SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen ISSN: 2722-8851 . , 2722-886X . Volume 6. No 2. Desember 2025. DOI: 10. 34307/sophia. Available at: http://sophia. iakn-toraja. Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi: Teologi. Inklusi, dan Keadilan Rion Androfen Silitonga Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Jakarta. Indonesia silitonga@stftjakarta. Article History Received 02 Februari 2025 Revised 29 Desember 2025 Accepted 31 Desember 2025 Abstract: Disability is a complex phenomenon that involves various aspects of life, including physical, cognitive, and psychiatric. From a Christian theological perspective, disability is often viewed through a challenging lens, either as a test, a suffering, or a symbol of sin. However, this understanding often ignores the dignity and rights of people with disabilities as creatures made in the image of God (Imago De. Through theological thinking such as that promoted by Augustine and Jurgen Moltmann, disability can be understood as part of God's greater plan, which demands recognition, respect and proper care. Inclusive theology, as reflected in 1 Corinthians 12, emphasizes the active role of every member of the body of Christ, including people with disabilities, in the community of faith. The social stigma of disability, both physical and mental, is a major obstacle to social inclusion, but through a deeper understanding of Imago Dei and Imago Christi, churches and communities can create more inclusive and loving spaces for people with disabilities. Keywords: disability, image of God, image of Christ, inclusive theology, christian Abstrak: Disabilitas merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk fisik, kognitif, dan psikiatris. Dalam perspektif teologi Kristen, disabilitas sering dipandang melalui lensa yang penuh tantangan, baik sebagai ujian, penderitaan, maupun simbol dosa. Namun, pemahaman ini sering kali mengabaikan martabat dan hak-hak penyandang disabilitas sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago De. Melalui pemikiran teologis seperti yang diusung oleh Agustinus dan Jurgen Moltmann, disabilitas dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, yang menuntut pengakuan, penghormatan, dan perawatan yang layak. Teologi inklusif, seperti yang tercermin dalam 1 Korintus 12, menekankan peran aktif setiap anggota tubuh Kristus, termasuk penyandang disabilitas, dalam komunitas iman. Stigma sosial terhadap disabilitas, baik fisik maupun mental menjadi hambatan besar bagi inklusi sosial, namun melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang Imago Dei dan Imago Christi, gereja dan masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh kasih bagi penyandang disabilitas. Kata Kunci: disabilitas, gambar Allah, gambar Kristus, teologi inklusif, teologi kristen Pendahuluan Disabilitas merupakan realitas kompleks dalam kehidupan manusia yang tidak dapat disempitkan hanya pada aspek medis, melainkan mencakup dimensi sosial. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 0 International (CC BY-SA 4. CopyrightA2025. Authors,| 145 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. kultural, dan spiritual dalam pengalaman sehari-hari. Secara faktual, penyandang disabilitas masih menghadapi marginalisasi dalam berbagai bidang, mulai dari keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan hingga diskriminasi di ruang publik. Stigma dan prasangka yang berakar pada konsep AunormalitasAy sering menempatkan mereka sebagai objek belas kasihan atau bahkan beban sosial. Kondisi tersebut menegaskan urgensi penelitian untuk mengkritisi paradigma yang menyingkirkan penyandang disabilitas, sekaligus membangun pemahaman yang lebih adil dan inklusif dalam Secara teoritis, tradisi teologi Kristen menyimpan ketegangan dalam memaknai disabilitas. Narasi klasik kerap mengaitkannya dengan konsekuensi dosa atau ujian iman, sementara wacana kontemporer menekankan panggilan gereja sebagai komunitas yang merangkul keberagaman tubuh manusia. Henokh Adijaya dan Daniel Martin Tamera dalam AuMemahami Disabilitas Dari Perspektif TeologisAy menegaskan bahwa persepsi negatif terhadap disabilitas berakar pada konstruksi sosial tentang normalitas, sehingga diperlukan refleksi teologis yang mampu menjembatani aspirasi normatif dengan praktik nyata hak-hak penyandang 1 Demikian pula. Maria Agustine dan Cristian Seldjatem dalam AuTubuh yang Terlupakan: Meneropong Disabilitas melalui Lensa Teologi yang InklusifAy menunjukkan bahwa banyak tradisi religius masih mengaitkan disabilitas dengan dosa atau kutukan, padahal teologi inklusif justru menekankan keberagaman tubuh sebagai bagian dari ciptaan Allah yang layak dihargai. 2 Ketegangan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana menafsirkan disabilitas dalam terang doktrin fundamental Kekristenan, khususnya konsep Imago Dei (Gambar Alla. dan Imago Christi (Gambar Kristu. , serta implikasinya bagi praktik inklusi di gereja dan masyarakat? Perkembangan kajian teologis mengenai disabilitas dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan adanya upaya dekonstruksi terhadap pandangan tradisional yang cenderung menekankan rasionalitas sebagai inti Imago Dei. Pendekatan ini, meskipun berpengaruh dalam sejarah teologi, berpotensi mengabaikan martabat penyandang disabilitas intelektual karena menempatkan kapasitas kognitif sebagai ukuran utama citra Allah. Kajian awal yang menyoroti kritik terhadap paradigma tradisional dapat ditemukan, misalnya, dalam karya Nancy Eisland dalam The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability memperkenalkan teologi pembebasan yang menantang narasi stigmatisasi terhadap penyandang disabilitas. 3 Analisis historis yang lebih luas ditawarkan oleh Brian Brock dan John Swinton melalui Disability in the Christian Tradition: A Reader, yang secara kritis mengangkat pemikiran Agustinus dan tradisi Kristen dalam kaitannya dengan disabilitas. Sementara itu, kajian kontemporer bergerak ke arah pendekatan relasional, yang menekankan kapasitas berelasi sebagai esensi Henokh dan Daniel Martin Tamera Adijaya. AuMemahami Disabilitas Dari Perspektif Teologis,Ay Jurnal Teologi 8, no. : 51Ae59, https://ejournal. id/aluciodei/article/view/131. Maria dan Cristian Seldjatem Agustine. AuTubuh Yang Terlupakan: Meneropong Disabilitas Melalui Lensa Teologi Yang Inklusif,Ay Rei Mai: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen 3, no. : 246Ae254, https://ejurnal. id/index. php/jrm/article/view/348/115. Nancy L Eiesland. The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability (Abingdon Press. CopyrightA 2025. Authors | 146 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi gambar Allah. 4 Deborah Creamer dalam Disability and Christian Theology: Embodied Limits and Constructive Possibilities mengeksplorasi keterbatasan tubuh dan implikasinya bagi konstruksi teologis, sehingga membuka ruang bagi pemahaman yang lebih inklusif. Namun demikian, baik pendekatan tradisional maupun kontemporer memiliki keterbatasan: pendekatan tradisional terlalu menekankan rasionalitas, sedangkan pendekatan relasional belum sepenuhnya terintegrasi dengan kerangka teologis yang lebih luas. Dalam konteks ini, masih jarang ditemukan upaya yang secara sistematis menggabungkan pendekatan relasional dengan pemikiran teolog kontemporer seperti Jyrgen Moltmann, khususnya dalam kerangka eklesiologis yang berakar pada 1 Korintus 12 tentang tubuh Kristus. Kekosongan ini menunjukkan perlunya suatu konstruksi teologis yang lebih utuh, yang tidak hanya mengkritisi paradigma lama, tetapi juga menawarkan sintesis baru antara Imago Dei dan Imago Christi sebagai dasar bagi pandangan inklusif tentang disabilitas. Berdasarkan identifikasi celah tersebut, artikel ini menawarkan kebaruan ilmiah melalui sintesis teologis yang integratif dengan: . mengonsolidasikan pemahaman Imago Dei dan Imago Christi dari tradisi historis (Agustinu. dan teologi kontemporer (Jyrgen Moltman. mengaplikasikan sintesis pemikiran tersebut untuk menafsir ulang makna disabilitas dan partisipasi aktif penyandang disabilitas dalam Autubuh KristusAy berdasarkan 1 Korintus 12. menghubungkan refleksi teologis dengan analisis stigma sosial dan model-model disabilitas dalam menciptakan jembatan antara teori teologis dan praktik inklusi yang transformatif. Penelitian ini bertujuan untuk menintesis antara pemikiran Agustinus, teologi Jyrgen Moltmann, dan tafsir 1 Korintus 12 konsep mengenai Imago Dei dan Imago Christi mengukuhkan landasan teologis yang radikal bagi inklusi penyandang disabilitas, di mana martabat manusia tidak ditentukan oleh kapabilitas fisik, melainkan oleh partisipasi dalam persekutuan Tubuh Kristus. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan studi literatur. Sumber data utama meliputi teks-teks teologis, baik dari tradisi Kristen dalam sejarah maupun pemikiran kontemporer, seperti pemikiran Agustinus dan Jyrgen Moltmann. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan disabilitas. Imago Dei, dan Imago Christi, serta bagaimana konsepkonsep ini dapat diterapkan dalam konteks inklusi sosial dan spiritual. Selain itu, penelitian ini juga mempertimbangkan pandangan teologis dari Alkitab, khususnya 1 Korintus 12 untuk memahami peran penyandang disabilitas dalam tubuh Kristus. Studi literatur juga mencakup analisis terhadap stigma sosial dan model-model disabilitas yang mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Brian Brock and John Swinton. Disability in the Christian Tradition: A Reader (Wm. Eerdmans Publishing, 2. Deborah Beth Creamer. Disability and Christian Theology: Embodied Limits and Constructive Possibilities. Academy Series (New York: Oxford University Press, 2. CopyrightA 2025. Authors | 147 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. Hasil dan Pembahasan Stereotip dan Narasi Sosial tentang Disabilitas Disabilitas merupakan hal kompleks yang melibatkan berbagai aspek kehidupan dan dapat didefinisikan dengan berbagai cara. Secara umum, disabilitas mengacu pada keterbatasan dalam kemampuan fisik, kognitif, atau psikiatris yang memengaruhi pribadi dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Disabilitas fisik mencakup gangguan sensorik seperti kebutaan atau tuli, gangguan mobilitas, kelumpuhan, serta kondisi neurologis dan muskuloskeletal seperti stroke atau multiple sclerosis. Disabilitas kognitif melibatkan gangguan dalam persepsi, memori, dan pemrosesan informasi, misalnya pada gangguan intelektual atau autisme. Disabilitas psikiatris meliputi gangguan mental seperti skizofrenia atau depresi. Disabilitas juga tidak selalu disertai dengan kerugian atau Beberapa disabilitas juga dapat melibatkan kelebihan fungsi, seperti yang ditemukan pada gangguan neurologis tertentu. Pengenalan disabilitas biasanya berdampak pada kehidupan pribadi baik secara medis, sosial, maupun pribadi, dan dapat mempengaruhi konsep diri serta interaksi sosial. Stigma sosial dan prasangka seringkali menjadi bagian dari pengalaman disabilitas, memperburuk tantangan yang dihadapi pribadi dengan disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan. Pengenalan disabilitas yang kompleks, baik dalam konteks fisik, kognitif, maupun psikiatris, sering kali berujung pada pandangan sosial yang keliru terhadap penyandang Stereotip yang muncul menarik mereka dalam narasi Auanak posterAy . oster chil. yang memancing iba, sebuah simbol yang menurut Cyndi Jones justru menindas karena mengeksploitasi rasa takut dan menjanjikan Aukeajaiban kesembuhanAy lewat donasi, seolah-olah cacat adalah tragedi yang harus dihapus. Sejalan dengan itu. Marilynn Phillips menganalisis bahwa ketika medis gagal memberikan kesembuhan, ekspektasi masyarakat bergeser menuntut penyandang disabilitas untuk tidak lagi menjadi objek pasif, melainkan harus menyembuhkan diri sendiri melalui kerja keras yang luar biasa. Stereotip tersebut melahirkan apa yang dalam narasi Joseph P. Shapiro disebut sebagai fenomena AusupercripAy yakni tuntutan agar penyandang disabilitas menjadi pahlawan ala kisah Horatio Alger yang harus melampaui batas batasan fisik demi dianggap layak Pandangan tersebut menunjukkan ketidaktahuan masyarakat terhadap kenyataan bahwa banyak penyandang disabilitas, seperti yang ditegaskan kembali oleh Jones, menolak Aupil ajaibAy penyembuhan karena mereka memandang disabilitas sebagai bagian dari identitas yang sah, sama seperti seseorang tidak perlu mengubah warna kulitnya untuk diterima. Oleh karena itu, kampanye amal yang mengedepankan rasa belas kasihan maupun glorifikasi kepahlawanan dianggap merugikan, karena disabilitas seharusnya diterima dan dihargai sebagai bagian dari pengalaman hidup yang layak Julie Smart. Disability Definitions. Diagnoses, and Practice Implications: An Introduction for Counselors. Routledge. First. Academy Series (New York: Routledge, 2. , 36Ae39. CopyrightA 2025. Authors | 148 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi mendapatkan pengakuan hak sipil, tanpa diskriminasi atau ekspektasi yang tidak Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah menurut Imago Dei, sebagaimana dinyatakan dalam Kejadian 1:26-27. Imago Dei menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan yang mencerminkan Allah dalam aspek tertentu, baik dalam kualitas intrinsik seperti akal budi, kehendak, dan relasi, maupun dalam fungsi untuk menguasai dan memelihara ciptaan. Imago Dei menekankan hubungan manusia dengan Allah dan ciptaan lainnya, sehingga identitas manusia tercipta dalam relasi dengan Allah. Namun Imago Christi . ambar Kristu. membawa pemahaman yang lebih mendalam, di mana Kristus sebagai Sang Gambar Allah menjadi patokan sempurna dari gambar Allah yang sejati (Kol 1:15. 2 Kor 4:. menjadi wadah cetakan atau dasar penciptaan manusia. Manusia diciptakan di dalam dan menurut Kristus. Sang Gambar Allah itu. Dalam perspektif tersebut, status mediator Kristus sebagai Imago Dei adalah unik. melalui Sang Sabda (Kristu. kita diciptakan, dan melalui Dia kita dipulihkan untuk dapat mengenal Bapa dalam Roh Kudus, sehingga memberi ruang bagi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan Trinitas. Imago Dei dan Imago Christi bukanlah urutan logis, tetapi berpadu dalam pandangan bahwa manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah yang adalah Kristus, diundang untuk secara dinamis menjadi serupa dengan gambar-Nya (Rm 8:29. 2 Kor 3:. Dengan demikian, proses pembaruan oleh Roh Kudus mengarah pada tujuan ekatologis, yaitu manusia yang menjadi Gloria Dei di bumi, dalam persekutuan dengan Kristus. Pandangan teologis Jyrgen Moltmann, juga menawarkan sebuah wawasan baru tentang konsep Imago Dei dan Imago Christi. Moltmann menekankan pentingnya pemahaman relasional tentang gambar Allah dalam diri manusia. Menurutnya, gambar Allah bukanlah sebuah kualitas atau esensi yang melekat pada diri individu secara terpisah, tetapi merupakan suatu relasi yang terjalin dengan Tuhan dan sesama. Dalam pandangan Moltmann, gambar Allah tidak hanya ada sebagai bagian dari struktur internal manusia, tetapi lebih sebagai pengalaman relasional yang berkembang dalam konteks komunitas dan persekutuan. Dengan demikian, gambar Allah terwujud dalam cara manusia berinteraksi dan hidup dalam relasi yang saling membangun, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Moltmann mengajukan gagasan bahwa gambar Allah bukanlah sesuatu yang statis, tetapi berkembang dalam dinamika hubungan yang hidup. Pemahaman ini sejalan dengan pandangan eskatologis Moltmann yang menekankan harapan dan penantian terhadap kerajaan Allah yang akan datang. Dalam pengertian ini, gambar Allah dalam diri manusia tidak bersifat permanen atau terjebak dalam keadaan Joseph P Shapiro. No Pity: People with Disabilities Forging a New Civil Rights Movement (New York: Three Rivers Press, 1. , 12Ae17. Joas Adiprasetya. Berteologi Dalam Iman: Dasar-Dasar Teologi Sistematika-Konstruktif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. CopyrightA 2025. Authors | 149 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. yang tidak berubah, melainkan suatu proses yang terus berkembang dalam persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Dalam pemikiran teologis Jyrgen Moltmann, konsep Imago Christi menempatkan keserupaan sejati dengan Allah bukan pada awal sejarah, melainkan pada akhirnya, yakni dalam diri Kristus yang bangkit dan dimuliakan. Sebagai Augambar Allah yang tak terlihat,Ay Kristus menjadi cermin bagi manusia untuk memulihkan kemuliaan yang hilang akibat dosa dan penyembahan berhala. Melelui pesekutuan dengan-Nya, orang percaya diubah menjadi Imago Christi dalam sebuah proses sejarah yang denamis: dimulai dari pembenaran oleh anugerah, dilanjutkan dengan tugas pengudusan, dan puncak pada pemuliaan tubuh di masa depan. Transformasi tersebut bersifat menyeluruh, menyatukan aspek fisik dan sosial manusia dalam komunitas mesianik. Lebih dari sekadar kesalahan pribadi, menjadi gambar Kristus berarti menjalankan dominum terrae yang sejati, yaitu pemerintahan yang memerdekakan dan menyembuhkan bumi bersama Sang Anak Domba. Dari hal tersebut, kekuasaan tidak lagi bersifat menindas, melainkan menjadi pelayanan kasih yang membawa seluruh ciptaan menuju penyempurnaan eskatologis dan penciptaan baru. Melalui pemahaman Imago Dei dan Imago Christi yang diusung oleh Moltmann, kita diajak untuk melihat gambar Allah dalam diri manusia bukan hanya dalam kerangka struktural atau kualitas internal semata, tetapi lebih kepada hubungan yang hidup dalam Imago Dei adalah hubungan yang berkembang antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya, bukan sesuatu yang bersifat statis atau terlindungi. Dalam kerangka tersebut, pemahaman Imago Christi tidak hanya sekedar tekanan pada upaya moral untuk meniru Kristus . , melainkan tekanan pada partisipasi dalam persekutuan dengan-Nya. Manusia diundang untuk mengalami konformitas dengan Kristus, yakni turut mengambil bagian dalam jalan salib dan solidaritas penderita-Nya, serta dipersatukan dalam pengharapan kebangkitan-Nya. Partisipasi inilah yang membawa manusia pada pemulihan Imago Trinitas, di mana kehidupan manusia mencerminkan persekutuan kasih yang setara dan timbal balik . selayaknya Bapa. Putra, dan Roh Kudus. Transformasi eskatologis tersebut tidak hanya memulihkan citra Allah, tetapi membawa umat manusia pada kemuliaan Allah yang sejati dalam persekutuan Tritunggal. Dengan demikian, perjalanan iman manusia adalah proses menjadi serupa dengan Kristus melalui penyatuan hidup dengan-Nya, yang menjadi tujuan akhir kehidupan yang dikehendaki Allah. Disabilitas dalam Perspektif Teologi Kristen Disabilitas dalam perspektif teologi Kristen perlu dikaji dengan hati-hati untuk menghindari generalisasi yang berlebihan, mengingat kompleksitas antara tradisi Kristen dan penyandang disabilitas. Sebagaimana dijelaskan dalam tinjauan historis, teologi Kristen memiliki warisan pemikiran tentang tubuh yang beragam dan tidak tunggal, di Isaiah Nengean. The Imago Dei as the Imago Trinitatis: Jyrgen MoltmannAos Doctrine of the Image of God (New York: Peter Lang Incorporated. International Academic Publishers, 2. , 13Ae16. Jyrgen Moltmann. God in Creation: A New Theology of Creation and the Spirit of God (Mineapolis: Fortress Press, 1. , 225Ae228. CopyrightA 2025. Authors | 150 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi mana tubuh dipandang dalam ketegangan antara sebagai bagian dari ciptaan yang baik dan sebagai realitas yang fana. Dalam praktiknya, penerapan teologi tersebut sering kali menyimpang menjadi apa yang Nancy Eiesland sebut sebagai hubungan yang tidak biasa dengan Tuhan. 11 Pandangan tersebut menempatkan penyandang disabilitas sebagai sosok yang secara ilahi diberkati atau dikutuk, namun sesungguhnya tidak merepresentasikan realitas hidup sehari-hari mereka. Contoh konkret dari penyimpangan tersebut dapat ditemukan dalam teologi populer, sebagaimana tercermin dalam kisah narasumber yang dikaji oleh Deborah Beth Creamer dalam Disability and Christian Theology, khususnya pada bab dua. 12 Bahwa disabilitas adalah karunia khusus dari Tuhan untuk membentuk karakter atau jaminan kesembuhan di surga, yang justru kerap mengabaikan pengalaman subjektif penyandang disabilitas. Lebih jauh, kegagalan gereja tidak hanya terjadi dalam ranah teologis, tetapi juga tampak nyata dalam ranah praktis. Hal tersebut terlihat dari ketiadaan aksesibilitas fisik, seperti mimbar dan altar yang tidak dapat diakses kursi roda, serta penggunaan bahasa dan metafora dalam ibadah yang secara tidak kritis mengaitkan disabilitas dengan dosa. Dengan demikian, tantangan yang ada bersifat ganda: merekonstruksi pemahaman teologis yang inklusif sekaligus mengatasi kegagalan institusional gereja dalam menyediakan fasilitas dan sikap yang benar-benar mendukung partisipasi penuh. Pemahaman teologi Kristen tentang disabilitas dapat diperkaya dengan menelusuri pemikiran Agustinus abad ke-4 sampai 5 Masehi. Meski terikat konteks zamannya. Agustinus menawarkan kerangka yang relevan dengan menempatkan disabilitas dalam narasi penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Dia memandang tubuh manusia yang sempurna sebagai ciptaan Tuhan yang harmonis, namun mengakui bahwa ketidaksempurnaan fisik dan mental adalah bagian dari realita dunia pasca-Kejatuhan ke dalam dosa. Bagi Agustinus, cacat bukanlah hasil kuasa jahat atau hilangnya kemanusiaan, melainkan suatu AukekuranganAy dalam kemampuan ideal yang tidak mengurangi esensi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang baik. Esensi kemanusiaan itu terletak pada jiwa rasional, sehingga meskipun rasionalitas seseorang terbatas, martabat dan status manusianya tetap utuh. Lebih lanjut. Agustinus memberikan perspektif pengharapan melalui janji penyempurnaan eskatologis. tubuh yang cacat akan diperbarui dan disempurnakan pada hari Kebangkitan, sesuai dengan pola sempurna yang telah ditetapkan Tuhan dalam Kristus. Dengan demikian, pemikirannya membuka ruang bagi teologi yang tidak mengabaikan penderitaan atau merendahkan disabilitas, tetapi menegaskan nilai intrinsik setiap manusia dan menempatkan disabilitas dalam kerangka pengharapan akan pemulihan dan keutuhan akhir. Melalui pemikiran Agustinus, kita dapat melihat bagaimana teologi Kristen menawarkan suatu pandangan yang mengedepankan pemulihan dan pembaruan eskatologis terhadap tubuh dan jiwa manusia, termasuk bagi mereka yang mengalami Eiesland. The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability. Creamer. Disability and Christian Theology: Embodied Limits and Constructive Possibilities. Ibid. , 35Ae38. Brock and Swinton. Disability in the Christian Tradition: A Reader. CopyrightA 2025. Authors | 151 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. Hal ini juga menunjukkan bahwa meskipun disabilitas atau cacat fisik dipandang sebagai sesuatu yang tidak sempurna dalam konteks dunia ini, tidak ada pengurangan martabat atau esensi kemanusiaan bagi penyandang disabilitas. Dalam terang pemikiran Agustinus, kita dapat mulai memikirkan kembali bagaimana gereja dan masyarakat Kristen dapat menciptakan ruang inklusif yang mengakui martabat dan hak penyandang disabilitas, baik dalam kehidupan duniawi maupun dalam harapan akan pembaruan yang dijanjikan di dalam Kristus. Teologi Kristen historis, yang meliputi pandangan-pandangan seperti yang diungkapkan oleh Agustinus, memberi kita landasan untuk memahami bahwa tubuh dan disabilitas bukanlah sesuatu yang memisahkan manusia dari Tuhan atau dari komunitas iman, melainkan bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar, yang menuntut pengakuan, penghormatan, dan perawatan yang layak. Disabilitas dan Kesetaraan Gambar Allah Disabilitas dan kesetaraan gambar Allah mengacu pada pemahaman bahwa setiap manusia, terlepas dari kondisi fisik, kognitif, atau perkembangan, tetap memiliki martabat yang tak terbatas karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Meskipun dalam tradisi teologis, terutama yang dikemukakan oleh St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas, penekanan sering diberikan pada rasionalitas dan kecerdasan sebagai bagian dari gambaran ilahi. Penting bagi kita setiap manusia mengingat bahwa orang dengan disabilitas, meskipun mungkin menghadapi keterbatasan dalam kapasitas kognitif atau fisik, tetap memiliki harga diri penuh yang tidak dapat dicabut. Teologi disabilitas juga menantang pandangan sempit tentang gambar Allah, dengan menekankan bahwa manusia diciptakan untuk hidup dalam hubungan satu sama lain, sebagaimana Allah Tritunggal hidup dalam hubungan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, disabilitas bukan hanya soal keterbatasan fisik, melainkan juga kesempatan untuk memahami dan menghargai keterbatasan kemanusiaan kita, yang pada akhirnya memperkaya pemahaman kita tentang kesetaraan martabat manusia. Melalui pemahaman ini, kita diajak untuk memperluas pandangan kita mengenai konsep Imago Dei, atau gambar Allah dalam kaitannya dengan disabilitas. Dalam banyak ajaran teologis tradisional, gambaran Allah seringkali dipahami mencakup kapasitas intelektual atau rasional manusia. Pemahaman ini cenderung menghubungkan gambar Allah dengan kemampuan berpikir, memahami, dan berhubungan dengan Tuhan secara Namun, pandangan semacam ini dapat mengabaikan kenyataan bahwa banyak individu penyandang disabilitas, baik fisik maupun intelektual, mungkin tidak mampu menyalurkan kapasitas-kapasitas tersebut dengan cara yang sama seperti individu Kritik terhadap pandangan ini menyoroti pentingnya mengadopsi pemahaman yang lebih inklusif tentang gambar Allah, yang tidak hanya didasarkan pada rasionalitas atau kapasitas intelektual tertentu, melainkan lebih pada esensi yang ada dalam setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan. Dengan demikian, meskipun seseorang mungkin tidak Jana Bennett. AuMade in GodAos Image and Likeness: An Introduction to Disability Theology,Ay America Magazine. January https://w. org/faith/2024/06/27/bennett-introduction-disability-ethics-248177/. CopyrightA 2025. Authors | 152 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi dapat berbicara atau berkomunikasi dengan cara yang konvensional, atau mungkin tidak memiliki kecerdasan yang tinggi, mereka tetap dipandang sebagai gambar Allah yang Esensi dari gambar Allah tidak terletak pada otonomi atau kemampuan subjektif manusia untuk memilih, melainkan berpusat pada Imago Christi, di mana martabat manusia dikukuhkan oleh inisiatif kasih Allah yang merangkul kemanusiaan. Dalam perspektif ini, nilai seseorang tidak bergantung pada kinerja intelektual atau fisik, melainkan pada keberadaan mereka sebagai pribadi yang dikasihi dan dikehendaki oleh Allah, sebagaimana Kristus sendiri hadir dan bersolidaritas dengan kerapuhan manusia. Lebih jauh lagi, pandangan teologis yang lebih inklusif tentang Imago Dei menekankan hubungan relasional sebagai inti dari pemahaman gambar Allah. Manusia diciptakan untuk hidup dalam hubungan satu sama lain dan dengan Tuhan, yang mencerminkan hubungan Allah dalam Trinitasnya. Oleh karena itu, meskipun individu dengan disabilitas intelektual atau fisik mungkin tidak dapat berkomunikasi atau berinteraksi seperti kebanyakan orang, mereka tetap memiliki potensi untuk berada dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama. Hal ini menunjukkan bahwa gambaran Allah dalam diri manusia tidak dapat dilihat semata-mata dari segi kemampuan untuk berpikir atau bertindak secara tertentu, tetapi lebih pada kapasitas esensial untuk berada dalam lingkup kasih Allah. Sebagai makhluk yang diciptakan, setiap individu memancarkan gambar Allah bukan melalui apa yang dapat mereka lakukan, melainkan melalui keberadaan mereka yang berharga di mata Sang Pencipta. Pendekatan ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam dari sekedar penampilan luar atau kemampuan fisik seseorang, dan untuk menghargai esensi mereka sebagai ciptaan Tuhan yang penuh martabat. Konsep ini menurut saya memiliki implikasi yang signifikan dalam bagaimana kita memahami dan memperlakukan individu dengan disabilitas dalam kehidupan sosial dan Pemahaman yang inklusif tentang imago Dei mengajak kita untuk menghilangkan pandangan yang menganggap disabilitas sebagai cacat atau kekurangan yang menghalangi seseorang untuk mencerminkan gambar Allah. Sebaliknya, disabilitas dapat dilihat sebagai cara untuk memperkaya pengalaman kemanusiaan kita, karena dia mengingatkan kita tentang keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam diri setiap orang. Dalam cara yang mendalam dan spiritual, keterbatasan ini membuka kesempatan bagi kita untuk lebih menghargai hubungan kita dengan Tuhan dan satu sama lain, dan untuk merayakan martabat setiap individu tanpa memandang perbedaan mereka. Hal ini adalah pemahaman yang memandang semua manusia, terlepas dari kondisi fisik atau intelektual mereka, sebagai gambaran Allah yang setara, yang menuntut rasa hormat dan penghargaan yang sama. Melalui pemahaman ini, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan penuh kasih, dimana setiap individu dipandang sebagai bagian tak Anna Maliszewska. AuImago Dei En Personas Con Discapacidad Intelectual Grave,Ay Theologica Xaveriana 69, no. : 4Ae10, https://doi. org/10. 11144/javeriana. CopyrightA 2025. Authors | 153 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. terpisahkan dari komunitas umat manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan martabat yang tak terhingga. Transformasi melalui Imago Christi: Disabilitas dan Kristus Transformasi melalui Imago Christi: Disabilitas dan Kristus menggali bagaimana teologi Kristen, khususnya dalam 1 Kor 12, menawarkan visi inklusif yang menekankan persekutuan yang ditebus, di mana setiap pribadi tanpa memandang kondisi fisik atau intelektual memiliki peran aktif dalam tubuh Kristus. Paulus menggambarkan tubuh Kristus sebagai komunitas yang berfungsi dengan setiap anggota memberikan kontribusi unik, bukan berdasarkan kekurangan, tetapi melalui karya Roh Kudus yang mengungkapkan karunia-karunia ilahi. Pola ini menantang pandangan inklusi modern yang seringkali memposisikan orang dengan disabilitas sebagai pihak yang perlu dibantu dan mengarah pada perubahan radikal dalam pemahaman tentang kelemahan dan peran Dalam perspektif ini, disabilitas bukan lagi dilihat sebagai cacat atau kekurangan, tetapi sebagai bagian integral dari proses penyataan Allah yang lebih besar dalam tubuh Kristus. Transformasi melalui Imago Christi mengajak umat Kristen untuk memandang tubuh Kristus sebagai entitas yang merayakan keragaman, kerentanan, dan saling ketergantungan dalam kasih ilahi yang membawa kesatuan. Namun, meskipun teologi inklusif dalam 1 Kor 12 menekankan peran aktif setiap anggota tubuh Kristus tanpa memandang kekurangan fisik atau intelektual, pandangan sejarah terhadap disabilitas, seperti yang tercermin dalam model keagamaan penyandang disabilitas, seringkali memposisikan penyandang disabilitas sebagai objek belas kasih, yang menciptakan ketegangan antara pemahaman teologis kontemporer dan pola pengasuhan yang berkembang dalam tradisi gereja. Transformasi melalui Imago Christi dalam konteks disabilitas mencerminkan pandangan bahwa penyandang disabilitas, baik fisik maupun mental, seharusnya dipandang sebagai bagian dari tubuh Kristus yang menderita, mencerminkan penderitaan dan pelayanan Kristus itu sendiri. Sepanjang sejarah, terutama pada masa abad pertengahan, penyandang disabilitas seringkali dipandang sebagai individu yang lebih dekat dengan Tuhan, karena penderitaan yang mereka alami dianggap sebagai bagian dari api penyucian di bumi, sebelum mereka mencapai kemuliaan di surga. Pandangan ini terkait erat dengan Model Keagamaan Penyandang Disabilitas (M-PWD) yang menganggap disabilitas sebagai ujian atau hukuman ilahi, yang harus diterima dengan ketabahan dan pengharapan akan keselamatan setelah kehidupan ini. Konsep ini sejalan dengan ajaran Gereja Katolik pada masa itu, di mana merawat orang sakit dan cacat dianggap sebagai kewajiban spiritual, bagian dari tujuh perbuatan belas kasih yang harus dilakukan oleh para biarawan dan Namun, pandangan ini juga menciptakan pola pengasuhan yang penuh belas kasih, meskipun kadang-kadang disertai dengan pengucilan atau pemisahan dari Penyandang disabilitas, dalam pandangan ini, menjadi objek belas kasih, namun juga simbol dari penderitaan Kristus yang harus dihargai dan dihormati. Imago Brian Brock. Wondrously Wounded: Theology. Disability, and the Body of Christ (Waco. Texas: Baylor University Press, 2. , 201Ae205. CopyrightA 2025. Authors | 154 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi Christi, atau gambaran Kristus dalam penderitaan, menyiratkan bahwa setiap individu, terlepas dari kondisi fisik atau mental mereka, cerminan dari Kristus yang menderita demi kebaikan umat manusia. Dengan demikian, penyandang disabilitas menjadi lebih dari sekadar objek bantuan, melainkan bagian dari tubuh Kristus yang perlu dihormati dan dilayani. Dalam konteks ini, disabilitas bukan lagi hanya dilihat sebagai kutukan atau perbedaan yang perlu diisolasi, tetapi sebagai panggilan untuk melayani, berbagi dalam penderitaan, dan menemukan kesempurnaan dalam pelayanan kepada sesama. Melalui Imago Christi, disabilitas bukanlah beban, tetapi kesempatan untuk menunjukkan kasih yang tulus dan kesetiaan pada panggilan hidup yang lebih luhur. Transformasi ini mengubah cara kita melihat dan memperlakukan penyandang disabilitas, dengan menekankan bahwa mereka juga merupakan bagian penting dari kehidupan iman dan pengabdian kita kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian, disabilitas dalam pandangan Kristiani tidak hanya sebagai kesulitan, tetapi sebagai saluran bagi kasih Kristus yang melampaui batasan fisik. Stigma Sosial dan Imago Dei: Inklusi dan Kehidupan bagi Penyandang Disabilitas Stigma sosial terhadap disabilitas, baik mental maupun fisik, terus menjadi hambatan besar bagi inklusi sosial dan kesempatan hidup penyandang disabilitas. Disabilitas mental seperti depresi berat, gangguan bipolar, dan skizofrenia, serta disabilitas fisik dan sensorik, sering disertai dengan stereotip negatif yang mengarah pada prasangka dan diskriminasi, termasuk penghindaran dan pembatasan kesempatan dalam Model-model disabilitas, seperti moral, biomedis, fungsional, dan sosial, memberikan berbagai perspektif tentang penyebab stigma ini, namun semuanya menyoroti bagaimana pandangan masyarakat membentuk dan mempertahankan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Pemahaman yang lebih baik tentang stigma, yang melibatkan interaksi antara faktor personal, sosial, dan lingkungan sangat penting untuk mengembangkan strategi perubahan sikap yang efektif. Pendekatan seperti kontak sosial, penyediaan informasi, dan teknik manajemen kesan dapat membantu mengurangi prasangka buruk dan mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas, sehingga membuka peluang untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Di tengah stigma yang menghambat, ada sebuah pandangan teologis yang menawarkan perspektif mendalam tentang nilai dan martabat penyandang disabilitas. Kesaksian dan kehidupan dalam gambar Allah bagi penyandang disabilitas berakar pada konsep Yesus Kristus sebagai Tuhan yang cacat. Hal ini menegaskan bahwa tubuh yang Guo-Hui Xie. AuUnderstanding People with Disabilities within the Biblical Concepts of Imago Dei and Imitatio Christi,Ay World Wide Journal of Multidisciplinary Research and Development 6, no. : 7Ae 9, https://wwjmrd. com/upload/understanding-people-with-disabilities-within-the-biblical-concepts-ofimago-dei-and-imitatio-christi_1602664715. Patrick W Corrigan. The Stigma of Disease and Disability: Understanding Causes and Overcoming Injustices. First. (Washington. DC: American Psychological Association, n. ), 35Ae37, 73Ae76, 93Ae97. CopyrightA 2025. Authors | 155 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. cacat, baik fisik maupun tersembunyi adalah bagian dari Imago Dei. Tuhan yang cacat mengubah pemahaman kita tentang keutuhan, bukan melalui kesempurnaan fisik, melainkan dalam saling ketergantungan dan keadilan. Gereja, sebagai tubuh Kristus harus inklusif, mengakui martabat penyandang disabilitas, dan memperjuangkan keadilan serta transformasi sosial. Dengan demikian, penyandang disabilitas menjadi bagian integral dari kesaksian hidup dalam iman Kristiani. Sebagai kelanjutan dari pandangan teologis mengenai martabat penyandang disabilitas, konsep martabat manusia yang lebih luas memberikan dasar yang kuat untuk inklusi sosial. Meskipun pemikiran mengenai martabat telah berkembang sepanjang sejarah, mulai dari zaman Romawi klasik hingga masa modern. Pemahaman sekuler saja tidak cukup untuk menanggapi stigma sosial yang menghambat penyandang disabilitas. Dalam pemikiran Cicero, martabat manusia memang dipandang pada keberadaan manusia itu sendiri, bukan status sosial. Namun, perspektif tersebut perlu disempurnakan dengan argumentasi teologis yang lebih mendalam. Penghargaan terhadap martabat manusia sejatinya bukan hanya karena manusia ada, melainkan karena nilai sakral yang terkandung dalam konsep Imago Dei. bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jika pemikiran abad pertengahan disampaikan dan Renaisans cenderung berprasangka buruk dengan kemampuan rasio . erpikir dan memili. , pandangan teologis melampaui batasan tersebut. Dalam bingkai Imago Dei, martabat bersifat ontologis dan pemberian Ilahi, tidak bergantung pada fungsi intelektual atau kondisi fisik. Lebih jauh lagi, melalui konsep Imago Christi, kita memahami bahwa Allah sendiri yang mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia dalam segala Inkarnasi Kristus menegaskan bahwa tubuh yang terbatas atau menyandang disabilitas tetaplah wadah kemuliaan Allah. Inilah landasan yang kokoh untuk melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang kesejahteraannya utuh. Sayangnya, kenyataan stigma sosial sering kali muncul dengan kebenaran teologis tersebut, di mana penyandang disabilitas dianggap tidak lengkap karena tidak memenuhi standar normalitas manusiawi. Padahal. Imago Dei dan Imago Christi memberikan amanat moral bahwa nilai manusia terletak pada hubungannya dengan Sang Pencipta, bukan pada Oleh karena itu, inklusi bukan sekadar pemberian akses, melainkan sebuah pengakuan iman bahwa setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, mewakili wajah Tuhan dan berhak hidup dalam masyarakat yang adil, penuh penghargaan, dan berperikemanusiaan. Kesimpulan Artikel ini menyimpulkan bahwa konsep teologis Imago Dei dan Imago Christi, ketika ditafsirkan ulang secara kritis dan diintegrasikan melalui sintesis pemikiran Agustinus. Jyrgen Moltmann, dan eklesiologi Paulus, memberikan landasan teologis yang radikal dan Eiesland. The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability, 98Ae105. C McCrudden. AuHuman Dignity and Judicial Interpretation of Human Rights,Ay European Journal of International Law 19, no. : 656Ae661, https://doi. org/10. 1093/ejil/chn043. CopyrightA 2025. Authors | 156 Silitonga: Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi transformatif bagi inklusi penyandang disabilitas. Sintesis tersebut menggeser tolak ukur martabat manusia dari kapasitas kognitif atau fisik individual menuju partisipasi dalam relasi persekutuan. Moltmann menekankan Imago Dei sebagai realitas relasional dan dinamis, sementara pemahaman tentang Imago Christi sebagai partisipasi dalam solidaritas dan penderitaan Kristus memulihkan nilai teologis dari tubuh yang rentan. Interpretasi terhadap 1 Korintus 12 mengukuhkan bahwa gereja sebagai Tubuh Kristus adalah komunitas yang esensialnya terletak pada saling ketergantungan dan keunikan setiap anggotanya, termasuk penyandang disabilitas, yang dipandang sebagai kontributor aktif, bukan sekadar objek belas kasihan. Dengan demikian, refleksi teologis ini secara langsung menantang stigma sosial dan model-model disabilitas yang mengecualikan, serta menawarkan kerangka untuk praktik inklusi gerejawi yang otentik, di mana kesetaraan martabat lahir dari anugerah partisipasi dalam persekutuan ilahi, bukan dari kriteria kemampuan manusiawi. Daftar Pustaka