p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920 Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima Danni Frederiko Asido Sirait1. Herlina Yani2. Andre Budi3. Suhartomi Suhartomi4 Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Universitas Prima Indonesia PUI Phyto Degenerative & Lifestyle Medicine. Universitas Prima Indonesia Email: dannisrt06. m2@gmail. com1, yani_herlina@yahoo. andrebudi@unprimdn. id3, suhartomi@unprimdn. ABSTRAK Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit inflamasi kronik yang berdampak pada fungsi fisik, kondisi mental, dan kualitas hidup pasien. Hubungan antara tingkat aktivitas penyakit dan penanda inflamasi seperti C-Reactive Protein (CRP) dengan kualitas hidup masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara C-Reactive Protein dan DAS 28 terhadap SF 36 pada pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima. Penelitian observasional ini menggunakan rancangan cross-sectional pada 60 orang pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima yang dipilih melalui teknik pengambilan sampel convenience Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, skor DAS28, kadar CRP, dan skor kualitas hidup (SF. Data dianalisis secara deskriptif. Korelasi Spearman digunakan untuk menguji hubungan skor DAS28 dan kadar CRP dengan skor SF-36, sedangkan korelasi Kendall tau digunakan untuk menilai hubungan tingkat progresivitas penyakit dan kelompok kadar CRP dengan kualitas hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi lemah antara skor DAS28 dan kualitas hidup . = 0,008. r = Ae0,. serta komponen fisik . = 0,008. r = Ae0,. , tetapi tidak dengan komponen mental . = 0,. Kadar CRP tidak berkorelasi dengan seluruh aspek kualitas hidup, dan hasil tetap tidak signifikan setelah pengelompokan. Maka, dapat disimpulkan bahwa aktivitas penyakit berhubungan dengan kualitas hidup total dan fisik pada pasien AR, sedangkan kadar CRP tidak menunjukkan hubungan bermakna. Faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien AR lebih terkait dengan tingkat aktivitas penyakit dibandingkan marker inflamasi. Kata kunci: Artritis Reumatoid . CRP. DAS28. kualitas hidup. SF-36 ABSTRACT Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic inflammatory disease that affects patientsAo physical function, mental well-being, and overall quality of life. The association between disease activity level and inflammatory markers, such as C-Reactive Protein (CRP), with quality of life remains inconsistent across studies. Therefore, this study aimed to determine the corellation between CRP and DAS28 with the SF-36 scores in patients with RA at Royal Prima General Hospital. This observational study employed a cross-sectional design involving 60 RA patients selected using a convenience sampling Collected data included patient characteristics. DAS28 scores. CRP levels, and quality-oflife scores (SF. Data were analyzed descriptively. Spearman correlation was used to assess the relationship between DAS28 scores and CRP levels with SF-36 scores, while KendallAos tau correlation was used to evaluate the relationship between disease progression level and CRP categories with quality of life. The results showed a weak correlation between DAS28 and quality of life . = 0. r = Ae0. as well as the physical component . = 0. r = Ae0. , but not with the mental component . = CRP levels were not correlated with any aspects of quality of life, and findings remained nonsignificant after categorization. In conclusion, disease activity is associated with total and physical Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima quality of life in RA patients, whereas CRP levels show no meaningful relationship. Factors affecting RA patientsAo quality of life appear to be more closely related to disease activity than to inflammatory Keywords: Rheumatoid Arthritis. CRP. DAS28. Quality of Life. SF-36 PENDAHULUAN Perhimpunan Reumatologi Indonesia pada tahun 2021 mendefinisikan Artritis Reumatoid (AR) sebagai suatu bentuk penyakit reumatik autoimun yang membutuhkan penangangan khusus karena dapat menimbulkan kerusakan sendi sinovial (Scherer et al. Taylor, 2. Terjadi juga peningkatan berbagai biomarker autoantibodi (Rheumatoid Factor (RF). Anti-Citrullinated Protein Antibodies (ACPA), dan anticarbamylated protein antibodie. Sendi yang terlibat pada kasus Artritis Reumatoid (AR) meliputi pergelangan tangan, jari tangan, sternoklavikular, siku, bahu, pinggul, lutut, pergelangan kaki (Hidayat et al. , 2021. OAoNeil et al. , 2024. Pope & Choy, 2. Pada penyakit Artritis Reumatoid (AR), ada beberapa faktor yang menjadi patogenesis antara lain faktor genetik (HLA-DR4. HLA-DRB1. PTPN22. PADI4. STAT4. TRAF1- C5 dan TNFAIP. juga faktor lainnya . nfeksi, rokok, dan lingkunga. (Alwi, 2. Antigen-presenting cell (APC) mengenal arthritis-associated antigen sebagai antigen asing didalam tubuh. IL-23 yang terikat dengan IL-23R pada AunaiveAy limfosit T . el Th. dilepaskan oleh makrofag dan sel dendritik. Sinyal tersebut diperantarai oleh Janus Kinase (JAK) dan sel Th0 berubah menjadi Th17 yang menghasilkan IL-17 untuk mengaktikan limfosit B. Setelah teraktivasi, limfosit B membentuk Anti-Citrullinated Protein Antibodies (ACPA). Terbentuknya ACPA membuat kompleks imun dan protein tersitrulinasi memperberat inflamasi. Proses tersebut disebabkan kompleks imun dan sel mast yang memicu sel radang yang mengakibatkan inflamasi kronik dan berulang (Kalim & Wahono, 2. Artritis Reumatoid (AR) dilaporkan dapat memepengaruhi berbagai kelompok usia maupun jenis kelamin. Artritis Reumatoid dilaporkan mempengaruhi 0. 5-1% populasi dewasa dan muncul lebih sering pada wanita dibandingkan pria. Sekitar dua sampai dengan tiga kali lipat kasus Artritis Reumatoid dilaporkan pada wanita dibandingkan Krajewska-WCodarczyk, dkk. pada populasi Polandia melaporkan bahwa sebesar 689 orang per 100. 000 penduduk mengalami Artritis Reumatoid pada tahun 2021 dengan angka 1. 1% pada wanita dan 0. 3% pada pria. Lebih lanjut. KrajewskaWCodarczyk et al. Melaporkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi faktor risiko penting terhadap perkembangan penyakit Artritis Reumatoid seperti genetik, lingkungan, dan gaya hidup (Venetsanopoulou et al. , 2. Penelitian lain yang dilakukan oleh Zhang et al. melaporkan bahwa terdapat peningkatan pada angka insiden yang disesuaikan dengan umur (Age-Standardized Incidence Rat. serta lama hidup dengan disabiliras yang disesuaikan (Disability-Adjusted Life Year. dari tahun 1990 sampai 2019 terutama pada kalangan dewasa muda (Zhang et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa epidemilogi dari Artritis Reumatoid (AR) bervariasi pada dekade terakhir ini (Krajewska-WCodarczyk et al. , 2. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, pasien penderita Artritis Reumatoid di Indonesia mencapai 7,3 % (Baratawidjaja & Rengganis, 2. Data pasien Artritis Reumatoid (AR) membuktikan bahwa masih kurangnya tingkat pengetahuan dan kesadaran mengenai penyakit Artritis Reumatoid (Pradeepkiran, 2019. Suswitha & Arindari, 2. Prevalensi penyakit sendi di Indonesia pada tahun 2013 kelompok usia >13 tahun mencapai 11,9% , pada tahun 2018 berkurang menjadi 7,3%. Pada usia 35-44 tahun mencapai 6,3%, usia 45-54 tahun mencapai 11,1%. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi pada usia 55-64 tahun mencapai 11,5%, pada usia 65-74 tahun mencapai 18,6%, pada usia >75 tahun mencapai 18,9% yang mengalami penyakit pada sendi (Hasibuan et al. Artritis Reumatoid (AR) melalui jalur proinflamasi yang melewati sitokoin seperti Interleukin-6 (IL-. , faktor nekrosis tumor-a (TNF-. IL-1b. Fungsi dari Interlekuin-6 (IL-. adalah memproduksi C- Reactive Protein (CRP). C- Reactive Protein berhubungan dengan reseptor Fc gamma imunoglobulin (FcR) dimana hubungan tersebut akan mendorong produksi sitokin proinflamasi yang juga menyebabkan siklus amplifikasi Secara normal. CRP berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen infeksius C-Reactive Protein sebagai biomarker inflamasi sistemik pada Artritis Reumatoid (Pope & Choy, 2. NIMS Super-Specialty Hospital melakukan penelitian dan mendapatkan hasil mayoritas pasien Artritis Reumatoid yang berada dalam kelompok usia 41 hingga 60 tahun . ,97%), dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 1:2. CReactive Protein (CRP) menunjukkan korelasi positif yang sangat signifikan. Total keseluruhan pasien Artritis Reumatoid yang memiliki kadar CRP normal sebesar 7,69%, sementara yang mengalami peningkatan kadar CRP yang sangat tinggi sebesar 92,30% (Bagdi. Aswani. Singh. , & Verma, 2. Penyakit Artritis Reumatoid (AR) memiliki tingkat kecenderungan kronis ditandai dengan periode kekambuhan dan aktivitas penyakit (Shah & St. Clair, 2. Bentuk dari skor aktivitas penyakit (DAS) menjadi parameter untuk mengetahui jumlah sendi yang nyeri , laporan kesehatan pasien dan juga kadar dari C-Reactive Protein (Peng, 2. Skor aktivitas penyakit (DAS) yang paling sering digunakan adalah DAS 28 karena lebih komprehensif dalam perawatan dan uji klinis (Orr et al. , 2. Dalam uji klinis. DAS 28 adalah skor klinis dengan menilai 28 sendi untuk mengukur sendi yang bengkak . wollen joint count. , kadar C-Reactive Protein , sendi yang nyeri . ender joint coun. , dan penyakit yang dinilai dengan visual analog scale (VAS) untuk aktivitas penyakit pasien tersebut (Pisaniello et al. , 2. DAS 28 adalah uji yang baik pada penyakit nyeri kronis pada peradangan cairan sinovial (Coras et al. , 2. Pada penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa sebagian besar pasien Artritis Reumatoid dengan kadar C- Reactive Protein (CRP) > 6 sebanyak 45 orang . ,9%), dengan derajat aktivitas penyakit Artritis Reumatoid dengan derajat tinggi sebanyak 30 orang . - value= 0. 009 : r = 0. Memiliki kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara kadar C- Reactive Protein dengan derajat aktivitas penyakit artritis rheumatoid (Saputra et al. , 2. Selain berdasarkan aktivitas penyakit. Artritis Reumatoid (AR) dapat kita deteksi dengan menggunakan formulir Kesehatan yaitu Study 36-Item Form Health Survey (SF. Formulir tersebut dapat menilai dari kualitas hidup, aspek sosial dan fisik kehidupan . a Costa et al. , 2022. Fraenkel et al. , 2. SF-36 tersebut terdiri dari 8 bagian yaitu terdiri fungsi fisik, peran fisik, nyeri tubuh, kesehatan global, vitalitas, fungsi social, peran emosional, kesehatan mental (Ciurtin et al. , 2. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, sangat penting untuk mengevaluasi secara komprehensif pengaruh parameter biologis . CRP) dan penilaian objektif seperti DAS28 terhadap outcome berupa persepsi pasien terhadap kualitas hidupnya . isalnya, yang diukur dengan SF-. Sebagian besar penelitian sebelumnya cenderung fokus pada satu dimensi saja, seperti hubungan antara parameter biologis dan DAS28, atau antara DAS28 dan kualitas hidup, tanpa mengintegrasikan ketiga parameter tersebut dalam satu kerangka analisis. Padahal, pemahaman yang menyeluruh mengenai keterkaitan antara perbaikan parameter, aktivitas penyakit, dan kualitas hidup dapat memberikan wawasan baru untuk optimalisasi manajemen AR secara holistik. Oleh Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima karena itu, peneliti tertarik untuk mengevaluasi hubungan secara simultan antara perbaikan parameter, penilaian aktivitas penyakit, dan persepsi pasien terhadap kualitas hidup pada pasien AR terutama di Rumah Sakit Royal Prima Medan. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan model crosectional atau potong lintang, yang bertujuan untuk menganalisa variabel independent atau variabel bebas dan variabel dependent atau variabel terikat pada satu waktu yang sama (Taherdoost, 2. Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah adalah seluruh pasien Artritis Reumatoid di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Royal Prima. Sampel Penelitian Sampel Pengambilan sampel dalam penelitian ini dialkukan dengan teknik pengambilan sampel non-probable berupa convinience sampling technique (Omair. Pengambilan sampel dengan teknik ini adalah pengambilan sejumlah partisipan yang telah tersedia dan mudah dijumpai hingga mencapai jumlah sampel yang diinginkan pada populasi terjangkau. Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus besar sampel berdasarkan koefisien korelasi, sebagai berikut (Madiyono, 2. ycs1Oeyu ycs 1Oeyu n = . 5 ycu ln[. Oey. ] ] 3 Keterangan : n = jumlah sampel n = Ukuran sampel yang diperlukan. Z1-A = nilai distribusi normal baku . abel Z) pada A tertentu . Z1-A = nilai distribusi normal baku . abel Z) pada A tertentu . r = nilai koefisien korelasi antar variabel DAS28 dengan CRP pada penelitian sebelumnya . ycs1Oeyu ycs 1Oeyu n = . 5 ycu ln[. Oey. ] ] 3 96 0. n = . 5 ycu ln[. ]] 3 n = . 2 3 = 57. n = 60. Berdasarkan perhitungan besar sampel di atas, maka didapati besar sampel sebesar 60 orang. Kriteria Inklusi: Pasien berusia > 17 tahun. Tidak memiliki kelainan sendi selain Artritis Reumatoid. Bersedian menjadi responden dalam penelitian ini melalui informed consent Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi Kriteria Eksklusi: Memiliki riwayat penyakit autoimun. Mengkonsumsi obat-obat yang menurunkan daya tahan tubuh seperti obat antiinflamasi baik steroid maupun Non steroid serta DMARD (Boers, 2. Memiliki riwayat terpapar bahan kimia berupa logam berat Variabel Penelitian Variabel Independent: Karakteristik sosio-demografi (Umur. Jenis Kelamin, dan Pekerjaa. Tingkat Aktivitas Penyakit (Nilai DAS. , dan Tingkat Peradangan . adar C-Reactive Protein ). Variabel Dependent: Kualitas Hidup (Nilai SF. Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Tingkat Aktivitas Penyakit Kadar CRP Kualitas Hidup Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Lamanya waktu yang telah dilalui seseorang sejak lahir, biasanya diukur dalam satuan tahun (Sugiyono, 2. Kategori biologis yang umumnya diklasifikasikan menjadi laki-laki dan Perempuan (World Health Organization, 2. Status individu terkait aktivitas yang menghasilkan pendapatan atau kontribusi ekonomi, baik dalam sektor formal maupun informal (Albert et al. , 2. Kuesioner Kuesioner Dalam tahun Rasio Laki-Laki Perempuan Nominal Kuesioner Nominal Perjalanan artritis Artritis Reumatoid yang diukur dengan menilai 28 sendi berdasarkan jumlah sendi yang nyeri dan bengkak, serta kadar reaktan fase akut seperti laju endap darah (LED) atau C-Reactive Protein (CRP) (Saputra et al. , 2. Protein fase akut yang diproduksi oleh hati sebagai respons terhadap (Saputra et al. , 2. Gambaran kualitas hidup yang dinilai melalui berbagai domain kehidupan, termasuk kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan (Novitasari et al. , 2. Kuesioner DAS28 Wiraswasta PNS Pegawai Swasta Mahasiswa Tidak bekerja Lainnya Dalam bilangan bulat ELISA Dalam satuan mg/ L Rasio Kuesioner SF36 Dalam bilangan bulat Rasio Rasio Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Royal Prima Medan, yakni rumah sakit umum swasta tipe B yang berada di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Prima Indonesia. Rumah sakit ini berlokasi di Jl. Ayahanda No. Medan Petisah. Kota Medan. Sumatera Utara. Rumah Sakit Royal Prima mulai beroperasi secara resmi pada 16 Februari 2014 setelah peletakan batu pertama pada Mei 2011. Bangunan rumah sakit terdiri atas 13 lantai dengan kapasitas sekitar 250 tempat tidur dan berdiri di atas lahan seluas sekitar 16,364 mA. Fasilitas pelayanan yang tersedia sangat lengkap, meliputi enam ruang operasi. ICU. ICCU. NICU. HDU, layanan gawat darurat 24 jam, laboratorium, serta instalasi radiologi dengan teknologi canggih seperti CT-Scan. USG 4D, digital X-ray, dan Rumah sakit ini juga menyediakan layanan hemodialisis. Cath Lab, serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti helipad, apotek, kafetaria, perpustakaan, ruang seminar, dan 24 kamar penginapan bagi keluarga pasien. Selain berfungsi sebagai pusat layanan kesehatan. Rumah Sakit Royal Prima Medan juga merupakan rumah sakit pendidikan untuk Fakultas Kedokteran. Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan Universitas Prima Indonesia, serta menjadi salah satu pusat penelitian dan rujukan medis di wilayah Sumatera Utara. Hasil Penelitian Karakteristik Pasien RA Penelitian ini terlebih dahulu menganalisa distribusi frekuensi dari karakteristik pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima, yang meliputi sosiodemografi (Umur dan Jenis Kelami. , tingkat aktivitas penyakit, serta kualitas hidup. Sosio-Demografi Karakteristik sosio-demogarfi yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi umur dan jenis kelamin. Gambaran distribusi frekuensi dari pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Umur Umur Remaja Akhir . -25 tahu. Dewasa Awal . -35 tahu. Dewasa Akhir . -45 tahu. Lansia Awal . -55 tahu. Lansia Akhir . -65 tahu. Manula (> 65 tahu. Total Frekuensi Persentase Tabel 2. menunjukkan bahwa mayoritas pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berasal dari kelompok umur dewasa akhir . -45 tahu. yaitu sebanyak 17 orang . 3%), kemudian diikuti dengan kelompok lansia awal . -55 tahu. sebanyak 16 orang . 7%), lansia akhir . -65 tahu. sebanyak 15 orang . 0%), dewasa awal . -35 tahu. sebanyak 6 orang . 0%), manula (> 65 tahu. sebanyak 5 orang . 3%), dan yang paling sedikit remaja akhir . -25 tahu. sebanyak 1 orang . 7%). Analisa kemudian dilanjutkan untuk menilai distribusi frekuensi dari pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima berdasarkan jenis kelamin, yang dapat dilihat pada tabel 3. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase Laki-Laki Perempuan Total Tabel 3. di atas dapat dilihat mayoritas pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima merupakan Perempuan yaitu sebanyak 56 orang . 3%) dan sisa 4 orang . 7%) merupakan laki-laki. Berdasarkan data tersebut, besar sex ratio dari pasien Artritis Reumatoid dalam penelitian ini adalah 0. 07, yang mengindikasikan dominasi pasien Perempuan pada Artritis Reumatoid terutama di Rumah Sakit Umum Royal Prima. Selain secara tabular, gambaran distribusi frekuensi dari pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima berdasarkan karakteristik sosio-demografi juga dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Batang Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Karakteristik SosioDemografi Gambar 1. di atas menunjukkan bahwa mayoritas pasien Artritis Reumatoid didominasi oleh Perempuan dari kelompok umur dewasa akhir hingga lansia akhir. Tingkat Aktivitas Penyakit Selain karakteristik sosio-demografi, penelitian ini juga menganalisa tingkat aktivitas penyakit. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit kronis, maka gambaran tingkat keparahan dari penyakit dinilai melalui tingkat aktivitas penyakit yang dinilai dengan DAS28 hasil analisa DAS28 dikelompokkan menjadi remission, low disease activity, moderate disease activity, serta high disease activity. Hasil analisa distribusi frekuensi pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Tingkat Aktivitas Penyakit dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Tingkat Aktivitas Penyakit Tingkat Aktivitas Penyakit Remission Low Disease Activity Moderate Disease Activity High Disease Activity Total Frekuensi Persentase Tabel 4. di atas dapat dilihat bahwa mayoritas pasien Artritis Reumatoid (AR )di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan memiliki tingkat aktivitas penyakit berupa moderate disease activity sebanyak 23 orang . 3%), kemudian diikuti low Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima disease activity yaitu sebanyak 17 orang . 3%), remission sebanyak 11 orang . 3%), dan yang paling sedikit adalah high disease activity sebanyak 9 orang . 0%). Kadar CRP Karakteristik lain yang juga dinilai dari pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan adalah kadar CRP dan hasil analisa distribusi frekuensi pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan kadar CRP dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Kadar CRP Kadar CRP Normal (< 8 mg/ L) Tinggi (Ou 8 mg/ L) Total Frekuensi Persentase Tabel 5. di atas menunjukkan bahwa jumlah pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Umum Royal Prima menunjukkan sebaran atau distribusi Kadar CRP yang sama antara kadar CRP yang normal dan tinggi yaitu sebanyak 30 orang . %). Kualitas Hidup Variabel terakhir yang dianalisa dalam penelitian ini adalah gambaran kualitas hidup pasien Artritis Reumatoid (AR)yang dinilai dengan SF36. Kuesioner SF36 terdiri atas 8 komponen penilaian melalui 36 pernyataan. Distribusi frekuensi pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Gambaran Kualitas Hidup dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Pasien Artritis Reumatoid (AR)di Rumah Sakit Umum Royal Prima Medan berdasarkan Gambaran Kualitas Hidup Komponen Kualitas Hidup Buruk Sedang Baik Total Frekuensi Persentase Tabel 6. menunjukkan bahwa pada kualitas hidup pasien RA didominasi oleh kategori sedang sebanyak 46 orang . 7%), sedangkan sisa 14 orang . 3%) memiliki kualitas hidup baik. Hubungan antara Tingkat Aktivitas Penyakit dan Kadar CRP terhadap Kualitas Hidup Setelah dilakukan analisa secara deskriptif terhadap seluruh variabel penelitian. Analisa kemudian dilanjutkan untuk menilai hubungan dari tingkat aktivitas penyakit dan kadar CRP terhadap kualitas hidup. Tingkat aktivitas penyakit melalui nilai DAS28, kadar CRP, dan gambaran kualitas hidup skor SF36 menunjukkan skala ukur berupa Sehingga sebelum dilakukan analisa korelasi terhadap nilai dari variabel-variabel tersebut, terlebih dahulu dilakukan analisa distribusi data dengan uji KolmorgorovSmirnov yang dapat dilihat pada Tabel 7. Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi Tabel 7. Analisa Distribusi Data Variabel Penelitian dengan Kolmorgorov-Smirnov Variabel DAS28 Kadar CRP SF36 Nilai P < 0. Distribusi Data Tidak Normal Normal Tidak Normal Tabel 7. di atas menunjukkan bahwa analisa distribusi data variabel skor DAS28 dan SF36 menunjukkan distribusi data tidak normal. Hanya kadar CRP yang menunjukkan distribusi data normal. Berdasarkan distribusi data variabel tersebut, maka analisa korelasi terhadap Tingkat aktivitas penyakit melalui nilai DAS28 dan kadar CRP dengan analisa korelasi spearman, namun terlebih dahulu dilakukan analisa terhadap sebaran atau distribusi dari skor DAS28, kadar CRP, dan Skor SF36. Tabel 8. Hasil Analisa Staitik Deskriptif dari Skor DAS28 dan kadar CRP. SF36 Variabel DAS28 Kadar CRP SF36 Median Minimum Maximum Range Tabel 9. di atas menunjukkan bahwa sebaran dari skor DAS28, kadar CRP. Skor SF36 melalui nilai median, minimum, maksimum, dan rentang (Rang. Nilai median skor DAS28 adalah 3. 55 dengan rentang 1. 61Ae7. 03, menunjukkan variasi tingkat aktivitas penyakit dari ringan hingga berat. Kadar CRP memiliki median 7. 74 mg/L dengan rentang yang cukup lebar . 30mg/LAe97. 56mg/L), mengindikasikan perbedaan tingkat inflamasi antar responden. Pada komponen kualitas hidup, nilai median skor total SF-36 adalah 67. 04 dengan 88Ae88. 85, yang secara umum menggambarkan kualitas hidup pasien berada pada tingkat sedang. Setelah dilakukan analisa statistik deskriptif terhadap nilai skor DAS28, kadar CRP, dan Skor SF36, maka analisa dilanjutkan untuk menilai korelasi anatar Tingkat Aktivitas Penyakit (DAS. dan Kadar CRP terhadap Kualitas Hidup (SF. yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Hasil Analisa Korelasi Spearman antara Tingkat Aktivitas Penyakit (DAS. dan Kadar CRP terhadap Kualitas Hidup Pasangan Variabel DAS28-SF36 Kadar CRP-SF36 Koefisien Korelasi . Nilai P Tabel 10. di atas dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat aktivitas penyakit terhadap kualitas hidup (Nilai P: 0. r: -0. Korelasi yang dimiliki antara DAS28 dan SF36 tersebut bersifat lemah. Akan tetapi, tidak terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat aktivitas penyakit terhadap komponen mental dari kualitas hidup (Nilai P: 0. r: -0. Lebih lanjut, kadar CRP juga dilaporkan tidak memiliki korelasi yang bermakna terhadap komponen fisik maupun mental dari kualitas hidup dan kualitas hidup secara keseluruhan. Hubungan antara Tingkat Aktivitas Penyakit terhadap Kualitas Hidup Analisa kemudian dilanjutkan untuk menilai korelasi antara tingkat aktivitas penyakit dan kualitas hidup. Tingkat aktivitas penyakit dikelompokkan melalui skor Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima DAS28 menjadi remission, low disease activity, moderate disease activity, and high disease activity. Sementara itu, kualitas hidup secara keluruhan, komponen fisik, maupun kompoenen mental melalui skor SF36 menjadi baik, sedang, dan buruk. Hasil analisa korelalsi antara tingkat aktivitas penyakit terhadap kualitas hidup dengan analisa korelasi Kendall Tau dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Hasil Analisa Korelasi Kendall Tau antara Tingkat Aktivitas Penyakit terhadap Kualitas Hidup Kualitas Hidup Buruk Sedang Baik Total Tingkat Aktivitas Penyakit, n (%) Remission Low Moderate High 0 . Total 0 . Nilai P Tabel 10. menunjukkan bahwa tingkat akfitas penyakit memiliki korelais yang bermakana dengan kualitas hidup secara keselurhan (Nilai P: 0. r: -0. Berdasarkan nilai koefisien korelasi, korelasi tersebut bersifat lemah dan berbanding terbalik, yang artinya semakin berat tingkat aktivitas penyakit maka semakin rendah kualitas hidup pasien. Hubungan antara Kadar CRP terhadap Kualitas Hidup Selain menilai hubungan antara tingkat aktivitas penyakit, penelitian ini juga menilai korelasi antara kadar CRP terhadap kualitas hidup pasien dengan Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima dan hasil analisa korelasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Hasil Analisa Korelasi Kendall Tau antara Kadar CRP terhadap Kualitas Hidup Kualitas Hidup Buruk Sedang Baik Total Kadar CRP Normal (< 8 mg/ L) 0 . Meningkat (Ou 8 mg/ L) 0 . Total Nilai P 0 . Tabel 11. menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara kadar C-Reactive Protein (CRP) dan kualitas hidup pasien Rheumatoid Arthritis di Rumah Sakit Umum Royal Prima. Hal ini ditunjukkan oleh nilai p hasil analisis korelasi antara CRP dan skor kualitas hidup keseluruhan (Nilai p = 0. , yang seluruhnya berada di atas batas Dengan demikian, kadar CRP tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kualitas hidup pada populasi penelitian ini. Pembahasan Karakteristik Sosio-Demografi dari Pasien RA Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa mayoritas pasien Artritis Reumatoid didominasi oleh Perempuan dari kelompok umur dewasa akhir hingga lansia Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Buckman et al. pada pasien Artritis Reumatoid (AR)di Unit Ortopedik. Rumah Sakit Pendidikan Komfo Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi Anokye. Ghana, yang melaporkan bahwa rerata usia pasien dengan Artritis Reumatoid 25 A 13. 22 tahun dan didominasi oleh Perempuan dengan sex ratio sebesar 1: Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Vij et al. juga melaporkan hasil yang tidak jauh berbeda, mayoritas pasien dengan Artritis Reumatoid di Departement Reumatologi. Indian Spinal Injuries Center. New Delhi juga didominasi oleh Perempuan dengan perbandingan laki-laki Perempuan sebesar 8. 4: 1 dengan rerata usia 45. 3 A 12. tahun (Buckman et al. , 2024. Vij et al. , 2. Dominasi Perempuan pada penyakit Artritis Reumatoid berhubungan dengan faktor genetik dan hormonal (Deane et al. , 2017. Romyo & Fonseca, 2. Perempuan memiliki hormon esterogen yang berperan penting dalam regulasi respon imun tubuh dengan mendukung keberlangsungan klon autoreactive yang seharusnya dieliminasi, dan pada akhirnya meningkatkan prevalensi autoimunitas pada perempuan. Bukti ilmiah lain juga melaporkan peran dari kendali genetic terutama gonosom dalam mendukung peningkatan prevalensi autoimun terutama pada perempuan (Raine & Giles, 2. Gambaran Tingkat Aktivitas Penyakit Pada penelitian ini mayoritas pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima memiliki tingkat aktivitas penyakit moderate disease activity yaitu sebanyak 23 orang . 3%) dan hanya 11 orang yang berada fase remission yaitu 11 orang . 3%). Temuan ini sesuai dengan karakteristik layanan rumah sakit, di mana sebagian besar pasien yang datang merupakan individu dengan keluhan aktif. Pasien yang tidak bergejala umumnya tidak melakukan kunjungan kontrol secara rutin dan akan terus melanjutkan terapi di Rumah (Chabib et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil peneletian oleh Vij et al. yang melaporkan bahwa mayoritas didominasi oleh pasien Artritis Reumatoid dengan tingkat aktivitas penyakit moderate sebesar 50. 8% dan yang paling sedikit adalah inaktif atau fase remisi yang hanya 1. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Ahmed dan Rasool . juga melaporkan hasil yang tidak jauh berbeda dimana mayoritas pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit memiliki tingkat aktivitas penyakit sedang (Moderat. yaitu sebanyak 36 orang . 29%) (Vij et al. , 2. Kadar CRP Kadar CRP yang sama antara kadar CRP yang normal dan tinggi yaitu sebanyak 30 orang . %). Pada analisa statistik deskriptif terhadap nilai CRP sebelum dikelompokkan, didapati bahwa median atau nilai tengah sebagai nilai kecenderungan sentral adalah sebesar 7. 74 mg/ L. Temuan ini sejalan dengan penelitian Graf et al. yang melaporkan bahwa median kadar CRP pada pasien rheumatoid arthritis di Rumah Sakit Umum Francisco dan kohor Universitas California San Francisco adalah 5. 3 mg/L. Penelitian lainnya oleh Hakim et al. juga melaporkan nilai rerata CRP sebesar 8. A 4. 28 mg/L pada pasien Rheumatoid Arthritis di Rumah Sakit Militer Rawalpindi. Secara keseluruhan, temuan ini wajar mengingat pasien dengan rheumatoid arthritis umumnya memiliki kadar CRP di atas 3 mg/L (Graf et al. , 2009. Hakim et al. , 2. Kualitas Hidup Hasil penelitian ini secara jelas menunjukkan bahwa pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima memiliki gambaran kualitas hidup mulai dari komponen fisik, mental, maupun secara keseluruhan pada tingkat sedang. Tingkat sedang baik pada komponenen fisik, mental, maupun kualitas hidup secara keseluruh menunjukkan kisaran nilai antara 25-75. Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian oleh Elnady et al. , yang melaporkan bahwa mayoritas komponen mental maupun fisik pada pasien Rhumatoid Artritis di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Hubungan C-Reactive Protein dengan Disease Activity Score 28 (DAS . dan Short Form 36 (Sf . pada Pasien Artritis Reumatoid (AR) di Rumah Sakit Royal Prima Reumatologi Rumah Sakit Al Hada. Taif. Arab Saudi berkisar anatara 38. 10 A 5. 66 untuk komponen fisik dan 41. 44 A2. 92 untuk komponen mental. Meskipun sistem kategorisasi skor yang digunakan berbeda, kisaran nilai yang tumpang tindih ini menunjukkan pola penurunan kualitas hidup yang konsisten pada pasien Artritis Reumatoid di berbagai negara (Elnady et al. , 2. Pada analisa statistik deskriptif pada komponen fisik maupun mental dari SF36 menunjukkan bahwa nilai Median untuk PCS adalah sebesar 67. 09 dan nilai Median MCS Bila dibandingkan dengan penelitian Goncalves et al. di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Portugal Utara, median PCS sebesar 32 dan median MCS sebesar 52, terlihat bahwa kualitas hidup pasien RA pada penelitian ini relatif lebih tinggi, terutama pada domain fisik. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh variasi karakteristik populasi, perbedaan akses layanan kesehatan, serta perbedaan durasi dan tingkat keparahan penyakit antar populasi (Rosa-Goncalves et al. , 2. Hubungan antara Tingkat Aktivitas Penyakit terhadap Kualitas Hidup Pasien Artritis Reumatoid Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi lemah antara skor DAS28 (Tingkat aktfitas penyaki. terhadap kualitas hidup secara kesuluruhan (Nilai P: 0. Korelasi tetap bermakna meskipun masing-maisng sistem skoring baik pada tingkat aktivitas penyakit dan kualitas hidup keseluruhan yang dikelompokkan dalam beberapa kategori. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Elnady et al. di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Reumatolgoi Rumah Sakit Al Hada. Taif. Arab Saudi yang melaporkan bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara PCS dan MCS terhadap tingkat aktivitas penyakit yang digambarkan melalui skor DAS28. Namun, pada penelitian sebelumnya korelasi bersifat sedang baik pada kompoenen fisik maupun Sementara itu, pada hasil penelitian saat ini didapati korelasi yang bersifat lemah. Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya perbedaan populasi penelitian, serta beberapa faktor lain yang tidak dapat diukur dalam penelitian ini seperti aksestabilitas saran kesehatan, ketersediaan regimen obat, dll (Elnady et al. , 2021. Nosratzehi et al. , 2. Hubungan antara kadar CRP terhadap Kualitas Hidup Pasien Artritis Reumatoid Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar CRP terhadap baik komponen fisik (Nilai P: 0. r: 0. maupun mental (Nilai P: 0. r: 0. dari kualitas hidup serta kualiatas hidup secara keseluruhan (Nilai P: 0. r: 0. Setelah dilakukan pengelompokan kadar CRP serta masingmasing komponen kualitas hidup maupun kualitas hidup total, hasil analisis tetap menunjukkan tidak adanya korelasi antara kadar CRP dan kualitas hidup pada populasi penelitian ini. Hingga saat ini, hanya penelitian oleh Ima et al. yang melaporkan bahwa kadar CRP berkorelasi positif secara signifikan dengan sindrom depresi . = 0. , dan sindrom depresi tersebut berkorelasi negatif dengan kualitas hidup . = Ae0. Temuan ini mengindikasikan bahwa kadar CRP kemungkinan memiliki hubungan tidak langsung dengan kualitas hidup, yakni melalui peningkatan gejala depresi. Dengan kata lain, peningkatan CRP dapat berkontribusi pada meningkatnya tingkat depresi, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien (Ima et al. , 2. Perbedaan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar CRP tidak secara langsung mempengaruhi kualitas hidup. Meskipun CRP merupakan penanda inflamasi yang kerap digunakan untuk menilai aktivitas penyakit, penelitian ini tidak menemukan Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. 6 No. 12 Desember 2025 Danni Frederiko Asido Sirait. Herlina Yani. Andre Budi. Suhartomi Suhartomi korelasi antara kadar CRP dan kualitas hidup pasien, baik pada komponen fisik, komponen mental, maupun kualitas hidup total . Bahkan setelah dilakukan pengelompokan berdasarkan kategori CRP dan kategori kualitas hidup, tidak ditemukan hubungan yang signifikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Ima et al. , yang melaporkan bahwa pasien dengan kadar CRP tinggi cenderung mengalami penurunan kualitas hidup akibat meningkatnya sindrom depresi. Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan antara kadar CRP dan kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi psikologis pasien (Isnardi et al. , 2. Selain itu, faktor lain seperti durasi penyakit, status fungsional, dukungan sosial, dan tingkat kontrol nyeri juga berpotensi berkontribusi terhadap korelasi tersebut. Temuan ini sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kualitas hidup pada pasien Artritis Reumatoid bersifat multifaktorial dan tidak selalu berbanding lurus dengan biomarker inflamasi (Ausi et al. , 2025. Hui et al. , 2024. Karakas et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien Artritis Reumatoid di Rumah Sakit Umum Royal Prima adalah perempuan dari kelompok usia dewasa akhir hingga lansia. Sebagian besar pasien memiliki tingkat aktivitas penyakit yang sedang, dengan jumlah pasien terbanyak pada kategori moderate disease activity. Sebaran nilai CRP di pasien menunjukkan proporsi yang hampir sama antara nilai normal dan tinggi. Dari segi kualitas hidup, mayoritas pasien berada pada kategori tingkat sedang, baik dalam komponen fisik maupun mental. Terdapat korelasi signifikan yang lemah antara tingkat aktivitas penyakit (DAS. dengan kualitas hidup pasien, namun tidak ditemukan korelasi antara kadar CRP dan kualitas hidup (Fernyndez-yAvila et al. , 2. Saran dari penelitian ini adalah untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan model yang serupa pada populasi yang berbeda, serta menggunakan metode penelitian berbasis Evidence Based Medicine seperti case control atau cohort. Selain itu, penelitian lanjutan juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kualitas hidup pasien Artritis Reumatoid . REFERENSI