Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. PERBANDINGAN JUMLAH LEUKOSIT DENGAN CAe REAKTIF PROTEIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT HARAPAN DAN DOA KOTA BENGKULU Devi Cynthia Dewi1. Tari Puspitasari2 Prodi Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKe. Bhakti Husada Bengkulu devicynthia01@gmail. ABSTRAK Berdasarkan IDF Atlas Edisi Kesembilan . , pada tahun 2022 tercatat 10,7 juta orang dewasa di Indonesia menderita diabetes. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 13,7 juta pada 2030 dan 16,6 juta pada 2045 jika pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan berlebihan dan kebiasaan merokok, tidak diperbaiki. Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik yang muncul akibat fungsi insulin yang tidak optimal dalam mengatur kadar glukosa darah, sehingga menyebabkan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan antara jumlah leukosit dan kadar CRP pada pasien DM. Studi dilaksanakan di RS Harapan dan Doa Kota Bengkulu dengan menggunakan desain kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian mencakup 77 pasien DM rawat inap selama JanuariAeMaret 2025, dan melalui metode purposive sampling diperoleh 44 sampel. Data diperoleh dari rekam medis, kemudian diklasifikasikan dan dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 pasien . ,4%) mengalami leukositosis, sementara 17 pasien . ,6%) memiliki kadar leukosit dalam batas normal. Pada pemeriksaan CRP, 33 pasien . %) menunjukkan hasil positif dan 11 pasien . %) negatif. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa terdapat perbedaan antara jumlah leukosit dan kadar CRP pada pasien DM di RS Harapan dan Doa Kota Bengkulu. Kata Kunci: Total Leukosit. Protein C-Reaktif. Diabetes Mellitus PENDAHULUAN Diabetes Melitus IDF Atlas Edisi Kesembilan . , pada termasuk penyakit menular, tetapi jumlah tahun 2020 tercatat 10,7 juta orang dewasa penderitanya terus meningkat dari tahun ke di Indonesia menderita DM, dan jumlah ini Tanpa pengendalian yang tepat. diperkirakan meningkat menjadi 13,7 juta berpotensi menimbulkan komplikasi kronis, pada 2030 serta 16,6 juta pada 2045 jika pola hidup tidak sehat seperti konsumsi (DM) pembuluh darah (Febrinasari et al. , 2. Penyakit (Federasi Diabetes Internasional, 2. Selain memengaruhi metabolisme. DM mengatur kadar glukosa darah, sehingga juga berdampak pada sistem imun melalui menimbulkan hiperglikemia. Berdasarkan beberapa mekanisme. Kadar glukosa darah Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. yang tinggi dapat menurunkan fungsi imun dengan merekrut sel-sel pertahanan ke Leukosit Hiperglikemia kronis terbukti menghambat menghancurkan patogen atau zat asing yang kemampuan fagositosis leukosit, sehingga masuk ke sirkulasi darah (Handayati et al. meningkatkan risiko infeksi serta memicu CRP sendiri memiliki peran dalam peningkatan C-Reactive Protein (CRP) respons imun dan proses inflamasi. Oleh (Prasetyoningtiyas, 2. Kadar CRP yang sebab itu, pemeriksaan kadar leukosit dan CRP pada pasien DM tipe 2 penting inflamasi akibat komplikasi jangka panjang dilakukan, karena keduanya dapat dijadikan komplikasi inflamasi. (Penggabean, penyakit kardiovaskular (Kalma, 2. C-Reactive Protein (CRP) memiliki Pada pasien DM tipe 2, hiperglikemia yang erat dengan Diabetes Melitus (DM), terutama tipe 2, karena kerusakan mitokondria, yang kemudian berfungsi sebagai penanda inflamasi. meningkatkan produksi reactive oxygen termasuk penyakit inflamasi kronis yang species (ROS) dan menimbulkan stres ditandai oleh hiperglikemia berkepanjangan. ROS sendiri adalah radikal bebas Kadar glukosa plasma yang tinggi secara yang terbentuk ketika molekul oksigen terus-menerus dapat merangsang pelepasan sitokin proinflamasi, seperti IL-6. IL-1, dan akumulasinya dapat merusak pembuluh TNF, yang selanjutnya meningkatkan kadar darah, baik pada sistem makrovaskular CRP. Pada pasien DM tipe 2 dengan maupun mikrovaskular (Samad, 2. obesitas, kadar CRP umumnya lebih tinggi Keadaan ini memperparah inflamasi kronis akibat penumpukan jaringan lemak yang yang berpotensi menimbulkan kematian sel. memicu respons inflamasi. intraseluler menjadi faktor pemicu Dengan demikian, peningkatan kadar C- Sebagai Reactive Protein (CRP) pada pasien DM dihasilkan oleh hati, peningkatan CRP menandakan adanya inflamasi, termasuk berhubungan dengan komplikasi jangka pada kondisi kronis seperti DM. Pada DM panjang (Penggabean, 2. tipe 2, kadar CRP yang tinggi dapat berperan penting dalam memperkuat sistem Peningkatan Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu pada timbulnya berbagai Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. komplikasi, seperti retinopati, neuropati, dengan menggunakan metode purposive nefropati, serta penyakit kardiovaskular, berdasarkan kriteria tertentu yang telah (Permatasari et al. , 2. Penelitian ini ditetapkan sebelumnya. Besarnya sampel sangat penting untuk dilakukan krn untuk dihitung menggunakan rumus Slovin. jantung koroner mengetahui peningkatan CRP menandakan Hasil perhitungan sampel diperoleh adanya inflamasi, termasuk pada kondisi sebesar 43,5, kemudian dibulatkan menjadi kronis seperti DM. digunakan dalam penelitian ini adalah 44 METODE PENELITIAN Penelitian Analisa Data Analisis data pada penelitian ini menggambarkan realitas fenomena yang bertujuan untuk menggambarkan distribusi diteliti, sehingga memudahkan perolehan frekuensi berdasarkan jenis kelamin, usia, jumlah leukosit, dan kadar C-Reaktif Protein pada pasien diabetes melitus tipe 2. (Nugrahani 2. Selain itu, dilakukan perhitungan nilai rata- Tempat dan Waktu Penelitian rata, nilai tertinggi, dan nilai terendah dari Penelitian ini dilakukan di RS. jumlah leukosit. Seluruh analisis dibantu Harapan dan Doa Kota Bengkulu, pada dengan penggunaan perangkat lunak SPSS. bulan Januari sampai dengan Maret 2025. Populasi dan Sampel HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi dalam penelitian ini terdiri Penelitian ini dilakukan pada pasien atas data rekam medis pasien Diabestes Diabetes Melitus yang telah memberikan Melitus yang dirawat di RS Harapan dan persetujuan untuk menjalani pemeriksaan Doa jumlah leukosit dan kadar CRP, dengan Kota Bengkulu, (JanuariAeMaret 2. dan total populasi demografis pasien, seperti jenis kelamin sebanyak 77 orang. dan usia. Sampel dan Cara Pemilihan Sampel Pada penelitian ini, sampel dipilih Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. Tabel I. Pembagian Frekuensi Data Demografi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Pada Pasien DM di Rumah Sakit HD Kota Bengkulu Frekuensi . Persen (%) Laki-laki Perempuan 21-30 Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun 51-60 Tahun 61-70 Tahun 71-80 Tahun 81-90 Tahun No. Karakteristik Jenis Kelamin Total Usia Total Berdasarkan tabel I, dari 44 responden, laki-laki lebih berisiko terkena diabetes melitus tipe sebanyak 24 orang . ,2%), sedangkan 2 karena penumpukan lemak di area perut perempuan berjumlah 20 orang . ,8%). emak viscera. yang lebih besar, yang Berdasarkan kelompok usia, paling banyak berada pada rentang 61Ae70 tahun dengan 12 penurunan kadar testosteron seiring usia orang . ,4%), sedangkan kelompok usia yang dapat meningkatkan risiko ini. Selain 21Ae30 tahun paling sedikit, yaitu 3 orang itu, gaya hidup yang tidak aktif dan faktor . ,9%). Selain itu, terdapat 10 responden genetik juga berperan. ,8%) ,9%) berusia 81Ae90 tahun. Pria 31Ae40 Tabel II. Hasil CRP Pada Pasien Diabetes Melitus di RS. Harapan dan Doa Kota Bengkulu CRP Jumlah Presentase % Negatif Positif Total Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. Berdasarkan table II, dari 34 responden, mayoritas menunjukkan hasil CRP positif yaitu 27 orang . ,4%), sementara CRP negatif hanya terdapat pada 7 orang . ,6%). Tabel i. Hasil Jumlah Leukosit Pada Pasien Diabetes Melitus di RS. Harapan dan Doa Kota Bengkulu Jumlah Presentase % Rendah <3. 600/mmA Normal 600 Ae 11. 000/mmA Tinggi > 11. 000/mmA Total Jumlah Leukosit Tabel IV. Hasil Jumlah Leukosit d a n CRP Pada Pasien Diabetes Melitus di RS. Harapan dan Doa Kota Bengkulu CRP Jumlah Leukosit Positif Leukosit Tinggi 63,4% Negatif Leukosit Normal 36,6% Total Total Berdasarkan laki-laki . ,2%) responden, 27 orang . ,4%) tercatat . ,8%). Dari memiliki jumlah leukosit tinggi, sedangkan terbanyak berada pada rentang 61Ae70 tahun 17 orang . ,6%) berada dalam kadar . kelompok usia 21Ae30 tahun paling sedikit pemeriksaan CRP, 33 responden . %) . responden/3,9%). Selain itu, terdapat 10 menunjukkan hasil positif dan 11 responden responden . ,8%) berusia 31-40 tahun dan . %) menunjukkan hasil negatif. 5 respoden . ,9%) berusia 81-90. IV, Sedangkan responden/59,4%). Hasil PEMBAHASAN Peningkatan kadar CRP pada pasien menunjukkan CRP positif, yakni 27 orang diabetes melitus umumnya dipengaruhi oleh . ,4%), sedangkan CRP negatif ditemukan penumpukan jaringan lemak yang memicu pada 7 orang . ,6%). Data pemeriksaan proses inflamasi, sehingga CRP berfungsi leukosit dan CRP di RS Harapan dan Doa sebagai penanda peradangan. Penelitian ini Kota Bengkulu juga menunjukkan bahwa melibatkan 44 responden, terdiri dari 24 Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu ,4%) Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. alma,2. Dengan demikian, meskipun . ,6%) memiliki jumlah leukosit dalam pasien DM berisiko mengalami komplikasi batas normal. Untuk pemeriksaan CRP, 33 kardiovaskular, hasil CRP tetap dapat responden . %) menunjukkan hasil positif, menunjukkan negatif. Oleh karena itu, dibutuhkan metode laboratorium yang lebih . %) menunjukkan hasil negatif. sensitif untuk mengukur kadar CRP secara CRP merupakan protein fase akut yang diproduksi hati dan berfungsi sebagai Jumlah leukosit pada pasien diabetes melitus tidak selalu mengalami peningkatan. pelepasan sitokin proinflamasi, termasuk Sebanyak 17 responden . ,6%) tercatat CRP. memiliki kadar leukosit normal, yang diduga dipengaruhi oleh penerapan gaya menimbulkan kerusakan mitokondria pada hidup sehat, seperti menjaga pola makan. Mekanisme indikator adanya inflamasi. Pada penderita DM, pembentukan reactive oxygen species (ROS) menghindari konsumsi alkohol, berhenti merokok, kepatuhan terhadap terapi obat. Akumulasi ROS, sebagai radikal bebas hasil tangkapan elektron oleh oksigen, dapat menimbulkan Sebaliknya, pada pasien DM kerusakan pembuluh darah baik pada sistem dengan komplikasi berat, misalnya ulkus makrovaskular maupun mikrovaskular. diabetikum, kadar leukosit cenderung lebih Penelitian ini juga menemukan 11 Hal ini sesuai dengan temuan responden . %) dengan hasil CRP negatif. (Hasnah et al. yang menyatakan Kondisi tersebut dapat terjadi pada pasien bahwa hiperglikemia pada DM sering disertai dengan infeksi, termasuk ulkus penyakit jantung koroner atau stroke. Peningkatan kadar glukosa karena inflamasi berlangsung perlahan dan darah juga dapat menurunkan fungsi imun sering tanpa gejala. Selain itu, kadar CRP melalui hambatan fagositosis, kemotaksis, yang sangat tinggi dapat menghasilkan hasil dan migrasi sel inflamasi menuju area negatif palsu akibat fenomena zona pasca menggunakan metode pengenceran sampel Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu Kenaikan kadar CRP menandakan melitus, atau infeksi, yang selanjutnya Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. dapat memicu peningkatan jumlah leukosit. Temuan ini didukung oleh penelitian (Aliviameita et al. , yang menemukan hubungan signifikan antara kadar CRP dan mendukung teori (Bordon et al. , yang jumlah leukosit pada kasus ulkus kaki menyatakan bahwa leukositosis adalah Hal serupa juga terjadi pada respons inflamasi sistemik yang dipicu oleh pasien DM tipe 2, peningkatan sitokin proinflamasi seperti CRP, interleukin-6 (IL- keberadaan endotoksinemia. Temuan . , dan interleukin-8 (IL-. mendorong produksi leukosit dalam jumlah lebih KESIMPULAN DAN SARAN banyak (Farhangi et al. , 2. Berdasarkan temuan penelitian ini. Kerusakan jaringan akibat hipoksia dapat disimpulkan bahwa: Hasil pemeriksaan jumlah leukosit peradangan kronis yang berujung pada menunjukkan bahwa sebagian besar hematopoietik, khususnya sumsum tulang, responden mengalami peningkatan akan meningkatkan pelepasan leukosit ke leukosit sebanyak 27 orang . ,4%), dalam sirkulasi. Leukosit yang bertambah sedangkan 17 orang . ,6%) masih berperan penting dalam melawan patogen berada dalam batas normal. Kondisi maupun mikroorganisme lain yang masuk ke dalam tubuh (Handayati et al. , 2. Hasil Pemeriksaan CRP pasien memiliki hasil positif sebanyak bahwa 33 responden . %) menunjukkan 33 orang . %), sementara 11 orang CRP positif, sedangkan 27 orang . ,4%) . %) menunjukkan hasil negatif. mengalami leukositosis. Sebaliknya, 11 Secara responden . %) memiliki CRP negatif dan jumlah leukosit dan kadar CRP pada 17 responden . ,6%) menunjukkan kadar leukosit normal. Sebagian besar pasien Harapan dan Doa Kota Bengkulu dengan CRP positif juga memperlihatkan memperlihatkan adanya perbedaan peningkatan leukosit, meskipun sebagian antara kedua parameter tersebut. kecil tetap berada dalam kisaran normal. Hal ini mengindikasikan bahwa CRP positif Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu Jurnal Ilmiah Pharmacy. Vol. 12 No. Oktober 2025 ISSN P. 2406-8071 E. SARAN Dari kesimpulan tersebut, penulis memberikan beberapa saran, yaitu: Peneliti melanjutkan penelitian lebih lanjut berpengaruh antara CRP dan jumlah sel darah putih. Bagi untuk mengatasi peningkatan jumlah sel darah putih dan kadar CRP. Hal melakukan pemeriksaan laboratorium , serta memantau kadar glukosa darah secara teratur, dan menerapkan gaya hidup sehat. DAFTAR PUSTAKA