Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya, dan Sosial Humaniora Vol. No. 2 Mei 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 DOI: https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Yosef Usman Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Anastasia Any Sekolah Menengah Atas Negeri Waiblama Hermanus Ndode Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Alamat: Jl. Terusan Rajabasa No. Pisang Candi. Kec. Sukun. Kota Malang. Jawa Timur 65146 Korespondensi penulis: yosefusmanpasionis@gmail. Abstract. This research focuses on exploring the cosmological and humanization values contained in the Blatan Balikculture of the Ipir. Nuha and Hebing tribes gathered in one traditional house in Tanarawa. Waiblama. Maumere-Flores-East Nusa Tenggara. Blatan Balikculture is a rite that contains reconciling the cosmos with fellow creations or in the language of Tana Ai . latan gahu ro. , and the second is cooling valuable items stored in traditional houses such as gongs, bahar, ivory and other valuable objects in the traditional house . These two rites are an act of respect and reconciliation with creation. Therefore, exploring the comological and humanization wealth contained in the Blatan Balikculture is a form of respect for the nature of creation and also a process of humanization and the value of local wisdom. Respect for created nature and a process of humanization is the basis of life wisdom in the form of a framework of knowledge, a framework of belief both in integralistic family unity or unity in the wider community, and shows the noble values in the culture. So exploring the wealth of cosmology and humanization in the Blatan Balikculture is a form of respect for nature and reconciliation with fellow creatures and a life wisdom of the Tana Ai- Tanarawa. Waiblama. Maumere-FloresEast Nusa Tenggara community. This research uses qualitative research with data collection techniques through interviews and literature studies, collecting sources from journals, related books. This research found that the Blatan Balikculture of the Nuha Tanarawa tribe is a model of humanization and cosmology relations, between fellow humans, nature, other fellow creations and the giver of life. The values that flow from this culture are reconciliation and responsibility for nature, preservation of valuable objects in the Nuha tribe, and human harmony in relationships. The contribution of this research lies in the ultimate values and wisdom of the Tana Ai people in maintaining humanization relations between others and preserving nature. Keywords: Blatan Balik. Meaning Humanism. Cosmology. Young Generation. Relevance Abstrak. Penelitian ini berfokus pada penggalian nilai-nilai kosmologi dan humanisasi yang terkandung dalam budaya Blatan Baliksuku Ipir. Nuha dan Hebing yang dihimpun dalam satu rumah adat di Tanarawa. Waiblama. Maumere-Flores-Nusa Tenggara Timur. Budaya Blatan Balikadalah ritus yang berisi mendamaikan kosmos dengan sesama ciptaan atau dalam bahasa Tana Ai . latan gahu ro. , dan yang kedua mendinginkan barang Ae barang berharga yang tersimpan di rumah adat seperti gong, bahar, gading dan benda berharga lainnya yang ada dalam rumah adat itu . Kedua ritus ini merupakan sebuah penghormatan dan rekonsiliasi terhadap alam Karena itu, menggali kekayaan komologis dan humanisasi yang terkandung dalam budaya Blatan Balik merupakan bentuk penghormatan terhadap alam ciptaan dan juga sebuah proses humanisasi serta nilai kearifan Penghormatan terhadap alam ciptaan dan sebuah proses humanisasi adalah dasar kebijaksanaan hidup berupa kerangka pengetahuan, kerangka keyakinan baik dalam persatuan kekeluargaan integralistik atau pun persatuan dalam masyarakat luas, serta menunjukan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan tersebut. Maka menggali kekayaan kosmologi dan humanisasi dalam budaya Blatan Balikmerupakan bentuk penghormatan terhadap alam dan rekonsiliasi terhadap sesama alam ciptaan serta sebuah kebijaksanaan hidup masyarakat Tana Ai (Tanaraw. ,Waiblama. Maumere. Flores-Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan, mengumpulkan sumber dari jurnal, buku-buku yang berkaitan. Penelitian ini menemukan bahwa budaya Blatan Baliksuku Nuha Tanarawa merupakan sebuah model relasi humanisasi dan kosmologi, antara sesama manusia, alam, sesama ciptaan lainnya serta sang pemberi kehidupan. Nilai-nilai yang mengalir dari budaya ini adalah pendamaian dan tanggung jawab terhadap alam, pelestarian terhadap benda berharga dalam suku Nuha, serta keharmonisan manusia dalam berelasi. Received April 30,2024. Accepted Mei 06, 2024. Published Mei 31, 2024 * Yosef Usman yosefusmanpasionis@gmail. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Sumbangan penelitian ini terletak pada nilai-nilai luhur . ltimate value. dan kebijaksanaan orang Tana Ai dalam menjaga relasi humanisasi antara sesama dan melestarikan alam. Kata kunci: Blatan Balik. Makna Humanisme. Kosmologi. Generasi Muda. Relevansi LATAR BELAKANG Salah satu persoalan krusial dan fundamental yang sedang dihadapi negara Indonesia dewasa ini ialah relasi humanisasi dengan sesama manusia dan persoalan relasi kosmologi. Persoalan relasi humanisasi sesama manusia dan persoalan relasi kosmologi bukan hanya menjadi isu di daerah tertentu saja melainkan juga menjadi persoalan global. Sebab kerusakan kosmologi baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar tentu mempengaruhi pola pikir manusia dan kerangka keyakinan manusia terhadap kosmos serta membawa dampak buruk bagi keberadaan hidup manusia itu sendiri di bumi pertiwi Indonesia dan hal ini juga dilansir dalam Kompas, dalam kolom Humaniora, 2. bahwa dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 yang berlangsung sejak Juni lalu di sejumlah daerah menjadi momentum untuk menghidupkan kembali praktik-praktik kebudayaan tersebut. Di Indonesia banyak orang yang berorientasi dengan alam sekitar. Itu yang ingin dihidupkan manusia Indonesia di sini dan saat ini. Kegiatan terdesentralisasi diharapkan memunculkan ekspresi kebudayaan yang selama Dengan Persoalan siklus iklim, musim dan cuaca, pencemaran lingkungan berupa polusi udara dan air, sampah dan limbah-limbah pabrik, musnahnya flora dan fauna tertentu dan bencana alam adalah potret dari sederetan persoalan yang menimpah wajah bumi akhirakhir ini (Adon 2016. Sebagian manusia tidak menyadari bahwa semua hal ini terjadi karena paradigma berpikir dan gaya hidup yang cenderung konsumtif-hedonis, materialis dan egois yang semuanya mengarah pada kerusakan lingkungan hidup (Heydemans and Langi 2. Problem semacam ini didasari karena pola relasi humanisasi dengan kosmos dan sesama ciptaan dibangun di atas pola relasi liyan . ku, dia, kamu, merek. (Riyanto Armada 2. Kosmos dipandang sebagai realitas ada atau objek yang dapat dimanfaatkan oleh manusia zaman Model relasi semacam ini juga didukung oleh pemahaman kerangka keyakinan dan pola pikir yang keliru, dimana manusia memberi referensi pada kosmos sebagai pusat dari alam semesta . (Putra 2. Dampaknya eksploitasi, penghancuran besar-besaran terhadap kosmos dibenarkan karena manusia menjadi objek sentral atas kosmos . Isu global yang dihadapi manusia di sini dan saat ini menjadi sebuah keharusan untuk segera diatasi. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 Menanggapi situasi semacam ini salah satu langkah terbaik yang dapat dilakukan ialah kembali pada budaya lokal . ocal makin. dengan menyibak nilai filosofis dan nilai guna . yang luhur dari nenek moyang terkait pola relasi humanisasi yang saling menguntungkan satu sama lain yaitu manusia yang satu dengan manusia yang lain, antara cosmos dan sang pemberi kehidupan serta semua saja ciptaan yang ada di bumi ini. Maka dari itu, budaya lokal yang diangkat dalam penelitian ini adalah budaya lokal . ocal makin. Blatan Baliksuku Ipir. Nuha dan Hebing yang dihimpun dalam satu rumah adat di Tanarawa-Waiblama-Maumere-FloresNusa Tenggara Timur. Salah satu kearifan lokal dari budaya Tana Ai yang menjelaskan tentang relasi humanisasi dengan kosmos ialah budaya Blatan Balikdari suku Ipir. Nuha dan Hebing. Blatan Balikadalah ritus-ritus yang dilakukan suku suku Ipir. Nuha dan Hebing yang mengekspresikan penghormatan terhadap kosmos, dan mendinginkan barang-barang berharga atau rempahrempah seperti gong, bahar . , bala . , tipa . , ledan . Mone adalah bagian dari tanggung jawab manusia setempat terhadap kosmos. Blatan Balikmerupakan istilah atau sebutan umum yang berkaitan dengan ritus yang dilakukan orang Tana AiTanarawa pada saat . latan gahu ro. , dan yang kedua mendinginkan barang Aebarang berharga yang tersimpan di rumah adat seperti gong, bahar, gading dan benda berharga lainnya yang ada dalam rumah adat itu . Riyanto menyebutkan sketsa tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat Tana Ai- Tanarawa AuduniaAy bukan sekedar dimaknai sebagai kaki menginjak. Melainkan AuduniaAy adalah horizon, cakrawala, orientasi yang dengannya manusia menghidupi bentuk-bentuk AurasionalitasAy yang kaya. Rasionalitas manusia dengan AuduniaAy hidupnya . utan, sungai, gunung, lembah dan lain-lai. ditemukan harta karun kebijaksanaan lokal (Riyanto 2. Oleh karena studi tentang kearifan lokal studi tentang alam, laut, air atau sejenisnya dan studi ini berkaitan dengan rasionalitas manusia dengan dunia hidupnya termasuk kosmos itu. Pengalaman humanisasi ini memproduksi nilai-nilai setempat yang kita sebut kearifan-kearifan lokal. Riyanto menambahkan kearifan lokal tidak terjadi dalam satu dua tahun melainkan berabad-abad lamanya, yang tidak mungkin dilacak oleh metodologi ilmu pengetahuan apapun secara persis (Riyanto 2. Founding fathers (Bung Karn. juga mengatakan berkata bahwa nenek moyang kita telah mewariskan kepada kita nilai-nilai kelima Pancasila yang telah ada jauh sebelum kedatangan agama-agama doktrinal (Soekarno 2. Jadi maksud dari Riyanto . kearifan lokal filsafat yang hidup di dalam hati masyarakat, berupa kebijaksanaan akan kehidupannya, way of life, adalah ritus-ritus ada dan sejenisnya, yang melukiskan kedalaman batin manusia dan keluhuran rasionalitas dengan sesama serta keluhuran rasionalitas hidupnya. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Kearifan lokal memiliki karakter yang lekat dengan locus . Kata AuLocusAyyang dimaksudkan Riyanto bahwa bukan hanya sudut pandang geografis, melainkan kehidupan manusia yang berkaitan dengan AuwilayahAy. Tempat tinggal di suatu wilayah tidak hanya berupa dataran atau pegunungan, atau pinggiran pantai, hutan atau sawah melainkan mengurai suatu kebijaksanaan yang khas (Riyanto 2. Relasi humanisasi mereka dengan konteks hidup itu kerap dirupakan dalam mitos, legenda, atau simbol-simbol bangunan atau alam atau yang lain yang didalamnya melahirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mempesonakan. Karena itu mitos bukanlah kisah khayalan . tau cerita untuk pengantar tidu. , melainkan suatu AurasionalitasAy dalam bentuk perdananya yang merupakan produk rasionalitas manusia dengan alam hidupnya (Adon 2016. Oleh karena itu, penelitian ini ingin menyibak kekayaan kearifan lokal yang terkandung dalam budaya Blatan Balikmasyarakat Tana Ai- Tanarawa. Tujuannya untuk mengangkat konsep-konsep humanisasi dan kosmologi orang Tana Ai- Tanarawa ke khazanah filosofis. Penelitian tentang kearifan lokal Tana Ai- Tanarawa yang berkaitan dengan relasi manusia yang satu dengan yang lain, relasi manusia dengan kosmos, atau sesama ciptaan. Menyibak relasi kosmologi dalam budaya telah banyak dilakukan seperti penelitian yang dilakukan oleh orang sebagian orang Flores salah satunya adalah Resmini dan Mulut tahun 2020 dalam sebuah penelitian yang berjudul. AuUpacara Penti dalam Masyarakat Kampung Rato di Kabupaten ManggaraiAy. Dalam penelitian ini Resmini dan Mabut meneliti tentang upacara penti dalam budaya Manggarai adalah ungkapan syukur kepada Mori Keraeng yakni Sang Pencipta sekaligus sebagai perayaan untuk mengungkapkan pentingnya melestarikan alam ciptaan (Resmini and Mabut 2. Resmini dan Mabut menemukan disisi lain juga bahwa dalam perayaan penti masyarakat Manggarai terkandung nilai gotong-royong dan solidaritas dengan sesama. Selain itu juga Bustan. Mahur dan Nau tahun 2020 dalam sebuah penelitian yang berjudul. AuKarakteristik dan Dinamika Sistem Pertanian Lahan Kering dalam Kebudayaan ManggaraiAy. Bustan. Mahur dan Nau menemukan bahwa sistem dinamika pertanian lahan kering mengungkapkan identitas masyarakat Manggarai sebagai masyarakat Penelitian serupa juga dilakukan oleh Sumardi. Suka dan Sukardja tahun 2017 dengan judul. AuMakna dan Fungsi Sawah Lodok di Kampung Meler Desa Meler. Kecamatan Ruteng. Kabupaten Manggarai. Nusa Tenggara TimurAy. Persoalan yang mereka temukan di sana bahwa sawah lodok di kampung Meler. Desa Meler merupakan lahan pertanian yang diwariskan secara turun-temurun sebagai sebuah model pertanian dimana di dalam sistem pertanian lodok tersebut terkandung nilai-nilai filosofis yang kaya seperti kebersamaan, persatuan dan kerjasama (Sumardi. Suka, and Sukardja 2. Mereka juga menemukan bahwa melestarikan ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 sistem persawahan lodok desa Meler adalah bentuk penghargaan terhadap kebijaksanaan Dengan demikian, penelitian tentang budaya Blatan Balikdalam suku Ipir. Nuha dan Hebing budaya Tana Ai Tanarawa belum pernah dilakukan. Karena itu, kekhasan penelitian ini terletak pada penggalian nilai humanisasi filosofis, kosmologi yang terdapat dalam ritusritus budaya Blatan Baliksuku Ipir. Nuha dan Hebing dalam terang filsafat budaya. Filsafat budaya menjadi konsep-konsep humanisasi filosofis untuk mengerti nilai-nilai kosmologis dalam budaya Blatan Balik. Metodologi studi kearifan lokal semacam ini mau mengatakan suatu metodologi interdisipliner, suatu metodologi yang membuka diri terhadap aneka kontribusi berbagai ilmu pengetahuan alam. Armada Riyanto . mengatakan bahwa diantara beberapa pandangan tentang disiplin ilmu yang sangat berperan dalam studi kearifan lokal adalah filsafat fenomenologi. Filsafat fenomenologi memberikan sumbangsi interpretasi hermeneutis yang kebenarannya tidak difungsikan pada teks-teks atau prinsip-prinsip deduktif, melainkan pada pengalaman konkret masyarakat dalam melakukan peziarahan hidup bersama (Riyanto 2018. Adanya cita rasa religius dalam upacara ritual Nyadaran misalnya, tidak ditumpukan pada naskah-naskah kuno melainkan dari hidup masyarakat Jawa yang memuja peran dari Tuhan Sang Pencipta (Suliantoro 2. Perspektif fenomenologi berkutat soal dinamika pengalaman konkret masyarakat yang menghayati nilai-nilai nilai guna . yang luhur. Dengan kata lain, studi kearifan lokal berkaitan dengan konsep keberadaan manusia yang menghumanisasi lewat pengalaman hidup dengan sesama manusia. Tuhan, dan kosmos. Sumber-sumber sangat penting dan memadai untuk sebuah konsep eksplorasi studi filsafat Menurut penulis bahwa nilai-nilai . yang luhur dan kerangka keyakinan . elief syste. merupakan hasil proses humanisasi manusia dengan yang lain atau Liyan. Mengutip pandangan Martin Buber bahwa,AuAku membutuhkan Engkau untuk menjadi Aku. sambil menjadi Aku, saya mengatakan EngkauAy(Buber 1. Riyanto menambahkan kesadaran manusia tersebut merupakan buah dari hubungan atau relasinya dengan yang lain, sehingga eksistensi manusia ialah ada bersama dengan yang lain (Riyanto 2. Karena itu, menurut pendapat penulis bahwa relasi humanisasi dan kosmologi menjadi sebuah pedang emas dalam menyibak, merefleksikan nilai-nilai . , serta mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Blatan Balik sehingga menjadi sajian humanisasi-filosofis-kosmologis yang tepat bagi filsafat budaya Indonesia. Dengan kata lain, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menemukan, menyibak relasi humanisasi dan komologi serta karakter-karakter filosofis dari budaya bangsa Indonesia sendiri untuk kemudian dikontekstualisasikan dalam Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya kehidupan sehari-hari di sini dan saat ini . ic et nun. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menggugah kembali kesadaran orang Tana Ai- Tanarawa secara khusus generasi muda dan juga petua adat dan orang Indonesia pada umumnya untuk kembali membangun sebuah relasi yang harmonis dengan sesama manusia. Tuhan, dan kosmos atau alam itu sendiri. KAJIAN TEORITIS Bagian ini menguraikan teori-teori relevan yang mendasari topik penelitian dan memberikan ulasan tentang beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dan memberikan acuan serta landasan bagi penelitian ini dilakukan. Jika ada hipotesis, bisa dinyatakan tidak tersurat dan tidak harus dalam kalimat tanya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan cara penelitian kualitatif. Penulis mengumpulkan data melalui wawancara dan studi literatur dalam buku-buku yang berkaitan dengan budaya Blatan Balikdan melihat jurnal- jurnal ilmiah yang berkaitan dengan ruang lingkup kosmologi. Wawancara dilakukan dengan tua adat, tokoh masyarakat, pemerintah desa suku Nuha. Ipir, dan Hebin di Tanarawa-Waiblama-Maumere-Flores-Nusa Tenggara Timur, yakni bapak Bapak Laurensius lalun selaku tua adat suku Ipir. Bapak Selestinus anggota tua adat sekaligus tokoh masyarakat. Bapak Kornelis Keso anggota tua adat sekaligus tokoh masyarakat. Bapak Kristianus Kleruk selaku pemerintah desa Tanarawa, dan Bapak Kristianus Lewar selaku pemerintah Desa Tanarawa. Mereka ini sangat mengenal dengan baik budaya Blatan Balik dan sekaligus sebagai pemelihara tradisi Blatan Balik . Saat ini Bapak Laurensius lalun berumur 75 tahun. Wawancara tentang budaya Blatan Balikdilakukan pada tanggal 3 Mei 2023. Sedangkan studi literatur tentang budaya Blatan Balikdilaksanakan sejak 2 Februari 2023-21 April 2023. Proses penelitian dilakukan dengan pertama-tama membaca sumber-sumber literatur yang membahas budaya Blatan Balik. Kedua studi sumber tersebut menghasilkan tesis penelitian. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Dalam Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing TanarawaMaumere- Flores- Nusa Tenggara Timur. Dalam pengerjaan penelitian dilakukan dengan pertama-tama memadukan hasil penelitian berdasarkan wawancara dengan melihat sumbersumber dari buku dan artikel jurnal. Kedua, membaca sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan ruang lingkup kosmologi dan dianalogikan dengan budaya Blatan Balikdalam budaya Tana Ai Tanarawa maupun sumber-sumber sekunder dari artikel jurnal yang berkaitan dengan relasi humanisasi dan relasi kosmologi. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 Menurut penulis bahwa humanisasi kebudayaan dapat dilihat sebagai realitas AuAdaAy bagi manusiawi. Di satu pihak dipandang sebagai pencapaian manusia dalam berelasi dengan kosmos maupun lingkungan sosialnya. dan di lain pihak juga merupakan proses humanisasi itu Karena itu, relasi humanisasi adalah relasi yang menjunjung tinggi sikap manusia terhadap kosmos, kepedulian, kepekaan terhadap realitas kosmos, penghormatan kepada barang barang berharga dalam rumah adat . dan berimbas pada relasi antara sesama manusia, dengan semua ciptaan. Relasi humanisasi itu kemudian mengarahkan manusia pada relasi dengan liyan . ku, dia, kamu, dan merek. serta Allah . sebagai sumber kesempurnaan dan kesatuan yang erat dalam hidup manusia disini dan saat ini . ic et nun. Maka dari itu, model relasi humanisasi itu menjadi suatu komitmen dasar rasionalitas antara sesama manusia. Jawaban penelitian yang diperoleh dari wawancara serta sumber-sumber primer tentang kosmologi yang dianalogikan budaya Blatan Balikdan relasi humanisasi manusia zaman sekarang lalu dipadukan dengan sumber-sumber sekunder penelitian yang berasal dari buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah yang membahas pemikiran relasi humanisasi dan kosmologi lantas membentuklah sebuah konsep budaya Blatan Balik. Dalam penelitian ini,penulis mengumpulkan dan menyeleksi sumber-sumber tertulis yaitu dari buku-buku dan jurnal ilmiah, kemudian dibagi menjadi dua bagian yakni sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer berupa hasil data wawancara dan. Sedangkan sumber sekunder berasal dari buku- buku dan jurnal ilmiah yang membahas kedua tema tersebut. Hasil Analisis penelitian dilakukan dengan menganlogkan konsep relasi budaya Blatan Balik dengan relasi humanisasi dalam suku Ipir. Nuha, dan Hebing. Dengan demikian, konsep relasi humanisasi menjadi konsep-konsep filosofis untuk mengerti konsep kosmologi suku Ipir. Nuha, dan Hebing dalam budaya Blatan Balik. Proses humanisasi itu dilakukan agar manusia dalam suku Ipir. Nuha, dan Hebing maupun siapa pun tahu menilai dan membedakan macam-macam dalam ritus Blatan Balikdalam suku Ipir. Nuha, dan Hebing serta dimensidimensi filosofis yang terkandung di dalamnya. Kedua, memperkenalkan butir-butir kebijaksanaan manusia dalam berelasi dengan sesama, kosmos, dan Allah serta semua ciptaan yang ada di bumi pertiwi Indonesia. Ketiga, menganalogkan konsep kosmologis dalam budaya Blatan Balikdengan rasionalitas humanisasi manusia zaman sekarang. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya Blatan Baliksebagai warisan para leluhur Bagian ini memuat proses pengumpulan data, rentang waktu dan lokasi penelitian, dan hasil analisis data . ang dapat didukung dengan ilustrasi dalam bentuk tabel atau gambar. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya bukan data mentah, serta bukan dalam bentuk printscreen hasil analisi. , ulasan tentang keterkaitan antara hasil dan konsep dasar, dan atau hasil pengujian hipotesis . ika ad. , serta kesesuaian atau pertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya, beserta interpretasinya masing-masing. Bagian ini juga dapat memuat implikasi hasil penelitian, baik secara teoritis maupun terapan. Setiap gambar dan tabel yang digunakan harus diacu dan diberikan penjelasan di dalam teks, serta diberikan penomoran dan sumber acuan. Berikut ini diberikan contoh tata cara penulisan subjudul, sub-subjudul, sub-sub-subjdul, dan seterusnya. Bapak Laurensius lalun. Bapak Selestinus. Bapak Kornelis Keso. Bapak Kristianus Kleruk, dan Bapak Kristianus Lewar sepakat menyatakan masyarakat Tana Ai di Desa Tanarawa sangat mengerti bahwa budaya Blatan Balikmerupakan warisan para leluhur yang masih dipertahankan sampai zaman sekarang dan perlu dijaga oleh generasi muda. Budaya Blatan Baliksangat penting dilaksanakan setiap tahun yaitu pada bulan November atau Desember atau menjelang musim tanam. Budaya Blatan Balikini selalu dilakukan jika pada bulan November atau Desember atau masyarakat masih mengalami musim yang sangat panas maka dengan istilah masyarakat setempat bahwa blatan gahu rou. Makna ini mau mengatakan relasi antara manusia dan kosmos atau terhadap Sang Khalik sebagai sarana komunikasi intern. Oleh karena itu untuk bahan-bahan terlaksananya ritual ini, maka dipersiapkan sejumlah bahan persembahan seperti Kelapa muda (Kabor kuba. untuk memerciki barang-barang, babi . untuk sembahan ke nenek moyang, ayam . untuk sembahan ke nenek moyang, dan daun Oleh Karena itu, barang-barang di atas menjadi syarat berjalannya ritual Blatan Balik. Walaupun demikian dalam kenyataannya hal ini tidak mudah dilakukan apabila dalam diri tua adat dan siapa saja yang hadir harus yakin dan percaya bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar dalam pelaksanaan ritual ini. Soleman dalam tulisannya mengatakan bahwa ritual merupakan suatu bentuk upacara yang berhubungan dengan beberapa kepercayaan atau agama dengan ditandai oleh sifat khusus yang menimbulkan rasa hormat yang luhur dalam arti merupakan pengalaman suci (Mundur. M, 2005:. Koentjaraningrat juga mengatakan bahwa ritual adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1984:. Menurut Bapak Laurensius lalu. Bapak Selestinus. Bapak Kornelis Keso. Bapak Kristianus Kleruk, dan Bapak Kristianus Lewar juga mengatakan bahwa nilai religius dari ritual ini adalah keyakinan dan ketaatan kepada Sang Khalik. Keyakinan ini nampak dalam Sikap dan tanggung jawab masyarakat Tana Ai kepada Sang Khalik relasi kosmis dalam kehidupan, atau sebagai pengatur ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 hidup manusia dan yang menguasai kosmos. Hal ini disimbolkan dengan Gong yang dibunyikan pada saat upacara berlangsung. Hakikat Budaya Blatan BalikDalam Budaya Tana Ai Dalam budaya Tana Ai budaya Blatan Balik mempunyai hakikat yang cukup Hakikat tersebut dapat diketahui bahwa setiap budaya pasti punya makna indah, dan lebih dari itu memberikan sumbangsi kepada masyarakat setempat. Dalam budaya Blatan Balikhakikatnya adalah mempunyai nilai ekologis yang sangat relevan situasi di daerah setempat secara khusus pembagian periode yang ada di Indonesia yaitu musim panas, dingin dan hujan. Selain itu nilai yang diperoleh dari budaya Blatan Balikadalah nilai vital, simbolik, ritual, dan etis. Karakteristik dan nilai-nilai inilah yang sangat melekat erat pada manusia secara khusus masyarakat Tana Ai. Masyarakat Tana Ai juga kaya dengan bahasa, norma, kepercayaan, adat istiadat, seni, bahkan tradisi sebagai sumber identitas dan kesatuan sosial. Secara etimologis kata Blatan Balikdalam budaya Tana Ai terdiri dari dua suku kata yaitu AuBlatanAy dan AuBalikAy. Kata AuBlatanAy berarti dingin, dan AuBalikAy yang berarti barang atau harta kekayaan dalam suku itu seperti Gong. Bahar. Gading dan benda berharga lainnya. Para penulis mencoba membahas tentang hakikat dari budaya itu sendiri. Beberapa tokoh mencoba berbicara tentang hakikat budaya antara lain: Clifford Geertz dengan karyanya "The Interpretation of Cultures" . oleh Basic Books. Geertz menyatakan bahwa budaya adalah sistem simbolik yang dapat diinterpretasikan oleh manusia melalui tafsiran makna, simbol, dan ritual. Lalu. Edward T. Hall dengan bukunya "The Silent Language". oleh Doubleday and Company berfokus pada aspek non-verbal dari budaya, seperti bahasa tubuh, jarak interpersonal, dan waktu. Hall menyatakan bahwa pemahaman yang akurat tentang budaya memerlukan pengetahuan tentang dimensi-dimensi ini. Kalau melihat dari aspek ini, budaya Blatan Balikjuga juga mempunyai aspek verbal, dan nonverbal. Selain itu. Marshall McLuhan dengan bukunya "Understanding Media: The Extensions of Man" . oleh McGraw-Hill Education berbicara tentang bagaimana media dan teknologi mempengaruhi dan membentuk budaya manusia. McLuhan menyatakan bahwa "media adalah pesan" dan bahwa media memainkan peran penting dalam mengubah cara manusia berpikir dan bertindak. Oleh karena itu para tokoh-tokoh di atas mengatakan bahwa hakikat budaya melibatkan simbol, nilai, perilaku, dan teknologi yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan berhubungan dengan dunia sekitarnya. Sifat hakikat kebudayaan adalah kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Warisan budaya dalam diri seseorang atau masyarakat tentu diperoleh dari kelompok masyarakat dimana seseorang atau masyarakat itu hidup (Rede Blolong, 2. Dengan kata lain budaya ada dahulu sebelum manusia. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah laku. Sifat hakikat kebudayaan adalah kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya. Kata Robin. Williams. Jr bahwa Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajibankewajiban yang diterima dan ditolak tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan (Williams. Jr, 1. Dalam konteks ini budaya Blatan Balikmencakup perilaku masyarakat setempat dalam menilai situasi kosmos sebagai bagian dari hidup mereka karena pada umumnya masyarakat Tana Ai bermata pencaharian petani dan sangat mengharapkan musim yang baik. Di sinilah hakikat dari budaya Blatan Balikmau mengupas soal situasi kosmos . ituasi musi. Budaya Blatan Balik sebenarnya mau mengatakan soal bagaimana masyarakat mempersiapkan diri menjelang musim tanam, dan lebih dari itu dalam budaya Tana Ai Upacara Pendinginan terhadap barang atau harta yang dimiliki seseorang dimana baru didapatkan dalam waktu yang lalu seperti satu tahun yang lalu, dua bulan yang lalu. Sehingga dalam istilah budaya Tana Ai bahwa barang Ae barang yang baru barang-barang tersebut harus melalui proses pendinginan sehingga dalam pemakaiannya sangat bertahan dan bisa membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Maka diadakan upacara Blatan Balik. Dimensi-Dimensi Budaya Blatan BalikDalam Budaya Tana Ai Dalam budaya Tana Ai budaya Blatan Balik mempunyai dimensi yang sangat nyata dan Dengan adanya dimensi budaya, manusia mengetahui secara benar dan tepat dari budaya Dalam budaya, secara khusus budaya Tana Ai tentu pasti mempunyai banyak dimensi baik dimensi material mencakup soal barang Aebarang berharga seperti. Gong. Bahar. Gading dan benda berharga lainnya. Rumah adat di sini milik dari klen Ata PuAoan (Kepala Suk. , yang digunakan untuk menyimpan alat-alat dan bahan dalam pelaksanaan ritual. Di dalam rumah adat terdapat sebuah sope . iring keci. peninggalan nenek moyang (E. Douglas, 2. Penulis mau melihat beberapa dimensi budaya yang sering dibahas dalam kajian antropologi dan sosiologi antara lain: Geertz Clifford menyebutkan bahwa dimensi material, mencakup segala benda atau barang yang digunakan atau diciptakan oleh manusia, seperti alat-alat, bangunan, pakaian, senjata, dan sebagainya. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 Dimensi sosial, mencakup aspek-aspek kehidupan sosial manusia, seperti struktur sosial, hierarki, status, norma-norma, dan aturan-aturan yang mengatur interaksi antarindividu (Geertz Clifford, 1. Aturan terkait budaya Blatan Bali jelas diadakan setiap tahun. Dimensi politik, mencakup segala hal yang berkaitan dengan organisasi kekuasaan dalam suatu masyarakat, seperti bentuk negara, lembaga-lembaga politik, hukum, dan sistem pemilihan (Ibi. Pada poin pertama penulis menjelaskan mengenai perlengkapan dalam ritus budaya Blatan Balik tentu yang paling penting adalah Gong. Bahar. Gading dan beda berharga lainnya. Selain Itu juga dalam proses ritual berlangsung barang yang digunakan dari bahan alam seperti sendok makan, periuk, kauli, dan lain-lain. Barang-barang ini menyangkut soal soal dimensi material dan didalamnya terdapat unsur etis dan estetis. Selain itu juga. Dimensi ekonomi: mencakup segala aspek kegiatan manusia dalam mencari nafkah, seperti pertanian, perindustrian, perdagangan, dan sebagainya. Dimensi estetika: mencakup segala aspek keindahan dan kesenian manusia, seperti seni lukis, seni musik, seni tari, dan sebagainya (Alfred L. and Clyde Kluckhohn, 1. Dimensi agama: mencakup segala aspek kepercayaan dan keyakinan manusia terhadap sesuatu yang dianggap suci dan transenden, seperti Tuhan, malaikat, roh, dan sebagainya. Dimensi lingual: mencakup segala hal yang berkaitan dengan bahasa dan komunikasi, seperti sistem bahasa, tata bahasa, dialek, dan sebagainya (Ibi. sini terlihat jelas bahwa dimensi kosmologis dalam tarian budaya Blatan Balik menjadi nyata dalam kehidupan. Namun ada dimensi tertentu yang sudah diasimilasikan dengan budaya lain dalam konteks zaman sekarang. Hal ini menyangkut keyakinan umum . ommon sens. soal badan riset Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Persoalan demikian akan tampak dalam zaman ini. Di sinilah generasi muda akan secara perlahan-lahan tidak terlibat . dalam upacara Blatan Balik ini, karena mereka beranggapan bahwa ada BMKG yang Selain itu mencakup juga soal dimensi agama yang menyangkut soal kepercayaan kebersatuan dengan Sang Pencipta. Hal ini akan terlihat jelas ketika masyarakat setempat bersatu dan berkumpul untuk memulai upacara Blatan Balik dengan hikmat. Persekutuan inilah menyatukan cara hidup dan relasi dengan kosmologi. Ronald H. Nash menjelaskan bahwa argumen kosmologi mencakup dua aspek penting. Pertama. Tuhan adalah penyebab pertama yang bersifat temporal. Kedua Tuhan adalah penyebab pertama yang bersifat logis. Tuhan dikatakan sebagai penyebab pertama karena Ia adalah awal dari rangkaian sebab dan akibat yang menjadikan dunia dalam kondisinya ini (Nash, 1. Jika tidak ada penyebab pertama, tidak ada juga akibat-akibat lain yang mengikutinya. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Makna Kosmologi Dalam Budaya Blatan BalikDi Zaman Modern Setiap budaya pasti mempunyai makna yang kuat baik dari segi sakral, religi, dan lain Aksentuasi dari budaya Blatan Balik sebenarnya mengacu soal bagaiman manusia memebangun relasi yang erat dengan kosmos. Makna kosmologi dalam budaya Blatan Balik adalah sebagai berikut: Makna memberi kesegaran baru bagi kosmos Upacara Blatan Balik biasanya melibatkan banyak orang terutama tau-tua adat atau orang-orang dari suku yang bersangkutan atau bahkan siapa saja yang mau terlibat dalam upacara tersebut. Dalam upacara ini berhubungan dengan acara pendinginan panas selama satu tahun . au ro. yang ada, sehingga dilakukan sebagai ungkapan kesegaran jiwa raga manusia dan kosmos. Hal ini menunjukkan kedamaian dengan kosmos menjadi salah satu yang sangat esensial bagi manusia di sini dan saat ini (Hic et Nun. Makna pengakuan kesalahan manusia terhadap kosmos di sekitarnya Budaya Blatan Balik juga memiliki makna pengakuan kesalahan, karena, dalam budaya Tana Ai Upacara Pendinginan terhadap barang atau harta yang dimiliki seseorang dimana baru didapatkan dalam waktu yang lalu seperti satu tahun yang lalu, dua bulan yang lalu. Sehingga dalam istilah budaya Tana Ai bahwa barang Aebarang yang baru didapatkan harus melalui proses pendinginan sehingga dalam pemakaiannya sangat bertahan dan bisa membantu kita dalam kehidupan sehari Ae hari. Memupuk persaudaraan untuk selalu berjalan bersama dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Makna religius Budaya atau ritual Blatan Balik memiliki makna religius yang tinggi. Budaya ini seringkali dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada sang Khalik atas kehidupan dan rahmat-Nya yang terus mengalir dalam satu periode. Menurut Poerwasito . mengatakan kekuatan unsur-unsur religi merupakan kepercayaan manusia terhadap keberadaan kekuatan tertinggi yang dianggap lebih tinggi kedudukannya dari pada manusia. Konstruktif Budaya Dan Reproduksi Budaya Blatan Balik Manusia sebagai makhluk yang berbudaya, hidup dengan sesama ciptaan, aku dia dan kamu dalam lingkungan yang dia . mengelaborasi atau mengkonstruksi sendiri makna dari budaya tersebut, sehingga menjadi tempat yang tepat untuk menyibak makna di balik budaya tersebut, yakhni Blatan Balik. Hal ini akan terlihat berbeda dengan pengkonstruksian ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 baik secara biologis, maupun genetis yang merupakan kondisi innatisme seperti postur, fisik, dan sebagainya. Konstruksi budaya Blatan Balik merupakan hasil konsensus yaitu adanya kesepakatan bersama dalam mengkonfrontasikan nilai-nilai kebijaksanaan dari kosmos itu sendiri. Dari konsensus yang ada, mau menunjukan bahwa hakikat manusia secara khusus masyarakat Tana Ai memiliki daya simpatik terhadap budaya Blatan Balik, masyarakat setempat mendapat ruang dan waktu untuk melihat makna dari budaya Blatan Balik itu. Hasil rekonstruksi budaya Blatan Balik melahirkan juga tipe lingkungan, baik lingkungan material, buatan manusia, sosial, maupun simbolik. Nilai simbolik budaya Blatan Balik menyangkut makna dan komunikasi sesama manusia. Allah, leluhur dan kosmos yang sebagaimana dikatakan bahwa menghidupkan praktik kebudayaan melestarikan bumi sebagai bentuk ekspresi budaya yang Secara historis budaya Blatan Balik adalah adat-istiadat yang khas dari budaya lain di Maumere-Flores NTT. Hal ini menunjukan bahwa kebijaksanaan masyarakat setempat mendapat tempat untuk menggerakkan sesama untuk terlibat dalam ritual Blatan Balik. Dengan demikian standar nilai luhur . ltimate valu. menjadi orientasi bersama untuk melihat relasi manusia. Allah, dan kosmos. Dalam historisitas ini bukan dipahami sebagai suatu entitas generik melainkan entitas Maksudnya adalah dalam budaya Blatan Balik tidak hanya kebudayaan diwariskan begitu saja, tetapi sebagai sistem nilai yang dinegosiasikan dalam keseluruhan interaksi antar manusia dengan kosmos dalam masyarakat yang dinamis. Dalam hal ini Irwan Abdullah mengatakan bahwa kebudayaan bukanlah suatu regenerasi yang menjadi turun-temurun dibagi bersama atau dipraktikkan bersama secara kolektif, tetapi tergantung pada karakter kekuasaan dan hubungan yang berubah dari waktu ke waktu (Abdulah, 2. Dari proses konstruksi budaya dan rekonstruksi budaya Blatan Balik ini menjadi mutatis mutandis bagi perilaku masyarakat setempat baik secara individual maupun kolektif. Ilmu-ilmu budaya juga menelisik adanya tanda yang melekat pada budaya itu. Simbol atau tanda yang melekat dalam ritual Blatan Balik yaitu ketika gong dibunyikan pada ritual Simbol itu pada hakikatnya adalah konstruksi dari budaya tersebut. Ernst Cashier dalam bukunya manusia dan kebudayaan sebuah essay tentang manusia 1987 mengatakan bahwa bentuk simbol atau tanda menjadi milik makhluk budaya-yakni manusia sendiri seperti agama, filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos dan, budaya. Simbol atau tanda itu bukan saja entitasentitas yang selesai dan tertutup, melainkan selalu memiliki potensi beruba, yang sekaligus juga mendorong perubahan tatanan sosial-kultural secara integral. Dalam budaya Tana Ai Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya secara khusus ritual Blatan Balik mengandung makna yang sangat produktif bagi kehidupan masyarakat Tana Ai. Dalam ilmu sosial atau ilmu sosiologi kontemporer telah banyak menjelaskan tentang bagaimana proses atau dengan kata lain reproduksi budaya mengandung arti bahwa ada fenotipe maupun generatif (Jenkins, 2. Dalam budaya Blatan Balik terjadi karena ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan proses itu berlangsung, seperti musim perubahan waktu dalam hal ini budaya blatan Balik dibatalkan pada setiap tahun pada bulan November atau Desember sebelum musim Tanam dimulai. Hal ini mengandung arti bahwa ada relasi antara manusia dan kosmos Kebudayaan Dan Makna Religius Dalam Budaya Blatan Balik Secara umum hubungan antara manusia dan Allah dalam perspektif budaya adalah hubungan yang kompleks dan diwarnai oleh nilai-nilai, norma dan tradisi keagamaan. Dalam Budaya Blatan Balik memiliki nilai-nilai, norma dan tradisi keagamaan. Budaya ini seringkali dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada sang Khalik atas kehidupan dan rahmatNya yang terus mengalir dalam satu periode. Masyarakat setempat selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan baik itu musim yang baik atau buruk dengan istilah mereka bahwa AuAma Lero Wulang RetaAy (Tuha. untuk menurunkan hujan (Nasi, 2. Lalu muncul pertanyaan lanjutan bahwa bagaimana menjelaskan relasi antara manusia, dan Allah dalam perspektif budaya? Kalau dilihat secara kaca mata rohani, konsep relasi antara manusia dan Allah dalam perspektif budaya dapat berbeda-beda, semuanya tergantung pada budaya yang diacu. Ini menyangkut peran agama dalam budaya Blatan Balik dan bagaimana makna religius mempengaruhi nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat. Kalau melihat dari budaya Blatan Balik, peran agama juga terlibat di dalamnya karena dalam budaya ini masyarakat setempat membentuk sebuah persekutuan. Dalam budaya Islam, misalnya, manusia dianggap sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada-Nya. Hubungan antara manusia dan Allah dipandang sebagai hubungan yang sangat intim, sehingga dijaga melalui pelaksanaan ibadah dan perilaku moral yang sesuai dengan ajaran agama (J. Z, 2. Dari pandangan ini, penulis melihat bahwa budaya Blatan Balik membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan dan sesama. Kemudian dalam budaya Kristen, manusia dianggap sebagai ciptaan Allah yang dipenuhi dengan kehendak bebas untuk memilih dan bertindak. Hubungan antara manusia dan Allah dipandang sebagai hubungan erat yang didasarkan pada pengampunan dan pemulihan hubungan yang terputus melalui penebusan Kristus. Dalam budaya Hindu, manusia dianggap sebagai bagian dari Brahman atau kebenaran yang mutlak, sehingga hubungan antara manusia ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 dan Tuhan dianggap sebagai hubungan yang sangat dekat dan berdampingan. Hubungan ini dipelihara melalui pelaksanaan berbagai ritual dan penghormatan terhadap dewa-dewi Hindu (Eliade. The encyclopedia of religion (Vol. Macmilla. Nilai Kebudayaan Blatan BalikDan Makna Humanisasi Kebudayaan dapat dilihat sebagai realitas AuAdaAy bagi manusiawi. Di satu pihak dipandang sebagai pencapaian manusia dalam berelasi dengan kosmos maupun lingkungan dan di lain pihak juga merupakan proses humanisasi itu sendiri. Dari pandangan orang beriman, kabudayaan tentu merupakan bagian integral dalam hidup manusia. Konsili Vatikan II Paus Yohanes II menyampaikan kepada seluruh Umat Katolik bahwa has a real and abiding interest in culture. This interest stems first of all from his preoccupation with man and with the human phenomenon. Culture, especially Christian culture, enables man to be fully The popeAos interest also flows from the struggle of his own Christian salvonik culture with the culture of atheistic marxisme (Shorter, 1. Di sini penulis mencatat bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk berbudaya: dibentuk dalam kebudayaan dan membentuk kebudayaan. Dalam budaya Blatan Balik. Budaya yang sangat relevan dengan situasi atau kondisi kosmologi di lingkungan sekitarnya dibentuk dan dibesarkan dalam kebudayaan, seperti analogi populasi ikan yang hidup di dalam air. Pertama-tama, manusia adalah makhluk alamiah yang berenang dalam arena kultural tertentu yang menjadi hidupnya. Yang kedua, manusia membentuk kebudayaan ia mengubah alam dan menyiasati masa depan lewat aktivitas-aktivitas kreatifnya. Manusia adalah makhluk kreatif . ausa su. sebab dari dirinya sendiri: ia menciptakan dirinya sendiri dan juga menentukan arah Kebudayaan merupakan kancah di mana manusia berjuang memeprgunakan skill inteligibelnya untuk meningkatkan mutu hidupnya, bukan hanya pendengar yang menipu Karya merupakan mediasi manusia dengan lingkungan alamnya. Dengan kata lain di satu pihak kebudayaan menentukan ruang gerak kehidupan manusia dan, di lain pihak kabudayaan menunjukan identitas manusia keluhuran dan mutu hidupnya. Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa manusia itu makhluk multidimensi: homo faber, humo ludens, homo creator, animal symbolicum, (Poepowardojo, 1. Manusia itu makhluk historis. Mengutip Ortega Y Gasset Poepowardojo mengatakan bahwa apa yang dipunyai manusia bukanlah kodratnya, melainkan sejarahnya (Poepowardojo, 1. Kalau merujuk pada Arnold Gehlen dikatakan bahwa menjadi manusia itu sendiri merupakan suatu tugas yang harus dilaksanakan bukan sekedar asal terlaksana melainkan terlaksana berdasarkan keputusan dan sikap yang diambilnya (Poepowardojo, 1. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Kemudian dengan Henri Bergson, memberi informasi bahwa historioritas itu terutama merupakan manifestasi dari proses perkembangan manusia dan dalam dirinya atau dengan kata lain Aycreation de soi par soiAy (Poepowardojo, 1. Poepowardojo memberikan kesimpulan bahwa dengan peneropongan historis semacam ini maka kebudayaan merupakan fungsi sosialnya sejauh manusia mencapai kesempurnaannya sebagai manusia. Di sinilah hubungan hunasisasi terjalin baik. Oleh karena itu usaha-usaha budaya secara khusus Budaya Blatan Balik di satu pihak bersifat membebaskan manusia dari alienasi, suatu emansipasi yang bertujuan membebaskan manusia dari keterbelakangan, kemelaratan, serta ketidakadilan dan di lain pihak mengisi arti kebebasan manusia dengan meningkatkan taraf dan mutu kehidupan Kebudayaan adalah pelaksanaan proses humanisasi (Poepowardojo, 1. Dengan mengatakan demikian, culture making merupakan bagian inti dari proses humanisasi itu-manusia menemukan kembali panggilan kreatifnya dalam arena budaya. Studi filsafat budaya ini secara khusus menggali makna terdalam dari budaya Blatan Balik mau mengajak tua adat dalam konteks zaman sekarang, generasi, muda, untuk lebih kritis analitis terhadap budaya . dan juga menghumanisasikan manusia secara optimis dalam aneka kreatifitas spekulatif maupun praktisnya dalam berkolaborasi dengan sesama ciptaan disini dan saat ini . ic et nun. Nilai-nilai budaya Balatan Balik mencerminkan identitas masyarakatnya. Pemahaman tentang nilai-nilai ini membantu dalam memahami bagaimana manusia mencapai humanisasi, yaitu proses menjadi manusia yang lebih baik dan lebih sadar. Hidup manusia yang terus mengalir menuntut budaya juga ikut berkembang. Peursen mengatakan bahwa kebudayaan sebagai keterangan antara imanensi dan transendensi dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia seluruhnya. Masyarakat Tana Ai mempunyai ciri khas tersendiri dalam membangun relasi baik sesama manusia, maupun dengan kosmos. Relasi antara kosmos akan terlihat jelas ketika mereka melakukan ritual Blatan Balik. Disini akan terlihat jelas makna humanisasi yang dibangun sejak para leluhur. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan . , tetapi selalu juga muncul dari arus alam raya itu untuk menilai alamnya sendiri dan mengubahnya . Manusia menilai dan mengevaluasi alam sekitarnya tetapi pun pula alamnya sendiri, dan evaluasi tersebut tidak hanya dilakukannya lewat daya-dayanya yang lebih tinggi atau yang bersifat rohani, seperti misalnya ilmu pengetahuan, kesadaran moral, keyakinan religius, kesadaran sosial dan ilmu kemasyarakatan (C. van Peursen, 1. Ilmu pengetahuan, kesadaran moral inilah membantu masyarakat setempat untuk menyadari akan dunianya, dan alam sekitarnya. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 Armada Riyanto mengatakan bahwa aku berelasi, keserupaan antara AuAkuAy,Allah dan AuakuAy manusia menjadi nyata dalam posibilitas komunikasi. Dimungkinkan inter-relasi Allah dan manusia, bahkan inter-relasi yang dekat semata karena AuakuAy (Riyanto, 2. Makna humanisasi dalam budaya Blatan Balik akan terlihat ketika masyarakat setempat membangun relasi yang baik antara sesame. Inilah Riyanto menyebutkan aku dan liyan. Pada dasarnya manusia tidak hanya mengkomunikasikan dirinya kepada satu partner saja, tetapi harus mampu mengkomunikasikan semua yang lain sekaligus. dan itu meliputi semua orang dan seluruh alam Keseluruhan itu seakan-akan tanpa batas. mengelilinginya dari segala segi dan Dalam cara reaksi itu kelihatan pengaruh dan komunikasinya. Manusia tidak hanya berdialog dalam bentuk AubehaviourAy atau tingkah laku tanpa saling menyentuh seakan-akan dari seberang celah. tetapi sungguh-sungguh mengkomunikasikan dirinya kepada yang lain. menyeberang batas kulitnya dengan pengaruh yang mengadakan yang lain. Komunikasi itu keluar dari batas substansinya, dan meresapi seluruh dunia, dengan menyentuhnya sampai pada Pengaruh itu harus memiliki ciri yang khusus karena bersifat spiritual-material (Antonius. Deki Dau. Un Bria, 2. Sebab pada hakikatnya, manusia sebagai ciptaan Tuhan secara sadar memiliki hubungan individu antara manusia dengan penciptanya. Hubungan tersebut dapat diwujudkan dengan berbagai cara baik melalui agama maupun berbagai pola kepercayaan kebudayaan yang selalu dipegang teguh dan melekat dalam kehidupan keseharian. Dalam kebudayaan itu sendiri termuat unsur ritual yang bertujuan agar masyarakat yang menghidupi budaya tersebut dalam hal ini masyarakat Suku Tana Ai bisa memahami pentingnya kehadiran Allah sebagai sang pencipta dan pemberi hidup. Dengan demikian mereka tidak lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan AuAmang Lero Wulang RetaAy (Tuha. untuk menurunkan hujan (Nasi, 2009:. Peran Generasi Muda Mengambil Hikmah Di Balik Budaya Blatan Balik Sebagai Bentuk Tanggung Jawab Terhadap Budaya Generasi muda memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Balatan Balik. Mereka harus memahami warisan kebudayaan dan mengambil hikmah dari nilai-nilai dari tradisi tersebut. Ini penting karena dengan memahami budaya, generasi muda dapat menjaga keberlanjutan dan identitas budaya dalam konteks zaman sekarang. Dalam konteks zaman sekarang, pemahaman tentang aspek-aspek ini membantu dalam menjaga keberlanjutan budaya, menghormati keragaman budaya, dan mempromosikan dialog Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Generasi muda perlu mempelajarinya agar dapat berperan aktif dalam menjaga warisan budaya mereka sambil juga beradaptasi dengan perubahan zaman yang terus Berdasarkan hasil wawancara bahwa pada dasarnya masyarakat Desa Tanarawa. Kecamatan Waiblama. Kabupaten Sikka sangat mengerti dengan baik budaya Blatan Balik atau ritual Blatan Balik ini dilakukan setiap tahun yaitu pada bulan november atau desember sebelum musim tanam dimulai. Singkatnya pemahaman masyarakat setempat tentang ritual Blatan Balik sudah semakin mengerti. Hal ini ditunjukkan dengan kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat Tana Ai, baik Kepala Suku, generasi muda serta Tokoh Adat dalam pelaksanaan ritual Blatan Balik. Selain itu, masyarakat Tana Ai juga sangat memahami nilai kosmologis dalam budaya Blatan Balik atau ritual Blatan Balik. Hal ini selalu ditunjukkan dengan keyakinan yang kuat akan kosmologi dan kosmogoni dapat memberikan pengharapan baru kepada masyarakat Tana Ai dalam memaknai buaya Blatan Balik. Situasi kosmos atau pun khaos dipercaya tidak hanya sebagai sebatas pemahaman tetapi lebih dari itu memberikan kontribusi yang kuat bagi kehidupan manusia dan seluruh jagat. Selain itu, juga budaya Blatan Balik atau ritual Blatan Balik dimaknai oleh masyarakat Tana Ai sebagai ritual yang mempersatukan antara manusia khususnya masyarakat Tana Ai dalam hidup bersama (Bonum Commun. , dalam ikatan primordial dan kerangka keyakinan . elief-syste. kepada leluhur dan AuAma Pu (Tuhan Alla. KESIMPULAN DAN SARAN Keberadaan budaya Blatan Balik tidak terlepas dari kerangka keyakinan . elief-syste. kepada leluhur dan AuAma Pu (Tuhan Alla. dan relasi humanisasi filosofis kosmologis orang Tana Ai-Tanarawa yang melihat dirinya sebagai bagian dari relasi manusia, kosmos, dan Ama pu (Tuhan Alla. Sebagai manusia yang berbudaya, komunitas kosmik orang Tana Ai memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan, keteraturan kosmos, keharmonisan relasi humanisasi manusia di antara unsur-unsur yang membentuk Autata hidup bersama dalam kebaikan atau dengan kata lain membentuk bonum communeAy. Keberadaan orang Tana Ai yang membawa pada paradigma berpikir semacam ini pada akhirnya memberikan preferensi tertentu berkaitan dengan relasi humanisasi yang mesti dibangun atas dasar kesadaran dan tanggung jawab. Jika manusia melanggar atau tidak tanggung jawab terhadap dan tata hidup bersama dalam menjaga eksistensi kosmos, maka ia harus melakukan rekonsiliasi dan restorasi terhadap budaya itu, demi memulihkan kembali relasi yang harmonis antara sesama manusia. Tuhan Allah dan semua ciptaan . Gagasan orang Tana Ai-Tanarawa yang begitu ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 mendalam tentang relasi humanisasi, dan kosmos, ternyata memiliki kesejajaran dengan konsep humanisasi filosofis kosmologis dalam berfilsafat budaya sehingga membentuk akuAe engkau, dia, kamu, dan mereka . menjadi seimbang dan harmonis dalam menjaga dan menata kosmos secara bijak. Dalam cetusan humanisasi filosofis kosmologis dalam berfilsafat budaya penulis melihat bahwa melihat bahwa relasi ideal yang mesti dibangun oleh manusia ialah relasi horizontal artinya hubungan manusia dengan manusia dan segala ciptaan dan relasi vertikal artinya hubungan manusia dengan Ama Pu (Tuhan Alla. Relasi horizontal dan vertikal ini memberikan tujuan adanya suatu cara paradigma berpikir baru, yaitu melihat yang lain sebagai Aoengkau, dia, kamu, dan merekaAo. Selanjutnya konsep tentang Auhumanisasi filosofis kosmologis dalam berfilsafat budayaAy yang dikedepankan oleh penulis ini memberi aksentuasi dan preferensi kepada tiga hal, yaitu relasi manusia, alam . , dan Ama pu (Tuhan Alla. Dengan diterangi oleh gagasan berfilsafat budaya ini, maka budaya Blatan Balik di wilayah Tana Ai-Tanarawa dihayati dan dimengerti sebagai sebuah model relasi horizontal dan vertikal terhadap manusia dan alam semesta raya . , bahwa budaya Blatan Balik di wilayah Tana Ai-Tanarawa merupakan sebuah model relasi horizontal dan vertikal yang telah digagas oleh filsafat budaya itu sendiri. Budaya Blatan Balik sebagai sebuah model relasi horizontal dan vertikal mengandung di dalamnya pemulihan alam atau kosmos . latan gahu rou/dalam konteks ini pendinginan musim kemara. dan penghargaan terhadap benda-benda berharga seperti gong, bahar . , bala . , tipa . , ledan . , dan Mone yang merupakan hasil kekayaan suku Ipir. Nuha dan Hebing. Generasi muda dan petua adat sekali lagi diajak untuk sadar, tanggung jawab terhadap alam, rekonsiliasi dan restorasi terhadap alam . serta sebagai sebuah ekspresi budaya dan peka terhadap nilai humanisasi, nilai kosmos, dan nilai religius. Nilai-nilai yang mengalir dari budaya ini ialah keseimbangan antara sesama manusia, keteraturan kosmos, dan keharmonisan. DAFTAR REFERENSI Adon. Mathias Jebaru. AuKonsumerisme dan Krisis Ekologis. Ay Gita Sang Surya JPICOFM Indonesia 12. Retrieved Adon. Mathias Jebaru. AuMenyibak Nilai Keadilan Dan Persatuan Dalam Upacara Tente Teno: Sebuah Sistem Pembagian Tanah Ulayat Dalam Budaya Manggarai. Ay Forum: Jurnal Filsafat Dan Teologi 45. :43Ae55 Aylward. Shorter, . Toward a Theology of inculturation. Blolong. Raymundus Rede, . Dasar-Dasar Antropologi. Ende. Nusa Indah. Menyibak Relasi Kosmologi Dalam Budaya Blatan Balik Suku Ipir. Nuha. Dan Hebing Tanarawa-Maumere Dalam Terang Berfilsafat Budaya Bustan. Fransiskus. Agustinus Mahur, and Adryanus S. Toly Nau. AuKarakteristik Dan Dinamika Sistem Pertanian Lahan Kering Dalam Kebudayaan Manggarai. Ay Jurnal Lazuardi 3. :344Ae67 Farid Hilmar, . Kompas. Melestarikan bumi Beragam ekspresi kebudayaan Indonesia berkorelasi dengan pelestarian alam. Florens Maxi Un Bria Antonius I. Tukan. Yoseph Lodowik Deki Dau, . Menilik Makna Syukuran Dan Persembahan Ritual Adat NeAoi Wiste Tua Dalam Terang Iman Kristiani Di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Tapobaran Paroki Santo Laurentius Hadakewa Keuskupan Larantuka. Jurnal Spiral. Jurnal Seputar Penelitian Multikultural. Geertz Clifford, . The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books. Heydemans. Nency Aprilia, and Fienny Maria Langi. AuRekonsiliasi Pemuda Dengan Alam. Ay Jurnal Studi Pemuda 8. :156. doi: 10. 22146/studipemudaugm. http://hardikadwihermawan. com/2023/09/pengertian-humanisasi-liberasidan. Religions of the world . rd ed. Penguin. Random House. Kamus Bahasa Indonesia online: http://kbbi. Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun Kamus Dan Pengembangan Bahasa. , ed. Jakarta. Balai Pustaka. Kluckhohn. Kroeber. Alfred L. and Clyde, . Culture. A Critical Review of Concepts and Definitions. Cambridge. MA: Peabody Museum. Koentjaraningrat, . Pengantar Antropologi. Rineka Cipta. Lewis. Douglas. Ata PuAoan Tatanan Sosial dan Seremonial Tana Wai Brama di Flores. Ledalero. London: Geoffrey Chapman, . Soleman. Mundur. Ilmu Budaya Dasar. Refika Aditama. Nash Ronald H, . Faith and Reason: Searching for a rational faith. Zondervan Grand Rapids. Michigen. Nasi. Tuturan Adat-istiadat Sikka. Sikka. Nicola. Abbagnano, . Dalam Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Oetpah. Yovita Febronia Bolen. Dorince, . Spiral jurnal Ritual Neni Wair Uran Pada Suku Tana Ai Desa Nebe Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka. Peursen. van, . Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 193-213 Putra. Darius Ade. AuMerengkuh Bumi Merawat Semesta: Mengupayakan Hermeneutik Ekologis Dalam Rangka Menanggapi Kerusakan Lingkungan Dewasa Ini. Ay Aradha: Journal Divinity. Peace Conflict Studies 1. :71. 21460/aradha. Resmini. Wayan, and Fridolin Mabut. AuUpacara Penti Dalam Masyarakat Kampung Rato Di Kabupaten Manggarai. Ay CIVICUS : PendidikanPenelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 8. Riyanto. Armada, . Aku dan Liyan, kata Filsafat dan sayap. Rajabasa No. Widya Sasana Publication. Malang. Riyanto. Armada. Kearifan Lokal-Pancasila Butir-Butir Filsafat AuKeindonesiaan. Ay edited by A. Riyanto. Ohoitimur. Mulyatno, and O. Madung. Yogyakarta: Kanisius Riyanto. Armada. AuMendesain Riset Filosofis-Fenomenologis Dalam Rangka Mengembangkan AoBerfilsafat Indonesia. AoAy Pp. 113Ae42 in Metodologi Riset Studi Filsafat Teologi, edited by A. Raharso and Yustinus. Malang: Dioma Malang Riyanto. Armada. AuAoHAMEMAYU HAYUNING BAWONO Ao (AoTo Beautify the Beauty of the WorldA. : A Javanese Philosophical Foundation of the Harmony for Interfaith Dialogue. Ay Atlantis Press: International Symposium on Religious Literature and Heritage 644(Islage 2. :353Ae62 Sambho. Bartolomeus. Humanisme dan Humaniora. (Editor Bambang Sugihart. Soleman. Mundur. Ilmu Budaya Dasar. Refika Aditama. Strategi Kebudayaan. Sebuah Pendekatan Filosofis. Jakarta: Gramedia. Suliantoro. Bernardus Wibowo. AuNilai Keadilan Dibalik Ritual Sadranan Hutan Wonosadi. Gunung Kidul. Jateng. Ay Pp. 541Ae54 in Kearifan Lokal Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, edited by A. Riyanto. Ohoitimur. Mulyanto, and O. Madung. Yogyakarta: Kanisius Sumardi. Fransiskus. Industri Ginting Suka, and Putu Sukardja. AuMakna Dan Fungsi Sawah Lodok Di Kampung Meler Desa Meler Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur. Ay Jurnal Humanis. Fakultas Ilmu Budaya Unud 18. :10Ae15 Williams. Jr Robin. M, . American Society. Sociological Interpretation. (New Yor. Alfred A. Knopf.