Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 IMPLEMENTASI KONSEP SAPTA KARYA PARIWISATA. STRATEGI PENGUATAN DESA WISATA BUGISAN. KLATEN. JAWA TENGAH I Nengah Rata Artana1. I Made Dwi Adnyana2. I Gusti Ngurah Joko Adinegara3. I Made Murna3 Program Studi Magister Manajemen. Fakultas Bisnis Pariwisata Ekonomika dan Humaniora. Universitas Dhyana Pura. Jl. Raya Padang Luwih Tegaljaya Dalung Kuta Utara. Bali. Indonesia1. Program Studi Manajemen. Fakultas Bisnis Pariwisata Ekonomika dan Humaniora. Universitas Dhyana Pura. Jl. Raya Padang Luwih Tegaljaya Dalung Kuta Utara. Bali. Indonesia2 . Program Studi Biologi. Fakultas Kesehatan dan Sains. Jl. Raya Padang Luwih Tegaljaya Dalung Kuta Utara. Bali. Indonesia4 Email: 23311601017@undhirabali. ABSTRAK Desa Wisata Bugisan di Klaten adalah daerah yang punya destinasi unik karena mengintegrasikan potensi budaya, sejarah, dan keindahan alam, khususnya keindahan Candi Plaosan yang juga dikenal dengan nama Candi Kembar. Disebut candi Kembar karena candi ini adalah jejak sejarah peninggalan Hindu dan Budha. Penelitian ini bertujuan mengetahui strategi pengembangan desa wisata yang berkelanjutan, berbasis partisipasi masyarakat dan kearifan lokal dengan menggunakan pendekatan konsep Sapta Karya Pariwisata Indonesia. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara, observasi berperan serta . articipant observatio. , dan studi literatur untuk mengetahui eksistensi desa wisata Bugisan serta strategi penguatan agar desa wisata Bugisan semakin berkembang dan survive dalam usaha pengeloa desa wisata Bugisan. Peningkatan infrastruktur, pelatihan keterampilan masyarakat, dan kolaborasi penta helix juga dilakukan untuk memastikan manfaat ekonomi merata dan kelestarian sumber daya desa terutama yang berkaitan dengan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian budaya Candi Plaosan, peran seniman, budayawan serta semua komponen masayarakat lokal berperan aktif dalam memajukan desa wisata Bugisan. Melalui Festival Candi Kembar (FCK) juga diupayakan melakukan promosi desa wisata Bugisan dengan menampilkan berbagai kesenian daerah tradisional setempat, demikian pula penguatan usaha mikro berbasis pariwisata juga diupayakan sesuai dengan potensi desa wisata Bugisan. Kata kunci: Desa Wisata Bugisan. konsep Sapta Karya Pariwisata Indonesia. strategi penguatan PENDAHULUAN Desa Wisata Bugisan di Klaten. Jawa Tengah, adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan keindahan seni budaya, ekonomi kreatif, dan potensi pertanian yang melimpah. Keindahan desa wisata ini juga karena berdirinya Candi Kembar atau Candi Plaosan yang tepat berada di desa Bugisan. Candi ini merupakan peninggalan masa lampau, dimana candi ini menggambarkan dua kerajaan yakni Hindu dan Budha. Jika masuk dalam wilayah geografis kecamatan Prambanan maka Desa Wisata Bugisan Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 juga terletak di kawasan strategis dekat dengan Candi Prambanan, desa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan kekayaan budaya seperti seni tari, kerajinan lokal, dan tradisi agraris. Desa Bugisan memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai desa wisata yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, implementasi Sapta Karya Pariwisata menjadi sangat penting dan Konsep ini menekankan pentingnya pendekatan berbudaya, musyawarah, integritas, gotong royong, keadilan, inovasi, dan keberlanjutan sebagai pilar pengembangan pariwisata. Desa Bugisan dapat memanfaatkan seni budaya sebagai daya tarik utama, memberdayakan ekonomi kreatif masyarakat lokal, serta memaksimalkan potensi pertanian untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Implementasi Sapta Karya Pariwisata, sesungguhanya sebuah strategi dalam pengelolaan pariwisata agar bisa dilakukan dengan mengangkat potensi budaya lokal yang ada di desa Bugisan, dikelola dengan berdasarkan musyawarah untuk mufakat, beritegritas, bergotongroyong, berkeadilan, berkualitas, dan akhirnya berkelanjutan. Implementasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga untuk memastikan bahwa Desa Wisata Bugisan menjadi model pengembangan pariwisata yang menghormati kearifan lokal dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan serta budaya. Implementasi Sapta Karya Pariwisata diharapkan menjadi strategi untuk penguatan desa wisata Bugisan secara holistik. Pada tanggal 6-8 September juga telah diadakan sebuah festival Candi Kembar yang tentu ini merupakan salah satu bukti nyata implementasi Sapta Karya Pariwisata di Desa Bugisan. Festival Candi Kembar (FCK) yang awalnya tidak bisa dilaksanakan selama dua kali karena Pandemi Covid-19. Namun pada tahun 2025 kembali digelar FCK ke-5. Festival Candi Kembar ini 70% konten acara yang digelar adalah seni dan budaya (Rudi, 2. yang melibatkan seluruh Rukun Warga di desa wisata Bugisan, dengan bantuan dari Pemerintah Desa Bugisan, masing-masing mendapatkan dana sebesar 3 juta rupiah (Heru, 2. Adapun tema FCK tahun 2024 adalah Ngrawat Budaya. Nyengkuyung Alam. Nggayuh Lestarining Desa Wisata. Festival Candi Kembar 1 diadakan tahun 2016 (Kimujar, 2. Gambar 1. Gapura masuk kawasan Desa Wisata Bugisan dan gapura kampung budaya Candi Plaosan Desa Wisata Bugisan. Karya Ki Mujar Sangkerta Sumber: Dokumen peneliti dan Ki Mujar Sangkerta Festival Candi Kembar ini 70% konten acara yang digelar adalah seni dan budaya (Rudi, 2. yang melibatkan seluruh Rukun Warga di desa wisata Bugisan, dengan bantuan dari Pemerintah Desa Bugisan, masing-masing mendapatkan dana sebesar 3 juta rupiah (Heru, 2. Sebagai agenda tahunan yang menonjolkan keindahan budaya lokal, merupakan perwujudan dari prinsip pariwisata ber-Budaya dalam Sapta Karya Pariwisata. Kegiatan ini menampilkan berbagai atraksi seni dan Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 budaya seperti tari tradisional, pementasan wayang, serta pameran kerajinan tangan, pameran UMKM, penanaman pohon Saeh, yang semuanya mencerminkan kearifan lokal Desa Bugisan. Festival ini juga mengedepankan prinsip pariwisata bergotongroyong dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, komunitas seni, hingga petani lokal. Dalam konteks pariwisata berkeadilan. Festival Candi Kembar memberikan manfaat yang merata kepada seluruh lapisan masyarakat, seperti peningkatan pendapatan dari kunjungan wisatawan, promosi produk ekonomi kreatif, serta pemanfaatan hasil pertanian lokal sebagai bagian dari daya tarik kuliner desa. Keberlanjutan festival ini mencerminkan prinsip pariwisata berkelanjutan yang memastikan warisan budaya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang. Dengan demikian. Festival Candi Kembar ke-5 tidak hanya menjadi sebuah strategis dalam penguatan Desa Wisata Bugisan, tetapi juga diharapkan akan bisa menjadi contoh suksesnya implementasi konsep Sapta Karya Pariwisata secara nyata di lapangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana konsep Sapta Karya Pariwisata sudah diimplementasikan, khusunya yang terkait dengan pelaksanaan Festival Candi Kembar 2024, dampak positifnya dari perspektif ekonomi bagi masyarakat Desa Wisata Bugisan, serta daya dukung budaya pertanian untuk pengembangan Desa Wisata Bugisan. METODE PENELITIAN Menurut Moleong . , metode penelitian adalah cara atau langkah sistematis menginterpretasikan data untuk mencapai tujuan penelitian. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengumpulan, analisis serta melakukan interpretasi dengan data-data yang Dalam penelitian di lapangan, capaian metode dilakukan dengan menggunakan instrument penelitian, yakni sebagai instrumen peneliti utamanya adalah peneliti itu sendiri yang terdiri dari 3 orang. Masing-masing mempunyai tugas agar proses penelitian berjalan lancar. Sedangkan instrumen pendukung lainnya adalah panduan wawancara yang terkait dengan pelaksanaan pra-saat-pasca festival. Ada dokumen merupakan instrumen yang terdiri dari profile, website desa wisata Bugisan, video dan gambar atau foto yang terkait dengan data-data yang dikumpulkan serta merupakan data skunder. Sedangkan data primer terdiri dari data-data yang didapatkan dari hasil wawancara langsung di lapangan pada saat pelaksanaan Festival Candi Kembar ke-5 tahun 2024. Terkait dengan data wawancara menggunakan google dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaan Festival Candi Kembar ke-5 tahun Semua instrumen dirancang secara fleksibel agar bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Penelitian menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan 3 langkah kegiatan yakni . melakukan reduksi data. mengumpulkan semua data hasil wawancara, observasi yang terkait dengan judul penelitian, . penyajian data dalam bentuk narasi, matriks, dan . kesimpulan data. mengumpulkan semua data-data yang terkait dengan implementasi Sapta Karya Pariwisata. Beberapa data di bawah ini yang terkait dengan Sapta Karya Pariwisata didapatkan dari hasil jawaban responden berjumlah 100 orang dengan kategori 2 kelompok responden terdiri dari Panitia Festival Candi Kembar ke-5 tahun 2024 sebanyak 60 orang, serta 40 orang responden yang berasal dari akademisi, praktisi pariwisata, guru-guru SMK Pariwisata. Jumlah pertanyaan ada 10 buah pertanyaan, namun dari 100 orang dan 10 pertanyaan tersebut ada responden yang tidak menjawab pertanyaan. Hasil jawaban responden cukup memberikan keyakinan Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 peneliti, bahwa implementasi Sapta Karya Pariwisata diperlukan oleh para pemangku kepentingan Desa Wisata Bugisan, sehingga pariwisata di daerah Bugisan dapat dikelola secara professional dengan selalu melakukan adaptasi dengan ilmu pengetahuan yang baru dibidang pariwsata. Budaya gotong royong yang masih sangat kental di desa Bugisan sangat memengaruhi eksistensi dari usaha desa wisata yang dimiliki oleh desa Bugisan. Berikut ini disajikan dalam bentuk tabel hasil sebaran pertanyaan terkait dengan implementasi Sapta Karya Pariwisata di Desa Wisata Bugisan. Prambanan. Klaten. Jawa Tengah. Tabel 1: Perolehan Data Tentang Sapta Karya Pariwisata Nomer Urut Pertanyaan Jumlah Responden . ari 100 oran. Abstain/Tidak Menjawab Tabel di atas menjelaskan tentang pentingnya konsep Sapta Karya Pariwisata yang bisa diimplementasikan di masyarakat, termasuk di Desa Wisata Bugisan. Dari tabel di atas penulis mendapatkan hasil yang sangat relevan dengan eksistensi Desa Wisata Bugisan. Hasil survew tersebut menjelaskan antara lain. pada pertanyaan nomer 5, bahwa 100% menjawab setuju budaya Indonesia bisa memayungi kegiatan kepariwisataan, di samping sudah ada peraturan-peraturan atau regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Dalam konteks budaya Indonesia tentu budaya yang ada di daerahdaerah, termasuk budaya yang ada di Desa Wisata Bugisan juga merupakan payung untuk keberlanjutan eksistensi pariwisata, termasuk kesenian yang tumbuh subur di Desa Wisata Bugisan. Pertanyaan pada survew yang terakhir . , pada tabel di atas hasil survew juga menunjukan bahwa kehadiran konsep Sapta Karya Pariwisata di Desa Wisata Bugisan 93,9 % menjawab sangat bermanfaat dari 99 responden. Hasil survew ini memberikan gambaran bahwa pengelola pariwisata Desa Wisata Bugisan (Pokdarwi. dominan melibatkan warga masyarakat sebagai bentuk pelestarian nilainilai luhur masa lampau yakni gotongroyong. Hal ini terlihat ketika acara Kirab Gunungan Merti Desa, semua warga Desa Bugisan beramai-ramai mengikuti acara ini yang dilakukan melalui Rukun Warga yang ada di seluruh Desa Bugisan. Rukun Warga tersebut adalah RW. 02 Waskito yang terdiri dari 3 RT (Andi Istiawan/RT. Ngadiyo (RT. Riswanto (RT. RW. 03 Rita Wardani yang terdiri dari Kiryono (RT. Tugiya (RT. Darsono (RT. RW. 04 Maryanto yang terdiri dari Ngatimin (RT. Sarno (RT. Kardoyo (RT. Tularno (RT. RW. 08 Hendrias Doni yang terdiri dari Harsono (RT. Sukarja (RT. Sosialisasi tentang Sapta Karya Pariwisata, untuk memastikan sub konsepkonsep yang ada di dalam Sapta Karya Pariwisata ini bisa dikenal, dimengerti dan difahami oleh masyarakat, khususnya bagi pengurus desa dan semua pengurus Pokdarwis Candi Kembar Desa Wisata Bugisan juga telah lakukan di Paseban Candi Kembar. Dari hasil sosialisasi ini memberikan indikasi bahwa pihak desa dan pengelola wisata Bugisan berharap konsep Sapta Karya Pariwisata ini juga akan menjadi Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 pedoman dalam membangun pariwisata di Desa Bugisan yang dijiwai oleh semangat budaya bergotongroyong. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Sapta Karya Pariwisata. Strategi Penguatan Desa Wisata Bugisan. Klaten. Jawa Tengah Desa Wisata Bugisan di Klaten. Jawa Tengah, memiliki potensi yang luar biasa sebagai destinasi wisata berbasis budaya, ekonomi kreatif, dan pertanian. Implementasi Sapta Karya Pariwisata dapat menjadi strategi untuk menguatkan peran desa serta masyarakatnya dalam memajukan pariwisata berkelanjutan. Berikut adalah uraian implementasi Sapta Karya Pariwisata dalam tiga aspek/basis utama yaitu seni budaya, ekonomi, dan pertanian. Seni budaya Prinsip utama dalam Sapta Karya Pariwisata adalah pariwisata berbudaya. Desa Bugisan memiliki kekayaan seni budaya lokal seperti tradisi seni karawitan, gejok lesung. Jathilan, serta ritual tradisional yang berkaitan dengan keberadaan Candi Plaosan. Seni dan budaya ini dijaga dan dilestarikan oleh warga Bugisan sebagai identitas utama desa Bugisan. Melalui pelestarian seni budaya juga merupakan sebuah strategi agar menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa Wisata Bugisan, sekaligus memperkokoh jati diri masyarakat setempat. Kekuatan . desa Wisata Bugisan ini adalah potensi budaya dan keindahan alam serta letak geografis yang mudah untuk dilakukan penataan karena letak desanya datar, serta yang paling membuat desa ini indah karena berada pada satu tempat dengan Candi Kembar atau Candi Plaosan. Sebelum membahas lebih lanjut tentang implementasi Sapta Karya Pariwisata, penulis mencantumkan isi dari Sapta Karya di bawah ini yang terdiri dari . pariwisata berbudaya, . bermusyawarah/bermufakat, . berintegritas, . bergotong royong, . berkualitas, dan . Sapta Karya Pariwisata ini hanya sebuah konsep yang penulis implementasikan dengan harapan agar eksistensi pariwisata, khususnya pariwisata di desa wisata Bugisan dapat bertumbuh dengan baik, di samping sudah ada berbagai regulasi yang datang dari pemerintah pusat, daerah dan desa setempat. Seni budaya yang mendukung eksistensi Desa Wisata Bugisan juga dilakukan pembinaan oleh lurah Bugisan dan Pengurus Pokdarwis Candi Kembar. Kegiatan pembinaan adalah untuk menggairahkan hidupnya kesenian juga untuk mendukung pengelolaan Desa Wisata Bugisan. Hasil dari pembinaan kesenian ini lalu dimasukan sebagai paket wisata yang tergolong sebagai kemasan pertunjukan seni untuk Jenis kesenian yang dijadikan kemasan sajian seni pertunjukan pariwisata tari Kolosal Candi Kembar, tari Sorak Gumyak, tari Wanoro, tarian dari sanggar tari Purnomosidi, tarian dari sanggar tari Bulak Ombo, sajian komposisi seni karawitan dari Sanggar Karawitan Sekar Tunjung. Ning Ratri Pring Sedapur. Srandul Langgang Budoyo. Jathilan Dulang Cempaka dan Kudo Mudo Santoso Kencono, kesenian Gejok Lesung dan berbagai pertunjukan seni musik. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Gambar 2. Suasana diskusi Sapta Karya Pariwisata di Paseban Candi Kembar. Desa Wisata Bugisan. Prambanan. Klaten Jawa Tengah Sumber: Dokumen peneliti Ekonomi Kreatif Desa Wisata Bugisan Kegiatan ekonomi kreatif yang menjadi satu rangkaian kegiatan di desa wisata Bugisan memberikan dampak positif bagi pengembangan Desa Wisata Bugisan. Untuk mendukung kegiatan Desa Wisata Bugisan dari perspektif ekonomi, maka ada beberapa sasaran pembangunan ekonomi kerakyatan dan budaya berbasis kearifan lokal (LPPM UPN Veteran Yogyakarta, 2. , sasaran tersebut adalah peningkatan pembangunan perekonomian masyarakat berdasarkan potensi yang ada di desa sebagai produk unggulan desa dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Memfasilitasi tumbuh kembanganya usaha kecil, mikro, menengah (UMKM) dengan industri kerajinan dalam mendukung eksistensi desa wisata. Potensi kriya yang merupakan bagian dari kegiatan pariwisata di desa Bugisan juga turut memberikan keuntungan dari sisi ekonomi. Potensi tersebut terdiri dari kegiatan kriya topeng pentol tembem, tatah batu paras putih, sungging wayang, kriya kayu, ecoprint. Kegiatan kriya ini tentu jika digiatkan akan sangat mendukung peningkatan ekonomi desa Bugisan. Dalam kaitannya dengan kegiatan FCK ke-5 tahun 2024 implementasi Sapta Karya Pariwisata tidak terlepas dari peran seniman kriya Ki Mujar yang menampilkan seni instalasi Wayang Milehnium Wae yang adalah seni alternative wayang kontemporer yang berkembang dinamis sesuai dengan perkembangan seni rupa (Ki Mujar 2. dan (Artana, 2. Dibidang kegiatan kuliner yang berpotensi mendatangkan profit, desa Bugisan melakukan kegiatan UMKM berupa jamu tradisional, emping, tahu, tempe dan bakpia, jahe instan, olahan papaya, olahan ketela, aneka jenang, nasi liwet, nasi wiwit. Masakan Jawa sayur lodeh, sayur lompong, sayur grendel, sayur tuntut, sayur genjer, sayur kluweh, bothok mlanding. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Gambar 3. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno serta wisatawan asing sedang mencoba mempraktekkan membuat kripik emping di Desa Wisata Bugisan Sumber: https://w. com/share/18Jvxk8NcQ/ Kemasan 5 paket wisata Candi Kembar Outing Class yang harganya juga sudah ditentukan menjadi bagian atau kiat-kiat untuk menghasilkan nilai ekonomi/profit bagi kegiatan pariwisata di desa Bugisan. Kemasan 5 paket tersebut banyak diminati oleh siswa pelajar yang masih berasal dari sekitar Kabupaten Klaten, bahkan luar Paket Outing Class ini terutama menyasar anak-anak pelajar yang setiap bulannya terjual sampai 300-500 orang . -15 kelompo. Paket ini juga dijual ke kalangan umum dengan kegiatannya berupa edukasi kegiatan yang terdiri dari edukasi jamu gendong, pahat batu, batik ecoprint, seni karawitan, dan lukis topeng. Selain paket Candi Kembar Outing Class. Pokdarwis juga meng-create paket yang diberi nama Paket Krasan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari kegiatan kepariwisataan, namun paket ini masih perlu dipromosikan (Rudi, 2. Karena yang justru penjualan paketnya yang bagus adalah paket Ekowisata. Gambar 4. Flayer online, paket Krasan yang dimuat pada buku profil. Sumber: Buku Profile Desa Wisata Bugisan Pengelola Desa Wisata Bugisan dikelola oleh 3 kelompok yaitu. Pokdarwis Candi Kembar Desa Wisata Bugisan. Pelaku Seni dan UMKM, serta BUMDes Rukun Santoso Desa Wisata Bugisan. Selain mempunyai paket wisata yang bernilai ekonomi. Desa Bugisan juga memprogramkan kegiatan Car Free Day untuk menghimpun para UMKM khususnya yang berasal dari Desa Bugisan. Car Free Day ini digelar setia hari minggu dimulai pukul 06. 00 WIB. Kegiatan ini digelar disepanjang ruas jalan menuju esa Wisata Bugisan sepanjang 3 Km. Sesuai dengan hasil penelitian di lapangan Festival Candi Kembar ke-5 tahun 2024 memang masih membutuhkan pemasaran dan promosi, sehingga tidak saja menjangkau wisatawan domestik atau warag setempat, tetapi akan dapat menjangkau wisatawan asing. Segemntasi pasar (Sudaryono, 2. perlu ditingkatkan melalui strategi STP (Segmenting. Targeting dan Positionin. , sehingga melalui FCK akan otomatis dapat mempromosikan Desa Wisata Bugisan ke manca negara. Sektor Pertanian Sebagai Penguatan Desa Wisata Bugisan Desa Wisata Bugisan secara geografis berada di pintu keluar Candi Prambanan. Desa wisata Bugisan sesungguhnya hanya menyimpan daerah pertanian hanya 40% dari luas desa yakni 165. 3638 Ha (Wijayani, 2. Luas lahan pertanian ini seharusnya dipertahankan guna memberikan kesejukan, keasrian dan menjadi daya dukung keindahan Desa Wisata Bugisan. Keberlanjutan lingkungan juga salah satu ciri desa wisata, oleh karena itu desa Bugisan harus menjaga kelestarian lingkungan alam Pengembangan desa wisata jangan sampai mengabaikan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan alam dan budaya sebagai ciri khas daerah setempat. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Sesungguhnya Desa Wisata Bugisan masih bisa dikategorikan sebagai desa wisata alam karena aral desa masih bisa digunakan sebagai areal wisata seperti berkeliling naik sepeda ontel melihat keunikan desa budaya yang ada di seputaran desa setempat. Edu wisata tani yang ditawarkan sebagai bagian kegiatan pertanian juga turut mendukung pengelolaan Desa Wisata Bugisan. Sesuai dengan misi desa Bugisan yang antara lain sasarannya meninggkatkan pembangunan bidang pertanian, peternakan, dan perikanan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga sengat relevan dengan konsep Sapta Karya Pariwisata yaitu terwujudkan usaha pariwisata yang masih melestarikan budaya Budaya pertanian adalah penyangga dari pariwisata berkelanjutan dan merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang tidak boleh diabaikan. Sawah dan alam yang menghijau bisa memberikan suasana kesejukan bagi para pengunjung atau wisatawan. Akktivitas pertanian seperti. membajak, menanam padi, menghalau burung, memanen padi serta mencabuti gulma di sawah bisa menjadi daya tarik tersendiri. Oleh karenanya, menurut hemat peneliti budaya pertanian mutlak Jika budaya pertanian tidak dilestarikan maka keunikan obyek wisata juga kurang menarik, karena otomatis aktivitas pertaniannya juga akan hilang. Gambar 5. Ruang terbuka hijau berupa persahwan Desa Wisata Bugisan Sumber: https://w. com/mbah. Gambar 6. Peneliti bersama dengan Bapak Nugroho (Kadis Pariwisata Klate. berdiri di depan open stage Festival Candi Kembar ke-5 dengan latar belakang Candi Kembar atau disebut Candi Plaosan yang ada di wilayah Desa Wisata Bugisan. Kecamatan Prambanan. Klaten. Jawa Tengah. Sumber: Dokumen peneliti Terkait dengan implementasi Sapta Karya Pariwisata pada pelaksanaan Festival Candi Kembar ke-5 Tahun 2024 juga dapat dilihat dari respon panitia bahwa up date keilmuan sangatlah penting, termasuk mempelajari serta mengaplikasikan konsep Sapta Karya Pariwisata di lapangan. Hal ini juga terlihat di lapangan Ketika peneliti melakukan sosialisasi dan diskusi tentang Sapta Karya Pariwisata di Paseban Candi Kembar. Desa Wisata Bugisan. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Gambar 7. Responden 100% menjawab bahwa konsep Sapta Karya Pariwisata untuk update keilmuan bidang kepariwisataan. Sumber: Dokumen peneliti KESIMPULAN Implementasi konsep Sapta Karya Pariwisata di Desa Wisata Bugisan sudah diterapkan di beberapa bidang kegiatan. Ciri khas yang dipertahankan berupa kegiatan seni dan budaya menjadi kegiatan utama untuk mendukung strategi penguatan Desa Wisata Bugisan hingga menjadi Desa Wisata yang berkesinambungan. Berbagai paket wisata yang digiatkan, terutama kegiatan ekowisata yang signifikan menghasilkan nilai ekonomi, karena paket ini mendatangkan wisatawan yang berjumlah banyak dan dominan laku untuk dijual, sehingga hal ini berdampak pada peningkatan pendapatan ekonomi Desa Wisata Bugisan. Namun paket ini harus terus dijual bersama dengan paket wisata yang lainnya, terutama mengupayakan pelayanan yang profesional, termasuk melakukan inovasi dan up date pengetahuan khususnya dibidang pengelolaan pariwisata. Budaya pertanian yang juga masih tersedia hanya 40% mutlak dipertahankan, agar budaya pertanian ini masih lestari sebagai pendukungan kegiatan desa wisata yang ada di Desa Bugisan. Budaya pertanian adalah sebuah warisan . DAFTAR RUJUKAN Candi Plaosan. Available from: https://w. com/mbah. Hidayatullah. Tri Suminar. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Candi Plaosan Melalui Program Desa Wisata Untuk Kemandirian Ekonomi di Desa Bugisan Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Livelong Education Journal. Vol. No. April 2021. I Ketut Sudarsana, 2019. Need and Development Analysis of Tourism Village Human Resources (Case Study in Jasri Tourism Village. Karangasem District. Vol. No. Desember 2019. Institut Sangkerta Indonesia. Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) 2023. Mereka Bicara Tentang Wayang Milehnium Wae. Yogyakarta. Kiki Endah, 2020. Pemberdayaan Masyarakat: Menggali Potensi Lokal Desa. Jurnal Moderat. Volume 6. Nomor 1. Februari 2020. Prosiding SINTESA Volume 7 tahun 2024 | E-ISSN 2810-0840 Moleong. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Prasiasa. Oka. Putu Dewa, dkk. Penguatan Budaya di Desa Wisata. Denpasar. Pustaka Larasan. Rekta Deskarina. Aniisa Nurul Atiqah. Potensi Kearifan Lokal Desa Bugisan Sebagai Upaya Pengembangan Daya Tarik Wisata Pendukung Kawasan Candi Plaosan. Jurnal Pariwisata Budaya. Available https://ejournal. id/ejurnal/index. php/khasanah/article/download/6906/ Serunya Menjelelajah Desa Wisata Bugisan Yang Penuh Harmoni dan Kebudayaan. Available from: http://desawisatabugisan. Sudaryono, 2016. Manajemen Pemasaran Teori dan Implementasi. Yogyakarta. Penerbit Andi. Wijayani. Riono. Ardhanariswari. Pratiwi. Buku Profile Desa Wisata Bugisan. LPPM UPN AuVeteranAy Yogyakarta. Wiratma. Amini. Nuswantoro. Ikhtiarin. Strategi Pengembangan Desa Wisata Berbasis Budaya Sebagai Upaya Sustainable Tourism Development di Desa Bugisan Prambanan. Klaten. Propinsi Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Universitas Respati Yogyakarta. Vol. 4 No.