n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1077-1084 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan MODEL PENDIDIKAN NILAI ISLAM BERBASIS DI GAMPONG LIEUE. KECAMATAN DARUSSALAM. KABUPATEN ACEH BESAR Ilham1*. Jasmadi2. Asih Winarty3. Nasir Ismail4 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. FKIP. Universitas Abulyatama Aceh. Aceh Besar. Indonesia. Ilmu Administrasi Negara. Fakultas FISIP. Universitas Al Washliyah Darussalam. Banda Aceh Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Abulyatama Aceh. Aceh Besar. Indonesia. *Email korespondensi : Ilham_PPKN@Abulayatama. Diterima Mei 2025. Disetujui Juli 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: The phenomenon of a crisis in manners affecting today's youth is a complex and urgent issue, especially with the massive wave of digitalization. Gampong Lieue, as one of the religious communities in the Darussalam District of Aceh Besar, isn't immune to this challenge. This research talks about how a communitybased Islamic values education model can be a solution to tackle this decline in manners. The problems raised depart from the weak appreciation of Islamic values in the social interaction of the community, especially in the younger generation, which is characterized by an increase in deviant behavior, low manners, and a weakening of respect for parents and community leaders. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies of religious leaders, parents, teachers, and local youth. The results of the study show that the Islamic value education model that involves the active role of the community, namely gampong recitation, ta'lim assembly, and the example of community leaders, is able to reshape collective consciousness and instill adab values in a contextual and sustainable manner. This study recommends strengthening collaboration between formal institutions . , families, and customary institutions in strengthening the community-based Islamic value education ecosystem, as well as the integration of the adab curriculum in every socio-religious activity of the community in the digital era. Keywords : Islamic Values Education. Customs. Society. Digitalization. Gampong Lieue Abstrak: Fenomena krisis adab yang melanda generasi muda saat ini merupakan persoalan yang kompleks dan mendesak, terutama di tengah gempuran arus digitalisasi yang masif. Gampong Lieue, sebagai salah satu komunitas masyarakat religius di Kecamatan Darussalam. Kabupaten Aceh Besar, tidak luput dari tantangan Penelitian ini membahas bagaimana model pendidikan nilai Islam yang berbasis masyarakat dapat menjadi solusi dalam merespons degradasi nilai adab tersebut. Permasalahan yang diangkat berangkat dari lemahnya penghayatan nilai-nilai Islam dalam interaksi sosial masyarakat, khususnya pada generasi muda, yang ditandai dengan meningkatnya perilaku menyimpang, rendahnya sopan santun, serta melemahnya rasa hormat kepada orang tua dan tokoh masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tokoh agama, orang tua, guru, dan pemuda setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan nilai Islam yang melibatkan peran aktif masyarakat, yaitu pengajian gampong, majelis taAolim, dan keteladanan tokoh Masyarakat, mampu membentuk kembali kesadaran kolektif dan menanamkan nilai adab secara kontekstual dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kolaborasi antara institusi formal . , keluarga, dan lembaga adat dalam memperkuat ekosistem pendidikan nilai Islam berbasis komunitas, serta integrasi kurikulum adab dalam setiap kegiatan sosial keagamaan masyarakat di era digital. Model Pendidikan Nilai Islam . (Ilham. Jasmadi, & Winarty, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1077-1084 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Kata kunci : Pendidikan Nilai Islam. Adab. Masyarakat. Digitalisasi. Gampong Lieue PENDAHULUAN Perkembangan era digitalisasi yang pesat telah membawa dampak yang terhadap kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat, termasuk dalam aspek pendidikan nilai. Salah satu fenomena yang mencemaskan adalah munculnya krisis adab, khususnya di kalangan generasi muda. Adab, dalam khazanah Islam, tidak hanya bermakna sopan santun, tetapi juga mencakup kesadaran moral, sikap menghormati orang tua, guru, serta menjunjung nilai-nilai sosial dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari . l-Attas, 1993. Dini, 2. Dalam masyarakat Aceh yang dikenal religius dan kental dengan tradisi Islam, kemunduran adab menjadi persoalan yang sangat penting untuk dikaji dan direspon secara serius. (Ridlwan et al. , 2. Di Gampong Lieue. Kecamatan Darussalam. Kabupaten Aceh Besar, merupakan salah satu wilayah yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosialnya. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya indikasi menurunnya kualitas interaksi sosial yang ditandai dengan melemahnya sikap hormat generasi muda terhadap orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti pengajian, dan menunjukkan gaya komunikasi yang kurang santun dalam kehidupan sehari-hari (Bariah et al. , 2. Fenomena ini sesuai dengan pendapat Arsyad . , yang menyatakan bahwa digitalisasi yang tidak disertai penguatan etika keagamaan dapat menyebabkan dekulturasi nilai-nilai tradisional dan spiritual dalam masyarakat. Kesenjangan terjadi antara nilai-nilai Islam yang diajarkan secara formal di sekolah dengan praktik keseharian generasi muda yang semakin terdampak oleh budaya digital. Banyak model pendidikan Islam di masyarakat yang masih bersifat formalistik dan belum menyentuh aspek partisipatif serta kontekstual dengan kehidupan sosial masyarakat lokal (Dalimunthe, 2. Selain itu, masih minimnya integrasi antara pendidikan di sekolah, keluarga, dan komunitas masyarakat menjadikan pendidikan nilai berjalan secara (Suryana & Muhtar, 2. Hal ini berkontribusi pada lemahnya internalisasi nilai adab dalam kehidupan generasi muda sehari-hari. Penelitian ini mengangkat topik AuModel Pendidikan Nilai Islam Berbasis Masyarakat dalam Menghadapi Krisis Adab di Era DigitalisasiAy dengan fokus pada Gampong Lieue, sebagai representasi Masyakat di Aceh yang berupaya mempertahankan nilai-nilai Islam dalam arus perubahan zaman. Penelitian ini menjadi penting karena belum banyak studi yang mengkaji secara mendalam pendekatan pendidikan nilai yang berbasis pada kekuatan lokal masyarakat, terutama dalam merespon tantangan era digital yang kompleks dan serba cepat. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya membangun sebuah model pendidikan nilai Islam yang tidak hanya bersandar pada institusi formal, tetapi juga mengintegrasikan peran keluarga, masyarakat, dan tokoh lokal secara aktif dan berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat secara partisipatif, nilai-nilai adab dapat diajarkan melalui keteladanan, pengalaman langsung, dan interaksi sosial yang lebih membumi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pendidikan nilai yang lebih adaptif dan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1077-1084 responsif terhadap tantangan sosial di era digital, khususnya dalam konteks masyarakat lokal di Aceh. KAJIAN PUSTAKA Pendidikan Nilai dalam Perspektif Islam Pendidikan nilai dalam Islam tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup dimensi afektif dan psikomotorik yang bersumber dari wahyu Allah (Al-QurAoa. dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah pembentukan insan kamil yang memiliki kesadaran spiritual, sosial, dan moral dalam kehidupan (Azra, 2. Pendidikan nilai Islam menekankan pentingnya internalisasi nilai seperti taqwa, jujur, amanah, adil, dan hormat kepada orang tua sebagai pondasi kehidupan beradab. (Arif, 2. Krisis Adab dalam Konteks Digitalisasi Era digital membawa dampak signifikan terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda. Akses yang luas terhadap informasi dan media sosial tanpa kontrol yang memadai dapat memicu pergeseran nilai, termasuk menurunnya rasa hormat terhadap otoritas sosial, guru, dan orang tua (Supriani et al. , 2. Krisis adab ini tercermin dari melemahnya sopan santun, individualisme, dan meningkatnya budaya instan dalam komunikasi digital (Farid, 2. Model Pendidikan Berbasis Masyarakat Pendidikan berbasis masyarakat . ommunity-based educatio. menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proses pendidikan (Ruslan, 2. Dalam konteks nilai Islam, pendekatan ini menguatkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai luhur secara kontekstual dan berkelanjutan . Pendekatan ini juga relevan dalam masyarakat yang masih kuat ikatan sosialnya seperti di Aceh, di mana peran tokoh agama, adat, dan komunitas lokal menjadi kunci penguatan karakter (Purnama, 2. Tri Pusat Pendidikan: Sekolah. Keluarga, dan Masyarakat Konsep tri pusat pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan yang efektif berasal dari sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan ajaran kolektif dalam mendidik anak agar tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga beradab. Ketika masyarakat dilibatkan dalam pembinaan nilai, maka pendidikan menjadi lebih bermakna dan tidak terasing dari realitas sosial peserta didik. (Mudana, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai model pendidikan nilai Islam berbasis masyarakat dalam merespons krisis adab di era digitalisasi (La Ode Kaharudin et al. , 2. , khususnya di Gampong Lieue. Kecamatan Darussalam. Kabupaten Aceh Besar. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggali makna, nilai, dan pengalaman sosial-kultural secara kontekstual dan holistik (Creswell & Poth, 2016. Weyant, 2. Jenis penelitian ini adalah studi lapangan . ield researc. , dengan pendekatan kualitatif deskriptif (Creswell & Poth, 2016. Sugiyono, 2. Peneliti berupaya memotret secara alami dan apa adanya bagaimana krisis adab Model Pendidikan Nilai Islam . (Ilham. Jasmadi, & Winarty, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1077-1084 http://jurnal. id/index. php/dedikasi terjadi dan bagaimana masyarakat membangun model pendidikan nilai Islam dalam konteks lokalnya. Fokusnya adalah pada deskripsi naratif terhadap gejala sosial, bukan pengukuran angka. Informan dalam penelitian ini ditentukan secara purposive (Sari et al. , 2. , yakni dipilih berdasarkan kriteria tertentu seperti pemahaman terhadap nilai-nilai Islam, keterlibatan dalam pendidikan masyarakat, serta pengalaman dalam menghadapi fenomena digitalisasi. Total informan berjumlah 20 orang, dengan rincian sebagai berikut: Kategori Informan Siswa . ingkat SD dan SMP) Orang tua Guru Pendidikan Agama Islam Tokoh agama dan adat lokal Aktivis pemuda/penggerak Sumber: data penelitian 2025 Tabel 1. Informan Penelitian Jumlah Keterangan 5 orang Menjadi representasi generasi muda yang 5 orang Memiliki anak usia sekolah, aktif dalam kegiatan 3 orang Mengajar di sekolah setempat dan aktif di majelis ta'lim 4 orang Termasuk teungku pengajian dan kepala gampong 3 orang Terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan Data dikumpulkan melalui beberapa teknik berikut: Wawancara mendalam . n-depth intervie. dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pandangan, pengalaman, dan strategi yang diterapkan oleh masyarakat dalam menjaga nilai adab Islam. Observasi partisipatif, dilakukan untuk mengamati langsung aktivitas pendidikan nilai di gampong seperti pengajian, majelis taAolim, kegiatan remaja masjid, dan interaksi sosial antarwarga. Studi dokumentasi, berupa penelaahan terhadap dokumen lokal seperti catatan kegiatan gampong, arsip pengajian, serta materi keagamaan yang digunakan dalam pembelajaran informal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang terdiri dari: Reduksi data: penyaringan dan penyederhanaan data wawancara, observasi, dan dokumentasi sesuai fokus Penyajian data: pengorganisasian data ke dalam kategori dan pola tertentu untuk mempermudah Penarikan kesimpulan dan verifikasi: mengembangkan pemahaman terhadap pola temuan serta mengecek keabsahan melalui triangulasi. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui triangulasi: Triangulasi sumber: membandingkan data dari siswa, orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Triangulasi teknik: membandingkan hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi. Triangulasi waktu: melakukan pengumpulan data pada waktu yang berbeda untuk melihat konsistensi ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1077-1084 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Digitalisasi terhadap Pola Interaksi Sosial dan Adab Generasi Muda Berdasarkan hasil wawancara dengan lima orang tua dan tiga guru Pendidikan Agama Islam, ditemukan bahwa anak-anak dan remaja di Gampong Lieue cenderung menunjukkan penurunan sikap hormat terhadap orang tua dan guru, baik secara verbal maupun nonverbal. Salah satu orang tua (I-O2, 45 tahu. AuSekarang anak lebih dekat dengan HP, kalau disuruh bantu kadang jawabnya singkat atau malah diam. Ay Observasi di beberapa rumah menunjukkan anak-anak lebih memilih bermain gim daring atau menonton video di YouTube daripada mengikuti pengajian sore atau shalat berjamaah. Hasil ini selaras dengan temuan dokumentasi dari agenda pengajian gampong yang menunjukkan penurunan partisipasi pemuda sejak tiga tahun terakhir. Fenomena ini menggambarkan adanya disorientasi nilai akibat pengaruh teknologi digital yang tidak diimbangi dengan penguatan nilai spiritual dan sosial dalam keluarga maupun sekolah. Secara teoritis, hal ini mendukung penelitian yang dilakukan ilham . yang menegaskan bahwa digitalisasi yang tidak dibarengi dengan kontrol sosial dan pendidikan nilai akan menyebabkan dekulturasi nilai tradisional, termasuk nilai adab dalam masyarakat. Pandangan ini juga dikuatkan oleh hasil studi Hasanah dan Dalimunthe . , bahwa pendidikan Islam harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan substansi nilai yang diajarkan. Tantangan dalam Menerapkan Model Pendidikan Nilai Islam Berbasis Masyarakat Hasil wawancara dengan tokoh masyarakat dan guru menunjukkan bahwa penerapan pendidikan nilai berbasis masyarakat menghadapi sejumlah tantangan, antara lain: Kurangnya sinergi antara sekolah dan masyarakat, di mana kegiatan penguatan nilai adab di sekolah tidak dilanjutkan dalam kehidupan sosial sehari-hari di gampong. Minimnya keterlibatan pemuda dalam kegiatan keagamaan karena ketertarikan yang lebih tinggi terhadap konten digital. Ketergantungan pada tokoh agama tertentu, sehingga ketika tokoh tersebut tidak aktif, kegiatan keagamaan dan pengajian remaja ikut menurun. Observasi menunjukkan bahwa meskipun ada pengajian rutin dan majelis taAolim, belum ada sistem yang terintegrasi untuk melibatkan peran orang tua, guru, dan pemuda secara kolektif dan berkelanjutan. Ini menunjukkan lemahnya pelibatan masyarakat sebagai subjek aktif dalam pendidikan nilai. Menurut Paramansyah . , pendidikan yang berbasis masyarakat harus dibangun dalam kerangka partisipatif, bukan hanya sebagai objek penerima pendidikan, tetapi juga sebagai aktor transformasi sosial. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini belum optimal di Gampong Lieue karena masih banyak kegiatan yang bersifat seremonial dan kurang berkelanjutan. Peran Tokoh Adat dan Agama dalam Kolaborasi dengan Sekolah Formal Dokumentasi dan hasil wawancara menunjukkan bahwa tokoh adat dan agama seperti teungku dayah dan kepala gampong memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku sosial masyarakat. Salah satu keberhasilan Model Pendidikan Nilai Islam . (Ilham. Jasmadi, & Winarty, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1077-1084 http://jurnal. id/index. php/dedikasi yang diidentifikasi adalah program pengajian terpadu antara masjid dan sekolah dasar setempat yang digagas oleh salah satu guru agama dan tokoh gampong. Program ini mengintegrasikan materi adab Islam ke dalam kegiatan rutin harian anak-anak setelah pulang sekolah. Namun demikian, program tersebut belum bersifat masif dan masih tergantung pada inisiatif individu. Kolaborasi formal antara sekolah dan lembaga adat belum dibangun dalam sistem yang terstruktur dan berkelanjutan. Ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pendidikan kolaboratif yang melibatkan tiga pusat pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagaimana dikemukakan oleh Paramansyah . , bahwa pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang tumbuh dari ekosistem sosial budaya masyarakat itu sendiri. Pembentukan ekosistem pendidikan adab berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui penguatan peran tokoh lokal sebagai teladan, fasilitasi pelatihan nilai adab berbasis teknologi, serta pengintegrasian kurikulum informal ke dalam kegiatan keagamaan masyarakat. Ini sejalan dengan konsep community-based education yang diusulkan oleh UNESCO . , yang menekankan pentingnya pendidikan yang kontekstual dan partisipatif dalam menjaga warisan budaya dan nilai moral masyarakat. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan bahwa krisis adab di kalangan generasi muda Gampong Lieue merupakan persoalan serius yang dipengaruhi oleh derasnya arus digitalisasi, minimnya sinergi pendidikan antar lingkungan, serta lemahnya internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dan remaja menunjukkan gejala disorientasi nilai seperti menurunnya sopan santun, dominasi penggunaan gawai, serta rendahnya keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Model pendidikan nilai Islam berbasis masyarakat memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan ini. Peran aktif tokoh agama, guru, orang tua, dan pemuda gampong terbukti mampu menciptakan ruang-ruang pendidikan nilai yang kontekstual dan berkelanjutan. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan serius seperti kurangnya kolaborasi lintas sektor, ketergantungan pada figur tertentu, dan belum adanya sistem pendidikan nilai yang terstruktur dan terintegrasi secara komunitas. Kolaborasi antara sekolah formal, keluarga, dan lembaga masyarakat sebagai bagian dari pendekatan tri pusat pendidikan perlu diperkuat untuk membangun kembali ekosistem adab Islami yang relevan dengan konteks lokal dan adaptif terhadap tantangan era digital. Saran Penguatan Integrasi Kurikulum Adab. Kurikulum pendidikan formal perlu menyisipkan nilai-nilai adab Islam dalam setiap mata pelajaran, dan dihubungkan secara langsung dengan aktivitas keseharian anak dalam Pembangunan Ekosistem Pendidikan Nilai Berbasis Komunitas. Pemerintah gampong dan lembaga pendidikan dapat membentuk forum kolaboratif yang melibatkan guru, tokoh agama, orang tua, dan pemuda untuk menyusun program bersama dalam menanamkan nilai adab di luar lingkungan sekolah. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1077-1084 Pelatihan Literasi Digital Berbasis Nilai Islam. Dibutuhkan program edukasi bagi orang tua dan guru untuk mendampingi anak-anak dalam penggunaan teknologi secara sehat dan bernilai, seperti melalui konten islami, video edukatif, dan platform pembelajaran daring berbasis adab. Revitalisasi Peran Tokoh Lokal sebagai Teladan Adab. Tokoh agama dan adat perlu difasilitasi sebagai role model dalam internalisasi nilai Islam, tidak hanya dalam konteks pengajian, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kepemudaan. Peningkatan Keterlibatan Remaja dalam Kegiatan Keagamaan. Kegiatan masjid dan pengajian remaja harus didesain lebih menarik dan relevan, misalnya dengan menyisipkan media digital, konten kreatif, dan partisipasi dalam produksi dakwah multimedia. DAFTAR PUSTAKA