Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted : 28/07/2025 Reviewed : 24/09/2025 Accepted : 20/10/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu MEREDUKSI AJARAN SESAT DALAM KOMUNITAS KRISTEN DI ERA DIGITAL: TELAAH TEOLOGIS PERAN GEMBALA SEBAGAI PENJAGA IMAN JEMAAT Ayub Pangga Lewu* Sekolah Tinggi Teologi Galilea Indonesia. *)Email Correspondence: ayubpanggalewu531@gmail. Abstract: Heretical teachings pose a serious and growing threat to contemporary Christian communities, particularly in the digital age, which allows for their massive and unrestricted spread across digital platforms. The presence of these deviant teachings not only undermines sound doctrine but also damages the spirituality of congregations that lack a solid foundation of faith. In many churches, this phenomenon is exacerbated by weak theological resilience and a lack of spiritual oversight from church leaders. The phenomenon of pastors focusing more on managing ministry than maintaining doctrine worsens the situation. This study aims to theologically examine the role of pastors as guardians of the faith and spirituality of the congregation in facing heretical The research method used is descriptive qualitative through a literature review of biblical sources, pastoral theology, and academic literature. The findings of this study conclude that the presence of heretical teachings within Christian communities necessitates an understanding of their characteristics and their impact on the spirituality of the congregation. Therefore, pastors have a theological responsibility from a biblical perspective. Thus, pastoral strategies are needed to reduce heretical teachings: education, training, and church discipline. This is a formulation of pastoral leadership theology in the context of the crisis of truth and contemporary heretical teachings. Therefore, the church needs to equip pastors theologically and pastorally to maintain the integrity of the faith of the congregation. Keywords: Heretical Teachings. Shepherd. Pastoral Theology. Christian Faith Abstraksi: Ajaran sesat merupakan ancaman serius yang terus berkembang dalam komunitas Kristen kontemporer sampai saat ini, terutama di tengah era digital yang memungkinkan penyebarannya secara masif dan tanpa batas diruang-ruang platform digital. Kehadiran ajaran-ajaran menyimpang ini tidak hanya menggoyahkan doktrin yang benar, tetapi juga merusak spiritualitas jemaat yang tidak memiliki fondasi iman yang kokoh. Di banyak gereja, fenomena ini diperparah oleh lemahnya ketahanan teologis dan kurangnya pengawasan rohani dari para pemimpin jemaat. Fenomena gembala yang lebih fokus pada manajemen pelayanan daripada pemeliharaan doktrin memperburuk kondisi. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara teologis peran gembala sebagai penjaga iman dan spiritualitas jemaat dalam menghadapi ajaran sesat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap sumber-sumber Alkitabiah, teologi pastoral, dan literatur akademik. Hasil kajian ini menyimpulkan bahwa adanya ajaran sesat dalam komunitas Kristen perlunya pemahaman karakteristik dan dampaknya terhadap spiritualitas jemaat. Maka gembala memiliki tanggung jawab teologis dalam perspektif biblika. Sehingga dibutuhkan strategi pastoral dalam mereduksi ajaran sesat: pendidikan, pembinaan, dan disiplin gereja hal ini merupakan formulasi teologi kepemimpinan gembala dalam konteks krisis kebenaran dan ajaran sesat kontemporer. Dengan demikian, gembala perlu membekali kekristenan secara teologis dan pastoral untuk menjaga integritas iman umat. Kata kunci: Ajaran Sesat. Gembala. Teologi Pastoral. Iman Kristen,. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 226 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Sejak abad pertama hingga saat ini, perkembangan teologi dalam kekristenan telah melahirkan berbagai ajaran dan pemahaman baru. Namun, tidak sedikit di antaranya yang ternyata menyimpang dan tergolong sebagai ajaran sesat atau bidat. Penyimpangan ini kerap terjadi akibat penafsiran yang keliru terhadap Alkitab, atau upaya mencampurkan kebenaran firman Tuhan dengan kebiasaan dan budaya yang berkembang pada zamannya. 1 Ajaran sesat adalah bentuk penyimpangan dari kebenaran doktrinal yang diajarkan dalam Alkitab dan merusak inti iman Kristen yang sejati. Ia sering muncul dengan kemasan rohani yang menarik, mengaburkan otoritas Firman Tuhan dan menggantinya dengan ajaran manusia atau pengalaman subjektif. Di era saat ini disebut bid'ah kontemporer yang sering melibatkan distorsi kebenaran Kristen, yang dapat mengacaukan spiritualitas individu. Maka gereja harus menganalisis dan memahami ajaran sesat ini untuk secara efektif melawan mereka dan memberikan pendidikan mendalam kepada anggota-anggota. 2 Sebab ajaran sesat berdampak sangat merusak, karena menyesatkan jemaat, dan memecah belah kesatuan tubuh Kristus. Kemunculan ajaran sesat dalam Kekristenan fenomena baru, melainkan telah hadir sejak masa awal keberadaan gereja pada zaman para rasul. Para penyebarnya. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 yang kerap disebut sebagai guru-guru palsu, berusaha membangun serta menyebarkan doktrin yang menyimpang dari kebenaran Injil. Upaya penyesatan tersebut berlangsung baik di luar maupun di dalam komunitas gereja mula-mula, sehingga sejak awal sejarah Kekristenan, gereja telah berhadapan dengan tantangan serius terhadap kemurnian iman dan ajarannya. Pergerakan ajaran sesat merupakan realitas yang telah terjadi sejak masa para rasul dan terus berlanjut hingga kini di tengah dunia Kekristenan. Sejak awal, para rasul telah berjuang keras untuk menolak dan melawan ajaran-ajaran yang menyimpang tersebut. Namun demikian, ajaran sesat terbukti sebagai gerakan yang senantiasa muncul dalam setiap zaman dan tetap eksis sampai Keberadaannya membawa bahaya, ancaman, serta rongrongan yang nyata terhadap kekristenan, karena berpotensi merusak dan menyelewengkan ajaran ortodoks, menyesatkan cara berpikir, melemahkan iman, serta menimbulkan dekadensi moral Kristiani. Oleh sebab itu, gereja mewaspadai, dan secara aktif menangkal pergerakan ajaran sesat tersebut. Terlebih tidak dipungkiri minimnya pengetahuan jemaat tentang firman Tuhan, ditambah dengan pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, khususnya melalui media sosial, menjadi ancaman serius bagi gereja masa kini. Arus tayangan yang menyajikan beragam pengajaran tanpa landasan teologis yang benar serta tidak sejalan Chenlin Doura Vivian Girsang et al. AuAnalisis Kritis Pandangan Nomianisme Dan Asketisme Serta Integrasinya Dalam Pendidikan Agama Kristen,Ay Jurnal Ilmiah Multidisiplin 1, 1 . : 46Ae59, https://doi. org/10. 62282/juilmu. Yonatan Alex Arifianto. Richardo Nainggolan, and Adi Sujaka. AuTantangan Teologis Dalam Memahami Dan Mengatasi Ajaran Sesat Kontemporer: Tinjauan Terhadap Realitas Spiritual Dan Peran Gereja,Ay Philoxenia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 57Ae67. Prananto Prananto and Joseph Christ Santo. AuKewaspadaan Terhadap Guru-Guru Palsu Berdasarkan 2 Petrus 2 Sebagai Antisipasi Terhadap Penyesatan Pada Masa Kini,Ay Miktab: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 2, no. : 201, https://doi. org/10. 33991/miktab. Morris Phillips Takaliuang. AuAncaman Ajaran Sesat Di Lingkungan Kekristenan: Suatu Pelajaran Bagi Gereja-Gereja Di Indonesia,Ay Missio Ecclesiae 9, no. 1 (April 2. : 132Ae56, https://doi. org/10. 52157/me. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 227 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dengan Injil Yesus Kristus, berpotensi menyesatkan jemaat dan melemahkan fondasi iman Kristen yang sejati. Dengan demikian, kemunculan dan keberlanjutan ajaran sesat menuntut gereja untuk memperkuat dasar teologis jemaat melalui pengajaran firman yang murni, guna menjaga kemurnian iman dan keteguhan doktrin Kristen di tengah arus penyesatan zaman modern. perkembangan dunia digital dan arus globalisasi informasi, komunitas Kristen menghadapi tantangan serius yang mengancam kemurnian ajaran iman dan integritas spiritual umat. Dengan ajaran para bidat-bidat yang menyangkal Yesus membahayakan iman Kristen dan juga ajaran yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. 6 Seperti ajaran saksi Yehova, meskipun mereka membaca Alkitab dan menghormati Yesus Kristus, namun apabila ditelaah secara lebih mendalam, gerakan tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai suatu bentuk bidat dalam Kekristenan. Hal ini disebabkan oleh penolakan mereka terhadap pengakuan Yesus sebagai penjelmaan Allah, penolakan terhadap doktrin Trinitas (Tritungga. , serta sejumlah ajaran lainnya yang dianut oleh SaksiSaksi Yehuwa, yang pada umumnya ditolak oleh umat Kristen, termasuk di dalamnya Gereja Katolik. 7 Bahkan Djohan Rusli. AuModel Misi Gereja Menghadapi Ajaran Sesat Dalam Surat Paulus Kepada Timotius Sebagai Pegangan Gereja Bethel Indonesia Mojopahit Jember,Ay THEOLOGIA INSANI (Jurnal Theologia. Pendidikan. Dan Misiologia Integrati. 2, no. : 32Ae53, https://doi. org/10. 58700/theologiainsani. Didit Yuliantono Adi. AuArgumentasi Teologis Terhadap Pandangan Para Bidat Tentang Keilahian Yesus,Ay Sabda: Jurnal Teologi Kristen 4, no. : 176Ae92, https://doi. org/10. 55097/sabda. Yuli Ferianti. AuPendidikan Apologetika Kristen Sebagai Jembatan Terhadap Keyakinan Saksi Yehuwa,Ay Inculco Journal of Christian Education 1, no. : 61Ae68, https://doi. org/10. 59404/ijce. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 terdapat pula ajaran yang tidak hanya menolak natur keilahian Kristus, tetapi sekaligus juga mengingkari natur kemanusiaan-Nya. Salah satu ajaran yang tergolong bidat dalam sejarah gereja mula-mula adalah pandangan adopsionisme, yang menyatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang kemudian diadopsi menjadi Anak Allah. Pemahaman demikian secara implisit Kristus mengingkari keberadaan-Nya yang kekal sebagai Allah sebelum peristiwa 8 Sehingga ini menjadi tantangan terbesar adalah infiltrasi ajaran sesat yang semakin masif, terstruktur, dan canggih, merambah melalui berbagai kanal digital dan media sosial, serta menyusup dalam kemasan rohani sesungguhnya menyimpang dari doktrin iman Kristen yang ortodoks. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah-wilayah tertentu, tetapi bersifat global dan lintas denominasi, menunjukkan bahwa gereja menghadapi percayaan akan kekeristenan dan juga krisis spiritualitas dan iman secara Pada tahun 2024, muncul sebuah ajaran sesat baru yang mengguncang iman kekristenan, yaitu ajaran Kristen progresif. Ajaran ini dengan cepat menyebar melalui media sosial dan sangat mudah memengaruhi orang Kristen awam karena menawarkan pandangan yang lebih menekankan kehidupan kekal. Tawaran dunia memang tampak menarik karena langsung, sementara kehidupan kekal hanya akan dialami setelah kematian dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang percaya serta hidup dalam Tuhan. Sebuah ajaran dikatakan sesat apabila isinya tidak sejalan dengan prinsip dasar Hendrik Yufengkri Sanda. AuTinjauan Teologi Sistematis-Apologetis Terhadap Pandangan Adopsionisme Mengenai Ketuhanan Yesus,Ay BONAFIDE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 1, no. : 144Ae64. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 228 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf iman Kristen, misalnya ketika Alkitab menegaskan bahwa Yesus adalah satusatunya jalan keselamatan, namun ajaran ini menyatakan bahwa keselamatan juga bisa ditemukan di luar Kristus, ini bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. 9 Ajaran sesat dalam konteks ini tidak hanya menyangkut penyimpangan doktrinal seperti Kristologi yang tidak benar, penyangkalan terhadap keilahian Yesus, keselamatan, tetapi juga manipulasi emosional dan spiritual yang membawa jemaat pada praktik-praktik yang menjauhkan mereka dari inti Injil. Para pengajar sesat kerap tampil sebagai figur memengaruhi emosi jemaat, mengutip ayat Alkitab secara parsial untuk mendukung agenda pribadi atau ideologi tertentu, dan memanfaatkan kerinduan umat akan jawaban rohani yang cepat dan instan. Berkaitan dengan penelitian pentingnya peran gembala dalam spiritualitas jemaat dari pengaruh ajaran Pernah diteliti oleh Mariati Purnama Sitanggang penelitiannya yang membahas bahwa di era digital yang terus berkembang pesat, gereja menghadapi tantangan serius berupa maraknya penyebaran ajaran sesat yang disebarkan melalui media sosial dan platform digital lainnya. Akses informasi yang mudah dan luas tanpa kontrol yang ketat memungkinkan munculnya interpretasi keliru terhadap Alkitab dan pencampuran ajaran Kristen dengan nilai-nilai budaya atau ideologi yang menyimpang dari Injil Yesus Kristus. Fenomena ini mengancam kemurnian iman jemaat, menciptakan kebingungan rohani, dan bahkan melahirkan 'gereja-gereja yang tersesat'. Oleh Kemryati Juleha Siburian et al. AuPenginjilan Menggunakan Media Buku Tanpa Kata Guna Memutus Rantai Penyebaran Ajaran Sesat: Kristen Progresif,Ay Jurnal Ilmiah Multidisipliner 8, no. : 83Ae92. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 memperkuat strategi pendidikan iman yang berakar pada kebenaran Alkitab, membekali umat dengan pemahaman memanfaatkan teknologi secara bijak penyesatan digital. Penelitian lain yang senada juga diteliti oleh Morris Phillips Takaliuang menekankan bahwa munculnya ajaran sesat dalam sejarah gereja disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pengaruh sinkretisme antara iman Kristen dengan ajaran agama dunia dan filsafat sekuler, serta kekecewaan terhadap kemerosotan rohani dalam gereja. Contohnya dapat dilihat dalam ajaran Nomianisme yang mencampurkan hukum Taurat dengan kasih karunia, serta Manicheisme yang menggabungkan unsur Kristen dengan ajaran Persia dan filsafat Yunani. Selain itu, kekecewaan terhadap kurangnya manifestasi kuasa Roh Kudus juga melahirkan gerakan seperti Montanisme, yang mengeklaim menerima wahyu baru dan menempatkannya sejajar dengan firman Tuhan. Dari fenomena serta penelitian terdahulu ada kesenjangan penelitian . esearch ga. terkait minimnya kajian teologis yang secara spesifik membahas relasi antara peran gembala dan resistensi komunitas terhadap ajaran sesat secara sistematis. Sebagian besar literatur fokus pada studi ajaran sesat secara dogmatis, namun belum banyak yang menggali bagaimana peran gembala secara teologis dan praktis dapat menjadi filter utama dalam menjaga kemurnian iman jemaat. Mariati Purnama Sitanggang and others. AuMenghadapi Ajaran Sesat Di Era Digital: Perspektif Teologi Kristen Dan Strategi Pendidikan Iman Untuk Menghadapi Konsekuensi Digitalisasi,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 8, no. 1Ae10. Morris Phillips Takaliuang. AuAncaman Ajaran Sesat Di Lingkungan Kekristenan: Suatu Pelajaran Bagi Gereja-Gereja Di Indonesia,Ay Missio Ecclesiae 9, no. 132Ae56, https://doi. org/10. 52157/me. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 229 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya memberi kontribusi akademik dalam diskursus teologi pastoral kontemporer, tetapi juga memberi arah praktis bagi gereja dalam menyiapkan para gembala yang mampu berdiri teguh dalam kebenaran, dan memimpin umat untuk tetap setia pada Injil di tengah ancaman penyimpangan ajaran yang semakin kompleks. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif,12 deskriptif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. sebagai kerangka utama dalam menggali data dan menganalisis topik. Sumber penelitian mencakup teks-teks Alkitab, literatur teologis klasik dan kontemporer, jurnal-jurnal ilmiah yang relevan dalam bidang teologi pastoral, kepemimpinan gerejawi, dan kajian tentang ajaran sesat, serta dokumendokumen gerejawi dan hasil-hasil sinode yang membahas penggembalaan dan Langkah-langkah penelitian meliputi manarasikan ajaran karakteristik, evolusi, dan dampaknya terhadap spiritualitas jemaat. Selanjutnya teologis gembala dalam perspektif lalu peneliti membangun strategi pastoral dalam mereduksi ajaran sesat, dan juga membangun pendidikan, pembinaan, dan disiplin gereja. Sehingga adanya formulasi teologi kepemimpinan gembala dalam konteks krisis kebenaran dan ajaran sesat kontemporer HASIL Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ajaran sesat tetap menjadi ancaman serius terhadap kehidupan spiritual jemaat, baik secara historis maupun kontemporer, terutama dalam penyebaran informasi tanpa filter teologis yang memadai. Melalui kajian Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 terhadap teks-teks Alkitab seperti Yehezkiel 34. Yohanes 10. Kisah Para Rasul 20:28Ae30, dan surat-surat pastoral, ditemukan bahwa gembala memiliki tanggung jawab teologis yang holistik sebagai pelindung iman dan pengajar Strategi pastoral dalam merespons ajaran sesat harus mencakup pembinaan rohani yang konsisten, dan disiplin gereja yang bijaksana. Selain itu, kepemimpinan gembala yang lebih kontekstual dan profetik, yang bukan hanya mampu menjawab tantangan disinformasi dan krisis kebenaran, tetapi juga membentuk komunitas iman yang resilien, berakar kuat pada firman Tuhan, dan mampu membedakan antara yang benar dan sesat dalam terang Injil. PEMBAHASAN Ajaran Sesat dalam Komunitas Kristen. Karakteristik dan Dampaknya terhadap Spiritualitas Jemaat Ajaran sesat dalam komunitas Kristen bukanlah fenomena baru. Sejak gereja mula-mula, berbagai bentuk penyimpangan ajaran telah muncul. Ajaran sesat menjadi ancaman serius yang dapat mengguncang kestabilan teologis dan kehidupan rohani jemaat. Dalam persoalan ini, pemimpin gereja memiliki peran sentral untuk membimbing jemaat tetap berpegang pada kebenaran Kristus. 13 Sebab ajaran sesat sangat menghambat atau bahkan mematikan iman dan kerohanian kekristenan. Aliran-aliran ini membuat kabur ajaran kristen yang sebenarnya. 14 Maka kitu David Livingstone Araro. Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi, and Yonatan Alex Arifianto. AuNavigasi Teologis: Pemimpin Gereja Dalam Membina Jemaat Menghadapi Dinamika Ajaran Sesat,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 5, no. : 145Ae54. F Tambunan and H V Ambarita. AuMembangun Kredibiltas Kekristenan Dalam Menghadapi Ajaran Sesat Berdasarkan 1 Yohanes 4: 1-6,Ay ILLUMINATE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 230 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf perlunya pemahaman teologi yang mendalam sangat penting dimiliki oleh setiap orang Kristen sebagai bekal untuk menghadapi dan menjawab berbagai persoalan, termasuk munculnya ajaranajaran sesat. Tidak dapat disangkal bahwa ajaran sesat turut berkembang seiring dengan perubahan zaman, dan kerap menyesatkan mereka yang memiliki pemahaman teologi yang dangkal atau tidak kokoh. 15 Dan banyak sekali bidat-bidat yang menyangkal Yesus membahayakan iman Kristen. Mirisnya mereka membangun opini bahwa ajaran sesat atau bidat yang diajarakan itu mengatasnamakan ajaran Kristen. Dengan demikian ajaran sesat telah menjadi ancaman serius bagi gereja sejak masa gereja mula-mula, karena dapat mengguncang kestabilan iman dan menyesatkan jemaat, terutama mereka yang memiliki pemahaman teologi yang Oleh karena itu, pemahaman teologi yang benar dan mendalam sangat penting bagi setiap orang Kristen untuk penyimpangan yang mengatasnamakan Di era kontemporer, ajaran sesat mengalami evolusi dalam bentuk dan Dengan memanfaatkan media digital, para penyebar ajaran sesat dapat menjangkau ribuan orang dalam waktu singkat tanpa 129Ae42, https://sttbaptis-medan. id/ejournal/index. php/illuminate/article/view/174. Rio Janto Pardede and Kapuni Waruwu. AuPrinsip-Prinsip Teologis Dalam Menghadapi Ajaran Sesat: Belajar Dari Kitab Kolose 2: 16-23. 3: 1-4,Ay Missio Ecclesiae 13, 2 . : 86Ae95. Adi. AuArgumentasi Teologis Terhadap Pandangan Para Bidat Tentang Keilahian Yesus. Ay Susanto Liau. AuPro Dan Kontra Mengenai Roh Samuel Dalam 1 Samuel 28:125,Ay Veritas: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 9, 2 . : 135Ae51, https://doi. org/10. 36421/veritas. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 melalui otoritas gerejawi. 18 Mereka menggunakan narasi rohani yang persuasif, menawarkan Aukebenaran baruAy yang seolah lebih dalam, serta menggugat ortodoksi dengan logika Penyebaran ajaran sesat pada masa kini semakin meluas melalui platform digital yang mudah diakses oleh berbagai kalangan. Tidak jarang, ajaran-ajaran yang tidak selaras dengan kebenaran Kristen disebarkan secara masif melalui media sosial, yang mampu menjangkau audiens secara universal hanya dalam waktu singkat. 19 Dan karakteristik utama ajaran sesat saat ini adalah anti-kritis terhadap otoritas Alkitab dan kebenaran Allah. Ini ketergantungan spiritual yang tidak sehat serta memutus relasi jemaat dengan fondasi iman yang sejati. Dampaknya adalah krisis spiritualitas: jemaat menjadi mudah goyah, kehilangan kedewasaan rohani, dan tidak mampu membedakan antara yang benar dan salah secara doktrinal. Tanggung Jawab Teologis Gembala dalam Perspektif Biblika Teladan Kristus sebagai Gembala Agung menjadi cerminan utama bagi seorang gembala yang terpanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, nilai-nilai semata-mata menjalankan otoritas kepemimpinan. Tugas gembala yang utama adalah ditekankan ajaran Alkitabiah. Oleh karena itu, tanggung jawab seorang gembala tidak dapat dipisahkan dari aspek pembinaan rohani, kepemimpinan, dan pelayanan, yang membentuk suatu Arifianto. Nainggolan, and Sujaka. AuTantangan Teologis Dalam Memahami Dan Mengatasi Ajaran Sesat Kontemporer: Tinjauan Terhadap Realitas Spiritual Dan Peran Gereja. Ay Sitanggang and others. AuMenghadapi Ajaran Sesat Di Era Digital: Perspektif Teologi Kristen Dan Strategi Pendidikan Iman Untuk Menghadapi Konsekuensi Digitalisasi. Ay Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 231 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dimensi teologis yang holistik dan integral dalam perspektif Alkitab. Yesus Kristus datang ke dunia Aubukan untuk dilayani, melainkan untuk melayaniAy (Mat 20:. , dan melalui teladan-Nya. Ia memperlihatkan model kepemimpinan sebagai seorang hamba. Kepemimpinan yang berakar pada pelayanan ini ditandai oleh sikap rendah hati dan pengabdian yang tidak berpusat pada kepentingan diri sendiri. Dalam konteks ini, seorang gembala menjalankan peran yang multifungsi, sebagai pemimpin rohani, figur ayah, nabi, imam, sekaligus sebagai kepala jemaat, dengan semangat melayani yang meneladani Kristus. Dan tentunya gembala adalah salah satu dari empat jabatan rohani yang Tuhan ditempatkan dalam tubuh gereja untuk pertumbuhan rohani umat. Sebagai pemimpin rohani, gembala memiliki tanggung jawab untuk menuntun jemaat menuju kedewasaan iman di dalam Kristus, penggembalaan, dan pelayanan yang berkesinambungan demi pertumbuhan tubuh Kristus secara utuh dan sehat. Dengan demikian, teladan Kristus sebagai Gembala Agung menjadi dasar utama bagi setiap pemimpin rohani untuk melayani dengan hati seorang hamba, membimbing jemaat menuju kedewasaan iman, serta membangun kehidupan gereja yang bertumbuh secara rohani dan teologis sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Alkitab, tugas gembala ditegaskan dalam banyak bagian, antara lain Yehezkiel 34. Yaitu dimana tugas dan tanggung jawab seorang gembala John Gershom Mujiono et al. AuShepherd Model Based on Psalm 23 and Its Implementation for a ChristianAos Life,Ay European Journal of Theology and Philosophy 4, 2 (April 8, 2. : 19Ae28, https://doi. org/10. 24018/theology. Indriati Tjipto Purnomo. AuMandat Ilahi Tentang Menggembalakan Domba,Ay REDOMINATE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 4, no. 2 (December 26, 2. : 88, https://doi. org/10. 59947/redominate. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 ditegaskan secara kuat, salah satunya melalui perikop dalam Yehezkiel 34. Ini secara khusus bermakna menjelaskan gembala yang baik dan jahat menurut Yehezkiel 34 dan menjelaskan relevansi bagi gembala sidang. 22 Dalam bagian ini. Tuhan menegur para gembala Israel yang gagal menjalankan tugas mereka mementingkan diri sendiri daripada menggembalakan domba-domba Allah. Kritik tajam ini menyoroti kelalaian mereka dalam merawat, menguatkan, dan mencari domba-domba yang tersesat atau terluka. Sebagai respons terhadap kegagalan tersebut. Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ia akan menjadi umat-Nya,23 gembala yang bertanggung jawab. Narasi ini menjadi dasar teologis yang kuat tentang hakikat pelayanan seorang gembala, yakni sebagai perpanjangan tangan Allah dalam merawat dan menuntun umat-Nya. Tentunya seorang gembala justru memiliki kesempatan istimewa untuk menyatakan kekuatan dan kepemimpinan Tuhan. Sang Gembala Agung, mempercayakan mereka untuk melayani. Melalui panggilan ini, gembala bukan hanya menjalankan tugas pastoral, tetapi juga menjadi representasi nyata dari kepemimpinan Kristus. Dengan demikian. Yehezkiel 34 menegaskan bahwa seorang gembala dipanggil untuk Arnadyah Tiatira Hera Sukmani. Tonny Mulia Hutabarat, and Sigit Ani Saputro. AuStudi Eksposisi Gembala Menurut Yehezkiel 34 Dan Aplikasinya Bagi Gembala Sidang Masa Sekarang,Ay Miktab: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 2021, https://doi. org/10. 33991/miktab. Eko Riyadi. AuMemulihkan Wibawa Allah Sebagai Gembala Israel: Kritik Atas Para Pemimpin Yehuda Di Yehezkiel 34,Ay Jurnal Teologi, 2021, https://doi. org/10. 24071/jt. Linda Zenita Simanjuntak. Samuel Abdi Hu, and Lukgimin Aziz. AuTeologi Penggembalaan Yehezkiel Dalam Menghadapi Tantangan Kehidupan Jemaat,Ay Manna Rafflesia, 2021, https://doi. org/10. 38091/man_raf. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 232 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menjadi perpanjangan tangan Tuhan menggembalakan umat-Nya dengan penuh tanggung jawab, kasih, dan integritas, sebagai wujud nyata dari kepemimpinan Kristus. Sang Gembala Agung. Penekanan tugas dan tanggung jawab gembala dalam Yohanes 10. Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi dombadomba-Nya, berbeda dengan gembala upahan yang lari ketika bahaya datang. Ini menegaskan bahwa gembala yang baik harus menunjukan teladan moral yang baik. 25 Dalam penelitian ini, tugas gembala tidak hanya mencakup merawat dan menuntun umat, tetapi juga menjaga mereka dari ancaman ajaran sesat yang digambarkan sebagai pencuri dan perampok yang datang Auuntuk mencuri, membunuh, dan membinasakanAy (Yoh. Gembala yang sejati mengenal domba-dombanya dan domba pun mengenal suaranya, yang berarti gembala harus memiliki relasi yang intim dan tanggung jawab yang serius dalam menjaga kemurnian pengajaran. Ajaran sesat menjadi ancaman serius terhadap integritas iman jemaat, sehingga gembala dipanggil untuk berdiri teguh dalam kebenaran firman, menjadi penjaga teologis dan rohani yang tidak membiarkan umat disesatkan oleh suara asing yang menyesatkan dari kebenaran Kristus. Sehingga dapat membangun jemaat untuk semakin dekat, mengenal dan menemukan damai 27 Dengan demikian, gembala Sekundus Septo Pigang Ton. AuYesus Sebagai Teladan Untuk Menjadi Gembala Yang Baik Berdasarkan Perspektif Injil Yohanes 10:11-16,Ay Miktab: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 2023, https://doi. org/10. 33991/miktab. Herlince Rumahorbo. AuKeteladanan Tanggung Jawab Yesus Sebagai Gembala Menjadi Dasar Pelayanan Hamba Tuhan Masa Kini,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 3, no. : 130Ae46, https://doi. org/10. 47457/phr. Uli NapaAo. AuAnalisis Konsep Kepemimpinan Gembala Berdasarkan Injil P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 yang sejati harus meneladani Kristus sebagai Gembala yang baik dengan menunjukkan integritas moral, menjaga kemurnian ajaran, serta membimbing jemaat agar tetap berpegang pada kebenaran firman dan hidup dalam damai sejahtera Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 20:28Ae 30. Rasul Paulus memberikan peringatan tegas kepada para penatua jemaat di Efesus agar mereka waspada dan menjaga kawanan domba yang telah dipercayakan kepada mereka oleh Roh Kudus. Dan seorang gembala harus dapat memimpin dengan jiwa yang melayani bagi para pengikutnya. Paulus juga menekankan bahwa tugas menggembalakan jemaat, tetapi juga menjadi penjaga iman yang setia, karena akan muncul serigala-serigala yang ganas dari luar, bahkan dari dalam jemaat sendiri, yang akan menyesatkan dan memutarbalikkan kebenaran untuk menarik murid bagi diri mereka sendiri. Ajaran sesat di sini digambarkan sebagai ancaman yang tidak hanya datang secara eksternal, tetapi juga secara internal, yang menyusup perlahan-lahan dan kemurnian gereja. Oleh karena itu, seorang gembala dipanggil untuk memiliki kepekaan rohani, keteguhan dalam doktrin, dan ketegasan dalam menolak pengajaran yang menyesatkan, agar jemaat tetap bertumbuh dalam kebenaran Injil dan tidak terombangambing oleh setiap angin pengajaran yang menyesatkan. Gembala pemimpin administratif, melainkan penjaga kawanan yang dipanggil untuk memberi makan rohani . Yohanes 10:1-18 Dan Implikasinya Terhadap Tanggungjawab Pendeta Gereja,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat, 2022, https://doi. org/10. 34307/kinaa. Irwanto Sudibyo. AuPelayanan Kepemimpinan Penggembalaan Menurut Kisah Para Rasul 20:17-38,Ay Gracia Deo2 2, no. : 46Ae61. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 233 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf melindungi dari ancaman . , dan menggembalakan dengan kasih. Dalam surat-surat pastoral. Paulus secara kemurnian doktrin dan menjalankan tugas pengajaran dengan sehat, sebagaimana terlihat dalam 1 Timotius 1:3Ae7 dan Titus 1:9Ae11. mengingatkan bahwa seorang pemimpin rohani harus mampu menasihati dengan ajaran yang benar dan menegur mereka yang menyimpang dari kebenaran. Paulus melihat ajaran sesat sebagai ancaman serius yang dapat menimbulkan penyimpangan dari iman yang murni kepada Kristus. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa para gembala dan penguasaan terhadap firman dan komitmen untuk menegakkan kebenaran, agar jemaat tidak disesatkan oleh mitos, spekulasi kosong, atau pengajaran yang bertentangan dengan Injil. Pesan ini tetap relevan bagi gereja masa kini, terutama dalam menghadapi tantangan pengajaran yang menyesatkan di era Seorang pemimpin jemaat memiliki tanggung jawab penting untuk memperingatkan jemaat terhadap bahaya ajaran sesat yang tidak sejalan dengan kebenaran firman Tuhan. Ia juga bertugas mengatur jalannya ibadah, memperhatikan pertumbuhan rohani jemaat, serta membina kehidupan doa, etika, dan kesatuan tubuh Kristus. Selain itu, pemimpin jemaat perlu memberikan apresiasi kepada diaken atau majelis yang melaksanakan tugas dengan baik, sekaligus menegur mereka yang melakukan kesalahan. Ia juga harus mengingatkan jemaat agar tidak terikat pada kecintaan terhadap uang, melainkan giat dan setia dalam pelayanan kepada Tuhan. 29 Dengan demikian, seorang gembala dipanggil untuk menjalankan peran kepemimpinan rohani yang Christine Fuceria Ginting. AuKonsep Kepemimpinan Penggembalaan Berdasarkan 1 Timotius Dan Aplikasinya Terhadap Pertumbuhan Rohani Jemaat,Ay PNEUSTOS: Jurnal Teologi Pantekosta, 2018. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menyeluruh, yakni mengajar dengan benar, melindungi jemaat dari ajaran sesat, membina kehidupan rohani dan etika jemaat, serta meneladani kasih Kristus dalam pelayanan yang setia dan bertanggung jawab. Strategi Pastoral dalam Mereduksi Ajaran Sesat: Pendidikan. Pembinaan, dan Disiplin Gereja Ajaran sesat telah menjadi ancaman serius terhadap integritas iman dan kesatuan gereja sejak zaman para rasul hingga era digital saat ini. Dalam menghadapi tantangan ini, gereja tidak dapat bersikap pasif atau reaktif semata, melainkan perlu membangun strategi Sebab sejarah mencatat bahwa sejak awal berdirinya, gereja telah menghadapi berbagai ajaran sesat yang muncul dari dalam tubuh gereja Ajaran-ajaran ini berbentuk doktrin yang menyesatkan atau bidat yang menyimpang dari kebenaran Alkitab. Ancaman bukanlah fenomena baru, melainkan telah ada sejak masa awal pertumbuhan Strategi ini tidak hanya berfokus pada penindakan terhadap pengajar sesat, tetapi lebih jauh lagi mencakup aspek pencegahan, dalam berdasarkan alkitabiah kepada jemaat. Dengan mengajarkan ajaran yang benar, dan menjadi teladan dalam kehidupan 31 Dengan demikian, strategi pastoral yang efektif dalam merespons ajaran sesat harus mencakup pengajaran doktrin yang benar, keteladanan hidup rohani, serta pembentukan iman jemaat yang berakar kuat pada kebenaran Marlon Butarbutar. AuKristologi Biblika Menurut Kaum Reformed Sebagai Salah Satu Dasar Apologetika Dalam Menghadapi Pengajaran Gnostik Di Era Postmodern,Ay SCRIPTA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kontekstual 6, no. : 116Ae28, https://doi. org/10. 47154/scripta. Juanda and Zevania Venda. AuMenghadapi Ajaran Sesat Studi Jemaat Efesus Menurut 1 Timotius 4 : 6-16,Ay Kerusso 1, no. : 1Ae5. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 234 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Alkitab secara berkelanjutan dan Ada tiga pilar utama yang sangat penting dalam strategi pastoral untuk mereduksi pengaruh ajaran sesat adalah pembinaan rohani yang konsisten, dan penerapan disiplin gereja yang bijaksana dan alkitabiah. Pertama, pendidikan merupakan landasan utama dalam mencegah masuknya ajaran sesat ke tengah jemaat. Pendidikan Kristen didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab membimbing orang percaya dalam membedakan ajaran yang benar dan yang sesat. Dengan menjadikan firman Tuhan pendidikan Kristen menolong peserta didik agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran atau doktrin yang menyimpang. Penekanan pada kebenaran ilahi ini memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga membentuk iman yang teguh dan setia pada ajaran Alkitab. 33 Pendidikan Kristen memiliki tujuan utama untuk mematangkan iman orang percaya, khususnya mereka yang baru bertumbuh dalam Kristus, dengan membekali mereka melalui pengajaran yang benar dan pembinaan rohani yang mendalam. Melalui proses ini, mereka diperlengkapi dengan pengetahuan teologis dan keterampilan rohani yang diperlukan untuk mengenali, mengkritisi, dan menolak berbagai bentuk ajaran sesat yang bertentangan dengan kebenaran Musa Sinar Tarigan. AuPentingnya Kebenaran Allah Sebagai Landasan Pendidikan Kristen . he Significance of GodAoS Truth As the Foundation of Christian Educatio. ,Ay JOHME: Journal of Holistic Mathematics Education 3, 1 . : 80, https://doi. org/10. 19166/johme. Rachel Anita Setiawati and Ariani Tandi Padang. AuStandar Moral Dalam Pendidikan Kristen [Moral Standards in Christian Educatio. ,Ay Kumpulan Artikel Ilmiah Rumpun Ekonomi Dan Ilmu Sosial 1, no. : 125Ae45, https://doi. org/10. 19166/kairos. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 firman Tuhan. 34 Dengan demikian, pendidikan teologis yang sehat menjadi fondasi strategis yang tak tergantikan dalam membentuk ketahanan iman jemaat dan menangkal pengaruh ajaran sesat di tengah kehidupan gereja. Ketidaktahuan akan kebenaran firman Tuhan adalah lahan subur bagi Oleh sebab itu, gereja perlu menyediakan ruang belajar yang memadai bagi jemaat dari segala usia: sekolah minggu, pemahaman Alkitab, kelas katekisasi, pelatihan doktrin dasar, hingga kursus teologi lanjutan bagi Namun dalam pendidik Kristen dituntut untuk senantiasa pandangan dunia operasional dengan pandangan dunia alkitabiah yang mereka anut, guna menjaga kemurnian nilai serta integritas pendidikan Kristen secara utuh dan konsisten. 35 Sebab dalam tujuan pendidikan ini adalah membekali umat agar mampu membedakan antara ajaran yang sehat dan yang menyesatkan, serta memiliki daya tangkal terhadap berbagai bentuk manipulasi rohani. Firman Tuhan harus diajarkan secara utuh, kontekstual, dan aplikatif sehingga jemaat tidak hanya mengetahui kebenaran secara intelektual, tetapi juga menghidupinya dalam praktik sehari-hari. Kedua, membentuk karakter Kristiani yang Pembinaan atau juga berarti pelatihan rohani memang diperlukan untuk memperkuat kedewasaan iman jemaat dan untuk membentuk karakter Kristen yang kokoh. Proses ini Harman Ziduhu Laia. Goktondi Pasaribu, and Ponco Mujiono Basuki. AuTheology Of Christian Education In Matthew 28:16-20,Ay Journal Didaskalia 5, no. : 74Ae83, https://doi. org/10. 33856/didaskalia. Richard Edlin. AuChristian Education and Worldview,Ay International Christian Community of Teacher Educators Journal 3, no. : 1Ae9, https://digitalcommons. edu/icctej. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 235 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf melibatkan pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan ajaran Alkitab, pembentukan spiritual, dan pendidikan Tujuannya adalah untuk mengembangkan iman yang matang yang tahan terhadap ajaran yang menyesatkan dan tantangan hidup, sementara juga menumbuhkan karakter seperti Kristus yang berdampak positif baik pada kehidupan pribadi maupun komunal yang mengarah pada ajaran Kristus. 36 Yang mana pembinaan ini persekutuan, konseling rohani, dan pendampingan pribadi. Gembala dan pemimpin gereja harus hadir sebagai pribadi yang dapat dipercaya dan menjadi panutan dalam kehidupan Keteladanan hidup pemimpin menjadi bagian penting dari pembinaan ini, karena jemaat tidak hanya mendengarkan pengajaran, tetapi juga memperhatikan cara hidup pelayan Tuhan. Dalam komunitas yang sehat dan terbina dengan kasih, jemaat akan lebih sulit terpengaruh oleh pengajar sesat yang biasanya memanfaatkan kelemahan spiritual dan relasi yang retak untuk menyusupkan pengaruhnya. Ketiga, merupakan langkah tegas yang perlu diambil ketika ajaran sesat mulai merusak kehidupan jemaat. Disiplin bukan dimaksudkan untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan dan menjaga kekudusan tubuh Kristus. Proses disiplin gereja harus dilakukan secara bertahap, penuh kasih, dan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab (Mat 18:15Ae17. Titus 3:. Gereja perlu memiliki mekanisme penanganan ajaran sesat yang jelas, termasuk sistem pengawasan doktrin, forum klarifikasi, dan evaluasi terhadap pengajar atau pemimpin yang menyimpang. Disiplin perlindungan terhadap jemaat, agar Hyun-Kwang Shin. AuA Research on Spiritual Formation in Christian Education,Ay Theology and Praxis 85 . : 247Ae76, https://doi. org/10. 14387/jkspth. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 membahayakan iman mereka. Namun yang perlu diperhatikan bahwa para pengajar juga diharapkan memiliki kompetensi spiritual-teologis alkitabiah dengan cara memahami pokok-pokok iman Kristen. 37 Supaya dengan baik dan benar mengajarkan tanpa menyimpang dari akitabiah. Oleh sebab itu dengan mengintegrasikan pendidikan yang kuat, pembinaan yang mendalam, dan disiplin yang adil, gereja dapat membangun benteng pertahanan rohani yang efektif dalam menghadapi berbagai bentuk ajaran sesat. Strategi pastoral ini harus dijalankan secara konsisten dan kolektif, sebagai bagian dari tanggung jawab gereja untuk menjaga kemurnian iman dan membentuk umat yang bertumbuh dalam kebenaran dan kasih Kristus. Formulasi Teologi Kepemimpinan Gembala dalam Konteks Krisis Kebenaran Ajaran Sesat Kontemporer Menghadapi era post-truth, di mana kebenaran menjadi relatif dan disinformasi menyebar secara masif melalui ruang digital, kepemimpinan gembala di gereja tidak lagi cukup hanya berfungsi secara administratif atau Dan para pemimpin Kristen dipanggil untuk menjunjung tinggi integritas dan moralitas sebagai prinsip utama dalam menghadapi tantangan era pasca-kebenaran. Nilai-nilai tersebut harus berakar pada firman Tuhan dalam Alkitab, agar kepemimpinan mereka memiliki dasar yang kokoh di tengah situasi yang dipenuhi kebingungan dan relativisme kebenaran. 38 Oleh sebab itu Franseda Sihite. AuKualifikasi Pengajar Alkitab Melawan Ajaran Sesat AntiTritunggal Berdasarkan 1 Timotius 4:1-16,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 6, no. : 319Ae31, https://doi. org/10. 47457/phr. Daniel Pesah Purwonugroho. AuMembangun Integritas Dan Moralitas: Fondasi Kepemimpinan Kristen Menghadapi Era PostTruth,Ay Philoxenia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 29Ae45. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 236 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf tantangan zaman ini menuntut formulasi ulang atas teologi kepemimpinan gembala yang lebih responsive dan Gembala masa kini tidak hanya dihadapkan pada tanggung jawab pengajaran dan penggembalaan, tetapi juga pada krisis otoritas spiritual yang ditandai oleh meningkatnya pengaruh ajaran sesat, yang dilihat dari relativisme moral, dan melemahnya kepercayaan umat terhadap kepemimpinan gerejawi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah gembala sebagai penjaga iman dan memiliki spiritualitas yang berakar pada Kristus. Formulasi teologi kepemimpinan gembala di era ini harus ditopang demi membangun komunitas iman yang resilien terhadap arus penyimpangan Sebab seorang gembala yang sejati bukan hanya seorang pengkhotbah yang fasih, tetapi seorang pelayan yang hidup dalam kebenaran dan menjadi teladan dan juga bertanggung jawab dalam diri seseorang merupakan sesuatu yang penting dan menjadi pondasi kokoh bagi kepemimpinan gereja. 39 Penguasaan doktrin menjadi penting, tetapi tidak cukup tanpa keberanian moral untuk menegakkan kebenaran di tengah tekanan budaya populer yang sering kali menolak nilai-nilai Injil. Dan juga tentu seorang pendidik perlu memiliki kualifikasi yang mencakup kedewasaan rohani dan kemampuan mengajar yang Dalam setiap aspek pelayanan gembala perlu menghadirkan nuansa pendidikan dan pengajaran. Hal ini penting karena dalam seluruh bentuk pelayanan pastoral, sudah seharusnya kebenaran firman Tuhan diajarkan dan P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 membimbing jemaat. Selain itu, gembala pada era digital juga dituntut komunikasi publik, baik secara luring maupun daring. Kehadiran di ruang digital bukan pilihan, melainkan keniscayaan dalam pewartaan dan pembinaan umat. Dalam konteks ini, gembala sebagai pemimpin rohani harus mampu menjadi suara kenabian yang membawa terang firman Tuhan di membingungkan umat. Ia dituntut untuk membedakan antara suara Allah dan suara dunia, serta menuntun jemaat untuk tetap setia pada Injil yang murni. Kerangka Augembala sebagai penjaga imanAy juga membawa implikasi yang luas bagi pendidikan teologi, liturgi, dan struktur pelayanan gereja. Pendidikan teologi pembentukan karakter dan spiritualitas, bukan sekadar akademik atau dogmatis. Liturgi pun perlu dirancang sebagai ruang formasi iman yang mengakar pada kebenaran alkitabiah dan relevan terhadap konteks kehidupan jemaat. Dalam struktur pelayanan, peran gembala harus didukung oleh komunitas iman yang partisipatif dan kolektif, di mana setiap anggota gereja turut menjadi bagian dalam penjagaan terhadap Terlebih setiap orang percaya harus bertumbuh dan berakar kuat di dalam kebenaran firman Tuhan serta hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, formulasi teologi kepemimpinan gembala di tengah krisis kebenaran bukan hanya sebuah wacana konseptual, melainkan sebuah panggilan praksis yang menghidupkan kembali Selamet Samuel. AuGembala Sebagai Pendidik Jemaat,Ay Kaluteros Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 2022, https://doi. org/10. Prananto and Santo. AuKewaspadaan Terhadap Guru-Guru Palsu Berdasarkan 2 Petrus 2 Sebagai Antisipasi Terhadap Penyesatan Pada Masa Kini. Ay Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 237 Yohosua Ohodo and Roberth Ruland Marini. AuKualifikasi Pemimpin Jemaat Menurut 1 Timotius 3:1-7 Bagi Gembala Sidang GPdI Wilayah Keerom Timur,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 3, no. : 117Ae31, https://doi. org/10. 47167/kharis. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf melindungi, dan menghidupi kebenaran Kristus dengan keberanian profetik di tengah zaman yang penuh kebingungan KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa tantangan ajaran sesat dalam komunitas Kristen tidak dapat diabaikan, sebab dampaknya sangat serius terhadap integritas doktrin, kedewasaan iman, dan kesatuan gereja. Oleh karena itu, gembala sebagai pemimpin rohani dituntut untuk memainkan peran strategis sebagai penjaga ortodoksi dan Pendekatan pastoral tidak cukup hanya bersifat reaktif, tetapi harus dirancang secara proaktif melalui penguatan pendidikan, pembinaan spiritual, dan disiplin gereja yang berdasarkan prinsipprinsip Alkitab. Dalam konteks ini, kepemimpinan pastoral yang berakar pada teladan Kristus dan dilengkapi kompetensi teologis sangat diperlukan untuk menangkal penyebaran doktrin menyimpang dan menjaga kemurnian iman jemaat. Dengan gembala di era post-truth harus mencerminkan panggilan profetik yang berani, pedagogis yang membina, dan pastoral yang merawat. Seorang gembala tidak hanya dituntut mampu berkhotbah dan memimpin ibadah, tetapi juga harus menjadi teladan dalam kehidupan rohani, mampu menjawab tantangan ajaran sesat dengan dasar firman Tuhan, serta membimbing jemaat menuju pertumbuhan iman yang dewasa dan Di tengah era digital yang sarat dengan informasi menyesatkan, gereja perlu memastikan bahwa setiap gembala berfungsi sebagai benteng iman, pembina kebenaran, dan penjaga spiritualitas jemaat yang setia kepada Kristus. Sang Gembala Agung. DAFTAR PUSTAKA