Volume 10 No. Juli Ae Desember 2025 p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X UPAYA USTAZAH DALAM MEMBENTUK PERILAKU SOPAN SANTUN SANTRIWATI DAYAH RAUDATUL MUNA AJUN LAKSAMANA Nanda Luthfia1. Saifullah Isri2. Isnawardatul Bararah3 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Ace. 210201160@student. ar-raniry. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh | Saifullah. isri@ar-raniry. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh | isnawardatul@ar-raniry. Abstrak Pendidikan karakter merupakan elemen penting dalam pembentukan manusia seutuhnya, dengan akhlak sebagai aspek utama yang mencerminkan kepribadian individu. Di Dayah Raudhatul Muna, pendidikan akhlak diintegrasikan melalui keteladanan dan pembiasaan yang berkelanjutan. Ustazah berperan sentral dalam menanamkan nilai-nilai moral, seperti kejujuran dan kesopanan, yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan. Melalui metode keteladanan, santriwati diajarkan untuk meniru perilaku baik ustazah dalam interaksi sehari-hari. Pembiasaan sopan santun dilakukan melalui rutinitas harian dan program Tarbiyatul Akhlak, yang mengajarkan nilai-nilai adab secara interaktif. Meskipun terdapat tantangan dari latar belakang keluarga dan pengaruh teman sebaya, ustazah tetap berkomitmen untuk memberikan bimbingan dengan pendekatan kasih sayang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap upaya ustazah dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Hasil menunjukkan bahwa konsistensi dan keteladanan ustazah, dukungan lingkungan pesantren, serta motivasi internal santriwati berkontribusi signifikan dalam pembentukan karakter. Dengan demikian, pendidikan akhlak di Dayah Raudhatul Muna diharapkan dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia. Kata Kunci: Pendidikan Karakter. Pesantren. Kesopanan. Pembiasaan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 211 USTAZAHAo EFFORTS IN SHAPING THE POLITE BEHAVIOR OF SANTRIWATI DAYAH RAUDATUL MUNA AJUN LAKSAMANA Abstract Character education is an important element in the formation of a whole person, with morals as the main aspect that reflects an individual's personality. Dayah Raudhatul Muna, moral education is integrated through exemplary and sustainable habituation. Ustazah plays a central role in instilling moral values, such as honesty and politeness, which are indicators of educational success. Through the exemplary method, santriwati are taught to imitate the good behavior of ustazah in daily interactions. Manners habituation is carried out through daily routines and the Tarbiyatul Akhlak program, which teaches adab values interactively. Despite challenges from family background and peer influence, ustazah remains committed to providing guidance with a compassionate approach. This study aims to reveal the efforts of ustazah in shaping the polite behavior of santriwati, as well as the supporting and inhibiting factors. The results show that the consistency and exemplary of ustazah, the support of the pesantren environment, and the internal motivation of santriwati contribute significantly to character building. Thus, moral education at Dayah Raudhatul Muna is expected to create a generation that is not only intellectually intelligent, but also noble. Keywords: Character Education. Islamic Boarding School. Politeness. Role Modeling. Habituation PENDAHULUAN integral dalam proses Salah satu aspek penting dalam Pendidikan karakter adalah akhlak, yang tidak hanya menjadi tuntutan moral tetapi juga dasar dalam menjalani kehidupan Akhlak yang baik akan mencerminkan kepribadian seseorang dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan, terutama di lembagalembaga pendidikan berbasis agama seperti dayah. Sebagaimana ditegaskan oleh (Al-Qaradawi, 2. , "Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk menanamkan nilai-nilai moral yang memungkinkan individu untuk hidup sesuai dengan etika yang berlaku dalam masyarakat, yang meliputi kejujuran. Sebagaimana ditegaskan oleh (Latifah & Suluri, 2. Auakhlakul karimah merupakan salah satu tujuan utama dari Islam diwujudkan melalui keteladanan dan Ay Pendidikan akhlak menjadi elemen utama karena akhlaklah yang menjadi cermin kualitas rohani seorang insan dan menentukan bagaimana individu berinteraksi dalam masyarakat. Perilaku merupakan bagian dari akhlak yang Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 212 luhur dan menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan proses pembelajaran di lingkungan pesantren. Sopan santun tidak sekadar menyangkut cara berbicara atau berinteraksi, namun mencakup nilai-nilai kesantunan dalam bersikap, berpakaian, serta berperilaku dalam berbagai konteks kehidupan. Sebagaimana disampaikan oleh (AlGhazali, 2. , "Akhlak yang baik akan melahirkan perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi cermin dari pendidikan yang diterima di Menurut (Islakhuzzaqiyah, 2. Auakhlak tidak dibentuk dalam waktu singkat, tetapi harus ditanamkan sejak dini melalui pembiasaan dan keteladanan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Ay Pembentukan perilaku ini tidak dapat terjadi secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang Menurut (Zohar, "Pembentukan memerlukan waktu yang panjang dan membutuhkan pendampingan yang terus menerus untuk menghasilkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang ingin diajarkan. Pembiasaan dan keteladanan menjadi metode utama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak yang akan membentuk karakter santri, terutama di dalam lingkungan pesantren. Dayah pendidikan Islam tradisional memegang peranan strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Di dalamnya, santri tidak hanya diajarkan ilmu agama, tetapi juga dibina dalam hal moral dan etika. Dayah Raudatul Muna menjadi contoh konkret lembaga yang menekankan pentingnya akhlakul karimah dan sopan santun sebagai bagian dari sistem Keunikan pendidikan di dayah terletak pada kombinasi antara transfer ilmu agama, keteladanan dari para pendidik yang dalam hal ini berperan besar adalah Di sinilah peran ustazah menjadi sangat sentral dalam proses Sebagaimana dijelaskan oleh (Fathoni, "Pendidikan mengedepankan integrasi antara ilmu agama dan akhlak, yang dalam implementasinya membentuk karakter santri melalui metode keteladanan yang Oleh karena itu, peran ustazah menjadi sangat penting dalam mendukung proses tersebut. Ustazah bukan hanya pengajar yang menyampaikan materi, tetapi juga menjadi figur panutan yang dicontoh oleh santriwati dalam kehidupan seharihari. Keteladanan ustazah dalam berkata dan bertindak menjadi sumber inspirasi bagi para santriwati. Seperti yang disampaikan oleh (Mustofa, 2. , "Seorang pendidik, khususnya ustazah, tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, agar santri dapat nilai-nilai Seperti dijelaskan oleh (Zuliana, 2. Auustazah memiliki posisi strategis sebagai role model yang tidak hanya membimbing secara intelektual, tetapi juga membentuk kepribadian dan karakter santri dengan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 213 Ay Tantangan dalam membina perilaku santriwati tidaklah ringan. Santriwati datang dari latar belakang keluarga dan lingkungan yang beragam, dengan nilai-nilai dan kebiasaan yang mungkin berbeda satu sama lain. Pengaruh hambatan yang harus dihadapi oleh ustazah dalam membentuk perilaku sopan santun yang konsisten. Menurut (Hartini, 2. , "Pengaruh eksternal seperti media sosial dan lingkungan sosial yang kurang mendukung menjadi tantangan besar dalam membentuk perilaku moral santri di pesantren. Oleh memberikan contoh yang baik menjadi sangat penting dalam pendidikan karakter di pesantren. Dalam hal ini, (Atmawarni, 2. menyatakan bahwa Aukeberhasilan pendidikan karakter sangat ditentukan oleh konsistensi peran pendidik sebagai teladan utama dalam kehidupan sehari-hari para Ay Maka, dibutuhkan kesabaran, keistiqamahan, serta inovasi dalam pendekatan agar pembinaan tetap efektif meski di tengah berbagai Namun demikian, usaha ustazah di Dayah Raudhatul Muna dilakukan secara sistematis dan terencana. Pembinaan dilakukan melalui kegiatankegiatan keagamaan, seperti pengajian, pembacaan kitab kuning, serta kegiatan sosial yang melibatkan kerja sama antar Sebagaimana dijelaskan oleh (Nasution, 2. , "Kegiatan keagamaan di pesantren tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga untuk membentuk karakter santri agar lebih santun dan berakhlakul karimah, (Islakhuzzaqiyah, 2. , bahwa pembinaan akhlak dalam pengalaman langsung dan teladan nyata dalam kehidupan komunitas. Dengan demikian, penelitian ini bagaimana upaya ustazah dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati di Dayah Raudhatul Muna, serta faktor-faktor pendukung dan Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam bidang pendidikan karakter, khususnya di lingkungan pesantren, agar tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia. Sebagaimana ditegaskan oleh (Latifah & Suluri, 2. , pendidikan Islam harus menghasilkan peserta didik yang Autidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Ay Upaya membentuk perilaku sopan santun santriwati tidak hanya terbatas pada pengajaran di dalam kelas, tetapi juga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dayah. Melalui interaksi langsung dan pembinaan secara informal, ustazah mampu menyentuh hati santriwati dan menjadi bagian dari Sebagaimana Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 214 dijelaskan oleh (Rahmawati, 2. , "Hubungan yang erat antara pendidik dan santri memungkinkan terbentuknya hubungan emosional yang memudahkan proses penanaman nilai-nilai moral dalam diri santri, hal ini menunjukkan pentingnya hubungan yang dekat antara pendidik dan peserta didik dalam pendidikan karakter. Dalam hal ini, (Zuliana, 2. menambahkan bahwa hubungan yang bersifat afektif antara ustazah dan santri memperkuat keberhasilan pembinaan akhlak karena kepercayaan yang tinggi. Selain ustazah juga menerapkan metode pembiasaan dalam menanamkan nilai sopan santun. Misalnya, membiasakan santriwati memberi salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang santun, menghormati orang yang lebih tua, serta menjaga kebersihan dan Sebagaimana (Abdullah, 2. , "Pembiasaan nilainilai sopan santun dalam kehidupan sehari-hari akan mempercepat proses internalisasi nilai tersebut pada santri, pembiasaan menjadi alat yang sangat efektif untuk membentuk kebiasaan positif yang dapat membangun karakter (Zuliana, 2. kembali Audengan membiasakan hal-hal kecil seperti mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, dan menjaga lingkungan, ustazah membentuk kebiasaan baik yang secara kepribadian santriwati. Ay Peran ustazah juga terlihat dalam kegiatan pengawasan dan evaluasi perilaku santriwati. Mereka memberikan teguran, nasihat, bahkan hukuman yang bersifat mendidik jika terdapat perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai kesopanan. Pendekatan ini dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar santriwati tidak merasa ditekan, tetapi justru termotivasi untuk memperbaiki diri. Seperti dijelaskan oleh (Mulyadi, 2. , "Pendekatan yang penuh kasih sayang dalam memberikan teguran dan evaluasi akan meningkatkan kesadaran moral santri untuk berperilaku sesuai dengan nilai yang diharapkan, pendekatan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan dalam pendidikan karakter. (Latifah & Suluri, 2. menjelaskan bahwa Aupendidikan akhlak yang efektif membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, karena santri harus merasa didampingi, bukan dihakimi. Ay Melalui komprehensif, ustazah di Dayah Raudhatul Muna berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya fokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada pembentukan karakter yang berakhlakul karimah. Sebagaimana (Mulyadi, 2. , "Pendidikan karakter yang berbasis pada akhlak mulia akan menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki moral yang tinggi dan dapat menjadi teladan bagi Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 215 diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berimbang secara intelektual dan Berdasarkan observasi awal di Dayah Raudhatul Muna, terlihat bahwa ustazah memainkan peran penting dalam membina sopan santun santriwati pembiasaan, dan nasihat yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ustazah tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif membimbing santriwati dalam aktivitas harian seperti pengajian, menjaga kebersihan, dan interaksi sosial. Santriwati dibiasakan memberi salam, berbicara sopan, serta menghormati guru dan sesama. Meskipun terdapat tantangan dari santriwati baru yang belum terbiasa dengan budaya dayah, pendekatan yang lembut dan persuasif, membimbing mereka secara bertahap hingga nilai-nilai sopan santun tertanam secara alami. Penjelasan diatas didukung oleh Teori Pendidikan Karakter Berbasis Keteladanan yang dikemukakan oleh (Fathy, 2. menekankan bahwa pendidikan karakter yang efektif harus melibatkan keteladanan dari pendidik, bukan hanya pengajaran langsung. Fathy menyatakan bahwa pendidik, seperti ustazah di Dayah Raudhatul Muna, berperan penting dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan nilai-nilai moral dan akhlak melalui keteladanan ini sangat relevan dalam membentuk karakter santriwati, karena santri cenderung meniru sikap dan tindakan ustazah yang mereka anggap sebagai teladan, yang memperkuat integrasi teori dan praktik dalam pendidikan karakter. Penelitian sebelumnya sudah bagaimana membentuk karakter dengan sopan santun seperti menurut, (Fitriani, 2. dengan hasil penelitiannya menekankan pentingnya keteladanan guru sebagai metode utama dalam pembentukan karakter santri. Guru tidak hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap dan bertindak di lingkungan pesantren. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan perilaku sopan santun yang dilakukan secara konsisten berdampak besar terhadap sikap keseharian santri. Kemudian diperkuat oleh (Nurhayati, 2. dengan hasil penelitian bahwa pendekatan personal, pengawasan rutin, dan pemberian nasihat secara langsung menjadi strategi yang efektif dalam membina moral dan etika santri. Peran guru perempuan . sangat dominan dalam membentuk kedekatan emosional dengan santriwan dan santriwati, yang mempermudah proses internalisasi nilai-nilai kesantunan. Selanjutnya (Mardhiah, 2. dengan hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa ustazah memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam membimbing santriwati, bukan hanya dari segi ilmu agama tetapi juga dari sisi Ustazah menggunakan metode Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 216 menanamkan nilai-nilai sopan santun. santriwati, dan keterbatasan kontrol perilaku di luar jam pembelajaran. Sementara itu, dalam penelitian ini, penulis berupaya menganalisis bagaimana peran ustazah sebagai pendidik perempuan berkontribusi dalam pembentukan perilaku sopan santun santriwati melalui strategi pembinaan karakter yang berbasis nilainilai Islam. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokus pengkajian terhadap nasihat, serta pendekatan personal yang dilakukan ustazah dalam konteks pendidikan dayah sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional. Dalam kesopanan, ustazah tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur panutan yang senantiasa berinteraksi secara langsung dan intens dengan santriwati. Dengan mengacu pada temuantemuan pembiasaan dan kedekatan emosional dalam pendidikan karakter, riset ini kontribusi nyata dalam penguatan sistem pembinaan akhlak di dayah. Pendekatan menitikberatkan pada penyampaian pengetahuan keagamaan, tetapi juga pada pembentukan kepribadian Islami santriwati melalui praktik langsung yang dilakukan ustazah sebagai role Melalui eksplorasi ini, penelitian pembinaan karakter yang kontekstual, empatik, dan berkelanjutan dalam menciptakan generasi muslimah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan santun. Penelitian bagaimana ustazah menyesuaikan pendekatan pendidikan akhlak dengan latar belakang sosial dan psikologis santriwati yang beragam. Proses internalisasi nilai sopan santun dilakukan melalui kegiatan keagamaan harian, pengawasan perilaku, serta intervensi dalam bentuk pembinaan emosional dan spiritual. Pendidikan akhlak yang efektif membutuhkan konsistensi serta figur pendidik yang mampu menjadi teladan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini juga menelusuri tantangan yang dihadapi ustazah dalam menanamkan nilai sopan santun, seperti pengaruh media sosial, perbedaan latar belakang keluarga Dengan demikian, penelitian ini bagaimana upaya ustazah dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati di Dayah Raudhatul Muna, serta faktor-faktor pendukung dan Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam bidang pendidikan karakter, khususnya di lingkungan pesantren, agar tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia. Pendidikan Islam harus menghasilkan peserta didik yang Autidak hanya Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 217 mengamalkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, karena bertujuan untuk memahami secara mendalam peran ustazah dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati melalui pembinaan yang lingkungan Dayah Raudhatul Muna. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali makna di balik praktik pendidikan karakter, termasuk nilai, interaksi, dan dinamika yang terjadi. Sebagaimana dijelaskan oleh (Moleong, 2. , pendekatan kualitatif cocok untuk memahami makna tindakan dari perspektif subjek yang diteliti. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, karena fokusnya tertuju pada satu lokasi spesifik, yaitu Dayah Raudhatul Muna, dengan tujuan mengkaji secara mendalam strategi dan peran ustazah dalam pembentukan karakter santriwati. Peneliti instrumen utama yang secara langsung terlibat dalam pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Dalam proses ini, kehadiran peneliti bersifat partisipatif pendidikan tanpa mengintervensi, namun tetap menjalin komunikasi dengan subjek agar memperoleh informasi yang kaya dan mendalam (Sugiyono, 2. Subjek dalam penelitian ini adalah ustazah-ustazah yang berperan aktif dalam membina santriwati, khususnya dalam konteks pembentukan akhlak dan sopan santun. Selain itu, santriwati juga menjadi informan pendukung yang memberikan perspektif tentang pengaruh pembinaan yang mereka terima. Penelitian ini juga melibatkan pimpinan dayah untuk mendapatkan pandangan strategis mengenai arah pembinaan karakter di Data dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer mengacu pada informasi yang didapat secara langsung melalui sesi wawancara, yang berkaitan bersama hasil observasi dan panduan wawancara yang digunakan dalam proses pengumpulan data. Data sekunder merupakan informasi yang dihimpun, diproses, serta disediakan oleh pihak lain dalam bentuk publikasi atau jurnal ilmiah. Buku, dan dokumen yang dipilih oleh peneliti digunakan sebagai sumber data sekunder. Diharapkan sumber data tersebut mampu menyajikan ilustrasi mengenai Upaya Ustazah Dalam Membentuk Perilaku Sopan Santun Santriwati Dayah Raudatul Muna Ajun Laksamana. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu observasi. Observasi dilakukan secara partisipatif untuk melihat langsung interaksi ustazah dan santriwati dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan dayah, khususnya dalam Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 218 konteks penanaman nilai sopan santun. Wawancara dengan ustazah, pimpinan dayah, serta beberapa santriwati guna menggali persepsi, pengalaman, dan strategi yang digunakan dalam pembinaan akhlak. Sementara dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tertulis, seperti jadwal kegiatan harian, buku tata tertib, dan catatan pembinaan santriwati, yang dapat memperkuat hasil observasi dan wawancara (Sugiyuno, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya Ustadzah Dalam Perilaku Sopan Santun Terhadap Santriwati Dayah Raudatul Ulama Strategi atau metode pembinaan akhlak yang digunakan oleh Strategi utama yang digunakan oleh ustazah dalam membina akhlak santriwati di Dayah Raudhatul Muna adalah melalui metode keteladanan. Ustazah tampil sebagai figur yang mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menunjukkan sikap lemah lembut dalam berbicara, bersikap sabar, serta menjunjung tinggi adab, baik kepada sesama ustazah, santriwati, maupun tamu yang datang ke dayah. Keteladanan ini menjadi metode pembelajaran yang paling kuat karena santriwati lebih mudah meniru apa yang mereka lihat dibandingkan hanya menerima nasihat secara lisan. Seperti yang disampaikan oleh santriwati bernama Dina, dirinya merasa lebih terdorong untuk bersikap sopan karena setiap mencontohkan langsung nilai-nilai tersebut, bahkan saat menghadapi situasi yang menantang. Selain keteladanan, metode pembiasaan juga menjadi bagian integral dari strategi pembinaan Ustazah secara konsisten mengajarkan nilai-nilai sopan santun kepada santriwati. Hal ini tercermin dalam aktivitas harian seperti memberikan salam, berpakaian rapi, menunjukkan penghormatan kepada guru dan teman. Pembiasaan ini didukung oleh program-program rutin seperti Tarbiyatul Akhlak mingguan, kegiatan peringatan Maulid Nabi, serta pembagian tanggung jawab dalam piket harian. Melalui aktivitas ini, santriwati secara perlahan namun pasti menginternalisasi nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kepribadian Strategi berikutnya adalah berkelanjutan dan penuh empati. Ustazah memberikan bimbingan moral baik dalam situasi formal maupun informal, tidak hanya saat terjadi pelanggaran, tetapi juga dalam rangka penguatan nilai. Nasihat disampaikan dengan cara yang halus, tidak menghakimi, dan emosional santriwati. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membina Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 219 menciptakan tekanan psikologis. Annisa, misalnya, mengisahkan bahwa ketika ia pernah berbicara dengan nada tinggi, ustazah tidak menegurnya di depan umum, tetapi pribadi dan membimbingnya dengan kata-kata yang menyejukkan hati. Ustazah pendekatan personal dan fleksibel dalam proses pembinaan. Santriwati yang cenderung pendiam dibimbing dengan pendekatan yang lebih lembut dan intensif, sementara yang aktif diberi ruang untuk berdialog dan berekspresi, namun tetap diarahkan agar memahami batasbatas kesopanan. Selain itu, ustazah edukatif seperti buku akhlak Islami, kisah para Nabi dan sahabat, serta papan-papan pengingat etika yang ditempatkan di asrama dan ruang Media santriwati memahami dan mengingat nilai-nilai sopan santun dalam konteks kehidupan sehari-hari. Lingkungan harmonis antar ustazah, serta keterlibatan aktif santriwati dalam berbagai kegiatan menjadi faktor pendukung utama keberhasilan pembinaan akhlak ini. Santriwati tidak hanya diajarkan, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam praktik nilai-nilai sopan santun melalui tanggung jawab sosial di lingkungan dayah. Selain itu, peran keluarga yang selaras dengan nilainilai yang diajarkan di dayah turut memperkuat pembentukan karakter. Dengan pembinaan yang konsisten, penuh kesabaran, dan menyentuh sisi Dayah Raudhatul Muna menciptakan suasana pendidikan yang tidak hanya mencetak santri yang cerdas, tetapi juga berakhlak Bentuk kegiatan atau program pembiasaan sopan santun Salah satu bentuk utama dari kegiatan pembiasaan sopan santun di Dayah Raudhatul Muna Tarbiyatul Akhlak yang dilakukan secara rutin setiap minggu. Program ini berisi pengajian dan diskusi yang tema-tema Islami, seperti kisah Nabi, sahabat, serta tokoh-tokoh salafus shalih yang dikenal karena keluhuran akhlaknya. Kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dirancang interaktif agar santriwati terlibat secara Tujuannya adalah agar nilai-nilai adab dan sopan santun tidak hanya diketahui, tetapi juga dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan seharihari. Selain dilakukan melalui rutinitas harian yang sederhana namun konsisten. Setiap santriwati dibiasakan untuk memberikan salam kepada guru dan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 220 melewati orang yang lebih tua, serta menjaga adab saat makan dan Misalnya, sebelum dan sesudah makan, santriwati membaca doa bersama, duduk dengan sopan, dan tidak saling berebut makanan. Ustazah turut mengawasi dan mencontohkan sikap ini dalam keseharian, sehingga nilai sopan santun tertanam secara perlahan melalui proses pembiasaan yang Program piket harian dan tanggung jawab sosial juga menjadi sarana penting dalam pembentukan Setiap petugas kebersihan, penjaga waktu shalat, atau pemimpin doa. Tugas ini tidak hanya melatih tanggung jawab, tetapi juga menanamkan sikap saling menghargai dan bekerja sama dengan teman. Santriwati yang menjalankan tugasnya dengan baik mendapatkan pujian langsung dari ustazah, yang menjadi motivasi tambahan untuk terus bersikap baik. Di samping itu, dayah juga memasukkan unsur pembiasaan sopan santun dalam kegiatan Maulid Nabi. IsraAo MiAoraj, dan kegiatan keagamaan lainnya. Dalam momen-momen tersebut, santriwati tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga dilibatkan dalam penyusunan acara, penampilan nasyid, serta pembacaan puisi bertema akhlak. Keterlibatan ini menciptakan rasa memiliki terhadap nilai-nilai yang diajarkan dan memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan sopan santun juga didukung oleh lingkungan visual dan edukatif, seperti adanya papan adab harian yang berisi pengingat tentang tata cara bersikap, kutipan dari hadits atau ayat Al-Qur'an, serta cerita singkat tentang tokoh teladan. Media ini diletakkan di tempat-tempat strategis seperti ruang kelas, asrama, santriwati selalu diingatkan akan pentingnya menjaga sopan santun. Seluruh bentuk kegiatan ini membentuk ekosistem pendidikan yang tidak hanya menuntut, tetapi juga membimbing santriwati untuk tumbuh sebagai pribadi yang beradab dan berakhlak mulia. Peran ustadzah dalam menegur, membimbing santriwati Peran ustadzah dalam proses pembinaan akhlak santriwati sangat krusial, terutama dalam hal Di Dayah Raudhatul Muna, ustazah tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi figur Sikap santun, cara berbicara yang lembut, penampilan menyelesaikan masalah dengan keseharian ustazah yang diamati dan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 221 Keteladanan ini menjadi sarana pembelajaran paling efektif karena santriwati cenderung lebih mudah menyerap nilai akhlak melalui langsung dibandingkan sekadar teori. Dalam menjalankan pembinaan, ustazah juga memiliki peran penting dalam menegur santriwati yang melanggar norma atau menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dayah. Namun, bentuk teguran yang diberikan tidak pernah bersifat keras atau menjatuhkan. Teguran pendekatan persuasif, menggunakan bahasa yang halus namun tegas. Bahkan, bila perlu, ustazah lebih memilih untuk menegur secara personal dan tidak di depan umum, guna menjaga harga diri santriwati. Pendekatan ini terbukti membuat santriwati lebih terbuka dan tidak merasa terintimidasi, sehingga lebih mudah menerima nasihat dan melakukan perubahan. Selain memberi contoh dan menegur, ustazah juga berperan sebagai pembimbing pribadi yang Bimbingan yang dilakukan tidak hanya bersifat akademik atau keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan moral. Ustazah masing-masing santriwati, sehingga pendekatan yang digunakan dalam membimbing pun bersifat individual. Santriwati yang cenderung tertutup akan lebih sering diajak berdialog pribadi, sementara yang ekspresif diarahkan melalui diskusi dan forum Metode ini membuat pembinaan terasa lebih manusiawi dan menyentuh sisi psikologis Keterlibatan terlihat dalam pengawasan langsung sehari-hari santriwati, seperti adab makan, cara Ustazah tidak hanya mengamati, tetapi juga memberikan masukan dan pujian secara langsung perubahan positif. Bahkan, dalam momen santai seperti makan bersama atau saat di asrama, ustazah tetap menjaga perannya sebagai pembina Ini menunjukkan bahwa proses pembinaan tidak hanya terjadi di ruang kelas atau dalam ceramah, tetapi terus berlangsung dalam kehidupan harian santriwati. Secara keseluruhan, peran ustazah dalam menegur, memberi contoh, dan membimbing santriwati menjadi fondasi penting dalam proses pembentukan karakter di Dayah Raudhatul Muna. Keteladanan, kelembutan dalam menegur, dan bimbingan yang menyentuh hati menjadi kombinasi lingkungan pembinaan yang efektif dan penuh kasih. Santriwati merasa dihargai, didampingi, dan diberi ruang untuk berkembang menjadi Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 222 pribadi yang berakhlak mulia, bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri. Konsistensi dan keteladanan ustadzah dalam menerapkan nilai sopan santun Salah keberhasilan akhlak santriwati di Dayah Raudhatul Muna terletak pada menampilkan sikap dan perilaku sopan santun. Dalam setiap interaksi, baik di ruang kelas, asrama, maupun dalam kegiatan sehari-hari, ustazah selalu menjaga adab dalam berbicara. Konsistensi ini memberikan pesan kuat kepada santriwati bahwa nilainilai sopan santun bukan sekadar materi pelajaran, melainkan harus diterapkan secara nyata dalam Ketika senantiasa ramah, sabar, dan menghargai orang lain, mereka terdorong untuk meniru dan menginternalisasi sikap yang sama. Keteladanan ustazah menjadi unsur utama dalam pendidikan akhlak di lingkungan dayah. Ustazah dianggap sebagai cermin yang merefleksikan ajaran Islam dalam bentuk nyata. Misalnya, ketika ustazah mengucapkan salam setiap kali memasuki ruangan, berbicara dengan nada rendah, dan selalu menunjukkan wajah cerah kepada semua orang, santriwati belajar bahwa sopan santun bukan hanya etika sosial, tetapi juga bagian dari Keteladanan ini lebih efektif daripada perintah atau larangan, karena menumbuhkan kesadaran intrinsik dalam diri santriwati. Lebih dari itu, keteladanan yang konsisten juga menumbuhkan rasa hormat dan kedekatan emosional antara santriwati dan ustazah. Mereka tidak hanya melihat ustazah sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sosok ibu yang bisa menjadi panutan dalam menjalani kehidupan. Rasa hormat ini memudahkan ustazah nasihat dan santriwati merasa dihargai dan Ketika pelanggaran adab, ustazah tidak langsung memarahi, melainkan mengajak berbicara dari hati ke hati, dengan pendekatan yang lembut namun mengena. Konsistensi dalam keteladanan pendidikan yang stabil dan penuh Santriwati merasa aman secara emosional karena tahu bahwa ustazah tidak akan berubah sikap hanya karena sedang lelah atau Stabilitas ini membangun kepercayaan dalam diri santriwati dan menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Dalam jangka panjang, lingkungan yang konsisten dalam menampilkan nilai sopan santun akan membentuk karakter yang kuat dan berakar dalam diri Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 223 Secara keseluruhan, konsistensi dan keteladanan ustazah di Dayah Raudhatul Muna telah terbukti menjadi pondasi utama dalam pembentukan sikap sopan santun Ustazah bukan hanya pendidik, tetapi juga role model yang memberikan inspirasi hidup. Dengan menjaga perilaku yang selaras dengan nilai-nilai Islam setiap saat, ustazah berhasil menanamkan adab tidak hanya dalam bentuk kata, tetapi juga dalam bentuk nyata yang dapat dilihat, dirasakan, dan diteladani oleh para santriwati. Media atau sarana pendukung pembentukan perilaku Dalam membentuk perilaku sopan santun santriwati, media dan sarana penting sebagai alat bantu yang memperkuat proses pembinaan Di Dayah Raudhatul Muna, berbagai media edukatif digunakan untuk mendukung penyampaian nilai-nilai moral agar lebih mudah Penggunaan media ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap pembelajaran, tetapi juga sebagai pengingat dan pengarah perilaku dalam kehidupan seharihari. Salah satu bentuk media yang efektif adalah buku-buku akhlak dan cerita Islami yang memuat kisahkisah teladan dari Nabi, sahabat, serta tokoh-tokoh Islam yang Buku-buku ini tidak hanya dibaca secara mandiri, tetapi juga dijadikan bahan diskusi dalam program tarbiyatul akhlak. Ceritacerita tersebut membantu santriwati memahami konsep sopan santun secara kontekstual dan inspiratif, sehingga memunculkan keinginan untuk meneladani tokoh-tokoh tersebut dalam kehidupan nyata. Selain itu, papan pengingat adab yang dipasang di ruang kelas, asrama, dan tempat ibadah menjadi sarana visual yang efektif. Di papan ini tertulis kutipan-kutipan hikmah, hadits tentang adab, serta poin-poin sopan santun seperti cara menyapa guru, cara makan yang sesuai syariat, atau larangan berkata kasar. Dengan melihat pesan-pesan ini setiap hari, kembali nilai-nilai adab yang telah Kegiatan audio-visual seperti pemutaran film pendek islami atau kajian audio tentang akhlak juga menjadi bagian dari strategi pendidikan yang memanfaatkan teknologi secara positif. Dalam memutar video kisah inspiratif yang berisi pelajaran moral, yang Media ini menarik perhatian santriwati karena sifatnya yang interaktif dan menyentuh emosi, sehingga pesan yang ingin disampaikan lebih mudah terserap. Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 224 Tak kalah penting adalah sarana fisik dan lingkungan dayah itu sendiri yang didesain untuk mendukung pembinaan karakter. Lingkungan yang bersih, tertib, dan penuh nuansa religius memberikan stimulasi positif kepada santriwati untuk bertingkah laku sopan. Penataan ruang yang teratur, jadwal kegiatan yang jelas, serta keterlibatan santriwati dalam menjaga fasilitas bersama, semuanya menjadi bagian dari media tidak langsung yang membentuk kebiasaan baik secara perlahan namun konsisten. Faktor Pendukung Penghambat Dalam Meningkatkan Perilaku Sopan Santun Terhadap Santriwati Dayah Raudatul Muna Dukungan lingkungan pesantren . Lingkungan pesantren yang kondusif menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan pembinaan akhlak dan perilaku sopan santun santriwati. Di Dayah Raudhatul Muna, lingkungan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aturan, budaya, serta sistem nilai yang hidup dan diterapkan secara konsisten dalam Lingkungan ini berfungsi sebagai laboratorium hidup, di mana nilai-nilai kesopanan tidak sekadar diajarkan secara teoritis, tetapi dipraktikkan dan dihidupkan melalui interaksi sehari-hari. Salah satu bentuk dukungan yang paling terlihat adalah keberadaan aturan-aturan mengatur perilaku santriwati secara menyeluruh, mulai dari cara bersikap kepada guru dan teman. Aturan ini tidak bersifat mengekang, melainkan membentuk pola disiplin yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan penghormatan terhadap Ustazah dan pengasuh dayah turut memastikan ditegakkan dengan pendekatan yang mendidik dan penuh kasih sayang. Budaya sopan santun juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kolektif dayah. Tradisi seperti mengucap salam saat bertemu, membungkuk saat melintas di depan guru, hingga menjaga etika makan dan berbicara, merupakan budaya yang terus dipertahankan. Nilai-nilai ini diwariskan dari generasi ke generasi, menciptakan suasana saling menghormati dan kebersamaan yang memperkuat karakter para santriwati. Dengan budaya yang kuat ini, santriwati lebih mudah menyesuaikan diri dan menginternalisasi adab sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Keteladanan dari para ustazah, pengurus dayah, dan bahkan teman sebaya menjadi faktor pendukung yang tidak kalah penting. Para ustazah tampil sebagai figur panutan yang secara konsisten menunjukkan perilaku sopan dalam tutur kata dan sikap, sehingga santriwati dapat Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 225 belajar langsung dari contoh nyata. Bahkan dalam situasi penuh tekanan sekalipun, ustazah tetap menjaga kelembutan dan kesantunan dalam membuat nilai-nilai adab terasa hidup dan menyentuh hati. Dukungan lingkungan yang demikian menyeluruh melalui aturan yang jelas, budaya yang kuat, serta keteladanan dari seluruh warga pembentukan karakter santriwati Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kepribadian yang luhur dan beradab, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan di Dayah Raudhatul Muna. Peran orang tua atau keluarga dalam mendukung pembentukan Peran orang tua atau keluarga merupakan bagian tak pembentukan perilaku sopan santun santriwati di pesantren. Meskipun santriwati tinggal dan belajar di lingkungan dayah, nilai-nilai dasar yang mereka bawa dari rumah sangat mempengaruhi seberapa cepat dan kuat pembiasaan akhlak di dayah dapat terbentuk. Kerjasama antara keluarga dan pesantren menjadi nilai-nilai pendidikan karakter yang diajarkan. Hasil beberapa ustazah menunjukkan bahwa santriwati yang berasal dari keluarga yang sudah membiasakan sopan santun sejak kecil cenderung menunjukkan sikap positif dalam interaksi sehari-hari. Mereka lebih menghargai guru, dan mampu menjaga lisan serta perbuatan. Sebaliknya, bagi santriwati yang latar belakang keluarganya kurang pendidikan adab, para ustazah perlu lebih sabar dan intensif dalam Pihak dayah secara aktif membangun komunikasi dengan wali santri melalui pertemuan rutin, surat informasi, dan komunikasi Tujuannya adalah untuk menyatukan visi dan cara pandang dalam mendidik santriwati, agar tidak terjadi kesenjangan nilai antara yang diajarkan di rumah dan di dayah. Sinergi yang baik antara rumah dan pesantren mampu menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan harmonis bagi Beberapa santriwati, termasuk Putri, dukungan dan penguatan dari orang tua sangat membantu dalam menjaga motivasi mereka untuk bersikap baik dan sopan. Rahma mengaku bahwa Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 226 nasihat orang tuanya untuk selalu menjaga adab di mana pun berada menjadi pengingat baginya saat beraktivitas di dayah. Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata dan perhatian dari orang tua tetap memiliki pengaruh kuat, meskipun anak sudah jauh dari rumah. Dengan demikian, peran orang tua bukan hanya penting dalam tahap awal pendidikan, tetapi juga sebagai penguat moral dan emosional bagi santriwati selama masa pembinaan di Ketika nilai-nilai sopan santun ditanamkan secara paralel oleh keluarga dan ustazah di dayah, santriwati akan berjalan lebih efektif, menyeluruh, dan berkelanjutan. Motivasi internal santriwati Motivasi santriwati menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan perilaku sopan santun di lingkungan Berdasarkan observasi dan wawancara, banyak santriwati yang terdorong untuk berubah dan berperilaku lebih baik bukan hanya karena aturan, tetapi karena kesadaran dari dalam diri Kesadaran ini tumbuh dari pemahaman bahwa akhlak yang baik merupakan bagian dari keimanan dan jati diri seorang muslimah. Salah satu contoh nyata motivasi internal ini terlihat pada santriwati seperti Humaira, yang menyatakan bahwa ia merasa malu ketika bersikap kasar atau tidak sopan, karena merasa itu bertentangan dengan ajaran yang ia pelajari. Menurutnya, menjadi pribadi yang lebih baik dan Rasulullah menjadi alasan utama mengapa ia berusaha menjaga adab dalam Hal ini menunjukkan adanya dorongan intrinsik yang kuat, yang muncul dari pemahaman dan perenungan pribadi. Program-program pembiasaan yang diterapkan oleh ustazah, seperti Tarbiyatul Akhlak dan kisah-kisah keteladanan, secara tidak langsung menumbuhkan motivasi internal ini. Ketika santriwati mendengar kisah para nabi dan tokoh Islam yang menjaga sopan santun dalam setiap aspek kehidupan, mereka terdorong untuk menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari identitas diri, semata-mata kewajiban formal. Selain itu, lingkungan yang suportif dan religius di dayah terhadap pembentukan motivasi ini. Ketika santriwati melihat temanteman mereka menjaga adab, saling mengingatkan, dan menunjukkan akhlak yang baik, terciptalah suasana kompetitif yang sehat, yang termotivasi untuk memperbaiki diri secara sukarela dan konsisten. Dengan demikian, motivasi internal yang tumbuh dari dalam hati santriwati menjadi fondasi yang kuat dalam proses pembentukan perilaku sopan santun. Ketika pembinaan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 227 akhlak tidak hanya bersumber dari tekanan luar, tetapi juga dari kesadaran diri dan niat untuk berubah karena Allah, maka perubahan yang terjadi akan lebih bertahan lama dan mereka di masa depan. Hambatan sekitar atau pengaruh teman Dalam pembentukan perilaku sopan santun, tidak dapat dipungkiri bahwa santriwati menghadapi berbagai hambatan, salah satunya berasal dari pengaruh teman sebaya. Meskipun suasana dayah sangat kondusif terhadap penanaman nilai-nilai adab, keberadaan teman yang belum menerapkan nilai sopan santun dapat Beberapa santriwati cenderung meniru perilaku negatif dari teman dekatnya karena ingin diterima dalam kelompok pertemanan. Hasil wawancara menunjukkan mempertahankan prinsip sopan santun yang telah diajarkan atau mengikuti arus teman sebaya yang lebih bebas dalam berbicara atau Tekanan kelompok . eer pressur. ini terkadang membuat santriwati merasa takut dianggap berbeda atau dikucilkan jika terlalu "berlebihan" dalam menjaga sopan Akibatnya, mereka mulai mengendurkan adab dalam interaksi, seperti berbicara dengan nada tinggi, bercanda berlebihan, atau tidak menghormati waktu belajar. Di samping itu, latar belakang santriwati yang beragam juga turut memengaruhi dinamika interaksi Santriwati yang datang dari lingkungan keluarga yang kurang menekankan pendidikan akhlak, cenderung membawa kebiasaan lama yang kurang sesuai dengan budaya dayah, dan ini berpotensi "menular" kepada santriwati lainnya. Meskipun pengawasan ustazah ketat, interaksi sehari-hari di asrama atau sela-sela kegiatan sering menjadi celah munculnya perilaku kurang sopan akibat pengaruh lingkungan. Meski demikian, pihak dayah tidak tinggal diam. Ustazah secara aktif melakukan pemantauan dan kelompok-kelompok yang dianggap Dialog dan bimbingan dilakukan secara perlahan agar santriwati tidak merasa ditekan namun tetap diarahkan, sehingga mampu membedakan mana yang baik untuk ditiru dan mana yang harus dihindari. Program-program mentoring kelompok, dan penguatan nilai adab di forum harian menjadi strategi untuk menetralisir pengaruh negatif dari lingkungan sekitar. Dari hasil temuan ini, dapat disimpulkan bahwa pengaruh teman sebaya memang menjadi tantangan Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 228 pembentukan akhlak, namun dengan strategi pembinaan yang sabar, bijaksana, dan konsisten, pengaruh Lingkungan terstruktur serta peran ustazah yang aktif dan peduli menjadi faktor kunci dalam menjaga santriwati agar tetap berada dalam jalur pendidikan akhlak yang telah dirancang secara matang oleh pihak dayah. Kendalam dalam pelaksanaan program pembinaan akhlak Pelaksanaan pembinaan akhlak di Dayah Raudhatul Muna memang telah dirancang secara sistematis dan menyeluruh, namun dalam praktiknya tetap menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan jumlah tenaga pembina . dibandingkan dengan jumlah santriwati yang cukup Kondisi pembinaan yang seharusnya dilakukan secara intensif dan personal, kadang tidak bisa dilakukan secara optimal, terutama dalam pengawasan perilaku sehari-hari di luar jam belajar formal. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi kendala yang cukup Jadwal kegiatan santriwati yang padat membuat waktu untuk pembinaan akhlak secara khusus, seperti Tarbiyatul Akhlak mingguan atau bimbingan pribadi, seringkali berbenturan dengan kegiatan lain. Akibatnya, kegiatan pembinaan akhlak terkadang hanya bisa dilakukan secara singkat atau harus digabungkan dengan lain, sehingga kurang maksimal dalam penyampaian dan Kendala lain yang tidak bisa diabaikan adalah tingkat penerimaan santriwati yang berbeda-beda terhadap materi pembinaan. Tidak semua santriwati langsung terbuka atau siap menerima bimbingan, terutama mereka yang masih dalam masa adaptasi atau Sikap pasif, malu, atau bahkan penolakan halus terhadap arahan ustazah menjadi tantangan tersendiri dalam menanamkan nilainilai akhlak secara mendalam. Faktor munculnya hambatan dalam pembinaan. Pengaruh media sosial dan teknologi digital yang sulit diawasi secara penuh di lingkungan pesantren kadang menjadi celah masuknya nilai-nilai asing yang bertentangan dengan adab Islami. Meskipun pihak dayah telah menerapkan aturan ketat terhadap penggunaan perangkat digital, kontrol yang tidak bisa dilakukan selama 24 jam menyisakan ruang pengaruh yang mengganggu proses pembinaan karakter. Menghadapi semua kendala tersebut, pihak dayah terus berupaya melakukan penyesuaian dan perbaikan Salah satunya adalah dengan mengintegrasikan pembinaan akhlak ke dalam semua aspek kegiatan pesantren, termasuk saat belajar, makan bersama, dan piket harian, agar nilai-nilai tersebut terus tertanam secara konsisten. Selain itu, pelatihan dan penguatan kapasitas ustazah dalam teknik pembinaan akhlak Jurnal Tarbaw. Volume 10 No 02 2. p-ISSN : 2527-4082, e-ISSN : 2622-920X| 229 juga dilakukan secara berkala, sebagai mengatasi berbagai kendala yang ada karakter santriwati. PENUTUP Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan akhlak santriwati di Dayah Raudhatul Muna dilakukan melalui berbagai strategi yang efektif dan terintegrasi. Metode keteladanan menjadi strategi utama, di mana ustazah berperan sebagai contoh nyata dalam perilaku sehari-hari, sehingga santriwati lebih mudah meniru dan menginternalisasi nilai-nilai sopan santun. Selain itu, pembiasaan melalui rutinitas harian dan program-program seperti Tarbiyatul Akhlak juga berkontribusi signifikan dalam membentuk karakter santriwati. Ustazah tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang memberikan nasihat dengan pendekatan empatik dan Konsistensi dan keteladanan ustazah dalam menerapkan nilai sopan santun menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran, di mana santriwati merasa dihargai dan termotivasi untuk berperilaku baik. Media edukatif, seperti buku akhlak dan papan pengingat, juga berperan penting dalam memperkuat pemahaman dan pengingat nilai-nilai adab. Faktor pembinaan akhlak meliputi dukungan lingkungan pesantren yang kondusif, peran aktif orang tua, dan motivasi internal santriwati. Namun, terdapat juga hambatan yang dihadapi, seperti pengaruh teman sebaya, kendala dalam pelaksanaan program, dan keterbatasan sumber daya. Meskipun demikian, dengan strategi yang tepat dan pendekatan yang bijaksana. Dayah Raudhatul Muna berhasil menciptakan suasana pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk santriwati yang berakhlak mulia. DAFTAR PUSTAKA