VitaMedica : Jurnal Rumpun Kesehatan Umum Volume 2 Nomor 2 April 2024 e-ISSN : 3030-8992. p-ISSN : 3030-900X. Hal 145-154 DOI: https://doi. org/10. 62027/vitamedica. Available online at : https://journal. id/index. php/VitaMedica TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 Eka Ristin Tarigan1*. Adriana Bangun 2*,Putri Nadila3* Nureliani Amni4*. Tiara Surena Br Sitepu 5* Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Sejati Email koresponen: ekaristintarigan@gmail. ABSTRAK Di Indonesia, menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BBKBN) 2015, menunjukkan 51 % remaja di Jabotabek telah melakukan seks di luar nikah telah dilakukan sejumlah remaja usia sekolah. Dan semua sampel penelitian menunjukkan 85 % remaja melakukan mastrubasi sebagai rutinitas kesehariannya. Hal i i juga menunjukkan bahwa pendidikan seks di sekolah, di terima baik hanya 7 % dan 93 % masih menganggap hal ini tabu untuk membicarakan tentang sex buat anak Ae anak Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan data primer tujuannya untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri terhadap sex education pada 40 remaja putri di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020. Dengan menggunakan 20 pertanyaan hasil penelitian didapat 40 responden bahwa responden dengan kategori baik sebanyak 10 orang ( 25 % ), pengetahuan cukup 18 orang ( 45 % ), berpengetahuan kurang 8 orang ( 20 % ) dan berpengetahuan buruk 4 ( 10 % ) . Disarankan pada remaja putri agar mencari informasi mengenai pengetahuan terhadap sex education kepada petugas agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberikan penyuluhan tentang sex education. Kata Kunci : Pengetahuan Sex Education Pada Remaja Putri PENDAHULUAN Seks sebenarnya sudah dikenal sejak masa seseorang dilahirkan. Seseorang yang telah terlahir, baik laki Ae laki maupun perempuan, akan terus mengalami perkembangna seksual secara fisik dari anak Ae anak sampai memasuki usia remaja yang dipengaruhi oleh hormon seks ( laki Ae laki dan perempuan ) (Dianawati A, 2016 ). Menurut WHO ( 2017 ) memprediksikan sekitar 1/5 penduduk dunia adalah anak remaja( adolescen. yang dengan batasan umur 11 Ae 20 tahun yang mana 11 Ae 13 tahun adalah tahap pada remaja awal, 14 Ae 16 tahun adalah tahap remaja tengah dan 17 Ae 20 tahun adalah remaja akhir ( Pratiwi, 2. Kematangan seksual pada remaja ini menyebabkan munculnya minat seksual dan keinginan remaja tentang seksual. Meningkatnya dorongan seksual pada remaja yang kemudian mengarah ke perilaku seksual remaja. Received: Maret 07, 2023. Revised: Maret 18, 2023. Accepted: April 02, 2024. Online Available: April 16, 2024. *Eka Ristin Tarigan, ekaristintarigan@gmail. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 Bagi sebagian remaja melakukan hubungan seksual pranikah dilakukan pada kondisi yang belum semestinya. Biasanya dilakukan pada proses pacaran yang tidak tunduk pada etika sebagaimana mestinya, sedangkan mereka sendiri kurang menyadari akibat yang timbul dari kejadian seksual. Perempuan yang pertama kali melakukan hubungan seksual kemungkinan hamil 20 % sampai 25 % ( Dianawati A, 2016 ). Di Thailand pendidikan seks dimulai sejak tahun 2010. Pendidikan seks formal di mulai sejak sekolah mata pelajaran biologi. Beberapa sekolah sudah memasuki pendidikan sex education sebagai salah satu mata pelajaran. Anak Ae anak berusia 12 tahun sudah di bolehkan oleh pemerintah untuk menerima pendidikan seks dari orang tua dan sekolah pada umur ini sangat penting pemerintah Thailand juga sudah mulai menyediakan informasi mengenai pendidikan seks melalui media internet dan tentunya dalam bahasa Thailand ( Kolage. K, 2017 ). Anggapan sebagai orang tua bahwa membicarakan masalah seks adalah sesuatu yang tabu sebaiknya dihilangkan. anggapan seperti inilah yang menghambat penyampaian pengetahuan seks seharusnya sudah dapat dimulai dari segala usia. samping Au tabu AoAo kemungkinan besar pada orang tua merasa khawatir jika mengetahui lebih banyak masalah seksualitas, sianak akan mengikat rasa penasaran dan keberaniannya untuk memperhatikan seks tersebut. Mencegah pengaruh dari luar untuk memenuhi rasa ingin tahu sianak mungkin tidak perlu dilakukan. Pasalnya, setiap anak yang sehat pasti ingin sekali mengetahui perkembangan dan perbedaan anggota tubuh dengan orang lain. Ingin merasakan dan mengetahui arti ciuman dan sentuhan seperti yang dilihatnya di TV atau lingkungan sekitarnya. Bisa juga anak tersebut ingin mengetahui perasaan, khayalan seksual, dan proses reproduksi yang mungkin masih membingungkannya ( Dianawati A, 2016 ). Pendidikan seks disini dapat membantu remaja laki Ae laki dan perempuan untuk mematuhi resiko dari sikap seksual mereka yang mengajarkan pengambilan keputusan seksualnya secara dewasa, tidak menimbulkan hal Ae hal yang merugikan diri sendiri maupun orang tuanya ( Dianawati A, 2016 ). Halnya dengan Indonesia. Menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BBKBN ) 2015, menunjukkan 51 % remaja dijabotabek telah melakukan seks di luar nikah telah dilakukan sejumlah remaja usia sekolah. Dan semua sampel Jurnal VitaMedica VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 145-154 penelitian menunjukkan 85 % remaja melakukan mastrubasi sebagai rutinitas kesehariannya ( Aditrock, 2. Hal ini juga menunjukkan bahwa pendidikan seks di sekolah, di terima baik hanya 7 % dan 93 % masih menganggap hal ini tabu untuk membicarakan tentang seks buat anak Ae anak mereka. ( Al Ae Mighwar, 2016 ). Hal ini juga terjadi karena tidak adanya pendidikan seks di sekolah, tidak adanya informasi yang tepat mengenai sehingga membuat para remaja usia sekolah telah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan membuat tingkat kehamilan remaja naik ketingkat yang tinggi ( Hurlock. E, 2016 ). Berdasarkan SDKI 2017, diperkirakan ada 42 juta remaja Indonesia yang berusia 10 Ae 19 tahun. Dengan demikian, berdasarkan survey KPA 2018, sudah 26,23 juta remaja Indonesia hidup bergelimang syahwat. Fakta lain yang juga menyesakkan dada dari survei KPA ini adalah 97 % remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 93,7 % diantaranya pernah berciuman, melakukan stimulasi genital dan oral seks ( Aditrock. Namun masih lewat jalur mata pelajaran - pelajaran biologi, sama seperti di Indonesia pendidikan seks masih belum cukup karena anak Ae anak yang masih umur 13 tahun masih banyak melakukan hubungan seks diluar nikah ( Aditroc, 2015 ). Hasil penelitian yang diungkapkan Dekan Fakultas Biologi Universitas Sumatera Utara. Ir. Harso Kardhinata MSc dalam seminar Pendidikan seks ( sex education ) baru Ae baru ini, benar Ae benar mengejutkan, penelitian dalam tahun 2016 menunjukkan, sekitar 23 % siswa tingkat SLTP dan SLTA di Medan. Binjai dan Langkat, tidak perawan. Dalam tahun 2016 ini diperkirakan siswa yang tak perawan di tiga daerah tersebut mencapai 60 %. Lebih mengejutkan, sebanyak 63 % siswa ternyata tidak perawan. Dari jumlah tersebut, 21 % di antaranya pernah melakukan aborsi ( pengguguran kandungan ). Hubungan seks sebelum nikah di kalangan siswa dalam seminar itu juga dibeberkan hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKNBN ) tentang kondisi siswa SLTP dan SLTA di Indonesia yang diumumkan baru Ae baru ini ( Kartono. M, 2016 ). Hasilnya ternyata cukup tinggi. Pada tahun 2015 Ae 2016 jumlah siswi yang tak perawan masih sekitar 47,54 %. Tapi dalam kurun waktu 2 tahun kemudian meningkat 15, 46 %. Dari lokasi survei menunjukkan, kota Medan sebagai salah satu TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 kota terbesar penyumbang angka yang tinggi itu. Alasan kenapa penulis memilih ini sebagai judul Karya Tulis Ilmiah adalah karena selama saya kuliah dan pada saat saya melakukan praktek belajar lapangan masih banyak remaja Ae remaja yang melakukan pergaulan bebas dan pacaran di usia yang masih dini. Sehingga penulis berkeinginan untuk meneliti khasus tentang tingkat pengetahuan remaja putri tentang sex education dan bagaimana cara dan solusi penanganan khasus tersebut. Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan remaja putri tentang pengetahuan seks pada usia remaja adalah dengan cara menerapkan pengetahuan seks sebagai suaatu pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari di usia dini remaja putri untuk menghindari penyalahgunaan seks yang terlalu dini. Remaja yang menerima pendidikan seks komperensif memiliki kemungkinan 60 % lebih kecil untuk mendapatkan kehamilan, di bandingkan yang tidak menerima pendidikan seks sama sekali. Berdasarkan latar diatas, penulis memilih SMP Etislandia Medan sebagai tempat untuk meneliti khasus tersebut. Setelah dilakukan survei awal dari 40 orang remaja putri di SMP Etislandia Medan. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Au Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020. AoAo METODE Penelitian itu bersifat deskriftif menggunakan data primer dengan cara memperoleh jawaban langsung dari responden dengan menjawab kuisioner yang mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang sex education. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja akan sex education pada remaja putri. HASIL Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Berdasarkan Penghasilan Orang Tua. Umur. Sumber Informasi. Pendidikan Orang Tua Dan Pekerjaan Orang Tua Di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020 Jurnal VitaMedica VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 145-154 Tabel 1 Distribusi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang sex Education di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020. Jumlah Pengetahuan Baik Cukup Kurang Buruk Jumlah ( n ) Persentasi (%) Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa pengetahuan responden tentang pengetahuan remaja putri tentang sex education terdapat mayoritas pengetahuan cukuop sebanyak 18 orang ( 45 % ) dan minoritas berpengetahuan buruk sebanyak 4 orang ( 10 % ). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Berdasarkan Penghasilan Orang Tua Di Smp Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020. Penghasilan Orang Tua Rp Total Baik Cukup Pengetahuan Kurang Buruk % F % Jumlah Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan responden berdasarkan penghasilan orang tua mayoritas berpengetahuan cukup berpenghasilan Rp 000 Ae Rp. 000 yaitu 9 orang ( 22. 5 % ) danminoritas berpengetahuan cukup 1 orang ( 2. 5 % ) berpenghasialn < Rp 1. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 Tabel 3 Distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang sex education berdasarkan umur di SMP etislandia medan periode maret Ae april 2020 Umur < 12 tahun Baik 12 Ae 15 tahun 37,5 5 12,5 4 >15 tahun Total Cukup Pengetahuan Kurang Buruk 2,5 0 Jumlah Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan responden berdasarkan umur mayoritas berpengetahuan cukup berumur 12 Ae 15 tahun yaitu 15 orang ( 37,5 % ) dan minoritas berpengetahuan kurang 1 orang ( 2,5 % ) berumur < 12 Tabel 4 Distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang sex education berdasarkan sumber informasi di SMP etislandia medan periode maret Ae april Sumber Pengetahuan Informasi Baik Cukup Kurang Buruk Jumlah Keluarga Media Media cetak Tenaga Total Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan responden berdasarkan sumber informasi mayoritas berpengetahuan cukup diperoleh dari tenaga kesehatan yaitu 8 orang ( 20 % ) dan minoritas berpengetahuan buruk 1 orang ( 2,5 % ) diperoleh dari media elektronik. Jurnal VitaMedica VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 145-154 Tabel 5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Berdasarkan Pendidikan Orang Tua Di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020. Pendidikan Pengetahuan orang tua Baik Cukup Kurang Buruk Jumlah F % SMP SMA Perguruan Total Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan responden berdasarkan pendidikan orang tua mayoritas berpengetahuan baik yaitu 5 orang ( 12,5 % ) bersekolah SMA dan minoritas berpengetahuan buruk 1 orang ( 2,5 % ) bersekolah SMP. SMA dan perguruan tinggi. Tabel 6 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020 Pekerjaan orang tua Cukup Pengetahuan Kurang Buruk Baik Jumlah Bekerja Tidak Total Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan responden berdasarkan pekerjaan orang tua mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 10 orang ( 25 % ) berdasarkan bekerja dan minoritas berpengetahuan buruk 2 orang ( 5 % ) berdasarkan tidak bekerja PEMBAHASAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan tentang tingkat pengetahuan remaja putri tentang sex education di SMP Etislandia Medan Periode Maret Ae April 2020 TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 sebanyak 40 orang diperoleh informasi tentang tingkat pengetahuan berdasarkan penghasilan orang tua, umur, sumber informasi, pendidikan orang tua dan penghasilan orang tua yang diperoleh remaja putri. Berdasarkan penghasilan orang tua responden mayoritas berpengetahuan cukup berpenghasilan Rp 1. 000 Ae Rp. 000 yaitu 9 orang ( 22. 5 % ) dan minoritas berpengetahuan cukup 1 orang ( 2. 5 % ) berpenghasialn < Rp 1. Menurut asumsi penulis berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penghasilan Rp 1. Ae Rp 2. 000 lebih dominan dalam menambah pengetahuan remaja tentang sex education maka dapat disimpulkan semakin banyak penghasilan orang tua akan berdampak positif terhadap pengetahuan remaja. Semakin tinggi pendapatan seseorang dapat berpengaruh baik terhadap tingkat pengetahuan seks bagi remaja karena jika kebutuhan ekonomi seseorang terpenuhi membuat remaja akan merasa cukup dan dapat terhindari dari perilaku penyimpangan akan pengetahuan seks. Hasil penelitian ini sesuai menurut Notoadmodjo 2017 bahwa semakin banyak umur semakin banyak orang menerima respon terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini menunjukkan bahwa umur mempengaruhi pengetahuan, karena didapat yang mempengaruhi cukup banyak terdapat pada kelompok umur 12 Ae 15 tahun. Menurut asumsi penulis pengetahuan remaja putri tentang sex education dipengaruhi oleh umur karena semakin banyak umur seseorang maka semakin banyak informasi yang diperoleh maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat remaja putri. Dimana dari hasil penelitian umur 12 Ae 15 tahun berjumlah 15 orang ( 37,5 % ) lebih cepat memahami dari umur dibawah 12 tahun. Hasil penelitian sesuai menurut Notoadmodjo ( 2017 ) sumber informasi adalah alat bantu pendidikan yang merupakan alat saluran ( chanel )untuk menyampaikan sebuah informasi, karena alat Ae alat tersebut digunakan mempermudah penerimaan pesan Ae pesan kesehatan bagi remaja. Menurut asumsi penulis berdasarkan hasil penelitian berpengetahuan baik lebih banyak diperoleh dari keluarga yaitu 7 orang ( 15,5 % ) karena peran orang tualah yang paling utama dalam mendidik pengetahuan seks remaja, pengetahuan remaja putri tentang sex diawali dari cara orang tua memberikan informasi kepada anaknya oleh karena itu orang tua sangat berpengaruh baik terhadap tingkat pengetahuan seks remaja. Jurnal VitaMedica VOLUME 2 NO. 2 APRIL 2024 e-ISSN: 3030-8992. p-ISSN: 3030-900X. Hal 145-154 Hasil penelitian ini tidak sesuai menurut Notoadmodjo ( 2017 ), pendidikan adalah salah satu proses dimana proses tersebut mempunyai masukan ( input ) dan keluaran ( output ). Demikian halnya dengan seks, semakin tinggi di pendidikan remaja maka remaja akan semakin mengerti tentang seks. Menurut asumsi penulis, tidak selamanya pendidikan orang tua berpengaruh baik tentang pengetahuan seks remaja karena tidak semua yang berpendidikan cepat memahami dan cara berpikirnya tidak semuanya baik karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda Ae beda, daya ingat dan pemahaman yang kuat untuk mendidik remaja. Banyak juga orang tua yang berpendidikan tapi merasa tabu untuk menyampaikan hal Ae hal tentang sex kepada remaja putrinya. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoadmodjo ( 2017 ), pekerjaan memiliki hubungan yang erat dengan tingkat pengetahuan ibu. Dengan demikian pekerjaan yang baik maka akan baik pula tingkat kesejahteraan hidup. Menurut asumsi penulis pekerjaan orang tua menjadi salah satu tolak ukur bagi remaja putri berpengetahuan tinggi akan seks dibandingkan yang tidak bekerja sama sekali karena jika orang tua remaja bekerja berarti orang tua remaja itu juga mempunyai teman Ae teman kerja yang pastinya mempunyai anak remaja dan dari situlah orang tua yang bekerja banyak berbagi informasi positif akan pengetahuan remaja akan seks maka lewat pekerjaan itu membuat orang tua lebih mudah dan lebih banyak memperoleh KESIMPULAN Dari hasil penelitian dengan judul Au Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Sex Education Di SMP Etislandia Medan periode Maret Ae april 2020Ay maka dapat disimpulkan bahwa. Distribusi tingkat pengetahuan remaja tentang sex education berdasarkan penghasilan orang tua mayoritas berpengetahuan cukup berpenghasilan Rp 000 Ae Rp. 000 yaitu 9 orang ( 22. 5 % ). Distribusi tingkat pengetahuan remaja tentang sex education berdasarkan umur mayoritas berpengetahuan cukup pada kelompok umur 12 Ae 15 tahun yaitu 15 orang ( 37,5 % ) . TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG SEX EDUCATION DI SMP ETISLANDIA MEDAN PERIODE MARET - APRIL 2022 Distribusi tingkat pengetahuan remaja tentang sex education berdasarkan sumber informasi mayoritas yang berpengetahuan cukup diperoleh dari tenaga kesehatan yaitu 8 orang ( 20 % ). Distribusi tingkat pengetahuan remaja tentang sex education berdasarkan pendidikan orang tua mayoritas berpengetahuan baik yaitu 5 orang ( 12,5 % ). Distribusi tingkat pengetahuan remaja tentang sex education berdasarkan pekerjaan orang tua mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 10 orang ( 25 %). DAFTAR PUSTAKA