keagamaan. Pendidikan dengan muatan kurikulum multikultural diharapkan dapat menginspirasi seluruh komunitas akademik untuk menangani isu-isu yang berkaitan dengan pendidikan, agama, dan budaya. Dengan demikian, siswa sebagai calon pemimpin bangsa akan memiliki pemahaman yang luas untuk memahami, menerima, dan menghargai keragaman dalam suku, budaya, agama, nilai, dan kepribadian orang lain. Dari paparan diatas dapat ditari benang merah bahwa Dalam menerapkan strategi moderasi beragama dalam dunia pendidikan, hal yang paling penting adalah menetapkan arah dan tujuan yang jelas serta mengidentifikasi sasaran yang akan dicapai dalam waktu tertentu. Selain itu, strategi yang tepat juga perlu dirancang untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam implementasi moderasi beragama. Karena itu, dalam proses pendidikan atau pemahaman terhadap ajaran Islam, diperlukan dua konsep penting. Pertama, adalah mempelajari Islam dengan memahami esensi kebenaran sejati dalam beragama. Kedua, adalah mempelajari Islam sebagai ilmu pengetahuan dan memahami perilaku yang baik terhadap sesama manusia serta memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lainnya. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu menjalankan peran sebagai pelajar, pendidik, dan penganut agama dengan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari KESIMPULAN DAN SARAN Untuk memperkuat konsep harmoni dalam keberagaman serta peran moderasi beragama di Lembaga Pendidikan islam, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, sekolah dapat terus mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam seluruh kurikulum, tidak hanya pada mata pelajaran agama. Hal ini akan memastikan bahwa siswa terus terpapar dengan konsep-konsep toleransi, kerjasama, dan saling menghormati dalam setiap aspek pembelajaran. Selanjutnya, pelatihan dan pembinaan secara berkala bagi para guru tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran sehari-hari sangat penting. Dengan demikian, guru dapat menjadi teladan yang kuat bagi siswa dalam mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Selain itu, penting untuk mendorong siswa untuk terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mempromosikan kerjasama lintasbudaya dan penghargaan terhadap keberagaman. Misalnya, mengadakan acara sosial atau proyek kolaboratif yang melibatkan siswa dari latar belakang yang beragam. Melibatkan orang tua dan Hal 36 At TaAodib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Ficky Dewi Ixfina komunitas dalam mendukung upaya sekolah juga sangat diperlukan. Ini dapat dilakukan melalui pertemuan orang tua-guru, kegiatan komunitas, atau proyek kolaboratif antara sekolah dan masyarakat. Dengan mengambil langkah-langkah ini. Lembaga Pendidikan islam dapat menjadi teladan dalam membangun lingkungan yang, toleran, dan menghargai keberagaman dalam pendidikan Islam. DAFTAR PUSTAKA