Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 OPTIMASI FORMULASI EMULGEL TOPIKAL BERBASIS MINYAK ZAITUN: PERAN GELLING AGENT TERHADAP VISKOSITAS. PH, DAYA SEBAR. DAN KEAMANAN OPTIMIZATION OF OLIVE OIL-BASED TOPICAL EMULGEL FORMULATION: THE ROLE OF GELLING AGENTS ON VISCOSITY. PH. SPREADABILITY. AND SAFETY Lely Oktavia. Rika Yulianti. Firman Gustaman. Indra* Prodi Farmasi. Universitas Bakti Tunas Husada Universitas Bakti Tunas Husada. Jl. Mashudi 20. Tasikmalaya, 46196 *e-mail korespondensi: indra@universitas-bth. ABSTRAK Minyak zaitun dikenal luas sebagai bahan aktif alami yang efektif dalam sediaan topikal karena sifat antioksidan, antiinflamasi, dan emoliennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tiga jenis gelling agentAiNatrium Karboksimetilselulosa. ViscolamA, dan karbomerAiterhadap stabilitas fisik, keamanan, dan preferensi pengguna terhadap emulgel minyak zaitun. Emulgel diformulasikan dalam tiga variasi, kemudian dievaluasi melalui uji pH, viskositas, daya sebar, organoleptik, cycling test, uji iritasi pada hewan, dan uji hedonik pada panelis manusia. Hasil menunjukkan bahwa formula dengan basis Natrium Karboksimetilselulosa memiliki viskositas tertinggi dan kestabilan pH optimal, namun daya sebarnya paling rendah. Formula dengan ViscolamA menunjukkan daya sebar terbaik, viskositas rendah, serta skor tertinggi dalam uji hedonik, menandakan kenyamanan penggunaan yang lebih baik. Formula karbomer menunjukkan stabilitas yang cukup baik secara keseluruhan. Semua formula dinyatakan aman karena tidak menimbulkan iritasi pada kulit hewan uji. Temuan ini menekankan pentingnya pemilihan gelling agent dalam pengembangan emulgel berbasis minyak zaitun yang optimal dan diterima pengguna. Studi ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan sediaan topikal berbahan alami yang lebih efektif, stabil, dan nyaman digunakan. Kata Kunci : emulgel, minyak zaitun, gelling agent, stabilitas fisik, uji hedonik ABSTRACT Olive oil is widely recognized as an effective natural active ingredient in topical preparations due to its antioxidant, anti-inflammatory, and emollient properties. This study aimed to evaluate the effects of three different gelling agentsAiSodium Carboxymethylcellulose. ViscolamA, and carbomerAion the physical stability, safety, and user preferences of olive oil-based emulgel formulations. Emulgel was formulated into three variations and assessed through pH, viscosity, spreadability, organoleptic observation, cycling test, irritation test on animals, and hedonic test on human panelists. Results showed that the Sodium Carboxymethylcellulose-based formula had the highest viscosity and optimal pH stability but the lowest spreadability. The ViscolamA-based formula demonstrated the best spreadability, lower viscosity, and received the highest hedonic scores, indicating better user comfort. The carbomer-based formulation showed adequate stability overall. All formulas were deemed safe, with no irritation observed on test animals. These findings underscore the importance of selecting appropriate gelling agents in developing stable, effective, and user-friendly olive oil-based emulgel. This study contributes to the advancement of natural-based topical formulations with enhanced performance and consumer acceptance. Keywords: emulgel, olive oil, gelling agent, physical stability, hedonic test Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Diterima: 03 April 2025 Direview: 21 Juni 2025 Diterbitkan: 06 Agustus 2025 PENDAHULUAN Minyak zaitun telah lama dikenal sebagai bahan alami yang memiliki beragam manfaat terapeutik, khususnya dalam bidang dermatologi dan kosmetik. Kandungan lipid alaminya, seperti squalene, sterol, dan tokoferol, menjadikannya agen emolien yang efektif untuk mempertahankan kelembaban kulit serta melindungi dari iritasi (Reni et al. , 2024. Simanjuntak et al. , 2. Selain itu, aktivitas antioksidan tinggi yang berasal dari polifenol dan vitamin E dalam minyak zaitun memungkinkan penggunaannya dalam memperbaiki kerusakan sel akibat stres oksidatif (Fauziah et al. Kemampuan ini telah diaplikasikan secara klinis pada berbagai kondisi kulit, termasuk dermatitis dan ulkus dekubitus, menunjukkan efektivitasnya sebagai bahan aktif yang aman dan multifungsi (Muliani et al. , 2021. Prastiwi & Lestari, 2021. Rosyada & Mustofa, 2. Bahkan pada populasi sensitif seperti bayi dengan ruam popok dan pasien yang menjalani hemodialisis, minyak zaitun tetap menunjukkan profil keamanan yang baik (Rosyada & Mustofa, 2023. Simanjuntak et al. Perpaduan khasiat anti-inflamasi, antibakteri, dan antioksidan menjadikannya pilihan menarik dalam pengembangan sediaan topikal modern (Muliani et al. , 2. Sifat lipofilik minyak zaitun menjadikannya bahan yang menantang namun menjanjikan dalam formulasi farmasi topikal, terutama dalam bentuk emulgel yang kini banyak diteliti. Sistem emulgel, yang mengkombinasikan keunggulan emulsi dan gel, diketahui mampu meningkatkan bioavailabilitas zat aktif lipofilik seperti minyak zaitun melalui mekanisme pelepasan ganda serta penetrasi yang ditingkatkan (Jabbar & Ali, 2023. TadiN et al. , 2. Struktur biphasic dari emulgel memungkinkan partisi optimal antara fase minyak dan air, yang mendukung pelarutan bahan aktif dan memperpanjang waktu kontak dengan permukaan kulit (JovanoviN et al. , 2023. Vishwakarma & Panwar, 2. Dengan demikian, penggunaan minyak zaitun dalam sistem emulgel menawarkan solusi yang lebih efektif dibandingkan formulasi konvensional, baik dari segi stabilitas maupun kenyamanan pengguna. Meskipun demikian, penerapan minyak zaitun dalam formulasi emulgel tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama terkait stabilitas fisik dan kompatibilitas bahan. Variasi kualitas dan kemurnian minyak zaitun, misalnya jenis extra virgin olive oil, dapat berdampak signifikan terhadap efektivitas farmakologis sediaan (Simanjuntak et al. , 2. Selain itu, pemilihan dan pengaturan komponen dalam formulasi, seperti gelling agent dan pH, memegang peranan krusial dalam menjaga kestabilan dan efektivitas zat aktif (Dahlizar et al. , 2. Formulasi yang tidak tepat dapat menyebabkan pemisahan fase, perubahan viskositas, dan bahkan ketidaksesuaian pH yang berisiko menurunkan bioavailabilitas dan menyebabkan iritasi kulit. Salah satu tantangan teknis dalam formulasi emulgel adalah pemilihan jenis gelling agent yang Gelling agent tidak hanya mempengaruhi viskositas dan daya sebar, tetapi juga dapat menentukan kestabilan fisik serta kenyamanan penggunaan. Ketidaksesuaian antara gelling agent dan komponen lainnya dalam sediaan dapat menyebabkan hilangnya homogenitas, terjadinya degradasi bahan aktif, dan bahkan penurunan efektivitas terapi. Dalam formulasi yang mengandung minyak zaitun, pemilihan gelling agent menjadi semakin penting mengingat karakteristik lipofilik minyak tersebut yang dapat mempengaruhi struktur dan kestabilan gel. Berbagai penelitian telah mengkaji penggunaan gelling agent dalam formulasi emulgel, masing-masing dengan keunggulan dan keterbatasannya. Na CMC, misalnya, dikenal mampu memberikan viskositas tinggi pada konsentrasi rendah, berfungsi sebagai penstabil emulsi dan pengikat yang baik, serta memberikan efek emolien yang mendukung kelembaban kulit (Nastiti et al. , 2023. Rahmani & Zulkarnain, 2023. Saryanti et al. , 2. ViscolamA, yang mengandung HPMC, memberikan tekstur yang ringan, tidak lengket, serta memberikan sensasi dingin saat diaplikasikan, dengan kestabilan tinggi terhadap perubahan suhu dan pH (Rahmani & Zulkarnain, 2023. Rakhma et , 2. Sementara itu, karbomer dikenal mampu membentuk gel dengan kekentalan dan kejernihan tinggi, serta memungkinkan formulasi mempertahankan homogenitas yang baik untuk bahan aktif yang sensitif (Maulina & Sugihartini, 2015. Nawaz et al. , 2022. Pratiwi et al. , 2. Selain viskositas, parameter fisik lainnya seperti pH dan daya sebar juga sangat dipengaruhi oleh jenis gelling agent. pH yang tidak sesuai dapat menyebabkan iritasi dan menurunkan stabilitas bahan aktif (Rakhma et al. , 2020. Silvia & Dewi, 2. , sementara daya sebar yang buruk akan mengurangi kenyamanan penggunaan dan distribusi zat aktif pada permukaan kulit. Misalnya. HPMC Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 dilaporkan mampu memberikan daya sebar yang baik karena menghasilkan viskositas yang optimal tanpa menyebabkan kekentalan berlebih (Pratiwi et al. , 2023. Wulandari et al. , 2. Penelitian lain menyebutkan bahwa peningkatan konsentrasi gelling agent, seperti karbopol, dapat meningkatkan viskositas namun menurunkan daya sebar jika tidak diimbangi dengan formula yang tepat (Dahlizar et , 2022. Mahyun et al. , 2. Meskipun berbagai studi telah dilakukan terkait penggunaan masing-masing gelling agent dalam formulasi emulgel, penelitian komparatif yang menilai langsung pengaruh Na CMC. ViscolamA, dan karbomer terhadap stabilitas fisik emulgel berbahan aktif minyak zaitun masih terbatas. Belum banyak studi yang secara sistematik membandingkan efek ketiga jenis gelling agent tersebut dalam satu kerangka formulasi yang sama, khususnya dalam parameter pH, viskositas, daya sebar, serta hasil uji hedonik dan uji iritasi secara menyeluruh. Hal ini menyisakan kesenjangan ilmiah yang penting untuk dijawab guna menghasilkan sediaan topikal berbasis emulgel yang stabil, efektif, dan dapat diterima oleh pengguna. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tiga jenis gelling agent yang berbeda, yaitu Na CMC . %). ViscolamA . %), dan karbomer . %), terhadap stabilitas fisik emulgel minyak zaitun, termasuk uji organoleptik, viskositas, pH, daya sebar, dan uji stabilitas dengan metode cycling test. Penelitian ini juga mencakup uji hedonik untuk menilai preferensi pengguna serta uji iritasi guna memastikan keamanan sediaan. Kebaruan studi ini terletak pada pendekatan komparatif langsung terhadap tiga gelling agent dalam satu kerangka formulasi berbasis minyak zaitun, memberikan informasi praktis sekaligus ilmiah yang dapat digunakan untuk pengembangan sediaan topikal yang optimal. Ruang lingkup penelitian mencakup evaluasi stabilitas fisik, sensori, dan keamanan, dengan harapan dapat memberikan kontribusi terhadap formulasi yang lebih efektif dan diterima baik oleh pengguna. METODE PENELITIAN Bahan dan Hewan Uji Minyak zaitun . xtra virgi. diperoleh dari PT Herba Dewi Natural, natrium karboksimetilselulosa (Na CMC) (Bratache. ViscolamA MAC 10 (PT. Samirasche. , dan karbomer (Lubrizol. Bahan tambahan lain seperti propilen glikol, parafin cair, emulsifier (Span 80 dan Tween . , antioksidan (Butil Hidroksi Tolue. , pengawet (DMDM hydantoi. , serta pelarut . diperoleh dari PT Bratachem. Penelitian ini menggunakan hewan uji mencit putih jantan (Mus musculu. , berumur 2Ae3 bulan dengan berat 25Ae30 gram, yang diperoleh dari fasilitas pemeliharaan hewan laboratorium terstandar. Seluruh prosedur pengujian telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Hewan dan dilakukan sesuai dengan pedoman etika untuk penggunaan hewan dalam penelitian ilmiah. Alat Beberapa alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain hot plate stirrer (IKAA C-MAG HS7. Jerma. , homogenizer (IKAA Ultra-Turrax T. , viskometer digital (Brookfield DV-E. USA), pH meter (Hanna Instrument. HI2. , serta alat uji daya sebar berupa kaca objek dan beban 500 gram. Uji cycling test dilakukan dengan menggunakan inkubator suhu yang diatur pada suhu ekstrem 4AC dan 40AC secara bergantian. Prosedur Pembuatan Emulgel Pembuatan emulgel mengikuti protokol formulasi standar kosmetik dan farmasi seperti dijelaskan oleh Yadav et al. dan Jokubaite et al. Proses diawali dengan pembuatan dua fase: fase minyak yang terdiri atas minyak zaitun. Span 80, parafin cair, dan butil hidroksi toluen, serta fase air yang terdiri atas aquadest. Tween 80, propilen glikol, dan DMDM hydantoin. Kedua fase dipanaskan secara terpisah hingga mencapai suhu A70AC, kemudian fase minyak ditambahkan perlahan ke dalam fase air sambil dihomogenisasi hingga terbentuk emulsi. Setelah terbentuk emulsi stabil, dilakukan penambahan gelling agent yang telah didispersikan secara terpisah sesuai formula. Karbomer diaktifkan menggunakan TEA hingga pH tercapai pada kisaran 6,5Ae7. Campuran diaduk terus menerus pada suhu ruang hingga homogen dan stabil. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Bahan Minyak zaitun Na CMC Karbomer ViscolamA MAC 10 TEA Propilen glikol Parafin cair Span 80 Tween 80 Butil Hidroksi Toluen DMDM hydantoin Aquadest Tabel 1. Rancangan Formula F1 % . F2 % . 1,25 1,25 F3 % . 1,25 Evaluasi Sifat Fisik Emulgel Uji organoleptik dilakukan secara visual untuk mengamati warna, aroma, dan tekstur emulgel pada hari ke-0, ke-7, ke-14, dan ke-21. Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter terkalibrasi, dengan kisaran pH ideal sediaan topikal berkisar antara 5,5Ae7,0 untuk menghindari iritasi (Tocai et al. Uji viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer Brookfield pada kecepatan rotasi 20 rpm dan spindle nomor 4. Daya sebar diuji dengan metode gelas kaca dan beban 500 gram, diukur diameter sebaran dalam satuan cm. Cycling test dilakukan selama enam siklus dengan menyimpan sediaan pada suhu 4AC selama 24 jam lalu dipindahkan ke suhu 40AC selama 24 jam, dan diamati perubahan fisik setelah selesai siklus (Aminudin, 2024. Korengkeng et al. , 2. Semua data numerik . H, viskositas, dan daya seba. dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA satu arah dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Data disajikan dalam bentuk rerata A standar deviasi berdasarkan tiga kali ulangan . = . Evaluasi Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan pada punggung mencit yang telah dicukur bulunya, dioleskan sediaan emulgel dan diamati setelah 24 jam untuk melihat adanya reaksi eritema atau edema. Pengamatan dilakukan menurut skoring Draize dengan parameter visual. Pengujian ini merujuk pada protokol yang telah distandarkan secara internasional dan diadopsi dalam studi-studi sebelumnya mengenai formulasi topikal (Apriza, 2017. Widyandini & Safitri, 2. Parameter Eritema & Eschar Edema Tabel 2: Skor Uji Iritasi Kulit (Metode Draiz. Skor 0 Skor 1 Skor 2 Skor 3 Skor 4 Tidak Eritema sangat Eritema Eritema sedang Eritema parah, dapat hingga berat membentuk eschar Tidak Edema sangat ringan . ampir tidak terliha. Edema Edema sedang ringan . rea membesar 1 m. Edema berat . embengkakan >1 mm melua. Uji Hedonik Sebanyak 20 panelis semi-terlatih yang memenuhi kriteria inklusi diminta untuk menilai parameter aroma, warna, dan kelembaban dari ketiga formula emulgel menggunakan skala hedonik 1Ae 5 . angat tidak suka hingga sangat suk. Data hasil uji hedonik dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan apakah terdapat perbedaan preferensi secara statistik signifikan antar formula. Penggunaan uji ini didasarkan pada penelitian sensori sejenis yang menilai kesukaan konsumen terhadap sediaan emulgel berbasis bahan alami (Shintyawati et al. , 2. Metode-metode ini dilakukan secara terstandarisasi untuk memastikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan dalam menilai stabilitas fisik, keamanan, serta preferensi konsumen terhadap emulgel berbahan aktif minyak zaitun. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Sediaan Emulgel Minyak Zaitun. F1 (Na CMC). F2 (ViscolamA dan F3 (Karbome. Formulasi emulgel dengan basis gelling agent berbedaAiNa CMC. ViscolamA, dan karbomer dalam penelitian (Gambar . , menunjukkan variasi dalam stabilitas fisik dan karakteristik organoleptik selama penyimpanan. Evaluasi difokuskan pada parameter pH, viskositas, daya sebar, dan stabilitas fisik yang dikaji melalui uji cycling test, serta aspek keamanan dan kenyamanan berdasarkan uji iritasi dan uji hedonik. Analisis dilakukan secara kuantitatif melalui pengukuran instrumen serta secara kualitatif berdasarkan observasi visual. Karakterisasi pH Hasil pengukuran pH selama penyimpanan 21 hari menunjukkan kestabilan pada ketiga formula (Tabel . Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 7, 14, dan 21 sebagai bagian dari uji stabilitas fisik jangka pendek, yang lazim digunakan dalam studi formulasi topikal untuk menilai konsistensi parameter seperti daya sebar, pH, dan viskositas dalam kurun tiga minggu penyimpanan awal (Aminudin, 2024. Korengkeng et al. , 2. Formula F1 dengan basis Na CMC mempertahankan pH stabil di angka 6,5, sementara F2 (ViscolamA) dan F3 . stabil di angka 7 dan 6,8 berturutturut. Nilai pH ini berada dalam kisaran aman untuk aplikasi topikal, yaitu antara 5,5Ae7,0, yang berperan penting dalam mencegah iritasi kulit dan mendukung stabilitas bahan aktif (Nurlila et al. , 2024. Tocai et al. , 2. Konsistensi pH selama penyimpanan mencerminkan kompatibilitas komponen formula dan ketahanan terhadap degradasi, yang penting bagi efektivitas dan umur simpan produk (Nawaz et , 2022. Zare et al. , 2. Tabel 3. Hasil Evaluasi pH Hari Ke- F1 (Na CMC) F2 (ViscolamA) F3 (Karbome. 6,50 A 0,05 7,00 A 0,03 6,80 A 0,04 6,50 A 0,06 7,00 A 0,04 6,80 A 0,05 6,50 A 0,04 7,00 A 0,02 6,80 A 0,03 6,50 A 0,05 7,00 A 0,03 6,80 A 0,04 Keterangan : Data disajikan dalam bentuk rerata A standar deviasi (SD), n = 3. Analisis statistik dilakukan menggunakan one-way ANOVA untuk mengetahui perbedaan pH antar formula dan antar hari pengamatan, dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Evaluasi Daya Sebar Pengamatan terhadap daya sebar menunjukkan bahwa formula F2 (ViscolamA) memiliki daya sebar tertinggi dengan peningkatan signifikan dari 5,5 cm pada hari pertama menjadi 6,5 cm pada hari ke-21 (Tabel . Sementara F1 (Na CMC) dan F3 . menunjukkan peningkatan yang lebih moderat, masing-masing hingga 5,2 cm dan 5,6 cm. Hal ini konsisten dengan literatur yang menyatakan bahwa gelling agent seperti HPMC dalam ViscolamA cenderung menghasilkan sediaan dengan viskositas lebih rendah dan daya sebar lebih baik (Puspitasari et al. , 2. Daya sebar yang baik berkontribusi pada kenyamanan penggunaan dan efisiensi penyebaran bahan aktif di permukaan kulit, sehingga mendukung penyerapan dan efektivitas topikal (Purwanda, 2024. Saepudin et al. , 2. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 Tabel 4. Hasil Evaluasi Daya Sebar . Ae Rata-rata A SD, n = 3 Formula Hari ke- Daya Sebar . 5,00 A 0,10 5,00 A 0,08 5,10 A 0,07 5,20 A 0,09 5,50 A 0,12 5,80 A 0,10 6,40 A 0,15 6,50 A 0,14 5,00 A 0,09 5,10 A 0,07 5,30 A 0,10 5,60 A 0,11 Keterangan: Nilai yang ditampilkan merupakan rerata A standar deviasi . = . Analisis statistik dilakukan menggunakan one-way ANOVA untuk membandingkan daya sebar antar formula dan antar waktu penyimpanan. Tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05 . Evaluasi Viskositas Pengukuran viskositas menunjukkan bahwa formula F1 (Na CMC) memiliki viskositas tertinggi dan paling stabil, berkisar antara 10867Ae10967 cP, sedangkan F2 (ViscolamA) memiliki viskositas terendah dan mengalami sedikit fluktuasi (Tabel . Formula F3 . memiliki viskositas menengah namun cenderung meningkat selama penyimpanan. Hasil ini mengonfirmasi bahwa Na CMC sebagai gelling agent mampu membentuk matriks gel yang padat, memberikan viskositas tinggi dan stabil (Rahmani & Zulkarnain, 2023. SaAoadah et al. , 2. Namun, viskositas yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya sebar dan kenyamanan aplikasi (Maryani & Setyawan, 2. , yang terlihat pada kinerja F1. Sementara itu, viskositas F2 yang lebih rendah memungkinkan daya sebar yang lebih luas tetapi bisa menantang dalam menjaga kestabilan fisik emulgel secara jangka Tabel 5. Hasil Evaluasi Viskositas . P) Ae Rata-rata A SD, n = 3 Formula Hari ke- Viskositas . P) 967 A 102 933 A 95 867 A 88 967 A 90 167 A 75 200 A 80 183 A 85 067 A 70 600 A 92 967 A 105 750 A 98 950 A 100 Keterangan: Data disajikan dalam bentuk rata-rata A standar deviasi (SD), n = 3. Analisis statistik dilakukan menggunakan ANOVA satu arah untuk membandingkan viskositas antar formula dan waktu penyimpanan. Nilai p < 0,05 dianggap signifikan. Hasil Cycling test Cycling test mengindikasikan bahwa ketiga formula menunjukkan stabilitas fisik yang baik, tanpa adanya pemisahan fase, perubahan warna, atau perubahan tekstur yang signifikan selama siklus Hasil ini menunjukkan bahwa semua formula memiliki daya tahan terhadap fluktuasi suhu Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 penyimpanan, dengan F1 menunjukkan kestabilan paling konsisten, sejalan dengan viskositasnya yang tinggi (Prihantini et al. , 2. F2 meskipun memiliki viskositas rendah, tidak mengalami degradasi, mengindikasikan bahwa ViscolamA dapat memberikan perlindungan struktural yang cukup terhadap tekanan suhu, sebagaimana dinyatakan oleh Puspitasari et al. Evaluasi Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan dengan mengamati munculnya eritema dan edema setelah 24 jam aplikasi emulgel pada punggung mencit. Hasil pengamatan menunjukkan tidak adanya reaksi iritasi pada ketiga formula, baik F1. F2, maupun F3. Hasil ini mendukung literatur sebelumnya yang menyatakan bahwa Na CMC. HPMC (ViscolamA), dan karbomer pada konsentrasi yang sesuai umumnya aman dan tidak menimbulkan reaksi iritasi bila digunakan dalam sediaan topikal (Batool et al. , 2023. Mardiana et al. Tidak adanya reaksi kulit menunjukkan bahwa formula telah memiliki pH yang sesuai dan bahan tambahan seperti pengawet serta antioksidan tidak memicu respons iritatif. Gambar 2. Hasil Uji Iritasi Hasil Uji Hedonik Uji hedonik memperlihatkan bahwa ketiga formula diterima dengan baik oleh panelis, dengan preferensi tertinggi pada F2 untuk parameter warna, aroma, dan kelembaban. Hal ini dapat dikaitkan dengan tekstur yang lebih ringan, tidak lengket, serta sensasi dingin yang khas dari HPMC (ViscolamA) (Rahmani & Zulkarnain, 2. Meskipun F1 memiliki kestabilan viskositas yang tinggi, panelis menilai teksturnya kurang nyaman dibanding F2. F3 diterima secara moderat, menunjukkan bahwa karbomer memberikan stabilitas fisik yang baik tetapi sensasi aplikasinya masih kalah dibandingkan ViscolamA. Tabel 5. Hasil Uji Hedonik Emulgel (Rata-rata A SD, n = . Parameter F1 (Na CMC) F2 (ViscolamA) F3 (Karbome. Warna 3,5 A 0,5 4,6 A 0,4 4,0 A 0,6 Aroma 3,8 A 0,6 4,7 A 0,3 4,1 A 0,5 Kelembaban 3,6 A 0,4 4,8 A 0,2 4,2 A 0,5 Rata-rata Total 3,63 A 0,5 4,7 A 0,3 4,1 A 0,5 Keterangan: Skala penilaian 1Ae5 . = sangat tidak suka. 5 = sangat suk. Secara keseluruhan, hasil studi ini menunjukkan bahwa masing-masing gelling agent memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi stabilitas fisik dan preferensi pengguna. F1 (Na CMC) unggul dalam viskositas dan kestabilan. F2 (ViscolamA) unggul dalam daya sebar dan kenyamanan penggunaan, sementara F3 . menempati posisi tengah dalam berbagai parameter. Hasil ini mendukung temuan dari Puspitasari et al. dan Wulansari et al. mengenai pentingnya pemilihan jenis dan konsentrasi gelling agent untuk mendapatkan emulgel yang optimal baik dari segi efektivitas maupun penerimaan konsumen. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 2. Agustus 2025 KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis gelling agent yang digunakan dalam formulasi emulgel minyak zaitun secara signifikan mempengaruhi stabilitas fisik dan kenyamanan penggunaan. Formula F1 (Na CMC) memiliki viskositas tertinggi dan pH paling stabil . ,5 A 0,. , namun daya sebar paling rendah . ,2 A 0,09 c. Sebaliknya, formula F2 (ViscolamA) memiliki daya sebar tertinggi . ,5 A 0,14 c. dan skor hedonik terbaik . ata-rata 4,7 A 0,. , menunjukkan kenyamanan penggunaan yang lebih Formula F3 . menunjukkan karakteristik menengah dalam semua parameter. Seluruh formula tidak menyebabkan iritasi, menunjukkan keamanan yang baik. Tidak ditemukan adanya reaksi iritasi pada hewan uji untuk ketiga formula, menandakan bahwa semua jenis gelling agent aman digunakan pada konsentrasi yang ditentukan. Selain itu, hasil uji hedonik menunjukkan preferensi tertinggi terhadap formula ViscolamA, memperkuat potensi penggunaannya dalam pengembangan sediaan topikal yang lebih diterima konsumen. Kontribusi utama penelitian ini adalah memberikan data komparatif langsung antara Na CMC. ViscolamA, dan karbomer dalam satu sistem formulasi emulgel minyak zaitun. Studi ini memperluas pemahaman tentang bagaimana karakteristik fisik dipengaruhi oleh pemilihan gelling agent. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi kombinasi gelling agent serta pengaruhnya terhadap pelepasan bahan aktif dan efektivitas terapi, termasuk uji klinis pada manusia DAFTAR PUSTAKA