Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 3 | Nomor 2 | April Ae Juni 2022 e-ISSN: 2722-5798 & p-ISSN: 2722-5801 DOI: 10. 33860/pjpm. Website: http://jurnal. id/index. php/PJPM/ Pemberdayaan Remaja dalam Pengelolaan Kesehatan Reproduksi pada Layanan Konseling Sebaya Ismiyati . Hani Sutianingsih . Siti Rusyanti. Rery Kurniawati. Dwi Aprilina Andriani Poltekkes Kemenkes Banten. Banten. Indonesia Email korespondensi: hani. sutianingsih@poltekkesbanten. Article history: ABSTRAK Received: 27-01-2022 Accepted: 21-02-2022 Published: 30-06-2022 Permasalahan remaja di Provinsi Banten sangat memprihatinkan, diantaranya seks bebas, kehamilan remaja, pernikahan remaja, persalinan remaja, penyakit seksual dan perilaku seks menyimpang. Permasalahan ini meningkat dari 59% pada tahun 2012 menjadi 74% pada tahun 2017. Program Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) merupakan upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan remaja dengan menggunakan pendekatan teman sebaya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan konselor sebaya dalam memberikan konseling sebaya tentang kesehatan reproduksi remaja di Kabupaten Lebak, mengidentifikasi pengetahuan konselor sebaya dalam memberikan konseling tentang kesehatan reproduksi remaja dan mengidentifikasi jumlah layanan konseling sebaya dalam memberikan konseling sebelum dan sesudah Kegiatan pengabdian dalam bentuk pelatihan tentang konseling sebaya yang dibagi menjadi empat tahap kegiatan. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan pada konselor sebaya tentang konseling sebaya. Terjadi peningkatan jumlah layanan konseling sebaya sebanyak 71% yang dilakukan oleh konselor, penambahan layanan konseling secara daring meningkat menjadi 63%, serta dihasilkannya video konseling sebaya yang menjadi bahan belajar anggota PIK-R dalam memberikan konseling sebaya. Kata kunci Pemberdayaan Remaja. Kesehatan Reproduksi. Konseling Sebaya. Keywords: ABSTRACT Youth Empowerment. Reproduction health. Peer Counseling. The problems of adolescents in Banten Province are very concerning, including free sex, teenage pregnancy, teenage marriage, teenage childbirth, sexual diseases and deviant sexual behavior. These problems increased from 59% in 2012 to 74% in 2017. Program Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) is the government's effort in overcoming adolescent problems by using a peer approach. The purpose of this activity is to improve the skills of peer counselors in providing peer counseling on adolescent reproductive health in Lebak Regency, identify the knowledge of peer counselors in providing counseling on adolescent reproductive health and identify the number of peer counseling services in providing counseling before and after the intervention. Service activities in the form of training on peer counseling are divided into four stages of activity. The results of this community service activity are that there is an increase in the knowledge of peer counselors about peer counseling, an increase in the number of peer counseling services as much as 71% carried out by counselors, the addition of online counseling services has increased to 63%, and the production of peer counseling videos which are used as learning materials for members. PIK-R in providing peer counseling. A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 PENDAHULUAN Permasalahan remaja perlu menjadi perhatian semua pihak. Berdasarkan SDKI 2017, 8% remaja telah melakukan hubungan seksual pra-nikah. Mereka menyatakan bahwa hubungan seksual tersebut terjadi dengan alasan saling mencintai . %) dan adanya rasa ingin tahu/penasaran . %). Perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh gaya berpacaran pada remaja. Gaya pacaran yang dilakukan oleh remaja diantaranya pegangan tangan sebesar 75%, berciuman bibir . %), dan meraba-raba . %). Gaya pacaran tersebut menjadi hal yang biasa dilakukan oleh remaja (BKKBN. BPS, & Kementerian Kesehatan R. , 2. Berdasarkan hasil penelitian Ismiyati dkk. menyatakan bahwa permasalahan remaja di Provinsi Banten masih menjadi perhatian. Permasalahan yang ada di Provinsi Banten diantaranya seks bebas, kehamilan remaja, pernikahan remaja, persalinan remaja, penyakit seksual (IMS & HIV), dan perilaku seks menyimpang. Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah lingkungan keluarga, pergaulan, tenaga kesehatan, dan ketersediaan tempat prostitusi yang mudah diakses oleh remaja (Ismiyati et al. , 2. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini adalah melalui pendekatan kepada remaja. Pendekatan kepada remaja dilakukan melalui pengembangan Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) (BKKBN, 2. Program Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan remaja dengan menggunakan pendekatan teman sebaya. Remaja akan merasa senang, nyaman, dan bebas berbicara dalam mendiskusikan masalah seksual dan kesehatan reproduksi dengan teman-teman sebayanya (BKKBN, 2. Teman sebaya memiliki kedudukan yang sama dalam usia, latar belakang, status sosial, dan tujuan (Mairo, 2. Teman sebaya memiliki peran penting dalam perkembangan psikososial remaja. Pendidikan dan konseling sebaya pada PIK R/M memfasilitasi remaja supaya lebih nyaman dalam berbagi permasalahan terkait Kesehatan Reproduksi Remaja (Abdi & Simbar, 2. Keberhasilan proses konseling ditentukan oleh keterampilan konselor dalam membangun hubungan interpersonal kepada klien atau konseli. Hubungan tersebut akan membuat konseli merasa nyaman dan mau menyampaikan permasalahannya. Namun hasil penelitian Permatasari menunjukkan bahwa pengetahuan konselor PIK R/M tentang teknik dalam memberikan konseling masih kurang. Proses konseling sebaya yang dilaksanakan kurang memperhatikan hubungan sehingga tidak ada kedekatan antara konselor sebaya dan konseli. Hal tersebut menyebabkan tidak ada kepercayaan pada diri konseli terhadap konselor (Permatasari, 2. Pemberian pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader remaja (Noya. Ramadhan. Tadale, & Widyani, 2. Studi yang dilakukan oleh Harini dkk. menemukan bahwa 50% pengurus PIK R/M mengatakan kurang percaya diri dalam memberikan konseling pada temannya, 30% kurang mendapatkan pengetahuan informasi tentang kesehatan reproduksi, dan 20% menyatakan bahwa media konseling masih sangat terbatas serta konselor kurang baik dalam melakukan konseling (Harini. Rahmat, & Nisman, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan konselor sebaya dalam memberikan konseling sebaya tentang kesehatan reproduksi remaja di Kabupaten Lebak. Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 METODE Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2021 dengan sasaran anggota Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R/M) yang mendapatkan tugas dalam keanggotaannya sebagai konselor sebaya yang ada diwilayah Binaan Dinas P3AP2KB Kabupaten Lebak, sejumlah 17 PIK-R yang digunakan adalah PIK-R yang terbentuk di Sekolah Menengah Atas dan PIK-R perwakilan kampung KB. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam bentuk pelatihan tentang konseling sebaya dan kesehatan reproduksi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja. Tahapan kegiatan yang dilaksanakan diantaranya tergambar pada diagram alir sebagai berikut: Tahap Awal Intervensi Monitoring Tahap Akhir Gambar 1. Diagram alir tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Adapun penjelasan dari tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah sebagai berikut : Tahap awal : Tahap ini dilakukan dengan melakukan koordinasi kepada Dinas P3AP2KB Kabupaten Lebak. Pada tahap ini juga dibahas tentang MOU pengabdian masyarakat yang akan dilakukan pada tahun 2021. Proses penjaringan peserta yang akan diikutkan dalam pelatihan juga dilakukan pada tahap awal. Gambar 2. Koordinasi dengan DP3AP2KB dan penjaringan peserta/sasaran Tahap Intervensi Tahap ini akan dilakukan dengan cara: Wawancara terbuka dengan peserta pelatihan Pemberian materi tentang konseling sebaya dan substansi kesehatan reproduksi remaja Praktik dalam melakukan konseling sebaya (Role Pla. Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 Gambar 3. Tahap Intervensi Tahap Monitoring Tahap ini akan dilakukan dengan melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan konseling oleh konselor sebaya sesuai dengan hasil pendampingan. Tahap Evaluasi Evaluasi hasil kegiatan dilakukan dengan: Mengukur pengetahuan remaja dalam memberikan layanan konseling sebaya, dengan menggunakan kuesioner awal dan akhir kegiatan. Mengukur Jumlah layanan yang diberikan oleh konselor setelah pelatihan, perbandingan jumlah layanan yang diberikan sebelum dengan sesudah Gambar 4. Video terbaik pelayanan konseling sebaya yang diunggah ke Instagram PIK-R Pelangi Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara tim oleh dosen dan mahasiswa jurusan Masing-masing anggota tim akan mendapatkan tugas pada pelaksanaan di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat (PKM) ini mengikutsertakan 17 orang yang mewakili 4 PIK-R di Kabupaten Lebak yang belum pernah mengikuti pelatihan konselor sebaya. Kegiatan PKM ini menghasilkan peningkatan pengetahuan pada peserta PKM, seperti yang terlihat pada gambar 5. Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 Sebelum Sesudah Tugas konselor Perilaku Konselor Pengenalan bahasa tubuh Gambar 5. Grafik peningkatan pengetahuan tentang konseling sebaya Gambar 5 memperlihatkan peningkatan pengetahuan pada peserta PkM yang sebelumnya sebanyak 41% tidak mengetahui tugas konselor menjadi paham akan tugas seorang konselor . %). Selain itu, pengetahuan dalam hal pengenalan bahasa tubuh konseli 71% dari peserta yang baru memahami tentang bahasa tubuh konseli, setelah diberikan intervensi peserta menjadi tahu ciri-ciri bahasa tubuh konseli sebanyak 100%. Hal ini sejalan dengan Notoatmodjo yang menyatakan bahwa pemberian informasi baik secara formal ataupun informal dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2. , serta sesuai dengan pendapat Simons-Morton et al, . bahwa pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan dan diingat (Simons-Morton. Greene, & Gottlieb, 1. Informasi yang telah diberikan dengan pendekatan komunikasi interpersonal konseling mengenai kesehatan reproduksi akan meningkatkan pengetahuan seseorang (Sarwono, 2. Hasil penelitian dari Mevsim et al. menyebutkan bahwa pelatih teman sebaya dan metode pelatihan yang digunakan mampu merubah pengetahuan selama sesi pelatihan dengan baik pada teman sebaya tentang reproduksi kesehatan (Mevsim. Guldal. Ozcakar, & Saygin, 2. Proses pemberian materi pada kegiatan PkM ini menggunakan metode diskusi dan simulasi melalui tukar pikiran antara dua orang atau lebih dalam suatu kelompok, sehingga dapat terjadi peningkatan pengetahuan pada peserta PkM (Sinta, 2. Remaja mencari bantuan sesuai dengan kebutuhan tahap perkembangannya (Chandra-Mouli. Lane, & Wong, 2. Sehingga dengan proses konseling sebaya akan tercipta pemahaman remaja yang didapat tentang kesehatan reproduksi yang menjadikan remaja tegar dalam menghadapi masalah dan mampu mengambil keputusan terbaik bagi dirinya (Harini et al. , 2. Budaya teman sebaya yang positif dapat memberikan pemahaman untuk remaja yang lain bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi sebuah masalah. Menurut Laursen, permasalahan teman sebaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pada masa-masa remaja (Laursen, 2. Penegasan Laursen dapat dipahami karena pada kenyataannya remaja dalam masyarakat modern seperti sekarang ini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan teman sebaya mereka (Steinberg, 2. Proses konseling dapat berjalan dengan baik apabila ada keterbukaan konseli terhadap masalahnya. Namun, hal itu tentunya didukung dari karakteristik yang dimiliki konselor. Seorang konselor tentunya perlu memiliki sikap empati, keterbukaan, serta menjadi pendengar yang baik. Oleh karena itu, dalam Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 memberikan layanan konseling dibutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Untuk mendapatkan sikap tersebut dapat dilakukan pelatihan terlebih dahulu pada konselor sebaya. Pelatihan konselor sebaya dapat meningkatkan kesadaran diri atau self awareness terhadap perilaku berisiko pada remaja (Yuliasari, 2. Perilaku berisiko pada remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi saat ini perlu menjadi perhatian khusus. Sehingga dalam pelatihan konseling sebaya dibutuhkan substansi tersebut agar konselor dapat membantu konseli dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Sebagai dasar pengetahuan terhadap substansi kesehatan reproduksi, seorang konselor perlu mengetahui proses tumbuh kembang remaja baik secara fisik maupun psikologis, pendewasaan usia perkawinan, penyakit seksual, napza, serta kesehatan reproduksi itu sendiri (Ismiyati. Sunjaya, & Susanah, 2. Sebelum Sesudah Tatap muka Tatap muka daring Gambar 6. Grafik peningkatan pemberian konseling sebaya Gambar 6 memperlihatkan peningkatan pemberian layanan konseling sebaya, yang sebelumnya 23,5% menjadi 71%, selain itu kegiatan konseling sebaya yang sebelumnya hanya dilakukan secara tatap muka sekarang sudah mulai dilakukan secara daring dan tatap muka. Secara umum, penelitian-penelitian yang dilakukan tentang pengaruh tutor sebaya menunjukkan bahwa penggunaan teman sebaya . onselor sebay. dapat mengantisipasi munculnya perilaku negatif remaja. (Salmiati. Hasbahuddin, & Bakhtiar, 2. Keeratan, keterbukaan dan perasaan senasib di antara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya memfasilitasi perkembangan remaja, sehingga sangat wajar bila setelah pelatihan konselor sebaya dilakukan, terjadi peningkatan dalam pemanfaatan layanan konseling sebaya (Suwarjo, 2. Peningkatan jumlah PIK-R yang mengikuti pelatihan konseling sebaya, sebelumnya belum ada konselor yang mengikuti pelatihan konselor sebaya, setelah kegiatan PkM didapatkan 2-3 orang konselor dari masing-masing PIK-R telah dilatih keterampilan konseling sebaya. Kegiatan PkM ini juga menghasilkan video (Role pla. pembelajaran tentang konseling sebaya yang dibuat oleh peserta PkM. Metode Role play ini sesuai dengan metode pendidikan kesehatan untuk sasaran kelompok, karena anggota kelompok dapat terlibat menghadirkan peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam satu pertunjukan, sehingga masing-masing anggota kelompok dapat menginternalisasi karakter konselor yang baik serta memahami apa yang diharapkan konseli dari seorang konselor (Sinta, 2. PIK-R merupakan salah satu bentuk usaha untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi termasuk (Longgupa. Nurfatimah. Kasmawati. Nadia, & Ramadhan, 2. Kegiatan PkM ini mengandung unsur pendidikan kesehatan yang telah sesuai dengan tujuan pendidikan kesehatan Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat http://jurnal. id/index. php/PJPM e-ISSN: 2722-5798 | p-ISSN: 2722-5801 Vol. 3 No. 2: April-Juni 2022 | Hal. 278 - 285 yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan baik secara fisik, mental dan sosial (BKKBN et al. , 2. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat melibatkan 17 konselor sebaya dari 4 PIK-R binaan yang terpilih. Kegiatan PkM ini menghasilkan peningkatan pengetahuan pada konselor sebaya tentang konseling sebaya, peningkatan jumlah layanan konseling sebaya yang dilakukan oleh konselor, peningkatan jumlah anggota PIK-R yang mengikuti pelatihan konseling sebaya, serta dihasilkannya video konseling sebaya yang menjadi bahan belajar anggota PIK-R dalam memberikan konseling sebaya. Diharapkan kegiatan pelatihan konselor sebaya dapat dilakukan pada seluruh konselor sebaya pada PIK-R di wilayah P3AP2KB Kabupaten Lebak dengan waktu yang lebih panjang. DAFTAR PUSTAKA