PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestic. DAN JAHE MERAH (Zingiber officinale var. TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus PENYEBAB ABSES GIGI SECARA IN VITRO Ni Putu Widani Astuti1. Ni Nyoman Gemini Sari2. Ni Made Agnes Perana Swari3 Departemen Biologi Oral. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Corresponding email: Ni Putu Widani Astuti. Mailing address. Email: widaniastuti@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale rubru. merupakan kelompok tanaman rimpang-rimpangan (Zingiberacea. yang diketahui memiliki beberapa kandungan senyawa antibakteri sehingga dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab penyakit abses gigi pada mulut. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium secara in vitro yaitu menggunakan media Muller-Hinton Agar yang terdiri atas 8 perlakuan dan 4 ulangan dengan post test only control group. Eksperimen terdiri atas pembuatan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. konsentrasi 50%, 75%, dan 100%, uji skrining fitokimia ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. , dan uji daya hambat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 11,11 mm, 13,28 mm, dan 16,38 mm, sedangkan ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. memiliki rerata diameter zona hambat sebesar 10,07 mm, 11,96 mm, dan 15,26 mm. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% memiliki efektivitas antibakteri yaitu mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab abses gigi, dengan efektivitas yang paling baik yaitu ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dengan konsentrasi 100%. Kata kunci: abses gigi, daya hambat, in vitro, jahe merah (Zingiber officinale var. kunyit (Curcuma domestic. Staphylococcus aureus. ABSTRACT Introduction: Turmeric rhyme (Curcuma domestic. and red ginger (Zingiber officinale rubru. are groups of rhizome plants (Zingiberace. which are known for containing some antibacterial compounds that can be used to treat some diseases. Staphylococcus aureus bacteria is one of the causes of dental abscess disease in oral Methods: The method used in this research is in vitro laboratory experimental using Muller-Hinton Agar which consists of 8 treatments and 4 repetitions with post-test only control group. The experiment comprises making 50%, 75%, and 100% concentrations extract of turmeric rhyme (Curcuma domestic. and red ginger (Zingiber officinale var. , the phytochemistry screening test of turmeric rhyme (Curcuma domestic. and red ginger (Zingiber officinale var. extract, and inhibitory power test of turmeric rhyme (Curcuma domestic. and red ginger (Zingiber officinale var. extract on Staphylococcus aureus bacteria. Results: This research shows that 50%, 75%, and 100% concentrations extract of turmeric rhyme (Curcuma domestic. have average inhibition diameter zones of 11,11 mm, 13,28 mm, and 16,38 mm, as for the red ginger (Zingiber officinale var. have average inhibition diameter zones of 10,07 mm, 11,96 mm, and 15,26 mm. Conclusion: The conclusion of this research is turmeric rhyme (Curcuma domestic. and red ginger (Zingiber officinale var. extract with 50%, 75%, and 100% concentrations have antibacterial effectiveness that inhibits the Staphylococcus aureus bacteria growth causes dental abscess, with the most effective 100% concentration extract of turmeric rhyme (Curcuma domestic. Keywords: dental abscess, inhibitory power, in vitro, red ginger (Zingiber officinale var. Staphylococcus aureus, turmeric (Curcuma domestic. PENDAHULUAN Manusia sebagai makhluk hidup selalu berusaha untuk menjaga kesehatannya demi dapat menjalani hidup dengan layak. Salah satu bagian tubuh manusia yang vital bagi kesehatan fisik manusia ialah rongga mulut, hal tersebut karena rongga mulut digunakan untuk makan, bernapas, berbicara, dan memengaruhi kesehatan manusia secara Kesehatan gigi dan mulut yang terjaga akan menjadi manusia lebih percaya diri ketika berinteraksi dengan orang lain, dan akan memiliki kemampuan untuk bersosial, bekerja tanpa rasa sakit dan rasa tidak nyaman. Untuk itu, menjadi sebuah tantangan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut dari berbagai macam penyakit yang dapat menjangkit. Penyakit gigi dan mulut telah menyerang sekitar 3,5 miliar orang, dari jumlah total populasi dunia sebesar 8 miliar, sehingga dapat disimpulkan bahwa hampir setengah populasi dunia pernah mengalami penyakit ini. 1 Di Indonesia, angka persentase penduduk yang mengalami penyakit gigi dan mulut tergolong tinggi yaitu sebesar 57,6%. 2 Selama ini, kondisi kesehatan mulut tidak dilihat oleh populasi umum sebagai kondisi yang mengancam jiwa. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kesehatan mulut yang buruk telah terbukti sangat terkait dengan kematian. Kematian akibat penyakit kanker dan non-kardiovaskular diketahui terbukti berhubungan positif dengan plak gigi serta peradangan gingiva yang tinggi. Pembentukan plak gigi dan peradangan gingiva sangat erat kaitannya dengan keberadaan mikroflora di dalam rongga mulut, mikroflora tersebut dapat menyebabkan infeksi pada jaringan lunak dan jaringan periodontal pada mulut. 4 Jenis mikroflora yang banyak terdapat pada rongga mulut adalah Staphylococcus epidermitis. Staphylococcus aureus, dan lain-lain. Mikroflora tersebut dapat menyebabkan penyakit jika terdapat faktor predisposisi seperti perubahan kuantitas mikroorganisme dan penurunan daya tahan tubuh host. Penyakit yang dapat timbul dari infeksi bakteri Staphylococcus aureus adalah abses dan gingivitis . enyakit periodonta. Penyakit periodontal sebagai salah satu manifestasi dari infeksi bakteri ini memiliki prevalensi yang tinggi. Prevalensi global penyakit periodontal ini menyentuh angka 19% pada orang berusia lebih dari 15 tahun, mewakili lebih dari 1 miliar kasus di seluruh 1 Masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah penyakit periodontal, yaitu gusi bengkak dan/atau keluarnya bisul . , dengan prevalensi sebesar 14%. Di sisi lain. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang Dari berbagai penelitian menyebutkan, bahwa dari sekitar 30. 000 spesies tumbuhan yang terdapat di hutan tropis Indonesia sebanyak 9. 600 spesies tumbuhan diketahui memiliki khasiat obat. 6 Kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber rimpang-rimpangan (Zingiberacea. yang mempunyai potensi sangat besar untuk digunakan dalam hampir semua produk obat tradisional karena paling banyak diklaim sebagai penyembuh berbagai penyakit masyarakat modern . egeneratif, penurunan imunitas, dan penurunan vitalita. Produksi jahe dan kunyit di Indonesia tergolong tinggi. 8 Dengan ketersediannya yang tinggi, jahe dan kunyit dapat menjadi sumber bahan yang esensial sebagai antibakteri untuk mengobati penyakit. Jahe merah merupakan salah satu jenis jahe yang lebih banyak dimanfaatkan sebagai obat karena kandungannya. Jahe merah memiliki aktivitas antibakteri karena mempunyai kandungan gingerol dan minyak atsiri. Jahe merah juga memiliki aktivitas seperti antioksidan, antiinflamasi, antikarsinogenik, antimutagenik, dan antitumor. 10 Aktivitas antibakteri pada jahe merah juga terjadi karena adanya senyawa flavonoid, salah satu senyawa golongan fenol alam terbesar yang memiliki beragam aktivitas farmakologis. Aktivitas farmakologis tersebut antara lain antioksidan, antivirus, antiinflamasi, antimutagenik, antidiabetes dan sifat 11 Kunyit memiliki aktivitas antibakteri karena kandungan kurkumin dan minyak atsiri. 12 Kunyit juga memiliki senyawa antibakteri lainnya yaitu flavonoid, sama seperti pada jahe merah. Penelitian ilmiah mengenai perbandingan efektivitas antibakteri antara jahe merah dan kunyit terhadap Staphylococcus aureus, berdasarkan penelusuran awal, diketahui belum pernah dilakukan. Sebagai hasil dari beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa jahe merah memiliki senyawa gingerol, flavonoid, dan minyak atsiri yang telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Pada kunyit juga terdapat senyawa kurkumin, minyak atsiri, dan flavonoid yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk menguji perbandingan efektivitas antibakteri ekstrak kunyit dan jahe merah dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab penyakit abses gigi pada mulut. METODE Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium secara in vitro dengan post test only control group. Pada penelitian ini menggunakan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538. Media Mueller Hinton Agar, ekstrak kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah, etanol 96%, klorheksidin glukonat 0,2%, aquades steril. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seperti autoklaf, rotary evaporator, incubator, cawan petri, jangka sorong, timbangan analitik, blood agar, tabung reaksi, dan lampu spiritus. Proses pembuatan ekstrak diawali dengan memperisapkan kunyit dan jahe merah sebanyak 10 kg yang telah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil, kemudian dilakukan pengeringan dengan oven dengan suhu 37 C selama 5-6 jam. Simplisia kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. ditambah dengan pelarut etanol 96%. Hasil ekstraksi disaring dengan kain, kemudian dilakukan penguapan dengan rotary vacuum evaporator pada suhu 40EE selama 24 jam, sehingga diperoleh ekstrak Selanjutnya, pembuatan konsentrasi ekstrak kunyit dan jahe merah sebesar 50%, 75%, dan 100% dengan mengikuti rumus persamaan densitas. M1. V1 = M2. Dalam proses uji skrining fitokimia, senyawa yang diidentifikasi adalah saponin . enggunakan HC. , fenol . enggunakan pereaksi FeCl. , . enggunakan pereaksi Liebermann-Burchar. , terpenoid . enggunakan pereaksi vanillin asam sulfa. , alkaloid . enggunakan perekasi Dragendor. , flavonoid . enggunakan perekasi asam oksalat dan asam bora. , dan tannin . enggunakan perekasi Pb asetat 100%). Proses uji daya hambat diawali dengan menggoreskan bakteri dari biakan murni menggunakan jarum ose pada permukaan agar. Bakteri Staphylococcus aureus tersebut diinkubasi pada suhu 37EE selama 24 jam. Daerah bening menunjukkan diameter zona hambat yang diukur menggunakan jangka sorong dalam satuan millimeter . Kategori kekuatan daya antibakteri, yaitu . diameter zona hambat 20 mm atau lebih . angat kua. , . diameter zona hambat 10-20 mm . , . diameter zona hambat 5-10 mm . , . diameter zona hambat 2-5 mm . HASIL Dari hasil uji fitokimia, ekstrak rimpang kunyit positif mengandung saponin, fenol, steroid, alkaloid, flavonoid, dan tannin. Pada ekstrak jahe merah terbukti positif mengandung saponin, fenol, terpenoid, dan alkaloid. Dari hasil uji normalitas data dengan metode uji Shapiro-Wilk bahwa didapatkan nilai signifikasi 0,05 . ata terdistribusi norma. Selanjutnya, pengujian homogenitas data menggunakan metode LeveneAos Test didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,070 . ata Selanjutnya dilakukan uji analisis varians (ANOVA) yang dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Hasil Uji Analisis Varians (ANOVA) Sum of Squares Between 475,170 Mean Sig. 0,00 Square 79,195 Groups Within 7,257 482,427 0,346 Groups Total Berdasarkan tabel di atas, diketahui harga p-value sebesar 0,000 . ebih kecil dari 0,. yang berarti terdapat efektivitas ekstrak kunyit dan jahe merah dengan konsenstrasi 50%, 75%, dan 100% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab abses gigi. Selanjutnya dilakukan uji LSD untuk mengetahui perbedaan masing-masing Didapatkan bahwa hanya kelompok ekstrak kunyit (Curcuma domestic. 50% dengan ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. 75% saja yang tidak memiliki perbedaan signifikan. Artinya, diameter zona hambat kedua kelompok tersebut memiliki perbedaan yang tidak signifikan. Selanjutnya dilakukan uji T untuk membandingkan kedua rerata kelompok yang memiliki diameter zona hambat tertinggi pada masing-masing ekstrak. Hasil uji T dari kelompok ekstrak kunyit (Curcuma domestic. ,38 m. dan ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. ,26 m. dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Hasil Uji T Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Std. 95% Confidence Error Interval of the Sig. - Differen Differen Difference Mean Dat Equal variances Equal variances not assumed Sig. Lower Upper Berdasarkan tabel di atas diketahui harga sig. untuk Levene's Test for Equality of Variances sebesar 0,683, lebih besar daripada 0,05 yang artinya data kedua kelompok tersebut adalah homogen. Selanjutnya, oleh karena data kelompok homogen maka digunakan bagian Equal variances assumed, diperoleh harga sig. sebesar 0,076. Diketahui bahwa angka tersebut lebih besar daripada 0,05, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok kunyit dan jahe merah. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengukuran diameter zona hambat, ekstrak kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. mempunyai efektivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. bahwa semakin tinggi konsentrasi maka semakin bioaktif senyawa yang terkandung, sehingga kemampuan difusi bahan antimikroba juga lebih besar dan menghasilkan diameter zona hambat yang lebih tinggi. Selain itu. Didukung oleh hasil skrining fitokimia, ekstrak kunyit (Curcuma domestic. terbukti positif mengandung beberapa senyawa antibakteri, yaitu saponin, fenol, steroid, alkaloid, flavonoid, dan tannin. Pada ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. hanya positif mengandung beberapa senyawa antibakteri, yaitu saponin, fenol, terpenoid, dan alkaloid. 16,17 Ekstrak kunyit (Curcuma domestic. konsentrasi 100% dengan diameter zona hambat mencapai 16,38 mm adalah yang paling efektif dibandingkan dengan kelompok ekstrak lainnya. Berdasarkan hasil uji LSD, perbandingan ekstrak kunyit (Curcuma domestic. konsentrasi 100% dengan chlorhexidine glukonat 0,2% . ontrol positi. memiliki perbedaan yang signifikan, yang berarti ekstrak kunyit (Curcuma domestic. 100% belum memiliki kemampuan antibakteri seperti chlorhexidine glukonat 0,2% . ontrol positi. Chlorhexidine gluconate merupakan antiseptik Augold standardAy yang digunakan di kedokteran gigi. Meskipun chlorhexidine gluconate efektif, antiseptik ini memiliki efek samping tertentu, seperti perubahan warna gigi menjadi coklat, erosi mukosa mulut, dan rasa pahit. Kunyit (Curcuma domestic. sebagai senyawa alami dapat bertindak secara sinergis di dalam tubuh manusia, dapat memberikan sifat terapeutik yang unik dengan minimal atau tidak ada efek samping yang tidak diinginkan. 18,19,20 Berdasarkan hal tersebut, ekstrak kunyit (Curcuma domestic. dengan konsentrasi 100% ini dapat dikatakan efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus penyebab abses gigi. Konsentrasi tertinggi dari ekstrak kunyit yang diteliti merupakan yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus 21,12,22,23 Kandungan senyawa flavonoid dalam kunyit memegang peranan utama sebagai antibakteri karena konsentrasinya yang tertinggi dibandingkan dengan senyawa antibakteri lainnya yang terkandung. 24,25 SIMPULAN Ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% mempunyai efektivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var. dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% mempunyai efektivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Perbandingan efektivitas ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dan jahe merah (Zingiber officinale var. bahwa efektivitas yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yaitu ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestic. dengan konsentrasi 100%. DAFTAR PUSTAKA