BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Analisis Pengaruh Pendidikan. Partisipasi Kerja. Dan Upah Minimum Terhadap Pengangguran Di Provinsi Banten Tahun Umi Nur Faizah1. Nenik Woyanti2 Ilmu Ekonomi . Universitas Diponegoro. Semarang Ilmu Ekonomi . Universitas Diponegoro. Semarang e-mail: umifaizah42@gmail. com, neniwoyanti346@gmail. Abstrak Masalah ekonomi yang terjadi pada Provinsi Banten adalah sempitnya kesempatan kerja sehingga berdampak pada meningkatnya pengangguran. Banten memiliki tingkat pengangguran tertinggi dibandingkan 6 provinsi Di Pulau Jawa. Tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten dapat menghambat pembangunan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan, partisipasi kerja, upah minimum terhadap pengangguran serta mengetahui secara bersama-sama . terhadap pengangguran di Provinsi Banten. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang didapatkan dari publikasi BPS Banten. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Data Panel dengan metode Fixed Effect Model (FEM) dengan waktu penelitian 2011-2020. Hasil Analisis Regresi Data Panel dengan metode Fixed Effect Model (FEM) menunjukkan bahwa variabel pendidikan pengaruh negatif dan tidak signifikan, variabel partisipasi kerja pengaruh positif dan tidak signifikan, variabel upah pengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran Provinsi Banten Tahun 2011-2020. Dan dapat disimpulkan bahwa secara simultan variabel pendidikan, partisipasi kerja, dan upah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten tahun Kata kunci: Banten, fixed effectmodel, unemployment Abstrak The economic problem that occurred in Banten Province was the narrowness of employment opportunities which resulted in increased unemployment. Banten has the highest unemployment rate compared to 6 provinces on the island of Java. The high unemployment rate in Banten Province can hinder economic development. This study aims to analyze the effect of education, work participation, minimum wage on unemployment and simultaneously . on unemployment in Banten Province. This research is a quantitative study using secondary data obtained from BPS Banten publications. The analytical method used in this study is Panel Data Regression Analysis using the Fixed Effect Model (FEM) method with a research time of 2011-2020. The results of the Panel Data Regression Analysis using the Fixed Effect Model (FEM) method show that the education variable has a negative and insignificant effect, the work participation variable has a positive and insignificant effect, the wage variable has a negative and significant effect on unemployment in Banten Province in 2011-2020. And it can be concluded that simultaneously the variables of education, work participation, and wages have a significant influence on the unemployment rate in Banten Province in 2011-2020. Keywords: Banten, fixed effect model, unemployment Pendahuluan Pengangguran merupakan masalah yang kompleks karena dapat mempengaruhi dan sekaligus dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi mengikuti pola yang sulit untuk dipahami (Muslim, 2. Pengangguran dapat menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi pada suatu negara. Terjadinya BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 48 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 pengangguran dikarenakan jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanyak jumlah angkatan kerja atau dengan kata lain jumlah permintaan akan lapangan kerja dan penawaran lapangan kerja tidak seimbang. Salah satu provinsi di Pulau Jawa yang memiliki tingkat pengangguran tinggi adalah Banten. Provinsi Banten merupakan wilayah pemekaran dari Provinsi Jawa Barat yang memiliki 8 kabupaten/ kota. Tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten dapat menghambat pembangunan ekonomi. Provinsi Banten sepanjang tahun 2011-2020 merupakan provinsi yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi jika dibandingkan dengan 6 provinsi lainnya di Pulau Jawa. Dan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan rataAerata pengangguran tingkat Rata- rata pe3ngangguran di Banten tahun 2011- 2020 tercatat 7,57 persen, sedangkan pada tingkat nasional tercatat 4,78 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengangguran di Provinsi Banten sangat tinggi. Pengangguran yang tinggi mencerminkan adanya kegiatan distribusi tenaga kerja yang kurang baik, sehingga terdapat potensi yang belum dimaksimalkan (Darman, 2. Qushoy. Ramdaniatulfitri, dan Kusumah . menyebutkan alasan utama tingginya tingkat pengangguran di Provinsi Banten dikarenakan tuntutan dan kualifikasi pasokan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan tersedianya kebutuhan tenaga kerja Selain itu, tingkat kesempatan kerja yang tinggi tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan kesempatan kerja, sehingga pengangguran akan meningkat. Tingkat pendidikan merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi pengangguran. Pendidikan adalah salah satu modal dasar manusia yang harus dipenuhi untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Semakin tingginya tamatan pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan kerja . he working capacit. atau produktivitas seseorang dalam bekerja. (Suhendra & Wicaksono, 2. Pendidikan adalah investasi dalam SDM akan dirasakan di masa Pendidikan akan meningkatkan kualitas dan produktivitas seseorang sehingga peningkatan kualitas ini diharapkan dapat memberikan memberikan lebih banyak kesempatan kerja bagi para pekerja tersebut (Sang, 2. Menurut Prawira . tingkat pendidikan dapat menentukan status pekerjaan Hal tersebut dikarenakan, ketika pendidikan seseorang tinggi maka seseorang akan cenderung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berkualitas dibandingkan dengan seseorang yang memiliki pendidikan rendah sehingga seseorang yang berpendapatan tinggi dapat memenuhi kebutuhan hidup dan dapat mengurangi angka pengangguran. Selain indikator pendidikan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga dapat memengaruhi pengangguran. TPAK merupakan suatu indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu dalam periode survei. Setiap peningkatan partisipasi angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja membuat penciptaan lapangan pekerjaan yang tersedia sangat minim sehingga penyerapan tenaga kerja pun tidak maksimal, maka tingkat pengangguran pun bertambah seiring penambahan angkatan kerja (Amir, 2. Upah minimum yang ditetapkan pemerintah berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang dilihat dari produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga kenaikan KHL mengindikasikan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten. Jika pertumbuhan ekonomi suatu negara meningkat, yang diharapkan akan memengaruhi pengurangan pengangguran maka diikuti oleh peningkatan upah. Jika BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 49 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 tingkat upah naik, akan memengaruhi pengurangan jumlah pengangguran (Sukirno. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis pengaruh pendidikan, partisipasi kerja, upah minimum serta pengaruh secara simultan terhadap pengangguran di Provinsi Banten Tahun 2011-2020. Landasan Teori Menurut Sukirno . pengangguran merupakan suatu keadaan dimana seseorang angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan akan tetapi mereka belum memperoleh pekerjaan tersebut. Jadi dapat disimpulkan pengangguran adalah seseorang yang merupakan usia angkatan kerja sedang mencari pekerjaan akan tetapi dalam waktu empat minggu terakhir belum mendapatkan pekerjaan tersebut. Teori klasik menjelaskan sisi penawaran dan mekanisme harga dapat mencegah terjadinya pengangguran Gilarso . Menurut pandangan klasik, pengangguran terjadi mis-alokasi sumber daya yang bersifat sementara, oleh karena itu dapat diatasi melalui mekanisme harga. Menurut teori klasik terjadinya kelebihan pada penawaran tenaga kerja maka tingkat upah akan turun dan mengakibatkan produksi perusahaan menjadi turun. Sehingga pada permintaan tenaga kerja akan terus mengalami peningkatan karena perusahaan mampu untuk melakukan perluasaan produksi akibat keuntungan yang diperoleh dari rendahnya biaya. Kaum klasik percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada kekuatan mekanisme pasar menunjukkan keseimbangan . Dalam posisi keseimbangan, semua sumber daya, tenaga kerja akan digunakan secara penuh . Dengan demikian, sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar tidak ada Jika tidak ada yang bekerja dari pada tidak mendapat pendapatan sama sekali maka masyarakat bersedia untuk bekerja dengan upah yang lebih rendah sehingga akan menarik perusahaan untuk mempekerjakan lebih banyak. Hal tersebut dikritik oleh Keynes yang menyatakan bahwa tidak ada mekanisme penyesuaian otomatis yang dapat menjamin perekonomian dapat mencapai keseimbangan pada tingkat penggunaan. Para pekerja mempunyai serikat kerja . abor unio. yang berusaha memperjuangkan kepentingan pekerja dari penurunan tingkat upah. Jika upah turun maka pendapatan masyarakat akan turun akibatnya daya beli masyarakat akan turun. Nilai produktivitas marginal dari tenaga kerja juga turun drastis di mana jumlah tenaga kerja yang tertampung menjadi semakin kecil dan pengangguran menjadi semakin bertambah luas (Mulyadi, 2. Teori Human Capital menyatakan sesorang dapat meningkatkan pendapatannya dengan cara meningkatkan pendidikan. Menurut (Sumarsono, 2. kualitas tingkat kerja yang baik tergantung pada tingkat pendidikan, dikarenakan tingkat pendidikan merupakan suatu proses seseorang dalam menambah ilmu dan keahlian sehingga akan membentuk kepribadian dan kemandirian. Hubungan TPAK terhadap pengangguran yaitu setiap peningkatan partisipasi angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja membuat penciptaan lapangan pekerjaan yang tersedia sangat minim sehingga penyerapan tenaga kerja pun tidak maksimal, maka tingkat pengangguran pun bertambah seiring penambahan angkatan kerja (Amir, 2. Hubungan upah terhadap tingkat pengangguran dijelaskan oleh teori Kaufman . menyatakan bahwa tenaga kerja yang menetapkan upah minimumnya pada tingkat upah tertentu, apabila terdapat penawaran upah di bawah tingkat upah tersebut maka akan mengakibatkan pengangguran. BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 50 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Teori upah yang dikemukakan oleh Mill . , mengatakan bahwa upah yang tinggi tergantung pada permintaan dan penawaran tenaga kerja. Sedangkan pada penawaran tenaga kerja tergantung pada jumlah upah yang diberikan perusahaan. Kurva Kekakuan Upah Riil Penawaran (S) Pengangguran Permintaan (D) Jumlah tenaga kerja Jumlah yang ingin Tenaga Kerja (L) Sumber : Mankiw . Mankiw . dalam teorinya mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya pengangguran adalah adanya kekakuan upah. Kekakuan upah yaitu gagalnya upah melakukan penyusaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan Kekakuan upah menyebabkan pengangguran, ketika upah di atas tingkat yang menyeimbangi penawaran dan permintaan, jumlah tenaga yang di tawarkan melebihi jumlah yang di minta. Akibat dari tingginya upah maka perusahaan mengambil keputusan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja. Perusahaan harus menjatah pekerjaan yang langka di antara para pekerja. Kekakuan upah riil mengurangi tingkat perolehan kerja dan mempertinggi tingkat pengangguran. Pengembangan Hipotesis Teori Human Capital menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat kesempatan kerja. TPAK juga memiliki pengaruh terhadap pengangguran. Setiap peningkatan partisipasi angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja membuat penciptaan lapangan pekerjaan yang tersedia sangat minim sehingga penyerapan tenaga kerja pun tidak Artinya, tingkat pengangguran akan bertambah seiring pertambahan angkatan kerja. Upah minimum yang rendah diduga memengaruhi seseorang untuk tidak bekerja. Sedangkan upah yang tinggi akan meningkatkan rasa seseorang untuk bekerja sehingga akan menurunkan pengangguran. Untuk mempermudah pemahaman serta untuk memperjelas akar pemikiran dalam penelitian ini, berikut ini digambarkan kerangka pemikiran yang skematis sebagai berikut: BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 51 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Pendidikan (X. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Pengangguran (Y) TPAK (X. Upah Minimum (X. Sumber : Prawira . Hipotesis Hipotesis yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Diduga terdapat pengaruh positif antara variabel pendidikan terhadap tingkat pengangguran, artinya semakin tinggi pendidikan seseorang maka tingkat pengangguran akan semakin tinggi. Diduga terdapat pengaruh negatif antara variabel tingkat partisipasi angkatan kerja terhadap tingkat pengangguran, artinya semakin tinggi tingkat partisipasi angkatan kerja maka akan semakin rendah tingkat pengangguran. Diduga terdapat pengaruh negatif antara variabel tingkat upah minimum terhadap tingkat pengangguran artinya semakin tinggi upah minimum maka tingkat pengangguran akan semakin rendah. Diduga variabel pendidikan, tingkat partisipasi angkatan kerja, upah minimum secara simultan berpengaruh terhadap pengangguran. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, di mana sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik Banten. Dalam penelitian ini menggunakan dua jenis variabel, yaitu variabel bebas . ariabel Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Banten dengan satuan persen yang dapat dihitung dengan presentase antara jumlah orang yang menganggur dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja dalam waktu yang sama. Variabel independen yang digunakan yaitu pendidikan (X. , tingkat partisipasi angkatan kerja (X. , upah minimum (X. Pendidikan (X. dihitung menggunakan rata-rata lamanya sekolah, dengan satuan tahun. partisipasi angkatan kerja (X. dihitung menggunakan besarnya persentase angkatan kerja dengan satuan ukur persen. Jenis data penelitian ini adalah Data kuantitatif ini berupa data panel merupakan data runtut waktu . ime serie. sekaligus data silang . ross sectio. Data time series dalam penelitian ini digunakan data periode tahun 2011-2020. BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 52 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Metode analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan pada rumusan masalah adalah analisis regresi data panel. Data panel merupakan gabungan dari data time series dengan periode 2011-2020 dan data cross-section yang meliputi 8 Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Lebak. Kabupaten Pandeglang. Kabupaten Banten. Kabupaten Tanggerang. Kota Serang. Kota Cilegon. Kota Tanggerang. Kota Tanggerang Selatan. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis regresi linier berganda dan pendeteksian penyimpangan asumsi klasik meliputi deteksi multikolinearitas, deteksi autokorelasi, deteksi heteroskesdastisitas dan deteksi normalitas, selanjutnya pangujian ketepatan hipotesis yang meliputi regresi pasrial dan regresi berganda dengan data panel menggunakan software Eviews 10. Adapun persamaan dalam penelitian ini merujuk dari peneliti Prastiwi . , sebagai Y = 0 y1 X1it y2 X2it y3 X3it Aita. Pada Variabel X3 . pah minimu. di Logaritma natural dikarenakan untuk memperkecil variabel upah guna mengurangi fluktuasi data yang berselisih. Jika nilai upah minimum langsung dipakai begitu saja maka nilai variabel akan sangat besar. Y = 0 y1 X1it y2 X2it Logy3 X3it Ait. Dimana : Y : Tingkat Pengangguran Terbuka (Perse. X1 : Tingkat Pendidikan (Tahu. X2 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (Perse. X3 : Upah Minimum (Rupia. 0 : Konstanta 1. 3: Koefisien Variabel Bebas Log : Logaritma Natural : unit Cross Section : tahun 1,2,3,4,5 : error Hasil dan pembahasan Hasil Analisis Ada tiga tahapan dalam memilih model pada data panel. Pertama, membandingkan CEM (Common Effect Mode. dengan FEM (Fixed Effect Mode. Jika hasil menunjukkan bahwa CEM diterima, maka CEM ini akan dianalisis. Kedua, membandingkan antara REM (Random Effect Mode. dan FEM. Ketiga, membandingkan antara CEM atau REM. Untuk dapat mengetahui model terbaik dapat menggunakan uji chow . Uji chow digunakan untuk menentukan model terbaik apakah itu CEM (Common Effect Mode. atau FEM (Fixed Effect Mode. Jika nilai probabilitas F-statistik lebih besar dari tingkat signifikansi = 5%, maka model panel terbaik untuk digunakan adalah CEM (Common Effect Mode. , jika nilai probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikansi = 5%, maka model panel yang baik adalah FEM (Fixed Effect Mode. BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 53 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Uji Chow Uji chow digunakan untuk menentukan model terbaik apakah Common Effect model (CEM) atau Fix Effect Model. Hasil uji chow diperoleh statistik sebesar 10. dengan d. dan nilai probabilitas sebesar 0. 0000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari tingkat signifikansi = 5% . 0000 < ). Maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga model panel yang baik digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model. Uji Haussman Uji Haussman digunakan untuk menentukan model terbaik apakah itu REM (Random Effect Mode. atau FEM (Fixed Effect Mode. Jika nilai probabilitas F-statistik lebih besar dari tingkat signifikansi = 5%, maka model panel terbaik untuk digunakan adalah REM (Random Effect Mode. , jika nilai probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikansi = 5%, maka model panel yang baik adalah FEM (Fixed Effect Model. Berdasarkan hasil uji haussman diperoleh nilai probabilitas sebesar 0. 0000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari tingkat signifikansi = 5% . 0000 <). Maka H 0 ditolak dan H1 diterima, sehingga model yang baik digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model. Hal ini dapat disimpulkan, bahwa baik Uji Chow maupun Uji Haussman mendapatkan hasil bahwa model Fixed Effect Model (FEM) merupakan model yang paling baik dilakukan, dengan begitu tidak perlu lagi melakukan Uji Lagrange Multiplier. Setelah peneliti melakukan Uji Chow dan Uji Hausman, diperoleh model yang paling sesuai dengan menggunakan persamaan model pendekatan Fixed Effect Model Berikut adalah hasil estimasi model yang telah dilakukan melalui proses pengolahan Tabel 1 Hasil Estimasi Fixed Effect Model Variabel Koefisien t-stat Prob Log X3 R Square F-statistik Tabel 1 Prob (Fstatisti. persamaan yang diolah berdasarkan variabel yang telah dijadikan objek penelitian ini. Dengan demikian, secara matematis model persamaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 54 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Y= 37. 054300X1it 0. 051034X2it -0. 002099Log(X. it Aita. Setelah didapatkan estimasi model terbaik, langkah selanjutnya adalah uji normalitas. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk melihat sebaran data dalam suatu model apakah data mengalami distribusi secara normal atau tidak. Hasil Uji Jarque-Bera Berdasarkan hasil uji Jarque-Bera diketahui bahwa output J-B test dengan menggunakan Eviews 10 didapatkan hasil nilai probability Jarque-Bera sebesar 120090 > 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang digunakan dalam penelitian ini residual berdistribusi secara normal dan data layak digunakan untuk penelitian. Langkah selanjutnya deteksi asumsi klasik untuk mengetahui dalam data penelitian Apakah BLUE (Best. Linier. Unbias. Estimato. atau pada persamaan dalam Deteksi Multikolinearitas Deteksi multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan dalam asumsi klasik. Multikolinearitas mengartikan ada atau tidaknya korelasi atau tingkat kemiripan linier antar variabel pendidikan, partisipasi kerja, upah dalam suatu model regresi. Adapun output dari deteksi multikolinearitas menggunakan Eviews 10 sebagai berikut : BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 55 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Tabel 2 Hasil Deteksi Multikolinearitas LogX3 LogX3 Berdasarkan hasil output multikolinearitas yang ditunjukkan pada Tabel 2 didapatkan nilai correlation matrix < 0. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas model regresi dalam penelitian ini. Deteksi Autokorelasi Deteksi autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada korelasi atau hubungan antar variabel pendidikan, partisipasi kerja, upah atau pengangguran pada model dengan mengaitkan perubahan berkorelasi waktu. Jika tidak ada masalah dalam output deteksi autokorelasi, maka persamaan atau model tersebut baik dan layak Deteksi Autokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai DW pada output dengan nilai dL dan dU pada hasil autokerelasi Durbin Watson Tabel 3 Hasil Deteksi Autokorelasi Variable LogX3 Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. Effects Specification Cross-section fixed . ummy variable. R-squared Mean dependent var 9. F-statistic Prob(Fstatisti. Durbin-Watson stat BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 56 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 Hasil autokerelasi Durbin Watson, dimana n = 80 , k = 3 diperoleh dl = 1,5600 dU= 1,7153 Sedangkan 4-dl = 2,4400 4-du = 2,2847 DW= 2,063091. Karena DW berada diantara du dan 4-du maka dapat disimpulkan hipotesis nolditerima,artinya tidak terdapat Deteksi Heteroskedastisitas Deteksi ini digunakan untuk melihat ada tidaknya gejala masalah heteroskedastisitas dalam suatu model. Permasalahan yang ditimbulkan dengan adanya penyimpangan asumsi klasik ini adalah besarnya koefisien regresi, selanjutnya ini berimbas pada uji hipotesis, uji-t ataupun uji-F. Hal ini juga akan berpengaruh pada hasil hipotesis yang kurang bisa dipercaya. Hasil output uji park diketahui bahwa nilai dari probabilitas setiap variabel independen memiliki nilai probabilitas di atas alpha 5%, yaitu pendidikan (X. = 7385 > 0. TPAK (X2 ) = 0. 3848 > 0. 05, dan upah minimum (X. = 0. 1567 >0. sehingga dapat disimpulkan H0 diterima dan tolak H1, yang artinya model lolos uji park dan bebas masalah heteroskedastisitas. Setelah menguji model terbaik yang dibahas sebelumnya, model regresi panel yang paling baik dan paling tepat digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model (FEM) dan hasil pengujian hipotesis klasik menunjukkan bahwa Data BLUE (Best. Linier. Unbias. Estimato. atau tidak ada gejala masalah normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Selain itu, pengujian hipotesis dilakukan untuk melihat apakah hasil penelitian tersebut sejalan atau bertentangan dengan teori yang Hasil Estimasi Fixed Effect Model Variabel Log X3 R Square F-statistik Prob (Fstatisti. Koefisien t-stat Prob Uji Parsial (Uji . Hasil uji parsial . pada variabel pendidikan (X. dihasilkan nilai probabilitas negatif sebesar 0. 9715 atau lebih besar dari alpha 5 persen . Dari hasil tersebut mengandung arti bahwa H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dengan hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan (X. berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penganguran (Y) di Provinsi Banten tahun 2011-2020. Pada hasil uji parsial . pada variabel partisipasi kerja (X. dihasilkan nilai probabilitas positif sebesar 0. 3122 atau lebih besar dari alpha 5 persen . Dari hasil tersebut mengandung arti bahwa H0 diterima dan H1 ditolak sehingga dengan hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa partisipasi kerja (TPAK) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penganguran (Y) di Provinsi Banten tahun 2011-2020. Pada hasil uji parsial . pada variabel upah minimum (X. dihasilkan nilai probabilitas negatif sebesar 0. 0472 atau lebih kecil dari alpha 5 persen . Dari hasil tersebut mengandung arti bahwa H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dengan hasil uji ini BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 57 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 dapat disimpulkan bahwa upah minimum (X. berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penganguran (Y) di Provinsi Banten tahun 2011-2020. Uji Simultan (Uji F-Statisti. Berdasarkan hasil regresi tersebut pengaruh pendidikan, partisipasi kerja dan upah terhadap pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020 diperoleh Prob (F-Statisti. 000000, yang artinya nilai prob F-statistik lebih kecil dari nilai alpha . , sehingga H1 diterima dan H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan, partisipasi kerja dan upah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020. Uji Koefisien Determinasi (R2 ) Berdasarkan output regresi mendapatkan hasil bahwa nilai R-Squared (R. sebesar Hal ini menunjukkan bahwa pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020 mampu dijelaskan oleh tiga variabel independen di dalam model, yaitu pendidikan, partisipasi kerja, upah sebesar 61,40% sedangkan 38,6% lainnya dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini. PEMBAHASAN Sesuai dengan hasil analisis regresi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat dilakukan interprestasi dengan membandingkan hasil analisis penelitian ini dengan analisis atas hasil penelitian sebelumnya atau landasan teori. Model hasil estimasi yang didapat pada penelitian ini sebagai berikut : Y= 37. 054300X1it 0. 051034X2it -0. 002099Log(X. it AitAA. Berdasarkan hasil estimasi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model Hasil output regresi variabel pendidikan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan . 9715> 0. terhadap pengangguran di Kabupaten/Kota Banten tahun 2011-2020. Besarnya pengaruh antar kedua variabel sebesar -0. 054300, yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan lama pendidikan sebesar 1 tahun juga akan memengaruhi penurunan pengangguran di Provinsi Banten sebesar 0. 0543 %. Hal ini sesuai dengan penelitian Sirait dan Marhaeni, . yang menyatakan bahwa variabel pendidikan mempunyai pengaruh negatif terhadap pengangguran di Kabupaten/Kota Provinsi Bali artinya variabel tingkat pendidikan dapat mengurangi jumlah pengangguran sesuai dengan teori walaupun tidak signifikan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Prakoso, ( 2. dalam penelitiannya bahwa variabel pendidikan memiliki pengaruh yang negatif dan sugnifikan terhadap tingkat pengangguran di Indonesia, dimana kenaikan pada tingkat pendidikan, akan mengurangi tingkat penganggur. Pendidikan berperan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, dimana kenaikan tingkat pendidikan diharapkan meningkat pula kualitas sumber daya manusia yang ada. Penelitian ini juga sejalan dengan teori Human Capital oleh Simanjuntak . , disebutkan bahwa peningkatan pendidikan seseorang dapat meningkatkan produktivitas seseorang, yang dapat meningkatkan output. Peningkatan output akan berpengaruh pada peningkatan permintaan tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Peningkatan rata-rata lama sekolah menunjukkan bahwa pendidikan di Banten sudah berkembang dengan baik. Dengan peningkatan ini diharapkan mampu mengurangi tingkat pengangguran. Pendidikan penting dalam mengatasi pengangguran yaitu dengan menciptakan pekerjaan baru maupun mencari pekerjaan agar dapat terserap ke dalam lapangan pekerjaan. Semakin tinggi pendidikan di Provinsi Banten BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 58 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 maka dapat memicu terjadinya penurunan pengangguran. Meskipun begitu variabel pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten. Hasil output regresi variabel partisipasi kerja menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan . 3122 > 0. terhadap pengangguran di Kabupaten/Kota Banten tahun 2011-2020. Besarnya pengaruh antar kedua variabel 051034 yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan TPAK sebesar 1% juga memengaruhi peningkatan pengangguran di Provinsi Banten sebesar 0. 0510% . Hal ini sejalan dengan penelitian (Rambe et al. , 2. dibuktikan bahwa TPAK mempunyai hubungan positif terhadap pengangguran terbuka di Provinsi Jambi. Perubahan yang terjadi pada tingkat partisipasi angkatan kerja tidak selalu mengakibatkan berubahnya tingkat pengangguran terbuka, karena tingkat partisipasi angkatan kerja yang tinggi belum tentu menjamin pengangguran terbuka berkurang. Dapat disimpulkan semakin tingginya partisipasi kerja di Provinsi Banten maka juga berdampak pada tingginya pengangguran. Meskipun begitu variabel partisipasi kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengangguran Provinsi Banten. Hal ini disebabkan meningkatnya partisipasi kerja yang berasal dari daerah luar Provinsi Banten sehingga akan menambah persaingan dalam lapangan kerja dan menimbulkan peningkatan pengangguran. Hasil output regresi variabel upah minimum menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif dan signifikan . 0472<0. terhadap pengangguran di Kabupaten/Kota Banten tahun 2011-2020. Besarnya pengaruh antar kedua variabel 002099 yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan upah minimum sebesar 1% akan memengaruhi penurunan pengangguran di Provinsi Banten sebesar 0. 0020 %. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yunani ( 2. bahwa upah minimum berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran terbuka di Provinsi Jawa Tengah. Artinya, upah yang tinggi akan menyebabkan penurunan jumlah pengangguran terbuka. Peningkatan penawaran tenaga kerja yang terjadi dikarenakan upah yang meningkat, menyebabkan banyak tenaga kerja tidak dapat terserap pada pasar kerja sektor formal. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Keynes . yang menyatakan bahwa tidak ada mekanisme penyesuaian otomatis yang dapat menjamin perekonomian dapat mencapai keseimbangan pada tingkat penggunaan. Para pekerja mempunyai serikat kerja . abor unio. yang berusaha memperjuangkan kepentingan pekerja dari penurunan tingkat upah. Jika upah turun maka pendapatan masyarakat akan turun akibatnya daya beli masyarakat akan turun. nilai produktivitas marginal dari tenaga kerja juga turun drastis dimana jumlah tenaga kerja yang tertampung menjadi semakin kecil dan pengangguran menjadi semakin bertambah luas (Mulyadi, 2. Peningkatan upah minimum disebabkan meningkatnya kebutuhan hidup kenaikan kebutuhan hidup minimum mengindikasikan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten. Dengan meningkatnya tingkat upah berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja atau perluasan tenaga kerja dimasa yang akan datang. Berdasarkan hasil regresi pengaruh pendidikan, partisipasi kerja dan upah terhadap pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020 diperoleh Prob (F-Statisti. 000000, yang artinya nilai prob F-statistik lebih kecil dari nilai alpha . < 0. , sehingga H1 diterima dan H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan. Partisipasi kerja dan Upah secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020. Output regresi didapatkan hasil bahwa nilai R-Squared (R. Hal ini menunjukkan bahwa pengangguran di Provinsi Banten tahun 2011-2020 mampu BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 59 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 dijelaskan oleh tiga variabel independen di dalam model, yaitu pendidikan, partisipasi kerja, upah sebesar 61,40% sedangkan 38,6% lainnya dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini. Simpulan dan Saran Simpulan Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel pendidikan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten Tahun 2011-2020. Artinya semakin tinggi pendidikan di Provinsi Banten maka dapat berdampak pada penurunan pengangguran. Variabel partisipasi kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten Tahun 2011-2020. Artinya semakin tinggi partisipasi kerja di Provinsi Banten maka dapat berdampak pada peningkatan Meskipun begitu variabel pendidikan dan partisipasi kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten. Variabel upah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Banten Tahun 2011-2020. Artinya semakin tinggi upah di Provinsi Banten maka dapat berdampak pada peningkatan pengangguran dan sebaliknya. Secara bersama-sama atau simultan variabel pendidikan, partisipasi kerja, dan upah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran di Provinsi Banten. Saran Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus pada kualitas SDM untuk meningkatkan pendidikan, seperti memperbesar proporsi anggaran pemerintah di bidang pendidikan sebagai bentuk Human Capital Investment. Upah minimum kabupaten/kota ditentukan sesuai dengan undang-undang yang Namun, pengaturan upah ini harus dipertimbangkan dengan matang lagi, karena ketika upah minimum tinggi. Perusahaan akan merasa dirugikan dan akan mengurangi permintaan tenaga kerja. Untuk partisipasi kerja pada penelitian ini menunjukan positif meskipun tidak signifikan artinya apabila jumlah partisipasi kerja meningkat maka akan menambah pengangguran, sehingga pemerintah daerah perlu mengatur adanya partisipasi kerja dari luar daerah dan lebih mengutamakan angkatan kerja yang ada di daerah Provinsi Banten. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mempelajari topik yang sama memiliki tahun yang lebih lama dan menggunakan variabel lain untuk perbandingan lebih lanjut. BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. | 60 BISECER (Business Economic Entrepreneurshi. Vol. VI No. Bulan Januari Tahun 2023 P-ISSN: 2599-3097 E-ISSN: 2714-9986 DAFTAR PUSTAKA