JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2023 Volume 10 Nomor 2 PENGARUH TENDENSI PREFERENSI MUSIK DALAM PERILAKU SOSIAL PENONTON SAAT KONSER BAND Rahmat Kurniawan Universitas Negeri Makassar E-mail: rahmat. kurniawan@unm. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh selera musik dalam menentukan perilaku sosial kelompok masyarakat yang memiliki karakter tendensi preferensi musik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus pada konser band. Dalam penelitian menggunakan teori oleh Juul Mulder, jenis musik yang memiliki dampak negatif terhadap perilaku sosial di masyarakat adalah genre musik rock, heavy-metal, rap/hip-hop. Dalam teori dilakukan di negara Belanda, namun berbeda kondisi dengan fenomena yang terjadi di Indonesia ketika digelar sebuah konser musik rock. Ada dua fenomena yang berbeda dari kedua konser tersebut, di mana masing-masing kelompok musik mengusung genre yang sama dengan hasil penelitian Judul Mulder yaitu musik rock. Hasilnya yaitu konser yang pertama dari kelompok musik Amerika Dream Theater sama sekali tidak menunjukkan perilaku negatif dari penggemar kelompok tersebut yang mendatangi konsernya. Sedangkan konser musik yang kedua dari kelompok musik Slank menunjukkan perilaku yang cenderung negatif dari para penggemarnya. Dari kedua fenomena tersebut ada faktor selain preferensi musik yang membentuk perilaku negatif dari penggemar kelompok Beberapa hal terbukti disimpulkan terkait hal yang relevan hubungan antara preferensi musik dan perilaku yang bermasalah. Pertama mencontohkan perilaku dan sikap mereka pada media musik yang mereka pilih. Kedua, posisi sosial penonton dan masalah psikososial yang sudah ada sebelumnya dapat mempengaruhi pilihan musik. Dan ketiga preferensi musik mendorong penonton ke arah musik yang banyak bercirikan permasalah perilaku kenakalan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, perasaan depresi. Kata kunci: Preferensi Musik. Perilaku Sosial. Genre. Jurnal Awilaras | 147 ABSTRACT This research aims to find out how musical tastes influence the social behavior of groups of people who are characterized by musical preference tendencies. The method used in this research is a case study of a band concert. In research using theory by Juul Mulder, the types of music that have a negative impact on social behavior in society are the rock, heavy-metal, rap/hip-hop music genres. In theory, it was carried out in the Netherlands, but the conditions were different from the phenomenon that occurred in Indonesia when a rock music concert was held. There were two different phenomena from the two concerts, where each musical group carried the same genre as the results of Juul Mulder's research, namely rock The result was that the first concert of the American music group Dream Theater did not show any negative behavior from the group's fans who attended the concert. Meanwhile, the second music concert from the Slank music group showed behavior that tended to be negative from its fans. From these two phenomena, there are factors other than music preferences that shape the negative behavior of music group fans. Several things have been proven to be concluded regarding the relevant relationship between musical preferences and problematic behavior. First, model their behavior and attitudes on the music media they choose. Second, the social position of the audience and pre-existing psychosocial problems can influence musical choices. And the three music preferences push the audience towards music that is often characterized by juvenile delinquent behavior problems, such as drug abuse, feelings of depression. Keywords: Music Preferences. Social Behavior. Genre PENDAHULUAN Musik merupakan bagian penting bagi golongan masyarakat yang fanatik terhadap genre musik tertentu, dari fanatisme tersebut peran musik cukup signifikan yaitu mampu mempengaruhi budaya atas penikmatnya. Dari fenomena yang ada, penggemar dari beberapa grup musik menunjukkan perilaku yang Di mana atribut yang melekat pada kelompok musik yang digemari, sering digunakan oleh para penggemarnya. Ada kecenderungan untuk menirukan kelompok yang digemari dari sisi atributnya. Beberapa grup musik yang secara atribut cukup menonjol ditunjukkan pada grup yang mengusung genre rock, heavy-metal, blues, dan hip-hop. Jurnal Awilaras | 148 Dewasa ini di Indonesia, musik yang secara sosial mudah diterima oleh masyarakat umum adalah musik pop. Genre musik ini secara atribut tidak terlalu menonjol sehingga para penggemarnya pun tidak menunjukkan penggunaan atribut yang terlalu berlebihan. Dari sisi atribut cenderung berdampak terhadap penggemar beberapa grup musik. Kemudian dari sisi perilaku yang ditunjukkan, beberapa grup musik dengan genre yang berbeda, memiliki penggemar dengan perilaku yang beragam. Perilaku tersebut banyak ditunjukkan setiap konser musik yang diselenggarakan pada beberapa kota di Indonesia. Selain musik dangdut, yang telah mendapatkan stigma negatif karena setiap konsernya sering terjadi kerusuhan, genre musik lain yang sering memicu kerusuhan adalah musik rock. Musik rock sebenarnya di Indonesia tidak terlalu populer seperti musik pop yang mudah diterima secara sosial oleh semua lapisan masyarakat. Namun, musik tersebut cukup memainkan peran budaya terhadap penggemarnya, penggunaan atributnya memberikan impact terhadap penggemarnya. Salah satu atribut dari genre musik rock adalah gaya berpakaian dari kelompok atau grup musik yang mengusung genre musik tersebut, perilaku penggemar fanatiknya ikut menirukan gaya berpakaian kelompok musik yang digemari. Gejala tersebut seringkali ditemukan dalam beberapa konser musik rock. Karena atribut . aya berpakaia. adalah bagian yang paling mudah untuk ditiru sehingga kelompok masyarakat yang memiliki idola terhadap kelompok musik sering kali menunjukkan perilaku Atribut yang digunakan oleh beberapa grup musik adalah bagian dari identitas dari grup tersebut. Style yang digunakan pun menyesuaikan dengan genre musiknya,kemudian dipilih merepresentasikan gaya musik yang diusung. Preferensi musik yang dipilih oleh kelompok masyarakat cenderung memberikan dampak terhadap penggemarnya, terutama penggemar fanatik. Beberapa penelitian, selera musik dapat memberikan dampak terhadap perilaku dari kelompok masyarakat. Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Juul Muder. Tom ter Bogt. Quinten Raaijmakers. Jurnal Awilaras | 149 dan Wilma Vollebergh. Dalam penelitiannya bahwa genre musik yang secara signifikan memberikan dampak negatif terhadap perilaku kelompok masyarakat adalah musik rock, heavy metal, rap/hip-hop . Menurut Emile Durkheim pencapaian kehidupan sosial manusia dan eksistensi keteraturan sosial dalam masyarakat, yang ia sebut Ausolidaritas manusiaAy, dimantapkan oleh sosialisasi yang melalui proses tersebut manusia secara kolektif belajar standar-standar atau aturan-aturan perilaku . Individu-individu akan mengikuti perilaku yang ditunjukkan oleh individu lain yang secara sosial memiliki peran dominan, kemudian perilaku tersebut secara normatif menjadi bagian dari kelompok Akhirnya penelitian tersebut dijadikan sebagai legitimasi bahwa preferensi musik salah satu faktor yang menentukan perilaku seseorang maupun kelompok dalam kehidupan sosial. Jika melihat fenomena perilaku penikmat yang sedang menyaksikan konser musik dangdut, tidak jarang mereka berperilaku negatif seperti, mengkonsumsi minuman keras dan tawuran. Sehingga perilaku tersebut sudah menjadi bagian dari setiap pertunjukan musik dangdut, perilaku itu setiap kali ada pada konser musik dangdut, perilaku yang dianggap menyimpang selalu Namun, perilaku negatif tersebut semata-mata bukan karena genre musik dangdut yang selalu membawa penikmatnya untuk melakukan perilaku negatif tersebut. Lebih karena rasionalitas yang tidak berjalan dengan seimbang disebabkan dari pengaruh minuman keras. Permasalahan perilaku sosial seolah erat kaitannya dengan preferensi musik yang dipilih oleh individu maupun kelompok masyarakat. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian di atas, tentang permasalahan perilaku yang ditimbulkan oleh preferensi musik. Preferensi musik adalah stimulan bagi individu maupun kelompok masyarakat pada perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan Jika merujuk hasil temuan dari penelitian di atas, perlu untuk menentukan preferensi musik yang tepat agar tidak menimbulkan perilaku negatif. Genre musik yang dianggap memberikan dampak perilaku negatif adalah musik rock, heavy- Jurnal Awilaras | 150 metal, dan rap/hip-hop (Mulder dkk, 2. Namun ada fenomena yang berbeda pada pertunjukan konser musik di Indonesia. Jika preferensi musik adalah salah satu stimulan untuk kelompok masyarakat berperilaku, dan genre yang termasuk memberikan dampak negatif terhadap perilaku penggemarnya adalah musik rock. Artinya, setiap kelompok masyarakat yang memiliki preferensi musik rock, akan memiliki kecenderungan perilaku negatif, jika merujuk dari hasil penelitian di atas. Pada konser musik yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu di Yogyakarta, menampilkan kelompok musik yang berasal dari Amerika yaitu band Dream Theater. Kelompok musik tersebut mengusung genre musik rock-progresif. Dari penggemar yang menyaksikan kelompok tersebut, mayoritas mereka menggunakan atribut yang sama dengan Dream Theater. Gejala tersebut cukup umum ditemukan dari penggemar kelompok musik lain menirukan gaya seperti idolanya sebagai bentuk kecintaan terhadap kelompok tersebut. Dari segala aktivitas yang ditunjukkan oleh penggemar Dream Theater yang sedang menyaksikan konsernya saat itu, tidak ada perilaku negatif yang ditunjukan di sana. Kondisi di lapangan saat itu cukup steril dari perilaku negatif yang biasanya muncul saat konser musik yang memiliki penggemar cukup banyak. Alan P. Meriam mendefinisikan bahwa musik dalam konteks kebudayaan terbagi menjadi 10 kategori, yaitu: sebagai pengungkapan emosi, penghayat estetis, hiburan, komunikasi, perlambangan, reaksi fisik, yang berkaitan dengan norma-norma sosial, pengesahan lembaga sosial, upacara agama, fungsi kesinambungan budaya dan pengintegrasian masyarakat (Alan P. Meriam, 1. Namun, situasi tersebut cukup bertolak belakang dengan konser musik yang diselenggarakan beberapa waktu setelahnya, yaitu grup musik Slank. Slank salah satu grup musik yang berasal dari Indonesia yang memiliki banyak penggemar. Dalam Pada saat melakukan konser di tempat yang sama dengan Dream Theater, ada perbedaan perilaku yang ditunjukkan oleh penggemarnya, dimana Jurnal Awilaras | 151 banyak perilaku negatif yang ditunjukkan pada saat menjelang konser maupun saat konser. Seperti mengonsumsi minuman beralkohol, dan tawuran. Genre musik yang diusung oleh kedua grup musik tersebut, masuk dalam kategori genre musik yang memberikan dampak perilaku negatif terhadap penggemarnya (Mulder dkk. Apakah selera musik masih relevan dijadikan sebagai parameter untuk menentukan perilaku kelompok masyarakat yang memiliki preferensi musik. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui sejauh mana perilaku kelompok masyarakat maupun individu yang memiliki preferensi musik. Metode yang digunakan adalah studi literatur, dimana penulis akan membandingkan penelitian sebelumnya karena secara struktur sosial Indonesia dan negara-negara Eropa memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Dari gambaran fenomena diatas, penulis merumuskan sebuah pertanyaan penelitian yang terkait dengan rumusan masalah di atas: bagaimana perubahan perilaku sosial antar individu dan kelompok yang memiliki preferensi musik yang sama saat menonton konser terhadap perilaku penonton. Penelitian ini menggunakan contoh kasus yang terjadi di Indonesia yang menunjukkan fenomena bertolak belakang dari penelitian lain. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian inilah studi kasus band musik yang ada di Indonesia. Peneliti berusaha menyelidiki isi yang berhubungan dengan marginalisasi individu-individu tertentu. Data lapangan dikumpulkan dari individu-individu tersebut dengan menggunakan pendekatan naratif. Kemudian individu tersebut diwawancarai secara personal. Narasumber diklasifikasikan dari bermacam kategori karakter penonton konser, serta menganalisis gestur yang dihasilkan saat menonton konser. Koresponden juga diambil melalui analisis tayangan video konser melalui media youtube sebagai hasil dari perbandingan studi literatur melalui media digital. Jurnal Awilaras | 152 Data yang sudah didapat lalu dianalisis secara induktif, membangun polapola, kategori-kategori dan tema- tema dari bawah ke atas, dengan mengolah data ke dalam unit-unit informasi yang lebih abstrak. Proses induktif ini diilustrasikan dalam bentuk olahan data secara berulang-ulang membangun serangkai tema permasalahan yang utuh. Proses ini juga melibatkan peneliti untuk bekerjasama dengan partisipan secara interaktif sehingga partisipan memiliki kesempatan untuk membentuk sendiri abstraksi yang muncul dari penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Selera penggemarnya, terutama dari atribut yang telah digunakan oleh kelompokkelompok masyarakat yang memiliki preferensi musik. Masyarakat secara perilaku sosial cenderung memiliki ketergantungan terhadap individu atau kelompok yang memiliki dominasi dalam lingkungan tersebut. Weber dalam teori tindakan sosialnya manusia selalu mengapresiasi lingkungan sosial di mana mereka berada, memperhatikan tujuan-tujuan warga masyarakat bersangkutan dan oleh sebab itu berupaya memahami tindakan mereka (Jones, 2. Sedangkan tipe-tipe tindakan Weber menggunakan suatu klasifikasi dari empat tipe tindakan yang dibedakan dalam konteks motif para pelakunya: tindakan tradisional, tindakan afektif, tindakan berorientasi nilai atau penggunaan rasionalitas instrumental (Jones, 2. Kemudian pendapat lain dari seorang filsuf Ludwig Wittgenstein. Aujika katakata sudah tidak lagi berarti seperti yang mereka maksudkanAy, tentulah kata-kata itu tidak lagi dapat digunakan mengekspresikan apa yang hendak dimaksudkan (Jones, 2. Dari pendapat tersebut, kelompok masyarakat yang memiliki preferensi musik diasumsikan sebagai golongan masyarakat yang secara argumentasi tidak memiliki pertimbangan yang kuat terhadap segala perilaku Maka mereka merealisasikan dari apa yang dikonsumsinya secara masif. Sisi lain dari pilihan selera musik kelompok masyarakat merupakan bagian-bagian Jurnal Awilaras | 153 yang paling nampak seperti, atribut. Atribut dianggap sebagai bagian yang paling mudah untuk penggemar jenis musik tertentu menggunakannya. Fenomena yang dijadikan rujukan adalah ketika penggemar kelompok musik yang memiliki tampilan cukup nyentrik, katakanlah style berpakaiannya tidak biasa dibanding kelompok musik lain, meskipun secara genre-nya sangat umum dan mudah diterima oleh masyarakat. Tapi, bagian yang paling nampak di permukaan yaitu atribut akan ditunjukkan oleh penggemarnya sebagai bentuk ekspresi kecintaannya terhadap kelompok musik tersebut. Hasil penelitian lain yang menyimpulkan bahwa, genre musik rock, heavy-metal, dan rap/hip-hop memberikan dampak negatif terhadap penggemarnya. Kelompok masyarakat yang memiliki preferensi genre musik di atas, tergerak untuk melakukan perilaku negatif dari liriknya yang bersifat provokatif dan kritik. Dari faktor Aefaktor tersebut, akhirnya kelompok masyarakat terdorong untuk melakukan perlawanan terhadap lembaga atau institusi yang menjadi sasaran objek lirik lagu dari genre musik tersebut. Kemudian terciptalah perilaku yang dianggap menyimpang karena dorongan-dorongan dari faktor yang terdapat dalam musik yang disukai. Musik dangdut juga selama ini kerap kali mendapat stigma negatif dari masyarakat karena setiap konser musik dangdut selalu ada perilaku negatif dari masyarakat yang menyaksikan konser tersebut. Seolah musik dangdut sebagai kambing hitam dari peristiwa tersebut sehingga masyarakat memberikan stigma negatif terhadap genre musik dangdut. Apakah memang demikian, musik dangdut merupakan genre musik yang kerap kali menyebabkan perilaku negatif dari penikmatnya setiap kali diselenggarakan konser musik Adrian North mengatakan ada aturan sosiokultural yang menentukan dan memberi nilai pada komposisi dan performance . isalnya penggunaan sistem skala tertentu, model estetika, ukuran ensemble, dan perilaku antar-pemain, inter-audiens, dan performer-audiens yang ditentukan secara spesifi. Selain itu, ada momen demi momen masalah koordinasi, kerja sama, dan umpan balik dari para pemain dan audiens yang terjadi selama pertunjukan. Yaitu, ada faktor-faktor Jurnal Awilaras | 154 sosiokultural utama yang membentuk proses dan perilaku yang kita bawa ke konteks performance, di samping faktor-faktor yang lebih langsung terkait dengan interaksi langsung manusia (The Social Psychology of Music, 1. Jika dilihat dari lingkungan sosial-ekonomi masyarakat penikmat musik dangdut, seringkali konsernya diselenggarakan di desa-desa atau perkampungan. Dari keadaan lingkungan sosial yang lebih sering melakukan tindakan berdasarkan kelompok atau individu yang dominan. Jadi, seperti ada kecenderungan menirukan dalam beberapa melakukan aktivitas. Musik dangdut menurut penuturan mereka musik yang memberikan sensasi kepada penikmatnya untuk mengajak mereka bergoyang. Irama yang dihasilkan dari musik tersebut sangat mudah diterima oleh masyarakat yang awam pun akan musik, dan lirik yang tidak terlalu provokatif dan ringan. Perilaku negatif yang sering dilakukan oleh kelompok masyarakat penikmat musik dangdut adalah, seringkali mengkonsumsi minuman keras dalam setiap konser musik dangdut, kemudian memberikan dampak perilaku negatif lainnya setelah mengkonsumsi minuman alkohol karena hilangnya kesadaran sehingga logika tidak berjalan dengan semestinya dan mengakibatkan perilaku yang tanpa memerlukan pertimbangan seperti aksi kekerasan antar kelompok sesama penikmat musik dangdut. Menurut Soemardjan (Soemardjan, 2. dalam perubahan sosial, perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Jika dalam konser musik dangdut penonton yang menyaksikan konser tersebut selalu mengkonsumsi minuman keras, maka tidak menutup kemungkinan kekerasan antar kelompok akan sering terjadi karena pengaruh dari minuman beralkohol. Selama ini seolah musik dangdut yang citranya negatif karena setiap kali konser yang diadakan selalu timbul perilaku penontonnya yang Musik dangdut hanyalah sekedar musik yang tidak memberikan stimulan Jurnal Awilaras | 155 signifikan ke setiap pendengarnya kecuali pendengarnya memiliki daya analisis yang kuat sehingga akan memberikan dorongan respon terhadap pendengarnya. Respon perilaku negatif yang seringkali terjadi dalam setiap pertunjukkan musik dangdut, selalu dikaitkan dengan genre musik dangdut sendiri padahal sebenarnya perilaku tersebut terjadi karena hilangnya rasionalitas. Namun (Ter Bogt, 2. hal yang menjelaskan hubungan antara preferensi musik dan masalah tingkah laku tersebut sebagai teori penanda musik. Bahwa pemodelan sikap dan perilaku dalam musik yang disukai dapat mengarahkan pada adopsi sikap dan perilaku pada penggemarnya. Biasanya melalui musik mereka tertarik pada kelompok tertentu dan mengikuti tren yang mengikat. Secara eksplisit atau implisit menuntut terhadap norma- norma kelompok sosial, sehingga merangsang norma-norma yang konsisten dengan norma kelompok. (Franken, 2. Dalam kelompok yang ditandai dengan lebih seringnya perilaku internalisasi, eksternalisasi dan penerimaan perilaku tersebut sebagai hal yang normal, perilaku bermasalah diperkirakan akan lebih sering terjadi dan lebih KESIMPULAN Kelompok masyarakat yang memiliki preferensi musik cenderung merepresentasikan kesukaannya melalui perilaku mereka, yaitu perilaku yang ditunjukkan dalam kehidupan sosial. Jika merujuk pada teori tindakan Weber bahwa kejadian-kejadian historis secara berurutan yang mempengaruhi karakter mereka dan memahami tindakan-tindakan pada pelakunya yang hidup pada masa Kelompok masyarakat yang dinilai memiliki preferensi musik dengan citra yang cenderung positif atau bisa diterima secara sosial di lapisan masyarakat seperti musik pop, perilaku yang ditunjukkan tidak mengarah ke hal-hal yang Karena interaksi antar sesama penikmat memiliki pengaruh ke dalam Sedangkan atribut-atribut pada genre musik pop tidak terlalu Jurnal Awilaras | 156 nyentrik sehingga penggemar musik tersebut tidak terlalu menirukan atribut yang digunakan oleh idolanya. Sedangkan genre musik yang mendapatkan citra negatif berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu genre musik rock, heavy-metal, rap/hip-hop, memiliki atribut yang cukup unik dan nyentrik, sehingga para penggemar dari genre musik tersebut menirukan atau menggunakan atribut sama yang digunakan oleh idola mereka. Kalau berdasarkan rujukan teori dan hasil penelitian lain yang menjadi acuan dalam penelitian ini, perilaku tersebut timbul karena kecenderungan menirukan kelompok atau individu yang secara sosial memiliki peranan penting atau menonjol dalam kelompok tersebut. Karena jika melihat fenomena dari rumusan masalah bahwa musik rock tidak lantas membawa penggemarnya ke dalam perilaku negatif, jadi lebih pengaruh kelompok penggemar musik itu sendiri. Melalui fenomena ini beberapa hal terbukti disimpulkan terkait hal yang relevan hubungan antara preferensi musik dan perilaku yang bermasalah. Pertama mencontohkan perilaku dan sikap mereka pada media musik yang mereka pilih. Kedua, posisi sosial penonton dan masalah psikososial yang sudah ada sebelumnya dapat mempengaruhi pilihan musik. Dan ketiga preferensi musik mendorong penonton ke arah musik yang banyak bercirikan permasalah perilaku kenakalan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, perasaan depresi. DAFTAR PUSTAKA