Volume 6 Nomor 1 Februari 2026 p-ISSN : 2747-0725 e-ISSN : 2775-7838 Diterima : 17 November 2025 Direvisi : 21 Desember 2025 Disetujui : 7 Januari 2026 Diterbitkan : 28 Februari 2026 IMPLEMENTASI TEKNIK ECOPRINT UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SENI RUPA SISWA SEKOLAH DASAR Anggi Amalia Fannisa. Baiq Tiara Sagita. Ida Andriani. Indah Aulia Ardila*. Lovita Ramadhani Universitas Mataram. Indonesia E-mail: auliaindah110@gmail. Abstrak: Kreativitas seni rupa merupakan aspek penting dalam perkembangan siswa sekolah dasar. Namun, kenyataannya siswa kelas IV di SDN Model Mataram masih menunjukkan kreativitas yang terbatas, ditandai dengan karya yang seragam dan kurangnya keberanian dalam bereksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi teknik ecoprint dalam meningkatkan kreativitas seni rupa siswa. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart, yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian 37 siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, dokumentasi karya, dan penilaian Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik ecoprint pada media totebag kanvas berhasil meningkatkan kreativitas siswa secara signifikan. Hal ini terlihat dari antusiasme, partisipasi aktif, serta peningkatan orisinalitas, kelancaran ide, dan variasi motif pada karya siswa. Pembelajaran kolaboratif dalam kelompok kecil juga turut mendorong pertukaran ide. Disimpulkan bahwa ecoprint merupakan media yang efektif dan edukatif untuk meningkatkan kreativitas seni rupa siswa sekolah dasar. Disarankan bagi guru untuk mengintegrasikan teknik ini dengan pendampingan yang intensif dan alokasi waktu yang memadai. Kata-kata Kunci: Ecoprint. Kreativitas. Seni Rupa. Sekolah Dasar IMPLEMENTATION OF ECOPRINT TECHNIQUES TO ENHANCE ART CREATIVITY OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Abstract: Creativity in visual arts is a crucial aspect of elementary school students' development. However, fourth-grade students at SDN Model Mataram still exhibited limited creativity, characterized by uniform artwork and a lack of courage to This study aims to analyze the implementation of the ecoprint technique in enhancing students' artistic creativity. The research employed a Classroom Action Research (CAR) approach following the Kemmis and McTaggart model, conducted over two cycles with 37 fourth-grade students as subjects. Data were collected through observation, documentation of student work, and creativity assessment. The findings indicate that the application of the ecoprint technique on canvas totebags successfully and significantly enhanced student creativity. This was evident from the students' enthusiasm, active participation, and improvement in the originality, fluency of ideas, and variety of motifs in their artwork. Collaborative learning in small groups also fostered the exchange of ideas. It is concluded that ecoprint is an effective and educational medium for boosting the artistic creativity of elementary school students. It is recommended that teachers integrate this technique with intensive guidance and sufficient time allocation. Keywords: Ecoprint. Creativity. Fine Arts. Elementary School PENDAHULUAN Kreativitas memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran seni rupa di sekolah dasar karena tidak hanya melatih cara berpikir yang luwes, tetapi juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan imajinasi dan membentuk karakter positif. Dalam dunia pendidikan seni, berkreasi tidak sekadar menghasilkan karya visual belaka, melainkan juga melatih anak-anak dalam menghadapi tantangan dan mengambil keputusan artistik. Sholikah et al . dan Ambarsari . menyatakan bahwa kegiatan bereksplorasi, menggunakan beragam bahan, serta melibatkan praktik langsung terbukti mampu meningkatkan kualitas kreativitas Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan strategi pembelajaran yang aktif dan berbasis pengalaman nyata untuk mendukung perkembangan tersebut. Sayangnya, menjumpai siswa kelas IV SD yang kurang percaya diri dalam berkreasi. Karya mereka Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 cenderung serupa, kurang berani mencoba hal baru, dan terbatas dalam mengeksplorasi motif atau teknik yang berbeda. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika siswa jarang diberi kesempatan untuk mencoba berbagai bahan dan teknik seni yang beragam. Menurut Setyawati . dan Purnama et al . , minimnya variasi media dan metode pembelajaran menjadi penyebab utama mengapa siswa terbiasa dengan pola kerja yang itu-itu saja. Untuk mengubah kondisi ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menghadirkan proses kreatif secara utuh, bukan hanya berfokus pada hasil akhir. Dalam pendidikan pengembangan metode pembelajaran yang kreatif dan efektif untuk meningkatkan minat siswa menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam Masalah ini sebagian besar bersumber dari pembelajaran seni yang masih terpaku pada demonstrasi guru, di mana siswa lebih banyak meniru daripada diberi kesempatan untuk berkreasi secara mandiri. Padahal, lingkungan sekolah sebenarnya menyimpan kekayaan bahan alam yang dapat dijadikan media belajar yang menarik dengan beragam tekstur, bentuk, dan warna alami. Seperti yang ditunjukkan dalam penelitian Purnama et al, . dan Sholikah et al, . penggunaan bahan alam terbukti mampu membangkitkan semangat kreatif siswa melalui kegiatan eksplorasi langsung, termasuk bereksperimen dengan bentuk dan bermain dengan warna alami. Dalam upaya mengatasi tantangan tersebut, teknik ecoprint hadir sebagai solusi yang tepat karena memanfaatkan bahanbahan alami seperti daun dan bunga untuk menciptakan pola unik pada kain atau kertas. Selain menawarkan pengalaman belajar yang kesadaran akan kelestarian lingkungan dan membuat pembelajaran seni menjadi lebih menarik dan kontekstual. Adiansyah . serta Setyawati . dalam penelitian mereka menemukan bahwa penerapan ecoprint dalam pembelajaran seni mampu meningkatkan kreativitas, keberanian siswa kemampuan mereka dalam menciptakan motif yang orisinal. Oleh karena itu, penerapan teknik ecoprint sangat penting untuk merangsang kreativitas siswa kelas IV SD, dan artikel ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan ecoprint serta menilai sejauh mana teknik ini dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran seni rupa. Kreativitas memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran seni rupa di sekolah dasar karena tidak hanya melatih cara berpikir yang luwes, tetapi juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan imajinasi dan membentuk karakter positif. Dalam dunia pendidikan seni, berkreasi tidak sekadar menghasilkan karya visual belaka, melainkan juga melatih anak-anak dalam menghadapi tantangan dan mengambil keputusan artistik. Sholikah et al . dan Ambarsari . menyatakan bahwa kegiatan bereksplorasi, menggunakan beragam bahan, serta melibatkan praktik langsung terbukti mampu meningkatkan kualitas kreativitas Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan strategi pembelajaran yang aktif dan berbasis pengalaman nyata untuk mendukung perkembangan tersebut. Sayangnya, menjumpai siswa kelas IV SD yang kurang percaya diri dalam berkreasi. Karya mereka cenderung serupa, kurang berani mencoba hal baru, dan terbatas dalam mengeksplorasi motif atau teknik yang berbeda. Dalam mengandalkan media konvensional seperti penggunaannya cenderung repetitif dan kurang menantang daya cipta anak. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika siswa jarang diberi kesempatan untuk mencoba berbagai bahan dan teknik seni yang beragam. Menurut Setyawati . dan Purnama et al . , minimnya variasi media dan metode Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 pembelajaran menjadi penyebab utama mengapa siswa terbiasa dengan pola kerja yang itu-itu saja. Untuk mengubah kondisi ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menghadirkan proses kreatif secara utuh, bukan hanya berfokus pada hasil akhir. Masalah ini sebagian besar bersumber dari pembelajaran seni yang masih terpaku pada demonstrasi guru, di mana siswa lebih banyak meniru daripada diberi kesempatan untuk berkreasi secara mandiri. Salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan adalah pengembangan metode pembelajaran yang kreatif dan efektif untuk meningkatkan minat dan pemahaman siswa (Handini et. al, 2. Selain itu, keterbatasan waktu jam pelajaran seni budaya dan kurangnya pelatihan guru dalam pengembangan media berbasis lingkungan juga turut memperparah kondisi Padahal, lingkungan sekolah sebenarnya menyimpan kekayaan bahan alam yang dapat dijadikan media belajar yang menarik dengan beragam tekstur, bentuk, dan warna alami. Seperti yang ditunjukkan dalam penelitian Purnama et al, . dan Sholikah et al, . penggunaan bahan alam terbukti mampu membangkitkan semangat kreatif siswa melalui kegiatan eksplorasi langsung, termasuk bereksperimen dengan bentuk dan bermain dengan warna alami. Dalam upaya mengatasi tantangan tersebut, teknik ecoprint hadir sebagai solusi yang tepat karena memanfaatkan bahanbahan alami seperti daun dan bunga untuk menciptakan pola unik pada kain atau kertas. Selain menawarkan pengalaman belajar yang kesadaran akan kelestarian lingkungan dan membuat pembelajaran seni menjadi lebih menarik dan kontekstual. Adiansyah . serta Setyawati . dalam penelitian mereka menemukan bahwa penerapan ecoprint dalam pembelajaran seni mampu meningkatkan kreativitas, keberanian siswa kemampuan mereka dalam menciptakan motif yang orisinal. Teknik ini juga sejalan Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 dengan semangat kurikulum merdeka yang mendukung pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dan pemanfaatan sumber daya lokal. Oleh karena itu, penerapan teknik ecoprint sangat penting untuk merangsang kreativitas siswa kelas IV SD, dan artikel ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan ecoprint serta menilai sejauh mana teknik ini dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran seni rupa. Meskipun mengungkap adanya permasalahan dalam pembelajaran seni yang masih bersifat monoton, masih terdapat celah yang perlu dikaji lebih lanjut. Sejumlah studi sebelumnya telah menegaskan manfaat eksplorasi bahan alam dan mengidentifikasi kelemahan metode pembelajaran yang kurang variatif. Penelitian terkait ecoprint juga mulai memperlihatkan dampak positif dalam pembelajaran. Namun menguraikan penerapan teknik ecoprint langkah demi langkah dalam pembelajaran seni rupa di kelas IV SD masih terbatas. Selain kreativitas siswa yang paling berkembang, seperti kelancaran, keluwesan, keaslian, maupun kemampuan mengelaborasi ide. sisi lain, diperlukan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai upaya mengatasi kendala praktis, seperti keterbatasan bahan alam dan pengelolaan waktu pembelajaran yang singkat, yang kerap menjadi tantangan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (Hermawati et al. , 2. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang mengikuti model Kemmis dan McTaggart, dilaksanakan dalam dua siklus Setiap siklusnya dijalankan melalui penyusunan rencana, implementasi tindakan, pengamatan proses, hingga refleksi hasil. Pemilihan metode PTK ini didasari kemampuannya dalam menciptakan proses perbaikan yang berkelanjutan dan terukur, penerapan teknik ecoprint (Setyawati, 2. Partisipan Kegiatan penelitian melibatkan 37 siswa kelas IV yang aktif berpartisipasi dalam proses pembuatan ecoprint menggunakan bahan-bahan alami. Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu observasi wawancara singkat dengan siswa untuk memahami pengalaman belajar mereka. Instrumen penilaian kreativitas disusun dengan memperhatikan aspek orisinalitas, kelancaran berkreasi, fleksibilitas, dan detail karya, yang sebelumnya telah divalidasi oleh para ahli pendidikan seni (Jannah, 2. Gambar 1. Diagram Alur Penelitian Analisis Data Analisis data dilakukan dengan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif digunakan untuk mengukur perkembangan kreativitas siswa dari satu siklus ke siklus berikutnya, sementara data kualitatif di analisis melalui tahap penyederhanaan data, penyajian informasi, dan penarikan makna. Kombinasi pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang memengaruhi perkembangan kreativitas siswa dalam pembelajaran seni (Adiansyah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada penelitian implementasi teknik ecoprint di SDN Model Mataram, sebanyak 37 siswa dari dua kelas (IV A dan IV B) berpartisipasi aktif dalam kegiatan seni rupa yang inovatif ini. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja sama membuat desain ecoprint pada totebag Selama proses pembelajaran, teramati antusiasme yang tinggi di antara para siswa. Mereka dengan penuh semangat memilih berbagai jenis daun dan bunga, menyusun komposisi motif di atas permukaan kanvas, serta melakukan teknik pounding dengan menggunakan palu dan alat bantu lainnya sesuai panduan guru. Pada siklus pertama, kegiatan ecoprint dilaksanakan dengan panduan langsung dari guru, yang melibatkan 37 siswa dibagi ke diperkenalkan dengan teknik pounding menggunakan daun dan bunga segar. meskipun antusiasme siswa terlihat tinggi selama proses berlangsung, hasil observasi menunjukkan beberapa kendala, seperti sebagian besar siswa masih kesulitan mengatur tekanan palu sehingga motif yang berantakan, beberapa siswa cenderung meniru pola yang dibuat teman atau contoh guru sehingga variasi motif menjadi terbatas, serta waktu yang disediakan selama dua jam pelajaran belum mencukupi untuk tahap Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 penyusunan, pengepresan, dan refleksi, yang kreativitas di mana rata-rata skor siswa pada siklus I hanya mencapai 68 dalam skala 100 dengan aspek orisinalitas dan elaborasi masih berada pada kategori rendah, sehingga hasil refleksi siklus I menyimpulkan perlunya pendampingan yang lebih intensif dari guru serta penyesuaian alokasi waktu agar proses ecoprint pada siklus berikutnya dapat berlangsung lebih efektif dan menghasilkan peningkatan kreativitas yang lebih optimal. Berdasarkan refleksi siklus 1, peneliti melakukan beberapa perbaikan pada siklus 2, yakni memberikan pendampingan teknis yang lebih intensif terutama dalam mengontrol tekanan dan pemilihan daun, menambah waktu kegiatan menjadi 3 jam pelajaran dengan pembagian tahap yang lebih jelas, serta memberikan stimulasi kreativitas melalui tayangan video variasi motif ecoprint kemungkinan kombinasi bentuk dan warna. Hasil dari perbaikan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam partisipasi dan kualitas karya, di mana siswa terlihat lebih berani bereksperimen menggunakan pola asimetris dan gradasi warna alami, sementara skor rata-rata kreativitas meningkat menjadi 82 dengan lonjakan tertinggi pada aspek orisinalitas dan fleksibilitas, serta hanya 3 dari 37 siswa yang masih mengalami kesulitan pendampingan individu. Berdasarkan penerapan teknik ecoprint pada totebag kanvas terbukti efektif dalam meningkatkan kreativitas seni rupa siswa kelas IV SD. Perbandingan antara siklus 1 dan siklus 2 menunjukkan bahwa pendekatan PTK dengan mengidentifikasi dan mengatasi kendala Hasil memperkuat temuan sebelumnya dari Renjana Pendidikan Universitas Mataram yang menyatakan bahwa ecoprint tidak hanya mengembangkan keterampilan kreatif tetapi Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 juga menumbuhkan kesadaran lingkungan peserta didik (Ilmi, 2. Antusiasme dan keterlibatan siswa yang tinggi selama proses pembelajaran menunjukkan bahwa media kontekstual seperti totebag kanvas dan bahan alam mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan media seni konvensional. Penelitian Suntini et al, . menguatkan temuan ini dengan menyebutkan bahwa penggunaan bahan kanvas tidak hanya menghasilkan motif yang awet dan menarik, tetapi juga membuat siswa lebih menghargai karya mereka sendiri karena memiliki nilai guna yang lebih tinggi. Keberagaman dan orisinalitas motif yang dihasilkan siswa membuktikan bahwa ecoprint memberikan ruang eksplorasi yang Siswa tidak hanya meniru pola yang ada, tetapi aktif bereksperimen dengan berbagai kombinasi bahan tumbuhan dan teknik Hal ini sesuai dengan penelitian Adiansyah . yang menemukan bahwa kreativitas melalui aktivitas langsung dan refleksi proses kreatif. Pembelajaran dalam kelompok kecil ternyata berhasil memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antar siswa. Melalui diskusi dan saling bertukar ide tentang motif dan teknik, siswa dapat mengembangkan kreativitas secara individu maupun kolektif. Temuan ini sejalan dengan penelitian Setyawati . yang menegaskan efektivitas model pembelajaran kolaboratif dalam pendidikan seni rupa. Meskipun memberikan banyak manfaat, implementasi ecoprint menghadapi beberapa tantangan. Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam mengontrol mengakibatkan motif yang dihasilkan kurang Selain itu, teknik ini membutuhkan dibandingkan metode konvensional, sehingga perlu penyesuaian dalam perencanaan Tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ini tergolong sangat baik. Beberapa siswa bahkan menunjukkan inisiatif kreatif dengan mencoba berbagai kombinasi daun dan eksperimen warna alami untuk menciptakan pola yang unik. Hasil keragaman motif yang menarik, mulai dari bentuk daun memanjang, pola bunga yang simetris, hingga percampuran warna yang menampilkan sisi kreativitas siswa. Dalam mengungkapkan bahwa mereka merasa "lebih tertarik dan bersemangat" belajar seni rupa dengan metode ecoprint ini dibandingkan dengan media kertas yang biasa digunakan. Transformasi partisipasi siswa tampak jelas dalam proses pembelajaran. Jika sebelumnya banyak siswa yang cenderung pasif dalam pelajaran seni rupa, setelah mengikuti kegiatan ecoprint mereka menjadi lebih aktif berpartisipasi, banyak mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan keberanian dalam mengeksplorasi berbagai motif. Data observasi dan dokumentasi secara konsisten membuktikan bahwa ecoprint sebagai media pembelajaran seni rupa mampu memberikan stimulasi positif terhadap perkembangan kreativitas siswa, khususnya dalam hal yang dihasilkan. Secara keseluruhan, penelitian ini dipertimbangkan sebagai media pembelajaran seni rupa yang tidak hanya artistik tetapi juga Teknik ini memungkinkan siswa bereksplorasi secara aktif, menghasilkan karya yang bermakna, dan mengembangkan kreativitas secara holistik. Untuk itu, mempertimbangkan integrasi ecoprint dalam kurikulum seni rupa kelas IV SD sebagai bagian dari strategi pengembangan kreativitas Pembahasan Berdasarkan penerapan teknik ecoprint pada totebag kanvas terbukti efektif dalam meningkatkan kreativitas seni rupa siswa kelas IV SD. Hasil ini memperkuat temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa ecoprint tidak hanya mengembangkan keterampilan kreatif tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan peserta didik (Ambarwati, 2. Antusiasme dan keterlibatan siswa yang tinggi selama proses pembelajaran menunjukkan bahwa media kontekstual seperti totebag kanvas dan bahan alam mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan media seni konvensional. Penelitian Suntini et . menguatkan temuan ini dengan menyebutkan bahwa penggunaan bahan kanvas tidak hanya menghasilkan motif yang awet dan menarik, tetapi juga membuat siswa lebih menghargai karya mereka sendiri karena memiliki nilai guna yang lebih tinggi. Keberagaman dan orisinalitas motif yang dihasilkan siswa membuktikan bahwa ecoprint memberikan ruang eksplorasi yang Siswa tidak hanya meniru pola yang ada, tetapi aktif bereksperimen dengan berbagai kombinasi bahan tumbuhan dan teknik Hal ini sesuai dengan penelitian Adiansyah . yang menemukan bahwa kreativitas melalui aktivitas langsung dan refleksi proses kreatif. Pembelajaran dalam kelompok kecil ternyata berhasil memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antar siswa. Melalui diskusi dan saling bertukar ide tentang motif dan teknik, siswa dapat mengembangkan kreativitas secara individu maupun kolektif. Temuan ini sejalan dengan penelitian Setyawati . yang menegaskan efektivitas model pembelajaran kolaboratif dalam pendidikan seni rupa. Lebih jauh, proses kolaborasi ini juga mengajarkan siswa nilainilai sosial seperti saling menghargai pendapat dan bekerja sama mencapai tujuan bersama, yang sejalan dengan prinsip pembelajaran sosial Bandura (Warini et al. Meskipun manfaat, implementasi ecoprint menghadapi Sebagian Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 mengalami kesulitan dalam mengontrol mengakibatkan motif yang dihasilkan kurang Hasil penelitian Widiastuti et al. menunjukkan bahwa sekitar 45% siswa kelas IV mengalami kesulitan teknis serupa pada percobaan pertama. Menurut teori perkembangan motorik halus, anak usia pengembangan koordinasi motorik halus, sehingga kegiatan yang membutuhkan presisi seperti pengepresan ecoprint memerlukan latihan berulang dan pendampingan intensif. Untuk mengatasi hal ini, scaffolding atau bantuan bertahap dari guru dan teman sebaya yang lebih terampil sangat diperlukan (Saputri & Wahyuningtyas, 2. Selain itu, teknik ini membutuhkan alokasi waktu yang konvensional, sehingga perlu penyesuaian dalam perencanaan pembelajaran. Penelitian Metha et al. merekomendasikan alokasi waktu minimal 3 jam pelajaran untuk aktivitas ecoprint teknik pounding agar siswa dapat mengeksplorasi kreativitas secara optimal tanpa terburu-buru. Integrasi ecoprint dengan mata pelajaran lain seperti IPA . engenal struktur dau. atau Bahasa Indonesia . embuat cerita dari moti. dalam model pembelajaran terpadu dapat menjadi solusi efektif untuk mengoptimalkan waktu tanpa mengurangi muatan kreatif. Secara keseluruhan, penelitian ini dipertimbangkan sebagai media pembelajaran seni rupa yang tidak hanya artistik tetapi juga Teknik ini memungkinkan siswa bereksplorasi secara aktif, menghasilkan karya yang bermakna, dan mengembangkan kreativitas secara holistik. Keberhasilan ini tidak lepas dari kesesuaian ecoprint dengan prinsip pembelajaran kontekstual dan berbasis proyek yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek. Untuk itu, disarankan agar guru dan ecoprint dalam kurikulum seni rupa kelas IV Renjana Pendidikan Dasar - Vol. 6 No. 1 Februari 2026 pengembangan kreativitas berkelanjutan. Pelatihan bagi guru dalam menguasai teknik dasar ecoprint dan merancang pembelajaran yang adaptif terhadap kendala waktu dan fasilitas juga perlu diselenggarakan agar inovasi ini dapat diimplementasikan secara lebih luas dan berkelanjutan. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik ecoprint pada totebag kanvas efektif dalam meningkatkan kreativitas seni rupa siswa kelas IV SD, yang ditunjukkan melalui meningkatnya antusiasme dan keterlibatan aktif siswa serta perkembangan aspek kreativitas seperti orisinalitas, fleksibilitas berpikir, dan kemampuan elaborasi melalui eksplorasi bahan alam. Penerapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dalam dua siklus membuktikan bahwa perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar seni rupa. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain pelaksanaan yang terbatas pada satu sekolah dan satu jenjang kelas, perbedaan kemampuan motorik halus siswa, serta kebutuhan waktu dan persiapan yang lebih kompleks dibandingkan metode konvensional, sehingga disarankan agar perencanaan yang matang, pendampingan yang optimal, serta dukungan fasilitas dan alokasi waktu yang memadai guna mendukung pengembangan kreativitas siswa secara berkelanjutan. Saran Berdasarkan temuan penelitian, dapat diajukan beberapa rekomendasi implementasi teknik ecoprint. Bagi guru, disarankan untuk mengintegrasikan teknik ecoprint dalam pembelajaran seni rupa dengan memberikan pendampingan lebih intensif, khususnya dalam penguasaan teknik pengepresan untuk meminimalkan kegagalan cetak. Untuk mendukung keberhasilan penerapan ini, sekolah disarankan menyediakan fasilitas dan bahan yang memadai serta mengalokasikan waktu pembelajaran yang cukup. Sementara bagi peneliti berikutnya, perlu dikembangkan modul pembelajaran ecoprint yang lebih terstruktur dan mengeksplorasi variasi media lainnya yang dapat digunakan dalam penerapan teknik ini, sehingga dapat memperkaya alternatif media pembelajaran kreatif di tingkat sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA