AL IRFAN: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DAN PENELITIAN Vol. No. Oktober 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 64877/aybr9n53 PERAN GURU PAI DALAM MEMBINA ETIKA DIGITAL SISWA DI ERA MEDIA SOSIAL Rahmawati1. Samsuddin2*. Ade Wahidin3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Hidayah. Bogor E-mail: rahmawati091103@gmail. com1, samsuddin@staiabogor. adewahidin@staiabogor. Article Info Article history: Received 10 05, 2025 Revised 10 18, 2025 Accepted 10 29, 2025 Keywords: Character education Digital ethics Islamic Education Social media misuse TeacherAos role ABSTRACT The rapid development of digital technology has influenced various aspects of life, particularly in education. Among students, the widespread use of social media provides opportunities for self-development while also posing serious risks to character formation if not properly managed. This study aims to examine the role of Islamic Education (PAI) teachers in addressing social media misuse among vocational high school students. The main objective is to identify and analyze the specific contributions of PAI teachers in guiding studentsAo religious character, ethical behavior, and digital This research employed a descriptive qualitative approach, with primary data collected through interviews with PAI teachers and students at SMK 3 Bina Sejahtera Bogor, supported by secondary data from relevant literature. Data were analyzed thematically using triangulation techniques to ensure validity and reliability. The key findings highlight that PAI teachers perform three critical roles in preventing social media misuse: as role models . swah hasana. , religious character builders . , and digital ethics guides . ursyid al-akhla. Their exemplary behavior, both offline and online, provides a moral benchmark for students, while religious activities foster self-discipline and moral awareness crucial for ethical digital conduct. These roles demonstrate the holistic function of PAI teachers as both knowledge transmitters and moral educators, reinforcing Islamic educational principles. This study advances understanding of Islamic educationAos relevance in the digital era and suggests further exploration of integrated strategies combining digital literacy and Islamic values to enhance studentsAo resilience against social mediaAos negative effects. *Corresponding Author: Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah (STAIA) Bogor Email: samsuddin@staiabogor. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat pada era globalisasi telah memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang Pendidikan (Sadriani et al. , 2023. Purba & Saragih, 2. Salah satu dampak yang paling menonjol adalah maraknya penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Media sosial menawarkan peluang positif, seperti kemudahan komunikasi, akses terhadap informasi, dan pengembangan diri. Namun, di sisi lain, media sosial juga menghadirkan tantangan serius berupa risiko degradasi moral dan karakter apabila penggunaannya tidak dikelola dengan baik (Syifa et al. , 2. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya kasus penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa, mulai dari kecanduan, cyberbullying, hingga paparan konten negatif. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi semakin urgen dalam merespons tantangan era digital (Azizah et al. , 2023. Pamuji. Dalam konteks ini khususnya melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), memiliki peran strategis dalam membentuk karakter religius dan moral peserta didik, sekaligus membimbing mereka agar mampu memanfaatkan media sosial secara bijak (Ansyori & Shaleh, 2020. Dwistia et al. , 2022. Siregar, 2. Sejumlah penelitian sebelumnya telah berupaya membahas hubungan antara penggunaan media sosial dan pendidikan karakter dari perspektif PAI. Alfiah . menekankan pentingnya pendekatan personal guru PAI dalam menanamkan nilai keagamaan agar siswa mampu mengontrol perilaku daring mereka. Saiful . menunjukkan bahwa media sosial memiliki dampak signifikan terhadap akhlak siswa, sehingga diperlukan pengawasan intensif serta pelibatan kegiatan keagamaan seperti Rohis untuk membentengi siswa dari pengaruh negatif. Supriadi . menyoroti strategi penerapan sanksi serta penguatan spiritual sebagai solusi dalam mengatasi perilaku menyimpang akibat media sosial. Sementara itu. Amilia et al. , . menegaskan pentingnya kerja sama sinergis antara guru, sekolah, dan orang tua untuk menciptakan pola penggunaan media sosial yang sehat. Dengan demikian, kajian terdahulu telah memberikan gambaran beragam pendekatan yang dapat diterapkan, tetapi belum ada penelitian yang secara komprehensif menggabungkan dimensi keagamaan, penguatan karakter, dan pengawasan sosial secara terpadu. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung fokus pada satu aspek tertentu, penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih holistik dengan memadukan pendekatan keagamaan, pendidikan karakter, dan pengawasan sosial dalam konteks pembelajaran PAI di sekolah. Jika penelitian Alfiah . lebih menekankan pendekatan personal, dan Intalia et al. , . fokus pada kolaborasi eksternal, maka penelitian ini mencoba melihat secara integratif bagaimana guru PAI tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teladan, motivator, dan pembimbing spiritual. Penelitian ini juga berupaya menjawab celah penelitian terdahulu yang belum banyak menyoroti peran guru PAI dalam membangun sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam menghadapi penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa. Untuk mendukung arah penelitian, kerangka konseptual penelitian ini menempatkan peran guru PAI sebagai variabel utama . yang memengaruhi penyalahgunaan media sosial siswa . ariabel depende. , melalui pendekatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam sebagai variabel antara. Guru PAI dalam hal ini menjalankan tiga fungsi utama: . sebagai pendidik melalui pembelajaran kontekstual yang relevan dengan realitas digital siswa, . sebagai pembimbing akhlak melalui pembiasaan nilai-nilai keagamaan, dan . sebagai pengawas sosial melalui kolaborasi dengan orang tua dan lingkungan sekolah. Semakin optimal peran guru PAI dalam tiga dimensi tersebut, semakin besar kontribusinya dalam mencegah penyalahgunaan media sosial dan membentuk karakter religius siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berangkat dari argumentasi bahwa guru PAI memiliki peran strategis dalam membimbing siswa agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan media sosial. Peran tersebut diwujudkan melalui strategi pembelajaran kontekstual, pembiasaan akhlak mulia, dan pengawasan berkelanjutan yang Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. melibatkan kolaborasi dengan orang tua (Nababan. al, 2023. Rahman, 2. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk . mengeksplorasi secara mendalam peran guru PAI dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial pada siswa, serta . menggambarkan strategi yang diterapkan guru dan sekolah, termasuk keterlibatan orang tua dalam membentuk karakter religius siswa di era digital. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, maka pertanyaan penelitian yang hendak dijawab dalam kajian ini adalah sebagai berikut: . Bagaimana peran guru PAI dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa? . Strategi apa saja yang digunakan oleh guru dan sekolah, serta bagaimana keterlibatan orang tua dalam membentuk karakter religius siswa di era digital? METODE Objek penelitian ini adalah peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa SMK Bina Sejahtera 3 Kota Bogor. Lokasi penelitian berada di Jl. Radar Baru No. Margajaya. Bogor Barat. Kota Bogor. Jawa Barat. Informan penelitian ditentukan secara purposif, yaitu dua orang guru PAI dan Budi Pekerti, kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling (BK). Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, serta empat orang siswa. Pemilihan purposif dipandang tepat karena memungkinkan peneliti memilih informan yang memiliki keterlibatan langsung terhadap isu yang diteliti (Assyakurrohim et al. , 2. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, proses, serta strategi guru dalam konteks pembelajaran dan pembinaan karakter siswa. Pendekatan ini memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk memperoleh data deskriptif berupa kata-kata, pernyataan, serta perilaku nyata yang diamati di lapangan (Sugiyono, 2. Dengan demikian, penelitian kualitatif berfokus pada pemahaman yang mendalam terhadap fenomena sosial dalam konteks aslinya (Sugiyono, 2. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci serta observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran dan interaksi guru-siswa. Adapun data sekunder diperoleh dari dokumen resmi sekolah, seperti tata tertib, catatan absensi, dokumentasi kegiatan keagamaan, serta literatur akademik berupa buku, artikel, dan jurnal yang relevan (Barlian, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara. Wawancara semiterstruktur, untuk menggali pengalaman, pandangan, dan strategi guru PAI dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial. Observasi partisipatif, untuk mencatat secara langsung perilaku siswa serta dinamika sosial di lingkungan sekolah. Dokumentasi, untuk melengkapi dan mengonfirmasi informasi melalui arsip sekolah, foto kegiatan, serta data tertulis lainnya (Maykut & Morehouse, 2. Analisis data dilakukan melalui tahapan model interaktif Miles dan Huberman, yaitu: . Reduksi data, dengan menyaring dan menyusun informasi sesuai fokus . Penyajian data, dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, atau matriks untuk mempermudah analisis. Penarikan kesimpulan dan verifikasi, dengan mengidentifikasi pola, hubungan antar kategori, serta temuan-temuan utama yang relevan (Creswell & David Creswell, 2. Untuk menjaga keabsahan dan kredibilitas data, penelitian ini menggunakan beberapa strategi validasi, yaitu: . Triangulasi sumber dan metode, dengan membandingkan informasi dari berbagai informan . uru, siswa, kepala sekolah, dsb. ) serta teknik pengumpulan data yang berbeda . awancara, observasi, dan dokumentas. Member checking, yaitu mengonfirmasi kembali hasil wawancara dan interpretasi awal kepada informan yang bersangkutan untuk memastikan akurasi dan kesesuaian makna. Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 Langkah ini membantu mencegah kesalahpahaman dan meningkatkan validitas . Peer debriefing, yaitu mendiskusikan proses dan temuan penelitian dengan rekan sejawat atau pembimbing yang memiliki kompetensi di bidang yang sama, guna memperoleh masukan kritis dan menilai objektivitas analisis, dan . Audit trail, yaitu pencatatan proses penelitian secara rinci dan transparan, termasuk catatan lapangan, transkrip wawancara, dan dokumentasi lainnya, agar proses dapat ditelusuri kembali oleh pihak lain bila diperlukan (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Guru PAI dalam Mengatasi Penyalahgunaan Media Sosia Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, diperoleh gambaran bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di SMK Bina Sejahtera 3 Kota Bogor memiliki peran strategis dalam mencegah dan mengatasi penyalahgunaan media sosial. Peran ini tidak terbatas pada transfer pengetahuan agama, melainkan meliputi pembinaan akhlak, keteladanan, serta pendampingan etika digital. Dari keseluruhan data, peran guru PAI dapat dipetakan ke dalam tiga dimensi utama berikut: Guru PAI sebagai Teladan (Role Mode. Guru PAI memiliki peran sentral sebagai figur teladan yang sikap dan perilakunya menjadi rujukan siswa, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia Hal ini ditegaskan oleh Siti Asroin . yang menyatakan: AuKami berusaha menjadi teladan bagi siswa, tidak hanya dalam ibadah di sekolah, tetapi juga bagaimana bersikap di dunia digital. Siswa diarahkan untuk tidak sembarangan berbicara atau mengunggah sesuatu di media Ay (Wawancara, 2. Dalam praktiknya, keteladanan tersebut diwujudkan melalui pendekatan keagamaan yang sederhana namun efektif. Salah satunya dengan penggunaan bahasa yang baik serta memberikan teguran langsung kepada siswa ketika mengucapkan kalimat yang tidak pantas. Guru menegaskan bahwa jika siswa ditegur dengan cara yang tepat, biasanya mereka segera memperbaiki perilakunya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan sikap dan perilaku siswa. Sejalan dengan social learning theory Bandura David . perilaku sosial banyak terbentuk melalui proses observasi dan imitasi. Hal ini sejalan studi (Yustiasari Liriwati, 2. yang menemukan bahwa pendekatan personal yang dilakukan oleh guru PAI dalam membangun hubungan emosional dengan siswa sangat efektif dalam membentuk perilaku daring yang positif. Hal ini konsisten dengan temuan pada penelitian ini, bahwa keteladanan nyata guru di ruang kelas dan dunia digital menjadi pengaruh kuat dalam menanamkan nilai akhlak kepada siswa. Dengan demikian, keteladanan guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pedagogis, tetapi juga sebagai sarana dakwah praktis yang mampu menanamkan etika bermedia sosial pada siswa. Guru PAI sebagai Pembina Karakter Religius Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. Selain sebagai teladan, guru PAI membina siswa melalui kegiatan religius yang menanamkan disiplin, kendali diri, dan kebiasaan positif. Ahsanulkhaq . dan Ashari . menekankan dimensi spiritual ini: AuSetiap kali ada pelanggaran terkait media sosial, kami tidak hanya menegur, tetapi juga memberikan nasihat agama. Kami ingin siswa paham bahwa media sosial bisa menjadi ladang pahala jika digunakan dengan benar, dan sebaliknya bisa menjerumuskan kalau disalahgunakan. Ay (Wawancara. Sejalan dengan itu, kepala sekolah. Nurul Hidayati . , menambahkan: AuGuru PAI adalah role model di sekolah ini. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab. Ay (Wawancara, 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembinaan karakter religius berdampak pada penguatan dimensi spiritual sekaligus membentuk kontrol diri siswa dalam bermedia sosial. Hal ini sejalan dengan konsep tarbiyah dalam pendidikan Islam yang menekankan integrasi iman, akhlak, dan perilaku sosial (Samsuddin et al. Penelitian Saiful . menekankan pentingnya penguatan spiritual melalui kegiatan keagamaan untuk mencegah degradasi moral akibat media sosial. Penelitian ini memperluas temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa pembinaan karakter religius juga mencakup literasi digital Islami, bukan hanya kegiatan seremonial keagamaan. Guru PAI sebagai Pembimbing Etika Digital Guru PAI juga berfungsi sebagai pembimbing etika digital yang membantu siswa menghadapi persoalan moral dalam penggunaan media sosial. Luthfiah Anom Sari . , guru BK, menegaskan: AuKami sering bekerja sama dengan guru PAI untuk membimbing siswa yang kedapatan menggunakan media sosial tidak bijak, misalnya membuat komentar kasar. Guru PAI memberikan pendekatan dengan nilai-nilai Islam. Ay (Wawancara, 2. Hal ini diperkuat oleh pengakuan seorang siswa: AuGuru PAI sering mengingatkan kami kalau komentar di media sosial itu juga bagian dari akhlak. Jadi kami mulai hati-hati dalam menulis status atau Ay (Wawancara, 2. Temuan ini menegaskan peran guru PAI sebagai konselor etik yang menanamkan kesadaran bahwa aktivitas digital memiliki konsekuensi moral. Peran ini tidak hanya bersifat praktis di lingkungan sekolah, tetapi juga telah mendapat dukungan dari berbagai kajian akademik. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam menginternalisasikan nilai-nilai Islami ke dalam realitas kontemporer, terutama dalam menghadapi tantangan moral di era digital. Hal ini terlihat dalam penelitian (Zainuddin et al. , . yang menekankan pentingnya strategi internalisasi Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 akhlakul karimah melalui pendidikan Islam dalam merespons disrupsi moral akibat penggunaan teknologi dan media digital secara tidak bijak. Sementara itu, (Arifuddin et al. , . mengungkap bahwa guru PAI turut membentuk karakter siswa di era digital dengan menanamkan nilai-nilai agama dalam konteks kekinian, seperti literasi digital, etika bermedia sosial, dan pembentukan kepribadian berbasis nilai Islami. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru PAI dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial mencakup tiga dimensi utama: swah hasana. , pembina karakter religius . , dan pembimbing etika digital . ursyid al-akhla. Temuan ini memperkuat teori pendidikan Islam yang menegaskan bahwa guru agama bukan hanya muAoallim . enyampai ilm. , tetapi juga murabbi . embina akhla. dan teladan moral (Langgulung, 2004. Nata, 2. Dengan demikian, efektivitas guru PAI dalam menghadapi tantangan media sosial bergantung pada kemampuan mereka memadukan ketiga dimensi peran tersebut secara integratif dalam praktik pendidikan di sekolah. Discussion Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru PAI memiliki tiga peran utama dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial, yaitu sebagai teladan . swah hasana. , pembina karakter religius . , dan pembimbing etika digital . ursyid al-akhla. Dalam konteks ini, guru PAI tidak sekadar mengajar materi agama, melainkan juga menjadi figur kehidupan nyata yang perilakunya dapat ditiru siswa Ai terutama bagaimana mereka bersikap dalam penggunaan media sosial. Rohana et al. , . menegaskan bahwa guru PAI berfungsi sebagai pembimbing moral, bukan hanya penyampai ilmu agama. Hal ini diperkuat oleh penelitian Marsila et al. , . yang menemukan bahwa keteladanan guru secara signifikan mempengaruhi pola perilaku digital siswa. Selain itu, literatur tentang pendidikan karakter menekankan pentingnya adab dalam pendidikan Islam melalui keteladanan guru. Misalnya, dalam buku Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam (Wahyuddin, 2. ditemukan bahwa keteladanan merupakan salah satu metode paling efektif dalam pendidikan karakter dan akhlak. Karena salah satu aspek terpenting dalam mengintegrasikan iman, ilmu, dan akhlak adalah adanya figur utama sebagai teladan dalam mewujudkan hal tersebut (Sodikin et al. , 2. Dengan demikian, temuan penelitian ini memperteguh gagasan bahwa keteladanan guru PAI adalah elemen fundamental dalam membentuk perilaku siswa di dunia digital. Lebih lanjut, pendekatan keteladanan . guru merupakan metode pendidikan paling efektif dalam membentuk akhlak peserta didik, karena manusia secara fitrah memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang lain (Azizah et al. , 2. Studi (Samsuddin & Kasman Bakry, 2. serta (Suhadak et al. , 2. menegaskan bahwa uswah adalah metode pendidikan yang bertumpu pada peran strategis pendidik dalam menentukan arah perkembangan peserta didik. Sejalan dengan itu Samsuddin et al. , . menekankan bahwa keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan perannya sebagai teladan secara konsisten dan Bahkan dalam regulasi nasional. Pasal 4 UU Sisdiknas menegaskan bahwa pendidikan harus diselenggarakan dengan memberikan contoh yang baik (Sodikin et al. Dengan demikian, keteladanan guru tidak hanya menjadi pilar fundamental dalam proses pendidikan dan pembelajaran, tetapi juga merupakan faktor penentu dalam pendidikan akhlak siswa. Bertolak dari landasan tersebut, peran guru PAI menjadi semakin krusial dalam menghadapi penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa. Hal ini karena siswa berada Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. dalam fase perkembangan psikologis yang sangat dipengaruhi oleh figur signifikan di Guru PAI yang tampil sebagai uswah hasanah dapat menjadi rujukan utama dalam perilaku keseharian siswa, baik di dunia nyata maupun dalam interaksi digital. Dengan kata lain, penyalahgunaan media sosial dapat diminimalisasi jika guru PAI mampu menghadirkan keteladanan, membina religiusitas, serta membimbing siswa dalam etika digital secara konsisten. Di luar aspek teladan, guru PAI juga menjalankan fungsi pembinaan religius melalui pengorganisasian dan pendampingan kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, kultum, kegiatan Rohis, serta ajakan menegakkan nilai religius dalam kehidupan seharihari. Dalam konteks ini aktivitas religius yang dipimpin guru PAI berperan penting dalam membentuk kontrol diri dan kesadaran spiritual siswa. Kesadaran ini kemudian menjadi filter moral dalam penggunaan media sosial, sehingga siswa lebih berhati-hati dalam memilih perilaku dan konten yang mereka bagikan. Pendekatan pembinaan karakter berbasis religius tersebut sejalan dengan konsep tarbiyah dalam pendidikan Islam, yaitu pendidikan yang mengintegrasikan iman, akhlak, dan perilaku sebagai bagian dari pengembangan ruhani dan pembentukan karakter (Samsuddin et al. , 2. Konsep ini juga beririsan dengan model pendidikan Islam holistik yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak terbatas pada pencapaian aspek kognitif, tetapi juga meliputi dimensi spiritual dan moral secara menyeluruh. Dengan kata lain, pendidikan Islam bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan juga transformasi karakter melalui internalisasi nilai-nilai etika dan moral. Karena salah satu ciri khas dari pendidikan Islam adalah penekanan pada adab dalam proses belajar-mengajar. Adab dipandang sebagai fondasi utama bagi keberhasilan seorang pelajar, baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan sosial. Dengan menekankan nilai adab, pendidikan Islam berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan bermoral (Iskandar et al. , 2025. Samsuddin et al. , 2. Dalam konteks global, hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai studi di dunia Islam lainnya yang menyoroti peran guru agama dalam menghadapi tantangan digital. Misalnya, penelitianoleh Nelson & Yang . menekankan bahwa guru agama berperan penting sebagai mediator nilai-nilai Islam dalam menghadapi pengaruh negatif media sosial terhadap generasi muda. Studi oleh Kharismatunisa . juga mengungkapkan bahwa pembinaan karakter religius melalui pendidikan agama adalah kunci dalam mengurangi perilaku negatif di platform digital. Selain itu, penelitian oleh McGarr & McDonagh . menegaskan bahwa peran guru agama sebagai pembimbing etika digital sangat krusial dalam membentuk kesadaran moral siswa di era media sosial. Temuantemuan tersebut memperkuat argumen bahwa peran guru agama Islam bersifat universal dan sangat relevan dalam konteks pendidikan Islam kontemporer di berbagai negara dengan tantangan serupa. Selain itu dimensi etika digital menjadi tambahan penting dalam cakupan peran guru PAI pada penelitian ini, dan ini merupakan kontribusi yang lebih kontemporer. Guru BK dalam wawancara menyebut bahwa saat siswa terlibat dalam penggunaan media sosial yang tidak bijak, misalnya komentar kasar atau konten negatif guru PAI dilibatkan untuk memberikan pembimbingan berdasarkan nilai-nilai Islam. Seorang siswa juga menyebut bahwa guru PAI sering mengingatkan bahwa komentar di media sosial juga bagian dari akhlak, sehingga siswa mulai lebih berhati-hati dalam menulis status atau komentar. Peran ini menunjukkan bahwa guru PAI bertindak sebagai konselor etik digital, yaitu menginternalisasikan moral Islam ke dalam interaksi digital siswa. Dalam literatur pendidikan karakter Islam, guru agama memiliki tanggung jawab untuk menjembatani Al Irfan P-ISSN: 3089-6800 X E-ISSN: 3089-7300 antara norma-norma agama dan tantangan zaman, termasuk fenomena digital. Hal ini menguatkan bahwa pendidikan karakter Islami harus meresap hingga ke ranah sikap dan etika bermedia sosial, bukan hanya doktrin agama atau ritual keagamaan. Dengan demikian penelitian ini memperluas pemahaman tentang peran guru PAI bukan hanya sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai pembimbing etika digital yang relevan dengan tantangan era media sosial. Hal ini menambah literatur pendidikan Islam kontemporer yang mulai mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan isu teknologi digital. Secara praktis, penelitian ini memberikan alternatif solusi yang dapat diimplementasikan sekolah, yakni kolaborasi antara guru PAI, guru BK, dan orang tua dalam pembinaan siswa, terutama dalam meminimalisir dampak negatif media Keterbatasan dalam penelitian ini terkait pada ruang lingkup dan jumlah informan. Data diperoleh hanya dari satu sekolah (SMK Bina Sejahtera 3 Kota Bogo. dengan jumlah informan yang terbatas, sehingga generalisasi temuan ke konteks sekolah lain masih perlu dilakukan secara hati-hati. Selain itu, penelitian ini berfokus pada pendekatan kualitatif sehingga belum memberikan gambaran kuantitatif tentang sejauh mana efektivitas strategi guru PAI dalam mengurangi penyalahgunaan media sosial. Penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan lebih banyak sekolah dengan pendekatan mixed methods agar hasilnya lebih komprehensif. Meskipun terdapat keterbatasan, penelitian ini tetap signifikan karena menunjukkan bahwa integrasi antara keteladanan, pembinaan karakter religius, dan pembimbingan etika digital dapat menjadi model alternatif dalam pendidikan Islam di era Dengan model ini, guru PAI dapat memainkan peran strategis dalam menjaga siswa agar tetap memiliki akhlak mulia meskipun hidup dalam arus deras teknologi digital yang penuh tantangan. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian, disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam mengatasi penyalahgunaan media sosial di kalangan siswa melalui tiga peran utama, yaitu sebagai teladan . swah hasana. , pembina karakter religius . , dan pembimbing etika digital . ursyid al-akhla. Model konseptual yang terbentuk dari penelitian ini menggambarkan hubungan integral antara ketiga peran tersebut sebagai fondasi pembinaan etika digital siswa. Guru PAI tidak hanya berperan sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai figur yang memberikan contoh konkret perilaku bermoral dan religius dalam konteks digital. Keteladanan . swah hasana. berfungsi sebagai titik awal internalisasi nilai, dimana sikap dan tindakan guru menjadi benchmark moral yang diikuti siswa dalam interaksi di media Selanjutnya, peran sebagai pembina karakter religius . menguatkan dimensi spiritual dan pengendalian diri siswa, sehingga mereka tidak hanya mengetahui aturan moral tetapi juga memiliki kesadaran batin yang menjadi filter moral sebelum bertindak di ranah digital. Di sinilah pembentukan karakter religius berfungsi sebagai mekanisme penguatan kontrol diri dan kesadaran akan tanggung jawab sosial serta keimanan yang Sebagai pembimbing etika digital . ursyid al-akhla. , guru PAI secara aktif memberikan bimbingan normatif dan praktis terkait penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam literasi digital. Peran ini menjadi jembatan antara ajaran agama dan realitas kontemporer, membentuk kesadaran moral dan sikap kritis siswa dalam menghadapi tantangan digital. Kontribusi penelitian ini terletak pada penegasan bahwa guru PAI dapat menjadi agen utama dalam membangun literasi digital yang beretika dan religius, yang sangat Al Irfan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Penelitian Vol. No. 02 Tahun 2025, pp. relevan untuk menjawab tantangan pendidikan karakter di era digital. Implementasi praktis dari hasil penelitian ini dapat diwujudkan melalui pengembangan kurikulum PAI yang lebih terintegrasi dengan etika digital, pelatihan guru dalam menghadapi isu-isu digital, serta kolaborasi erat antara sekolah dan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai adab dan akhlak. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi strategi pedagogis yang lebih spesifik dan inovatif dalam pembinaan etika digital, termasuk pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukatif yang konstruktif dan adaptif terhadap perkembangan Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya memperkuat keilmuan pendidikan Islam secara teoritis, tetapi juga memberikan arah implementasi nyata bagi pembinaan karakter siswa yang tangguh, bermoral, dan religius dalam era globalisasi dan ACKNOWLEDGEMENTS Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pihak SMK Bina Sejatera 3 . Kota Bogor, khususnya kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru PAI dan Budi Pekerti, guru BK, serta seluruh siswa yang telah memberikan izin, dukungan, dan partisipasi dalam proses penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada rekan sejawat di lingkungan akademik yang telah memberikan masukan berharga dalam penyempurnaan artikel ini. REFERENSI