JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. Peningkatan Kompetensi Guru SD melalui Pelatihan Penyusunan Modul Ajar Berbasis Deep Learning di SD Inpres Pilasue. Rote Selatan Maxsel Koro1. Adam B. Nifu Benu2. Daniel W. Fointuna3. Gaudensius J. Koten4. Jimylton Dethan5. Livia Eunike Paut6*. Marchel H. Djami Riwu7. Marfelano Bessie8 1,2,3,4,5,6,7,8 Universitas Nusa Cendana E-mail: livia. paut@staf. Received : 18-09-2025 Revised : 22-10-2025 Accepted : 26-10-2025 Published : 31-10-2025 Abstrak Modul ajar merupakan perangkat kunci yang memberikan kerangka belajar komprehensif bagi siswa di kelas. Kerangka belajar bagi siswa harus disusun dengan menggunakan pendekatan yang relevan dengan cara belajar masa kini. Deep Learning menjadi salah satu pendekatan yang wajib diterapkan di sekolah dasar saat ini. Pelatihan penyusunan Modul ajar berbasis Deep Learning yang dilaksanakan PGSD UNDANA membantu guru Au3TAy agar secara baik dan lengkap mampu menyusun modul ajar di sekolah dasar. Pelatihan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi, serta pendampingan intens pada setiap guru yang mengabdi di sekolah tersebut. Pelatihan ini diberikan oleh dua orang narasumber bersama tim dosen program studi. Hasil dari pelatihan dan pendampingan ini, guru-guru mampu memahami dan menyusun modul ajar dengan pendekatan Deep Learning di sekolah dasar dengan lengkap disertai perangkat pendukung lainnya seperti bahan ajar. LKPD, dan media Guru SD Inpres Pilasue menghasilkan 8 modul ajar berbasis Deep Learning yang siap digunakan dalam tahun akademik berjalan. Kata kunci: Deep Learning. guru 3T. modul ajar, pelatihan guru, pengabdian masyarakat Abstract Teaching modules are key tools that provide a comprehensive learning framework for students in the The learning framework for students must be designed using approaches that are relevant to current learning styles. Deep Learning is one of the approaches that must be implemented in elementary schools today. The training on developing Deep Learning-based teaching modules, conducted by PGSD UNDANA, helps teachers from the "3T" regions to competently and thoroughly develop teaching modules in elementary schools. The training is carried out using interactive lectures, discussions, and intensive mentoring for every teacher serving at the school. The training is delivered by two speakers along with a team of lecturers from the study program. As a result of this training and mentoring, the teachers are able to understand and thoroughly develop teaching modules with a Deep Learning approach for elementary schools, complete with other supporting materials such as teaching materials, student worksheets (LKPD), and learning media. The teachers of SD Inpres Pilasue produced 8 Deep Learning-based teaching modules that are ready for use in the current academic Keywords: Deep Learning. Teachers of 3T. Teaching modules. Teachers Training, community service Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. PENDAHULUAN Guru sebagai motor penggerak pelaksanaan pembelajaran memegang peran penting dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran (Fitria & Suminah, 2020. Solih et al. Sebagai seorang pendidik dan pengajar guru perlu dibekali dgn kompetensi pedagogik yg mumpuni serta dapat beradaptasi dgn perkembangan IPTEKS. Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yakni diterapkannya pendekatan Deep Learning sebagai upaya dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan. Bermakna memungkinkan pembelajaran dapat bermanfaat bagi siswa dgn cara menghubungkan dgn kontekstual (Syaiful et al. , 2024. Archiopoli & Murray, 2. Berkesadaran memungkinkan siswa memiliki kontrol penuh dalam proses pembelajaran (Dwipayana,2025. Archer-Kuhn et al. , 2. dan menyenangkan memungkinkan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan (Mardlatillah & SaAoadah, 2. Kebijakan Nasional terkait penerapan pendekatan deep learning dalam kurikulum Merdeka ternyata belum sejalan dengan realitas guru di SD Inpres Pilasue. SD Inpres Pilasue merupakan salah satu sekolah dasar yang berlokasi di Kecamatan Rote Selatan Kabupaten Rote Ndao. Kabupaten Rote Ndao dikenal sebagai garda terdepan Indonesia di wilayah Selatan Indonesia, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut perlu diperhatikan sebagai wujud pemerataan yang dilakukan oleh pemerintah. Di lain sisi. SD Inpres Pilasue juga masuk dalam wilayah 3T dengan kategori terluar. Sehingga kecepatan mendapat informasi serta peluang dalam pengembangan diri khusus guru mengalami kendala. Dengan adanya kebijakan penerapan Deep Learning pada kurikulum pendidikan saat ini. SDI Pilasue sering kesulitan mendapatkan informasi terbaru maupun pelatihan yang memadai baik dari pemerintah secara langsung maupun pelatihan mandiri yang terinisiasi oleh sekolah. Selain itu permasalahan lainnya yang dihadapi oleh warga sekolah SD Inpres Pilasue yakni kemampuan dalam mengintegrasikan teknologi terkini yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelegen. agar mempermudah proses pembelajaran baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru di SD Inpres Pilasue juga belum memiliki pegangan pengetahuan tentang pendekatan Deep Learning secara memadai. Pelatihan yang sebelumnya didapatkan guru belum sepenuhnya memberi bekal bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pendekatan deep learning dalam Kurikulum Merdeka. Ditambah lagi kondisi geografis dan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi yang sudah diuraikan sebelumnya, membuat guru semakin kesulitan dalam mengimplementasikan pendekatan Deep Learning. Guru di SD Inpres Pilasue membutuhkan pelatihan lanjutan yang dapat memperkuat sekaligus mengembangkan pengetahuan tentang pendekatan Deep Learning sehingga guru bukan saja memahami secara mendalam namun dapat mengimplementasikan dalam pembelajaran. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Undana yang memiliki University Value AuUndana BerdampakAy merasa penting untuk menyentuh langsung masyarakat dalam mengatasi persoalan-persoalan yang ada terkhususnya permasalahan pembelajaran di Sekolah Dasar melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan yang dilakukan oleh akademisi PGSD FKIP Undana sebagai wujud keseriusan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu, melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat Program Studi PGSD melaksanakan pelatihan penyusunan modul ajar berbasis Deep Learning bagi guru di SD Inpres Pilasue. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dibidang pedagogik dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran berbasis Deep Learning melalui pemanfaatan Platform Artificial Intelegent. Melalui kegiatan ini pula guru di SD Inpres Pilasue juga mendapatkan manfaat diantaranya penguatan tentang Kurikulum Merdeka dan Pendekatan Deep Learning secara langsung oleh ahli, pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning yang bisa langsung digunakan dalam pembelajaran, pelatihan pemanfaatan platform AI dalam pembuatan modul ajar dan komunitas belajar bersama Dosen Prodi Pendidikan Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. Guru Sekolah Dasar Universitas Nusa Cendana. Dampak keberlanjutan dari kegiatan ini yaitu guruguru yang telah mengikuti pelatihan bisa saling berbagi praktik baik kepada guru-guru lainnya di SD Inpres Pilasue maupun guru-guru di sekolah tetangga sehingga bukan saja Guru di SD Inpres Pilasue yang mampu membuat modul ajar berbasis Deep Learning dan dapat mengimplementasikan Pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran, melainkan juga sekolah dasar tetangga secara khusus di Rote Selatan. METODE Kegiatan Pengabdian Masyarakat dilaksanakan di SD Pilasue di Desa Pilasue. Kabupaten Rote Ndao yang diikuti oleh Guru-guru yang ada di SD Inpres Pilasue. Pengabdian ini dilaksanakan melalui ceramah interaktif dan diskusi tentang pembelajaran Deep Learning. Metode ceramah interaktif memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, melibatkan partisipasi aktif peserta melalui kegiatan tanya jawab, dan berbagi pendapat serta pengalaman, yang membantu peserta untuk dapat memahami, merenungkan, dan menerapkan materi tentang pembelajaran Deep Learning yang Kemudian Setelah peserta secara aktif berdiskusi bersama narasumber, peserta dapat mempraktikan topik yang telah dapatkan melalui Workshop pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning. Peserta terlibat langsung secara aktif melalui kegiatan praktik, diskusi, pertukaran ide dan pemecahan masalah. Tujuannya untuk pengembangan diri dan keterampilan Guru SD Inpres Pilasue serta memunculkan inovasi melalui kolaborasi selama workshop, sehingga menghasilkan modul ajar berbasis Deep Learning sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi di SD Inpres Pilasue. Metode pelaksanaan yang dilaksanakan selama kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi: Tahap Persiapan: Identifikasi kebutuhan pelatihan melalui survei dan diskusi bersama beberapa guru dan kepala sekolah. penyusunan materi Kurikulum Merdeka dan Pendekatan Deep Learning. penyusunan panduan pembuataan modul ajar berbasis Deep Learning. Tahap Pelaksanaan: Pembukaan, yang didalamnya meliputi pengenalan dan penyampaian tujuan pengabdian Fasilitator menyampaikan topik pelatihan, tujuan yang ingin dicapai, dan manfaat yang akan diperoleh peserta setelah mengikuti kegiatan pengabdian ini. Penyampaian, materi. Pada tahap ini materi tentang pembelajaran Deep Learning disampaikan dengan metode ceramah interaktif. Diskusi, tanya jawab, dan Pendampingan . Wokshop. Pada tahap ini perserta diberikan kesempatan untuk belajar tentang penyusunan bahan ajar berbasis deep learning. Melalui praktik, guru-guru SDI Pilasue secara langsung membuat bahan ajar berbasis Deep Learning, bersamaan dengan itu juga. Narasumber atau pembicara memberikan umpan balik atas hasil workshop peserta. Selain Narasumber, dari TIM Dosen PGSD juga turut hadir memberikan pendampingan bersama masing-masing guru agar proses penyusunan Modul ajar lebih tertib dan terarah. Diskusi dan refleksi. Guru-guru diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama pembelajaran dalam menerapkan pembelajaran Deep Learning di sekolah. Evaluasi dan umpan balik. Evaluasi dan umpan balik dilakukan secara langsung oleh Narasumber atau pembicara untuk mengevaluasi keberhasilan kegiatan ini dan mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki. Tahap Evaluasi: Evaluasi dilakukan melalui wawancara reflektif. Tahapan ini merupakan tahapan evaluasi kegiatan pelaksanaan pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan Diskusi dan Refleksi serta Evaluasi dan Umpan balik, yang guru dan kepala sekolah bersama kedua narasumber. Jenis wawancara reflektif yang Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. dilakukan yaitu wawancara terbuka. Wawancara reflektif dilakukan salah satunya untuk melihat dampak pelatihan terhadap kegiatan belajar mengajar. HASIL Kegiatan PKM ini dilaksanakan pada hari Jumat, 8 Agustus 2025 di SD Inpres Pilasue. Rote Selatan. Kabupaten Rote Ndao. Peserta kegiatan ini terdiri atas guru kelas sebanyak 8 orang dan 1 orang kepala sekolah di SD Inpres Pilasue. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan pembukaan yang dilakukan oleh ketua Panitia Maxsel Koro,M. Pd yang menyampaikan tujuan dan manfaat yang didapatkan peserta selama mengikuti kegiatan ini. Gambar 1. Pembukaan Oleh Ketua TIM PKM Selanjutnya peserta diberikan materi pertama tentang Kurukulum Merdeka dengan Pemateri Daniel Williams Fointuna. Pd. Pada sesi ini para guru diberikan penguatan kembali tentang kurikulum Merdeka, proses pelaksanaan kurikulum merdeka dalam pembelajaran. Selama sesi ini berlangsung peserta mengikuti dengan antusias. Beberapa guru bahkan membagikan pengalaman terkait pelaksanaan kurikulum Merdeka di sekolah terlebih khusus dalam proses pembelajaran di Gambar 2. Penyampaian Materi dan Diskusi Materi Kurikulum Merdeka Materi selanjutnya disampaikan oleh Maxsel Koro. Pd yang berfokus pada pendekatan Deep Learning. Hal yang paling utama dari sesi ini adalah peserta diberikan materi tentang pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning. Peserta diberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Deep learning, serta pemberian pemahaman yang lebih mendalam tentang pembelajaran meaningfull, mindfull, dan joyfull. Para peserta terlihat mengikuti sesi ini dengan antusias ditandai dengan beberapa peserta yang memberikan pertanyaan. Sesi penyampaian materi baik materi pertama dan kedua terlaksana pada kegiatan ini. Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. Gambar 3. Penyampaian Materi Pembuatan Modul Ajar Berbasis Deep Learning Setelah penyampaian materi dilaksanakan, peserta mengikuti sesi workshop. Pada sesi ini peserta diberikan kesempatan untuk langsung menyusun modul ajar berbasis Deep Learning. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. masing-masing kelompok terdiri dari 1 atau 2 peserta dan didampingi oleh satu fasilitator yang bertugas untuk mendampingi peserta dalam penyusunan modul Peserta didampingi oleh fasilitator menyusun modul ajar berbasis Deep Learning sesuai dengan contoh modul ajar berbasis Deep Learning yang telah dibagikan kepada peserta. Peserta mengikuti workshop ini dengan penuh semangat dan menyelesaikan modul ajar berbasis Deep Learning ini hingga selesai. Gambar 4. Workshop Pembuatan Modul Ajar berbasis Deep Learning Selanjutnya bersama pemateri, peserta berdiskusi dan melakukan refleksi terkait modul ajar yang telah dibuat. Pemateri dan peserta bersama-sama melakukan evaluasi terkait pelaksanaan kegiatan PKM ini. Peserta menyampaikan tanggapan mereka terkait kegiatan PKM ini dan pemateri memberikan umpan balik. Pemateri dan peserta juga menyimpulkan bersama tentang hal-hal yang didapatkan dan yang perlu diperbaiki dari kegiatan PKM ini. Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. Gambar 5. Evalusi dan Umpan Balik bersama guru Pelatihan ini menghasilkan 8 modul ajar berbasis Deep Learning yang terdiri dari 6 modul ajar untuk kelas 1-6, 1 modul ajar mata pelajaran pendidikan agama Kristen, dan 1 modul ajar mata pelajaran PJOK. 8 modul yang dihasilkan siap digunakan dalam pembelajaran semester berjalan. Pelatihan ini juga memberi kerangka dan pemahaman baru bagi guru-guru di SD Inpres Pilasue dalam menyusun perangkat pembelajaran di tahun ajaran yang baru dengan berbasis pendekatan Deep Learning. Sebagai sekolah pertama di Rote Selatan yang mendapat pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning, pihak sekolah berencana menyusun jadwal untuk melakukan pengimbasan kepada guru-guru di SD lain sehingga pendekatan Deep Learning dapat lebih luas diterapkan di Rote Selatan. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning memberikan beberapa manfaat kepada guru yaitu guru mendapatkan pemahaman mendalam tentang Deep Learning dan membantu guru menyiapkan pembelajaran yang meaningfull, mindfull, dan joyfull sehingga pembelajaran yang berjalan di kelas lebih kontekstual namun tetap sejalan dengan perkembangan yang ada. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh MasAoud B et al. , . bahwa workshop penyusunan modul ajar Deep Learning dapat untuk membantu menjawab kebutuhan guru dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih kontekstual, mendalam, dan relevan dengan tantangan era digital. Pelatihan ini secara tidak langsung memberikan manfaat kepada siswa membentuk karakter siswa yang lebih kritis dan kreatif, meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi siswa sekolah dasar. Penelitian yang dilakukan oleh Taneo et al. , . bahwa dalam modul ajar berbasis Deep Learning telah diintergrasikan dengan elemen 4C (Critical Thinking. Creativity. Collaboration. Communicatio. sehingga dapat membentuk karakter siswa yang lebih kritis dan kreatif, serta mendorong eksplorasi dan pembelajaran kolaboratif yang bermakna. Dalam pelatihan ini guru juga dilatih secara langsung memanfaatkan teknologi dalam pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning. Guru dilatih untuk memanfaatkan perangkat keras yang ada seperti komputer/laptop serta memanfaatkan AI dalam pembuatan modul ajar ini. Ketersediaan perangkat keras yang kurang memadai dan hambatan dalam mengakses internet menjadi tantangan guru selama ini dalam menyiapkan pembelajaran yang revelan dengan era digital. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning ini menjadi sarana peningkatan kemampuan guru dalam mengoperasikan teknologi yang ada secara efektif walau dalam kondisi yang terbatas. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Haryanti et al. , . bahwa pelatihan pembuatan modul ajar Berbasis Deep Learning dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut karena pelatihan dilakukan secara mendalam sehingga guru dapat belajar memanfaatkan teknologi secara efektif meskipun di lingkungan yang terbatas. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning di SD Inpres Pilasue Rote Selatan. Rote Ndao telah selesai dilaksanakan dengan baik. Pelatihan ini memiliki potensi besar dalam Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. membawa pembaharuan terhadap proses pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Pembelajaran menjadi lebih bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan sehingga siswa bukan hanya dibentuk secara akademik saja namun juga terjadi pembentukan karakter serta kemampuan fisik dan emosional. Bagi guru, tidak hanya mampu memahami tentang pendekatan Deep Learning tetapi dapat mengimplementasikannya dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual sehingga menciptakan pembelajaran yang mendalam bagi siswa. Terkait tantangan yang dialami oleh guru, diharapkan adannya dukungan dari pemerintah daerah dan juga pemangku kepentingan pendidikan dalam penyediaan sarana prasarana pendukung pembelajaran secara digital dan pelatihan berkelanjutan terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Deep Learning. PEMBAHASAN Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning memberikan beberapa manfaat kepada guru yaitu guru mendapatkan pemahaman mendalam tentang Deep Learning dan membantu guru menyiapkan pembelajaran yang meaningfull, mindfull, dan joyfull sehingga pembelajaran yang berjalan di kelas lebih kontekstual namun tetap sejalan dengan perkembangan yang ada. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh MasAoud B et al. , . bahwa workshop penyusunan modul ajar Deep Learning dapat untuk membantu menjawab kebutuhan guru dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih kontekstual, mendalam, dan relevan dengan tantangan era digital. Pelatihan ini secara tidak langsung memberikan manfaat kepada siswa membentuk karakter siswa yang lebih kritis dan kreatif, meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi siswa sekolah dasar. Penelitian yang dilakukan oleh (Taneo et al. , . bahwa dalam modul ajar berbasis Deep Learning telah diintergrasikan dengan elemen 4C (Critical Thinking. Creativity. Collaboration. Communicatio. sehingga dapat membentuk karakter siswa yang lebih kritis dan kreatif, serta mendorong eksplorasi dan pembelajaran kolaboratif yang bermakna. Dalam pelatihan ini guru juga dilatih secara langsung memanfaatkan teknologi dalam pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning. Guru dilatih untuk memanfaatkan perangkat keras yang ada seperti komputer/laptop serta memanfaatkan AI dalam pembuatan modul ajar ini. Ketersediaan perangkat keras yang kurang memadai dan hambatan dalam mengakses internet menjadi tantangan guru selama ini dalam menyiapkan pembelajaran yang revelan dengan era digital. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning ini menjadi sarana peningkatan kemampuan guru dalam mengoperasikan teknologi yang ada secara efektif walau dalam kondisi yang terbatas. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Haryanti et al. , . bahwa pelatihan pembuatan modul ajar Berbasis Deep Learning dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut karena pelatihan dilakukan secara mendalam sehingga guru dapat belajar memanfaatkan teknologi secara efektif meskipun di lingkungan yang terbatas. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning di SD Inpres Pilasue Rote Selatan. Rote Ndao telah selesai dilaksanakan dengan baik. Pelatihan ini menghasilkan modul ajar berbasis Deep Learning yang bisa langsung digunakan guru dalam pembelajaran. Pelatihan ini memiliki potensi besar dalam membawa pembaharuan terhadap proses pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Pembelajaran menjadi lebih bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan sehingga siswa bukan hanya dibentuk secara akademik saja namun juga terjadi pembentukan karakter serta kemampuan fisik dan Bagi guru, tidak hanya mampu memahami tentang pendekatan Deep Learning tetapi dapat mengimplementasikannya dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual sehingga menciptakan pembelajaran yang mendalam bagi siswa. Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning ini menjadi langkah pengembangan profesionalisme guru. Menurut Faizin. , dkk . Profesionalisme guru dapat dilihat dari bagaimana Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. guru menerapkan pendekatan deep learning dengan indikator yaitu . penguasaan konsep dan teori deep learning. Kemampuan merancang pembelajaran berbasis Deep Learning. Kemampuan menerapkan pembelajaran berbasis Deep Learning. Kemampuan mengevaluasi. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Dalam pelatihan ini guru SD Inpres Pilasue dibekali dengan 5 kemampuan yang menjadi indikator profesionalisme guru dalam pembelajaran dengan pendekatan Deep Learning. Artinya pelatihan ini memberi dampak terhadap pengembangan profesionalisme guru terkshusunya bagi guru di SD Inpres Pilasue. Pelatihan Deep Learning yang dilakukan oleh Hutagalung. ,dkk . melalui kegiatan PKM juga menemukan bahwa pelatihan pendekatan Deep Learning bagi guru berhasil meningkatkan tiga aspek utama dari guru yaitu peningkatan pengetahuan konseptual, kemampuan praktis dalam menyusun perangkat pembelajaran, dan perubahan praktik mengajar di Terkait tantangan yang dialami oleh guru, diharapkan adannya dukungan dari pemerintah daerah dan juga pemangku kepentingan pendidikan dalam penyediaan sarana prasarana pendukung pembelajaran secara digital dan pelatihan berkelanjutan terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Deep Learning. KESIMPULAN Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Deep Learning merupakan salah satu terobosan baru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah saat ini. Melalui pendekatan Deep Learning, siswa dapat merasakan proses pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan Pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning di SD Inpres Pilasue. Rote Selatan. Kabupaten Rote Ndao berjalan dengan baik tanpa hambatan. Guru mendapatkan pengalaman yang berarti dalam membuat modul ajar berbasis deep learning. Secara langsung pelatihan ini memberikan manfaat dalam meningkatkan kompetensi dan keterampilan guru memanfaatkan teknologi untuk pembuatan modul ajar yang lebih inovatif. Guru menciptakan pembelajaran yang kontekstual, mendalam, dan relevan dengan tantangan era digital. Secara tidak langsung guru menyiapkan pembelajaran yang dapat mendukung berkembangkan kemampuan 4C siswa. Berdasarkan hasil evaluasi dapat diketahui bahwa kegiatan pelatihan pembuatan modul ajar berbasis Deep Learning ini dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru. Namun dibutuhkan tindak lanjut agar pengetahuan yang dimiliki guru setelah mengikuti pelatihan dapat terus Rencana tindak lanjut yang dapat dilakukan yaitu fasilitator dari setiap kelompok diskusi yang telah dibentuk pada kegiatan workshop secara berkala melalukan bimbingan lanjutan pada kelompok masing-masing. Guru dapat menyampaikan hal-hal yang ditemui berkaitan dengan implementasi modul ajar berbasis pendekatan Deep Learning di sekolah melalui forum diskusi bersama kelompok dan fasilitator melalui grup pembimbingan secara online dalam WhatsApp Group. Berkaitan dengan tantangan implementasi Deep Learning di SD Inpres Pilasue maupun di sekolah-sekolah yang berada di daerah 3T, direkomendasikan agar pemerintah daerah dan juga para pemangku kepentingan pendidikan dapat menyiapkan sumber daya pendidikan digital dan juga memberikan pelatihan serupa secara berkelanjutan agar guru terus mengoptimalkan kemampuan diri dan dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan dapat mendistribusikan panduan cetak penyusunan modul ajar berbasis Deep Learning sebagai bahan belajar mandiri bagi guru-guru di daerah yang masih kekurangan fasilitas digital. Selain itu berkaitan dengan infrastruktur desa, diharapkan pemerintah daerah dapat memperhatikan infrastruktur seperti Listrik dan pemancar jaringan sehingga sumber daya pendidikan digital yang dimiliki sekolah dapat digunakan secara optimal. Jurnal Lentera Pengabdian: Maxsel Koro. Adam B. Nifu Benu. Daniel W. Fointuna. Gaudensius Koten. Jimylton Dethan. Livia Eunike Paut. Marchel H. Djami Riwu. Marfelano Bessie JLP : Jurnal Lentera Pengabdian Volume 03 No 04 Oktober 2025 E ISSN:2985-6140 https://lenteranusa. DAFTAR PUSTAKA