OPEN ACCESS JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. November 2025. Hal. e-ISSN. 3090-028X DOI. https://doi. org/10. 58472/jipsh. Research Article Pengaruh Komunikasi Interpersonal Guru dengan Siswa Terhadap Motivasi Belajar Siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan Ilmin Ilmiyah1. Sofyan Rofi2. Hairul Huda3 Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Corresponding Author: Ilmin Ilmiyah. Universitas Muhammadiyah Jember. Indonesia Email: ilminilmiyah@gmail. Abstract Student motivation is a crucial factor in enhancing the quality of the learning process and outcomes in educational institutions. One of the factors influencing motivation is the interpersonal communication between teachers and students. This study aims to examine the influence of teachers' interpersonal communication on students' motivation to learn at SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. The research adopts a quantitative approach with simple linear regression to predict motivation based on interpersonal communication. Data were collected through questionnaires distributed to students and analyzed using statistical methods. The results indicate a positive and significant effect of teachers' interpersonal communication on students' motivation to learn. These findings highlight the importance of effective communication in creating a conducive learning environment and increasing student This research is expected to provide recommendations for educational stakeholders to improve teachers' interpersonal communication competencies to enhance students' motivation. Keywords: Interpersonal Communication. Motivation to Learn. Education Abstrak Motivasi belajar siswa merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar di lembaga pendidikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah komunikasi interpersonal antara guru dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal guru terhadap motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan jenis penelitian regresi linear sederhana, yang bertujuan untuk memprediksi variabel motivasi belajar berdasarkan komunikasi interpersonal guru. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada siswa dan dianalisis menggunakan metode statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal guru dengan motivasi belajar siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya aspek komunikasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pihak pendidikan untuk meningkatkan kompetensi komunikasi interpersonal guru demi meningkatkan motivasi belajar siswa. Kata kunci: Komunikasi Interpersonal. Motivasi Belajar. Pendidikan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 224 PENDAHULUAN Penelitian ini didasarkan pada pandangan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif merupakan salah satu faktor kunci dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam dunia pendidikan, keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan oleh guru, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh hubungan dan komunikasi antara guru dan siswa. Guru sebagai fasilitator dan motivator memegang peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa termotivasi untuk belajar secara optimal (Rofi et al. , 2. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi atau pesan dari pengirim kepada penerima agar pesan tersebut dapat dipahami dan menimbulkan pengaruh terhadap pihak penerima (Slamet & Imami, 2. Adapun komunikasi interpersonal secara umum merupakan interaksi langsung antara individu melalui tatap muka, di mana masing-masing pihak saling memengaruhi persepsi dan pemahaman satu sama lain dalam proses komunikasi tersebut (Anggraini et al. , 2. Komunikasi interpersonal yang efektif dapat membantu membangun hubungan yang saling percaya dan empati antara guru dan siswa (Tanuwung, 2. Dengan komunikasi yang baik, siswa akan merasa dihargai dan diperhatikan, sehingga mereka semakin yakin untuk mengikuti pelajaran dan merasa lebih percaya diri dalam berpartisipasi aktif di Sebaliknya, jika komunikasi tidak efektif, siswa cenderung merasa terabaikan, kurang motivasi, dan akhirnya mengalami penurunan prestasi akademik. Oleh karena itu, hubungan yang harmonis dan saling pengertian antara kedua pihak ini sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi kehidupan sehari-hari turut mempengaruhi pola komunikasi guru dan siswa. Era digital saat ini membawa perubahan dalam cara berinteraksi, tidak hanya secara langsung di kelas, tetapi juga melalui berbagai platform digital dan media sosial. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat seiring dengan hadirnya era globalisasi. Perkembangan tersebut membuat proses interaksi dan penyebaran informasi menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien (Laventia. Faizal & Slamet. Keadaan ini menuntut guru untuk menyesuaikan metode komunikasi dan pendekatan mereka agar tetap relevan dan efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebagai contoh, penggunaan media digital dapat memperkaya proses pembelajaran dan memperkuat hubungan emosional antara guru dan siswa jika digunakan secara positif dan tepat sasaran. Penelitian yang dilakukan oleh Firnasari . menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal antara guru dan siswa terhadap motivasi belajar. Hasil penelitian tersebut memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,559, dengan nilai t hitung 5,045 yang lebih besar dibandingkan t tabel 2,003. Selain itu, hasil perhitungan koefisien determinasi menunjukkan angka 0,3129, yang mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal antara guru dan siswa berkontribusi sebesar 31,29% terhadap peningkatan motivasi belajar siswa. Penelitian yang sama uang dilakukan Hamzah & Goleman . juga menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa. Mereka menekankan bahwa komunikasi yang baik dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar dan memperbaiki suasana kelas sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Lebih jauh lagi, studi Kusman . menyebutkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif mampu meningkatkan motivasi belajar hingga 66,04%, yang menunjukkan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan belajar siswa. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 225 Di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan, kondisi tersebut menjadi semakin relevan karena adanya dinamika komunikasi yang dipengaruhi oleh penggunaan teknologi dan perubahan Penelitian ini ingin mengkaji secara khusus pengaruh komunikasi interpersonal antara guru dan siswa terhadap motivasi belajar mereka di sekolah tersebut. Dengan memahami hubungan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana komunikasi yang efektif dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga kualitas pendidikan dapat ditingkatkan. Di samping komunikasi interpersonal yang efektif dalam konteks motivasi belajar, penting juga untuk melihat peran komunikasi dalam menciptakan pendidikan yang inklusif dan Penelitian oleh Huda & Mahfuda . menegaskan bahwa pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, dialog, dan empati sangat krusial untuk mencegah tumbuhnya paham ekstremisme di lingkungan pendidikan. Dalam hal ini, komunikasi interpersonal menjadi alat yang efektif untuk mentransfer nilai-nilai tersebut kepada siswa. Guru yang mampu menjalin komunikasi yang terbuka, penuh empati, dan mendukung dapat menciptakan atmosfer yang harmonis dan terbuka terhadap perbedaan, yang juga meningkatkan motivasi belajar siswa. Dengan membangun hubungan yang positif dan penuh perhatian, komunikasi interpersonal dapat mendukung tujuan pendidikan anti-ekstremisme, sekaligus memperkuat semangat belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini memiliki urgensi untuk dilakukan karena berpotensi memberikan solusi nyata dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa melalui perbaikan kualitas komunikasi antara guru dan siswa. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi sekolah dan tenaga pendidik dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan menyenangkan. Pada akhirnya, peningkatan motivasi belajar siswa diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan dalam membentuk peserta didik yang cerdas, kreatif, serta berkarakter kuat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan regresi linier Pendekatan tersebut dipilih untuk mengetahui sejauh mana pengaruh komunikasi interpersonal . ariabel independen/X) terhadap motivasi belajar siswa . ariabel dependen/Y). Menurut Ghony dan Almanshur . , penelitian kuantitatif berlandaskan pada paradigma positivisme yang bertujuan untuk menguji hipotesis melalui pengumpulan data dalam bentuk angka serta analisis secara statistik. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket tertutup yang dibagikan kepada siswa SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan sebagai responden utama penelitian ini. Menurut Sugiyono . , angket tertutup merupakan metode yang efektif dan efisien karena memudahkan responden dalam memberikan tanggapan, serta menghasilkan data kuantitatif yang mudah dianalisis secara statistik. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner atau angket tertutup yang disusun berdasarkan variabel-variabel penelitian. Instrumen ini dirancang untuk memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, guna memastikan keakuratan dan konsistensi data yang diperoleh. Penyusunan instrumen didasarkan pada identifikasi masalah penelitian, variabel, dan indikator secara cermat agar data yang diperoleh relevan dan komprehensif. Penelitian dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Kabupaten Jember. Jawa Timur. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas VII. Vi, dan IX yang berjumlah 44 orang. Mengacu pada pendapat Arikunto . , apabila jumlah populasi kurang dari 100, maka seluruh populasi JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 226 dapat dijadikan sampel agar hasil penelitian lebih representatif dan valid. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode regresi linier sederhana, dengan komunikasi interpersonal sebagai variabel independen (X) dan motivasi belajar siswa sebagai variabel dependen (Y). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh komunikasi interpersonal terhadap motivasi belajar siswa sekaligus menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Temuan tersebut menegaskan bahwa kualitas interaksi dan hubungan antara guru dan siswa memiliki peranan penting dalam membangkitkan semangat, minat, serta keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Komunikasi interpersonal yang efektifAiditandai oleh sikap terbuka, empati, dukungan, dan saling menghargaiAimampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menumbuhkan rasa percaya diri siswa, serta mendorong mereka untuk lebih aktif dalam proses belajar. Selain itu, penelitian ini juga memperlihatkan bahwa peran guru tidak terbatas pada penyampaian materi pelajaran, melainkan juga sebagai komunikator dan pembimbing yang dapat membangun kedekatan emosional dengan peserta didik. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa akan menciptakan suasana belajar yang positif dan menyenangkan, sehingga siswa merasa dihargai, diperhatikan, dan termotivasi untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dengan demikian, semakin baik kualitas komunikasi interpersonal yang dijalin oleh guru, semakin tinggi pula motivasi belajar siswa. Selanjutnya, bagian berikut menyajikan uraian lengkap hasil penelitian beserta tabel-tabel pendukung yang relevan untuk memperkuat analisis dan interpretasi mengenai hubungan antara komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Hasil Penelitian Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Data menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan pada variabel komunikasi interpersonal telah memenuhi kriteria validitas yang ditentukan. Hal ini dibuktikan dengan nilai r-hitung yang lebih besar dari r-tabel . , sehingga setiap item pertanyaan pada instrumen penelitian dinyatakan valid dan mampu mengukur variabel dengan Dengan demikian, instrumen penelitian ini telah teruji secara empiris dan layak digunakan sebagai alat ukur. Selain itu, hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh item memiliki tingkat konsistensi internal yang tinggi. Nilai CronbachAos Alpha yang melebihi batas minimum menunjukkan bahwa instrumen ini reliabel dan dapat menghasilkan data yang stabil ketika digunakan berulang kali. Selanjutnya. Uji Normalitas dan Linearitas dilakukan untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi dasar dalam analisis regresi. Berdasarkan hasil uji normalitas, data diketahui berdistribusi normal, yang berarti nilai residual model regresi tersebar secara seimbang di sekitar garis rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa model analisis telah memenuhi syarat penting untuk dilakukan uji statistik parametrik. Sementara hasil uji linearitas menunjukkan adanya hubungan yang linier antara variabel komunikasi interpersonal dan motivasi belajar Oleh karena itu, penggunaan analisis regresi linier sederhana dinilai sesuai untuk mengukur pengaruh dan hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil Analisis Korelasi memperlihatkan adanya hubungan positif dan cukup kuat antara komunikasi interpersonal guru dengan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil perhitungan. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 227 diperoleh nilai korelasi sebesar 0,488, yang menunjukkan bahwa peningkatan kualitas komunikasi interpersonal guru diikuti dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. Nilai tersebut termasuk dalam kategori hubungan sedang hingga kuat, menandakan bahwa komunikasi yang efektif, terbuka, dan penuh empati antara guru dan siswa berperan penting dalam menumbuhkan semangat serta keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan belajar. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi interpersonal tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai jembatan emosional yang membangun rasa saling percaya antara guru dan siswa. Hubungan interpersonal yang baik menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, mendorong partisipasi aktif, serta memperkuat interaksi sosial di sekolah. Dengan demikian, semakin baik kualitas komunikasi interpersonal yang diterapkan guru, semakin tinggi pula motivasi belajar siswa. Tabel 1. Uji Korelasi berikut menyajikan hasil perhitungan secara rinci yang memperkuat hubungan antara variabel komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa. Tabel 1. Korelasi Hasil Variabel Komunikasi Motivasi Belajar Komunikasi Interpersonal 0,488 Motivasi Belajar 0,488 Selain itu, nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,001 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara variabel komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa pada tingkat kepercayaan 95%. Artinya, kemungkinan terjadinya kesalahan dalam penarikan kesimpulan mengenai adanya hubungan antara kedua variabel tersebut sangat kecil, yaitu hanya sekitar 0,1%. Hasil ini semakin memperkuat bukti bahwa komunikasi interpersonal memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Berdasarkan analisis regresi linier sederhana, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 39,660 0,382 X Keterangan: Konstanta . = 39,660, menunjukkan bahwa apabila komunikasi interpersonal guru (X) berada pada nilai nol atau tidak dilakukan sama sekali, maka nilai motivasi belajar siswa (Y) tetap berada pada angka 39,660. Artinya, terdapat faktor-faktor lain di luar komunikasi interpersonal yang juga memengaruhi tingkat motivasi belajar siswa, seperti lingkungan belajar, dukungan keluarga, serta kondisi psikologis siswa. Koefisien regresi . = 0,382, menandakan bahwa setiap peningkatan satu satuan dalam variabel komunikasi interpersonal akan diikuti oleh peningkatan motivasi belajar sebesar 0,382 satuan. Nilai positif pada koefisien ini mengindikasikan bahwa arah hubungan antara kedua variabel bersifat searah . semakin baik komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh guru, maka semakin tinggi pula motivasi belajar yang ditunjukkan oleh Temuan ini memperkuat asumsi bahwa hubungan yang harmonis, empatik, dan terbuka antara guru dan siswa mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif. Ketika siswa merasa dihargai, didengarkan, serta dipahami oleh gurunya, mereka cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dan menunjukkan sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis pengaruh variabel (Koefisien Determinasi/RA), diperoleh nilai sebesar 0,238 atau 23,8%. Angka ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal guru JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 228 memberikan kontribusi sebesar 23,8% terhadap perubahan tingkat motivasi belajar siswa. Dengan kata lain, hampir seperempat variasi dalam motivasi belajar siswa dapat dijelaskan oleh efektivitas komunikasi interpersonal yang dilakukan guru di kelas. Sementara itu, sebesar 76,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak menjadi fokus penelitian ini, seperti metode pembelajaran yang diterapkan, gaya kepemimpinan guru, kondisi lingkungan sekolah, dukungan keluarga, minat belajar individu, serta faktor internal seperti rasa percaya diri dan keadaan emosional siswa. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa meskipun komunikasi interpersonal bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi motivasi belajar, perannya tetap signifikan dan tidak dapat diabaikan. Upaya peningkatan kualitas komunikasi interpersonal guru melalui kemampuan mendengarkan secara aktif, pemberian umpan balik yang membangun, serta penumbuhan sikap empati dapat menjadi strategi efektif untuk mendorong peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa secara Tabel 2. Uji Koefisien Regresi Variabel Koefisien Sig. Konstanta . 39,660 0,000* Komunikasi Interpersonal (X) 0,382 0,001** Berdasarkan hasil analisis data melalui uji t . -tes. , diperoleh nilai signifikansi (Sig. sebesar 0,001, yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara data hasil observasi dan hipotesis nol (HCA), sehingga hipotesis alternatif (HCA) dinyatakan diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal guru dan motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Secara statistik, hasil ini menegaskan bahwa semakin baik kualitas komunikasi interpersonal yang dibangun oleh guru yang mencakup kemampuan mendengarkan, memberi umpan balik, menunjukkan empati, serta menciptakan interaksi yang terbuka dan hangat maka semakin tinggi pula tingkat motivasi belajar siswa. Hubungan positif tersebut mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal berperan sebagai faktor penting dalam membentuk iklim pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. Lebih lanjut, nilai t-hitung yang diperoleh dari hasil pengujian menunjukkan angka yang lebih besar dibandingkan t-tabel, yang memperkuat keputusan bahwa pengaruh yang ditemukan bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hubungan yang nyata secara Dengan demikian, model penelitian ini dapat dinyatakan layak dan valid dalam menjelaskan keterkaitan antara kedua variabel yang diteliti. Temuan ini sejalan dengan pendapat Slameto . yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan meningkatkan motivasi intrinsik peserta didik. Selain itu. Hamidah & Sulastri . juga menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga oleh seberapa intens dan bermaknanya komunikasi antara guru dan siswa selama proses belajar Dengan demikian, hasil pengujian hipotesis ini memperkuat teori bahwa komunikasi interpersonal guru merupakan aspek kunci dalam membangun semangat belajar siswa. Ketika siswa merasa dihargai, didengar, dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan pendapatnya, mereka akan memiliki dorongan yang lebih besar untuk berprestasi dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hasil uji hipotesis ini menegaskan bahwa komunikasi JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 229 interpersonal guru bukan hanya sekadar alat bantu dalam proses penyampaian materi, tetapi juga instrumen penting dalam menumbuhkan motivasi belajar yang berdampak langsung pada peningkatan hasil belajar siswa. Pembahasan Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa berpengaruh positif terhadap peningkatan motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,488, yang tergolong dalam kategori hubungan sedang. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto . yang menjelaskan bahwa nilai korelasi antara 0,40 hingga 0,599 menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat, meskipun tidak terlalu tinggi. Dengan demikian, hasil ini menegaskan bahwa semakin baik dan harmonis komunikasi yang dibangun oleh guru, semakin tinggi pula motivasi belajar yang muncul pada diri siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Temuan ini menguatkan teori bahwa komunikasi interpersonal yang efektif memiliki peranan fundamental dalam meningkatkan keterlibatan, semangat, dan rasa tanggung jawab siswa terhadap kegiatan belajar. Menurut Mulyana . , komunikasi interpersonal dalam konteks pendidikan bukan hanya sebatas pertukaran pesan antara guru dan siswa, tetapi juga merupakan sarana membangun hubungan emosional yang memengaruhi persepsi dan sikap belajar peserta didik. Guru yang mampu berkomunikasi dengan empati, memberi perhatian, serta menciptakan suasana kelas yang terbuka akan mendorong siswa untuk merasa dihargai dan termotivasi untuk berprestasi. Selain itu. Djamarah . menegaskan bahwa komunikasi guru yang humanis dan dialogis dapat menumbuhkan minat belajar siswa karena menghadirkan iklim pembelajaran yang positif. Hal ini diperkuat oleh Hamalik . yang menyatakan bahwa interaksi edukatif yang didasarkan pada komunikasi interpersonal yang baik dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa, sebab siswa merasa memiliki peran aktif dalam pembelajaran dan tidak hanya menjadi penerima pasif informasi. Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana, diketahui bahwa komunikasi interpersonal memberikan kontribusi sebesar 23,8% terhadap peningkatan motivasi belajar siswa, sementara sisanya sebesar 76,2% dipengaruhi oleh faktor lain seperti lingkungan belajar, dukungan orang tua, metode pembelajaran, dan kondisi psikologis siswa. Meskipun kontribusi komunikasi interpersonal tidak sepenuhnya dominan, namun temuan ini tetap menunjukkan bahwa komunikasi guru-siswa memiliki peran signifikan dalam membentuk dorongan belajar siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan Sardiman . yang menyatakan bahwa motivasi belajar dapat tumbuh melalui interaksi yang bermakna antara guru dan siswa. Ketika siswa merasakan hubungan yang positif dan komunikatif dengan gurunya, mereka akan terdorong untuk berpartisipasi aktif dan berusaha mencapai prestasi terbaik. Dengan demikian, komunikasi interpersonal tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan materi, tetapi juga sarana membangun semangat dan kepercayaan diri siswa dalam belajar. Saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah agar guru lebih meningkatkan kompetensi komunikasi interpersonal, baik dalam hal keterampilan berbicara, mendengarkan aktif, maupun kemampuan memahami kondisi emosional siswa. Sekolah juga perlu memberikan pelatihan dan dukungan profesional bagi guru agar dapat mengembangkan komunikasi yang empatik, terbuka, dan suportif dalam kegiatan belajar-mengajar. Selain itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk memperhatikan faktor lain yang turut berpengaruh terhadap motivasi belajar, seperti penggunaan metode pembelajaran inovatif, penguatan dukungan sosial di lingkungan sekolah, serta pemberian penghargaan terhadap prestasi siswa. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 230 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal guru dengan motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Variabel komunikasi interpersonal memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam meningkatkan motivasi belajar, sehingga peningkatan kualitas komunikasi guru-siswa menjadi aspek penting yang perlu terus dikembangkan untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan KESIMPULAN Berdasarkan seluruh isi artikel, dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa di SMP Muhammadiyah 7 Wuluhan. Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan yang baik dan komunikasi yang empatik dari guru mampu meningkatkan semangat dan minat siswa dalam proses belajar. Koefisien korelasi sebesar 0,488 dan model regresi yang diperoleh mengindikasikan bahwa semakin baik komunikasi interpersonal guru, maka semakin tinggi pula motivasi belajar siswa. Hasil ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi komunikasi guru sebagai salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian ini menyarankan perlunya perhatian terhadap faktor lain yang memengaruhi motivasi belajar sehingga pencapaian target pembelajaran dapat lebih maksimal. REFERENSI