Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 Kompetensi Universitas Balikpapan PENERAPAN GAME EDUKASI AuBISIK BERANTAIAy UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYIMAK DAN PENGUATAN DIMENSI BERNALAR KRITIS SISWA KELAS 1 SD MUHAMMADIYAH 29 SURABAYA Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 STKIP Bina Insan Mandiri Surabaya1,2 pos-el: arkanitaz1208@gmaail. com1, rizkanuroktaviani@stkipbim. ABSTRAK Sumber masalah adalah ketidakmampuan guru untuk menggunakan media yang dapat membuat siswa tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas. Akibatnya, peneliti menggunakan game bisik berantai untuk mengajar siswa menyimak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa. Dalam hal ini peneliti menemukan permasalahan kurang fokusnya siswa terhadap kegiatan menyimak. Selain itu, penelitian ini menemukan masalah dan solusi untuk pembelajaran menyimak. Peneliti menggunakan metode PTK sebanyak dua siklus perencanaan. Teknik analisis data berupa pengamatan, tes menulis dan catatan Deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data. Dari hasil data penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki 100% dalam melakukan kegiatan di siklus pembelajaran I dan II. Nilai kinerja aktivitas guru di siklus I sebesar 75,67 dan di siklus II adalah 87,33. Berdasarkan hasil keterampilan menyimak didapatkan peningkatan pada siklus I terdapat 79,6% sementara pada siklus II menjadi 92%. Dalam penguatan dimensi bernalar kritis siswa setelah penerapan game bisik berantai didapatkan hasil 53,3 % pada siklus I menjadi 93,3 % pada siklus II. Pada hasil akhir dikatakan hasil belajar siswa, ketuntasan klasikal siswa serta keterlaksanaan aktivitas guru mengalami peningkatan setelah melakukan kegiatan game edukasi bisik berantai. Penelitian ini dikatakan tuntas dimana keterampilan menyimak dan kemampuan bernalar kritis siswa mengalami peningkatan yaang ditunjukkan dengan siswa mampu menjawab. Kata kunci : Game edukasi, keterampilan menyimak, bernalar kritis. ABSTRACT The source of the problem is the teacher's inability to use media that can make students interested in Indonesian language lessons in class. As a result, researchers used a chain whisper game to teach students to listen. The aim of this research is to improve students' listening skills. In this case, researchers found the problem of students' lack of focus on listening activities. In addition, this research finds problems and solutions for listening learning. Researchers using the PTK method carried out two planning cycles. TDan uses data analysis techniques in the form of observations, writing tests and field notes. Qualitative descriptive is used to analyze the data. From the results of the research data, it shows that the teacher has 100% in carrying out activities in learning cycles I and II. The performance value of teacher activities in cycle I was 75. 67, and in cycle II was 87. Based on the results of improving listening skills, it was found that the increase in cycle I was 79. 6%, while in cycle II it was 92%. In strengthening students' critical reasoning dimensions after implementing the chain whisper game, the results were 53. 3% in cycle I to 3% in cycle II. PWhich in the final results is said to be student learning outcomes, and the classical completeness of student learning outcomes as well as the implementation of teacher activities and the achievement of teacher activities in this case has increased after carrying out chain whispering educational game activities. The conclusion of this research is that it is complete in that the students' listening skills and critical reasoning abilities are able to answer everything and experience a level of development which is indicated by the students being able to answer. Keywords: educational games , critical listening, reasoning skills. Vol. No. Juni 2024 Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 PENDAHULUAN Manusia diartikan sebagai makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Makhluk rasional dan berbudi luhur. Dalam perspektif Islam, manusia dianggap sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah dan mengingat tanggung jawab melaksanakan tanggung jawab Tuhan terhadap manusia, salah satu tanggung jawab yang diberikan kepada manusia adalah kemampuan untuk memahami perbedaan sifat setiap Fakta bahwa mereka adalah makhluk sosial maka manusia seringkali membutuhkan bantuan orang lain untuk memahami perasaan emosi dan Mendengar memahami pikiran, keinginan dan Menurut Rambe et al. didapatkan hasil bahwa permainan bisik menyimak pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Muhammadiyah 29 Surabaya sangat mempengaruhi proses pembelajaran, dimana dapat membuat para siswa Cara ini tepat untuk mengajak siswa-siswi senang serta berlangsung di kelas serta siswa mendapatkan informasi, pemahaman, ungkapan makna yang diberikan orang Menurut Anderson . dalam (Diyahningsih et al. , 2. dikatakan menyimak merupakan mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian Pengertian menyimak juga diartikan sebagai mendengarkan bunyi yang berbeda Pembelajaran di kelas rendah terutama siswa kelas 1, diperlukan keterampilan khusus. Untuk itu seorang guru dalam menghadapi siswa di kelas rendah pada khususnya kelas 1 membutuhkan keterampilan khusus dalam pembelajaran menyimak. Siswa Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan yang beralih dari TK ke SD masih ingin Mereka tidak dapat memahami AuAnalisis Kemampuan Menyimak Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah DasarAy seperti judul Studi (Dina Aulia Yudistira Munthe et al. , 2. dengan hasil jika menyimak salah satu bagian terpenting dari empat keterampilan berbahasa dikarenakan sebagian besar waktu penggunaan bahasa hanya tertuju pada Jika melihat di lapangan, wawancara guru dan beberapa siswa di Kelas I SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Bahasa Indonesia dianggap membosankan dari sudut pandang menyimak. Akibatnya keterampilan menyimak siswa masih Siswa sering menghabiskan waktu untuk menyimak pelajaran dan berbicara dengan temannya. Mereka cenderung asyik dengan dirinya sendiri, mengobrol dengan temannya, melamun, berlarian, bahkan ada yang mengantuk. Sebagai guru hal ini merupakan tantangan besar agar siswa mau untuk mendengarkan perintah guru. Untuk itu metode permainan bisik berantai. Siswa akan dikelompokkan menjadi 3, selanjutnya setiap kelompok akan ada 5 anak dikarena dalam kelas Al-Ikhlas jumlah muridnya ada 15 siswa. Siswa pertama akan menerima bisikan dari guru berupa sebuah kata AuBATUAy. Siswa pertama membisikkan ke siswa kedua. Begitu seterusnya sampai ke siswa Siswa kelima menyimak hasil bisikkan siswa keempat dan menuliskan hasilnya di sebuah kertas kemudian Kemudian guru membacakan hasil dari Sehingga siswa antusias dalam pembelajaran menyimak. Hasil dari penelitian disimpulkan bahwa siswa yang belum mencapai persyaratan minimal yaitu sebesar 75%. Dengan Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 alasan siswa yang dinyatakan kurang aktif dalam pembelajaran bertanya dan mengutarakan pendapat. Sementara alasan di atas dikarenakan siswa mempunyai masa pengenalan perubahan sikap dari TK ke SD, dimana siswa di TK sudah terbiasa belajar dengan mendengarkan guru saja siswa menjadi Selain mendengarkan yang harus dilakukan sambil bermain, siswa mendemonstrasikan dan menjelaskan materi yang disampaikan dengan alat. Bahkan guru dituntut untuk mempunyai sikap yang lebih kreatif. Keterampilan menyimak yang dimiliki guru sendiri agaknya diabaikan oleh guru, oleh karena itu berdampak langsung terhadap keterampilan menyimak siswa, yaitu : fakta bahwa sulit bagi siswa untuk Menurut Husniyah . , menyimak berarti mendengarkan dengan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca Adapun salah satu metode yang dapat menstimulus keterampilan menggunakan permainan bisik berantai. Berdasarkan observasi awal di kelas I SD Muhammadiyah 29 Surabaya, keterampilan menyimak siswa di sekolah masih sangat lemah. Selain itu kurangnya pengetahuan guru dalam memilih metode pengajaran menyimak menjadi alasan utama permasalahan sekolah dalam melakukan hal tersebut. Kegagalan guru dalam pengajaran menyimak terdapat pada hasil belajar siswa kelas I sebanyak 15 orang, hanya 10 orang yang bisa atau 75% dan 5 orang siswa tidak bisa atau Ketidakterampilan siswa dalam menyimak disebabkan antara lain: . siswa tidak dapat mendengarkan dengan baik dan juga tidak dapat membaca dan menyimak siswa belum optimal. Guru kurang menyadari kebutuhan Artinya pada saat guru sedang Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan membacakan cerita, beberapa siswa mulai berbicara dengan teman-temannya karena merasa bosan dan siswa berkeliling mencari hal-hal yang membuat dirinya senang dan mencari perhatian guru. Guru membacakan memperhatikan apakah cerita yang dibacakan guru tersebut menarik bagi Guru dan siswa juga diharapkan mampu bercerita dengan cara yang menarik, yaitu dengan bermain drama serta bisik-bisik berantai. Alasan pembelajaran di kelas pada kegiatan menyimak belum dilaksanakan dengan baik adalah : . Karena menyimak masih bersifat umum, yang artinya permasalahan menyimak juga terjadi pada pembelajaran lain yaitu pada saat guru menjelaskan materi. Guru kurang kreatif artinya guru bekerja hanya secara monoton yaitu dengan Guru menggeneralisasi kemampuan siswa sedemikian rupa sehingga anak yang lebih lemah tidak dilibatkan dalam Berdasarkan permasalahan di atas guru belum optimal menerapkan pada tahap pembelajaran Maka dari itu, seorang pendidik dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang sesui dengan kebutuhan siswa yang dapat membuat siswa-siswi merasakan senang dengan cara Aupermainan Bisik BerantaiAy. Menurut Muhammad Majdi & Ahmad Shofiyuddin Ichsan . dikatakan bahwa pelaksanaan suatu model kegiatan pembelajaran dengan kegiatan menyimak tipe model bisik berantai yang dapat dilakukan guru kelas 1 MI Al Hamid Banjarmasin terlaksana dengan sangat baik. Penelitian lain telah dilakukan oleh Rambe et al. dimana permainan dalam bisik berantai terhadap suatu keterampilan menyimak pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 6 SD memengaruhi kegiatan proses belajar Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 mengajar yang dapat membuat siswa senang dan bersemangat dalam kegiatan Bisik berantai adalah permainan edukasi yang menyampaikan sebuah kata yang telah didengarnya dari guru untuk disampaikan kepada siswa kesatu berupa bisikan kemudian dibisikan lagi ke siswa berikutnya untuk disampaikan kepada guru bisa berupa tulisan maupun Dari permainan tersebut didapatkan beberapa manfaat antara lain : . meningkatkan pendengaran atau meningkatkan konsentrasi menyimak apa yamg sudah didengarnya, . meningkatkan kemampuan membaca jika yang ditunjukkan guru berupa tulisan bukan bisikan, . meningkatkan daya penglihatan jika yang ditunjukkan guru berupa sebuah gambar, . meningkatkan konsentrasi dengan kata yang telah dibiskkan atau konsentrasi dengan tulisan yang telah dibaca dan bisa juga konsentrasi dengan apa yang sudah dilihatnya, . meningkatkan daya ingat atas pesan yang telah disampaikan. meningkatkan kemampuan menulis apa yang sudah disampaikan. Berdasarkan uraian yang ada di atas, dikatakan penulis bahwa penulis ingin melaksanakan PTK yang berjudul Penerapan Game Edukasi AuBisik BerantaiAy Untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Dan Penguatan Dimensi Bernalar Kritis Siswa Kelas I SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mengetahui cara penerapan game meningkatakan keterampilan menyimak serta untuk mengetahui penguatan dimensi bernalar kritis siswa. Manfaat penelitian ini diharapkan bagi siswa dari peneliti bahwa kemampuan yang ada pada siswa dalam Indonesia, khususnya dalam menyimak sesuatu yang telah didengarnya melalui meningkatkan konsentrasi pada siswa. Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan mendorong siswa untuk mempelajari dan memahami materi tanpa merasa Sedangkan bagi guru, hasil penelitian ini sangat berguna untuk meningkatkan pengetahuan untuk guru terutama guru muda dalam menyimak dan mengidentifikasi kekurangan siswa dalam konsentrasi, membaca, menulis sehingga guru dapat menerapkannya dalam proses pengajaran di sekolah Bagi sekolah sendiri tempat peneliti melakukan penelitian sekaligus mengajar di sana, dapat dikatakan suatu hasil daripada kegiatan penelitian diharapkan bisa dijadikan sebagai acuan bahan ajar untuk tenaga pengajar, dengan tujuan dapat meningkatkan hasil dari mutu pendidikan yang mana khususnya pendidikan Indonesia yang pada umumnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu literasi. Bagi peneliti, hasil yang didapatkan peneliti ini dapat dijadikan pengalaman berharga kekurangan siswa dan penyelesaiannya, meningkatkan keterampilan peneliti yang telah dimiliki serta memberikan informasi pemecahan masalah yang telah dihadapi. METODE PENELITIAN Berdasarkan Penerapan Game Edukasi AuBisik BerantaiAy Untuk Meningkatkan Keterampilan Menyimak Dan Penguatan Dimensi Bernalar Kritis Siswa Kelas I SD Muhammadiyah 29 Surabaya, digunakan jenis penelitian yang sesuai yaitu deskriptif kualitatif. Menurut Marinu Waruwu et al. , penelitian kualitatif merupakan penelitian yang Deskriptif dalam penelitian kualitatif menjabarkan peristiwa, fenoma dan situasi sosial yang diteliti. Analisis membandingkan data hasil penelitian. Menurut Z. Abdussamad . , suatu Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 kegiatan penelitian jenis kualitatif merupakan suatu penelitian yang mana guru melakukan pendekatan untuk melaksanakan kegiatan penelitian yang berorientasi dan terbentuk suatu fenomena atau gejala yang bersifat Dengan mengusung kualitatif dan memiliki suatu ciri khas mendasar dan bersifat naturalistis serta bersifat kealamian, sehingga tidak dapat dilakukan di tempat dilakukan di lapangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu penelitian tindakan kelas menggunakan jenis metode deskriptif kualitatif yang mana peneliti mencatat, menganalisa, hal apa yang telah diteliti melalui serangkaian seperti kegiatan wawancara guru dan siswa serta dokumentasi permasalahan di lapangan dalam artian permasalahan yang ada di Mengacu sejumlah model PTK, yang sering digunakan pada pendidikan yaitu model yang dibawa oleh John Elliot. Hal ini sesuai dengan jurnal Fahmi et al. dikatakan bahwa dalam pelaksanaannya PTK model Elliot lebih mudah dipahami yang mana berbentuk spiral. Tahapanya meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi serta refleksi. Penelitian yang telah dilaksanakan menggunakan sebuah rancangan khusus sehingga penelitian (PTK) Istilah ini berasal dari penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researc. Penelitian ini menggunakan metode PTK yang mana dalam menganalisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Dalam hal ini data yang diperoleh dikumpulkan kemudian digambarkan secara tulis maupun lisan. PTK memiliki pengertian sebuah penelitian yang dilakukan di kelas oleh guru kelas atau peneliti untuk mengetahui apa yang terjadi di kelas sebagai hasil dari tindakan yang diterapkan pada subjek penelitian Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan (Mudarris et al. , 2. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif jenis studi kasus. Pengumpulan observasi dan wawancara mendalam serta didukung dengan dokumentasi. Penelitian tindakan kelas ini adalah jenis kegiatan penelitian kasus yang terjadi di kelas dan melibatkan tindakan khusus atau tertentu yang diambil oleh guru dan siswa untuk dapat meningkatkan hasil belajar mengajar mereka. Penelitian memiliki tujuan tindakan kelas termasuk mengubah bagaimana guru berperilaku, bagaimana siswa berperilaku di kelas, kegiatan belajar mengajar, dan dapat merubah bagaimana belajar dapat Partisipasi siswa dan guru yang sudah kerjasama antara peneliti dan anggota kelompok sasaran adalah ciri utama kegiatan penelitian tindakan di kelas (Wahyuni et al. , 2. Langkah penelitian ini yaitu : . mengidentifikasi dan merumuskan masalah dalam arti mencari masalah yang akan diteliti, . menganalisis masalah dalam arti menentukan tindakan yang akan diambil, . merumuskan hipotesis dalam sementara terhadap masalah penelitian, . membuat rencana penelitian dalam arti penentuan masalah, pengumpulan data dan analisis data, . melaksanakan tindakan dan mengamatinya dalam artian yang bertindak sebagai pelaksana adalah peneliti sekaligus guru mitra sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah guru kelas, . mengolah dan menafsirkan data dalam hal ini peneliti akan mengolah data setelah melakukan penelitian kemudian menilai hasil data tersebut, . melaporkan hasil penelitian berupa jurnal untuk bisa dipergunakan oleh semua orang atas keberhasilan dari pada penelitian tersebut. Populasi sampel dalam penelitian ini adalah subjek dari penelitian yang berjalan adalah 15 siswa di kelas 1 Al115 Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 Ikhlas SD Muhammadiyah 29 Surabaya pada tahun akademik 2023/2024, terdiri dari 8 siswa pria dan 7 siswa wanita. Sehingga peneliti sendiri adalah guru mitra di kelas tersebut. Tempat terlaksananya penelitian dalam tindakan di kelas ini adalah SD Muhammadiyah 29 Surabaya, tempat peneliti mengajar. Peneliti memilih SD Muhammadiyah Lokasinya yang terlalu dekat dengan alamat rumah peneliti sehingga . Seorang peneliti adalah guru mitra di SD Muhammadiyah 29 Surabaya, sehingga mudah bagi seorang peneliti untuk melakukan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini. Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan, yaitu dari Agustus hingga November 2023. Gambar 1. Siklus I dan Siklus II (Nazifah et al. , n. Menurut Arifeni et al. setiap siklus PTK memiliki empat rencana antara lain : . menyusun perencanaan, . melakukan tindakan, . monitoring atau pengawasan, . refleksi atau penilaian tertulis dan lisan oleh guru untuk peserta didik dan oleh peserta Hasil refleksi awal menentukan siklus kedua. Dimana PTK dilakukan melalui beberapa tahap atau prosedur yang telah direncanakan atau sebuah lapangan, evaluasi kegiatan, dan refleksi Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Menurut Nazifah et al. sebelum seorang siswa mengikuti suatu proses kegiatan pembelajaran, yaitu sebelum adanya siklus I, dan setelah proses kegiatan pembelajaran, yaitu setelah tahap siklus II, mereka mengisi angket motivasi belajar. Setiap tahapan siklus PTK adalah sebagai berikut: . Perencanaan: mencakup dokumentasi lapangan, daftar nilai test dan lembar mengidentifikasi kegiatan masalah penelitian, seperti hasil belajar siswa yang tidak optimal. membuat daftar membuat lembar kegiatan observasi untuk melihat suatu proses. menciptakan alat evaluasi untuk mengukur kemampuan pemahaman . Implementasi Tindakan: Ada dua cara untuk melaksanakan tindakan Dalam satu jam pertama, materi diajarkan mengenal abjad sub pokok bahasan kata berawalan "ba", dan diberikan penanaman konsep melalui menyebutkan nama objek. Dalam jam kedua, materi diajarkan mengenal konsep melalui permainan bisik berantai. Tes siklus pertama dilakukan setelah itu. Pengamatan dengan membuat lembar pengamatan untuk melacak kegiatan siswa, dengan mengumpulkan daftar tentang hasil pembelajaran siswa sejak prasiklus, dan melakukan kegiatan untuk mendapatkan hasil tes pertama siklus hingga tahap terakhir. Hasil penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pada siklus 2, jika hasil siklus 1 tidak menunjukkan langkah-langkah berikut diambil: . menemukan masalah dan membuat rencana tindakan melalui latihan . pelaksanaan, yang mencakup membuat rencana pembelajaran dengan mengevaluasi hasil tes siklus 2 untuk mengetahui keberhasilan. Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 pengamatan mencakup mengkaji ulang hasil observasi siklus, termasuk mendata kembali hasil observasi siklus pertama agar dapat digunakan untuk siklus berikutnya, dan . refleksi mencakup menganalisis hasil yang akurat dari penelitian saat menerapkan evaluasi latihan yang telah dilakukan siswa. Guru melakukan kegiatan inti antara lain : . menjelaskan materi yang akan dipakai bahan kegiatan, . menjelaskan bagaimana bermain bisik berantai, . membentuk 3 kelompok, . guru mengajak siswa pertama untuk mendengarkan bisikan guru, . siswa pertama membisikkan ke siswa kedua, dan seterusnya, . guru membagikan kertas untuk menulis jawaban bisikan siswa keempat, . siswa menulis jawabannya, kemudian membacakan hasil jawabannya, . guru meminta siswa lain dalam kelompok untuk memberikan jawaban yang sudah didengarnya, sehingga terlihat letak Pada kegiatan akhir, guru dapat melakukan sebagai berikut : . guru melakukan pemberian reward kepada siswa yang memiliki poin tertinggi , . guru mengulang kembali pembelajaran secara singkat, . guru melakukan doa dan mengucapkan salam untuk tahap menutup pembelajaran. Pada tahap observasi, guru mitra kelas 1 adalah observer 1 dan mitra bertindak sebagai Pada tahap ini, pendidik kelas 1 dan mitra mengamati pelaksanaannya secara keseluruhan. Setiap tahapan siklus diakhiri dengan Tujuannya untuk mengulang berbagai hasil analisis data. Sumber datanya siswa-siswi kelas 1 SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Pengambilan data antara lain latihan siswa, hasil belajar skor nilai ujian, dan kegiatan belajar mengajar. Indikator Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan kemampuan siswa untuk memahami materi dengan menyebut nama benda secara klasikal dan harus mencapai ratarata minimal setidaknya tujuh puluh. Data penelitian berupa hasil tentang permainan bisik berantai, hasil data tes menyimak, dan catatan di lapangan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah berupa instrumen observasi guru dan peserta didik, instrumen tes hasil belajar menyimak, dan instrumen catatan Kesimpulan analisis data atau hasil penelitian dibuat dalam bentuk kalimatkalimat dengan rumus sebagai berikut: ya P = ycA x 100% Keterangan: P = Persentase N = Banyaknya siswa F = Frekuensi responden yang dicari Hasil persentase menjelaskan bagaimana metode deskriptif kualitatif digunakan, dan kemudian dapat dikategorikan : 81% - 100% = Sangat Baik(SB) 61% - 80% = Baik(B) 41% - 60% = Cukup Baik(CB) 21% - 40% = Tidak Baik(TB) 0% - 20% = Sangat Tidak Baik(STB) Data dapat diperoleh dari hasil observasi terlakasananya pembelajaran analisis dengan rumus : yce ycE = ycA ycu100% (Rizqi et al. , 2. Dimana: f = frekuensi yang sedang dicari N = Jumlah frekuensi P = angka persentase (Sudijono 2005: . Dari hasil observasi skor ketercapaian dapat dianalisis degan rumus : Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 ycA= Ocyceycu ycA Keterangan : FX = jumlah nilai. = jumlah siswa di kelas. = nilai rata-rata siswa. Siswa dianggap tuntas dalam pembelajaran hitung perkalian jika hasil evaluasi mereka rata-rata melebihi nilai 70 dalam hitungan, dan jika mereka memperoleh nilai yang lebih tinggi dari 70 dalam hitungan, mereka dianggap tuntas dalam penguasaan hitung Keterangan : 90 - 100 = sangat baik (SB) 30 - 49 = kurang (K) 70 - 89 = baik (B) 0 - 29 = kurang sekali (KS) 50 - 69 = cukup (C) (Fadhilah Amir et al. , 2. Rumus digunakan untuk menghitung persentase siswa yang di siswanyatakan tuntas Rumus di bawah ini digunakan menghitung ketuntasan klasikal sebagai berikut: yayaA = ycAyc ycu100% ycN Keterangan : KB = Ketuntasan belajar siswa. Nt = Jumlah siswa dinyatakan tuntas. T = Banyaknya siswa di kelas. (Alaouddin et al. , 2. Untuk indikator kinerja harus dapat diukur dan Data yang dikumpulkan dari catatan lapangan menunjukkan ada permasalahan proses pembelajaran Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Selanjutnya, catatan lapangan dianalisis dengan melihat kegiatan sedang berlangsung. Berikut Kriteria keberhasilan yang digunakan oleh SD Muhammadiyah 29 pada penelitian sebagai berikut: . Pembelajaran dianggap berhasil jika hasil observasi kegiatan pendidik dan kegiatan peserta didik memperoleh nilai minimal 80, . nilai rata siswa KKM minimal . , dan . persentase ketuntasan hasil belajar HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dapat dikatakan menggunakan metode bermain sambil belajar yaitu permainan bisik berantai. Di dalam kelas proses belajar akan dirasa sangat membosankan jika guru hanya menggunakan metode ceramah tanpa melakukan variasi permainan dalam Sehingga perlu suasana baru dalam pembelajaran di kelas yang lebih menyenangkan dan lebih menarik perhatian siswa. Untuk itu peneliti melakukan penelitian awal di kelas dengan mencari permasalahan yang dihadapi siswa. Sehingga ditemukannya 7 siswa yang dikatakan kurang dari 15 siswa yang ada di kelas 1 Al-Ikhlas SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Peneliti melakukan cara belajar sambil bermain dengan metode game edukasi bisik keterampilan menyimak pada siswa. Dalam permainan bisik berantai peneliti melakukan 2 siklus. Siklus ke I mengalami peningkatan menjadi 2 siswa memahami cerita yaitu dalam hal Dalam siklus 2 mengalami peningkatan menjadi 1 siswa mengalami keterlambatan menyimak. Untuk siklus I dan II, proses pelaksanaan pembelajaran telah direncanakan dengan cara berikut: merancang perangkat pembelajaran, yang terdiri dari komponen seperti ATP (Alur Tujuan Pembelajara. dan Modul Ajar. LKPD (Lembar Kegiatan Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 Peserta Didi. Lembar Penilaian (Asesme. , yang terdiri dari penilaian formatif dan penilaian sumatif. membuat alat penilaian seperti tes tulis, lembaran pengamatan pada aktivitas pendidik, dan lembaran untuk catatan lapangan, . membuat sumber daya pembelajaran, dan . membuat metrik Dalam siklus I dan II, peneliti menggunakan indikator keberhasilan, yaitu terlaksananya aktivitas guru setidaknya mencapai 80%, dan kegiatan Mereka menetapkan jadwal penelitian dengan Siklus pertama dimulai pada Kamis, 28 September 2023, dan siklus kedua dimulai pada Kamis, 23 November 2023. Tahap pengamatan aktivitas pada guru di siklus I dan siklus II dalam kegiatan pembelajaran diawasi oleh pengamat yaitu Eka Yulaintini. Sos selaku guru kelas 1 SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Kegiaatan dengan aktivitas kegiatan belajar Sementara itu, pada siklus I, keterampilan menyimak hasil belajar dengan permainan bisik berantai memiliki nilai rata-rata 86, dengan 7 siswa mendapatkan nilai di atas 80, dan hasil persentase pada ketuntasan belajar terhadap siswa sebesar 79,6%. Jika hasil persentase ini dianggap sedang, maka penelitian ini dianggap belum berhasil. Akibatnya, tindakan siklus kedua harus Siklus I menghadirkan beberapa tantangan, termasuk guru terus mencoba mengendalikan siswa dan suara guru yang kurang keras, yang disebabkan oleh siswa hyperaktif yang tidak bisa diam. Untuk mengatasi masalah ini, guru memberikan waktu istirahat untuk membuat siswa tetap fokus dan bermain tebak-tebakan. Bermain tebak-tebakan juga bagian dari Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan bernalar kritis yang mana anak diajarkan untuk bisa memikirkan suatu jawaban maupun pendapat terkait bernalar kritis. Bisa juga dengan membuat sebuah kata menjadi kalimat juga salah satu bernalar anak-anak. Untuk memastikan bahwa pada siswa terjadi mendengarkan suara guru dengan jelas, suara harus lebih Hasil didapatkan dalam pengamatan yang menunjukkan bahwa dalam aktivitas yang guru lakukan dalam kegiatan pembelajaran bisik berantai pada tahap II memiliki hasil persentase terhadap keterlaksanaan 100% dan hasil ketercapaian rata-rata mendapatkan 96,66. Kriteria ketercapaian kegiatan menyimak jenis metode bisik berantai dianggap sempurna. Bahwa hasil yang keberhasilan telah dicapai, pelaksanaan pembelajaran telah berhasil. berhasil jika skor pengamatan aktivitas guru melebihi 80. Sehingga didapatkan hasil dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan dalam hal ketuntasan siswa yang mana nilai KKM siswa di SD Muhammadiyah 29 dengan nilai KKM 80. Sementara hanya 1 siswa yang memiliki nilai KKM rendah. Dalam siklus I, ada beberapa masalah yang dihadapi guru: mereka masih kesulitan mengontrol siswanya dan suara guru kurang keras karena siswa sangat aktif dalam hal ini siswa aktif ini aktif dalam sikap maupun bertanya hal-hal kritis sehingga dalam edukasi bisik berantai sudah mencakup keterampilan menyimak serta bernalar kritis yang mana siswa diharuskan untuk mengembangkan satu kata menjadi sebuah kalimat yang menarik dan hal ini juga membutuhkan keterampilan guru Untuk mengatasi masalah ini, guru memberikan break . ermain tebaktebaka. untuk membuat siswa tetap Sehingga mendengarkan dengan jelas, guru dapat Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 mengurangi suara atau menggunakan Tujuan utama pada keterampilan meningkatkan keterampilan menyimak siswa dari yang awalnya kurang fokus dikarenakan asyik dengan dirinya sendiri dengan adanya permainan bisik berantai ini siswa menjadi lebih fokus dikarenakan permainan ini sangat menarik untuk disimak. Sementara dengan adanya bisikan kata dari siswa pertama membuat siswa bagian akhir untuk mengembangkan sendiri hasil dari yang telah didengarnya. Sehingga hal ini juga menjadi salah satu tujuan dari dimensi bernalatr kritis. Dengan adanya game edukasi bisik berantai ini tujuan awal yaitu penerapannya sehingga bisa keberhasilan dalam hal menyimak dan bernalar kritis. Pada memperoleh skor ketercapaian yang baik dengan rata-rata skor ketercapaian sebesar 85% dan persentase ketercapaian Namun, skor ini belum dapat dianggap berhasil. Ada beberapa elemen Kompetensi Universitas Balikpapan yang belum dilakukan untuk siklus Berikut adalah nilai Persentase hasil ketuntasan belajar yang didapat 87%, dengan rnilai 92 setiap siswa dapat hasil persentase ketuntasan rata-rata nilai 92 untuk setiap siswa, jika persentase ini dikaitkan dengan target peneliti, yaitu ketuntasan hasil belajar minimal setidaknya 80%, maka dapat dikatakan Hasil menunjukkan bahwa ada masalah dengan pembelajaran menyimak yang dilakukan dengan metode bisik berantai Dengan menggunakan metode bisik berantai, semua kegiatan atau aktivitas pembelajaran menyimak di siklus II dapat dilakukan dengan baik. Sulit jika di siklus pertama diatasi dengan sempurna dan merefleksikan di siklus pertama dan pembelajaran di tahap kedua, siswa lebih baik menyimak. Berdasarkan hasil pengamatan, hasil belajar menyimak siklus I dan II dan pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Persentase Hasil Penelitian Data Siklus 1 Siklus 2 Terlaksananya (Aktivitas Gur. Tercapainya (Aktivitas Gur. Hasil Belajar Siswa Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Siswa 96,66% 79,6 % 53,3 % 93,3 % Metode pembelajaran menyimak di siklus II dilakukan dengan baik. Kesulitan pada tahap pertama diatasi secara baik oleh guru ketika merefleksikan pelaksanaan kegiatan mengajar tahap pertama dan memperbaikinya untuk membantu siswa Kesimpulan dari pada penelitian yang telah dilakukan adalah adanya peralihan dari TK ke SD sehingga didapatkan permasalahan yang sangat menonjol yaitu adanya fase bermain yang mana Vol. No. Juni 2024 Hasil Peningkatan 3,34 % 12,4 % anak hanya ingin bermain sehingga peneliti dalam hal ini melakukan cara pembelajaran yang menarik siswa yaitu dengan penerapan game edukasi bisik keterampilan menyimak dan penguatan dimensi bernalar kritis yang dilakukan dalam 2 siklus. Skor nilai dari hasil penelitian yang menggunakan metode game bisik berantai materi pembelajaran Bahasa Indonesia keterampilan menyimak pada tahap I dan tahap II sedang meningkat secara Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 Jika dilihat hasil observasi Dimana nilai dalam siklus I mendapatkan hasil 79,6 sementara ratarata dalam siklus II mendapatkan 92. Hal ini disebabkan dalam siklus I guru tidak dikarenakan guru belum memahami karakteristik siswa. Kegiatan pembelajaran di siklus kedua menunjukkan peningkatan sebesar Selain itu, skor ketercapaian di siklus kedua telah memenuhi hasil dari keberhasilan pembelajaran, setidaknya minimal 80% dari aktivitas pendidik. Jika hasil nilai ini dibandingkan dengan skor ketercapaian aktivitas pendidik, ini menunjukkan nilai sangat sempurna dan Sesuai dengan pendapat (Hidayat , 2. siswa dikatakan memenuhi kriteria target keberhasilan dapat dianggap tuntas jika mereka memenuhi 80% dari total siswa. Pada kegiatan keterampilan materi menyimak mengapa dikatakan berhasil dikarenakan yang mana siswa dapat menggunakan metode game edukasi bisik berantai sehingga mendapatkan hasil pada tahap I adalah 79,6 dengan nilai rata-rata belajar siswa dalam mendengarkan sementara pada tahap II Kompetensi Universitas Balikpapan dengan hasil memuasakan dengan persentase sebesar 92%. Dapat dikatakan bahwa dalam perhitungan hasil antara siklus I dan II didapatkan kenaikan yang awalnya 79,6% pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 92% pada siklus II setelah melakukan game edukasi bisik Sehingga tingkat kefokusan mereka mendapatkan peningkatan dalam hasil belajar menyimak. Sementara persentase ketuntasan hasil belajar klasikal pada keterampilan menyimak di tahap II hasil peningkatan terhadap tahapan I. Dari nilai ketuntasan sebesar 59,2% dalam masa peningkatan mengalami ketuntasan dari hasil belajar terhadap tahap II sebesar 87%. Ketuntasan belajar klasikal dari hasil kegiatan mendengarkan terhadap metode yang digunakan yaitu game bisik berantai memperoleh persentase untuk siklus I dengan persentase 53,3% sehingga terjadi peningkatan dari tahap II menjadi 93,3%. Sedangkan hasil dari belajar siswa mengalami peningkatan dengan menggunakan metode yang sedang dipergunakan yaitu game edukasi bisik berantai yang dilakukan pada siklus tahap I dan siklus tahap II yang tertera pada Tabel 2. Tabel 2. Nilai Tes Hasil Belajar Keterampilan Menyimak Pada Siklus Tahap I dan Siklus Tahap II Nilai Jumlah Banyaknya Siswa (Siklus I) Nilai x Siswa pada (Siklus II) Pembelajaran tuntas secara klasikal apabila jika nilai ketuntasan minimal lebih dari 80%. Ketuntasan klasikal ditetapkan yaitu 80% . Ketuntasan klasikal pada keterampilan materi Vol. No. Juni 2024 BanyaknyaSiswa (Siklus II) Nilai x Siswa pada (SiklusII) menyimak dengan menggunakan cara atau metode permainan bisik berantai dapat ditingkatkan terhadap siklus tahap II. Pada tahap siklus ke II, persentase ketuntasan belajar pada tahap klasikal Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 mengalami peningkatan luar biasa dibandingkan dengan pada tahap siklus I yaitu sebanyak 53,3% menjadi 93,3% pada siklus tahap II. Persentase tersebut termasuk dapat digolongkan dengan kategori sempurna. Persentase pada hasil taraf ketuntasan belajar tahap klasikal pada siklus tahap II telah dapat mencapai indikator suatu keberhasilan yang telah Adapun yang menjadi kendala yaitu adanya kesulitan pendidik mengontrol sikap siswa, suara yang guru lakukan kurang bisa terdengar di Selain itu faktor suara siswa di kelas yang luar biasa. Untuk itu cara hambatan-hambatan permasalahan di atas yaitu guru dapat mengkondisikan siswa agar tetap memerhatikan dengan memberikan break . ermain tebak-tebaka. Asal suara yang guru lakukan harus lebih dikeraskan, sehingga semua yang siswa lakukan akan berhenti dan dapat mendengarkan penjelasaan guru secara dengan jelas juga pendidik bisa menggunakan microphone agar suara Dilihat dari keberhasilan yang diperoleh terhadap jalannya proses kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak dengan dan menggunakan metode bisik berantai dari tahapan siklus I dan tahapan siklus II, maka bisa dikatakan penggunan metode bisik keterampilaan menyimak dimana dapat dilaksanaakan oleh seorang peneliti di dalam kelas I SD Muhammadiyah 29 Surabaya. Hal ini sejalan dengan perkataan (Rahmah et al. , n. ) dalam artikelnya bahwa dalam penerapann permainaan bisik berantai dapat menghasilkan peningkatkan kemampuan menyampaikan pesan dari dan untuk teman yang pertama kepada teman lainnya sehingga dalam jurnal tersebut sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Permainan yang dilakukan ini juga dapat membawa siswa dan melatih Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan keterampilan pada materi menyimak, membaca buku, berbicara di depan kelas, dan melakukan menulis dari hasil Materi . yang akan dibisikkan dapat disesuaikan dengan apapun kemampuan siswa. Metode permainan ini berantai juga dapat membantu guru mengajar siswa, terutama tentang menyimak materi Bahasa Indonesia. Metode permainan berbisik berantai juga dapat membantu siswa agar lebih aktif dan kreatif dalam materi menyimak dan dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan ketika belajar, sehingga mereka belajar secara aktif. Masalah sederhana dipecahkan dengan teknik ini. Agar tidak stagnasi, hal mengenai pemecahan persoalan dapat didasarkan pada permainan dengan struktur koognitif Hasil penelitian telah dibahas keterampilan menyimak siswa menjadi lebih baik selama siklus I dan II ketika permainaan biisik beerantai uuntuk belajar kemampuan awal. Metode permaianan bisik berantai dapat meningkatkan keterampilan menyimak menjadi lebih aktif. Hasil penelitian meenunjukkan bahwa keterampilan materi menyimak yang dilakukan siswa sangat rendah paada pra siklus karena pelaksanaan pembelajaran masih satu Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap hal mengamati sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran melalui lembar observasi pra siklus, peneliti juga menemukan jumlah nilai 1215, dengan rata-rata 79,6. Hanya satu siswa dari lima belas siswa memiliki kategori kemampuan menyimak "Baik". Sedangkan 7 siswa dapat disimpulkan AuTidak BaikAy. Tujuh siswa lagi kemampuan menyimaknya AuSedangAy terhitung sejak terlaksananya siklus I. Dengan Anita Dwi Rahmayani1. Rizka Nur Oktaviani2 menyimak pada pra siklus sangat rendah. Namun, setelah tindakan siklus I meningkat, dengan total 1215 siswa dengan rata-rata 9,6, dengan satu siswa dalam kategori kemampuan menyimak "Tidak Baik" dan enam siswa dalam kategori "Baik". Hasil tindakan siklus I Muhammadiyah 29 masih perlu Hasil kemampuan menyimak pada siklus tahap II menunjukkan peningkatan dari siklus tahap I, dengan jumlah total 1380 siswa dengan rata-rata 9,2, dengan jumlah 1 siswa dapat dikategorikan "Baik", 1 siswa dalam kategori "Tidak Baik", dan 13 jumlah siswa pada tahap dalam kategori "Sedang". Dari hasil siklus tahap II pembelajaran dapat dikatakan bahwasanya kemampuan siswa sudah mencapai keberhasilan pada tahap kemampuan menyimak dengan hasil baik atau berhasil. KESIMPULAN Berdasarkan hasil data penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki 100% dalam melakukan kegiatan di siklus pembelajaran I dan II. Nilai kinerja aktivitas guru di siklus I sebesar 75,67 dan di siklus II adalah 87,33. Berdasarkan menyimak didapatkan peningkatan pada siklus I terdapat 79,6% sementara pada siklus II menjadi 92%. Dalam penguatan dimensi bernalar kritis siswa setelah didapatkan hasil 53,3 % pada siklus I menjadi 93,3 % pada siklus II. Pada hasil akhir dikatakan hasil belajar siswa, keterlaksanaan aktivitas guru mengalami peningkatan setelah melakukan kegiatan game edukasi bisik berantai. Penelitian kemampuan bernalar kritis siswa Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan DAFTAR PUSTAKA