LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. MISI INKLUSIF DALAM KISAH YUNUS: PENAFSIRAN YUNUS 3:1-10 DALAM KONTEKS PLURALISME AGAMA DI INDONESIA Magel Haens Sianipar. Hans Sebastian Manurung STT HKBP Pematangsiantar sianiparmagel@gmail. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana misi inklusif dalam konteks Perjanjian Lama secara khusus dalam misi inklusif Yunus ke Niniwe dalam Yun. 3:1-10. Misi ini merujuk pada tugas atau tujuan yang melibatkan semua orang atau kelompok, tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau ras. Dalam teks ini, gagasan misi mencakup hubungan antara manusia dan Allah, serta peran dan tugas yang diemban oleh nabi atau kelompok dalam rencana Allah. Selanjutnya, tulisan ini membahas gagasan sentral tentang misi, termasuk ketetapan Allah, pembebasan, perjanjian, pertobatan dan keselamatan, serta menyampaikan pesan Allah. Ditekankan bahwa misi tidak hanya bersifat eksklusif ke Yahudi saja dalam Perjanjian Lama, tetapi juga inklusif terhadap semua orang, agama dan budaya. Misi inklusif dalam Perjanjian Lama juga merujuk pada keterlibatan semua bangsa dalam rencana keselamatan Allah, bukan hanya bangsa Israel. Penelitian ini dilakukan dengan metode hermeneutika historis kritis. Penulis pertamatama mengkaji misi inklusif dalam konteks berbagai kisah dalam Perjanjian Lama, termasuk kisah Yunus yang merupakan penolakan dan kemudian penerimaan misi Allah yang inklusif terhadap bangsa Niniwe. Selanjutnya penulis menganalisa dengan memperhatikan teks dan konteks secara mendalam sehingga menemukan muatan teologis secara jelas dari teks Yun. 3:1-10 yang Dalam teks dilihat perlunya pendekatan baru dalam misi dalam era modern yang ditandai oleh pluralisme. Penafsiran teologis atas kitab Yunus menegaskan misi Tuhan yang mencakup semua bangsa, di mana kisah Yunus menggambarkan bahwa kasih dan penyelamatan Tuhan tidak hanya diperuntukkan bagi Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain yang dianggap asing, termasuk Niniwe. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman agama, pesan ini sangat relevan. Tuhan mengutus Yunus untuk menyampaikan pesan pertobatan kepada orang Niniwe, meskipun mereka berbeda keyakinan dan budaya dari bangsa Israel. Hal ini memberikan contoh bagi gereja di Indonesia untuk menghormati keberagaman agama di tanah air, serta menunjukkan kasih dan perhatian yang tidak memandang perbedaan agama dan etnis. Kata kunci: Inklusif. Misi. Niniwe. Pluralisme. Yunus LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Abstract This paper aims to explain how inclusive mission in the context of the Old Testament is specifically in Jonah's inclusive mission to Nineveh in Jonah 3:1-10. This mission refers to a task or purpose that involves all people or groups, regardless of background, social status, or race. In this text, the idea of mission includes the relationship between humans and God, as well as the role and task carried out by the prophet or group in God's plan. Furthermore, this paper discusses the central idea of mission, including God's decree, liberation, covenant, repentance and salvation, and delivering God's message. It is emphasized that mission is not only exclusive to Jews in the Old Testament, but also inclusive of all people, religions and cultures. Inclusive mission in the Old Testament also refers to the involvement of all nations in God's plan of salvation, not only the nation of Israel. This research is conducted using the Historical criticism method. The author first examines inclusive mission in the context of various stories in the Old Testament, including the story of Jonah which is a rejection and then acceptance of God's inclusive mission to the nation of Nineveh. Furthermore, the author analyzes by paying close attention to the text and context so as to find a clear theological content from the text Jonah 3:1-10 that is being studied. In the text, it is seen the need for a new approach to mission in the modern era marked by pluralism. Theological interpretation of the book of Jonah emphasizes God's mission that includes all nations, where the story of Jonah illustrates that God's love and salvation are not only intended for Israel, but also other nations that are considered foreign, including Nineveh. In the context of Indonesia which is rich in religious diversity, this message is very relevant. God sent Jonah to deliver a message of repentance to the Ninevites, even though they had different beliefs and cultures from the nation of Israel. This provides an example for the church in Indonesia to respect religious diversity in the country, as well as to show love and care that does not see religious and ethnic differences. Keywords: Inclusive. Mission. Nineveh. Pluralism. Jonah LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. PENDAHULUAN Misi merupakan salah satu tema yang penting dalam Perjanjian Lama (PL). PL tidak secara langsung mendefenisikan arti dari kata misi itu. Namun kata misi ini dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda dengan sejarah panjang yang ada di dalamnya. Setiap nabi 1 yang diutus oleh Allah memiliki tugas misiologis tersendiri seperti yang di amanatkan oleh sang pengutus. Dalam konteks Perjanjian Lama, istilah AymisiAy ini seringkali merujuk pada tugas atau tujuan yang di tugaskan oleh Allah dan melibatkan individu atau kelompok. Dalam PL. Ada beberapa misi penting yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Abraham. Musa. Daud, dll. Dalam PL, gagasan tentang misi mencakup berbagai aspek yang menunjukkan hubungan antara manusia dan Allah, serta peran dan tugas yang diembankan oleh nabi atau kelompok dalam rencana/misi Allah Misi ini terbingkai dalam 2 aliran dimana misi yang eksklusif dan Inklusif. 3 Misi yang inklusif dalam konteks Perjanjian Lama mengacu pada tugas atau tujuan yang mencakup semua orang atau kelompok tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau ras. Ini berarti bahwa misi tersebut berfokus pada inklusif, persamaan dan penerimaan semua orang sebagai bagian dari rencana keselamatan atau tujuan yang lebih besar. Dalam konteks agama dan moral, ini sering berkaitan dengan menghormati martabat setiap individu sebagai ciptaan Tuhan. Misi inklusif dalam Perjanjian Lama mengingatkan untuk melihat semua orang sebagai saudara dan sesama manusia dan bahwa rencana Tuhan mencakup semua lapisan masyarakat dan budaya. Hal ini juga menekankan pentingnya menghindari diskriminasi, ketidaksetaraan dan pemisahan dalam penghayatan agama dan moral. Oleh karena itu misi dalam Perjanjian Lama harus mendapat perhatian dan kajian lebih dalam mengenai sejarah panjang misi dalam bingkai Alkitab. Diperhadapkan dengan konteks masa kini dimana misi semakin berkembang sesuai dengan konteks yang berlaku, oleh karenanya misi juga berubah tanpa meninggalkan makna misi yang sebenarnya seperti dalam Perjanjian Lama, dimana para pelaku dan tokoh misi setia kepada amanat dan tugas yang diembankan. Misi inklusif harus menyentuh setiap lapisan dan golongan masyarakat tertentu yang walaupun terkadang begitu menyakitkan bagi perutusan misi tersebut. 4 Demikian juga dengan kisah Yunus yang merupakan sang perutusan menyampaikan kabar pertobatan kepada Niniwe dimana yang notabene merupakan musuh dari bangsa Israel itu sendiri. 5 Yunus adalah orang yang di utus Yahwe sebagai sang perutusan. Dalam Tradisi yahudi. Yunus dicirikan dengan berbagai Disatu sisi terbukti bahwa dia merupakan salah satu dari duabelas nabi kecil. Tapi disi lain, profilnya sebagai seorang nabi seperti yang dibuktikan dalam kitab Yunus bahwa dia tidak taat terhadap panggilannya, tetapi juga digambarkan sebagai orang yang terus mengeluh, terutama Karl Moller. AuProphets and Prophecy,Ay in Dictionary of Old Testament : Historical Books, ed. Karl Moller (Illinois: Intervasity Press, 2. , 826. Robert R. Wilson. AuProphet,Ay in The HarperCollins Bible Dictionary, ed. Paul J. Achtemeier (New York: Harper Coliins Publishers, 1. , 884Ae885. Jonathan L. Kvanvig. AuHow to Be an Inclusivist,Ay in Religious Disagreement and Pluralism (Oxford : Oxford Press, 2. , 217. Douglas Stuart. AuThe Book of Jonah ,Ay in Dictionary Old Testament Prophets, ed. Mark. J Boda (Illinois : IVP Academic, 2. , 456. Joel W. Rosenberg. AuJonah,Ay in The Harper Collins Bible Dictionary, ed. Paul J. Achtemeier (San Fransisco: Harper Collins Publishers, 1. , 540. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. terhadap belas kasihan Yahwe terhadap belas kasihan Yahwe kepada penduduk Niniwe. Yang dia inginkan adalah kehancuran Niniwe. 6 Kisah Yunus ini adalah sebuah misi dari Allah dalam kitab perjanjian lama. Pengutusan langsung dari Allah untuk melakukan tindakan misi yang melintasi batas-batas wilayah atau geografi, agama, sosial bahkan budaya. Ini tidak seperti perspektif perjanjian baru. Tetapi dalam perjanjian lama berbagai hal dilihat sebagai tindakan Allah atau Missio Dei. Konsep misi seperti ini mengarahkan kepada Allah Tritunggal sebagai yang memiliki dan mengatur seluruh pekerjaan misi. Tetapi dalam perjanjian lama pun ada pergeseran misi yakni pemilihan bangsa Israel dilihat sebagai salah satu tindakan misi. Meskipun tidak mengubah makna dari Missio Dei. 7 Pemilihan bangsa Israel ini sudah terlihat sejak pemilihan Abraham yakni tujuan dari Allah adalah untuk menjadi seorang individu atau unit terkecil yaitu bangsa Israel untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. 8 Yunus membantah dugaan adanya penekanan sentripetal saja dalam Perjanjian Lama. Yunus diperintahkan untuk pergi berkhotbah/bermisi di ibu kota Asyur yaitu Niniwe. Kitab Yunus memberikan gambaran tentang metode sentrifugal. Tafsiran dari akar kata kerja maskulin tunggal imperatif qal dari kata qArA dalam Yunus 3:2 menegaskan bahwa tujuan misi kitab Yunus adalah untuk mewartakan belas kasih Allah dan memanggil para pendosa untuk bertobat atau berbalik dari perbuatan jahat mereka. Hal ini sesuai dengan pemenuhan kasih yang universal seperti yang ada dalam Perjanjian Lama. 9 Meskipun Israel gagal dalam memenuhi mandat misionaris, tetapi tidak menghilangkan metode sentrifugal Allah dalam pekerjaan misionaris untuk menyebarkan kasihNya. Kasih Allah yang ditujukan kepada segala bangsa dipertegas dalam kitab Yunus ketika Yunus diperintahkan untuk bermisi kepada bangsa Niniwe supaya bertobat untuk mendapatkan keselamatan. Fokus pasal 3 adalah kota Niniwe bukan imperiumnya. Kata yared dari pasal 1:2 bahwa Allah mengutus nabinya ke sebuah kota terkemuka, kota yang sangat penting sebelum kedatangan Yunus karena itu tersimpan istana-istana kerajaan dan kuil-kuil dan terletak di sebuah persimpangan sungai yang penting. Kemahsyuran Niniwe mungkin dipertegas oleh pernyataan penulis ternama dalam 3:3 bahwa Niniwe adalah kota besar bagi Allah. Yunus 3:1-10 merupakan perikop lanjutan atau yang sering disebut dengan pemanggilan kedua atau bisa saja menjadi pengutusan kedua Yunus ke kota Niniwe. Narasi yang dimulai dari Yun. 3:1 menunjukkan adanya kelanjutan dari Yunus 2. Pembagian dalam Yunus 1:1-10 ini menunjukkan adanya kesinambungan dalam ay. 1 dengan ay. 2 sedangkan ay. 3-10 berada dalam satu alur pembicaraan yang sama. Berbicara mengenai konteks misi universal Allah yang inklusif Simon Chow. AuThe Sign of Jonah Reconsidered A Study Of Its Meaning in the Gospel Traditions,Ay in Coniectanea Biblica New Testament Series 27 (Sweden: Almqvist & Wiksell International, 1. , 25. Jerry Pillay. AuTheological Foundation of Mission,Ay in Mission Continues Global Impulses for the 21st Century, ed. Claudia Wahrisch-Oblau (Oxford: Regnum Books International, 2. , 16. Walter C. Kaiser. Mission in the Old Testament : Israel as a Light to the Nations (Michigan: Baker Books, 2. , 16. George W Peters. A Biblical Theology Of Missions (Chicago: Moody Press, 1. , 24Ae27. Daniel Timmer. The Non-Israelite Nations in the Book of the Twelve: Thematic Coherence and the Diachronic-Synchronic Relationship in the Minor Prophets (Leiden: Brill, 2. , 98Ae99. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. menjadi bagian yang ditekankan secara khusus dalam panggilan kedua ini. 11 Meskipun tidak dapat disangkal bahwa catatan dalam Kitab Yunus pasal 1 secara tidak langsung berisikan aspek eksklusif yang negatif dari orang Israel, namun jika dikaitkan dengan pemilihan mereka menjadi umat Allah maka protes kitab ini jelas memperlihat perspektif misi yang inklusif yang luas, dan itu ditunjukkan dalam pasal 3 ini dimana mereka bertobat dari pemberitaan, yaitu berita yang disampaikan oleh Yunus kepada orang Niniwe. Di tengah perkembangan era pluralisme di dunia, menghantarkan pada pemahaman keberanekaragaman agama tanpa menyalahkan kepercayaan yang dianut oleh bangsa-bangsa lain. Ini merupakan aspek sosiologis yang tidak dapat diubah bahwa manusia hidup di dunia yang Masyarakat yang homogen secara agama menjadi semakin beragam. Kebebasan memeluk agama menjadi terbuka dan merupakan buah dari modernitas. 13 Masalah baru muncul di tengah gelombang pluralisme yaitu bagaimana menjaga stabilitas perdamaian antar agama. Kesulitannya terletak pada pemahaman kekuatan sosial yang berperan dan menentukan secara konkret bagaimana mecapai perdamaian dan toleransi sosial dalam agama. Apakah toleransi cukup menjamin perdamaian? Misi yang inklusif harus dapat menembus sekat dalam suatu agama tertentu. Ini menjadi sebuah polemik di tengah toleransi beragama, gereja harus mampu menjalankan misinya. Demi mewujudkan misi yang inklusif dan pluralis, setiap orang tidak menginginkan pertikaian yang siasia, perjumpaan dengan agama lainnya . on Kriste. dapat diransang untuk memberi tahu tentang agama yang mereka anut. Kita harus mengakui, menghormati dan mengharagai konsepsi lain tentang Tuhan tanpa merelatifkan iman Kristen pada Tuhan dan menjadi kebenaran umum. Dengan demikian adanya keterbukaan, dialog dan saling menghargai terjalin dalam keberagaman 14 Istilah AyMisi InklusifAy dalam konteks kisah Yunus memiliki kedalaman makna, terutama saat dihubungkan dengan Yunus 3:1-10 dalam konteks pluralisme agama di Indonesia. Jika dipertajam istilah ini, ada dua kemungkinan interpretasi utama. Pertama, misi inklusif dapat merujuk pada tindakan Yunus yang menyampaikan pesan Tuhan kepada bangsa asing, yaitu orang Niniwe, sehingga menyertakan semua golongan, bukan hanya Israel. Kedua, misi ini dapat dimaknai sebagai perwujudan pesan Tuhan yang bersifat inklusif terhadap semua bangsa, menunjukkan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan siapa pun yang mau bertobat. Dengan demikian. AuMisi InklusifAy menyoroti kesediaan Tuhan untuk menawarkan kesempatan bertobat tanpa memandang batas etnis atau identitas agama, sebuah visi yang mencakup kemanusiaan secara utuh. Misi inklusif dalam Perjanjian Lama juga merujuk pada keterlibatan semua bangsa dalam rencana keselamatan Allah, bukan hanya bangsa Israel. Dalam konteks pluralisme di Indonesia, hasil hermeneutika Yunus 3:1-10 dapat diterapkan untuk mengangkat pesan inklusif ini dalam ranah sosial. Indonesia yang beragam dalam agama, etnis, dan budaya menghadapi tantangan dalam menjaga harmoni tanpa mengorbankan identitas Hermeneutika Yunus mengundang orang percaya untuk merenungkan bagaimana sikap Dianne Bergant. The Collegeville Bible Commentary: Old Testament (Minnesota: Liturgical Press, 1. , 830Ae831. Dianne Bergant. The Collegeville Bible Commentary: Old Testament, 830. Jesse Miranda. Gereja Kristen Dalam Pelayanan (Malang : LKSIA, 2. , 188. Hans Kung. Existiert Gott? (Munich: Munich L R. Piper & Co, 1. , 588. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. inklusif Tuhan yang ditunjukkan melalui kisah Yunus dapat diterjemahkan dalam sikap sosial dan dialog antaragama yang mendukung pluralisme agama. Penafsiran teks Yunus 3:1-10, jika diterapkan secara kontekstual di Indonesia, dapat mengarah pada beberapa fokus: pertama, aspek teologis, di mana misi Yunus dilihat sebagai contoh bahwa penyelamatan Tuhan tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok tertentu. Hal ini menunjukkan kasih Tuhan yang melampaui batas-batas agama dan etnis. Di Indonesia, nilai ini menginspirasi gereja-gereja untuk menghormati keberagaman agama dengan sikap yang saling memahami dan tidak memaksakan kepercayaan, melainkan mengedepankan kasih. Kedua, dari segi etika, kisah Yunus menawarkan pemahaman etis tentang kesetaraan di hadapan Tuhan. Tuhan menginginkan keselamatan bagi semua manusia, dan mengutus Yunus menunjukkan bahwa setiap orang, termasuk orang Niniwe yang dianggap asing, tetap memiliki peluang untuk bertobat dan mengalami kasih Tuhan. Dalam masyarakat pluralis, ini mengajarkan gereja untuk memandang setiap orang sebagai citra Tuhan yang layak dihargai. Etika ini penting untuk diterapkan dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain di Indonesia, di mana kita dipanggil untuk menghindari diskriminasi dan mengedepankan penghargaan yang tulus. Ketiga, dari segi aplikasi sosial, hermeneutika Yunus menyoroti pentingnya peran gereja dalam membangun perdamaian dan solidaritas. Di tengah pluralisme agama, misi inklusif Yunus mendorong gereja untuk memiliki peran aktif sebagai agen perdamaian dan keadilan sosial. Ini dapat diwujudkan dalam berbagai program kemasyarakatan yang melibatkan pemeluk agama lain, seperti layanan sosial, dialog lintas iman, atau aksi solidaritas dalam situasi krisis. Melalui kegiatan semacam ini, gereja menampilkan wajah inklusif Tuhan yang peduli dan bersedia menolong semua pihak tanpa diskriminasi. Dengan memahami dan menerapkan hermeneutika Yunus dalam konteks pluralisme, gereja dapat berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang harmonis dan inklusif, di mana pesan kasih Tuhan yang universal dapat dirasakan oleh semua golongan. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode hermeneutika historis kritis. Historis kritis adalah metode yang menganalisa bagaimana penulis menggunakan analisa sejarah dan konteks teks untuk mengetahui makna teologis dari teks yang sedang di bahas,15 yang dalam hal ini Yunus 3:1-10. 16 Historis kritis dianggap sebagai salah satu metode ilmiah yang sah dalam menyelidiki teks Alkitab, menjelang akhir milenium kedua yang kehilangan statusnya sebagai pendekatan akademis terhadap alkitab. Historis Kritis merupakan produk dari sejarah dan mengalami redefinisi dibawah pengaruh suasana pasca-Pencerahan dari milenium ketiga yang Pemahaman akan sejarah terlebih dalam Perjanjian Lama dimana ilmu pengetahuan akan semakin berkembang dan pemahaman akan penafsiran Alkitab juga akan berkembang. Penulis meneliti kata kunci tersirat dalam teks seperti misi dan inklusif. Penulis juga menganalisa konteks Yunus 3:1-10 dan teks-teks dalam perikop ini. Yunus 3:1-10 merupakan perikop lanjutan atau yang sering disebut dengan pemanggilan kedua atau bisa saja menjadi pengutusan kedua Yunus ke kota Niniwe. Teks yang dimulai dari Yun. 3:1 menunjukkan adanya kelanjutan dari Yunus 2. Pembagian dalam Yunus 1:1-10 ini menunjukkan adanya kesinambungan dalam ay. 1 dengan ay. 2 sedangkan ay. 3-10 berada dalam satu alur pembicaraan yang sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengutusan Yunus Stuart menulis, awal yang baru seperti itu paling baik diperlakukan sebagai perikop yang terpisah daripada hanya sebagai embel-embel untuk kisah penyelamatan dalam pasal 2. Dalam perikop ini, tidak dilihat bahwa Yahwe menegur Yunus dan menjelaskan ulang mengenai badai Sebaliknya, memiliki pengulangan sederhana dari perintah oleh Tuhan, yang berbicara tentang kebijakan kasih karunia-Nya terhadap Yunus bahwa meskipun ia layak mati karena tidak menaati Tuhan. Tuhan memberinya kesempatan kedua. Narasi dalam Yunus 3:1-2 ini menampilkan bagaimana Yunus mematuhi perintah Yahwe untuk Aybangkit dan pergiAy ke Niniwe. Perintah yang sebelumnya gagal dia lakukan, karena keengganan dari Yunus untuk mengikuti perintah Tuhan untuk dikirim ke negri dan bangsa lain. Perintah kedua dari Yahwe A( ec o i a uoii AA oAdavar-adonay el-yona syeni. menjadi dorongan kembali, sekaligus pemanggilan kembali kepada Yunus ketika ia sudah tiba di daratan. 19 Dalam panggilan juga terdapat suatu perintah yang akan dilaksanakan. Hal yang lain adalah bahwa dalam panggilan memerlukan suatu proses. Ada proses yang panjang antara panggilan pertama2 Aiy uAAoA James Barr. History and Ideology in the Old Testament. Biblical Studies at the End of a Millennium (Oxford: Oxford University Press, 2. , 32. Samuel Terrien. The Bible in the Church (New York: The Macmillan Co, 1. , 127Ae129. Martin Nissinen. AuReflections on the Historical-Critical Method:Historical Criticisim and Critical Historicism,Ay in Method Matters : Essays on The Interpretation of the Hebewr Bible in Honoe of David L. Petersen. Joel M. Lemon (Atlanta: Soceiety of Biblical Literature, 2. , 479. Billy K. Smith. The American Commentary: Amos. Obadiah. Jonah (Seatle: Herausgeber Holman Reference, 1. , 299. James D. Nogalski. The Books of Joel. Obadiah, and Jonah (Michigan: W. Eerdmans Publishing Company, 2. , 212. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. A( a u o iAAiAqum lekh el-ninew. (Yun. dengan panggilan kedua A( iy uAAo a u o iAAiAqum lekh elninew. (Yun. 3:1-. Lebih dari satu kali, ini menunjukkan bagaimana Yahwe tidak hanya memberikan kesempatan kedua kepada Yunus, namun lebih terlihat jelas bagaimana misi Allah dibalik upaya mengirim seorang nabi ke kota Niniwe. 21 Secara umum para ahli tidak melihat adanya fungsi misiologis dari Kitab Yunus. Perhatian Kitab Yunus terhadap orang Niniwe sebagai orang beragama lain sangat kurang, perhatiannya lebih banyak kepada kejahatan orang-orang Niniwe. Belum lagi menyangkut bagaimana problematika hubungan antara Asyur dan Israel pada abad 8/7 SM. Kaburnya pandangan misi ini menyebabkan kurangnya penekanan misi inklusif yang diusung oleh penulis kitab ini sejak awal. Yunus yang menanggapi firman Yahwe, tidak hanya berhenti pada nyanyian dan doa yang ia sampaikan seperti dalam pasal 2, tetapi orang Niniwe dan rajanya menanggapinya dengan percaya, bertobat, berpuasa, dan doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan, bahkan binatang pun terlibat dalam upacara pertobatan. Peran raja dalam hal ini sangat besar sehingga ia menjadi pendorong agar rakyat mau meninggalkan hidupnya yang jahat dan berbalik Ai oA ci ao e ui i iA Aii a cuAA oi yA . eyasyuvu isy middarko haraAoa umin-hekhamas asyer bekhapehe. kembali ke jalan Tuhan. Mungkin yang paling mengejutkan bagi pembaca adalah tanggapan Tuhan, karena Ia mengalah/berbalik/ A( oicAyasyu. , dari amarah-Nya yang menyala-nyala terhadap Niniwe. Meski mengejutkan pembaca. Yunus sendiri tidak terkejut melalui tindakan Tuhan, seperti yang dia komunikasikan dalam perikop berikut bahwa dia tahu Tuhan itu adalah pemurah, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan mengalah dari rancangan malapetaka yang ia lakukan terhadap Niniwe (Yunus 3:9-. 23 Pemanggilan Yunus kedua ini Aio i o ec o iA . ayehi devar-adona. Ayfirman Yahwe datang kepada YunusAy, pemanggilan ini mirip dengan pemanggilan nabi secara umum. Namun bedanya pemanggilan Yunus ini adalah pemanggilan kedua ini ditujukan kepada bangsa asing, berbeda dengan nabi yang selama ini dipanggil untuk Israel. Seiring berjalannya waktu pada pasca pembuangan, kompleksitas identitas Israel menjadi jelas, terutama ketakutan akan kehilangan identitas mulai terurai. Menjadi jelas bahwa Israel melakukan banyak hal terhadap orang luar, dalam hal ketakutan mereka, namun pada kenyataannya, hal ini tidak diperlukan. Dan untuk kontra akan hal ini ditampilkan dalam Kitab Yunus dan Kitab Ruth sebagai buktinya oleh Dtr. Melihat teks-teks yang dibahas dalam penelitian Yunus 3:1-10 ini, menjadi jelas bahwa sehubungan dengan bangsa lain yang tak terbatas dan dalam konteks keramahtamahan, terdapat tanda-tanda inklusivitas tertentu dalam teks-teks ini termasuk dalam banyak teks-teks Perjanjian Lama yang lain. Teks-teks ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah orang asing di bumi yang ditampung oleh Yahwe. Konsep dasar ini kadang-kadang dimanipulasi dan menggunakan tanah sebagai permainan kekuasaan dan politik. Praanggapan sosio-politik harus dipertimbangkan Hassell Bullock. An Introduction to the Old Testament Prophetic Books (Chicago: Moody Publishers, 2. , 101. Hassell Bullock. An Introduction to the Old Testament Prophetic Books, 62. Michael Anderson. Blessed Contradictions: How the Bible Contradicts and Completes Itself (Eugene: Wipf & Stock Publishers, 2. , 40Ae41. Andrew Hill. Minor Prophets: Hosea Through Malachi (Illinois: Tyndale House Publishers, 2. , 248. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. ketika teks-teks Perjanjian Lama digunakan untuk eksklusivitas universal. Pemberitaan yang dibawa Nabi Yunus mencerminkan inklusivitas yang merupakan suatu hal yang melampaui ruang dan waktu dan selalu menjadi perdebatan sejak zaman Perjanjian Lama hingga saat ini. Dengan bertatap muka dengan bangsa lain yang tak terbatas, mempelajari identitas seperti yang dilakukan bangsa Israel di masa-masa genting dan sambil memperhatikan keragaman . disisi lain. Tuhan memanggil dan mengutus Yunus. Seorang nabi pemberontak yang melarikan diri dari perintah Tuhan. Ia diselamatkan dari badai oleh seekor ikan besar dan dalam panggilan kedua setelah masa 3 hari, ia memberitakan pertobatan di Niniwe, untuk menjadi nabi bagi kota Niniwe yang jahat. Ketika Tuhan mengirimkan badai untuk menghentikan Yunus, sang nabi terlempar ke Tuhan mengirimkan seekor ikan untuk menyelamatkan Yunus, dan di dalam perut ikan Yunus menyanyikan lagu syukur. Ikan itu memuntahkan Yunus ke pantai dekat Niniwe dan Tuhan memanggil Yunus untuk kedua kalinya. Yunus pergi ke Niniwe, menyampaikan pemberitaan singkat, dan seluruh kota bertobat. Setelah itu. Yunus mengaku kepada Tuhan bahwa alasan dia melarikan diri adalah karena dia tahu bahwa Tuhan akan berbelas kasih kepada kota itu dan Yunus ingin kota itu dihancurkan. Tuhan tidak senang karena Yunus begitu egois, sehingga Tuhan menggunakan tanaman untuk mencoba mengajari Yunus bahwa Tuhan mencintai semua Kisah Yunus adalah sebuah cerita. Dimasukkannya Yunus dalam kitab para nabi telah menjadi sumber dorongan yang berkelanjutan bagi generasi-generasi orang beriman yang mengetahui perjuangan yang sama dalam mengintegrasikan keyakinan dan praktik. 26 Ketika seseorang membaca sebuah cerita, dia memperhatikan hal-hal seperti alur dan karakter. Terkait alur cerita Yunus, salah satu permasalahan mendasarnya adalah. AuApa yang akan Tuhan lakukan terhadap seorang nabi yang tidak menaati perintah Tuhan?Ay Persoalan sentral yang kedua adalah. AuKepada siapakah Allah akan menunjukkan kasihnya, hanya bangsa Israel, atau juga Niniwe dan tempat-tempat lain serta orang-orang yang sangat jahat?Ay. Dalam Yun. 3:1-2, ada dua karakter sentral muncul dan ditampilkan dalam teks, yaitu Yunus dan Tuhan. Masalah mendasar dengan Tuhan adalah pertanyaan apakah Tuhan akan berbelas kasihan kepada mereka yang jahat. Belas kasihan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keringanan hukuman atau kasih sayang. Belas kasihan Tuhan sering kali dirujuk atau disebutkan baik dalam Perjanjian Lama pada orang-orang yang memberontak dan jahat, seperti mereka yang tinggal di Niniwe atau seorang nabi yang memberontak. Pertanyaan mendasar yang dihadapi Yunus adalah apakah ia dapat belajar mengakomodasi perasaannya sendiri tentang benar dan salah dengan realitas belas kasihan Tuhan. Namun yang pasti Yunus dipanggil dan diutus untuk menyampaikan misi dari Tuhan. Dalam bahasa Ibrani, panggilan atau memanggil disebut A( aAqar. yang artinya to call, to proclaim, to summon, to invite, to recite, to praise, dan to appoint. 27 Dengan demikian memanggil lebih diartikan menamai, mengangkat, mengundang, menunjuk, mengumumkan seseorang untuk melakukan sesuatu hal. Dengan demikian panggilan/memanggil . lebih menekankan adanya tindakan Allah yang menunjuk, menamai, mengangkat umat-Nya atau seseorang sebagai pilihan. Michael Anderson. Blessed Contradictions: How the Bible Contradicts and Completes Itself, 40. Dianne Bergant. The Collegeville Bible Commentary: Old Testament, 722Ae723. Dorothy Bass. Practicing Theology: Beliefs and Practices in Christian Life (Michigan: W. Eerdmans Publishing, 2. , 38. Karl Feyerabend. Hebrew English Dictionary to The Old Testament (Berlin: Methuen, 1. , 96. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Tindakan aktif tersebut menjadikan terpisah dari yang lain dan memiliki hubungan yang khusus dengan Allah. Allah sendirilah yang memulai panggilan ini. Panggilan untuk misi langsung dari Tuhan, tidak mengherankan jika nabi dipanggil, karena dia mungkin telah melaksanakan banyak misi bagi Tuhan di Israel sebelumnya. Yunus terpecah antara kesetiaannya kepada Tuhan dan cambuk emosinya. Tuhan mengajari Yunus tentang cara Tuhan mengasihi semua anak-anak-Nya. 29 Disini universalisme Yahwe terlihat bahwa ia tidak hanya milik Israel saja dan tidak hanya berdiam di Israel saja, melainkan Yahwe juga adalah milik semua bangsa dan semua ciptaannya. Sehingga yang pertama mengalami misi itu adalah Yunus dan kemudian bangsa-bangsa yang ada di Kota Niniwe tersebut. Dalam Kitab Yunus, kemungkinan bahwa beberapa materi tradisional yang diambil alih oleh kitab ini dikaitkan dengan Yunus pada masa awal, namun kitab dalam bentuknya yang sekarang mencerminkan komposisi yang jauh lebih belakangan. Kitab ini ditulis setelah masa pembuangan di Babilonia . bad ke-6 SM), mungkin pada abad ke-5 atau ke-4 dan pastinya paling lambat pada abad ke-3 SM, karena Yunus terdaftar di antara para Nabi Kecil. Seperti Kitab tersebut. Kitab Ruth, yang ditulis sekitar periode yang sama, menentang karakteristik nasionalisme Yahudi yang sempit pada periode setelah reformasi Ezra dan Nehemia dengan penekanannya pada eksklusivitas Yahudi. Jadi Yunus, semula sama seperti orang-orang Yahudi pada masa itu, bahkan membenci gagasan keselamatan bagi orang bukan Yahudi. Tuhan menghukum dia karena sikapnya. Panggilan dan pengutusan dalam kitab ini menegaskan bahwa belas kasihan Tuhan meluas bahkan kepada penduduk kota asing yang Yunus dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk pergi ke Niniwe . ota besar Asyu. , mengumumkan bencana karena kejahatan kota yang berlebihan dan menyerukan pertobatan. Yunus, dalam ceritanya, merasakan tentang Niniwe seperti halnya penulis Kitab Nahum, bahwa kota itu pasti akan jatuh karena penghakiman Tuhan terhadapnya. 31 Tetapi panggilan Yahwe Aio yA A( oii i AAouoAwayyaqam yona wayyelek. memberikan harapan baru dan menjadi tonggak awal perjalanan Yunus untuk memenuhi misi Tuhan kepada bangsa asing diluar Israel. Pengutusan Yunus ini menunjukkan kesiapannya dalam pemanggilan kedua Yahwe. Ini terlihat dari bagaimana panggilan di Yunus 3:2 diteruskan di ay. 3 dan ini yang menjadi perbedaannya dengan panggilan yang pertama. Konstruksi dalam pasal 1 dan 2 ditunjukkan sebagai persiapan dalam pematangan Yunus untuk diutus secara penuh ke Niniwe. Formula pengutusan dalam teks ini menggunakan kata kerja syalakh dan amar. Dimana Yahwe bertindak sebagai subyek. Alasan pengutusan selalu didahulu dengan partikel ki, dan tujuannya dengan laken dan sering didahului dengan preposisi el. Pada bagian tengah atau akhir sering ditutup dengan neum/davar adonay. 32 Rumusan yang demikian mengandaikan bahwa ada suatu situasi atau berita yang hendak disampaikan oleh Allah melalui utusan-Nya yang dalam ay. dan 2 ditampilkan. Melalui formula-messenger inilah Yunus menjadi sebagai utusan Allah dan ia Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1. , 198. Stephen John March. Jonah-The Epistle of Wild Grace (North Carolina: Lulu Publishers, 2. , 3Ae4. John F. Walvoord. The Bible Knowledge Commentary (Wheaton: victor books publishing , 1. , 85. John F. Walvoord. The Bible Knowledge Commentary, 88. v Polenz. Deutsche Satzsemantik. Grundbegriffe Des Zwischen-Den-Zeilen-Lesens (Berlin: De Gruyter, 1. , 224. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Nabi bertindak bukan atas dirinya sendiri melainkan Yahwe sendiri sebagai pemberi tugas yang secara literaris selalu muncul dalam bentuk orang pertama tunggal. Aku. Yunus yang menjadi utusan Allah, secara teknis, seorang utusan dibutuhkan untuk menyampaikan suatu pesan kepada alamat yang berada di tempat jauh, sebab komunikasi langsung tidak lagi dimungkinkan . Raj. 5, melalui sura. Ada beberapa istilah yang muncul tentang utusan dan paling sering dipakai adalah malak . Ada juga kata tsir (Yes. 18:2. Yes. 57:9. Yer. 49:14. Ob. Ams. 13:17. , dan mbur/mburt . Sam. 4:10. 18:26. Yes. 52:7. Nah. 2:1. Yes. 40:9. Mzm. 68:12. 1Sam. Tulisan dalam Ams. 13:17 membedakan dengan jelas arti kata utusan, di mana dikatakan. AyUtusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhanAy . 2Sam. 4:10-resiko bagi orang yang menyampaikan berit. Menarik untuk diperhatikan adalah istilah utusan dan perantara yang dikenakan kepada para nabi. Mereka dipakai oleh Allah menjadi utusan dan perantara bukan karena pendidikan di tengah keluarga yang lebih baik dari orang lain, melainkan hanya oleh panggilan Allah, pengalaman asketik. Dan dalam hal ini pengutusan Yahwe menjadi dorongan yang kuat kepada Yunus untuk yang kedua kalinya memberitakan perkataan Yahwe kepada orang-orang Niniwe. Yunus Pergi ke Niniwe . Selain merupakan kota yang sangat besar. Niniwe juga mempunyai kejahatan yang besar. Itu adalah salah satu kota di Kerajaan Asyur, yang terkenal dengan perlakuan kejamnya terhadap Salah satu praktiknya termasuk memenggal ribuan orang dan memamerkan tengkorak mereka di gerbang kota, serta memindahkan penduduk kota yang satu ke kota lain. 34 Yunus mungkin bertanya-tanya apakah ia akan mengalami nasib yang sama, namun kali ini dalam pasal 3, ia bertekad untuk mengikuti Tuhan. Yunus tidak menyampaikan pesannya sendiri, melainkan pesan Tuhan AyEmpat puluh hari lagi dan Niniwe akan ditunggangbalikkanAy. Pekabarannya adalah pekabaran penghakiman, dan pekabaran itu diberitakan kepada semua orang yang ada disana. Angka empat puluh nampaknya penting dalam Kitab Suci, ketika diidentikkan dengan ujian atau penghakiman, . isalnya, hujan turun selama empat puluh hari empat puluh malam pada zaman Nuh, mata-mata Yahudi menjelajahi Kanaan selama empat puluh hari, dan Israel mengembara di padang gurun selama empat puluh tahu. Teks Yunus 3 ini mungkin hanya menampilkan sebagian dari pesannya kepada penduduk Niniwe, yang mungkin juga mencakup ketidaksenangan Tuhan atas kejahatan mereka dan perlunya mereka bertobat. Yang kedua, masa 40 hari adalah masa pembentukan. Pengertian angka 40 dalam Perjanjian Lama juga memiliki maksud pembentukan kembali mereka yang sudah berdosa dan menuju pemulihan dalam pertobatan. Namun empat puluh hari kasih karunia/masa pembentukan itu sepertinya di percepat, karena penduduk Niniwe bertobat. Semua kelas, mulai dari raja hingga rakyat, berpartisipasi dalam pertobatan nasional. Puasa resmi ditetapkan, dan diumumkan bahwa umat harus mengenakan kain Hassell Bullock. An Introduction to the Old Testament Prophetic Books, 53Ae54. Dalit Rom-Shiloni. Exclusive Inclusivity: Identity Conflicts Between the Exiles and the People Who Remained . th-5th Centuries BCE) (London: Bloomsbury Publishing, 2. , xiv. Dalit Rom-Shiloni. Exclusive Inclusivity: Identity Conflicts Between the Exiles and the People Who Remained . th-5th Centuries BCE), xivAexv. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kabung, berseru dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kata kain kabung berasal dari kata Ayo CA . , yaitu kain berwarna gelap dan kasar yang biasanya terbuat dari bulu kambing dan dikenakan saat orang sedang berduka/berkabung. Semua orang yang mendengar pesan Yunus menerimanya dan benar-benar berada dalam keadaan berduka atau bertobat. Pertobatan nasional menjadi pertobatan yang besar. Bila di perhatikan catatan dalam teks Yun. 3:4, ketika Yunus masih dalam perjalanan seharian A( i o u oii ucia c o iuo oiy a eAwayyakhal yona lavoAo baAoir mahalakh yom ekha. Tuhan mengevaluasinya dan mengetahui bahwa itu adalah kesungguhan mereka. Penulis teks ini menampilkan kalimat. Auberbelas kasihanlah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya atas mereka, dan Ia tidak jadi melakukannyaAy Yahwe tidak mengubah niat-Nya dalam menangani dosa-dosa penduduk Niniwe, namun Dia menunda penghakiman karena mereka bertobat. Ini menunjukkan bagaimana misi Yahwe dalam pengutusan Yunus sangat penting. Misi universalisme Yahwe yang inklusif ini menjadi salah satu isu penting yang diangkat oleh kisah Yunus tentang bagaimana umat Tuhan memandang bangsa-bangsa lain . ereka yang berasal dari bangsa selain bangsa Israe. dan mereka mendapat pengenalan yang benar tentang Yahwe. Pada masa ketika kitab Yunus ditulis . etelah masa pembuanga. , terdapat tekanan yang kuat dari penduduk Yudea agar masyarakatnya hidup terpisah dari bangsa lain. Hal ini berakar kuat pada masa itu pasca disatukannya kitab-kitab oleh Ezra dan bersama Nehemia mereka menjaga identitas Israel agar tidak pudar karena kawin campur atau juga agar setia pada penyembahan kepada Yahwe dan menjauhi dewa-dewi bangsa asing. Pada saat itu, banyak orang Israel mengusir istri asing Yunus adalah kisah yang menekankan bahwa Tuhan bahkan mencintai bangsa asing dan Niniwe, kota asing yang jahat dan kemudian bertobat. Yunus dipanggil untuk menjalankan misi yang sangat mirip dengan misi nabi-nabi lainnya, dia harus menyerukan pertobatan kepada umat yang sudah matang dalam kejahatan. Namun, tidak seperti nabi-nabi lainnya. Yunus menanggapinya dengan berupaya melarikan diri dari tugasnya awalnya, namun ia kemudian dipanggil kembali untuk menyelesaikan panggilan tersebut. Dalam Yunus 3:1-10 ditampilkan bahwa Tuhan memegang kendali. Dia berdaulat dan hanya Dia yang mengendalikan hasil. Misi Yunus merupakan sebuah fakta yang memiliki makna simbolis dan tipikal yang dimaksudkan tidak hanya untuk mencerahkan Israel mengenai posisi dunia nonYahudi dalam kaitannya dengan kerajaan Allah, namun juga untuk melambangkan adopsi orangorang kafir di masa depan. Sebagaimana seharusnya menaati firman Allah, ke dalam persekutuan keselamatan yang dipersiapkan di Israel bagi segala bangsa. Ketika waktunya semakin dekat ketika Israel akan diserahkan ke dalam kekuasaan bangsabangsa bukan Yahudi, dan diinjak-injak oleh mereka, karena kemurtadan mereka yang terhadap Tuhan. Allah mereka, sangatlah wajar bagi pikiran yang merasa benar sendiri. Israel menganggap bangsa-bangsa bukan Yahudi hanya sebagai musuh umat dan kerajaan Allah, dan tidak hanya menyangkal kemampuan mereka untuk mendapatkan keselamatan, tetapi juga menafsirkan pengumuman nubuatan mengenai penghakiman yang akan menimpa bangsa-bangsa bukan Yahudi sebagai pertanda bahwa mereka ditakdirkan untuk mengalami kebinasaan total. Daniel Timmer. The Non-Israelite Nations in the Book of the Twelve: Thematic Coherence and the Diachronic-Synchronic Relationship in the Minor Prophets, 86. Warren W. Wiersbe. The Bible Exposition Commentary (Colorado: David C. Cook Publishing, 2. , 382Ae LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Tujuan misi Yunus ke Niniwe adalah untuk berperang dengan cara yang paling enerjik dan praktis untuk menggulingkan, sebuah khayalan eksklusifis yang tampaknya mendapat dukungan pada masa itu. 38 Pemilihan Israel untuk menjadi promotor keselamatan, dan yang merangsang kecenderungan untuk bergantung pada hubungan lahiriah dengan bangsa yang dipilih dan keturunan Abraham dalam pemahaman sektarian menimbulkan problematika yang rumit. Sikap Israel terhadap rancangan Tuhan untuk menunjukkan belas kasihan kepada bangsabangsa bukan Yahudi dan memberi mereka keselamatan dikoreksi oleh Yunus dalam pemberitaannya dan digambarkan dalam cara Yunus bertindak, ketika dia menerima perintah ilahi, dan ketika dia pergi untuk melaksanakannya. Panggilan untuk misi inklusif langsung dari Yahwe kepada penduduk Niniwe menunjukkan adanya harapan bagi bangsa lain untuk mendapatkan karunia pengenalan akan Tuhan. Tidak mengherankan jika Yunus dipanggil, karena dia mungkin telah melaksanakan banyak misi bagi Tuhan di Israel sebelumnya. Kejutannya bukan terletak pada fakta panggilannya, melainkan pada jenis panggilannya, dan pemberontakan muncul dalam hatinya. Itu adalah panggilan untuk pergi ke Niniwe. Aykota besarAy Asyur, dan berseru dan menyampaikan firman Yahwe kepada penduduk kafir karena kejahatan mereka telah muncul di hadapan Tuhan, dan mereka harus segera berbalik dan bertobat. Pemisahan dan pembedaan yang semula diusung tokoh politik dan agama Israel terhadap bangsa-bangsa asing, dikritisi dalam teks Yunus pasal 3 dan 4 ini dengan menunjukkan bagaimana besarnya kasih Tuhan kepada bangsa-bangsa lain juga. Tuhan ingin juga mereka mengalami pertobatan dan mengalami misi Tuhan yang juga datang kepada mereka dalam penyampaian Firman Tuhan, sehingga hal itu membaharukan hidup mereka dan mereka meninggalkan hidupnya yang penuh dengan kejahatan dan kembali ke jalan Tuhan dengan baik. 39 Keterbukaan daripada Yahwe ini sangatlah penting mengingat bagaimana bangsa-bangsa asing bukan hanya sebagai pelengkap dalam sejarah keimanan Israel tetapi Israel dalam hal ini dipakai oleh Tuhan dan secara khusus Nabi Yunus sebagai perpanjangan tangan untuk memperkenalkan Firman Tuhan dan memperkenalkan Tuhan kepada bangsa-bangsa lain sehingga mereka mendapat perkenalan yang baik dengan Tuhan dan mereka memperoleh keselamatan dan berkat-berkat daripada Tuhan. Orang Niniwe Percaya Kepada Allah . Hal istimewa dari kitab Yunus yang tidak ditemukan pada kitab nabi-nabi lainnya ialah tentang dirinya sendiri yang semestinya juga melakukan pertobatan. Yunus tidak hanya menerima tugas dari Allah untuk mengumandangkan berita pertobatan kepada bangsa lain yakni orang-orang Niniwe, tetapi dia sendiri juga ikut bertobat. Perspektif itu dapat dilakukan oleh Yunus. Sebelum orang-orang Niniwe melakukan ritus penyesalan dan pertobatan. Yunus telah mendahului mereka bertobat yaitu dari sikap melarikan diri atau menghindar melakukan perintah Allah lalu pergi menyampaikan berita pertobatan. Warren W. Wiersbe. The Bible Exposition Commentary, 383Ae384. Daniel J. Simundson. Abingdon Old Testament Commentaries: Hosea. Joel. Amos. Obadiah. Jonah. Micah Minor Prophets (Nashville: Abingdon Press, 2. , 257Ae258. Daniel J. Simundson. Abingdon Old Testament Commentaries: Hosea. Joel. Amos. Obadiah. Jonah. Micah Minor Prophets, 257. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Hasil yang sangat menakjubkan dari seruan Yunus itu adalah, bahwa orang-orang Niniwe termasuk ternak . melakukan pertobatan. Jadi, pemberita dan penerima berita pertobatan sama-sama bertobat. Sebagaimana sekilas sudah disinggung pada uraian di atas, bahwa panggilan atau seruan pertobatan bukanlah hal yang baru di dalam PL khususnya dalam pemberitaan para Panggilan atau seruan Allah kepada umat untuk meninggalkan kejahatan . ada umumnya diartikan sebagai dos. baik berkaitan dengan hukum, ekonomi, sosial, politik, kultus, maupun dengan keadilan secara khusus kepada kelompok marjinal. Meninggalkan segala kejahatan juga diartikan sebagai suatu sikap mengubah orientasi . ikiran, perspektif, horizon, wawasa. perilaku, watak dan tabiat, di mana semua sikap itu sering dirangkum dengan istilah berbalik atau kembali kepada Allah. 41 Apa yang dijelaskan oleh narator di sini tentu masuk akal, sebab sebelumnya Yunus sudah memberitahukan kepada orang Niniwe bahwa masih ada waktu 40 hari lagi untuk melakukan pertobatan sebelum kota ditunggangbalikkan . dalam modifikasi kata kerja nifal artinya dibalikkan/diubah . Itulah sebabnya mengapa ia pergi keluar meninggalkan kota dan menunggu apa yang akan terjadi terhadap kota itu. Dalam ayat 5, penduduk Niniwe mendengarkan seruan Yunus, percaya kepada Tuhan, dan Percaya kepada Yahwe disini tergerak dari pemberitaan Yunus tentang Firman Yahwe. Mereka mengakui Yunus sebagai utusan Tuhan, dan menyadari kuasa Tuhan mampu melaksanakan ancaman tersebut, dan mereka yakin akan belas kasihan-Nya jika mereka bertobat. Hasil luar biasa ini tampak luar biasa bagi sebagian orang, dan menimbulkan keraguan terhadap sejarah. Namun, seperti dalam pendahuluan, misi Yunus mungkin terjadi pada saat depresi nasional, ketika pikiran manusia cenderung berfikir tentang bencana, dan ingin mencegahnya dengan cara apa pun. Sifat percaya mereka dalam menerima pengumuman dari nubuatan Yunus, kecenderungan nasional mereka terhadap pertanda dan tanda, mendorong mereka untuk membuka telinga terhadap orang Yunus, dan memperhatikan misinya dengan penuh Maka mereka percaya kepada Allah dan mengumumkan puasa serta memakai kain Secara spontan mereka melakukannya, tanpa ada perintah khusus dari pihak yang berwenang, sebelum nantinya raja memberikan pengumuman resmi. Berharap bahwa Tuhan akan melihat mereka kerendahan diri mereka dan penyesalan mereka, memohon belas kasihan, sekali lagi dosa-dosa mereka dan menghindarkan bencana dari Berpuasa dan memakai pakaian dari kain kabung nampaknya adalah tanda dari ketulusan hati dan penyesalan hati penduduk kota Niniwe. 43 Itu adalah pesan yang hebat sehingga mereka Dengan cepat efek dari pesan Yunus ini adalah sangat sukses dan jika memperhatikan emosi yang di alami dan penyesuaian diri. Itu sendiri akan jelas membentur ketidakpercayaan dan sikap acuh dan tidak acuh bangsa Israel dengan diberlakukannya pengumuman yang bersifat Dan hal ini sangat berharga untuk penulis yang ingin membuat penduduk kota Niniwe Daniel J. Simundson. Abingdon Old Testament Commentaries: Hosea. Joel. Amos. Obadiah. Jonah. Micah Minor Prophets, 256. David Perlstein. GodAos Others: Non-IsraelitesAo Encounters with God in the Hebrew Bible (Bloomington: iUniverse, 2. , 252. Llyod J. Ogilvie. Mastering The Old Testament (Hosea-Jona. (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1. , 420. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Jadi pekerjaannya itu keluar dari beberapa bagian, dengan jelas ingin menunjukkan karakter umum dengan baik tentang ketulusan dan pertobatan kota Niniwe. Pemberitaan/kata-kata Yunus nampaknya mempunyai dampak langsung dan sangat positif terhadap penduduk Niniwe. 44 Mengapa orang non-Ibrani percaya pada nabi Ibrani hanya bisa Barangkali mereka dikejutkan hingga bertobat oleh kemunculan orang asing yang tampaknya tanpa memikirkan keselamatan pribadinya, rela menempuh jarak sedemikian jauh untuk mengungkap dosa-dosa orang yang tidak dikenalnya. Bagaimanapun juga, misinya membuahkan hasil yang diharapkan Niniwe bertobat dengan Aukain kabung dan debuAy, mereka menyatakan penyesalan mendalam dan berbalik dari semua kejahatan dan kekerasan yang mereka telah lakukan. Kain kabung merupakan kain kasar berwarna gelap yang terbuat dari bulu hewan dan domba, serta digunakan pada zaman dahulu untuk membuat karung dan tas, dan terkadang disebut dengan disebut Aykain karungAy. Bahan ini juga digunakan untuk membuat pakaian kasar yang dikenakan oleh orang yang berkabung, sehingga menjadi tertanam dalam pikiran para nabi sebagai simbol kesedihan dan duka. 45 Hal ini merupakan kebiasaan bagi orang-orang yang berkabung, yang mengenakan kain kabung, untuk menaburkan abu pada diri mereka sendiri atau duduk di tumpukan abu, dengan demikian menunjukkan bahwa kegembiraan mereka telah musnah atau hancur. Penggunaan kain kabung dan abu pada zaman dahulu juga merupakan tanda kerendahan hati dan penyesalan serta ketulusan untuk menyatakan kesalahan. Ketika orang-orang saleh menggunakan penutup kain kabung dan taburan abu untuk membantu mereka mencapai kekuatan spiritual untuk berkomunikasi dengan Tuhan, penggunaannya selalu disertai dengan puasa dan Daniel, misalnya, mengawali catatan salah satu permohonannya yang besar kepada takhta kasih karunia (Dan. 9:3-4. Yes. 58:5, 1 Raja-raja 21:17Ae. Kain kabung dan abu . isertai dengan puasa, doa, dan berpaling kepada Tuhan yang menyertai penggunaanny. menjadi simbol keberkahan yang paling besar. Pertobatan yang tulus dan rendah hati ini menjadi pendorong bagaimana hal ini bisa terjadi secara luas. Memang ada pengaruh raja yang mengumumkan hal tersebut, namun dalam ay. 5 sebelum adanya perkabungan/pertobatan nasional yang lebih luas, hal ini sudah disampaikan oleh penulis dalam ay. 5 bahwa orang-orang yang mendengar pemberitaan Yunus tersebut bertobat dan berkabung. Sikap dan Perintah dari Raja Niniwe . Ayat itu dilanjutkan dengan ay. 6-9, tentang reaksi raja Niniwe. Sang raja bersama dengan para pembesarnya juga melakukan hal yang sama serta mengumandangkan supaya dilaksanakan puasa bukan hanya bagi manusia tetapi juga hewan atau ternak, tidak boleh makan dan minum. Tampaknya agak terlambat berita itu sampai kepada raja, sebab rakyat sudah terlebih dahulu melakukan puasa. Tetapi justru aksi itu yang menjadi pertanyaan, untuk apa lagi ada maklumat Hinckly G. Mitchell. The International Critical Commentary (Haggai. Zechariah. Malakhi & Jona. (London: T. &T. Clark, 1. , 53. Hinckly G. Mitchell. The International Critical Commentary (Haggai. Zechariah. Malakhi & Jona. , 53Ae Ibid. , 57. Ibid. , 53. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dari raja, jika rakyat sudah melaksanakan ritus pertobatan? Apakah maklumat atau pengumuman dari raja itu dapat dianggap sebagai gerakan nasional? Maksudnya ialah, ritus itu tidak hanya berlaku bagi orang yang merasa seruan Allah perlu dilakukan, melainkan menjadi kewajiban Jika demikian, maka kemungkinan besar kedua pihak yang melaksanakan puasa pertobatan itu, yaitu rakyat dan raja serta pembesarnya bahkan hewan dan ternak, memiliki sastra yang berbeda. Laporan nabi dan pesan dari Yahwe tentang nubuatan yang akan terjadi di Niniwe bahkan yang datang pada istana raja. Bila dalam sehari perjalanan Yunus dalam pemberitaannya, tentu penyampaian belum secara menyeluruh, sedangkan luas kota jaraknya 3 hari perjalanan. Darisini dapat disimpulkan bagaimana kabar tersebut menyebar secara luas dan menjadi hal yang hangat Kabar ini akhirnya sampai kepada raja yang berkuasa di Niniwe. Sebelum raja yang membenarkan cerita rakyat itu, raja digambarkan sebagai yang duduk dalam tahtanya, dengan memakai jubahnya. Penulis tidak memberikan nama, dia menyebutnya dengan sederhana saja yaitu AuRaja NiniweAy, sebagai yang biasa dalam cerita, untuk itu tidak ada ditambahkan dalam Raja itu juga langsung percaya saat pertama sekali dia bangkit dari tahtanya dan ditanggalkannya jubah raja dan diselubungkannya padanya kain kabung dan duduk di atas debu, ini adalah sebuah tanda kerendahan hati dan duka cita. 48 Tidak puas dengan contoh pribadi, raja tersebut menyuruh membuat surat perintah dan diumumkan kepada semua yang ada di Kota Niniwe. Dimana itu digembar-gemborkan dengan maksud yang mengumumkan keputusan Surat perintah dari raja nampaknya bergerak dengan sangat cepat dan akhirnya orangorang sudah siap untuk melakukannya atau yang dimulai melakukan apa yang diperintahkan pada Oleh keputusan raja dan yang mulianya, adalah juga semata-mata rumusan pejabat atau dewan raja. 49 Keputusan pemerintah bahwa setiap orang yang ada di Niniwe, termasuk juga setiap binatang ternak, akan menjalankan puasa, dengan mengenakan pakaian dari kain karung . akaian berkabun. , dengan sunguh-sungguh berdoa pada Tuhan dengan semua pengharapan dan menyesali dosanya. Binatang ternak juga bergabung dengan kerendahan diri secara umum dan juga dengan tidak makan dan minum. Meskipun sejajar dengan kitab Yudit yang menunjukkan bahwa kebiasaan yang Herodotus laporkan, bahwa orang-orang Persia ketika binatang diikutsertakan dalam upacara berkabung untuk Masistius juga orang Yahud. Ini nyata bahwa suatu peniruan ulang dari ay. setelah manusia di ay. 8, maka teks sekarang berkata bahwa binatang tidak hanya memakai kain kabung tapi juga harus juga memohon pada Yahwe dan bertobat dari segala jalan yang jahat. Keluar dari tanda penyesalan bertolakbelakang dengan pertobatan yang benar dan reformasi. 51 Doa bukanlah asal-asalan saja tapi bersemangat dengan pembicaraan yang tulus serta membuang dosa yang lama. Suatu kepercayaan yang tinggi dan gambaran moral yang mendasari surat perintah ini. Dosa-dosa orang-orang di kota Niniwe tidak ada yang ditampilkan, hanya saja kejahatan mereka sudah sampai kepada Yahwe. Pernyataan yang sama dicatat dalam Kitab Kejadian dalam kisah Hinckly G. Mitchell. The International Critical Commentary (Haggai. Zechariah. Malakhi & Jona. , 54. Susan Niditch. Jonah: A Commentary (Minnesota: Fortress Press, 2. , 16Ae17. Ibid. , 16. Karl Myller. JonahAos Story. Our Challenge: Reading a Biblical Narrative in TodayAos Church and World (Drayton High: Drayton High: Hymns Ancient & Modern Limited, 2. , 114. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Sodom dan Gomora. Bisa jadi kejahatan tersebut adalah dalam hal moral dan sosial, tentang pemujaan berhala, namun dalam hal ini penulis tidak ada berkomentar. Mereka umumnya adalah Tindak kekerasan adalah pekerjaan mereka atau sama dengan kebiasaan mereka adalah melakukan tekanan sosial. Dalam ayat 9, kata-kata pertama dari ayat ini. Ausikap Allah akan berbalikAy, merupakan kutipan dari Yoel 2:14. Yoel 2:12-17 yang merupakan seruan untuk bertobat dan menyesal dengan jalan berpusa dan berkabung. AuSiapa tahuAy mengungkapkan harapan orang Niniwe bahwa Yahwe akan mengubah rencana-Nya. Ungkapan Ausiapa tahuAy mempunyai fungsi yang sama dengan AumungkinAy dalam Kel. 32: 30. Ams. 5:15 dan Zef. 2:3. Harapan orang Niniwe adalah bahwa Allah akan berbalik dari rencananya semula untuk menunggangbalikkan kota Niniwe. Dalam ayat 8 orang Niniwe diajak berbalik . Dalam ayat 9 mereka mengucapkan harapan bahwa Au Dia berbalik dari amarahnya sehingga kita tidak binasa Ay . ua kali kata AusyuvA. Hanya pada tempat ini dan dalam Kel. 32:12 saja kedua hal disebut bersama. Berbalik dari murka dan menyesal karena malapetaka yang mau didatangkan. Orang Niniwe mengucapkan harapan bahwa Allah akan AumenyesalAy . Ucapan tersebut cukup untuk menarik perhatian. Bagaimana Allah dapat menyesal? Apa Ia sama dengan manusia? Tuhan tidak menyesal dan tidak mengubah keputusan-Nya. Demikianlah pandangan Bil. 23:19 dan I Sam. 15:19. Tetapi Allah tidak terikat kepada keputusan-Nya, seperti raja-raja orang Media dan Persia terikat kepada undang-undang yang tidak dapat mereka ubah (Dan. 6:9, . Yang tidak dapat diubah bukanlah keputusan Allah, melainkan kasih setia Allah kepada manusia. Oleh karena kesetiaan-Nya kepada manusia, maka Allah merubah rencana-Nya. 53 Mereka berharap bahwa mereka tidak dikecewakan dalam frasa AuKetika Allah melihat perbuatanAy, dalam Dia perbuatan diperhitungkan, bukan kata-kata. Yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Belas kasihan ilahi dengan cepat menimbulkan pengampunan dan sangat cepat membuat pendosa menyesal. Ayat ini tidaklah dibuat atas kesan bahwa Yahwe menunggu sampai waktu anugerah berakhir untuk membuat keinginannya untuk menghukum mereka, tetapi lebih baik bahwa Dia memutuskan untuk meghindarkan mereka sebagaimana Dia melihat seluruh hati yang menyesal. Pengaruh raja dalam pertobatan Niniwe menjadi hal yang tidak bisa di pandang sebelah Kesejajaran sepertinya terlihat dengan pada masa monarki Israel, dimana pertobatan dan perintah raja penting dalam pertobatan komunal. Pertobatan yang tulus dan rendah hati ini menjadi pendorong bagaimana hal ini bisa terjadi secara luas. Memang ada pengaruh raja yang mengumumkan hal tersebut, namun dalam ay. 5 sebelum adanya perkabungan nasional yang lebih luas, hal ini sudah disampaikan oleh penulis dalam ay. 5 bahwa orang-orang yang mendengar pemberitaan Yunus tersebut bertobat dan berkabung. Reaksi Allah . Persoalan adalah uraian pada 3:5-10 yang menjelaskan sikap orang-orang Niniwe yang segera melakukan pertobatan dan sikap penyesalan Allah yang telah merancang malapetaka. Sikap Hinckly G. Mitchell. The International Critical Commentary (Haggai. Zechariah. Malakhi & Jona. , 54Ae Th. Kramer. Tafsiran Alkitab Kitab Yunus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 52. Hinckly G. Mitchell. The International Critical Commentary (Haggai. Zechariah. Malakhi & Jona. , 55. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Allah yang berubah itu jugalah yang membuat Yunus memberi reaksi kepada Yahwe . :1-. Anehnya, jika Yunus sudah memberi reaksi atas sikap Allah yang tidak jadi memberi malapetaka kepada kota Niniwe. Salah satu bagian penting dalam teks Yunus 3:1-10 ini adalah kemurahan Tuhan. 55 Yunus diutus untuk berkhotbah ke kota Niniwe yang jahat, namun melarikan diri ke arah yang berlawanan karena dia tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan siap untuk mengalah dalam hukuman. Dalam hal ini bukan mencela para nabi-nabi penentang terdahulu tapi dengan sederhana menyatakan pernyataan ulang perintah yang menunjukkan dengan indahnya kebaikan Yahwe. Itu kadang-kadang yang terpikirkan bahwa Yunus pergi pertama kali ke Yerusalem setelah kebebasannya untuk melaksanakan janjinya di Bait Suci, tetapi autor berkata tidak demikian tentang ini dan pembaca tidak bisa mengasumsikan bahwa Audia pergi tanpa berkata apa-apaAy. Sebaliknya, kesan dari cerita tentang dia bahwa perintah datang kepada Yunus dengan tiba-tiba setelah kebebasannya dan ia mematuhi dengan cepat. Dalam Yun. 1:2. Tuhan tidak berubah pandangan, tetapi tetap berpegang kepada rencanaNya semula. Tuhan mengirim nabi-Nya ke Niniwe. Niniwe disebut kota yang besar. Bagian kedua dari ayat ini berbeda sedikit dengan Yun 1:2. Menurut Yun. 1:2. Yunus harus bernubuat kepada orang Niniwe Aukarena kejahatannya telah sampai kepadaKuAy. Yun. 3:2 tidak lagi menyebut alasan, tetapi menekankan isi pemberitaan Yunus. Yunus harus menyampaikan Auseruan yang Kufirmankan kepadamuAy. Kata AuseruanAy . hanya terdapat dalam Perjanjian Lama, kata itu adalah kata bahasa Ibrani muda. Sekali lagi ditemui petunjuk zaman terjadinya kitab Yunus cukup Kata AuqeriaAy berarti pengumuman, proklamasi atau pemberitahuan. Yunus harus menyampaikan apa Auyang Kufirmankan kepadamuAy. Musa menerima penugasan yang sama (Kel. Juga nabi Mikha bin Yimla hanya mau mengatakan Auapa yang akan difirmankan Tuhan kepadakuAy (I Raj. Meskipun Nabi Yunus hanya boleh bernubuat, sesuai dengan firman Tuhan. Dalam Yun. 3:1 Yunus tidak bangun untuk melarikan diri, tetapi untuk pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Tuhan. Ucapan Ausesuai dengan firman TuhanAy sering dikenakan pada perbuatan para nabi, sesuai dengan firman Tuhan, nabi Elia pergi ke sungai kerit (I Raj 17:. , dan nabi Yeremia mengambil tindakan ibarat sesuai dengan firman Tuhan (Yer 13:. Kitab Yunus tidak menceritakan apakah Yunus pergi ke Niniwe dengan perasaan segan, atau oleh karena perasaan terpaksa saja. Hanya dikatakan, bahwa Yunus pergi sesuai dengan firman Tuhan. Rupanya pengarang kitab Yunus tidak mempunyai minat terhadap perjalanan Yunus ke Niniwe, yang pasti memerlukan cukup banyak waktu. Dia menguraikan panjang lebar bahwa Yunus melarikan diri, tetapi tidak menceritakan tentang perjalanan ke Niniwe. Hal ini rupanya tidak penting bagi maksud cerita yang bersifat pengajaran ini. 57 Bagian, yang menceritakan tentang pertobatan orang niniwe, membuka dengan gambaran tentang tempat dimana Yunus harus menyampaikan nubuatannya, yaitu kota Niniwe. Niniwe disebut kota Auyang besarAy. Penulis Kitab Yunus suka mempergunakan kata AubesarAy . Tetapi dalam ayat ini besarnya kota Niniwe lebih ditekankan lagi. Besarnya kota Niniwe masih dijelaskan lebih lanjut Autiga hari perjalanan luasnyaAy. Stephen John March. Jonah-The Epistle of Wild Grace, 3Ae4. Th. Kramer. Tafsiran Alkitab Kitab Yunus, 43. Th. Kramer. Tafsiran Alkitab Kitab Yunus, 48. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Menurut penelitian arkeologi. Niniwe memang cukup besar, tetapi lintangnya tidak melebihi 4 km. Oleh karena itu beberapa penafsir yang mengatakan bahwa tiga hari perjalanan untuk mengelilingi kota Niniwe. Tetapi tafsiran itu tidak sesuai dengan yunus 3. 4 yang mengatakana bahwa Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya. Penafsiran lain mengatakan bahwa yang pengarang maksudkan bukan hanya kota Niniwe saja, melainkan seluruh wilayah sekitarnya juga. Sebenarnya pengarang kitab Yunus tidak hendak mengarang sejarah, tetapi mau menceritakan tentang sebuah kota yang Ayamat besarAy. Pembaca tidak harus menghitung-hitung, apakah tiga hari perjalanan luasnya, cocok dengan keadaan atau tidak, tetapi dia harus kagum tentang besarnya kota itu. Yunus kemudian mulai menasehati/berkhotbah ketika dia tiba di kota besar, pada hari Dia tidak menunda pengumumannya dan dengan cepat mengumumkan pesan tersebut. Yunus mulai menyampaikan pesan untuk pertama kali dan kemudian dia diajarkan cara bahwa pada hari pertama dia tidak diizinkan. Isi dari pesan itu adalah,AyDi dalam empat puluh hari lagi. Niniwe akan ditunggangbalikkanAy. Sama dengan kata yang digunakan untuk menghancurkan Sodom, itu adalah untuk menyatakan kelengkapan pembinasaan. Tidak ada alasan yang diberikan untuk pembinasaan, meskipun itu diusulkan di Yun. 1:2, meskipun fakta-fakta dilengkapi tentang perantara pemusnahan. Pernyataan yang paling sederhana disebut sebagai datangnya bencana, dengan beberapa sebutan pertobatan. Dan masih tentang penulis yang baru bahwa dia adalah pendengar yang akan mengerti bahwa Yahwe memberikan perhatian untuk kota Niniwe dengan harapan bahwa mereka akan bertobat dan mencegah suatu Untuk ini termasuk dan dipahami, oleh Yunus sendiri juga, seperti yang ada dalam Yun. 4:2. Setelah Yunus pindah ke kota dari barat ke timur dia bisa mengharapkan pertimbangan. Jadi dia duduk dan menunggu, tapi tidak untuk empat puluh hari. Kemurahan hati Tuhan melampaui amarahnya dan ditunjukkan di ayat 10,bagaimana Tuhan menahan dirinya dan dalam beberapa terjemahan dikatakan bahwa menyesallah Tuhan atas malapetaka yang sudah dia rancangkan sejak awal atau juga ditampilkan bagaimana Tuhan berbalik dari rencananya yang sejak awal yang menimbulkan malapetaka dan kemudian berbalik menjadi keselamatan bagi mereka dan memberikan kasih Tuhan kepada mereka dan mereka mengenal Tuhan dengan baik dan benar. IMPLIKASI: Misi Dalam Konteks Pluralisme Di Indonesia Misi Inklusif Kepada Semua Orang Umat manusia dipilih dalam Tuhan, untuk diperdamaikan dengan Allah dan dapat hidup dalam persekutuan dengan-Nya, maka umat menyampaikan suatu pesan janji dan panggilan kepada sekalian orang yang ada di sekitarnya. 62 Hal ini menunjukkan bahwa kasih karunia Allah berlaku secara universal dan inklusif . erbuka untuk semu. Pengutusan ternyata bukan secara kolektif kepada Israel sebagai umat Allah tetapi kepada pribadi-pribadi seperti Abraham. Musa Th. Kramer. Tafsiran Alkitab Kitab Yunus, 45Ae46. Ibid. , 46. Llyod J. Ogilvie. Mastering The Old Testament (Hosea-Jona. , 420. John F. Walvoord. The Bible Knowledge Commentary, 1461Ae1462. Jesse Miranda. Gereja Kristen Dalam Pelayanan, 188. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. dan hamba Tuhan di dalam kitab Deutero Yesaya, meskipun pribadi itu dapat dipahami sebagai coporate personality yang menunjuk kepada umat Israel secara keseluruhan . atu kesatua. Akan tetapi harus juga diakui, bahwa kesadaran Israel tentang misi masih terselubung sehingga cenderung bersikap serba eksklusif dan negatif terhadap bangsa-bangsa lain. Dengan perumusan lain umat Israel masih bersikap etnosentris. Perubahan sikap yang signifikan baru terjadi pada masa pasca pembuangan, yakni setelah Israel khususnya para penulis sejarah Alkitab dari kalangan . imam mendapat banyak pengalaman baru di Babilonia. Kekakuan sikap itulah yang dikritisi atau bahkan dicekam oleh perikop-perikop inklusif seperti narasi Yusuf dalam kitab Kejadian, narasi Rut dan khususnya cerita Yunus yang diutus untuk memberitakan pesan Allah ke kota Niniwe. Yunus dalam Yun. 1 dan Yun. 3, dimana ia diutus oleh Allah untuk melakukan misi keluar Israel. Dalam kemajemukan agama, berbagai pengalaman dan pemahaman manusia tentang keselamatan, sama kaburnya dengan manusia lainnya. Semuanya tergantung pada apakah ada persekutuan dengan Allah, yakni Allah Israel. Persekutuan itu dijanjikan kepada umat, asalkan mereka tidak meninggalkan iman mereka. 64 Seperti yang telah dikatakan oleh David J. Bosch, bahwa Aumisi Allah sendiri lebih luas daripada misi gerejaAy. Tugas pokok dari kehadiran di tengah kepelbagaian agama adalah bersaksi, menyatakan pengakuan imannya di hadapan dunia, agar semua manusia mengenal, mengetahui dan menerima keselamatan dan pemahaman yang benar akan firman Allah. Seruan AyinklusifAu. AypluralisAu tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibeda-bedakan berdasarkan Inklusif menekankan cakupan perhatian yang sifatnya menyeluruh. Pluralis menekankan hubungan antara satu dengan yang lain dalam keperbagaian atau keragaman, dan dalam hal ini ada keterbukaan. Umat/pelayan yang benar, mempersiapkan dirinya dan seluruh pelayananya agar mempunyai cakupan, daya terobos, dan daya serap yang luas dan dalam selama masih berada dalam naungan, di atas dasar dan dalam pendampingan firman Tuhan. Dalam cakupan luas dan menyeluruh ini siap untuk menjadi pionir dalam pengembangan misi Allah yang inklusif bagi semua bangsa. Kesiapan memperluas cakupan, jangkauan dan berdialog didorong oleh sikap yang terbuka. Di dalam Perjanjian Lama secara eksplisit tidak membahas mengenai misi. Sebab, misi diandaikan tidak persis sama dengan pengutusan. Jika pengertian misi disejajarkan dengan pengutusan, maka pertanyaannya adalah apakah Israel sebagai bangsa sejak awal memiliki pengutusan kepada bangsa lain?. Teks-teks PL yang menyinggung relasi Israel dengan bangsa lain tentu tidak sejak awal ada. Pada umumnya teks yang berbicara tentang hubungan itu muncul dari era yang relatif lebih kemudian, yakni dari masa sesudah pembuangan. Namun, perlu dilihat bagaimana misi yang ada di era Perjanjian Lama. Pengutusan seorang nabi langsung dari Allah untuk melakukan tindakan misi yang melintasi batas-batas wilayah atau geografi, agama, sosial bahkan budaya. Ini tidak seperti perspektif perjanjian baru. Tetapi dalam Cirilo Boloron. The Concept of Inclusive Pluralism: Jacques DupuisAos Theology of Religious Pluralism and Its Implication for Interreligious Dialogue Today (Gyttingen: V&R Unipress, 2. , 106. Cavin DAoCosta. Mempertimbangkan Kembali Keunikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 181. Yohanes Krismantyo Susanta. Penguatan Moderasi Beragama Dalam Perspektif Pendidikan. Budaya. Dan Tradisi Agama-Agama Di Indonesia (Yogyakarta : Kanisius, 2. , 118. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. perjanjian lama berbagai hal dilihat sebagai tindakan Allah atau Missio Dei. Konsep misi seperti ini mengarahkan kepada Allah sebagai yang memiliki dan mengatur seluruh pekerjaan pengutusan/misi. 66 Tetapi dalam Perjanjian Lama pun ada pergeseran misi yakni pemilihan bangsa Israel dilihat sebagai salah satu tindakan misi. Meskipun tidak mengubah makna dari Missio Dei. Pemilihan bangsa Israel ini sudah terlihat sejak pemilihan Abraham yakni tujuan dari Allah adalah untuk menjadi seorang individu atau unit terkecil yaitu bangsa Israel untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. 67 Misi sudah ada sejak manusia ada. Misi dan berita dari umat perjanjian lama, sekalipun keduanya dapat dipisahkan, tetapi tidak terpisahkan. Mosckala berpendapat bahwa harus dipahami perbedaan antara pembaca kitab suci orang Yahudi yang mungkin memiliki pertanyaan dan harapan-harapan yang berbeda dari orang yang dapat dengan mudah menemukan jawaban di dalam teks Alkitab, karena dasar dari Alkitab Perjanjian Lama adalah metanarasi keselamatan bagi seluruh umat manusia. Uraian berawal dari penciptaan dan pra-sejarah universalisme yang kemudian bergeser menjadi partikularisme yang berpusat pada Israel lalu berakhir dengan universalisme keselamatan segala bangsa. 69 Akan tetapi ada juga penjelasan lain yang melihat awal sejarah keselamatan dari partikularisme Allah bapa leluhur lalu berkembang menjadi Allah nasional. Perkembangan itu pertama terdapat pada kitab Nabi dan Mazmur. Ada juga ahli yang melihat pemilihan umat Israel sebagai awal sejarah keselamatan yang sudah muncul. Gagasan utama tema ini didasarkan pada arti dan makna pemilihan sebagai eksklusifitas, pertobatan orang asing, pemberian Tora dalam arti sentripetal. Israel sebagai model nabi dan imam bagi orang asing, pemilihan sebagai privilese yang melebihi kewajiban dalam horizon saksi bagi orang asing. Perspektif lain menyatakan, bahwa gagasan misi dapat ditemukan pada nyanyian hamba Tuhan. Berkaitan dengan bangsa asing, ia melihat adanya suatu kewajiban untuk menyembah Allah Yahwe sejak awal dan pergeseran baru terjadi sejak zaman Yosia yang membuka pintu penyembahan Yahwe bagi orang asing. Di satu sisi sudah ada integrasi terhadap orang asing, tetapi di sisi lain tetap ada tendensi pembatasan terhadap musuh abadi (Edom. Midian. Amale. Dalam penjelasan lanjutan, ada tiga kategori relasional dalam hal ini, yaitu Yahwe dengan bangsa-bangsa. Yahwe dengan umat Israel, pilihan-Nya dan Israel dengan bangsa-bangsa. Kategori pertama adalah pernyataan PL tentang Allah pencipta langit dan bumi dengan segala Dia adalah pengada segala sesuatu. Kategori kedua menjelaskan fungsi Israel sebagai media dalam menyatakan dan melaksanakan rencana keselamatan universal. Contoh relasi itu sudah terlihat pada pemanggilan Abraham (Kej. 12:2-. Pada deutero Yesaya fungsi itu juga ditekankan dengan aspek lain yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yes. 42:4-. Inilah yang dipakai sebagai titik misi. Kategori ketiga menjelaskan hubungan Israel sebagai umat kudus Allah bagi bangsa-bangsa dalam hidup mereka yang menjadi garam dan terang. Pengutusan Yunus ke Jerry Pillay. AuTheological Foundation of Mission,Ay 7. Walter C. Kaiser. Mission in the Old Testament : Israel as a Light to the Nations, 18. Jiri Mosckala. The Message of GodAos People in the Old Testament (Berrien Springs: Perspective Digest, 2. , 19. Walter C. Kaiser. Mission in the Old Testament : Israel as a Light to the Nations, 28. Achenbach. Mission in Biblischer Perspektive (Gytersloh : Leitfaden ynkumenische Missionstheologie, 2. , 32Ae33. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Niniwe menjadi rancangan Yahwe dalam menghadirkan keselamatan kepada bangsa-bangsa lain71 dibalik misi inklusif yang dijalankan oleh Yunus. Pengimplementasian ini akan menjadi warna baru dalam pengembangan misi pewartaan kerajaan Allah kepada segala mahluk, dan segala Dalam hal ini adalah dalam konteks Indonesia, dimana negara Indonesia adalah negara yang beragam dengan jumlah wilayah, suku-bangsa dan penduduk yang sangat besar. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, yakni bangsa yang memiliki beraneka ragam etnik, budaya dan agama. Hal ini telah disadari para pendiri bangsa ini sejak semula sehingga dipilihlah semboyan bangsa Indonesia AuBhineka Tunggal IkaAy: berbeda-beda tetapi bersatu juga, untuk tetap mengingatkan bahwa bangsa ini terdiri atas berbagai etnik, budaya dan agama yang harus tumbuh dan berkembang, tetapi dapat hidup saling berdampingan. Belakangan istilah ini kemudian berkembang dan muncullah istilah Unity in diversity yaitu suatu konsep yang menandakan persatuan di antara individu-individu yang memiliki keragaman. 72 Masyarakat yang dulunya hidup secara homogen, akhirnya berubah menjadi masyarakat yang heterogen. Perubahan ini dapat menciptakan perubahan cara pandang, nilai, norma dari agama lain, sehingga dapat saja terjadi, misalnya seseorang yang sudah memahami nilai-nilai agamanya, dapat memahami setiap orang sekalipun itu diluar agamanya. Seringkali bangsa terusik dengan beragam masalah intoleransi dan radikalisme, dan hal ini sangat rawan dalam hubungannya dengan pembangunan bangsa dan pengembangan misi inklusif Tuhan. Berkembangnya pluralitas agama dan kebudayaan adalah tantangan bagi pelayan dan misi Allah. Berkembangnya berbagai agama dan aliran kepercayaan di asia khususnya Indonesia memberikan corak tersendiri. Di Indonesia Islam menjadi agama mayoritas dan memberikan pengaruh dalam bidang kebudayaan, lingkungan, cara hidup dan adat istiadat, ekonomi dan politik. Pelayan . amba Alla. harus mampu melihat komplesitas yang berbeda dengan memperhatikan kebebasan iman masing masing. 74 Maka dalam melakukan misi, pelayan melakukan beberapa cara, yaitu dialog umat beragama, pembelaan martabat manusia, kesaksian hidup. Orang Kristen hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat dunia yang pluralis. Sebab pada kenyataannya, di mana gereja dan jemaat berada, di situ ia berdampingan, bersentuhan dan berhubungan dengan agama dan penganut agama lain dan suku lain. Misi sejak awal harus inklusif . bukan eksklusif . Umat Tuhan juga sebagai warga negara harus dapat memperlihatkan dirinya sebagai umat yang membawa damai dan berkat ke tengah-tengah Indonesia yang pluralis. Namun banyak yang bersikap menutup diri . terhadap keragaman tersebut sehingga orang-orang di luar juga membuat reaksi yang negatif. Sikap eksklusifisme, sektarian, egois itu tentu saja akan mengakibatkan kekacauan dalam masyarakat. Tetapi sikap yang inklusif akan membawa dalam harmoni, sembari memperkenalkan dan menyampaikan keselamatan Allah kepada semua orang atau semua bangsa. Frank A. Spina. The Faith of the Outsider: Exclusion and Inclusion in the Biblical Story (Michigan: Eerdmans Publishing Company, 2. , 94Ae95. I Made Priana. Pancasila Sebagai Misi Gereja (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 132. Benyamin Fleming Intan. Public Religion and the Pancasila-Based State of Indonesia: An Ethical and Sociological Analysis (Bern: Peter Lang, 2. , 174. Debbie M. Soeseno and Esther Susabda. AuHubungan Kecerdasan Emosi Dan Kepemimpinan Para Pemimpin Gereja Di Indonesia,Ay Jurnal Teologi Reformed Indonesia 2, no. 2 (July 2. : 95. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Misi Keselamatan yang Melampaui Batas Penafsiran teologis atas kitab Yunus menegaskan misi Tuhan yang mencakup semua bangsa, di mana kisah Yunus menggambarkan bahwa kasih dan penyelamatan Tuhan tidak hanya diperuntukkan bagi Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain yang dianggap asing, termasuk Niniwe. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman agama dan budaya, pesan ini sangat Tuhan mengutus Yunus untuk menyampaikan pesan pertobatan kepada orang Niniwe, meskipun mereka berbeda keyakinan dan budaya dari bangsa Israel. Hal ini memberikan contoh bagi gereja di Indonesia untuk menghormati keberagaman agama di tanah air, serta menunjukkan kasih dan perhatian yang tidak memandang perbedaan agama dan etnis. Dalam praktiknya, penerapan hermeneutika ini di Indonesia dapat mendorong gereja untuk menekankan pendekatan dialogis dan inklusif dalam interaksi antaragama, bukan pendekatan yang memaksakan kepercayaan. Gereja diajak untuk menjadi teladan dalam mewujudkan cinta kasih Tuhan yang melampaui batas-batas tradisional. Sikap saling memahami ini bukan berarti mengorbankan iman, melainkan menunjukkan penghormatan terhadap pilihan dan keyakinan orang lain. Dalam pluralitas agama di Indonesia, hermeneutika ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi gereja-gereja untuk memperlihatkan wajah kasih Tuhan yang menginginkan kesejahteraan bagi semua umat manusia. Penafsiran ini membentuk dasar bagi gereja untuk mengedepankan kasih sebagai pusat misi yang tidak terbatas hanya pada kelompok Kristen, tetapi juga terhadap semua orang. Aspek Etika: Kesetaraan di Hadapan Tuhan Dari perspektif etika, kitab Yunus mengajarkan bahwa setiap manusia, terlepas dari latar belakang atau kepercayaan, memiliki kesempatan untuk menerima kasih Tuhan. Yunus dikirim kepada orang Niniwe untuk menyampaikan pesan pertobatan, meskipun mereka bukan bagian dari bangsa Israel yang mengimani Tuhan secara langsung. Tuhan menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk bertobat dan menerima kasih-Nya. Dalam konteks masyarakat pluralis seperti Indonesia, ini menginspirasi gereja untuk melihat setiap orang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki martabat yang sama. Etika ini penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari gereja di Indonesia, khususnya dalam interaksi dengan umat agama lain. Gereja dipanggil untuk menghindari diskriminasi, baik yang terlihat secara langsung maupun tersembunyi, dan sebaliknya, untuk menghargai setiap individu sebagai citra Tuhan. Nilai kesetaraan ini mengarahkan gereja untuk mengedepankan penghargaan yang tulus dan menjauhi sikap-sikap eksklusif yang bisa menciptakan sekat antara agama. Pendekatan etis yang inklusif ini sangat diperlukan dalam membangun hubungan yang damai dan saling menghormati, sehingga menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis. Dengan memahami bahwa Tuhan ingin keselamatan bagi semua umat manusia, gereja dipanggil untuk menyatakan kasih itu kepada setiap orang, tanpa memandang perbedaan yang ada. Aspek Aplikasi Sosial: Gereja Sebagai Agen Perdamaian dan Solidaritas Aspek sosial dari hermeneutika Yunus menyoroti pentingnya peran gereja sebagai agen perdamaian dan keadilan sosial di tengah pluralisme. Dalam konteks ini. Yunus adalah simbol dari misi yang inklusif, di mana Tuhan menginginkan keselamatan bagi bangsa Niniwe yang berbeda secara kultural dan religius. Gereja-gereja di Indonesia dapat mengambil inspirasi dari misi Yunus dengan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang menyatukan berbagai kelompok agama, seperti program layanan sosial atau dialog lintas iman. Dengan menjadi agen perdamaian dan solidaritas, gereja menunjukkan wajah Tuhan yang inklusif, yang peduli terhadap kesejahteraan LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. semua pihak tanpa memandang agama atau budaya. Kegiatan sosial yang melibatkan pemeluk agama lain bukan hanya memperkuat hubungan antarumat beragama, tetapi juga mencerminkan kasih Tuhan yang universal. Selain itu, gereja dapat berperan dalam aksi solidaritas dalam situasi krisis, baik secara nasional maupun lokal, seperti bencana alam atau konflik sosial. Dengan demikian, melalui berbagai program kemasyarakatan yang mengedepankan solidaritas, gereja berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan inklusif. Hermeneutika Yunus, jika diterapkan dalam konteks Indonesia, memberikan landasan bagi gereja untuk mengembangkan misi yang tidak hanya terfokus pada jemaat sendiri tetapi juga masyarakat Aplikasi sosial dari penafsiran ini memungkinkan gereja untuk menjadi pelaku utama dalam menciptakan perdamaian, menunjukkan bahwa kasih Tuhan tidak memandang perbedaan dan bahwa setiap orang dipanggil untuk hidup dalam harmoni dan saling pengertian. Hamba Allah Dalam Era Pluralisme Realitas saat ini terjadi dalam kehidupan sosial yang majemuk telah menumbuhkan paham pluralisme, pluralisme ini menekankan keutuhan dan kemajemukan sosial masyarakat tanpa membandingkan agama yang dianut. 75 Oleh karenanya dibutuhkan sikap dari seorang hamba/pelayan untuk menghadapi perkembangan zaman ini. Seorang hamba/pelayan di tuntut bukan hanya menjadikan seseorang Kristen tetapi harus menjaga keutuhan diantara umat Tugas yang diamanatkan kepada setiap pelayan menjaga keharmonisan pluralisme di Indonesia dimana terdiri dari beberapa agama dan aliran kepercayaan. Pluralitas menjadi tantangan tersendiri bagi para hamba Tuhan. Keragaman agama disatu sisi memunculkan potensi konflik dalam komunitas. Hamba Allah harus bisa menyatukan keberagaman di antara jemaat yang dia layani, juga harus bisa berinteraksi dengan fenomena lingkungan sosial yang memiliki keberagaman etnis, budaya dan agama diluar lingkungan gereja tersebut. Sikap yang dibangun dan ditunjukkan oleh seorang pelayan harus mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan pluralitas warga jemaat dan masyarakat. Membangun dan bergandengan tangan menumbuhkan sikap pluralistis diantara pelayan dengan berbagai kalangan agama, saling mengingatkan, membangun diantara agama masing Hamba Allah terus dipacu di era pluralisme dengan menumbuhkan kualitas di tengah persekutuan internalnya dan hamba Allah sebagai garam dan terang di tengah kemajemukan Indonesia. Allah menciptakan manusia secara beragam dan keberagaman manusia ditentukan dan dipersatukan oleh kedaulatan Allah. Dengan kedaulatan Allah manusia diciptakan dengan perbedaan . dan disatukan oleh kesatuan . dalam suatu ekosistem masyarakat. Rencana dan tugas misi Allah yang diembankan kepada nabi Yunus. Sejarah nabi Yunus dalam dua agama besar ini tidaklah jauh berbeda. Para hamba Tuhan sebagai pengkhotbah/pendakwah harus mengilhami dan menghidupi karya Allah di dalam kehidupannya. Sebagai hamba yang diutus oleh Allah. Anton M Moeliono. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1. , 257. Neil Cole. Organic Leadership (Yogyakarta: PBMR, 2. , 61. Samuel Escobar. Diverse and Creative Voices: Theological Essays from the Majority World (Eugene: Pickwick Publications, 2. , 15. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. KESIMPULAN Misi inklusif dalam Perjanjian Lama mengingatkan untuk melihat semua orang sebagai saudara dan sesama manusia dan bahwa rencana Tuhan mencakup semua lapisan masyrakat dan Hal ini juga menekankan pentingnya menghindari diskriminasi, ketidaksetaraan dan pemisahan dalam penghayatan agama dan moral. Oleh karena itu misi dalam Perjanjian Lama harus mendapat perhatian dan kajian lebih dalam mengenai sejarah panjang Misi dalam bingkai Alkitab. Yunus 3:1-10 merupakan perikop yang termasuk dalam narasi pemberitaan nabi yang ditujukan kepada bangsa diluar Israel. Bersama dengan kitab Rut, kitab ini berisikan pandangan inklusifisme yang kuat mengingat bagaimana firman Yahwe juga ditujukan kepada semua bangsa, tidak tertutup hanya pada Israel saja. Yunus membawa misi penyampaian firman Yahwe kepada orang asing/orang-orang yang berada jauh di luar dari Israel. Ini menunjukkan bagaimana kasih Allah juga sampai kepada bangsa asing dan bahkan bila bangsa itu merupakan musuh dari Israel Kasih Allah yang ditujukan kepada segala bangsa dipertegas dalam kitab Yunus ketika Yunus diperintahkan untuk bermisi kepada bangsa Niniwe supaya bertobat untuk mendapatkan Yunus 3:1-10 merupakan perikop lanjutan atau yang sering disebut dengan pemanggilan kedua atau bisa saja menjadi pengutusan kedua Yunus ke kota Niniwe. Narasi yang dimulai dari Yun. 3:1 menunjukkan adanya kelanjutan dari Yunus 2. Pembagian dalam Yunus 1:110 ini menunjukkan adanya kesinambungan dalam ay. 1 dengan ay. 2 sedangkan ay. 3-10 berada dalam satu alur pembicaraan yang sama. Yunus dalam Yun. 1:3 bangun dan pergi, namun ia melarikan diri ke Tarsis Aumenjauh dari hadirat Tuhan. Ay Tentu saja seseorang tidak dapat melarikan diri dari hadirat Allah . Mzm 139:. , namun Auyang dimaksud di sini adalah bahwa ia berusaha melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai seorang nabi. Ay Setelah tindakan belas kasihan yang di terima Yunus, firman Tuhan datang kepada Yunus untuk kedua kalinya dan menugaskannya kembali untuk berseru memberitakan firman Yahwe Niniwe. Saat Yunus berjalan melewati kota dia menyatakan. AuEmpat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkanAy Setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga raja, bertobat, dan raja menetapkan puasa besar dengan harapan bahwa Tuhan akan Ketika Allah melihat Aubagaimana mereka berbalik dari jalan mereka yang jahatAy. Ia menunjukkan belas kasihan dengan tidak membinasakan mereka. Tuhan akan memberikan belas kasihan dan kasih sayang kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dalam yun. 3:1-10 ada beberapa gagasan teologis yang di kembangkan yaitu terkait dengan hamba yang siap sedia melakukan perintah Allah, misi pemberitaan ajaran pertobatan sikap pertobatan melalui kepercayaan kepada Allah, seruan dan dorongan pemimpin dalam pertobatan nasional, dan menantikan keselamatan allah Yunus yang merupakan sang Misionaris dalam ruang lingkup Perjanjian Lama dan merupakan pelopor misi inklusif kepada bangsa lain. Dalam mewujudkan misi yang inklusif dan pluralis, perjumpaan dengan agama lainnya . on Kriste. dapat diransang untuk memberi tahu tentang agama yang mereka anut. Setiap orang/para pelayan harus mengakui, menghormati dan menghargai konsepsi lain tentang Tuhan tanpa merelatifkan iman Kristen pada Tuhan dan menjadi kebenaran umum. Dengan demikian adanya keterbukaan, dialog dan saling menghargai terjalin dalam keberagaman agama. Dengan pemahaman ini dapat menerima prinsip-prinsip agama lainnya dan misi yang inkkusif dapat tercapai. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Misi yang inklusif harus dapat menembus sekat dalam suatu agama tertentu. Ini menjadi sebuah polemik di tengah toleransi beragama, gereja harus mampu menjalankan misinya. Demi mewujudkan misi yang inklusif dan pluralis, setiap orang tidak menginginkan pertikaian yang siasia, perjumpaan dengan agama lainnya . on Kriste. dapat diransang untuk memberi tahu tentang agama yang mereka anut. Kita harus mengakui, menghormati dan mengharagai konsepsi lain tentang Tuhan tanpa merelatifkan iman Kristen pada Tuhan dan menjadi kebenaran umum. Dengan demikian adanya keterbukaan, dialog dan saling menghargai terjalin dalam keberagaman 78 Istilah AyMisi InklusifAy dalam konteks kisah Yunus memiliki kedalaman makna, terutama saat dihubungkan dengan Yunus 3:1-10 dalam konteks pluralisme agama di Indonesia. Jika dipertajam istilah ini, ada dua kemungkinan interpretasi utama. Pertama, misi inklusif dapat merujuk pada tindakan Yunus yang menyampaikan pesan Tuhan kepada bangsa asing, yaitu orang Niniwe, sehingga menyertakan semua golongan, bukan hanya Israel. Kedua, misi ini dapat dimaknai sebagai perwujudan pesan Tuhan yang bersifat inklusif terhadap semua bangsa, menunjukkan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan siapa pun yang mau bertobat. Hans Kung. Existiert Gott? (Munich: Munich L R. Piper & Co, 1. , 588. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA