e_ISSN: 2986-7487 p_ISSN: 2548-8171 Volume 09. Issue 02. Desember 2025 Peran Konselor dalam Mengatasi Tantangan Siswa di SMPN Teluk Jambe Timur Karawang Lisma Mardiyah1 nC. Linda Nabila2 . Maharani3 . Muhammad Fawaz Akbar4 . Nur Aini Farida5 1, 2, 3, 4, 5 Universitas Singaperbangsa karawang. Indonesia e-mail: 2310631110116@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan peran konselor dalam mengatasi tantangan siswa di SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Karawang. Fokus penelitian ini adalah pada pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling (BK) serta tantangan yang Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari satu guru BK dan tiga siswa kelas IX. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor berperan penting sebagai fasilitator dan motivator melalui layanan bimbingan klasikal dan konseling responsif. konselor juga bekerja sama dengan wali kelas serta guru mata pelajaran dalam menangani permasalahan siswa. Siswa menilai layanan BK sebagai tempat aman untuk konsultasi. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah konselor, hanya dua orang untuk 1. 300 siswa dan pelaksanaan layanan di luar jam sekolah yang dinilai kurang efektif. Kata Kunci: peran konselor. tantangan siswa. SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Abstract This study aims to analyze and describe the role of counselors in overcoming student challenges at SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Karawang. The focus of this study is on the implementation of Guidance and Counseling (BK) services and the challenges faced. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects consisted of one guidance and counseling teacher and three ninth-grade students. Data collection was conducted through non-participant observation and semistructured interviews. The results showed that guidance and counseling teachers play an important role as facilitators and motivators through classical guidance and responsive counseling services. The guidance counselor also collaborates with homeroom teachers and subject teachers in addressing student issues. Students perceive the guidance counseling services as a safe place for consultation. The main challenges faced are the limited number of guidance counselors, with only two counselors for 1,300 students, and the implementation of services outside of school hours, which is considered Keywords: the role of counselors. student challenges. SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Copyright . 2025 Lisma Mardiyah. Linda Nabila, et. nC Corresponding author : Lisma Mardiyah Email Address : 2310631110116@student. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2025 | 124 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. Pendahuluan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam dunia pendidikan sebagai upaya membantu peserta didik mengatasi berbagai tantangan perkembangan, baik secara akademik, sosial, maupun emosional. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), masa remaja awal menjadi fase yang krusial karena siswa mulai mengalami perubahan psikologis dan sosial yang kompleks. Dalam situasi tersebut, konselor berperan sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pembimbing yang membantu siswa mengenali diri, mengembangkan potensi, serta menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, pelaksanaan layanan BK di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Berdasarkan hasil observasi di SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Karawang, ditemukan adanya kesenjangan antara kebutuhan ideal dan kondisi nyata di sekolah. Saat ini, hanya terdapat dua guru BK yang harus menangani sekitar 1. 300 siswa, sedangkan menurut Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014, rasio ideal guru BK adalah satu untuk setiap 150 siswa. Ketidakseimbangan ini menyebabkan layanan tidak dapat menjangkau seluruh peserta didik secara optimal. Selain itu, pelaksanaan layanan yang dilakukan setelah jam sekolah juga dinilai kurang efektif karena siswa sudah lelah atau memilih untuk pulang, sehingga partisipasi menjadi rendah. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa peran konselor tidak hanya sebatas memberikan layanan konseling individu, tetapi juga mencakup pembinaan karakter, pengembangan karier, serta kolaborasi dengan wali kelas dan guru mata pelajaran dalam menangani permasalahan siswa (Harahap et al. , 2025. Rofiqoh. Purwoko, & Habsyi, 2. Namun, penelitian-penelitian sebelumnya masih terbatas pada efektivitas metode layanan, belum banyak yang menyoroti tantangan praktis di sekolah dengan rasio konselor yang tidak ideal. Dengan demikian, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis bagaimana peran konselor dijalankan dalam kondisi keterbatasan sumber daya, serta strategi yang digunakan dalam mengatasi tantangan siswa di SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Karawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara mendalam peran konselor dalam mengatasi tantangan siswa di sekolah, menjelaskan bentuk layanan BK yang diterapkan, serta mengidentifikasi hambatan dan solusi yang dilakukan konselor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi pengembangan layanan BK di sekolah serta menjadi masukan bagi lembaga pendidikan dalam memperkuat fungsi konseling sebagai sarana pembinaan karakter dan kesejahteraan psikologis peserta didik. Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memahami secara mendalam fenomena sosial yang terjadi di lapangan, khususnya mengenai peran konselor dalam mengatasi tantangan siswa di sekolah. Menurut Creswell . , penelitian kualitatif bertujuan menggali makna di balik pengalaman individu dan interaksi sosial yang berlangsung dalam konteks alami. Metode deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran faktual dan sistematis mengenai pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Karawang. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Teluk Jambe Timur. Kabupaten Karawang. Jawa Barat, yang beralamat di Jl. Pinayunangan. Desa Pinayungan. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive karena sekolah ini memiliki rasio guru BK dan siswa yang jauh dari ketentuan ideal, yaitu dua guru BK untuk sekitar 1. 300 siswa. Kondisi ini menjadikan sekolah tersebut relevan untuk dikaji dalam konteks tantangan pelaksanaan layanan BK. Subjek penelitian terdiri atas satu guru Bimbingan dan Konseling . onselor sekola. dan tiga siswa kelas IX yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria keterlibatan dan pengalaman mereka terhadap layanan BK. Guru BK berperan sebagai informan utama untuk Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 125 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. memberikan informasi mendalam terkait pelaksanaan program dan tantangan layanan BK, sedangkan siswa memberikan pandangan dan pengalaman mereka sebagai penerima Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan dan wawancara semi-terstruktur. Observasi non-partisipan dilakukan untuk mengamati interaksi guru BK dengan siswa selama pelaksanaan bimbingan klasikal dan kegiatan konseling responsif. Peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan, tetapi berperan sebagai pengamat untuk memperoleh data yang objektif. Sementara itu, wawancara semi-terstruktur digunakan untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai pelaksanaan layanan, persepsi siswa, serta kendala yang dihadapi guru BK. Panduan wawancara disusun berdasarkan fokus penelitian, dengan fleksibilitas bagi peneliti untuk mengembangkan pertanyaan sesuai dinamika percakapan di lapangan (Sugiyono, 2. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 2. Reduksi data dilakukan dengan memilih dan menyederhanakan data relevan dari hasil observasi dan wawancara. Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif untuk menggambarkan temuan secara komprehensif. Selanjutnya, kesimpulan diambil berdasarkan pola, hubungan, dan makna yang muncul dari data, guna menjawab rumusan masalah penelitian. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil observasi dan wawancara dari guru BK serta siswa, sehingga data yang diperoleh lebih kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Moleong, 2. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMPN 1 Teluk Jambe Timur, diperoleh data mengenai pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling (BK) yang dilakukan oleh guru BK kepada peserta didik. Guru BK berperan penting dalam membantu siswa mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi, baik dalam bidang akademik, sosial, maupun emosional. Pelaksanaan layanan BK dilakukan melalui dua jenis layanan utama, yaitu bimbingan klasikal dan konseling responsif. Bimbingan klasikal diberikan secara terjadwal setiap hari Selasa dan Rabu setelah jam sekolah, sementara konseling responsif diberikan kepada siswa yang menghadapi masalah tertentu dan membutuhkan bantuan segera. Guru BK juga melakukan koordinasi dengan wali kelas dan guru mata pelajaran agar permasalahan siswa dapat ditangani secara menyeluruh. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang peran guru BK di sekolah, berikut hasil wawancara dengan Ibu Annisa Azahra. Pd. , selaku guru BK di SMPN 1 Teluk Jambe Timur. Tabel 1. Hasil Wawancara dengan Ibu Annisa Azahra. Pd. (Guru Bimbingan dan Konseling SMPN 1 Teluk Jambe Timu. Pertanyaan Jawaban Layanan BK tidak memiliki jam pelajaran khusus, tetapi dijadwalkan setiap hari Selasa dan Rabu. Minggu pertama untuk kelas IX, minggu kedua Bagaimana layanan BK dijalankan untuk kelas Vi, dan minggu ketiga untuk kelas sehari-hari di sekolah ini? VII. Setiap pertemuan dilaksanakan di gedung olahraga setelah jam sekolah melalui bimbingan Selain itu, setiap hari selalu ada siswa yang datang untuk konsultasi pribadi. Program BK meliputi bimbingan klasikal dan Apa saja program BK yang sedang layanan responsif. Bimbingan klasikal diberikan berjalan tahun ini? secara berkala terkait pengembangan karier, etika, dan nilai-nilai sosial. Sementara layanan responsif Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 126 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. Bagaimana interaksi guru BK dengan siswa yang membutuhkan Layanan BK apa yang paling sering digunakan oleh siswa? Bagaimana langkah-langkah guru BK dalam menangani masalah Apa tantangan utama dalam pelaksanaan BK di sekolah ini? Bagaimana kerja sama antara guru BK dan guru mata pelajaran? difokuskan pada penanganan permasalahan siswa yang membutuhkan bantuan segera. Guru BK berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan siswa, baik melalui pendekatan personal maupun koordinasi dengan wali kelas. Ketika siswa datang untuk bercerita, guru BK mendengarkan secara aktif dan memberikan solusi yang sesuai. Jika masalah melibatkan teman, dilakukan mediasi agar diselesaikan secara damai. Layanan konseling individu dan kelompok paling sering digunakan. Siswa sering datang untuk curhat terkait pertemanan atau kesulitan belajar. Jika masalah dianggap berat. BK bekerja sama dengan bagian kesiswaan untuk menangani lebih Langkah pertama adalah menerima laporan dari guru atau wali kelas. Kemudian siswa dipanggil untuk diajak bicara secara pribadi. Guru BK menggali latar belakang permasalahan sebelum memberikan solusi. Bila melibatkan orang lain, terselesaikan dengan baik. Tantangan terbesar adalah keterbatasan jumlah guru BK, hanya dua orang untuk 1. 300 siswa. Hal ini membuat pelayanan belum optimal. Selain itu, waktu layanan setelah jam sekolah kurang efektif karena banyak siswa yang memilih langsung Guru BK menjalin kerja sama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas dalam menangani siswa Guru mata pelajaran biasanya melapor jika ada siswa yang sering bolos, tidak aktif, atau mengalami perubahan perilaku. Guru BK kemudian menindaklanjuti dengan pendekatan dan Selain wawancara dengan guru BK, peneliti juga melakukan wawancara dengan tiga siswa, yaitu Angga . elas IX-E). Jasmine . elas IX-G), dan Keysha . elas IX-F) untuk mengetahui pandangan mereka terhadap peran dan manfaat layanan BK. Tabel 2. Hasil Wawancara dengan Siswa SMPN 1 Teluk Jambe Timur Pertanyaan Ringkasan Jawaban Siswa Ketiga siswa menilai BK sangat penting karena Bagaimana peran BK di sekolah? membantu mereka memahami sikap, perilaku, dan cara menyelesaikan masalah. Siswa mengetahui bahwa BK memberikan layanan Apakah kamu tahu layanan apa konsultasi pribadi, bimbingan kelompok, dan kelas saja yang diberikan BK? tambahan BK setelah jam sekolah. Keysha pernah berkonsultasi terkait masalah Apakah kamu pernah berkonsultasi pertemanan dan merasa terbantu karena guru BK ke BK? memberikan solusi dan mediasi. Apakah BK membantu ketika Semua siswa sepakat bahwa BK adalah tempat Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 127 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. menghadapi masalah? Apa harapanmu untuk layanan BK? yang aman untuk curhat dan mendapatkan solusi. Siswa berharap BK bisa dilaksanakan lebih sering di jam sekolah dan memberikan pembinaan karakter yang lebih serius. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas, diperoleh beberapa temuan penting mengenai pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling (BK), peran guru BK sebagai fasilitator dan motivator, tantangan pelaksanaan layanan, serta bentuk kolaborasi antara konselor dengan pihak sekolah. Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Layanan BK di SMPN 1 Teluk Jambe Timur dilaksanakan melalui dua bentuk utama, yaitu bimbingan klasikal dan konseling responsif. Bimbingan klasikal dilakukan terjadwal di setiap tingkat kelas dengan materi pengembangan diri, sedangkan konseling responsif diberikan kepada siswa yang mengalami masalah pribadi, sosial, dan akademik. Namun, keterbatasan waktu dan jumlah guru BK menyebabkan layanan banyak dilakukan di luar jam sekolah, yang berimplikasi pada menurunnya partisipasi siswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Fitri Susanty . yang menyebutkan bahwa efektivitas BK di sekolah dipengaruhi oleh keterbatasan waktu dan beban administrasi guru BK. Demikian pula. Rachmawati dan Nurhayati . menegaskan bahwa jadwal layanan di luar jam belajar membuat siswa kurang antusias mengikuti kegiatan bimbingan. Dalam konteks teori Bimbingan Komprehensif Sekolah, sebagaimana dijelaskan oleh Tohirin . , layanan BK seharusnya diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran agar siswa merasa bahwa bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan, bukan kegiatan tambahan. Peran Konselor sebagai Fasilitator dan Motivator Guru BK di SMPN 1 Teluk Jambe Timur berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi siswa. Dalam perannya sebagai fasilitator, konselor membantu siswa memahami potensi diri, mengembangkan keterampilan sosial, serta menumbuhkan kepercayaan diri. Sementara sebagai motivator, guru BK mendorong siswa untuk lebih aktif dan tangguh menghadapi kesulitan akademik maupun emosional. Peran ini sesuai dengan temuan Yuningsih dan Herdi . yang menyatakan bahwa guru BK tidak hanya membantu siswa dalam menyelesaikan masalah, tetapi juga berperan dalam menumbuhkan semangat belajar dan karakter positif. Selain itu. Rahayu dan Wicaksono . menegaskan bahwa sikap empatik dan kemampuan komunikasi interpersonal guru BK merupakan kunci keberhasilan layanan konseling. Hal ini juga memperkuat teori Person-Centered Counseling (Rogers, 1. , di mana empati, penerimaan tanpa syarat, dan kehangatan menjadi dasar hubungan antara konselor dan klien. Pendekatan empatik ini terlihat jelas dalam praktik di sekolah. Guru BK memberikan ruang curhat bagi siswa tanpa menghakimi dan selalu menindaklanjuti permasalahan yang muncul dengan tindak konseling lanjutan. Temuan ini serupa dengan hasil penelitian Rofiqoh. Purwoko, dan Habsyi . yang menegaskan bahwa penerapan pendekatan berpusat pada siswa dapat meningkatkan keterbukaan dan kepercayaan siswa terhadap layanan BK. Tantangan Pelaksanaan Layanan BK Salah satu tantangan terbesar di SMPN 1 Teluk Jambe Timur adalah jumlah guru BK yang tidak sebanding dengan jumlah siswa. Dua guru BK harus menangani sekitar 1. siswa, padahal Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 menetapkan rasio ideal 1 guru BK untuk 150 siswa. Kondisi ini menyebabkan guru BK kesulitan memberikan layanan individual yang mendalam. Temuan ini didukung oleh penelitian Dewi . yang menyebutkan bahwa rasio guru BK dan siswa yang tidak ideal berdampak pada rendahnya efektivitas layanan konseling. Harahap et al. juga mengungkapkan bahwa beban kerja Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 128 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. yang tinggi membuat guru BK lebih fokus pada administrasi dan penanganan kasus mendesak dibandingkan pembinaan preventif. Selain itu, pelaksanaan layanan di luar jam sekolah juga menjadi kendala tersendiri karena tidak semua siswa dapat mengikuti kegiatan tambahan. Menurut Setyawan dan Hidayati . , faktor waktu menjadi penghambat utama dalam implementasi layanan BK di sekolah negeri yang memiliki jadwal padat. Oleh karena itu, guru BK perlu melakukan inovasi strategi, misalnya memanfaatkan waktu jam kosong atau menggunakan pendekatan konseling kelompok untuk menjangkau lebih banyak siswa. Kolaborasi Guru BK dengan Guru Lain dan Wali Kelas Guru BK di SMPN 1 Teluk Jambe Timur telah melakukan kolaborasi dengan wali kelas dan guru mata pelajaran dalam menangani siswa yang memiliki masalah belajar dan Kolaborasi dilakukan dengan saling bertukar informasi serta menyusun rencana penanganan bersama. Model kerja sama ini menunjukkan implementasi prinsip bimbingan komprehensif yang menempatkan seluruh tenaga pendidik sebagai bagian dari sistem Hasil ini sejalan dengan penelitian Harahap et al. yang menekankan pentingnya kerja sama antara guru BK, wali kelas, dan guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter siswa. Temuan serupa juga dijelaskan oleh Mulyadi . yang menyatakan bahwa sinergi antarguru dapat memperkuat deteksi dini terhadap masalah siswa dan mempercepat proses intervensi. Dengan demikian, kolaborasi bukan hanya mendukung efektivitas layanan BK, tetapi juga memperkuat budaya sekolah yang peduli terhadap kesejahteraan peserta didik. Persepsi dan Pengalaman Siswa terhadap Layanan BK Berdasarkan hasil wawancara, siswa menilai guru BK sebagai sosok yang mudah diakses, bijak, dan peduli terhadap permasalahan mereka. Siswa mengaku merasa nyaman saat bercerita kepada guru BK dan menganggap ruang konseling sebagai tempat yang aman. Namun, sebagian siswa masih menganggap layanan BK hanya untuk siswa bermasalah, bukan untuk pengembangan diri. Temuan ini senada dengan hasil penelitian Devani Putri dan Setyandari . bahwa persepsi siswa terhadap guru BK sangat menentukan keterlibatan mereka dalam layanan. Yuliana dan Anshori . juga menemukan bahwa masih banyak siswa di SMP negeri yang belum memahami fungsi BK sebagai sarana pembinaan karakter, bukan sekadar penyelesaian masalah. Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi berkelanjutan agar siswa memandang layanan BK sebagai wadah pengembangan diri, bukan hukuman atau teguran. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa guru BK di sekolah perlu memperkuat kolaborasi dengan guru lain dan mengoptimalkan pendekatan empatik agar layanan tetap efektif meskipun dengan keterbatasan jumlah tenaga. Sekolah juga diharapkan memberikan dukungan kebijakan untuk memperbaiki rasio guru BK dan menata ulang waktu pelaksanaan layanan agar tidak mengganggu jadwal belajar siswa. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat model bimbingan komprehensif dan teori konseling humanistik dalam konteks sekolah Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa prinsip empati dan kolaborasi yang menjadi inti teori Rogers dapat diadaptasi secara kontekstual pada sekolah dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini juga berkontribusi dengan memunculkan kerangka AuModel Bimbingan Kolaboratif AdaptifAy, yakni model praktik BK yang menekankan empati, fleksibilitas, dan kerja sama lintas peran dalam mendukung kesejahteraan siswa. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa konselor di SMPN 1 Teluk Jambe Timur memegang peran krusial sebagai fasilitator dan motivator dalam membantu siswa mengatasi tantangan mereka. Peran ini diwujudkan melalui dua layanan utama, yaitu bimbingan klasikal terjadwal dan konseling responsif untuk masalah mendesak , serta Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan 2. 129 Peran Konselor dalam mengatasi Tantangan SiswaA. didukung oleh kolaborasi aktif dengan wali kelas dan guru mata pelajaran. Siswa secara positif memandang layanan BK sebagai tempat yang aman dan penting untuk berkonsultasi. Meskipun demikian, efektivitas peran konselor tersebut menghadapi hambatan sistemik yang berat. Tantangan terbesar adalah kesenjangan rasio yang ekstrem antara jumlah konselor dan siswa . konselor untuk 1. 300 sisw. , yang membuat pelayanan tidak optimal dan merata. Tantangan ini diperburuk oleh pelaksanaan layanan di luar jam sekolah, yang terbukti kurang efektif karena rendahnya partisipasi siswa. Pada intinya, meskipun guru BK menunjukkan dedikasi dan fleksibilitas yang tinggi, kebutuhan psikologis dan sosial siswa di sekolah tersebut belum dapat terpenuhi secara maksimal akibat keterbatasan sumber daya manusia yang fundamental. Daftar Pustaka